Ringkasan Khotbah : 13 September 2009

Anak Terhilang Gambaran Keterhilangan Umat Manusia

Nats: Lukas 15:11-32

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Pendahuluan.

Per­um­pamaan dalam Lukas 15:11-32 ini dapat dibagi menjadi 4 bagian: (1) ayat 11, intro­duksi: seorang bapak mem­punyai dua anak laki-laki. (2) ayat 12-20a, si bungsu me­nun­tut hak­, menjual semua hartanya, pergi ke negeri jauh, memboroskan uangnya de­ngan berfoya-foya, men­jadi melarat, bertobat dan pulang ke rumah bapanya. (3) ayat 20b-24, sang bapa dengan kemurahan hati menerima kembali anaknya yang kurang ajar. (4) ayat 25-32, Suatu kontras antara respons sang bapa dan si sulung dalam menyikapi kembalinya si bungsu. si sulung marah karena menilai kebaikan dalam menerima kembali si bungsu terlalu berlebihan, lalu sang bapa coba memberikan pengertian kepadanya.

Yesus menyampaikan perumpamaan ini, dan dua perumpamaan sebelumnya dalam Lukas 15, untuk menjawab protes orang Farisi dan ahli Taurat (ayat 1-2) karena melihat Dia, seorang Rabi dan Nabi yang terhormat, mau bergaul dengan orang-orang berdosa, se­hing­ga berisiko menajiskan diri dan merusak keluhuran agama Yahudi. Tuhan Yesus me­nyam­paikan tiga perumpamaan ini untuk mengajarkan bahwa Allah begitu mencintai orang berdosa, kasih-Nya menjangkau orang berdosa dan sangat bersukacita untuk mem­bawa dan menerima mereka kembali. Apa yang dilakukan oleh Yesus adalah sejalan dengan hati Bapa sehingga mesti bukan dicela, tetapi diteladani.

Dalam menafsirkan sebuah perumpamaan, kita harus ingat bahwa kita tidak boleh menafsirkannya secara alegoris yang tidak bertanggung jawab, misalnya menjelaskan anak lembu tambun itu sebagai gambaran Yesus yang disalibkan. Alegoris sering membuat sebuah khotbah terlihat seru. Jika disampaikan oleh hamba Tuhan yang memiliki pengertian doktrin dan etika yang benar, maka nasihat-nasihatnya bisa sangat membangun walaupun secara hermeneutik tidak tepat. Tetapi jika diserahkan kepada orang yang memiliki pengertian doktrin yang salah, maka seakan-akan ia memiliki pem­benaran dari Alkitab atas pengajarannya yang salah itu. Seyogianya firman Tuhan harus mengontrol setiap pengajaran dan nasihat yang diberikan dari mimbar. Itulah signifikansi hermeneutika. Sebuah perumpamaan memiliki makna tertentu yang dimaksudkan. Wa­lau­pun kita tidak boleh terlalu kaku pada satu tujuan/makna. Adanya banyak detail yang diberikan Yesus dalam perumpamaan ini tentunya bukan sekadar asesoris yang tak ber­guna, melainkan ada banyak pengajaran penting yang hendak disampaikan di dalamnya. Perumpamaan dalam Lukas 15:11-32 ini jelas mengandung banyak makna yang mendalam. Tetapi dalam perenungan ini, kita akan memfokuskan pada kehidupan si bungsu.

Perum­pamaan ini hendak menekankan kasih Allah yang sangat besar dan sukacita ketika seorang berdosa bertobat. Tetapi jika tidak memahami kisah ini (dan nas Alkitab mana pun) dalam konteks seluruh Alkitab maka kita akan terjerumus ke dalam konsepsi yang salah ten­tang Allah dan kehidupan Kristen. Satu perumpamaan tidak mungkin dapat memberikan seluruh kompedium theologis, tidaklah mungkin satu sistem theologia yang lengkap tercakup di dalamnya. 

Ada satu bagian Alkitab yang tidak boleh kita lewatkan dalam memahami per­um­pamaan ini, yaitu Ulangan 21:18-21. Anak yang hidup tidak keruan harus dihukum berat. Walaupun kedua orangtua mengasihi setiap anaknya, tetapi jikalau anaknya adalah orang yang degil hati, peminum, maka haruslah dihapuskan dari masyarakat kudus. Anak bung­su dalam perumpamaan ini adalah seorang peminum, pelahap, maksiat dalam pelacuran, kurang ajar kepada orang tua. Anak demikian seharusnya dihukum mati! Komentar si bapa tentang anaknya saat ia kembali adalah: anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali (ayat 24).

Dengan latar belakang demikian kita harus mengerti kasih Allah yang mau disampai­kan dalam kisah ini. Kasih Allah bukanlah kasih yang lembek, yang mengabaikan keku­dus­an dan kompromi dengan kenajisan. Pemahaman yang salah akan kasih Allah akan me­nim­bulkan kekurangajaran, maka pemahaman akan kasih Allah harus kita kaitkan dengan keadilan, kesucian, kemarahan Tuhan terhadap dosa. Hal itu nyata dalam berita Injil, beri­ta salib, karya Tuhan Yesus Kristus. Kasih Allah adalah kasih yang kudus, yang besar, yang menuntut setiap dosa dihukum setimpal, dan untuk itu Anak-Nya sendiri harus menang­gung hukuman atas dosa di atas kayu salib.

Orang  yang  mengalami kasih Allah yang kudus dan adil akan menyadari anugerah Tuhan yang

luar biasa dalam suatu pertobatan dan hidup baru yang sungguh-sungguh. Pengalaman pertobatan sejati demikian, tidak memberi tempat untuk tawar menawar dengan Tuhan, bersungut-sungut kepada Tuhan, karena menyadari akan keberdosaannya yang seharusnya dihukum mati tetapi masih boleh mendapatkan anugerah-Nya.

Berikutnya kita akan menelusuri langkah-langkah kemerosotan si bungsu sampai akhirnya dia kembali:

1. Si bungsu tidak memiliki tempat bagi Allah di dalam hatinya. Inilah awal keja­tuh­annya. Kisah ini dimulai dengan si bungsu pergi meninggalkan rumah bapanya. Dalam ke­seng­saraannya di kandang babi dan hampir mati kelaparan ia mulai sadar orang upahan di rumah bapa­nya berlimpah makanan, sehingga mendorongnya untuk kembali ke rumah bapanya. Ia bangkit meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah bapanya. Kisah ini berakhir de­ngan kembali ia ke rumah bapanya dan berada dalam dekapan bapanya. Inilah inti dari hidup manusia.

Esensi hidup manusia tidak jauh dari prinsip ini: kita memberi tempat dalam hati kita bagi Allah atau tidak? “Rumah Allah“ atau Allah sendiri menjadi “home sweet home“ atau menjadi penjara/belenggu bagi kita? Rumah Allah, kehadiran Allah, persekutuan dengan Allah apakah merupakan hal terbaik yang dapat kita harapkan ataukah hanya menjadi sarana bagi tujuan-tujuan lain dan Allah perlu kita manipulasi demi kepentingan kita? Walaupun kita mempunyai segala sesuatu, kehebatan dunia, tanpa kasih karunia Tuhan hidup kita hanyalah suatu kepahitan yang demi kepahitan. Tidak ada yang lebih baik daripada rumah Allah, Allah sendiri! 

Bagi si bungsu setelah jauh dari rumah bapaknya, rumah bapaknya adalah suatu tempat perteduhan, tempat dia memperoleh damai sejahtera, tempat dia mendapatkan bahagia dan kecukupan, tempat dia bisa tenang dan damai. Tetapi tempat itu sebelum dia pergi, bagi dia merupakan tempat yang membosankan, dia tidak puas dengan semuanya itu, dia mau mencari sesuatu yang lain, dia mau memuaskan kedagingannya. Rumah yang sama diresponi secara berbeda. Mengapa bisa demikian? Karena hati yang berbeda, yang satu hati yang jahat dan dikuasai nafsu, yang kedua adalah hati yang telah diubahkan dan dijinakkan oleh kasih karunia dari Allah.

Ketika hati manusia belum ada Tuhan sebagai Yang Berdaulat, Yang Menyucikan, Yang Mengatur, maka ada yang lain yang akan segera mengambil alih takhta itu, hal-hal najis akan segera menguasainya. Hati manusia diciptakan sebagai inti keberadaan kita, dan itu hanya boleh menjadi tempat bagi Allah. Ketika Allah digeser, yang lain akan ma­suk, maka akan terjadi kekacauan dan kehancuran. Ketika manusia menolak Allah, penga­ruh buruk akan masuk, manusia akan menciptakan neraka bagi dirinya sendiri, dia akan menjadi permainan iblis, sorga akan dianggap sebagai neraka dan neraka akan dianggap sebagai tempat pesta, keluarga yang merupakan berkat dari Tuhan akan ditelantarkan, pelacur yang menggerogoti hidupnya akan dianggap sebagai bidadari, dan hidupnya akan menjadi sebuah kekacauan dan terbuka kepada kehancuran.

Ketika Allah tidak menjadi titik utama dalam hidup, itulah merupakan langkah awal keterhilangan, dan dari situlah kekurangajaran demi kekurangajaran, dosa demi dosa, kebodohan demi kebodohan timbul dalam diri kita dengan tanpa henti untuk meng­han­curkan diri kita. Oleh sebab itulah agama sejati dalam iman Kristen bukanlah dengan menakut-nakuti orang supaya hidup baik tetapi suatu perubahan esensial dari batin yang paling dalam, bahkan harus disucikan melalui darah Anak Allah sendiri, dengan Roh Kudus dan Firman yang terus membasuh kita, sehingga boleh ada suatu kemurnian sejati. Hanya dengan ketulusan kasih Allah, hati kita yang esensi dijadikan manusia baru, barulah kita memiliki harapan.

2. ayat 12-13a. Si bungsu meminta harta yang ia sebut „milik kita“ dan menuntut hak­nya. Ini tidak benar. Seorang anak tidak secara pasti akan mewarisi harta orang tuanya; dan orang tua berhak untuk membagikan hartanya sesuai yang ia pandang baik.

Walaupun si bungsu begitu kurang ajar, herannya si bapak memberikannya. Ada sesuatu yang mengherankan tentang Allah. Ia sering bertindak sangat baik, dan dianggap terlalu baik. Sangat mengherankan, Ia begitu baik mau memberikan kecerdasan kepada orang yang melawan Dia, memberikan berkat, rejeki, dan kekayaan kepada orang yang kurang ajar kepada Dia. Tentu ada bijaksana Allah dalam melakukan ini. Dan orang rohani belajar untuk tidak mempermainkan anugerah Tuhan, karena per­buatan demikian tidak akan dibiarkan tanpa dihukum.

Hukum orang Yahudi mengatur, setelah harta dibagi, baik anak maupun bapa tidak boleh menjual hartanya sampai si bapa meninggal dunia. Hal ini untuk menjaga agar anak-anak tidak menjadi kurang ajar kepada orang tua dan otoritas orang tua menjadi hilang, karena telah memiliki harta orangtuanya. Oleh sebab itulah si sulung tetap menganggap harta itu milik bapaknya dan dia tidak sembarangan memotong anak kambing. Jika kita mendramatisasi kisah ini, kita dapat membayangkan terjadinya pertengkaran yang hebat karena si bungsu hendak menjual harta bagiannya, lalu akhirnya si bapa mengizinkannya bukan dengan restu tetapi sebagai menganggap si bungsu sebagai anak durjana.        

3. ayat 13b. Si bungsu memboroskan hartanya dengan berfoya-foya dengan para pelacur (ayat 30). Pemborosan harta untuk berfoya-foya bukanlah masalah inefisiensi, ketidakmampuan untuk mengatur keuangan. Di sini adalah gambaran tentang masalah rohani. Orang membuang-buang hidupnya ke dalam ketidak beresan, membuang yang bernilai dalam hidupnya, waktunya, talentanya, semua yang terbaik yang dikaruniakan Tuhan, dia serahkan kepada iblis. Akhirnya hidupnya merupakan suatu nista, kesia-siaan. Ketika seorang menolak Tuhan sebagai yang utama dalam hidupnya dan menolak otoritas Tuhan dalam hidupnya, maka hidupnya merupakan suatu pemborosan. Di dalam dosa semuanya tidak ada yang baik.

4. ayat 14-16. Si bungsu terpuruk semakin mendalam. Hidup yang dijalani dengan ceroboh merupakan penghancuran diri sendiri. Sekarang dia terbuka pada setiap terpaan kehidupan, menjadikan jiwanya keropos dan mudah hancur. Ketika bencana kelaparan datang, dia melarat. Tanpa bencana pun orang seperti ini tidaklah bisa makan. Akhirnya dia mendapatkan pekerjaan menjaga babi. Bisa dibayangkan, seorang Yahudi yang meng­ang­gap babi itu najis, sekarang bekerja menjaga babi! Sudah memelihara babi, makanpun tidak cukup, sehingga ia minta makanan ampas babi, tetapi tidak ada yang memberikan kepadanya. Keterpurukan yang mendalam ini merupakan kemplangan bagi jiwanya. Dia dipandang lebih rendah daripada babi yang najis.

Tuhan menciptakan manusia sangat mulia, manusia sebagai mahkota ciptaan-Nya, sebagai mandataris Tuhan, sebagai raja atas bumi ini, supaya ia berkuasa atas seluruh alam ini untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Manusia adalah makhluk anggun, tetapi oleh dosanya manusia menjerumuskan dirinya ke dalam kenistaan. Dosa terjadi ketika manusia menggeser Allah dari hatinya, mengakibatkan kehancuran dirinya. Di tempat yang nista, citra Allah yang begitu mulia menjadi diinjak-injak.

5. ayat 17-19. Si bungsu menyadari dosanya dan mau pulang kepada bapanya. Si bungsu sadar dengan kesadaran yang benar, niat yang baik. Dia sadar bahwa dia tidak layak, dia harus mengaku dosa, dan harus memohon belas kasihan dari bapanya. Kandang babi adalah tempat yang paling penting bagi si bungsu karena di tempat itulah dia bela­jar bagaimana seharusnya menjadi manusia. Banyak orang belum sampai ke kandang babi tetapi sedang menuju ke sana. Mungkin mereka masih kaya, tetapi jiwanya sudah menjadi serendah “babi“ yang tidak punya harkat, tanpa pengertian. Kesadaran seperti ini dialami oleh sebagian orang setelah mereka mengalami kehancuran. Manusia sepertinya tidak per­nah belajar kalau tidak pernah menderita, kalau tidak pernah berbuat salah dan me­nanggung akibat dari kesalahannya. Itulah ironisnya manusia! Mungkin ini adalah salah satu alasan Tuhan mengizinkan manusia jatuh ke dalam dosa supaya manusia tahu bahwa hidupnya bergantung kepada Tuhan.

6. ayat 20a-21. Si bungsu mengambil tindakan konkret kembali kepada bapak. Banyak orang yang tergerak hatinya pada saat KKR, tetapi setelah itu tidak sedikitpun bergerak untuk kembali kepada Tuhan dalam pertobatan yang sungguh, tidak kembali ke posisi semula yang benar. Ada orang yang sadar lalu pulang, tetapi tidak berani masuk ke rumah bapaknya. Ada juga yang pulang kembali ke rumah bapaknya tetapi diusir oleh orang tuanya. Adalah lebih baik kita datang kembali kepada Allah walaupun Dia marah pada kita daripada kita datang kepada iblis yang siap menyambut kita dengan pesta.

7. ayat 20b-24. Sang bapa melihat anaknya dari jauh, hatinya jatuh belas kasihan, lalu berlari mendapatkannya dan menerima dia kembali pada posisinya semula dan berpesta. Saya yakin ada marah, kesal dan benci dari si bapa atas dosa anaknya, tetapi kasihnya yang besar membuat dia mau menerima anaknya kembali. Allah menginginkan kita menjadi gambar-Nya, menjadi raja atas dunia ini, menjadi mandataris-Nya, mahkota ciptaan Tuhan, tetapi betapa kecewanya Tuhan ketika melihat ada ciptaan-Nya hidup tidak tertib, me­nista Tuhan, menyerahkan diri kepada dosa untuk menghancurkan gambar Allah, mela­yani iblis dan melawan Tuhan. Allah penuh kasih tetapi Dia juga menyediakan neraka. Hal inilah yang seharusnya membuat kita takut dan gentar. Allah sangat murka kepada orang yang sangat kurang ajar. Tetapi Ia jatuh belas kasihan kepada manusia dan menginginkan mereka bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Kasih Allah bukanlah kasih yang lembek melainkan kasih yang keras sehingga Dia mengirimkan Anak-Nya yang tunggal untuk menanggung hukuman dosa atas semua manusia. Kasih Allah adalah kasih yang kudus, kasih yang hendak membasmi kejahatan. Janganlah pernah kita meremehkan kasih karunia Tuhan. Allah melalui Yesus Kristus sangatlah bersukacita menerima manusia berdosa yang kembali, ketika ada pertobatan yang sungguh-sungguh. Allah akan memuliakan orang-orang yang datang dengan rendah hati. Di dalam hatimu, adakah Allah bertakhta sebagai Raja? Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)