Ringkasan Khotbah : 18 Oktober 2009

Wrong Religiousity (8)

Nats: Matius 23:29-36

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Pembahasan hari ini mengenai “celaka“ yang ke-8, merupakan bagian terakhir dari tema keagamaan yang salah. “Celaka“ ke-8 ini merupakan puncak dari seluruhnya untuk menyimpulkan semua yang disebut “celaka“ oleh Tuhan. Bagian ini merupakan kritik dari Tuhan Yesus kepada orang Farisi dan ahli Taurat, tetapi konteks pembicaraannya bukanlah kepada mereka melainkan kepada orang banyak dan murid-murid Tuhan dengan tujuan agar orang banyak dan para murid tidak jatuh kedalam kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang Farisi dan ahli Taurat. Jadi pembicaraan ini bersifat refleksi yaitu bagaimana melihat orang Farisi dan ahli Taurat bersikap lalu hal tersebut memantul pada diri kita: bagaimana kita seharusnya bersikap. Orang Farisi dan ahli Taurat adalah orang yang katanya sangat saleh, sangat rohani, paling mengerti Firman Tuhan/ Taurat. Ukuran yang diterapkan orang atas mereka yang begitu hebat itu oleh Tuhan Yesus dijadikan ukuran patokan kegagalan mereka. Pada Matius 23:29-36 ini kita melihat kegagalan paling fatal dari keagamaan yang salah. 

Beragama yang tidak berhati-hati di esensinya menjadi tidak beragama, dan ini menjadi kecelakaan yang paling menakutkan. Agama yang seharusnya adalah membawa manusia kembali kepada Tuhan, manusia merelasikan diri dengan Tuhan. Dalam konteks agama pasti ada Allah/yang disembah. Manusia memang berbudaya, tetapi tetap membutuhkan agama karena pada hakekatnya dalam diri setiap manusia sudah tertanam sifat agama/sensus definitatif (menurut John Calvin), sehingga setiap manusia berdosa akan mencari Tuhan. Manusia di tempat yang paling primitif sekalipun tetap memiliki agama. Kalau sifat agama ini dibuang, maka manusia akan menjadi kering dan mati dengan sendirinya. Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah kalau ada agama maka manusia dapat selamat dan segala problema selesai? Manusia berpikir demikian sederhana bahwa kalau manusia percaya kepada Tuhan akan dapat masuk ke surga, apapun jalannya. Inilah yang dikritik oleh Tuhan Yesus. 

Manusia menyebut nama agama lalu melakukan implikasi agama tetapi di titik pertamanya tidak tahu agama itu apa. Ketika manusia berpikir bahwa dengan beragama dia bisa masuk ke surga, itulah titik pertama dia tidak mengerti agama itu apa. Kalimat tersebut menimbulkan berbagai ekses di dunia ini, muncullah berbagai macam agama, dan di dalam kekristenan pun muncul berbagai macam aliran, didukung dengan era pluralisme modern maka akan muncul ribuan arus/aliran di setiap agama. Apakah semua aliran itu dapat membawa kita masuk ke surga?

Kritikan Tuhan Yesus terhadap orang Farisi dan ahli Taurat membawa kita melihat perilaku mereka. Agama Yahudi adalah agama yang sangat sangat dalam, sangat sangat tinggi kelasnya, sangat sangat dahsyat dan dilakukan oleh orang-orang yang sangat sangat serius, bahkan lebih serius daripada semua yang lain. Tetapi justru orang yang begitu serius dikatakan oleh Tuhan: nanti mereka akan membuat diri mereka sendiri dan orang lain binasa. Ini merupakan hal yang sangat menakutkan.

Nats Alkitab kita pada hari ini akan kita kupas sedemikian: pada point pertama, Tuhan Yesus mengupas sikap keagamaan orang Farisi dan ahli Taurat. Matius 23:29 mengatakan bahwa ahli Taurat dan orang Farisi adalah orang munafik yang membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh. Kalimat ini sepertinya bersifat positif yaitu bagaimana mereka memperindah dan membangun makam orang-orang yang pada zaman dahulunya merupakan orang-orang religius/saleh/rohani, tetapi hal ini kemudian dikritisi dengan sangat keras di ayat 30 yang tertulis: mereka berkata bahwa jika mereka hidup di zaman nenek moyang mereka tentulah mereka tidak ikut dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Berarti nabi-nabi tersebut mati secara tidak wajar yaitu karena dibunuh oleh nenek moyang mereka. Di satu pihak mereka mengakui bahwa mereka adalah orang benar tetapi di lain pihak justru nenek moyang mereka yang membunuh nabi-nabi itu. Di sini Tuhan Yesus tengah memasukkan semangat konflik di dalamnya. Orang tahu bahwa mereka adalah orang baik tetapi nenek moyang mereka membunuh. Mereka menganggap hal tersebut sebagai kesalahan yang tidak fatal. Tuhan Yesus membalik pernyataan mereka pada ayat 31 yang tertulis: Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Tuhan Yesus hendak mengemukakan bahwa kamu tidaklah berbeda dengan nenek moyangmu. Untuk menutupi dosa mereka, mereka melakukan sesuatu yang menunjukkan bahwa mereka yang paling baik. Inilah kebobrokan keagamaan.

Seringkali keagamaan rusak dilakukan dengan cara seperti diatas. Semua hal yang sepertinya baik dilakukan untuk menutupi kerusakan yang ada di belakangnya. Kondisi ini terjadi di sepanjang sejarah. Inilah esensi dari permainan agama. Tuhan Yesus kemudian berkata: Hai kamu keturunan ular beludak! (ayat 33). Ular beludak/viper adalah ular yang sangat cantik, ukurannya tidak terlalu besar, panjangnya kurang lebih 50 cm, warnanya gabungan hitam dan kuning keemasan. Ular yang makin cantik akan makin mematikan, dan racun  ular  beludak  adalah  yang terganas. Jika tergigit ular beludak, umurnya tinggal 8 menit. Orang Farisi dan ahli Taurat dikatakan seolah-olah begitu saleh dan baik tetapi di belakangnya begitu jahat bahkan pembunuh. Inilah kondisi dunia kita saat ini, dimana-mana orang semakin kelihatan mendukung tetapi di belakangnya membawa belati yang menusuk kemana-mana, makin kelihatan baik makin besar kerusakannya. Mengapa bisa seperti ini? Karena agama yang salah memiliki sifat menipu yang tidak bisa tidak akan membuktikan dirinya. Pada Matius 23:33 tertulis: Hai kamu ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?

Jadi agama yang salah tidak akan membawa manusia ke surga, tetapi agama yang salah justru akan mendemonstrasikan/ menyatakan/ memproduksi 1 sikap yang akan membuktikan bahwa dia layak untuk mendapatkan hukuman neraka. Mengapa bisa agama yang begitu indah justru menjadi pembawa menuju ke neraka/ pencelaka manusia? Karena kerusakan pertama adalah pada esensi agama itu sendiri.

Agama adalah ketika kita datang kita harus kembali kepada sumber yang kita sembah, kembali kepada Dia yang absolut yang kita sembah. Kita harus menyadari bahwa kita adalah orang-orang relatif, orang-orang yang tidak ada apa-apa, orang yang tidak punya nilai apa-apa, orang yang celaka, yang sedang mencari Tuhan yang adalah sumber kemutlakan. Matius 6:33 mengatakan: Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Itulah esensi agama yang paling pertama. Matius 23:34 mengatakan bahwa Allah mengutus nabi-nabiNya tetapi reaksi manusia/ reaksi agama adalah melawan mereka, menghantam mereka, membunuh mereka, bahkan ketika Kristus sendiri yang datang, mereka bukan menyembah Dia melainkan justru menyalibkan Dia. Seharusnya agama membawa kita balik kepada Tuhan Allah, membawa kita mengerti dan mengenal Allah. Ketika Allah hadir justru kita lawan dan kita bunuh, maka itulah agama yang palsu.

Allah adalah absolut, seharusnya manusia yang relatif balik kepada Allah. Agama yang seharusnya dimulai dengan semangat absolut tetapi dijalankan dengan sikap relatif. Inilah kesalahan fatal yang pertama. Agama seharusnya membawa kita kembali ke posisi absolut dengan kesadaran pengertian yang absolut kepada Allah yang absolut. Celakanya, kita tidak mau kembali kepada Allah yang absolut tetapi memakai posisi kita yang relatif menjadi absolut. Kalau manusia mau kembali kepada yang absolut maka akan ada 1 agama saja. Fakta yang ada adalah adanya ribuan agama, berarti manusia bukan kembali kepada yang absolut melainkan membangun absolut diri dan kemudian menamakannya sebagai agama.

Orang Farisi dan ahli Taurat membangun absoluditas mereka sendiri, membangun apa yang menurut mereka benar, membangun konsep allah menurut mereka sendiri. Jika setiap orang membangun allah sendiri-sendiri, allah yang benar adalah allah menurut diri masing-masing, maka absolut bukan terletak pada allah melainkan pada diri sendiri. Inilah kegagalan pertama dari keagamaan. Seharusnya agama membuat manusia sadar bahwa dirinya berdosa, bukan absolut melainkan relatif, manusia harus belajar, harus taat, harus mencari dan mengenal kebenaran yang sejati, yang absolut, yang azasi, yang tunggal.

Ada seorang filsuf theolog yang mengatakan bahwa agama bukanlah alat untuk mencari Allah melainkan cara untuk melarikan diri dari Allah supaya manusia tidak perlu bertanggung jawab kepada Allah. Manusia takut untuk bertemu dengan Allah karena dia harus binasa. Manusia takut menghadapi kematian karena tahu bahwa akan masuk ke neraka. Manusia kemudian memakai agama untuk mengatasi problema mereka tanpa mau keluar dari dosa mereka. Akhirnya keluarlah relativitas agama. Agama menjadi alat penyelesaian yang sesuai dengan kemauan manusia untuk mencapai keinginan manusia. Terjadilah pertempuran besar karena semua yang relatif merasa menjadi absolut. Absolut-absolut palsu yang relatif jika saling bertemu pasti terjadi pertengkaran. Itulah sebabnya ketika nabi-nabi Tuhan dikirim kepada mereka, mereka menjadi marah karena adanya absolut baru yang mengganggu absoluditas mereka.

Ketika absolut sejati digeser dan digantikan oleh absolut diri, di situlah kita sudah mempermainkan agama. Efek dari agama yang demikian adalah semua nabi, semua kebenaran yang diberitakan akan dihantam habis. Tuhan Yesus tidak hanya menyoroti peristiwa yang akan terjadi dalam waktu dekat yaitu peristiwa penyaliban Tuhan Yesus, melainkan juga peristiwa sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa pertama kalinya yaitu zaman Habel kemudian ditarik ke zaman sebelum pembuangan yaitu zaman Zakharia. Sepanjang sejarah Israel, utusan yang benar ketika bertemu dengan agama palsu akhirnya akan dibunuh. Iman yang sejati tidaklah tentu akan mendapatkan semuanya yang enak. Allah sendiri ketika hadir di dunia bukan disambut dengan nyaman. Pelajaran pertama yang kita dapatkan adalah: agama yang sejati tidak akan berhadapan dengan kenikmatan yang sejati, tidak akan mendapatkan hasil yang sangat enak. Tuhan Yesus sejak awal sudah mempersiapkan para murid untuk menghadapi hal yang tidak enak yang akan menimpa mereka. Tuhan Yesus saja dianiaya dan disalibkan, demikian juga dengan para murid. Agama yang benar akan menghadapi banyak sekali tantangan karena dunia/iblis pasti tidak suka. Agama yang palsu justru akan mendatangkan kenikmatan diri. Semua agama palsu bertujuan untuk membangun imperium diri, bukannya kembali kepada Tuhan dan mengerjakan pekerjaan Tuhan.

Orang Yahudi tidak bisa melihat Yesus sukses, karena kalau Yesus yang sukses berarti mereka mati, maka tidak ada cara lain selain mematikan Tuhan Yesus daripada mereka yang mati. Inilah persaingan dalam agama. Esensi agama yang demikian sangatlah rusak. Posisi absolut yang begitu agung, begitu indah diambil alih oleh posisi relatif yang mengabsolutkan diri. Teori dari John Calvin dalam Theologi Reformed tentang Kedaulatan Allah seringkali menjadi perdebatan yang begitu rumit, apalagi kalau diperhadapkan dengan kebebasan manusia. Sebenarnya teori itu muncul dari John Calvin tanpa disertai hubungannya dengan kebebasan manusia. Ketika kita mengakui bahwa Allah berdaulat, pengakuan tersebut muncul dari hati yang mengerti Allah yang absolut. Kalau kita mengakui Allah yang absolut maka yang harus taat adalah kita yang relatif bukannya Allah yang absolut. Setiap orang Kristen seharusnya mengakui bahwa kita adalah hamba Allah. Seorang hamba tidaklah mempunyai hak, yang dipunyai hanyalah kewajiban. Inilah jiwa dari John Calvin, beliau menyatakan bahwa Allah berdaulat, saya adalah hambaMu, dan saya hanya bisa menjalankan apa yang dikehendaki Tuhan. Biarlah setiap kita menyadari posisi sebagai hamba Allah, ketika kita sudah mengerjakan seluruh pelayanan, Lukas 17:10b tertulis: hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. Kalau orang mengerti seperti ini berarti dia mengerti agama yang sesungguhnya.

Point yang kedua, Tuhan Yesus hendak menunjukkan bagaimana orang yang betul-betul menyatakan kemurnian iman, kehidupan yang beres dibunuh oleh orang-orang yang sangat tidak beres. Agama di titik kedua harusnya membuat orang hidup semakin baik. Menyatakan kebaikan kalau tidak dari esensi yang baik akan menghasilkan hal yang tidak baik karena termotivasi oleh kejahatan. Jangan sampai kebajikan agama dikendalikan dan dijalankan oleh motivasi kejahatan. Orang yang mau kelihatan saleh memiliki banyak alasan. Orang Farisi dan ahli Taurat mau kelihatan saleh untuk menonjolkan kehebatan mereka, sampai-sampai doa mereka antara lain: Ya Allah aku berpuasa 3 kali seminggu, aku bersyukur dilahirkan sebagai orang Yahudi yang beragama Yahudi tidak seperti orang kafir. Orang Farisi berdoa di perempatan jalan supaya dapat dilihat orang banyak. Agama seolah-olah menampilkan kesalehan dan kebajikan tetapi supaya dilihat manusia lain, supaya menjadi pameran untuk menjadikan kesombongan diri.

Di balik tampilan-tampilan kesalehan/ kerohanian, di belakangnya terdapat kejorokan/ kejahatan yang luar biasa. Agama dipakai sebagai penutup segala macam kebusukan yang ada di belakangnya. Tuhan Yesus berkata bahwa justru ketika engkau meneriakkan hal itu, disitulah engkau sedang menyatakan kesaksianmu. Agama kalau tidak beres akan sangat berbahaya, bukan ke luar diri melainkan ke dalam diri kita sendiri. Seberapa jauh kita belajar untuk kembali kepada esensi agama yang sesungguhnya? Mari kita balik menggarap kebajikan yang asli, belajar memaksa diri untuk hidup bersih, bagaimana berbuat baik sejati, mulai dengan memurnikan motivasi. Motivasi yang tidak murni walau hanya sedikit berarti sudah membiasakan diri untuk bercabang. Tuhan meminta: esensi agama adalah pembersihan internal. Ini adalah iman yang menuntut pembersihan, menuntut kebangunan internal.

Point ketiga, esensi agama seharusnya ujung-ujungnya adalah surga. Anehnya, setiap manusia berjuang menuju ke surga arahnya justru berbalik menuju ke bawah/neraka. Surga digambarkan di atas, naik ke tempat tertinggi, naik ke surga. Ini bukan urusan geografis melainkan urusan konsep di kepala. Naiknya manusia kepada kualitas tertinggi, menuju ke surga. Surga adalah ketika kita bersatu kembali dengan Allah, kita berada bersama-sama dengan Dia Tuhan alam semesta. Agama yang beres akan membuat hidup kita terus naik ke atas, kualitas hidup kita semakin lama semakin tinggi. Seluruh proses positif di dunia akan membuat kita semakin lama semakin bertumbuh, semakin berkualitas. Positif adalah kalau ditinjau dari surga, sedang menuju ke surga. Sukses adalah kalau membawa kita menuju ke surga. Sukses menurut dunia justru seringkali membawa kita semakin rendah kualitasnya. Sukses sejati seharusnya membawa kita kepada kualitas tertinggi. Kualitas tertinggi bukanlah kualitas material melainkan kualitas moral/ hidup. Seberapa jauh hidup kita mencapai kualitas hidup tertinggi sehingga hidup kita mencapai kemuliaan terbesar. Kemuliaan terbesar akan menjadikan kita betul-betul dihargai oleh Tuhan. Kriteria terbaik untuk surga adalah sampai Tuhan berkata kepada kita: engkau adalah hambaKu yang baik dan setia. Kejarlah 2 sifat ini dalam pergumulan hidup kita. Kita dikatakan sukses jika Tuhan berkata: engkau adalah hambaKu yang baik dan setia, marilah masuk ke dalam perjamuan tuanmu. Konsep nilai ini diverifikasi oleh Tuhan Allah. Yang atas berhak menilai yang bawah, yang bawah tidak punya hak menilai. Jangan sekali-kali kita menyerahkan penilaian hidup kita pada yang dibawah kita. Kristus adalah penilai yang bersifat final. Artinya pada detik akhir sejarah, yang berhak menentukan seseorang benar atau tidak adalah Kristus. Karena itu sejak dari sekarang seluruh konsep nilai kita haruslah dicocokkan dengan Kristus.

Orang Farisi dan ahli Taurat berpikir bahwa mereka sedang menuju ke surga. Tuhan Yesus berkata: kamu ular beludak, bagaimana mungkin kamu dapat lolos dari hukuman neraka? Berarti ujung-ujungnya mereka menuju ke neraka. Betapa mengerikannya hidup kita kalau katanya terus beragama tetapi ujungnya ke neraka. Percaya kepada Tuhan Yesus pasti masuk surga. Pernyataan ini betul tetapi percaya yang bagaimana. Siapa yang kita percaya harus menjadi subjek mutlak dalam hidup kita. Kalau kita percaya kepada Tuhan Yesus berarti semua omongan Tuhan Yesus harus kita setujui/kerjakan bukannya dibantah. Tuhan Yesus berkata: banyak orang yang percaya kepada Saya tetapi Saya tidak mempercayakan diri kepada siapapun. Karena Tuhan Yesus tahu tidak ada yang layak untuk dipercaya, hanya Dia yang layak untuk dipercaya. Ikut Dia tidaklah salah! Inilah konsep iman yang sesungguhnya. Kalau kita beriman sejati, maka kita akan terus naik menuju ke surga, kembali kepada Tuhan. Kalau kita bermain dengan agama yang salah, kita akan berakhir ke neraka. Orang Yahudi yakin kalau mereka akan masuk surga karena mereka terlalu yakin menjadi umat pilihan. Mereka terus berteriak tentang umat pilihan tanpa mengerti isi/maksud dari umat pilihan yang sesungguhnya. Umat pilihan adalah umat yang Tuhan pilih supaya dapat hidup mengikut Tuhan Allah lalu menjadi saksi bagi semua orang. Kita harus kembali kepada agama yang beres definisi isinya bukan hanya slogannya, bagaimana kita hidup dengan praktek, dengan isi yang sesuai dengan yang Tuhan inginkan. Kiranya ini mengkoreksi kita, mempertumbuhkan kita semakin hari semakin naik, semakin hari semakin dipakai Tuhan. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)