Ringkasan Khotbah : 11 Oktober 2009

Dinamika Iman Kaleb

Nats: Yosua 14:6-11

Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan

 

Pada hari ini kita akan melihat 2 bagian ayat dalam Kitab Suci yaitu Yosua 14:6-11 dan Bilangan 14:24. Ada 1 penekanan dalam Bilangan 14:24 yaitu: karena lain jiwa yang ada padanya (Kaleb). Nats Alkitab hari ini membicarakan tentang 1 tokoh yang bernama Kaleb. Tidak banyak ayat yang berbicara tentang tokoh ini sehingga sangat sedikit keterangan yang bisa kita dapatkan tentang tokoh ini. Kaleb adalah seorang yang pergi dan mengintai bersama 11 orang yang lain pada awal bangsa Israel hendak memasuki tanah Kanaan. Kaleb mewakili bani Yehuda, dan pada waktu itu berusia 40 tahun. Catatan dalam Kitab Yosua diatas tertulis bahwa Kaleb sudah berumur 85 tahun, berarti sudah ada jeda waktu 1 angkatan yaitu 45 tahun. Pada Yosua 14:14 diceritakan bahwa Yosua memberikan Hebron kepada Kaleb sebagai milik pusakanya. Sedikit saja cerita tentang Kaleb yang kita dapatkan, tetapi perlu mendapatkan perhatian kita karena Musa sendiri berkata bahwa Kaleb adalah orang yang mengikut Tuhan dengan sejujur-jujurnya dan dengan sepenuh hati. 

Catatan seperti terhadap Kaleb itu merupakan keinginan setiap orang Kristen. Pada saat Kaleb berjalan, dia ingin berjalan dengan sepenuh hati untuk taat mengikut Tuhan, bahkan pada Kitab Bilangan kita menemukan bahwa Tuhan sendiri yang memberikan penilaian kepada Kaleb yaitu: dia adalah orang yang hatinya sepenuhnya untuk Tuhan. Kata-kata ini merupakan impian bagi setiap orang Kristen, harapan dari perjalanan iman setiap orang percaya. Bagaimana caranya?

Ayat dalam Kitab Yosua yang kita baca diatas tertulis usia Kaleb sudah 85 tahun sehingga adalah sesuatu yang valid kalau kita mencoba untuk berkaca dan melihat apa yang Alkitab katakan tentang Kaleb mengikut segenap hati, sepenuh-penuhnya hatinya diberikan kepada Allah, mengikut dengan sejujur-jujurnya. Mari kita mencoba melihat tentang hati yang mengikut Tuhan, dan hati yang sepenuhnya kepada Allah. 

Perlu kita akui bahwa problema ini merupakan sebuah problema yang tidak mudah untuk dikerjakan, sebab ketika berbicara perihal mengikut Tuhan maka paling tidak ada 2 sisi yang dapat kita soroti yaitu: 1) perihal mengikut Tuhan, 2) siapa yang diikuti menjadi faktor yang disingkirkan. Orang semacam ini akan berkonsentrasi penuh bagaimana akan ikut, dan mungkin sekali akan terjebak dengan berbagai macam aturan yang mengikat dan ingin sekali supaya terlihat bahwa dia tidak bersalah dan sangat ingin terlihat bahwa dia sangat rohani, tetapi mungkin sekali apa yang dirasakannya menjadi sangat berat, karena orientasinya adalah kepada apa yang harus saya perbuat untuk menunjukkan kalau saya ikut Dia. Menjadi pertanyaan bagi setiap kita: ketika kita mengikut Tuhan, kita merasa bahwa hal tersebut adalah susah ataukah mudah? Pertanyaan ini sangat mudah diajukan tetapi sangat sulit untuk menjawabnya. Kalau kita menjawab: susah, sepertinya tidak beriman, kalau menjawab: mudah, sepertinya sombong rohani, kalau menjawab: susah-susah gampang, sepertinya kompromi. Dari 3 pilihan itu, secara jujur di kedalaman hati kita, kita akan berkata bahwa hal tersebut adalah susah, karena terlalu banyak aturan dan banyak hal yang sifatnya sepertinya tidak dapat diganggu gugat sehingga ketika salah sedikit saja sudah merasa tertuduh/terpidana. Ini adalah fakta, akibat dari fokus kita pada bagaimana mengerjakannya, walaupun hal ini tidaklah salah karena pada praktek keagamaan memang ada sesuatu yang harus dikerjakan. Hanya saja, dalam keseimbangannya kita perlu mengetahui adanya 1 faktor lain yang perlu dipertimbangkan yaitu siapa yang kita ikuti. Hal ini menjadi sebuah catatan penting dalam kehidupan Kaleb. Mari kita menyoroti pribadi Kaleb.

Nama Kaleb memiliki arti salah satunya: anjing. Ada penafsir yang mengatakan bahwa seperti seekor anjing yang setia mengikut tuannya, demikian juga halnya dengan Kaleb. Arti yang lainnya dari nama Kaleb adalah: sepenuh hati, hamba Allah. Alkitab juga menyatakan bahwa selama 85 tahun berjalan, Kaleb menunjukkan hati yang sepenuhnya kepada Tuhan dan Musa menangkap hal itu; dan juga betul bahwa dia adalah seorang hamba Allah. Hati yang sepenuhnya diberikan kepada Allah, jika ada pengurangan walau sekian persen/sedikit saja maka hal itu sudah termasuk bukan sepenuh hati. Sepenuh hati artinya sepenuh-penuhnya, 100% hati itu diberikan. Allah memberikan perhatian untuk orang-orang yang memberikan hatinya dengan sepenuhnya, ada berkat Tuhan disana.

Kita akan menyoroti beberapa hal tentang hati yang sepenuhnya diberikan kepada Allah yaitu:

1) hati yang sepenuhnya itu bukanlah apa yang terlihat melainkan jiwanya. Banyak orang mempunyai kepala yang besar tetapi hati yang kecil, menyediakan kepalanya untuk memahami, untuk berpikir, menyediakan kakinya untuk melangkah, menyediakan tangannya untuk mengerjakan sesuatu, tetapi tidak menyediakan hatinya untuk itu. Alkitab menyatakan kepada kita adanya hati yang dipersembahkan, yaitu berbicara mengenai bagaimana seseorang memberikan suatu arahan/fokus/ perhatian kepada pribadi Allah itu sendiri. Melayani tidak tentu melakukan segala sesuatu dan segala kegiatan yang kita pikir rohani, tetapi jika tidak ada hati disana akan sama dengan yang Tuhan katakan: Aku menolak semua pekerjaanmu, semua persembahanmu, karena semuanya hanyalah kejijikan bagiKu. Yakobus juga memberi sebuah catatan bagi kita untuk point ini yaitu: orang-orang yang mendua hati tidak akan pernah tenang dalam hidupnya. Orang yang

seperti ini jika bertemu dengan harapan yang tidak sampai maka hatinya akan menjadi kecewa dan akan dengan sangat mudah mengatakan kalimat-kalimat keberatan kepada Allah. Orang seperti ini akan memilih-milih apa yang dia senangi dan apa yang tidak dia senangi, lalu dia hanya mengerjakan yang dia senangi. Orang seperti ini akan secara diam-diam membuat perkecualian-perkecualian tertentu pada waktu dia berhubungan dengan Allah. Orang seperti ini bukanlah seorang hamba Allah, melainkan hamba untuk dirinya sendiri, dan ada jiwa pemberontakan yang dia taruh didalam hatinya.

Di bagian yang lain, ada orang yang mengatakan bahwa tidak semua perintah Tuhan itu penting. Orang seperti ini mungkin sekali akan mengambil contoh tentang baptisan Tuhan Yesus, bukankah seorang penjahat yang disalibkan di samping Tuhan Yesus berkata: ingatlah akan aku kalau Engkau kembali sebagai raja; dan Yesus langsung berkata: pada hari ini juga engkau bersama dengan Aku di dalam Firdaus; hal ini menunjukkan bahwa dibaptis ataupun tidak adalah tidak terlalu penting, yang penting adalah percaya kepada Tuhan Yesus. Saya akan berkata kepada mereka bahwa penjahat itu tidak punya kesempatan untuk ikut kelas katekisasi, ketika dia percaya dia langsung mati. Anda boleh berkata seperti diatas tetapi juga harus menerimanya 1 paket, artinya: setelah percaya kepada Tuhan Yesus kemudian langsung mati. Kalau orang tersebut tidak langsung mati, dia akan berhadapan dengan perintah Tuhan Yesus yang lain yaitu: Baptiskanlah mereka. Tidak ada perintah Allah yang tidak penting!

Ada orang yang mementingkan segala sesuatu yang terlihat. Orang seperti ini akan diam-diam memilah-milah, apa yang penting dan apa yang tidak/kurang penting. Biasanya, yang dibilang kurang penting adalah perintah yang menuntut penyerahan hidup secara total dan ada semacam ketidak relaan. Ada kalanya dia ingat akan tuntutan Allah itu tetapi dia pura-pura tidak ingat. Orang seperti ini tanpa disadari akan membangun jiwa Farisi. Orang Farisi sebenarnya memiliki keingingan untuk hidup berkenan kepada Allah, menyenangkan hati Allah, melayani Allah dengan baik, tetapi diam-diam mereka membuat pilihan-pilihan, ada wilayah-wilayah yang mereka mau dan ada wilayah-wilayah yang mereka tidak mau. Orang seperti ini terjebak dalam sesuatu yang terlihat dan bukan pada jiwanya. Mengikut Tuhan bukan sekedar berbicara tentang apa yang kita kerjakan tetapi lebih pada apa yang kita terima berkaitan dengan Allah itu sendiri. Jiwa yang memilah-milah ini akan cepat menjadi kecewa, menjadi tawar hati apabila berjumpa dengan Tuhan yang tidak memberikan segala sesuatu yang dia inginkan.

2) Musa berkata bahwa Kaleb membawa kabar yang sejujur-jujurnya. Hal ini merupakan hal yang sangat sulit. Dari 12 orang yang pergi mengintai, terbentuk 2 kubu yang berbeda yaitu 10 orang mengatakan bahwa tanah itu memang berlimpah susu dan madunya, tetapi tanah itu didiami oleh orang-orang yang sangat besar sekali dan kita sangat susah untuk sampai di dalamnya; 2 orang mengatakan kalimat yang sebaliknya. Yosua diam pada waktu itu. Beberapa penafsir mengatakan: mungkin sekali karena Yosua merasa bahwa dia adalah wakil Musa sehingga dia diam saja. Jadi hanya 1 orang yaitu Kaleb yang mengatakan bahwa mereka bisa masuk ke tanah itu. Apakah ini bukan sesuatu hal yang terlalu berlebihan, yang mengabaikan fakta, karena kenyataannya memang betul bahwa tanah itu berlimpah susu dan madunya dan ada orang-orang yang menjadi penghuni tanah itu dan mereka tidak mempunyai kemampuan untuk melawan penghuni tanah itu. Perjalanan kita dalam mengikut Tuhan seringkali juga memperbandingkan tentang 2 hal ini yaitu fakta dengan diri Allah sendiri.

Mengapa Yosua dan Kaleb berani mengatakan bahwa mereka pasti bisa menaklukkan orang Kanaan? Mereka berani menaruh harapan mereka kepada Allah yang berjanji kepada Musa bahwa mereka akan dipimpin menuju tanah Kanaan. Walaupun realita sepertinya tidak dapat memberikan sebuah harapan, tetapi ada suatu pegangan yang coba dipegang yang tidak mau dilepaskan yaitu bahwa Allah berjanji untuk masuk ke sana. Dalam hal ini sebenarnya terjadi tarik menarik antara realita dengan kebenaran janji Tuhan dalam FirmanNya. Kedua hal ini terus tarik menarik, lebih banyak manakah yang kita korbankan? Realita lebih menarik, lebih riil, lebih logis, bisa tepat diterima dan kita bisa langsung menyesuaikan kondisi diri dengan realita tersebut. Itulah sebabnya banyak sekali pengalaman iman yang disesuaikan dengan realita. Itulah sebabnya banyak kali apa yang Tuhan katakan digeser.

Musa menunggu kabar yang sejujur-jujurnya. Menurut saya, Musa sendiri juga gentar menuju tanah Kanaan. Sudah 40 tahun ditunggu-tunggu untuk masuk tanah Kanaan, tetapi begitu hampir masuk Tuhan tidak mengizinkan Musa untuk memasukinya, lalu siapa yang akan memimpin bangsa Israel untuk memasuki tanah tersebut, ditambah lagi laporan dari 10 orang tersebut diatas. Maka iman sepertinya sampai pada kondisi menyerah kepada kenyataan.

Mengikut Tuhan membutuhkan suatu kemurnian dalam hal melihat segala sesuatu dalam kondisi pada tempatnya dan kemurnian mau menaruh hati dengan mengatakan bahwa antara realita dan janji Tuhan, janji Tuhanlah yang lebih kuat. Iman memang melihat adanya masalah, tetapi tetap melihat bahwa Tuhan lebih besar dari masalah yang ada. Kaleb memberikan laporan yang sejujurnya sekaligus hendak mengatakan bahwa Tuhan kita lebih dari semua ketakutan-ketakutan yang kita hadapi.

Ada kemungkinan orang yang beragama sebetulnya tidak peduli sama sekali dengan agamanya. Orang seperti ini adalah orang yang mementingkan diri sendiri, dan akan sangat terlihat pada seruan-seruannya kepada Allah, yang menuntut Allah dalam doa-doanya. Orang seperti ini adalah orang yang melayani diri sendiri, yang sangat egois, tetapi dibungkus dengan warna-warna agama. Mereka mungkin sekali kelihatan sangat rohani, tetapi sangat egois sekali. Mereka lupa untuk menyerahkan keinginan kepada Tuhan yang lebih tahu. Orang yang seperti ini juga akan menjadikan agama sebagai sebuah alat untuk melayani semua tuntutan kebutuhan didalam diri, bukan hanya kebutuhan materi melainkan juga kebutuhan kepuasan emosi dalam diri. Agama akan dijadikan didalam konteks timbal balik, artinya menuntut Tuhan memperhatikan karena dia sudah mengikut Tuhan. Orang seperti ini akan mencoba untuk tawar menawar terus menerus dengan Allah. Dia akan berkata: aku akan serahkan hidupku kepada Tuhan/taat kepada Tuhan/ sungguh-sungguh melayani Tuhan jika ... Jika kalimat seperti itu muncul dalam doa kita, sebetulnya menunjukkan bahwa kita lebih tinggi daripada Tuhan.

Paulus mengatakan bahwa hidup kita bukanlah karena melihat melainkan karena percaya. Allah tidak pernah mempunyai kewajiban untuk menjawab semua doa, untuk selalu menunjukkan DiriNya kepada setiap orang percaya. Orang seperti diatas membangun relasi dengan Allah dengan cara meniru relasi dia dengan sesama. Semuanya itu menunjukkan tidak adanya kemurnian dan hati yang tulus. Kemurnian adalah kesediaan untuk menerima segala akibat dari relasi yang tercipta dengan Allah, termasuk akibat: Tuhan tidak memberikan apa-apa, apapun yang Tuhan beri akan diterima. Alkitab memberikan contoh hal ini dalam cerita tentang Hananya, Misael dan Azarya yang menerima hukuman yaitu dimasukkan ke dalam dapur perapian, mereka berkata: Allah kami sanggup menyelamatkan kami dari dapur perapian ini, tetapi andaikata Dia tidak melakukannya, kami tidak akan pernah sujud menyembah dewa tuanku. Inilah kemurnian. Kemurnian tidaklah tergantung pada reaksi Tuhan melainkan apapun yang Tuhan kerjakan, kita tetap menaruh hati padaNya. Pengalaman iman bukan tergantung pada apa yang kita lihat melainkan sangat bergantung pada bagaimana hati kita ditaruh disana. Hal ini memang tidak mudah dilakukan tetapi bisa dilakukan.

3) Alkitab memberikan kepada kita semacam indikasi bahwa orang yang taat akan berjalan dalam sukacita, taat dalam kondisi yang tidak dapat diganggu untuk bersukacita. Orang-orang suci dalam Alkitab menyatakan kesukacitaan mereka setelah melewati fase ketaatan, para penghuni surga pun taat dan penuh sukacita memberikan penghormatan kepada Anak Allah. Jadi perjalanan iman ditandai dengan ketaatan yang penuh dengan sukacita karena kita tahu bahwa kita tidaklah salah, kita tahu bahwa kita sedang berjalan didalam kehendak Tuhan. Sukacita yang benar adalah sukacita karena menyukai apa yang disukai Tuhan. Disitulah kita tahu bahwa kita sedang berjalan didalam ketaatan kepada Allah, kita tahu bahwa hati kita ditaruh di hadapanNya.

Orang yang tidak sepenuh hati bekerja untuk Tuhan, tidak akan menikmati pekerjaan itu, sangat berbeda dengan orang yang bekerja sepenuh hati untuk Tuhan. Paulus berkata: kerjakanlah segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Mari kita belajar melatih diri untuk bersukacita ketika berjalan mengikut Tuhan.

4) Pembagian wilayah Kanaan terjadi pada waktu Kaleb berusia 85 tahun. Kaleb berkata: sampai saat ini kekuatanku untuk berperang sama seperti pada saat aku menerima perintah Musa. Hal ini menunjukkan adanya sebuah konsistensi, yaitu dari dahulu sampai sekarang tetap sama. Walaupun sudah lewat 45 tahun lamanya, tidak pernah ada catatan negatif tentang Kaleb didalam Alkitab. Tidak ada yang terlalu bermasalah dalam hidup Kaleb, walaupun untuk tetap konsisten bukanlah sesuatu yang mudah, dia harus berjuang untuk itu. Konsistensi hati yang dipersembahkan kepada Allah bukanlah hal yang mudah tetapi bisa dilakukan.

Paulus suatu kali mengungkapkan kesedihan hatinya kepada orang-orang di Galatia, dia memakai kata-kata yang tajam yaitu: kamu orang Galatia yang bodoh, kamu memulai dengan roh tetapi mau mengakhiri dengan daging. Untuk orang Galatia yang percaya kepada Kristus, tarikan daging itu begitu hebat sehingga mereka dengan mudah menggeser imannya dan mempersilahkan kedagingan datang dalam hidup mereka dan mereka menikmatinya. Hal ini sebagai sebuah peringatan bahwa keinginan daging memiliki kekuatan yang begitu hebat, dan orang begitu mudah mengesampingkan hal yang rohani, atau kalau mungkin berkompromi. Kita harus berdoa memohon pertolongan Tuhan untuk memberikan hati yang konsisten untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah. Ini menjadi kalimat doksologi yang ditulis oleh Yudas di akhir Surat Yudas yaitu: bagi Dia yang dapat memelihara dan menjaga supaya kaki kita jangan terpelecok. Karena mudah sekali terpelecok maka Yudas mengarahkan matanya ke atas kepada Dia yang sanggup memelihara dan menjaga supaya tidak terpelecok. Untuk tetap dapat konsisten harus berjalan dengan iman yang diletakkan pada pribadi Allah sendiri.

Tuhan memberikan kepada kita iman yang merupakan anugerah yang begitu besar, karena tidak semua orang mendapat kesempatan untuk percaya kepada Allah, kita harus berjuang untuk memelihara dan menjaganya. Hidup Kristen adalah tanggung jawab Allah 100% dan tanggung jawab kita 100%. Tetapi Kitab Filipi mengatakan bahwa Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun kehendakNya. Jadi sambil kita berjuang kita juga berdoa mohon Tuhan tolong supaya kita dapat berjuang. Kita berharap kalau usia kita bisa panjang seperti Kaleb, ada orang yang berkata bahwa kita sudah mengikut Tuhan dan hatinya diserahkan sepenuhnya. Bagaimana caranya supaya kita bisa seperti itu? Kita harus berjuang untuk itu. Tuhan akan memberkati setiap hati yang diserahkan kepadaNya. Tuhan akan memberikan keindahan menikmati Tuhan. Ada banyak peluang untuk kita bisa menikmati Allah, oleh sebab itu pikiran kita harus mengatakan bahwa kita ingin berjalan terus dalam seluruh ketaatan, dalam kerinduan untuk terus percaya kepada Allah, maka doa kita adalah: Tuhan, beranugerahlah bagi kami. Tuhan akan menolong kita.  ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)