Ringkasan Khotbah : 16 Agustus 2009

Jesus Builds His Church

Nats: Matius 16:32-24

Pengkhotbah : Pdt. Benyamin Intan

 

Tuhan Yesus adalah Allah, pribadi yang kedua dari Allah Tritunggal. Dia adalah Allah yang Maha Tahu. Jikalau Allah yang Maha Tahu bertanya kepada manusia yang hanyalah ciptaanNya dengan pengetahuan yang begitu terbatas, maka kita semua harus waspada, harus mencermati dan menyimak dengan baik-baik.

Ketika manusia jatuh kedalam dosa, Tuhan Allah bertanya kepada Adam: Adam, Adam, di manakah engkau? Saat itu Tuhan hendak menyadarkan Adam bahwa karena dosa yang engkau perbuat, engkau menjadi jauh dari Tuhan secara spiritual, sekarang dia berada di posisi yang melawan Tuhan, posisi yang menjadi musuh Tuhan, posisi yang menjadi memberontak terhadap Tuhan. Tuhan bertanya bukan sekedar supaya manusia sadar akan dosa, tetapi Dia juga memulihkan dosa Adam dan Hawa pada saat itu. Adam berkata: kami di sini, bersembunyi, karena kami telanjang, malu. Telanjang dan malu ini, menurut John Calvin, bukanlah secara hurufiah melainkan malu karena telah berbuat dosa. Adam mencoba membereskan dosanya dengan mengambil daun, merangkainya menjadi pakaian untuk menutupi ketelanjangannya. Tuhan menyuruh mereka melepaskan pakaian tersebut. Tuhan sendiri yang akan menutupi ketelanjangan mereka dengan cara menyembelih binatang, mengambil kulitnya untuk dibuat menjadi pakaian untuk menutupi ketelanjangan/ malu mereka. Hal ini mengingatkan kita kepada Kristus yang adalah Anak Domba Allah yang harus mencucurkan darah, Dia harus dibunuh, Dia harus dimurkai oleh Allah Bapa supaya dosa kita ditutupi, dilunaskan, dituntaskan.

Ketika Tuhan bergumul dengan Yakub di tepi Sungai Yabok, Tuhan yang Maha Tahu, di dalam bentuk malaikat (istilah Theologi: Theofani), bertanya kepada Yakub: Siapakah namamu? Yakub menjawab: Saya adalah Yakub. Yakub berarti penipu. Dia mengaku dosa di hadapan Tuhan. Tuhan menyadarkan dia dengan bertanya. Tuhan menjawab: Mulai hari ini namamu bukan lagi Yakub melainkan Israel, yang artinya: Allah dimuliakan. Tuhan yang bertanya, Tuhan pula yang menjawab. Tuhan yang menyadarkan dosa, Tuhan pula yang memulihkan.

Ketika Tuhan Yesus bertanya kepada para murid: Menurut kata orang, siapakah Aku ini? Para murid menjawab: Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, Yeremia, atau salah seorang dari para nabi. Lalu Yesus bertanya: Menurut kamu, siapakah Aku ini? Jikalau orang di luar, termasuk Islam, sudah mengakui Yesus sebagai nabi, siapakah Yesus menurut kamu yang sudah mengalami penyucian dosa, yang sudah mengalami kuasa Tuhan, sudah melihat mujizat, sudah hidup bersama denganNya, sudah mendengar langsung Firman yang hidup itu. Hal ini menyadarkan para murid, apakah Yesus hanyalah nabi? Kemudian muncul suara dari Simon Petrus: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup! Yesus berkata: Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di sorga. Kesaksian untuk menjadi orang Kristen adalah berasal dari Tuhan. Tuhan bertanya, Tuhan pula yang menjawab. Agama Kristen adalah agama anugerah. Agama Kristen bermula dari Tuhan yang pro-aktif. Tuhan yang menyadarkan dosa, Tuhan yang memulihkan kita, Tuhan yang menyelamatkan kita.

Paulus yang semula bernama Saulus, semula adalah orang yang berkecimpung dalam dosa yang begitu keji. Dia menuliskan dalam Efesus 2:1: kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Secara spiritual, kita semua sudah mati. Paulus membedakan antara pelanggaran dan dosa. Pelanggaran dalam bahasa aslinya adalah paraptoma, yang dalam bahasa Inggrisnya: transgression. Kalau kita mencuri, membunuh, dll berarti kita melakukan pelanggaran. Dosa dalam bahasa aslinya adalah hamartia, yang berarti meleset dari target. Sebagai gambar dan rupa Allah, manusia seharusnya memancarkan kemuliaan Allah, inilah target yang ditetapkan Tuhan bagi kita. Manusia harus memancarkan kemuliaan Tuhan sampai dengan target ini. Ketika kita memancarkan kemuliaan Tuhan di bawah target Tuhan ini sedikit saja, kita sudah berdosa. Ketika kita tidak berbuat baik sampai tingkat yang diinginkan Tuhan, maka kita sudah berdosa. Ketika kita membiarkan kejahatan, tidak mengabarkan Injil kepada orang lain, tidak melayani, kita sudah berdosa.

Theologi Reformed mengkonfirmasi: manusia diselamatkan oleh Tuhan semata-mata hanya karena anugerah (Sola Gratia). Theologi Armenian tidak setuju akan hal ini. Mereka mengatakan bahwa keselamatan manusia adalah sebagian karena usaha Tuhan, sebagian lagi karena usaha manusia. Mereka lalu memberikan sebuah ilustrasi demikian: manusia berada dalam lumpur sampai sebatas leher, Tuhan Yesus berada di luar lumpur, Tuhan Yesus berkata: ulurkan tanganmu, Saya akan menarik engkau keluar dari lumpur itu. Kalau manusia berdosa tidak mengulurkan tangannya, maka dia tidak akan bisa naik untuk diselamatkan. Jadi harus ada kerja sama antara Tuhan dan manusia. Benarkah ilustrasi itu? Tidak! Theologi Reformed memakai ilustrasi diatas, mengartikan demikian: manusia ketika berada di tengah-tengah lumpur, manusia itu sudah mati secara spiritual (menurut Paulus) sehingga dia tidaklah sadar bahwa dia berada  di  tengah-tengah  lumpur,  dia  tidak  sadar  bahwa  dia  perlu pertolongan, dia bahkan menikmati

lumpur itu, dia tidak sadar bahwa dia dalam keadaan bahaya. Sebelum Tuhan mengulurkan tangan, Tuhan terlebih dahulu mengirim Roh Kudus untuk masuk kedalam hatinya, untuk menyadarkan bahwa manusia dalam keadaan berdosa dan bahaya di tengah-tengah lumpur dosa. Manusia akan mulai sadar, mulai bercucuran air mata, mulai berkata: Tuhan, ampunilah saya! Tuhan kemudian mengulurkan tanganNya, dan manusia itu menggapai tangan Tuhan. Manusia diangkat dari lumpur dosa. Pekerjaan Tuhan dalam keselamatan bukan dimulai dengan mengulurkan tangan melainkan dengan mengirim Roh Kudus supaya masuk ke dalam hati kita. Dalam ordo salutis (ordo keselamatan), hal yang paling utama adalah regeneration, yaitu Roh Kudus masuk kedalam hati kita untuk melahir barukan kita.

Orang bertobat dalam penginjilan bukanlah tergantung pada metode kita, kefasihan lidah kita dalam berbicara, ilustrasi yang menyentuh, melainkan bergantung pada kuasa Roh Kudus. Kita harus berlutut di hadapan Tuhan, meminta kuasa Tuhan.

Setelah Petrus mengeluarkan kalimat yang begitu luar biasa yaitu: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup! Tuhan Yesus menjawab: Berbahagialah engkau Simon bin Yunus .... Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Agama Katholik mengartikan kalimat diatas sebagai berikut: Engkau adalah Petrus yang berarti batu karang, dan di atas batu karang ini (yaitu Petrus) Aku akan mendirikan jemaatKu. Jadi Petrus adalah kepala gereja, dan paus, yang adalah penerus Petrus dari zaman ke zaman, adalah kepala gereja, dan dia setara dengan Petrus sebagai wakil Kristus dalam dunia ini. Petrus diberi kunci Kerajaan Sorga. Betulkah paus adalah penerus Petrus? Betulkah paus adalah kepala gereja yang mewakili Kristus di dalam dunia? Orang Protestan, khususnya Theologi Reformed, menolak akan hal itu, dengan beberapa alasan sebagai berikut.

Ketika Yesus mengatakan: Engkau adalah Petrus, dalam bahasa aslinya adalah petros yang berarti batu yang kecil. Petros memiliki gender: maskulin. Ketika Yesus berkata: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini ... Kata “batu karang“ ini dalam bahasa aslinya adalah petra yang berarti batu karang, dan memiliki gender: feminim. Jadi Petrus adalah berbeda dengan batu karang. Lalu apakah yang dimaksud dengan batu karang dalam kalimat diatas? Theologi Reformed mengartikan batu karang sebagai pengakuan dari Simon Petrus yaitu: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup! Karena itulah pengakuan ini dipakai gender feminim. Artinya: Gereja berdiri diatas pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Jikalau khotbah suatu gereja tidak meninggikan Yesus, tidak men-Tuhan-kan Yesus, maka itu bukanlah gereja.

Apa artinya mengaku Yesus sebagai Tuhan? Gereja mula-mula ketika mengaku Yesus sebagai Tuhan, orangnya akan dibuang ke dalam kandang binatang buas, atau kepalanya dipancung, atau dibakar menjadi obor di taman-taman kota Roma, atau menjadi piatu. Mengaku Yesus sebagai Tuhan harus membayar harga yang begitu besar. Tetapi sekarang ini, dalam theologi-theologi yang tidak benar, mengaku Yesus sebagai Tuhan berarti saya akan menjadi kaya, menjadi sembuh dari sakit, hidup menjadi sukses, hidup menjadi mulus. Mengaku Yesus sebagai Tuhan adalah berani meresikokan hidup kita.

Alkitab menggambarkan hubungan Kristus dan jemaatNya, yang digambarkan oleh Abraham Kuyper sebagai hubungan organik, yaitu seperti pokok anggur dan rantingnya. Ranting menancap pada pokok anggur, mendapatkan makanannya dari situ, aliran hidup berasal dari situ. Alkitab juga menggambarkan hubungan Kristus dan jemaatNya seperti hubungan suami dan istri yaitu menjadi 1 daging, merupakan hubungan organik. Jemaat Tuhan adalah seperti tubuh dan Kristus sebagai kepala. Ini merupakan hubungan hidup, hubungan aliran darah, 1 roh, hubungan organik. Paulus dalam Galatia 2:20 mengatakan: hubungan Kristus dengan jemaatNya berarti kita di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita. Dan Yesus berkata: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

“Kita di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita“ berarti kita mewarisi semua yang dimiliki oleh Yesus, bukan hanya penderitaanNya, penyangkalan diriNya, tetapi juga kemuliaanNya ketika Dia bangkit dari antara orang mati, dan Dia sebagai Anak Allah yang tunggal, kita sebagai anak-anak Allah, kita mewarisi Kerajaan Sorga. Artinya: kita harus menyangkal diri dan memikul salib kita.

Seorang misionari untuk suku Indian di benua Amerika, datang bersama istri dan anaknya yang masih bayi. Tidak lama kemudian anak ini meninggal dunia dan tidak lama kemudian istrinya berada dalam keadaan sekarat karena minimnya obat-obatnya dan peralatan medis di pedalaman. Dia meminta maaf kepada istrinya karena telah menyulitkan dia, istrinya menjawab dia: jikalau seandainya saya tahu dari awal panggilan Tuhan kepadamu menjadi misionari di pedalaman akan berakibat seperti ini, maka aku akan melakukannya kembali dengan hati yang lebih bersukacita karena buah yang dihasilkan yaitu orang-orang yang bertobat kepada Tuhan melalui pengorbanan kita. Inilah menyangkal diri dan memikul salib.

Dalam nats Alkitab kita hari ini, Tuhan Yesus mengatakan bahwa ada tantangan dari luar untuk menghancurkan iman kita. Tuhan Yesus berkata: ... di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya. Tuhan Yesus mendirikan jemaatNya bukan di daerah netral melainkan di daerah musuh. Kita diutus ke tengah-tengah dunia ini, bagaikan domba di tengah-tengah srigala, di dalam dunia yang busuk dan gelap ini kita diminta untuk menjadi garam dan terang dunia. Garam yang mengawetkan dari pembusukan, terang yang menerangi di dalam kegelapan. Paulus menuliskan dalam Roma 8: oleh karena Engkau, Yesus, setiap harinya kami ada dalam ancaman maut, kami bagaikan domba yang siap untuk disembelih.

Kristus ketika menampakkan diri kepada Saulus si penganiaya jemaat Tuhan, bertanya: mengapa engkau menganiaya Aku? Hal ini menunjukkan bahwa menganiaya orang Kristen adalah sama dengan menganiaya Tuhan. Paulus dalam Roma 8 mengatakan: tidak ada kuasa sebesar apapun yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Ketelanjangan, penderitaan, kelaparan, dan kesengsaraan sehebat apapun tidak bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Artinya adalah: yang memegang kita adalah kasih Kristus. Sebagai ilustrasi: magnet yang melambangkan Tuhan Yesus, akan menarik paku yang melambangkan manusia untuk menempel pada magnet tersebut. Yang menyebabkan paku dapat menempel adalah kekuatan magnet. Yang menarik paku akan berhadapan dengan kekuatan magnet. Demikian juga dengan kita, kalau ada yang akan menarik kita maka kekuatan itu akan berhadapan dengan kekuatan Tuhan Yesus bukan dengan kita yang begitu lemah. Dalam 1Korintus 10:13 disebutkan bahwa Allah itu setia, Dia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita sebagai manusia. Ketika kita dicobai, Allah akan memberikan jalan keluar supaya kita dapat menanggungnya. Ketika kita dicobai, berusaha ditarik dari Tuhan, Paulus berkata bahwa kita tidak hanya dimampukan untuk menanggungnya, tetapi kita juga lebih dari pemenang. Artinya: ketika paku ditarik dari magnet, magnet tetap menarik paku, paku barulah tahu betapa kuatnya tarikan dari magnet tersebut. Ketika pencobaan itu datang kepada kita, kita barulah tahu bahwa Tuhan begitu berkuasa, begitu mengasihi kita untuk tetap mempertahankan kita. Tuhan mengasihi kita, mendekap kita. Itulah sebabnya Paulus berkata: ketika aku lemah, disitu aku kuat.

Ketika berada di rumah seorang jemaat, saya melihat suatu lukisan bekas tapak kaki di pantai dengan jumlah 4, kemudian 2, 4, 2, 4. Disana tertulis percakapan antara Tuhan Yesus dengan seorang manusia. Orang tersebut berkata kepada Kristus: Tuhan, begitu teganya kepada saya, ketika saya sukses Engkau menuntun aku, terlihat dari bekas tapak kaki yang berjumlah 4, tetapi ketika saya sedang sakit dan dalam kebangkrutan Engkau meninggalkan aku, terlihat dari bekas tapak kaki yang berjumlah 2. Tuhan Yesus berkata: engkau salah mengerti anakku, ketika hidupmu mulus Aku menuntun engkau, tetapi ketika pencobaan yang besar/ mara bahaya itu datang menimpa engkau, Aku menggendong engkau, bekas tapak kaki itu adalah bekas tapak kakiKu. Ketika pencobaan/ penderitaan menimpa kita bukan karena dosa kita, kita seharusnya bersyukur karena kita dapat melihat kuasa Tuhan yang bekerja dengan luar biasa.

Tuhan Yesus melanjutkan, gereja memiliki tantangan yang lebih besar dari dalam diri. Tuhan Yesus menyatakan misi utamaNya kepada para murid yaitu Dia akan ke Yerusalem, dianiaya, mati disalibkan, pada hari ketiga akan bangkit. Simon Petrus menarik Tuhan Yesus ke samping dan berkata: Allah sekali-kali tidak akan mengizinkan hal itu terjadi padaMu. Tuhan Yesus berkata: enyahlah engkau iblis! Petrus telah menjadi batu sandungan dan dia tidak sadar akan hal itu. Lebih ironis lagi, dia berpikir bahwa dia sedang memuliakan Allah dan bahkan dia memakai nama Allah.

Kita seringkali menghalangi pekerjaan Tuhan yang begitu besar dengan tanpa kita sadari, kita bahkan menegaskan bahwa hal itu adalah suara Tuhan, pimpinan Tuhan dan kehendak Tuhan. Celakalah kita! Tantangan dari dalam sangatlah besar.

Untuk memperkembangkan gereja Tuhan, Yesus ketika merekrut orang untuk menjadi murid-muridNya sangatlah berbeda dengan dunia ini. Petrus dengan karakternya yang labil, baru saja mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, sekarang sudah mencegah Yesus mengerjakan misi utamaNya. Rasul Yohanes yang menulis Injil Yohanes, Surat 1,2,3 Yohanes, adalah orang yang sangat temperamental. Orang yang demikian bisa menjadi rasul dan menulis tentang Allah adalah Kasih. Perubahan yang begitu besar dan radikal terjadi ketika berada di dalam tangan Tuhan, karena Tuhan memiliki kuasa Injil yang mengubahkan, mengubah menjadi ciptaan baru.

Saulus yang kemudian berubah menjadi Paulus, dalam 1 Timotius dia berkata: saya dahulu seorang penghujat, seorang penganiaya, seorang yang ganas, tetapi diubah oleh Tuhan menjadi seorang yang setia di mata Tuhan. Dalam Efesus 3:8 dia mengatakan: di antara semua orang kudus, aku yang paling berdosa, tetapi karena kemurahan dan kesabaran Kristus aku diubah menjadi rekan kerja Tuhan. Dia menambahkan dalam 1 Timotius 1:15-16: ini menjadi suatu teladan, dosa sebesar apapun dari manusia, ketika dia mau datang kepada Tuhan, Tuhan akan mengampuni dan memakainya menjadi rekan kerja Tuhan.

Pada tahun 2007 saya pernah mendengar suatu ilustrasi dari Paul Calistra, mantan president dari Covenant Theological Seminary, di Atlanta, Georgia, Amerika. Dia bercerita bahwa beberapa tahun yang lalu dia pergi ke British Museum. Begitu banyak obyek penting dalam museum tersebut yang hendak dilihatnya, tetapi ada 1 obyek yang paling penting yang merupakan urutan pertama untuk dilihatnya yaitu suatu porselen Cina. Beberapa tahun yang lalu porcelen ini pernah dipecahkan sampai hancur berantakan dengan palu oleh seorang pengunjung. Dibutuhkan waktu  bertahun-tahun dan uang jutaan poundsterling untuk merangkai dan merekatkan kembali pecahan tersebut dan menjadikannya seperti semula sehingga bisa dipertontonkan kembali. Porcelen itu seperti diri kita, dosa sudah menghancurkan diri kita, seluruh pikiran, perasaan dan kehendak kita seluruhnya sudah rusak, tetapi Tuhan memilih untuk melahir barukan kita. Dia menata kita kembali supaya kita bisa memuliakan Tuhan, menampakkan kemuliaan yang diberikan Tuhan. Dengan kelemahan apapun dalam hidup kita, maukah kita dipakai Tuhan, seperti Tuhan sudah memakai Saulus menjadi teladan bagi kita?  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)