Ringkasan Khotbah : 20 September 2009

Wrong Religiousity (5)

Nats: Matius 23:16-22

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Tuhan Yesus mengkritik keras orang Farisi dan ahli Taurat, tetapi kritik ini tidak dibicarakan langsung kepada orang Farisi dan ahli Taurat. Pada Matius 22 Tuhan Yesus langsung  berhadapan dengan orang Farisi dan ahli Taurat. Pada Matius 23 Tuhan Yesus berbicara kepada murid-muridNya dan orang banyak supaya mereka, ketika melihat perilaku orang Farisi dan ahli Taurat, tidak melakukan kesalahan yang sama. Melalui refleksi perilaku dari orang-orang yang dianggap sangat religius, sangat saleh, sangat mengerti Firman Tuhan, yang justru dikritik habis oleh Tuhan Yesus karena keagamaan mereka salah, para murid mendapat peringatan keras agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti itu. Peringatan itu tidak hanya berlaku bagi para murid, orang banyak pada saat itu, tetapi juga untuk kita pada hari ini.

Matius 23:16-22 berbicara tentang bagaimana Tuhan Yesus melihat kekonyolan orang Farisi. Ayat tersebut dimulai dengan kata-kata: hai pemimpin-pemimpin buta/pembimbing-pembimbing buta; selain itu juga ditambahkan lagi pada ayat 17: kamu orang-orang bodoh. 2 atribut yang dikenakan kepada orang Farisi dan ahli Taurat yaitu buta dan bodoh, dan bagaimana keduanya dikaitkan dengan aspek sumpah. Orang Farisi dan ahli Taurat tidak merasa kalau diri mereka buta, mereka justru merasa sudah membuka mata dengan lebar/melek. Apa yang melek dari sudut pandang mereka ternyata adalah buta secara esensi menurut Tuhan Yesus. Disini kita melihat bagaimana Tuhan Yesus melihat suatu fakta dengan sangat tajam dari sebuah bentuk religiositas.

Orang yang katanya beragama, mengerti Firman Tuhan, kalau tidak betul-betul dibukakan maka pada hakekatnya dia buta walaupun dia melek. Orang yang katanya begitu dekat dengan Tuhan, mengerti Taurat, mencari kebenaran, pada saat Kebenaran itu ada di depannya justru mereka tidak melihatNya, waktu Tuhan hadir di depannya mereka membunuhNya. Itulah kondisi asli yang menunjukkan bahwa mereka buta.

Ketika Tuhan Yesus mengajar dengan memakai perumpamaan, murid-muridNya bertanya mengapa harus demikian. Banyak hamba Tuhan yang mengajar bahwa Tuhan Yesus mengajar dengan memakai perumpamaan supaya orang lebih mudah untuk mengerti. Dalam Matius 13:10-13 Tuhan Yesus menjawab: karena kepadamu diberi karunia/ anugerah untuk melek/ mengerti kebenaran tetapi kepada mereka tidak, maka mereka melihat tetapi tidak melihat, mereka mendengar tetapi tidak mendengar dan tidak mengerti. Ketika Alkitab mengajar kita tentang prinsip pengajaran Firman, apa yang diajarkan oleh Firman Tuhan adalah berbeda jauh dengan apa yang dipikirkan oleh manusia, maka ketika manusia memakai cara manusia untuk berpikir, dia akan mengalami benturan. Itulah yang katanya melek, dan oleh Tuhan Yesus dikatakan buta.

Tuhan Yesus juga membukakan kepada mereka fakta yang sesungguhnya yaitu bapa mereka adalah iblis, tetapi mereka tetap juga tidak bisa melihat, mereka marah keras karena mereka sangat tidak bisa menerima hal ini, justru membuktikan bahwa mereka betul-betul buta. Orang yang melihat ketika diberitahu suatu fakta akan merasa cocok dengan yang dilihatnya, tetapi orang yang buta tidak akan dapat merasa cocok ketika diberitahu suatu fakta.

Orang buta yang merasa dirinya melek tidak mungkin dapat mengerti maka akan termasuk golongan orang bodoh. Orang yang bodoh adalah orang yang betul-betul bodoh tetapi tidak mengetahui kebodohannya. Orang bodoh ketika diberitahu tentang kebodohannya lalu marah, membuktikan bahwa dia memang bodoh. Orang bodoh yang menyadari kebodohannya bukanlah termasuk orang bodoh, karena begitu dia tahu akan kebodohannya akan mendorong dia untuk belajar agar tidak bodoh, tetapi makin dia belajar agar tidak bodoh, dia akan makin sadar bahwa dirinya bodoh, tetapi sebenarnya dia tidaklah bodoh. Orang yang tidak pernah belajar, tidaklah tahu kalau dia bodoh, tetapi dia tidak merasa kalau dia bodoh. Orang yang berisi akan semakin merunduk, yang tidak berisi akan semakin menengadah. Ketika orang Farisi dan ahli Taurat membunuh Tuhan Yesus, fakta itu merupakan fakta yang fatal dari kebodohan mereka. Kebenaran yang mereka cari ketika berada di depan mereka, mereka membunuhNya. Betapa bodohnya!

2 atribut yaitu buta dan bodoh bukan dimaksudkan oleh Tuhan Yesus untuk menghina melainkan untuk menunjukkan kepada setiap kita bahwa semakin kita tidak mau membuka diri, rendah hati, membongkar  diri,  maka  kita  akan  semakin  buta dan bodoh. Seluruh aspek yang orang Farisi dan ahli

Taurat lakukan hanyalah membuktikan kebodohan dan kebutaan mereka. Orang bodoh adalah orang yang berpikir, mengambil langkah/ keputusan selalu salah. Berarti dalam aspek religiositas pun mereka telah salah, salah satunya dalam hal sumpah. Apa hubungan antara bodoh dan sumpah? Nats Alkitab kita pada hari ini sama sekali tidak memberi ide mengenai boleh tidaknya bersumpah. Di dalam perilaku religiositas yang ditetapkan oleh orang Farisi dan ahli Taurat tentang aspek sumpah, bukannya pada sumpah itu sendiri melainkan pada sesuatu dibelakangnya, pikiran apa dibalik perilaku sumpah.

Apakah esensi sumpah itu? Mengapa harus melakukan sumpah? Sumpah adalah sebuah tindakan untuk mendapatkan validitas/keabsahan/jaminan bagi apa yang kita katakan ataupun kita lakukan. Seringkali sumpah dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat supranatural, misalnya: sumpah demi Allah, urusan surgawi diikutkan dalam urusan duniawi. 3 hal yang akan kita soroti mengenai aspek sumpah yaitu:

1.        Aspek kepentingan.

Didalam sumpah sepertinya kita ingin menarik aspek surgawi, seperti: bait suci, emas bait suci, mezbah, dll, karena penekanan sumpah bukan pada esensinya melainkan pada aspek materi/sekulernya. Sumpah sepertinya adalah urusan rohani, menyangkut unsur bait Allah, karena dunia suka sekali menggunakan nuansa rohani/religius karena sepertinya lebih afdol/kuat. Kalau dilihat dari esensinya, sumpah sama sekali tidak berhubungan dengan urusan rohani. Kalau kita mementingkan urusan duniawi tetapi memakai topeng hal-hal rohani, itulah yang sangat dikritik oleh Tuhan Yesus. Ketika seseorang beragama, hal yang harus diwaspadai adalah: untuk apakah beragama, karena memang untuk beragama ataukah untuk urusan uang. Hampir keseluruhan hidup manusia beragama bukanlah untuk Tuhan. Orang datang ke agama apapun bukan untuk Tuhan melainkan untuk mendapatkan semua urusan duniawinya. Di belakang kalimat-kalimat rohani ada bentukan/format duniawi. Kalau diformat secara duniawi murni akan kelihatan liarnya/ jahatnya, jadi perlu pakai tameng rohani. Model seperti ini, yang hanya mencari kepuasan duniawi, akan dibuang oleh Tuhan. Seberapa jauh iman kita kembali kepada Allah dalam bentuk religiositas yang asli?

Satu hal yang sangat penting dalam hidup kita adalah kita bertemu dengan Tuhan, melihat segala sesuatu dari sudut Tuhan, karena Firman Tuhan mengajarkan: sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia, bagi Dia kemuliaan selama-lamanya. Allah adalah pusat, kepentingan diatas segala kepentingan, prioritas diatas segala prioritas. Semua yang terpenting harus di tempat Tuhan Allah. Kalau hidup kita bisa bergeser ke posisi itu, betapa indahnya hidup kita, kita tidak hidup dualistik,  tidak munafik,  tidak menipu diri sendiri.

2.        Otoritas Allah.

Sumpah yang memakai nama Allah sebetulnya titik terakhirnya tidak berhubungan dengan Allah sama sekali, tidak mengakui bahwa Tuhan bisa bertindak. Sumpah yang demikian tidak mengandung makna sama sekali.  Tindakan ini sangatlah menjijikkan. Memakai nama Tuhan Allah yang sebetulnya tidak ada di pikiran sama sekali, berarti sesuatu yang kosong; Tuhan bisa bertindak apa, Dia siapa, semuanya tidak jelas. Kita seringkali bereligiositas tanpa Tuhan. David Walsh mengatakan bahwa agama modern melakukan berbagai aktivitas keagamaan tanpa Allah didalamnya, dan bermain dengan theologi tanpa Tuhan didalam theologi. Orang datang ke gereja bukan betul-betul mengakui kedaulatan Tuhan, tetapi mau memuaskan keuntungan diri. Seluruh agama mengaku percaya kepada Allah, tetapi apakah betul-betul takut kepada Allah? Banyak orang Kristen yang tidak takut kepada Tuhan, begitu gampang bicara Tuhan. Pada hakekatnya kita mengingkari Tuhan. Dosa bukanlah membunuh, mencuri, berbohong, dll. Semua tindakan itu terjadi karena Allah sudah membuang manusia, menyerahkan manusia kepada semua perbuatan terkutuk itu. Semua perbuatan itu hanyalah efek dari dosa. Dosa yang esensial dalam iman Kristen adalah tidak mengakui Allah dan kebenaranNya. Ketika kita memakai nama Allah tetapi tidak mengakui Dia adalah merupakan penghinaan yang besar kepada Allah. Sebagai ilustrasi, ketika kita sebagai orang tua berbicara kepada anak kita, anak kita buang muka, hati kita pasti sangat tersakiti, karena kita sudah menunjukkan perhatian kita tetapi anak kita menghina kita. Orang tua duniawi saja merasa sakit dihina sedemikian, apalagi Allah surgawi yang tidak pernah bohong ataupun berkata sesuatu yang sia-sia/hanya iseng, Allah memiliki maksud dengan perkataanNya. Ketika Tuhan menyatakan sesuatu pastilah bernilai, pastilah kebenaran. Ketika Allah menyatakan kebenaran, kebajikan, kesucian, lalu manusia tidak mau dengar, maka hukuman mati adalah hukuman yang paling tepat. Melawan apa yang Allah inginkan merupakan pemberontakan kepada Allah. Melawan apa yang Allah nyatakan berarti melawan diri Allah dan kebenaranNya.

Ketika kita memakai nama Allah tetapi memungkiri kekuatan Allah, menolak kedaulatan Allah, maka hukumannya dahsyat. Manusia di titik pertama harus kembali kepada kebenaran Allah dan kerajaanNya. Otorisasi kekuasaan dan pemerintahan ada di tangan Allah. Tuhan yang memerintah, kita sebagai budakNya, kebenaran Allah sebagai landasan. Kembalinya kita kepada kebenaran Allah menjadi langkah kebenaran kita. Kalau kita melakukan kebenaran 99% dan kesalahan sebesar 1% maka kita tetap bersalah. Benar atau salah tidak memiliki tingkatan, di luar benar pasti salah. Kekristenan yang tidak mengakui kerajaan Allah dan kebenaranNya di titik pertama berarti tidak memiliki sisa apapun. Iman Kristen dimulai dengan prinsip yang diajarkan oleh Tuhan Yesus: carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya.

Banyak orang yang bersumpah demi emas bait Allah tetapi tidak mengakui kekuatan Allah dalam bait Allah, kedaulatan Allah dalam persembahan mezbah yang ada dalam bait Allah. Tuhan memperingatkan kita untuk berhati-hati supaya religiositas kita tidak kosong, yang memakai nama Tuhan dengan sia-sia. Karena takut dianggap sia-sia dalam menyebut nama Tuhan maka Yahweh diubah/dibaca menjadi Adonai. Inilah kebodohan! Maksud Tuhan bukan pada penggantian namaNya tetapi pada pemakaian nama Tuhan yang secara sembrono tanpa mengakui kedaulatan Tuhan. Seberapa jauh iman kita mengakui kerajaan Allah dan kebenaranNya? Dari situlah iman dan tindakan kita diperbaharui. Itulah bijaksana yang sejati. Kalau kita berjalan seperti ini, Tuhan akan beserta kita senantiasa, Tuhan sangat senang, karena kita mengakui Dia di setiap perilaku kita. Hal ini memang tidak mudah, tetapi seberapa jauhkah kita berjuang agar Tuhan boleh nyata dalam setiap aspek hidup kita?

3. Aspek kebenaran.

Sumpah demi bait Allah atau emas bait Allah atau yang lainnya, sebetulnya yang ada di pikiran bukanlah Tuhan tetapi sumpah mau diikat ke mana karena sumpah hanyalah perhitungan dari keuntungan diri. Sumpah sebetulnya intinya ada dimana dan mau mengarah kemana. Sumpah memiliki ide pertama benar atau salah, kebenaran atau tidak, tetapi dalam versi dunia bukan benar atau salah. Dunia kita tidak peduli kepada benar atau salah. Seluruh dunia hanyalah memikirkan untung atau rugi. David Wells mengatakan bahwa seluruh dunia mengikuti keagamaan hanya dihitung dari sudut untung atau rugi. Seluruh aspek dunia hanya dihitung dari 1 aspek tunggal yaitu Marketing Management. Semua bidang hanya menghitung untung atau rugi/ berjualan. Betapa mengerikan! Gereja pun juga menghitung untung atau rugi. Jadi setiap langkah dalam dunia termasuk langkah religius dihitung untung atau rugi bukannya kebenaran. Semua usaha yang mencari keuntungan diri akan menyebabkan kerusakan moral sampai ke titik yang paling rendah.

Tuhan berkata bahwa adalah sangat bodoh kalau semua hal dihitung untung atau ruginya. Karena bodohnya, hal ini sampai tidak terlihat salahnya. Dalam sebuah majalah ekonomi, saya membaca: dunia kita makin lama makin rusak, data-data yang dipaparkan kepada publik rata-rata tidak bisa dipercaya, data-data tersebut sudah dipoles sedemikian sehingga orang tidak bisa lagi mengerti kepalsuannya, karena kenyataannya seluruhnya keropos belaka. Tidak ada lagi kejujuran dalam dunia ini. Semua hal ditampilkan dengan baik supaya laku dijual, tidak lagi peduli dengan benar atau salah.

Kita berada dalam dunia, dalam sejarah yang makin lama makin rusak. Kalau sudah begini, siapakah yang bisa memberikan teladan/contoh/kesaksian hidup dalam kebenaran? Bisakah kita berharap kepada orang Muslim atau Budhist? Betapa malunya kita kalau mereka bisa hidup lebih integritas daripada kita. Mengapa kita perlu bersumpah? Karena kita sudah tidak dipercaya. Seorang yang dari pertama hidupnya lurus, selalu menjaga integritas, apa yang dikatakan ya adalah ya dan tidak adalah tidak, semua jalan kehidupannya lugas, maka dia tidak perlu bersumpah kepada siapapun.

Di tengah dunia plural seperti ini kalau kita tidak berani menjawab secara sesungguhnya, maka kita akan ikut bermain didalamnya, kita akan melintir, dan lama-lama orang tidak lagi percaya kepada kita, bahkan sumpahpun tidak lagi berarti. Inti dari sumpah adalah mencari kepercayaan, tetapi kepercayaan haruslah didukung oleh kebenaran. Kalau kita hidup dalam kebenaran, tidak bersumpahpun orang akan percaya kepada kita.

Isu utama nats Alkitab kita hari ini bukan pada boleh tidaknya kita bersumpah, tetapi Tuhan Yesus menginginkan kita hidup benar, sehingga dengan kebenaran yang kita nyatakan, kita memuliakan Tuhan, dan dengan demikian kita juga mempunyai integritas hidup yang kita bangun diatas memuliakan Tuhan dan hidup dalam kebenaran. Hal ini akan membuat orang percaya penuh kepada kita sehingga apa saja yang kita katakan menjadi kesaksian bagi orang lain. Sekali kita tidak dipercaya karena berbohong, untuk mengembalikan kepercayaan itu diperlukan waktu puluhan tahun. Maka dari itu, janganlah berkhianat karena fatal akibatnya.

Marilah kita di tengah dunia yang penuh dengan tipu muslihat ini kita boleh meneladani Kristus sehingga apa yang dikatakan adalah benar dan apa yang dijalankan adalah integritas, sehingga semua yang kita kerjakan akan memuliakan nama Tuhan dan menjadi kebenaran di tengah dunia ini. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)