|
Ringkasan Khotbah : 06 September 2009
Nats: Matius 23:15 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Matius 23:15 ini menyatakan tentang penginjilan yang salah. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dikritik begitu tajam dalam hal: perjuangan mereka yang begitu keras dan serius, disebutkan dalam Alkitab: sampai mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk hanya memenangkan 1 orang supaya orang tersebut menjadi pengikut mereka; dan setelah orang tersebut mengikut mereka, maka orang itu dijadikan anak neraka sehingga menjadi 2 kali lebih jahat dari orang Farisi dan ahli Taurat. Sindiran ini begitu keras dan menjadi peringatan keras bagi setiap kita.
Saya merasa kalimat Tuhan Yesus dalam Matius 23:15 ini begitu menakutkan. Seseorang bisa menarik orang lain untuk menjadi pengikutnya, pengikut macam apakah? Ketika kita mengabarkan Injil, mengajak orang untuk menjadi pengikut kita, bagaimana kita bisa memastikan bahwa yang kita lakukan adalah benar? Pdt. Stephen Tong pernah berkata bahwa kalau seseorang bisa menarik orang lain tetapi tidak bisa membawa orang tersebut ke surga, betapa celakanya. Kalimat ini menjadi refleksi dari nats Alkitab kita pada hari ini.
Adakah orang Kristen zaman sekarang ini yang memiliki semangat begitu tinggi seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang rela mengarungi lautan dan menjelajah daratan demi untuk memenangkan 1 orang saja supaya menjadi penganut Kristen? Kalimat Tuhan Yesus tersebut diatas adalah untuk menunjukkan posisi yang ekstrim karena pada zaman itu untuk menjelajah daratan dan mengarungi lautan bukanlah hal yang sederhana. Pada zaman sekarang ini, menjelajah daratan dan mengarungi lautan sangatlah mudah karena banyaknya sarana yang tersedia seperti: jalan tol, mobil, pesawat terbang, sedangkan pada zaman Tuhan Yesus sarana transportasi yang ada hanyalah kuda/unta, kapal laut, jalanan masih berbatu. Walaupun sulit, orang Farisi dan ahli Taurat rela melakukannya bukan demi 1 bangsa melainkan demi 1 orang. Bidat memiliki semangat yang begitu luar biasa tetapi orang yang mengerti kebenaran tidak memiliki kekuatan untuk melakukan seperti itu. Orang yang memiliki iman yang benar, Injil yang benar, seharusnya lebih bersemangat dan lebih serius untuk memenangkan jiwa karena betul-betul membawa orang pergi ke surga. Adalah mengerikan jika orang yang akan membawa orang lain ke neraka justru lebih serius dan lebih bersemangat.
Penginjilan dalam nats Alkitab kita hari ini adalah membawa orang menjadi orang neraka yang 2 kali lebih jahat daripada si pembawa. Hal ini menunjukkan adanya suatu putaran kejahatan yang menakutkan. Tetapi si penarik/ pembawa itu tidaklah sadar kalau dia membawa orang lain menjadi 2 kali lebih jahat dari dirinya, dan yang menjadi 2 kali lebih jahat merasa dirinya 2 kali lebih baik. Inilah yang menjadi kegilaan sebuah citra dari yang namanya “agama“. Agama adalah sebuah bentuk yang sangat absolut, tetapi ketika tidak dijalankan dengan tepat maka melesetnya juga absolut, karena iman tidak berada di tataran relatif. Iman berada di tataran yang sangat mutlak sehingga kemutlakan itu perlu sangat-sangat peka dihadapi, dipikirkan, dan dipertimbangkan dengan tepat, maka Tuhan Yesus berbicara masalah ini dengan sangat keras.
Matius 23 bukan ditujukan kepada orang Farisi dan ahli Taurat melainkan kepada orang banyak dan para murid Tuhan Yesus, karena Tuhan Yesus tidak menginginkan kita semua mengulang kesalahan dari orang Farisi dan ahli Taurat. Apakah karena PI dari orang Farisi dan ahli Taurat menghasilkan orang jahat maka kita mulai sekarang tidak perlu PI? Bagaimanakah pengabaran Injil yang tepat? Ketika akan naik ke surga, Tuhan Yesus berkata kepada para murid bahwa Roh Kudus akan turun, para murid akan memiliki kuasa untuk menjadi saksi Kristus di Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Hal ini berarti kita harus mengabarkan Injil, menyatakan iman yang benar. Hanya saja, janganlah kita terjatuh kepada kesalahan seperti yang dilakukan orang Farisi dan ahli Taurat, terjatuh kepada keagamaan yang salah. Agama menyangkut unsur iman yang sangat absolut. Kalau ada orang mengaku Kristen berkata bahwa dia tidak ingin semua orang menjadi Kristen/ tidak semua orang perlu menjadi Kristen, berarti orang tersebut mutlak bukan orang Kristen. Seorang Kristen sejati harus percaya penuh bahwa iman Kristennya adalah mutlak benar, dan dia pasti rindu semua orang yang lain juga tidak salah dan harus kembali kepada yang mutlak benar. Kalau absolut yang dipegang adalah salah, maka binasalah orang yang menganutnya, dan orang yang ditarik menjadi pengikutnya juga menjadi binasa. Kita patut instropeksi diri, sebetulnya iman kita apa, karena orang yang mengaku Kristen belum tentu imannya juga Kristen. Iman begitu serius dan tidak bisa dipermainkan, harus betul-betul dibawa kembali kepada yang benar, maka penginjilan harus dikembalikan juga ke tempat iman yang sejati. Inilah yang mau dikatakan oleh Tuhan Yesus. Bagaimana kita dapat menghindarkan kesalahan tersebut dan mengerjakan yang seharusnya? Saya akan mengajak kita melihat 3 aspek yaitu:
1. Penginjilan yang sejati haruslah dimulai dengan visi yang sejati.
Istilah “visi“ adalah istilah yang sangat agung dari Alkitab, yang berarti: melihat apa yang Tuhan lihat/ buka. Kata ini diplintir, dibalik, dirusak artinya oleh orang dunia sehingga tidak lagi kembali kepada arti aslinya. Visi oleh orang dunia diartikan sebagai ambisi/ mimpi diri/ cita-cita/ keinginan diri/ target. Misalnya: gereja memiliki “visi“ bahwa di tahun 2010 memiliki anggota 1000 orang. Ini bukanlah visi melainkan ambisi. Visi yang rusak
berdasarkan tujuan/ target diri, dan semua visi diletakkan di depan. Menurut Alkitab, visi adalah bagaimana Tuhan membuka isi hatiNya kepada umatNya, membuat seseorang melihat sesuatu yang Tuhan bukakan bagi dia. Di luar Tuhan tidak ada visi. Ketika Tuhan membukakan sesuatu kepada umatNya, lalu umatNya merespon, maka visi bukanlah berada di depan melainkan berada di belakang. Di depan visi tidaklah kelihatan apa-apa, gelap seperti kabut. Itulah visi yang sejati. Ketika Tuhan membukakan visi kepada Abraham bahwa Abraham hendak dipakai Tuhan dan keturunannya akan banyak seperti pasir di laut dan bintang di langit. Abraham meresponi visi ini dengan taat menjalankan perintah Tuhan yaitu keluar dari Ur. Ketika keluar dari Ur, di depan Abraham tidak kelihatan apa-apa (harus bagaimana, akan terjadi apa, semuanya gelap/ tidak diketahui), tidak ada target dari Abraham. Cara Tuhan adalah: tidak perlu target, yang diperlukan hanyalah ketaatan. Untuk bisa mengerti visi yang demikian, kita harus membongkar semua pengertian visi yang selama ini sudah kita pegang, yang sudah kita ganti dengan ambisi. Agama bukannya membereskan melainkan justru menjadi anjang kerusakan yang paling rusak karena istilah visi yang agung diubah/ digeser menjadi ambisi. Di semua agama, juga agama Kristen, kalau kita tidak berhati-hati, kita memulai segala sesuatu bukan dengan visi melainkan dengan ambisi. Gereja dan pelayanan bukan dimulai dengan visi melainkan dengan ambisi, dan semuanya bukan membawa manusia ke surga melainkan ke neraka.
Dalam PB, Tuhan membukakan visi kepada para muridNya, setelah sekian tahun hidup bersama Tuhan. Tuhan berkata: Lihatlah mereka semua, yang tersesat dan terlantar seperti domba tanpa gembala. Inilah visi. Visi ini tidak disertai target, misalnya: domba-domba itu menjadi domba-domba yang gemuk dan berjumlah tertentu. Tuhan memerintahkan para murid setelah melihat visi tersebut diatas untuk berdoa, meminta kepada Tuan yang empunya tuaian supaya mengirimkan pekerja-pekerja. Setelah berdoa meminta pekerja, Tuhan mengutus yang berdoa. Inilah prinsip Alkitab yaitu: siapa yang berdoa karena mendapatkan visi, dialah yang menjalankan. Setelah para murid berespon terhadap visi Tuhan, tidaklah ada target di depan mereka. Mereka tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan. Mereka hanya tahu 1 hal yaitu TAAT, Tuhan akan pimpin selangkah demi selangkah. Orang Kristen harus belajar hidup bersandar kepada Tuhan dengan visi.
Dalam Alkitab juga diceritakan ada seorang yang bernama Saulus, yang memiliki ambisi yang luar biasa besar, semangat pelayanannya juga luar biasa, memiliki perencanaan yang begitu rapi dan ketat. Setelah Tuhan mempertobatkan dia, dia begitu menggebu-gebu ingin mengabarkan Injil, dia ingin masuk ke Asia Kecil. Lalu Tuhan memberikan visi kepada dia melalui mimpi ketika Paulus tidur, dia melihat pemuda Makedonia sedang melambaikan tangan kepada dia. Dari mimpi itu Paulus tahu bahwa Tuhan tidak menginginkan dia ke Asia Kecil melainkan dia harus menyeberang ke Yunani, masuk ke daerah Makedonia yang merupakan daerah yang sangat sulit. Paulus taat, dia menuju ke Yunani tanpa target di depannya. Hari pertama dia masuk ke kota besar Filipi dan memberitakan Injil di sana. Pada hari itu ada nubuat roh yang begitu hebat dari seorang wanita penganut setan yang memberikan dukungan kepada Paulus dengan berteriak-teriak di belakang Paulus. Paulus menghardik setan itu untuk keluar dari tubuh wanita tersebut. Setelah setan keluar dari dalam tubuhnya, wanita itu menjadi orang biasa yang waras, sehingga para orang kaya yang selama ini diuntungkan oleh ramalannya menjadi marah, lalu mereka berkolusi dengan pejabat untuk menangkap dan menghukum Paulus. Paulus akhirnya ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Apakah ini visi versi dunia? Setelah Paulus lolos dari penjara dengan mujizat Tuhan, Paulus diusir keluar dari kota Filipi. Paulus tetap pergi mengabarkan Injil sampai di Athena dan Korintus. Dia akhirnya mengalami keputusasaan dan kejengkelan yang luar biasa, keluarlah ambisi pribadinya, Paulus tidak lagi mau mengabarkan Injil di sana. Tuhan mau Paulus tetap memberitakan Injil di sana. Setelah Paulus memberitakan Injil di sana, hasilnya adalah jemaat Korintus yang kacau, sampai-sampai Paulus muntah darah. Apakah ini visi versi dunia? Inilah visi dari Tuhan!
Kalau kita bisa mengerti prinsip visi dengan benar, seluruh penginjilan yang kita lakukan akan sangat tertata dengan baik. Penginjilan sekarang ini bisa rusak karena bukan menjalankan visi dari Tuhan, melainkan menjalankan visi (baca: ambisi) marketing manusia yang mengejar keuntungan diri. Manusia seringkali tidak mau mengerjakan sesuatu yang tidak jelas pencapaiannya di depan. Tuhan ingin kita taat menjalankan apa yang Tuhan bukakan bagi kita. Tuhan ingin kita menjalankannya dengan semangat yang kuat, perjuangan yang keras. Visi akan menjadi dorongan semangat ke depan yang memberi kita semangat untuk terus maju mengerjakannya. Visi sejati adalah mentaatkan diri pada apa yang Tuhan mau, sehingga orang lain juga dididik untuk taat pada apa yang Tuhan mau, menjadikan dia kembali kepada Tuhan, hidupnya bersandar kepada Tuhan. Orang yang mulai dengan visi dari Tuhan, hidupnya akan makin bersandar kepada Tuhan karena kalau tidak maka dia tidak bisa berjalan/ mengerjakan apa-apa. Semua murid Tuhan Yesus diajar supaya mereka memuridkan orang yang akhirnya boleh betul-betul setia kepada Tuhan, berdoa, hidup taat kepada Tuhan. Itulah iman Kristen yang sejati.
Hari ini banyak orang makin menjadi Kristen makin ambisius, berjalan menurut kemauan diri, Tuhan dituntut untuk menuruti kemauan dirinya. Orang yang seperti ini pada akhirnya akan masuk neraka. Seberapa jauh peringatan Tuhan Yesus ini menyadarkan para murid untuk hidup beres dan memberitakan Injil dengan beres? Pemberitaan Injil yang beres tidaklah ada ambisi di dalamnya. Kita mengadakan penginjilan bagi anak-anak karena kita tidak mempunyai ambisi untuk itu melainkan kita punya visi untuk itu. Kita merindukan anak-anak kecil dibawa balik kepada Tuhan karena mereka memerlukan itu. Tidak ada yang bisa kita harapkan dari anak-anak kecil. Penginjilan kepada anak-anak memerlukan pengorbanan yang besar tetapi tidak mendapatkan persembahan uang yang banyak, lebih baik penginjilan kepada pelaku-pelaku bisnis. Kalau penginjilan berdasarkan pikiran berdosa seperti ini, bukan menurut pikiran Tuhan, akhirnya semua gagasan menjadi rusak. Seberapa jauh kita mengkoreksi format pikiran kita sehingga di tengah dunia yang berdosa kita tidak perlu ikut cara seperti itu, di tengah dunia yang menjadi anak neraka kita tidak perlu ikut menjadi anak neraka? Sebelum terlambat, mari kita bereskan hal ini.
2. Penginjilan sejati dimulai dengan kebenaran yang sejati.
Iman berada di titik absolut yang tidak memiliki titik tengah dari salah atau benar. Semua hal yang keluar dari benar adalah salah, tidak ada yang setengah benar atau setengah salah. Menginjili orang menggunakan basis absolut. Semua hal yang dikatakan haruslah mutlak benar. Sesuatu dinilai jahat bukan dari penilaian manusia melainkan dilihat dari kebenaran Tuhan. Walaupun semua orang menilai baik, kalau Tuhan menilai jahat maka kesimpulan terakhir adalah jahat, karena basis terakhir bukan di tangan manusia melainkan di tangan absolut. Semua pembicaraan yang dibicarakan tanpa basis absolut, ditatar dalam tataran relatif, maka pasti di dalamnya tidak berisi. Dunia filsafat menyadari bahwa seluruh pembicaraan hanyalah menuju akhir yang satu yaitu kekosongan. Dunia menyadari bahwa semua usaha hanyalah berakhir pada nihilisme (sesuatu yang nihil/ kosong). Apakah sukses jika kita mendapatkan seluruh isi dunia ini tetapi kehilangan nyawa kita? Setelah kita mendapatkan semua nilai tetapi kita kehilangan nilai utama yang menentukan semua nilai yang lain, berarti kita sukses atau gagal? Kalau kita mendapatkan remah-remah tetapi membuang inti yang paling berharga, betapa celakalah kita. Seberapa kita punya bijaksana untuk bisa melihat nilai seperti ini? Sebagian besar manusia tidak memiliki kemampuan untuk melihat nilai seperti ini sehingga manusia begitu mudah terseret ke dalam arus permainan dunia ini dan menjadi anak neraka.
Tuhan Yesus begitu peduli dengan hal ini dan takut kalau para murid terputar di tempat yang sama lalu membawa semua pengikutnya kepada kebinasaan. Tuhan Yesus berkata: Kembalilah kepada kebenaran. Akulah jalan, Akulah kebenaran, dan Akulah hidup. Kembali kepada Kristus berarti mau taat kepada kebenaran sejati, menanggalkan semua kebenaran diri. Paulus berkata: aku dahulu memiliki ambisi begitu keras untuk menghancurkan semua orang Kristen karena aku punya cara, pikiran berdasarkan kebenaranku sendiri menurut Hukum Taurat, tetapi sekarang aku berjalan berdasarkan kebenaran di dalam iman kepada Kristus yang adalah kebenaran yang sejati itu, karena hidupku bukannya aku lagi tetapi Kristus yang hidup dalamku. Seberapa jauhkah kebenaran Kristus sebagai kebenaran yang sejati melandasi semua penginjilan yang kita lakukan? Ketika kita memberitakan Injil, kita tidak mengkompromikan kebenaran.
Ketika penginjil-penginjil Eropa masuk ke Cina, salah satu kesulitan yang dihadapi mereka adalah benturan dengan filsafat Cina yang begitu tinggi. Salah satu filsafat yang paling sulit dihadapi adalah penyembahan kepada nenek moyang. Melawan penyembahan kepada nenek moyang dianggap kurang ajar, padahal iman Kristen anti dengan penyembahan berhala. Iman Kristen hanya menyembah Tuhan Allah, sedangkan orang Cina tidak mempunyai Tuhan, yang mereka punya hanyalah “tien“ yang berarti langit, yang tidak berpribadi. Para nenek moyang yang mewakili “tien“. Adalah sangat sulit untuk membawa orang Cina kembali kepada konsep yang benar tentang kekekalan, penyembahan kepada Allah Tritunggal yang tidak memiliki wujud. Ketika para penginjil mengambil berbagai cara asalkan orang Cina dapat menjadi Kristen, misalnya: boleh menyembah nenek moyang asalkan percaya juga kepada Tuhan Yesus, terjadilah kristenisasi dan sinkretisme. Kekristenan menjadi sangat rendah dan memalukan karena kebenaran dipermainkan dan tidak berusaha ditegakkan. Dunia sangat ingin menjadi besar, dan demi untuk itu maka komprominya juga besar, termasuk dalam penginjilan. Tugas dari penginjilan adalah orang lain bisa melihat kebenaran sampai dia bisa mendapatkan berkat besar karena hidupnya kembali kepada kebenaran. Orang akan sangat bahagia kalau bisa melihat kebenaran karena tidak pernah salah jalan.
3. Penginjilan sejati menyangkut kualitas hidup.
Kita memang bersuka cita jika banyak orang yang bertobat, tetapi bukan angka itu yang harus kita kejar, melainkan kualitas hidup. Kita menginjili supaya orang tidak menjadi rusak hidupnya, supaya orang tidak terus hidup didalam dosa, supaya mereka tidak menjadi anak neraka. Tuhan Yesus datang ke dunia, mengorbankan diri diatas kayu salib, supaya orang berdosa bisa hidup. Penginjilan harusnya dilakukan karena menyayangkan manusia yang sedang berderap menuju neraka, tidak rela melihat manusia hidup dalam dosa. Penginjilan anak-anak dilakukan karena begitu banyak anak yang dirusak oleh dunia ini dengan rokok, narkoba, pornografi, kekerasan, kekejaman. Akankah kita membiarkan anak-anak ini makin hari makin liar dan menuju hidup yang hancur? Kita harus giat membawa mereka kepada kebenaran, menghidupkan kembali hidup mereka yang telah mati. Semua orang bisa membuat yang hidup menjadi mati, tetapi tidak ada orang yang bisa menghidupkan sesuatu yang sudah mati. Betapa mahalnya hidup sehingga Kristus rela mati untuk sebuah kehidupan. Penginjilan bukan sekedar menarik orang supaya ikut kepada kita, supaya gedung gereja kita penuh, supaya angka menjadi besar. Kualitas hidup tidaklah mudah dicapai, hanya dapat dicapai dengan ketaatan penuh kepada Tuhan, dan dimulai dari diri kita. Seberapa jauh kita dipakai Tuhan untuk membawa orang kembali kepada Tuhan? Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)