Ringkasan Khotbah : 02 Agustus 2009

Yosua dan Panglima Bala Tentara Tuhan

Nats: Yosua 5:13-15

Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan

 

Nats Alkitab kita pada hari ini berada dalam konteks cerita yang utuh mulai Yosua 5:1. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan bangsa Israel setelah masuk tanah Kanaan. Tuhan menyatakan sebuah perbuatan besar yang menyertai kehadiran mereka di tanah Kanaan itu. Tuhan membelah sungai Yordan sehingga orang Israel dapat berjalan melewatinya dengan tanpa kesulitan. Berita ini menjadi sesuatu hal yang menggemparkan bagi orang-orang yang berada di tanah Kanaan, sehingga mereka menjadi tawar hati dan hilang semangat karena mereka menyadari bahwa hal ini bukanlah sesuatu hal yang sembarangan terjadi. Bangsa Israel melihat bagaimana pertolongan Tuhan pada awal pendudukan tanah Kanaan ini. Bangsa Israel begitu bersemangat untuk terus melanjutkan ekspansi di tanah yang sudah dijanjikan Tuhan berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Pada saat demikian, Tuhan memiliki agenda yang lain bagi mereka, Tuhan berkata: berhentilah dulu!

Kita bisa membayangkan bagaimana perasaan bangsa Israel pada waktu itu, ketika dalam semangat yang begitu tinggi, Tuhan menyuruh mereka untuk berhenti dulu. Dalam bijaksana dan pertimbanganNya, Tuhan sangat tahu bagaimana harus memperlakukan bangsa Israel. Tuhan ingin menunjukkan adanya sesuatu yang perlu mendapatkan perhatian yang harus dikerjakan terlebih dahulu.

Di bagian lain Alkitab diceritakan tentang reaksi Tuhan Yesus ketika mengetahui sahabat yang dikasihiNya meninggal, Tuhan menunda perjalananNya ke sana sampai 3 hari. Ketika sampai di rumah Martha, Martha langsung menyambutNya dengan berkata: mengapa baru datang sekarang? Semuanya sudah terlambat! Inilah salah satu reaksi manusia menghadapi penundaan yang dilakukan oleh Allah.

Tuhan memiliki agenda tersendiri yang tidak mengikuti pikiran kita. Dalam bijaksana dan pertimbanganNya, Tuhan sudah memikirkan semuanya yang baik yang bisa terjadi dalam hidup setiap anak-anakNya. Dan memang kemudian dalam cerita tentang Lazarus diatas, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas kematian. Dia berkata kepada Martha: barangsiapa percaya kepadaKu, dia akan tetap hidup walaupun dia sudah mati. Percayakah engkau akan hal itu, Martha? 

Dalam PL, Tuhan juga menunda sesaat dan menyuruh bangsa Israel untuk melupakan Yerikho sejenak, melupakan semua niat, semangat, keinginan untuk terus maju. Tuhan ingin mengalihkan seluruh perhatian bangsa Israel kepada 2 hal yang belum pernah dilakukan kembali oleh orang Israel semenjak mereka keluar dari Mesir yaitu:

1.        mereka harus disunat.

2.        mereka harus kembali merayakan Paskah.

Tuhan ingin membawa mereka semua untuk menghormati semua ketetapan yang sudah Allah kerjakan. Semua ketetapan ini dilakukan Allah didalam kedaulatan kemauanNya. Allah bertindak dan mengikat Diri dalam semuanya itu. Mereka harus berhenti di Gilgal, berikan perhatian terlebih dahulu, tunjukkan ketaatan mereka, barulah mereka boleh berjalan memasuki tanah Kanaan dan menemukan seluruh kelimpahan pimpinan dan pertolongan Tuhan di sana.

 Sunat dalam PL adalah merupakan tanda perjanjian yang pertama kali muncul pada saat Allah bertemu dengan Abram. Allah berjanji bahwa keturunan Abram akan menjadi banyak sekali seperti bintang-bintang di langit dan pasir di laut. Allah berkata bahwa Dia akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatNya. Abram mendapatkan perjanjian ini, yaitu perjanjian yang dibuat Allah atas inisiatif Allah sendiri, kemudian Allah menetapkan tanda dari perjanjian ini yaitu semua laki-laki yang berada dibawah kekuasaan Abram haruslah disunat. Bangsa Israel yang keluar dari Mesir sudah mengikuti tanda perjanjian ini, mereka semua sudah disunat. Tetapi orang-orang yang lahir dalam perjalanan selama 40 tahun di padang gurun tersebut belumlah disunat. Karena itulah Allah menyuruh Yosua untuk berhenti sejenak dan mengerjakan hal itu terlebih dahulu. Sunat adalah tanda dari perjanjian yang menyatakan bahwa jikalau engkau taat maka Aku akan memberikan berkat, sebaliknya jika engkau tidak taat maka Aku akan menghukum. Perjanjian ini bersifat tetap dan tidak pernah berubah, bersifat terus menerus. Ketika Allah menyuruh Yosua untuk menegakkan kembali tanda perjanjian ini berarti ada suatu tuntutan yang terus berlaku yaitu tuntutan ketaatan.

Ketika kita ikut Tuhan, kita pasti juga berpikir tentang segala keuntungan yang akan kita peroleh dari ikut Tuhan, kita bukan saja mengerti bahwa Dia adalah Allah, tetapi kita juga ingin menikmati seluruh berkat-berkatNya, seluruh cinta dan kasih sayangNya, dan juga bagaimana Dia memelihara. Kalau kita tidak memiliki keinginan yang demikian, berarti kita sedang menaruh pengharapan pada sesuatu yang tidak ada hasilnya apa-apa. Orang mau ikut Tuhan karena tahu bahwa Tuhan bisa melakukan sesuatu. Ini adalah sesuatu hal yang wajar dalam tingkah laku keagamaan. Secara prinsip, hukum perjanjian itu tidaklah dapat lepas, Allah berkata: Aku akan memberikan semua berkat itu tetapi engkau haruslah hidup didalam ketaatan.

Kita seringkali begitu sulit mengalami berkat Tuhan, tidak menemukan kebaikan dan pemeliharaan Tuhan. Mungkin sekali hal itu merupakan tanda bahwa Tuhan hendak menyuruh kita untuk berhenti sejenak, lupakan semua keinginan, berikan perhatian karena mungkin sekali ada suatu langkah ketaatan yang kita abaikan.

Allah terikat dengan perjanjianNya, yaitu perjanjian berkat, Allah pasti akan memberikannya ketika Dia melihat ketaatan yang ditunjukkan oleh umatNya. Hal ini bukanlah sebuah pilihan melainkan sebuah keharusan. Di dalam keharusan, umatNya harus tunduk dalam hukum taat. Di dalam Diri Tuhan, keharusan itu “menuntut” Allah melimpahkan berkatNya. Hal ini bukan karena dorongan dari luar melainkan dari dalam Diri Allah sendiri, didalam kemauanNya dan kedaulatanNya, hidup dalam apa yang dijanjikanNya. Di dalam ketaatan akan ada berkat, hal ini tidaklah direvisi/ diganti/ diubah sampai dengan saat ini.

Dalam prinsip sunat terkandung arti: hiduplah dalam kesucian. Sebelum bangsa Israel berada dalam seluruh pekerjaan Allah, mereka haruslah “bersih” terlebih dahulu. Dalam Alkitab ada cerita yang lain yang menunjukkan bahwa Allah begitu menghormati perjanjian yang Dia tegakkan sendiri yaitu dalam cerita Musa. Musa satu kali setelah dia lari dari Mesir, dalam pengembaraannya dia bertemu dengan Yitro. Suatu hari ketika sedang menggembalakan kambing domba milik Yitro, Musa bertemu dengan Allah yang menampakkan diri dalam wujud semak yang terbakar tetapi tidak hangus. Di tempat itulah Allah berkata kepada Musa: tanggalkanlah kasutmu, sebab tempat dimana engkau berdiri itu adalah kudus adanya. Tuhan menyatakan kemauanNya, Dia menyuruh Musa untuk kembali ke Mesir, menjumpai Firaun dan memintanya untuk membebaskan bangsa Israel dari Mesir agar mereka dapat beribadah kepada Tuhan di padang gurun. Musa taat, kemudian dia membawa seluruh anggota keluarganya kembali ke Mesir. Di tengah perjalanannya menuju Mesir, Tuhan mencegatnya di tengah jalan untuk membunuh Musa. Mengapa Tuhan melakukan hal ini? Karena 1 anak Musa belum disunat. Maka segeralah muncul Zipora, istri Musa, mengambil batu dan menyunat anaknya. Setelah itu, Tuhan tidak jadi membunuh Musa. Musa dipersiapkan oleh Allah untuk melakukan perbuatan-perbuatan besar Allah, tetapi sebelum itu Musa harus mengikuti seluruh ketetapan yaitu sunat. Ini adalah hukum Allah, mewakili sifat Allah. Semua pekerjaan besar didalam kesucian, harus dilakukan oleh semua orang yang hidup dalam ketaatan dan kesucian, dan hal itu ditandai dengan sunat sebagai tanda perjanjian.

Dalam PB, kita tidak menemukan perintah sunat itu ditegakkan. Paulus dalam Kitab Kolose mengatakan bahwa sunat kita bukanlah sunat lahiriah, melainkan sunat batiniah yang terdiri dari penanggalan tubuh yang lama, pikiran yang berdosa, semua ambisi-ambisi yang berdosa, dan semua keinginan daging. Orang yang sudah ditebus masih mungkin ingin kembali dan bisa kembali kepada semua hal yang pernah dinikmati ketika masih hidup berdosa. Itulah sebabnya dalam setiap momen Tuhan membawa kita untuk berhenti sejenak. Tuhan membawa kita untuk melihat Dia kembali, untuk menghormati Dia, dan seluruh yang Dia mau kerjakan. Tuhan menyuruh kita menanggalkan kebiasaan berdosa kita, sebab Tuhan tidak akan pergi berperang dengan “orang Israel” yang tidak bersunat.

Didalam kepicikan dan ketidak tahuan kita, kita harus mengutip doa Daud dalam Mazmur 139 yang berbunyi: Ujilah aku, kenalilah pikiranku, lihatlah jalan-jalanku, apakah serong atau tidak. Kalimat ini menunjukkan bahwa orang percaya seringkali tidak sadar berjalan dalam jalan yang salah, dan dalam ketidak sadaran itu dia tidak dapat menikmati berkat-berkat Allah. Dosa itu menghalangi anugerah Tuhan, dosa itu memisahkan Allah dengan umatNya.

Setelah semua selesai disunat, maka perlu waktu jedah yang cukup panjang, mereka harus tunggu sampai semua sembuh. Setelah itu Tuhan menyuruh mereka melakukan paskah. Inilah kali ketiga mereka melakukan paskah. Kali yang pertama adalah ketika mereka keluar dari Mesir. Dalam satu hukum yang dibuat Allah, mereka harus memotong domba yang tidak bercacat, berumur 1 tahun, jantan, dan darahnya dipoleskan di ambang pintu rumah supaya malaikat maut yang hari itu datang tidak masuk ke rumah itu. Binatang yang disembelih tadi haruslah diolah, dan pada malam hari itu mereka makan paskah. Hal ini untuk mengingatkan akan satu hari tertentu di masa depan bahwa akan ada penebusan yang dikerjakan oleh Kristus. Paskah adalah untuk menjelaskan tentang Kristus, merupakan gambaran bahwa Dia itulah Domba Paskah itu. Kali yang kedua adalah ketika Musa menerima 10 Hukum Taurat di kaki Gunung Sinai. Hari itu Tuhan turun dengan segala kebesaran dan kehormatanNya, Tuhan menyuruh umatNya merayakan paskah, untuk mengingatkan mereka bahwa Tuhan telah membebaskan mereka pada waktu yang lalu, mengingatkan mereka akan perbuatan ajaib yang telah Tuhan kerjakan, mereka berada dalam kesempurnaan seluruh pemeliharaan Allah. Tuhan mengirimkan manna bagi mereka, tetapi manna itu berhenti ketika mereka masuk ke tanah Kanaan. Elia dalam pelariannya juga dikirimi makanan oleh Allah supaya beroleh kekuatan untuk berjalan. Semua orang yang berada dalam pemeliharaan Tuhan akan diperhatikan oleh Tuhan segala kebutuhannya, Tuhan akan topang dan berikan seluruh perlengkapan yang cukup supaya dapat berjalan dan melihat bahwa Allah yang memelihara.

Yang menjadi problem adalah: ketika Tuhan memberi manna, kita mau yang lainnya. Tidak mengherankan kalau keluhan demi keluhan kemudian akan muncul. Tuhan menyuruh orang Israel untuk makan Paskah, agar tidak menjadi lemah dan tetap memiliki kekuatan untuk terus berjalan. Pada waktu kita masuk kedalam perayaan Perjamuan Kudus, kita makan “Roti” dan minum “Anggur”, ini adalah upaya Tuhan menunjukkan pemeliharaanNya bahwa ada Kristus yang pernah memecahkan Diri dan mencurahkan darahNya. Pada momen itu sebenarnya suplai kekuatan rohani sedang Tuhan berikan.

Setelah 2 hal itu dikerjakan, Yosua, sebagai seorang militer, mulai menata strategi untuk menduduki tanah Kanaan. Pada waktu dia berdiri mempersiapkan strategi tersebut, dia melihat seorang yang lain, yang memakai pakaian panglima yang lain, yang datang dengan pedang terhunus di tangannya. Dengan naluri militernya, dia langsung bertanya kepada orang itu: Kawankah engkau atau lawan? Orang tersebut menjawab: Aku adalah Panglima Balatentara TUHAN. Ketika 2 jenderal besar itu bertemu, mereka adu otoritas, Yosua langsung sujud dengan muka ke tanah, menyembah dan berkata: apakah yang engkau mau katakan kepada hambamu ini? Panglima Balatentara TUHAN itu berkata: Tanggalkanlah kasutmu sebab tempat engkau berdiri itu kudus.

Dalam Alkitab kita melihat kata “TUHAN” yang mengikuti kata “Panglima Balatentara”. Kata “TUHAN” merupakan terjemahan dari kata YHWH yang merupakan milik dari Allah sendiri yang tidak ada kaitannya dengan ciptaan lain manapun. Jadi kata “Panglima Balatentara TUHAN” pastilah menunjuk kepada Allah sendiri, yaitu pribadi Allah kedua, yaitu Kristus didalam pemunculan pra-inkarnasi. Suatu kali dalam pengadilan, Tuhan Yesus berkata kepada Pilatus: tidakkah engkau tahu bahwa Aku memiliki kuasa untuk meminta kepada Bapa supaya mengirimkan sepasukan malaikat? Inilah otoritas yang Dia punya. Yosua tidak saja menangkap nuansa otoritas yang lebih besar daripada dia, dia kemudian mengambil sikap merebahkan diri sujud menyembah di hadapan Panglima itu. Kalimat perintah yang selanjutnya dikatakan oleh Panglima itu yaitu: “Tanggalkanlah kasutmu, sebab tempat engkau berdiri adalah kudus” mengingatkan Yosua akan kalimat yang dikatakan Tuhan Allah kepada Musa. Berarti yang mengatakan kalimat itu adalah Allah yang sama dengan Allah yang bertemu dan berkata-kata kepada Musa.

Pada waktu Allah hadir di hadapan Yosua dan di hadapan setiap orang percaya, Dia menuntut sebuah perubahan. Yosua harus berdiri dan menerima fakta bahwa Allah adalah pemimpin. Yosua sebagai pemimpin bangsa Israel di hadapan Panglima Balatentara TUHAN sadar bahwa dirinya bukanlah pemimpin lagi dan berkata: katakanlah apa yang tuanku ingin katakan kepada hambamu ini. Dengan kata lain: saya siap melayani Engkau Tuanku. Semuanya menjadi terbalik, merupakan sebuah perubahan karena tuntutan dari perjumpaannya dengan Tuhan. Tuhan hadir menuntut perubahan dan juga memberikan dorongan kekuatan, maka tidak boleh ada yang mengatakan: aku lesu, aku lemah, aku tidak punya gairah sama sekali. Semua orang yang berjumpa dengan Allah pasti mempunyai gairah yang tiada habis-habisnya. Jikalau kita menjadi tawar hati, mungkin saat itu mata kita lagi kabur dan tidak melihat Dia ada di depan kita.

Tidak ada seorangpun yang berhak menjadi tawar hati lalu meninggalkan Dia. Pengikut Tuhan yang menjadi tawar hati selalu didahului dengan perasaan kecewa kepada Allah. Kecewa karena Allah tidak memberikan semua suplai yang cukup dalam hidupnya. Kalau kita meninggalkan Tuhan, kita sendiri yang akan menikmati seluruh kegagalan hidup. Allah tidak kehilangan anggota tetapi justru kita yang kehilangan satu Pemimpin Agung di depan kita sehingga hidup menjadi tidak terarah, semakin rusak, sampai akhirnya merasa hidup ini tidak berarti dan berada dalam kekecewaan terus menerus.

Kalau Allah hadir, Dia akan membangkitkan gairah yang tiada habis-habis, Dia akan membangkitkan cinta yang tidak akan pernah padam yang akan terus berkobar didalam hati, yang akan membawa kita menikmati kekuatan anugerah. Cinta itu akan menjadikan kita yang lemah menjadi kuat. Cinta itu menyebabkan kondisi kerohanian yang semula dingin mulai dihangatkan kembali dan mulai melihat segala sesuatu dari sisi kebaikan. Dia juga datang untuk memberikan kesadaran bahwa kita memerlukan kehadiranNya. Tuhan Yesus berkata: di luar Aku, kamu tidak dapat melakukan apa-apa. Inilah kesadaran bahwa kita membutuhkan Dia datang, kita butuh Dia sebagai jenderal di depan. Kehadiran Allah itu lebih penting daripada segala berkat Allah. Kalau Dia hadir, maka Dia akan memberikan segala berkat.

Ketika Allah hadir, Dia mengubah posisi utama dari Yosua. Yosua harus berhenti sejenak sebelum menggerakkan pasukannya untuk menunggu pemimpin yang sejati datang. Ketika Dia datang, Yosua dengan rela hati berkata: Tampuk kepemimpinan itu ada padaMu. Maka Dia akan mendominasi seluruh bagian. Kalau Dia datang, mengambil alih kepemimpinan, dan memberikan perintah, maka tidak ada seorang pun yang berhak memberikan pertimbangan kepada Dia. Yang harus ada dalam pikiran seluruh prajurit adalah satu kata: Siap melaksanakan!

Yang seringkali terjadi adalah: kita diam-diam menempatkan diri kita sebagai penasihat Allah. Tuhan tidaklah membutuhkan nasihat dari kita. Perintah Tuhan tidak boleh ada yang ditolerir, semua harus dikerjakan.

Ketika Tuhan datang, Dia memaksa kita untuk beribadah, sujud dan menyembah Dia. Ibadah adalah penyerahan tahta hati di hadapan Allah, melihat Dia sangat besar dan kita sangat kecil, melihat Dia sangat tinggi dan kita sangat direndahkan.

Kehadiran Allah juga menebar tuntutan kekudusan. Ibadah harus disertai dengan sikap hati untuk mau hidup kudus. Hati yang kudus adalah tempat Allah bertahta. Kalau kita tidak dapat melihat kebesaran Allah dalam hidup kita maka kita akan kehilangan nuansa ibadah yang sejati. Tuntutan Allah adalah memang pada tempatnya karena Dia adalah Allah dan kita harus mengerjakannya. Dia hadir dengan kuasaNya, wibawaNya, tuntutanNya, dengan satu tujuan yaitu membawa orang takut berdiri di hadapanNya, tetapi sekaligus juga rindu untuk lari mendekat kepadaNya untuk berjumpa dengan Dia. Inilah paradoks hidup Kristen. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)