Ringkasan Khotbah : 09 Agustus 2009

Rahab: Dari Perempuan Sundal Menjadi Pahlawan Iman

Nats: Yosua 2

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Nats kita pada hari ini berisi cerita yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Musa sudah meninggal dunia dan kepemimpinan dialihkan kepada Yosua. Pada Yosua 1 Tuhan menguatkan hati Yosua berkali-kali dan Yosua diberi janji oleh Tuhan bahwa setiap tanah di tanah perjanjian yang diinjaknya akan diberikan kepadanya, tidak ada seorangpun yang tahan menghadapi dia. Selama Yosua hidup, setiap umat Tuhan menjalankan perintah Tuhan dan beribadah kepada Tuhan dengan baik. Yosua adalah tokoh utama dalam keseluruhan kitab ini. Yosua 2 merupakan satu episode kecil dari satu perang melawan Yerikho dari antara sekian banyak perang dalam kitab ini. Episode ini diawali dengan dikirimnya dua pengintai, yang rohani, dan nyata pimpinan Tuhan dalam misi mereka. Namun tokoh utama dari Yosua 2 ini adalah seorang yang sepertinya tidak penting. Dia adalah seorang kafir, seorang dengan latar belakang yang gelap (seorang perempuan sundal). Tetapi kemudian menjadi salah seorang yang sangat penting. 

Betapa pentingnya ini jadinya nanti, terlihat dalam hal-hal berikut: (1) Dua orang pengintai yang dikirim itu tidak disebutkan namanya, tetapi perempuan ini disebutkan namanya yaitu Rahab. (2) Matius 1:5 memberi tahu kita bahwa dari Rahab, si pelacur ini, lahirlah Raja Daud, bahkan yang akhirnya akan melahirkan Sang Juruselamat secara jasmani. Rahab adalah ibu dari keturunan yang begitu kudus dan mulia. (3) Nama Rahab juga dicantumkan didalam jajaran raksasa-raksasa iman di Kitab Ibrani 11. (4) Yakobus 2:25 menjadikan Rahab sebagai teladan bagi iman yang nyata dalam perbuatan, yaitu menyambut dua orang pengintai itu karena iman kepada TUHAN.

Melalui tindakan iman inilah seorang perempuan kafir diubahkan dan direpo­sisi menjadi pahlawan iman yang luar biasa. Francis Schaeffer berkata: tidak ada orang yang kecil dan tidak ada tempat yang kecil di mata Tuhan. Ketika sese­orang menjalankan hidupnya dalam iman yang murni itu akan menjadikan dia seorang yang mulia di mata Tuhan. Sebagai jemaat Tuhan, kita seharusnya tidak mem­per­masalahkan besar kecilnya kita melainkan bagaimana kita mewujudkan iman kita, seberapa kita mencintai Tuhan, seberapa kita memberikan yang terbaik kepada Tuhan dengan tidak ada motivasi untuk kepentingan diri sendiri.

Kita akan melihat nats Alkitab kita hari ini bagian per bagian. Yosua 2:1 menceritakan bagaimana Yosua mengirim 2 orang pengintai secara diam-diam, berbeda dengan Musa yang mengirimkan 12 orang pengintai yang mana laporan dari 10 orangnya menimbulkan kecelakaan luar biasa dari bangsa Israel. 2 orang pengintai itu adalah orang yang memiliki kehidupan rohani yang bagus, yang nyata providensia Allah dalam hidupnya. Tempat pelacur adalah tempat orang lalu lalang dan biasanya terdapat banyak informasi, maka kedua orang itu menginap di rumah Rahab si pelacur.

Kehadiran mereka dilaporkan kepada raja yang kemudian mengutus orang ke rumah Rahab. Orang-orang itu meminta Rahab mengeluarkan kedua orang itu dari dalam rumahnya. Tetapi Rahab dengan cerdik membenarkan bahwa memang ada dua orang datang ke rumahnya, tetapi dia tidak tahu dari mana mereka berasal dan kemana mereka pergi, jika kalian cepat, tentulah kalian dapat mengejar mereka. Saya yakin, sebelum utusan raja itu pergi, mereka pasti juga sudah memeriksa rumah Rahab tetapi tidak menemukan 2 orang pengintai itu, karena sudah disembunyikan di sotoh rumah di bawah timbunan batang rami. Hanya karena pemeliharaan Tuhan mereka bisa lolos.

Utusan raja segera mengejar kedua orang pengintai itu, pintu gerbang kota segera ditutup. Utusan raja itu mengejar ke arah sungai karena dengan anggapan melalui sungailah pengintai itu kembali kepada bangsa Israel yang berada di seberang sungai. Pencarian tersebut tidak berhasil karena  kedua orang itu masih berada di rumah Rahab. Rahab berani meresikokan dirinya dan seluruh anggota keluarganya dengan menyembunyikan dua pengintai itu. Hal ini dia lakukan karena dia beriman kepada Allah orang Israel, dia lebih takut kepada kebinasaan yang berasal dari Allah daripada yang dari raja. Karena iman inilah, dia dan seluruh keluarganya boleh diselamatkan.

Di dalam Yosua 2:9-13 kita mendapatkan ungkapan iman dari lubuk hati Rahab. Yosua 2:9. “Aku tahu, bahwa TUHAN (Yahweh) ...“ Dia tahu, dia percaya, dia melihat satu Allah yang berbeda dan mengatasi semua allah lain. Bagi Rahab, TUHAN, yaitu Allah Israel yaitu satu-satunya Allah yang riil, yang tidak bisa diabaikan. Banyak orang yang setelah belajar atau mengikuti kuliah, berkata: “Aku tahu“, lalu mereka mulai berdebat, berdiskusi, dan merasa diri sudah hebat, tetapi Allah tidaklah riil dalam hidup mereka. Adalah hal yang ironis jika Allah hanya menjadi bahan diskusi di kalangan orang Kristen dan orang yang sekolah theologi.

Rahab berkata: “Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu…” Perkataan Rahab ini mengingatkan kita  pada Abraham. Dialah yang telah menerima janji Tuhan untuk memberikan  kepadanya  negeri  Kanaan.  Janji  tersebut  diteruskan kepada Ishak, Yakub, Yusuf. Bahkan

Yusuf menyuruh bangsa Israel bersumpah untuk membawa tulangnya ketika mereka keluar dari Mesir supaya dikubur di negeri yang dijanjikan Tuhan itu. Untuk janji itulah Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, Tuhan memberikan tulah kepada bangsa Mesir untuk mendidik bangsa Israel dalam hal theologi, Tuhan juga membelah Laut Teberau, Tuhan turun secara dahsyat di Gunung Sinai.

Ketika 12 orang pengintai dikirim ke tanah Kanaan, sekembalinya ke bangsa Israel, mereka gentar dengan penduduk tanah Kanaan, mereka takut diperbudak oleh penduduk Kanaan. Tuhan sangat marah karena ketidakpercayaan mereka sehingga tidak seorang pun dari mereka yang boleh masuk ke tanah Kanaan, kecuali Kaleb dan Yosua. Tetapi di sini, kita mendapati seorang perempuan sundal dari bangsa kafir beriman bahwa Tuhan akan memberikan negeri ini. Iman yang luar biasa!

Orang Israel yang sudah melihat mujizat Tuhan yang begitu luar biasa tidaklah percaya kepada Tuhan, sehingga mereka hanya keliling di padang gurun sampai mereka semua mati habis. Mereka dicatat sebagai suatu contoh negatif, mereka menjadi peringatan mengenai suatu kegagalan, hal ini terus menerus diceritakan sepanjang sejarah. Wanita pelacur itu, yang berasal dari bangsa yang seharusnya dibinasakan, justru beroleh selamat, menjadi contoh yang begitu indah bagi setiap kita.

Iman yang sederhana, yang murni, bukanlah masalah sembarangan. Dengan sekali orang beriman kepada Tuhan, menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh murni, maka seluruh hidupnya akan diubahkan, dia akan diselamatkan, hidupnya akan diselamatkan dari segala macam kesalahan dan dosa, Tuhan akan memimpin, memakai dan memuliakan orang tersebut. Ada orang yang diubahkan menjadi berkat bagi seluruh masyarakat, bagi seluruh sejarah, tetapi juga ada yang hidupnya sia-sia, terlaknat, membusuk. Percaya atau tidak percaya mempunyai dampak yang luar biasa. Orang yang mendegilkan hatinya akan meresikokan hidupnya. Dalam hidup yang penuh dengan permainan dosa akan membawa mereka kepada kehancuran diri.

Yosua 2:9b,11a memakai empat macam kata untuk mengandung satu ide yang sama (kengerian, gemetar, tawar hati, jatuhlah semangat). Pengulangan ini mau mengungkapkan kegentaran yang dahsyat yang Tuhan munculkan dalam diri mere­ka. Penduduk Yerikho gentar kepada bangsa Israel. Mereka gentar kepada bangsa Israel karena ada TUHAN di belakang orang Israel. Jadi kegentaran pada TUHAN-lah yang membuat mereka gentar pada umat Tuhan. Kita seharusnya merasa nyaman dengan penyertaan Tuhan daripada adanya jaminan dari manusia, bahkan dari presiden sekalipun. Tuhan menyertai orang yang hidup saleh dan memperkenan hati-Nya. Biarlah kita menjadi umat Tuhan yang membuat orang lain merasa gentar karena ada penyertaan Tuhan atas hidup kita. Tuhan tidak akan pernah membiarkan orang-orang berlaku semena-mena kepada umat-Nya, hamba-Nya, gereja-Nya. Tuhan tidak akan tinggal diam.

Kegentaran ini menimbulkan dua macam respon pada penduduk Yerikho: ke­gen­taran yang menim­bul­kan perlawanan mati-matian, dan kegentaran yang mem­buat Rahab mengejar peluang keselamatan yang tidak mungkin bagi dia sehingga kegentaran itu akan menghilangkan ketakutan menanggung segala resiko bahkan resiko hukuman mati dari raja sekalipun. Kegentaran itulah yang menimbulkan reaksi Rahab menerima dua orang pengintai itu dalam rumahnya. Itulah tindakan iman untuk mengejar keselamatan di dalam Yehovah.

Kegentaran kepada Tuhan adalah hal yang sangat penting. Jikalau seseorang tidak takut akan hukuman Tuhan, akan penghakiman Tuhan, maka orang tersebut tidak akan mempunyai kerohanian yang baik. Takut akan Tuhan adalah kualitas rohani yang sangat penting. Takut akan Tuhan adalah menghormati Tuhan. Kita takut Tuhan marah kalau kita hidup tidak beres. Ajaran yang hanya mengajarkan tentang kebaikan Allah saja adalah ajaran yang tidak sehat, walaupun ajaran demi­kian bersifat positif dan banyak diajarkan dalam Alkitab, tetapi harus diimbangi dengan ajaran tentang disiplin, kekudusan, dan keadilan Tuhan. Orang yang banyak melakukan kegiatan kerohanian, banyak pelayanan belum tentu hidupnya diperke­nan Tuhan. Marilah kita mencari isi hati Tuhan berdasarkan Firman yang dipelajari dengan baik dan kita hidup memperkenan hati Tuhan. Rasul Paulus yang yakin akan jaminan keselamatan didalam Kristus juga terus hidup takut akan Tuhan, hidup gentar di hadapan Tuhan, takut sembarangan hidup, sehingga ia terus menguasai dirinya agar tidak dibuang oleh Tuhan. Paradoks ini harus kita miliki. Doktrin tentang jaminan keselamatan haruslah membuat suatu kesalehan hidup yang sesuai dengan Alkitab.

Yosua 2:10 memberi tahu kita bagaimana iman Rahab bertumbuh: “Sebab kami mendengar, bahwa Tuhan telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ...” Rahab mendengar tentang Tuhan yang mengeringkan air Laut Teberau. Tentunya dengan tulah-tulah yang menimpa Mesir. Ketika Laut Teberau terbelah dan kemudian menyatu kembali, banyak orang Mesir yang terkubur dan mati. Hal yang sangat mengerikan. Hal inilah yang didengar oleh Rahab, juga tentang kemenangan bangsa Israel berperang melawan orang Amori. Orang Israel melihat mujizat-mujizat Tuhan ketika berjalan keluar dari Mesir tetapi iman tidaklah ada dalam diri mereka. Ketidakberesan diri seseorang tidak bisa diatasi dengan mudah, hanya dengan anugerah dan doa barulah Injil dapat menjangkau seseorang. Rahab, yang diperkirakan berusia antara 20-30 tahun, tidak melihat sendiri mujizat-mujizat tersebut diatas yang terjadi 40 tahun yang lalu, tetapi hanya dengan mendengar dia beriman. Benarlah perkataan Tuhan Yesus: Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya!

Janganlah kita putus harapan, merasa kita terlalu banyak berdosa sehingga tidak mungkin lagi dapat beriman dan diselamatkan. Kalau kita memiliki benih iman seperti perempuan ini maka ketika mendengar Firman bahwa janji-Nya akan terlaksana, akan terwujudlah iman itu. Milikilah dalam diri kita hati yang baik, telinga yang baik, sehingga kita boleh peka akan setiap kebenaran Firman yang kita terima. Saya pernah mengalami masalah perut (luka dalam usus) sehingga semua makanan, yang terbaik sekalipun lewat begitu saja tanpa diserap oleh tubuh saya. Tubuh menjadi sangat kurus. Demikian juga Firman Tuhan yang baik akan menjadi lewat begitu saja kalau hati kita tidak baik, hati kita menolaknya, sehingga semua berkat rohani akan lewat. Marilah kita minta kepada Tuhan satu hati yang baik. Adalah sangat ironis jika sudah melihat di depan mata berbagai mujizat Tuhan tetapi tetap binasa, sedangkan ada wanita kafir yang hanya mendengar dari jauh bisa beriman. Biarlah Tuhan menolong kita yang kecil dan sederhana ini, yang hanya ibu rumah tangga, yang hanya orang biasa saja, untuk dapat memiliki iman.

Yosua 2:12-13. berikut adalah yang diinginkan Rahab dari dua pengintai itu: “Maka sekarang, bersumpahlah kiranya demi Tuhan, karena saya sudah berbuat baik kepada kamu maka mohon kamupun berbuat baik kepadaku, selamatkanlah saya dan seluruh anggota keluarga saya.” Rahab sadar bahwa keselamatan adalah sesuatu hal yang tidak bisa diharapkan untuk diperolehnya, tetapi dia sadar bahwa kehadiran dua orang pengintai itu dapat membawa dampak bagi dirinya dan keluarganya. Dalam hidup kitapun juga demikian, kita harus senantiasa peka akan adanya momentum-momentum atau kairos-kairos dalam kronos-kronos yang kita jalani. Respon kita terhadap kairos-kairos tersebut akan sangat menentukan hidup kita. 

Yosua 2:14. Seharusnya Yerikho beserta semua isinya termasuk Rahab harus dimusnahkan, tetapi Rahab dan seluruh anggota keluarganya terselamatkan, meng­apa bisa demikian? Karena dia punya iman yang begitu indah dan luar biasa yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Allah menumpas bangsa-bangsa itu karena dosa mereka sudah kelewatan, Tuhan membiarkan mereka sampai tumpukan dosa mereka menjadi genap dan hukumanpun dijatuhkan pada mereka. Tuhan memilih bangsa Israel untuk Ia murnikan, supaya melalui mereka semua bangsa yang lain akan diselamatkan oleh Tuhan. Ternyata di bangsa yang seharusnya ditumpas habis terdapat seorang wanita yang sudah memiliki iman seperti Abraham, seorang yang sudah menjadi anak Abraham karena iman, sehingga wanita tersebut tidak perlu ditumpas karena dia diperkenan Tuhan. Dua orang pengintai itu berjanji untuk tidak menumpas dia dan keluarganya. Keselamatan itu bukan hanya secara jasmani tetapi juga seluruh hidupnya menunjukkan pertobatannya.

Rahab memiliki “gelar” yang tidak akan pernah hilang dalam hidupnya yaitu Rahab si pelacur. Hal ini menunjukkan bahwa akibat dosa selalu melekat pada diri seseorang, seperti: Saulus si penganiaya jemaat, John Newton si penjual budak. “Gelar” tersebut mengingatkan kita untuk tidak berbuat dosa. Tetapi gelar itu se­kali­gus mengingatkan kita bahwa anugerah Tuhan melingkupi/ menutupi keber­dosa­an dan latar belakang yang buruk dari manusia. Rasul Paulus berkata bahwa supaya anugerah yang begitu besar itu dapat menjadi penghiburan dan contoh bagaimana Tuhan menyelamatkan dia, dulu dia adalah orang yang paling keji, yang paling berdosa dari semua orang yang berdosa.

Rahab si pelacur, karena anugerah Tuhan, berubah menjadi ibu dari keturunan kudus. Ketika seseorang percaya kepada Tuhan, hidupnya akan mengalami pem­baru­an. Ada orang yang tidak mau menjadi Kristen karena tidak dapat tidak berdosa, tetapi ada juga orang yang sudah menjadi Kristen kemudian merasa tidak apa-apa untuk berbuat dosa. Keduanya tidak baik. Seharusnya, orang yang beriman kepada Tuhan, yang mengenal Tuhan secara benar, yang takut akan Tuhan, dan anugerah Tuhan, Injil Yesus Kristus, Roh Kudus bekerja dalam diri orang itu, maka akan menghasilkan suatu perubahan. Siapa yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan, dia adalah manusia baru.

Dalam kelemahan dan kekurangan kita ada anugerah Tuhan yang menolong dan menopang kita, dan antar jemaat pun kita seharusnya saling menopang sehingga tidak ada yang terjatuh dan terjebak, maka Tubuh Kristus ini akan terlihat indah di mata dunia. Janganlah sampai Kepala dicela karena tubuhnya kurang ajar.

Yosua 2:24 menceritakan bagaimana kedua pengintai itu kembali dan melapor­kan hasil pengintaian mereka kepada Yosua, mereka memakai kalimat dari Rahab yaitu: “Tuhan telah menyerahkan seluruh negeri ini ke dalam tangan kita.” Inilah suara Tuhan yang disampaikan kepada mereka melalui Rahab. Hal ini menunjukkan betapa luar biasanya providensia Tuhan bagi orang yang takut akan Tuhan. Kata-kata Tuhan inilah yang akan memberikan kekuatan kepada mereka dalam mengalahkan Yerikho. Tuhan seringkali memakai orang lain untuk berbicara kepada kita, kadang melalui orang yang tidak beriman sekalipun, terkadang membuat kita merasa malu karena tertegur atau merasa dikuatkan oleh perkataan orang itu. Biarlah setiap kita memiliki hati dan telinga yang bersih, yang senantiasa mendengar Firman Tuhan dan mewujudkan Firman tersebut dalam perbuatan kita.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)