|
Ringkasan Khotbah : 26 Juli 2009
Nats: Matius 23:1-12 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Matius 23 adalah nats Alkitab yang seluruh ayatnya berisi kritik yang sangat tajam. Biasanya ayat ini dipakai oleh pendeta-pendeta yang lagi kesal untuk “menembaki” jemaatnya. Jadi sangatlah susah untuk secara tanpa prasangka kita mencoba menggali, menggumulkan, lalu merefleksikan ayat ini. Orang yang membaca Matius 23 juga seringkali merasa suntuk karena terus dipersalahkan. Di dalam Matius 23 ada 8 kali kata “celaka”. Kalau kita tidak memiliki pendekatan yang tepat, maka kita akan terbawa ke dalam nuansa dari Matius 23 ini secara salah. Saya ingin mengajak kita kembali melihat apa yang dikatakan oleh seorang profesor di Universitas Trinity, yaitu D.A. Carlson, yang mengatakan bahwa Matius 23 ini jangan dibaca sebagai kritik bagi orang Farisi dan ahli Taurat melainkan harus dibaca dalam kerangka seluruh Injil Matius yang bertemakan Kerajaan Surga. Tujuan Tuhan Yesus mengkritik orang Farisi dan ahli Taurat bukanlah sekedar ditujukan untuk orang Farisi dan ahli Taurat melainkan tetap berhubungan dengan Kerajaan Surga. Dalam Matius 23:1 kita melihat bahwa perikop ini bukan dibicarakan langsung kepada orang Farisi melainkan kepada orang banyak dan kepada murid-muridNya, dengan topik orang Farisi dan ahli Taurat. Tujuannya adalah supaya orang banyak dan para murid dapat mengerti apa yang Sang Raja inginkan dengan merefleksi diri melalui orang Farisi dan ahli Taurat.
Jadi pembicaraan dalam Matius 23 ini adalah untuk merefleksi bagaimana gereja berjalan di sepanjang sejarah zaman. Apa yang terjadi pada hari itu juga tetap sama dengan yang terjadi pada saat ini. Refleksi ini bertujuan untuk mempertanyakan apakah gereja Tuhan sudah betul-betul mewakili dan menjalankan misi dan panggilan Kerajaan Surga di tengah dunia. Betulkah orang Kristen sudah menjadi orang-orang seperti yang diinginkan oleh Sang Raja didalam Dia menggenapkan Kerajaan Surga? Apakah kita sudah menjalankan seperti yang dahulu dipikirkan oleh Kristus berkenaan dengan gerejaNya, berkenaan dengan Kerajaan Surga? Dengan demikian, kita akan mendapatkan relevansi ayat ini dengan implikasi Kerajaan Surga di dunia pada zaman kita ini.
Matius 23 terdiri dari 3 bagian yaitu:
1. pendahuluan pada ayat 1-12.
2. tubuh yang berbicara tentang 8 “celaka” pada ayat 13-29.
3. penutup pada ayat 33-36.
Bagian pendahuluan adalah bagian yang melandasi 8 “celaka” yang kemudian. Pada tahap pertama ini kita akan memperhatikan bagian pendahuluannya.
Dalam Matius 21-25 Tuhan Yesus makin lama makin keras membicarakan tentang siapa yang berhak berbagian dalam Kerajaan Surga dan siapa yang bukan. Dalam pembicaraan yang makin keras ini, Dia secara khusus menyoroti orang Farisi dan ahli Taurat, karena secara posisi orang-orang ini merupakan kelompok yang seharusnya paling bisa diandalkan untuk menjadi wakil menyatakan Kerajaan Surga. Mereka adalah orang yang belajar Taurat, sangat religius, banyak sekali berdoa yaitu sampai 7 kali sehari, paling banyak berpuasa yaitu 3 kali seminggu, orang yang menampilkan diri sebagai orang yang sangat rohani yang menjadi wakil gambaran dari seluruh kespiritualitasan dan keagamaan/religiositas di zaman itu. Orang-orang pada zaman itu akan menganggap bahwa orang Farisi dan ahli Taurat itulah yang akan masuk surga, yang mewakili Kerajaan Surga. Tuhan Yesus justru hendak mengajarkan bahwa anggapan orang-orang tersebut adalah salah. Hal ini menjadi refleksi bagi setiap kita sebagai orang Kristen di tengah-tengah zaman ini seharusnya bisa menjadi wakil/ gambaran dari orang yang akan masuk surga. Orang Kristen seharusnya menjadi perwakilan di tengah dunia ini yang membawa dunia mengenal Kristus yang akan membawa mereka ke surga. Kalau kita tidak berhati-hati, justru orang Kristen tidak menjadi tempat dimana orang bisa melihat surga melainkan justru menjadi penutup pintu surga. Hal yang menjepit sekali adalah di tengah-tengah orang Kristen sendiri, orang Reformed yang katanya paling rohani, paling mengerti theologi, dianggap paling cocok masuk surga, kalau tidak berhati-hati justru tidaklah demikian. Hal ini harus menjadi tanda awas bagi kita semua: betulkah kita berhak menjadi wakil Kerajaan Surga? Betulkah kita sudah hidup sesuai dengan kehendak Sang Raja? Kalau hal ini dapat menjadi refleksi kita maka kita akan belajar banyak, tetapi kalau kita bereaksi seperti orang Farisi dan ahli Taurat maka kita juga akan lewat dan kita tidak bisa menjadi wakil Tuhan/ menjadi warga Kerajaan Surga.
Orang Farisi yang kelihatannya cocok menjadi wakil Kerajaan Surga justru sengit melawan Tuhan Yesus (dalam Matius 22). Disinilah Tuhan Yesus hendak menelanjangi apa-apa yang kelihatannya baik justru sangatlah tidak baik. Apa yang manusia pikir adalah yang terbaik, mungkin tidak demikian menurut Tuhan.
Dalam 12 ayat yang pertama dari Matius 23 ini kita akan melihat 5 point yang dibagi dalam 2 bagian yaitu:
1. ayat 2-7 membicarakan tentang posisi objektif dari orang Farisi.
a. ayat 2-3a: Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, ...
Disini kita melihat pentingnya pengajaran yang sejati. Adalah suatu bahaya yang besar bagi dunia yang sudah dikuasai oleh dosa, yang cenderung melihat dari aspek praktikal menuju aspek pengajaran. Kita cenderung mengikuti pengajaran dari orang yang sebelumnya kita lihat baik hidupnya walaupun pengajarannya salah/ sesat. Sebaliknya, kita tidak mau mendengarkan pengajaran dari orang yang hidupnya rusak sekalipun pengajarannya betul dan baik. Ini adalah suatu kesalahan titik mulai. Seharusnya adalah dari ajaran menuju kehidupan. Pola ini tidak boleh dirusak ataupun diubah oleh manusia. Cara berpikir demikian memang tidak cocok dengan semua orang dunia.
Ajaran yang benar dan sejati haruslah diikuti terlepas dari hidupnya seperti apa. Tuhan Yesus mereposisi kembali pentingnya doktrin yang benar terlepas dari kehidupan terlebih dahulu. Ajaran yang benar harus dipegang keras terlebih dahulu, setelah itu hal yang lainnya menyusul. Orang Barat memiliki pepatah “Don’t throw the baby with the bath water” (bahasa Indonesia: jangan membuang bayi bersama dengan air mandinya). Arti pepatah ini adalah: hal yang esensial jangan dibuang berkaitan dengan ekses yang jelek, yang esensial harus dipegang keras terlepas dari implikasi yang belum terselesaikan.
Mengapa kita perlu memutar balik pola pikir kita seperti ini? Karena adalah suatu hal yang sangat sulit untuk hidup baik dan sekaligus memiliki ajaran yang benar di tengah dunia ini. Orang yang hidup baik di dunia kebanyakan ajarannya tidaklah beres karena titik utama hidupnya adalah kebaikan. Orang yang hidup baik biasanya tidak peduli apakah hidupnya baik di hadapan Tuhan atau tidak. Orang cenderung akan memilih salah satunya yaitu kalau mengutamakan Tuhan akan susah hidup di dunia, kalau mengutamakan dunia maka akan susah masuk surga. Orang di dunia akan cenderung memilih ke manusia dengan dalih toleransi, baik-baik dengan semua orang, sehingga semua orang baik kepada kita tetapi Tuhan benci kepada kita. Orang yang kelihatan baik ini memiliki filsafat dasar humanis materialis. Orang berbuat baik kepada orang lain supaya mendapatkan sesuatu.
Disini terlihat pentingnya ajaran yang melandasi hidup. Di titik pertama yang terpenting adalah harus mencintai Tuhanmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu. Inilah yang Tuhan inginkan. Orang Kristen di titik pertama harus memegang prinsip: karena Tuhan sudah menyelamatkan saya, maka saya harus mengasihi Dia. Tetapi untuk menjalankan prinsip ini di tengah dunia berdosa tidaklah mudah, bahkan masih ditambah lagi dengan hukum untuk mencintai sesama. Orang yang mencintai Tuhan sungguh-sungguh harus rela hidup dengan tanpa kompromi di tengah dunia. Seberapa jauh seseorang dapat dengan ketat menjagai tetapi tetap dapat mencintai dan berkorban? Hal ini tidaklah mudah. Adalah tidak mungkin menarik hal yang prinsip dari hal yang praktis. Iman Kristen haruslah belajar mengerti Firman dengan sungguh-sungguh, seluruh paradigma kita haruslah dibereskan terlebih dahulu. Hal ini haruslah menjadi refleksi bagi kita.
ayat 3b: ... tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.
Hidup Kristen tetaplah dituntut untuk terintegrasi dengan Firman. Di titik pertama memang haruslah konsep yang benar, setelah itu konsep haruslah terimplikasi dalam hidup. Hubungan antara konsep/pikiran dengan tindakan tidaklah bisa dipotong. Menjalankan hidup Kristen tidaklah mudah karena harus melawan dunia, tetapi Tuhan menuntut kita untuk menjalankannya. Menjalankan kebenaran Firman bukanlah merupakan pilihan melainkan merupakan suatu keharusan. Iman Kristen bukanlah iman yang mengerti Firman melainkan iman yang melakukan Firman. Buku John Calvin yang berjudul Institute of Christian Religion bukanlah berisi debat theologi melainkan tentang bagaimana kita hidup melakukan Firman, bagaimana orang Kristen hidup yang seharusnya berdasarkan pengertian doktrin yang ketat. Kalau kita mengerti bahwa Allah berdaulat, maka seharusnya kita taat sepenuhnya kepada Dia. John Calvin mengabdikan hidupnya secara total untuk bisa mencintai Tuhan dengan sepenuhnya. Inilah kekristenan yang sesungguhnya. Sebagai orang Kristen, kita harus mengerti Firman dengan benar dan seumur hidup harus selalu berusaha menjalankan Firman dengan benar. Kita bekerja bukan untuk mencari uang melainkan untuk menggenapkan apa yang Tuhan mau. Alkitab menuntut kita untuk mengerjakan sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
b. ayat 4: Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.
Di seluruh aspek di sepanjang sejarah, orang sangat suka membuat aturan-aturan, disiplin-disiplin, segala macam urusan tetapi bukan untuk ditanggungnya sendiri melainkan untuk ditanggung oleh orang lain. Orang sangat suka memanipulasi orang lain untuk menggenapkan keinginan diri, inilah pemimpin. Orang suka untuk menjadi pemimpin dan tidak suka menjadi bawahan, suka memberi pekerjaan kepada orang lain tetapi tidak suka diberi pekerjaan. Sikap yang demikian tidaklah disukai oleh Tuhan. Dalam gereja, setiap jemaat mempunyai hak dan kewajiban untuk memberikan usul. Usul tersebut haruslah usul yang benar-benar ditanamkan oleh Tuhan, yang merupakan beban dari Tuhan bagi dia, maka yang pertama-tama harus mengerjakan adalah orang yang punya usul. Kalau kita tidak berani usul berarti kita menolak beban yang Tuhan berikan kepada kita dan hal ini berarti melawan Tuhan. Setiap kita harus memikirkan untuk menanggung beban dalam menggarap pekerjaan Tuhan. Ketika kita termasuk warga Kerajaan Surga, kita adalah seorang hamba, Sang Raja ingin kita menjalankan keinginanNya. Kerelaan hati mau menanggung beban yang Tuhan tanamkan dalam diri kita haruslah menjadi bagian dari hidup kita. Sama seperti Anak Manusia yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28). Bertahun-tahun menjadi Kristen, apa yang sudah kita kerjakan bagi Kerajaan Surga?
c. ayat 5-7: Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.
Orang-orang yang kelihatan begitu religius justru memakai religiositasnya untuk mencari kebanggaan, mencari semua penghormatan dan kenikmatan dunia. Katanya rohani tetapi orientasinya bukan ke surga melainkan ke dunia, yang dikejar semuanya bersifat dunia/sekuler. Sepanjang sejarah, yang paling menakutkan adalah ketika kerohanian dipakai bukan untuk berelasi dengan Allah melainkan dengan sesama. Kerohanian sejati adalah berhubungan dengan relasi dengan Allah, bagaimana hidup menyenangkan hati Allah dan kita betul-betul menjadi hambaNya. Mata sekuler menjadi ciri dari kebanyakan orang. Hal ini tidak hanya terjadi 2000 tahun yang lalu, bahkan sampai hari ini pun tetap sama, ornamen-ornamen religiositas bukan dipakai untuk menjalankan kehendak Tuhan dan betul-betul menjadi semakin rohani, melainkan dipakai supaya orang lain lebih menghargai.
Lukas 17:7-10 menceritakan seorang tuan yang mengajak hambanya pulang setelah seharian bekerja di ladang, tidak akan mengajak hamba itu makan, melainkan akan menyuruh hambanya itu untuk menyediakan makanan bagi dia dan melayani dia sampai selesai, barulah hambanya boleh makan. Kalau kita yang diperlakukan seperti itu maka kita akan merasa sangat terhina, tetapi itulah prinsip yang diajarkan oleh Alkitab dan kita harus mentaatinya. Seberapa jauhkah kerelaan kita untuk mengerti dan taat menjalankan apa yang Tuhan inginkan? Apakah setelah semuanya itu dikerjakan oleh hamba tadi dengan rela, sang tuan patut mengucapkan terima kasih kepada hambanya? Alkitab mengatakan: tidak, karena hal tersebut adalah hak penuh sang tuan. Konsep ini sangat berlawanan dengan konsep manusia berdosa. Respon apa yang diberikan oleh hamba tadi? Hamba tadi akan berkata: kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. Inilah yang diinginkan oleh Sang Raja, inilah kekristenan yang sejati. Semua orang yang melawan Tuhan, termasuk orang Kristen sekalipun, akan jengkel ketika mendengar kalimat diatas. Biarlah ayat diatas menjadi refleksi hidup kita, betulkah kita adalah umat Tuhan, budak Tuhan di dalam Kerajaan Surga? Kunci hidup Kristen adalah hidup rendah hati melayani Sang Raja. Itulah yang tidak dimiliki oleh orang Farisi yang kelihatan hidup begitu rohani.
2. Ayat 8-12 merupakan refleksi dan apa yang sebetulnya diharapkan oleh Tuhan.
a. ayat 8-11: Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.
Di sini Tuhan Yesus hendak mengajarkan untuk kita tidak tergila-gila pada status duniawi. Orang seringkali iri dengan status yang dimiliki oleh orang Farisi. Keinginan akan status tertentu adalah kecelakaan besar menurut Alkitab. Point ini ditujukan langsung kepada orang banyak dan para murid. Orang Indonesia, mungkin karena pikiran, mentalnya, formatnya, budayanya sangat rendah, memiliki keinginan akan status tinggi yang luar biasa sehingga suka mencantumkan deretan gelar di depan dan di belakang nama diri. Pdt. Stephen Tong pernah berkata kepada saya: jangan sampai gelarmu membuat engkau bergantung pada gelar tersebut untuk pelayanan, tetapi buatlah semua orang melihat engkau lebih daripada gelarmu. “Pendeta” wajib ditulis di depan nama diri karena bukan merupakan gelar melainkan merupakan pertanggung jawaban. Buat apa mempunyai gelar yang banyak kalau tidak bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Kita harus belajar meletakkan kepentingan pekerjaan Tuhan jauh melebihi semua status. Hati seorang hamba adalah hati yang mau menyenangkan tuannya, hati yang menginginkan semua kehendak tuannya digenapkan. Tuhan menginginkan kita memiliki hati yang demikian. Dunia memacu orang untuk mencapai posisi tertentu dengan memakai persaingan. Dalam persaingan, orang tidak suka dengan orang lain yang lebih dari dirinya. Persaingan ini juga ada dalam kalangan pendeta. Tuhan suka dengan orang yang rendah hati, yang senang kalau ada orang lain yang lebih dari dirinya.
b. ayat 12: Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.
Pernyataan ini diterima oleh seluruh dunia. Barangsiapa yang menyombongkan diri, pasti akan dilibas, dan barangsiapa yang rendah hati akan ditinggikan oleh Tuhan pada suatu hari nanti. Orang yang direndahkan, asal tidak menjadi rusak dengan posisi itu, suatu hari nanti dia akan kembali ke tempatnya yang seharusnya. Seberapa jauh kita bisa mengatakan: aku hanya hamba yang tidak berguna? Kita ini betul-betul bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa, hanya saja Tuhan mau pakai kita. Karena itu kita harus mengerjakan sebaik mungkin apa yang Tuhan berikan, biarkan Tuhan beranugerah dalam hidup kita. Kalau setiap jemaat seperti ini, maka gereja akan bertumbuh dengan baik. Mari kita belajar mengkoreksi diri, merendahkan diri. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)