|
Ringkasan Khotbah : 23 Agustus 2009
Nats: Matius 23:1 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Matius 23 adalah kritik yang tajam dari Tuhan Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Pada kesempatan yang lalu kita telah membahas Matius 23:1-12 yang merupakan prolog dari tema besar Matius 23 yaitu keimanan/ keagamaan/ kereligiusan yang palsu/ salah. Kritik yang tajam dari Tuhan Yesus ditujukan kepada orang-orang yang katanya sangat beragama, sangat saleh, dan sangat mengerti tentang theologi dan iman. Kritik ini akan kita pelajari satu demi satu. Pada saat ini kita akan khusus belajar tentang “celaka“ yang pertama.
Bertepatan dengan Perjamuan Kudus yang kita jalankan pada hari ini, saya akan khusus mengkaitkan konteks pembicaraan Tuhan Yesus dengan bagaimana kita melihat kematian dan kebangkitan Kristus dan pemusatan iman didalam Kristus.
Nats Alkitab kita pada hari ini sangat keras dan menusuk satu bagian yang paling esensial dari hakekat religiusitas. Pada 12 ayat sebelumnya Tuhan Yesus mengkritik apa yang sedang dilakukan di tengah-tengah zaman/ sejarah oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, tetapi kritik tersebut tidak disampaikan kepada orang Farisi langsung melainkan dibicarakan di depan orang banyak dan juga murid-murid Tuhan, dengan mencoba mendeteksi dengan melihat semua gejala yang ada, lalu melakukan koreksi. Tujuan dari “celaka“ ini bukan supaya orang lain menjadi celaka, tetapi justru merupakan beban yang berat dari Tuhan Yesus untuk melihat jangan sampai akhir dari kehidupan iman/ religiusitas kita akhirnya mirip atau bahkan sama dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang akhirnya tidak dapat masuk surga. Tidak hanya tidak dapat masuk surga, mereka juga menghalangi orang lain yang akan masuk surga. Tujuan Tuhan Yesus mengungkapkan hal ini kepada para murid dan orang banyak adalah supaya melalui fakta yang ada, mata kita bisa dicelikkan, lalu kita bisa mengkoreksi, bisa menghindar dari kesalahan yang sama. Tetapi kalau bukan dengan kerendahan hati, dengan kerelaan yang dahsyat, dengan anugerah Tuhan yang besar, siapakah manusia bisa mampu mengkoreksi diri, bisa menghancurkan diri demi untuk kembali kepada kebenaran. Kesadaran ini mengharuskan kita untuk semakin bersandar, semakin sungguh-sungguh kembali kepada Tuhan.
Seberapa pentingkah isu ini bagi kita di abad ke-21 ini? Apakah hal ini hanyalah isu bagi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat di abad pertama? Untuk itu kita perlu kembali melihat situasi dari orang-orang Farisi sehingga mereka membangun sikap yang sedemikian, yang dikatakan munafik. Orang Farisi dan ahli Taurat adalah kelompok paling elite di tengah-tengah orang Yahudi pada zaman itu. Orang Farisi adalah orang yang betul-betul ingin menegakkan iman mereka tetapi mereka berada di dalam posisi yang sangat gamang. Inilah dualisme situasi yang dihadapi orang Yahudi pada zaman itu, di satu pihak mereka berada dibawah tekanan yang luar biasa, di lain pihak mereka ingin menyatakan diri/ iman/ agama/ bangsa mereka dalam posisi yang paling absolut. Di antara 2 keadaan inilah orang Farisi menjadi orang yang sulit dalam hidupnya. Mereka ingin orang Israel memiliki posisi yang kuat, yang memiliki status yang jelas, seperti yang pernah mereka alami dalam kurun 100 tahun sebelum zaman Tuhan Yesus yaitu dengan perjuangan keluarga Makabeus, yang seolah-olah memberikan kemungkinan kepada mereka untuk beribadah, bisa mengaku Tuhan kepada Allah Yahweh dan tidak perlu mengaku Tuhan kepada kaisar Roma. Tetapi di lain pihak, mereka tidak memiliki wewenang atas beberapa keputusan penting atas hidup mereka karena tentara Romawi meletakkan orang-orang penting mereka untuk duduk di Yerusalem. Yerusalem adalah kota yang berbahaya bagi orang Romawi sehingga mereka harus menjaga agar kota ini tidak memberontak kepada mereka. Orang Romawi mencekal orang Israel dengan keras sekali. Di sinilah timbul ambigu yang luar biasa.
Ketika Tuhan Yesus berbicara kepada orang Yahudi bahwa mereka perlu dimerdekakan, mereka menjadi sangat marah dan menjawab: kami orang merdeka, kami tidak dijajah oleh siapapun. Padahal kenyataannya mereka sedang dijajah. Hal ini merupakan pergunjingan yang luar biasa. Mereka ingin dikatakan merdeka tetapi sebenarnya mereka sedang dijajah. Dalam kondisi seperti ini, mereka mengalami krisis identitas. Ketika manusia mengalami krisis identitas, manusia akan jatuh kedalam kemunafikan. Pergumulan ini tidaklah jauh berbeda dengan pergumulan kita di abad ke-21 ini. Ada seseorang yang berkata kepada saya bahwa krisis identitas tidak bisa ditarik dari problematika identitas yang terjadi pada usia 12-18 tahun (anak remaja), bahkan menurut survey terakhir: krisis identitas dialami orang dalam usia 12-25 tahun. Menurut saya, krisis identitas dialami pada usia 12-50 tahun, karena sampai usia 50 tahun pun orang masih tidak tahu tujuan hidup, masih gamang berdiri, karena kita hidup di era post-modern.
Setelah Perang Dunia II (tahun 1945-1950) dunia mengalami perubahan paradigma, semangat yang tadinya begitu absolut menjadi hancur luar biasa, maka muncullah post-modern untuk pertama kalinya yang diwarnai dengan 1 filsafat dasar yaitu dekonstruksi. Arti kata dekonstruksi adalah meruntuhkan semua bangunan. Di tahap pertama, post-modern menghancurkan semua tatanan, semua prinsip. Mereka selalu mengatakan bahwa tidak ada yang benar di dunia ini, tidak ada yang absolut di dunia ini, semua
adalah relatif, maka janganlah kita membeda-bedakan, marilah melihat semua hal adalah sama. Jadi trend pertama adalah meruntuhkan konstruksi dengan cara menyamakan semua hal atau merelatifkan semua aspek sehingga absolut mutlak menjadi absolut relatif. Gejala ini juga muncul dalam gereja Kristen yang dikenal dengan gerakan oikumene pada tahun 1960-an.
Ketika mengklaim bahwa semua sama, hal apakah yang sama? Apakah semua orang adalah sama? Inilah yang menjadi krisis identitas. Kalau kita semua adalah sama, maka kita menjadi tidak memiliki identitas, kita akan mengalami “dunia yang tanpa pagar“ tetapi kita merasa aman karena semua sama. Betulkah aman dan nyaman? Di titik pertama, dekonstruksi seolah-olah memberikan titik kenyamanan bagi setiap kita karena kita tidak perlu menegaskan identitas kita, tetapi setelah kita menyamakan semuanya justru timbul masalah yaitu krisis identitas.
Setelah berjalan kira-kira 20 tahun, post-modern tidak lagi berdiri mutlak dengan dekonstruksi, muncullah tokoh-tokoh yang menggerakkan gerakan kedua yang dikenal dengan nama rekonstruksi. Gerakan ini adalah gerakan membangun ulang. Mereka mengatakan bahwa post-modern bukan melakukan dekonstruksi melainkan rekonstruksi, hal yang salah dari “modern“ akan dibangun baru dengan cara yang baru supaya menjadi lebih baik. Inilah format yang sekarang banyak muncul sebagai reaksi dari krisis identitas. Akibatnya adalah semua bersama-sama mau membangun identitas yang menimbulkan kepelbagaian yang begitu dahsyat. Kebalikan dari yang lalu yang hendak bersatu, sekarang justru hendak membuat “ramai“ yang sudah ada. Maka muncullah kesemrawutan theologi di seluruh bagian dunia.
Setelah semua berdiri menunjukkan identitas masing-masing, semuanya tidak memiliki nilai. Semua tidak tahu apa yang sedang dikerjakan, sukses atau tidak, siapakah diri yang sedang dinyatakan. Inilah kacaunya kondisi dunia pada saat ini. Manusia semakin mau menyatakan diri, pusatnya justru semakin ke diri. Jadi dalam situasi seperti ini, kalau kita makin gila identitas di tengah-tengah kesemrawutan identitas, mau menyatakan diri di tengah-tengah ketidak-adaan diri, kita akan mengalami kasus kegamangan posisi, persis sama dengan yang dialami oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Ketika mengalami kegamangan identitas, apa saja yang dilakukan bukanlah hal yang benar, mereka hanya memaksakan apa yang mereka inginkan. Akhirnya mereka mengalami destruksi total dan mereka juga men-destruksi orang lain yang berelasi dengan mereka.
Kalau kita melihat sampai sejauh ini, seberapa jauhkah kritik Tuhan Yesus kepada orang Farisi dan ahli Taurat ini bisa menjadi pelajaran bagi kita, bukan hanya di bangku gereja tetapi sampai keluar ke seluruh aspek hidup kita?
1. Pada zaman itu ada 3 partai besar yaitu Farisi, Saduki dan Herodian. Yang paling besar dari ketiganya adalah Farisi. Secara jumlah, mereka tidaklah banyak, tetapi secara posisi mereka memiliki pengaruh yang sangat besar karena dianggap paling mewakili nasionalisme dan keimanan mereka. Orang Farisi sangat mementingkan agama mereka yaitu Yudaisme dan mereka ingin menegakkan Israel dengan Yudaisme. Mereka berjuang habis-habisan supaya iman Yudaisme ini dapat menjadi ciri/ status orang Israel dan sampai batas tertentu hal ini terjadi. Tetapi untuk keputusan-keputusan penting yang harus mereka ambil, termasuk keputusan yang menyangkut Tuhan Yesus, mereka harus tunduk kepada Romawi. Pengadilan agama mereka tidaklah memiliki kekuatan. Akhirnya, mereka menampilkan identitas mereka hanya sebatas tampilan. Mulai dari keluar rumah, mereka sudah menampilkan diri dengan memakai jubah panjang, memakai selendang besar yang berisi Taurat, memakai topi, ada ayat di dahinya. Orang yang melihatnya akan langsung mengenalinya sebagai orang Farisi. Di luar rumah, mereka berdoa di perempatan jalan/ di pasar untuk memamerkan identitas dan kesalehan mereka. Mereka berpuasa 3 kali dalam seminggu. Terlihat di sini bahwa esensi religiositas mereka bermasalah. Orang Farisi mau memakai iman/ agama untuk menyatakan identitas. Mereka sebenarnya beragama bukan karena mengenal Tuhan. Mereka berdoa bukan karena mau dekat dengan Tuhan, bukan untuk mengetahui kehendak Tuhan, melainkan untuk menunjukkan siapakah diri mereka. Mereka kelihatan begitu giat berjuang, melayani, bersemangat tinggi dalam keagamaan, tetapi ujung-ujung keagamaan mereka adalah kepentingan diri mereka sendiri. Orang berpuasa seharusnya adalah untuk menyangkal diri, berkata tidak terhadap kemauan diri, mematikan nafsu-nafsu pribadi supaya bisa mengerti kehendak Tuhan, mau menahan diri sebesar mungkin supaya dapat menjalankan apa yang Tuhan mau, tetapi orang Farisi tidaklah demikian, puasa dilakukan sebagai ekspresi dari identitas dan kesalehan, yang lebih celaka adalah kalau puasa dipakai sebagai ekspresi dari demo mogok makan kalau Tuhan tidak menuruti kemauan diri. Kalau iman memiliki semangat perjuangan yang begitu tinggi tetapi kehilangan esensi dasar yaitu Tuhan yang patut disembah, betapa celaka! Tuhan Yesus berkata: Celakalah kamu! Karena kamu sudah menutup pintu surga bukan hanya bagi dirimu tetapi juga bagi orang lain.
Banyak orang melakukan pelayanan dengan bersemangat bukan karena Tuhan tetapi karena ada sesuatu yang dikejar untuk kepentingan diri. Orang dapat memiliki semangat yang baik kalau sudah kembali kepada Kristus, seberapa jauh iman yang bersemangat itu bukan karena kemauan diri tetapi karena Kristus yang mau. Inilah kunci dari semangat pelayanan yang sejati. Beban adalah sesuatu yang tidak kita sukai untuk menjalankannya tetapi harus kita jalankan karena Tuhan yang perintahkan. Beban seringkali dipalsukan dengan keinginan diri. Pergumulan pelayanan bukan bermula dari apa yang kita sukai melainkan bermula dari apa yang Tuhan mau untuk kita kerjakan. Semua hal dalam Theologi Reformed bermula dari panggilan Tuhan. Iman sejati adalah kembalinya kita kepada panggilan Kristus. Iman sejati muncul karena kita mau melayani Kristus. Iman sejati sama dengan tujuan Kristus datang ke dunia ini yaitu bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, menyerahkan nyawa menjadi tebusan bagi banyak orang. Tuhan mau setiap kita melayani sama seperti itu. Mari kita menguji diri kita sendiri, sudah betulkah semangat pelayanan kita, agar jangan kita celaka.
2. Tuhan Yesus mengkritik keras orang Farisi dan ahli Taurat karena kedua kelompok inilah yang paling mengerti Taurat. Orang Farisi belajar Taurat habis-habisan, menjadikannya theologi sistematik versi PL yang begitu teliti. Ahli Taurat adalah orang yang mentranslitasi dengan cara menyalin satu per satu di daun lontar dengan cara memahat. Alkitab kita terdiri dari bahasa Timur (Ibrani) dan bahasa Barat (Yunani). Jadi Alkitab kita tidak pro Timur maupun Barat. PB adalah keunikan dari kekristenan. Kalau kita mau memusatkan iman kekristenan kita adalah pada PB karena Kristus ada di PB. Melalui PB kita melihat PL, kalau melalui PL kita melihat PB kita akan mengalami kesalahan. Ahli Taurat mengerjakan translitasi dengan begitu berjerih lelah karena setiap terjadi kesalahan dalam 1 lembar daun lontar tersebut, mereka harus menghancurkan daun tersebut lalu mengerjakan ulang penulisan dari awal. Karena pekerjaan tersebut menuntut ketelitian, maka secara tidak disadari para ahli Taurat sangat hafal dengan isi Taurat bahkan bagaikan Taurat berjalan. Seharusnya mereka melalui hal itu bisa melihat Kristus dan kebenaran. Seharusnya mereka bersuka cita ketika bertemu dengan Kristus. Kenyataannya, ketika bertemu Kristus mereka justru melawan Kristus. Hal ini membuktikan bahwa PL tidak mampu melihat PB.
Kita harus berhati-hati dengan ajaran. Mengerti kebenaran menurut pikiran manusia merusak seluruh jajaran iman yang beres. Orang Farisi dan ahli Taurat yang dianggap paling mengerti theologi, paling tahu PL dan menguasai semua, justru mereka sesat, karena ketika kebenaran yang asli yaitu Kristus hadir mereka menolak. Titik pusat iman kita bukanlah pada diri kita/ manusia melainkan pada Firman Tuhan. Kristus adalah pusat sejati kekristenan. Percaya kepada Tuhan Yesus bukanlah percaya menurut mau kita. Orang yang belajar sesuatu, yang dipelajari adalah objek. Tetapi ketika kita percaya, percaya tersebut tidaklah bisa menjadi objek, melainkan langsung berubah menjadi subjek. Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, Tuhan Yesus bukanlah objek tetapi menjadi subjek, maka Tuhan Yesus akan mengajar dan memerintah kita berdasarkan kebenaranNya. Siapapun objek yang kita percaya, dia yang mengontrol hidup kita, dia langsung menjadi subjek dan kita yang menjadi objek.
Iman tidak bisa lepas dari ajaran yang benar. Theologi yang tidak beres adalah sangat berbahaya. Orang Farisi bukan tidak bertheologi, mereka punya theologi yang kacau. Tuhan Yesus sudah melakukan banyak koreksi seperti: khotbah di bukit, tetapi orang yang tidak mau dididik dalam kebenaran akan ngotot dengan kemauan diri. Kalau kita tidak memiliki kerendahan hati untuk mau dididik, dikoreksi oleh Firman Tuhan maka kita hanya akan memastikan apa yang kita sukai. Orang Kristen sejati hanya memikirkan apakah yang Tuhan senangi, kebenaran Tuhan seperti apa, kalau ada yang tidak cocok dengan diri maka diri yang harus berubah. Kristus mati di kayu salib supaya kita bisa berdamai dengan Allah, supaya kita tidak berdosa, supaya kita bisa menjalankan kehendak Allah.
3. Setelah dikoreksi oleh Tuhan Yesus, didalam kelompok orang Farisi terjadi pertempuran antara yang mau menerima ajaran Tuhan Yesus dengan yang tidak. Pertempuran ini sebenarnya adalah pertempuran egoisitas. Point terakhirnya bukan pada kesimpulan apakah Tuhan Yesus benar atau tidak melainkan pada ketakutan akan berpindahnya pengikut mereka kepada Tuhan Yesus. Jadi tidak lagi peduli akan kebenaran. Inilah problema kebudayaan. Ketika kita sudah mempunyai kebiasaan, walaupun kebiasaan itu salah, kita tidak rela berubah. Status quo seperti ini akan mencengkeram kita sampai batas tertentu. Ketika kita berhadapan dengan Firman Tuhan, kita tahu bahwa kebiasaan hidup kita salah, cara kerja kita salah, relasi keluarga kita salah, tetapi kita tidak mau berubah karena kita tidak rela harus membangun kembali hidup kita mulai dari nol, bahkan kita lebih memilih masuk neraka daripada harus berubah.
Pertengkaran orang Farisi merupakan pertengkaran status quo. Orang Farisi tahu bahwa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus terlalu valid, terlalu kuat, sedangkan mereka tidak beres, tetapi mereka tetap tidak mau berubah. Zaman itu sangatlah tidak beres, dan yang paling kelihatan tidak beres adalah imam besar yang seharusnya hanya 1 orang, pada zaman itu ada 2 orang yaitu Hanas dan Kayafas. Orang Yahudi, khususnya orang Farisi, tahu akan ketidakberesan ini tetapi mereka tidak bisa keluar dari situ. Inilah pertempuran status quo dan inilah yang menyebabkan Tuhan Yesus naik keatas kayu salib. Orang-orang menyalibkan Tuhan Yesus bukan urusan theologi melainkan karena budaya, Pilatus bermain karena budaya, masing-masing mempunyai kepentingan masing-masing. Tujuan bersama mereka adalah Tuhan Yesus harus mati. Kristus naik ke kayu salib menunjukkan bahwa manusia berdosa memastikan diri untuk melawan Tuhan. Ketika Kristus datang, manusia melawan dan membunuh Dia.
Status quo adalah sesuatu yang paling menakutkan didalam iman. Kalau kita tidak bisa mendobrak hal ini, maka kita akan menjadi orang yang dibuang ke neraka, kita akan menjadi batang-batang mati yang tidak pernah bisa berubah. Tuhan ingin kita bisa berubah, bisa dilembutkan, sampai kita bisa diformat ulang sampai kita bisa dipakai Tuhan. Kalau hal ini bisa menjadi bagian hidup kita, mata kita akan memandang kepada salib, memandang kepada Kristus, itulah pusat perubahan hidup kita, itulah pusat dari seluruh proses hidup kita. Kalau hal itu boleh menjadi inti hidup kita, maka kita akan kembali kepada hidup yang kekal. Ketika kita hidup berpusatkan kepada Kristus/ salib, kita akan memiliki kekuatan untuk melangkah. Keindahan kita adalah ketika kita melihat Kristus tersenyum setuju kepada kita karena Dia berkenan atas apa yang kita lakukan. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)