Ringkasan Khotbah : 19 Juli 2009

Yohanes Pembaptis Meragukan Yesus

Nats: Lukas 7:18-23

Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo

 

Konteks yang lebih luas dari Lukas 7 dimulai dari Lukas 4:14 dan diakhiri pada Lukas 9:50. Dalam Lukas 4:14 tertulis: Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. LAI memberi judul untuk perikop ini: Yesus kembali ke Galilea. Lukas 9:51 tertulis: Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandanganNya untuk pergi ke Yerusalem. LAI memberi judul untuk perikop ini: Yesus dan orang Samaria. Jadi Lukas 4:14 sampai dengan Lukas 9:50 adalah berbicara tentang pelayanan Yesus di Galilea. Setelah itu, Yesus mengarahkan pandanganNya ke Yerusalem, yang terletak di wilayah Yudea. Antara Galilea dan Yudea terdapat Samaria. Nazaret dan Kapernaum terletak di wilayah Galilea (daerah Utara Israel), sedangkan Betlehem dan Yerusalem terletak di Yudea. Lukas 4:14 sampai Lukas 9:50 menceritakan 1 tema yaitu tentang siapakah Yesus. Lukas memakai 5 pasal yang cukup panjang untuk menjawab 1 pertanyaan tentang siapakah Yesus. Hal ini membuat saya bertanya pada diri saya sendiri: seberapa jauh saya tertarik dengan pertanyaan ini atau bahkan seberapa jauh saya merasa perlu untuk mempertanyakan pertanyaan ini atau saya merasa bahwa pertanyaan ini tidak lagi relevan bagi saya karena saya bukan hanya seorang percaya tetapi bahkan seorang Hamba Tuhan. Apakah pertanyaan ini juga masih relevan bagi kita yang merupakan orang yang percaya kepada Dia? Kita merasa sudah tahu tentang siapakah Yesus, Dia adalah Tuhan, Juruselamat, penebus, Mesias. Tetapi penulis Injil tidaklah melihat seperti itu. Penulis Injil melihat Yesus sebagai 1 sosok yang tidak mudah untuk dimengerti, yang menimbulkan banyak sekali perdebatan dan kontroversial tentang siapakah Dia. Kita perlu memikirkan ulang, sudahkah kita tahu tentang siapakah Yesus. Pertanyaan ini bukan hanya cocok untuk anak Sekolah Minggu dan tidak cocok untuk orang-orang yang sudah lama menjadi Kristen, yang sudah banyak makan asam dan garam. Saya percaya kita memang sudah mengenal Yesus sampai tingkat tertentu, tetapi sudahkah kita mengenal Dia sampai seluruh kedalamannya? Saya rasa kita belum sampai di sana.

Suatu ketika setelah selesai mengabarkan Injil kepada seorang bapak yang sudah berumur sekitar 80 tahun, beliau bertanya kepada saya apakah saya percaya bahwa beliau sudah  sungguh-sungguh percaya kepada Yesus. Saya menjawab dengan sopan bahwa menurut saya beliau belum sungguh-sungguh percaya. Dalam perbincangan kami, beliau menceritakan bahwa setiap pagi beliau berdoa kepada Tuhan untuk memohon kelonggaran bagi istrinya yang sedang sakit. Saya berkata kepada beliau bahwa sebagai orang Kristen seharusnya kita bukan memohon kelonggaran dari Tuhan tetapi justru kita harus meminta ampun kepada Tuhan, dan kita percaya bahwa Tuhan akan mengampuni kita kalau kita meminta ampun kepadaNya. Bapak tersebut juga berkata bahwa kalau Tuhan menyembuhkan istrinya maka beliau akan ke gereja. Saya kembali berkata kepada dia bahwa kalau kita menyadari Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, berarti kita menyadari kalau kita perlu Juruselamat karena kita adalah orang berdosa, masih bisakah kita meminta sesuatu kepada Tuhan? Seperti perumpamaan anak bungsu yang pergi dari rumahnya, dia sampai harus makan makanan babi, ketika ayahnya memanggil dia pulang, bisakah dia berkata kepada ayahnya: saya akan pulang kalau ayah memberi saya uang 5 milyar terlebih dahulu? Tuhan mengampuni kita dengan tanpa syarat walaupun dosa kita begitu hitam, asalkan kita mau minta ampun kepada Dia, tetapi Tuhan juga tidak menerima syarat yang kita ajukan karena Dia adalah Tuhan dan kita adalah orang berdosa. Saya percaya kita tidaklah se-ekstrim bapak tersebut, kita sudah “mengenal” Tuhan kita, kita sudah berdoa dan membaca Alkitab. Tetapi betulkah kita tahu tentang siapakah Yesus? Betulkah hal tersebut tercermin dalam kehidupan kita? 

Saya seringkali melihat jumlah jemaat yang beribadah di gereja pada hari Minggu jumlahnya berkurang banyak ketika hari Senin esoknya adalah hari libur. Apakah jemaat yang berlibur ini menyadari bahwa hari Minggu adalah hari Tuhan dan jemaat seharusnya pergi mencari gereja yang baik sebagai tempat berbakti? Tuhan dan liburan menjadi 2 hal yang tidak berhubungan lagi. Kita tidak menyadari akan Firman Tuhan yang berkata: barangsiapa mengasihi ayahnya atau ibunya atau anaknya atau semua yang lain lebih daripada Aku, dia tidak layak untuk menjadi pengikutKu. Kita yang mengaku percaya kepada Tuhan, seringkali memiliki perilaku yang tidak sesuai. Jadi kita harus selalu bertanya tentang siapakah Yesus sehingga Dia berhak meminta klaim yang seperti diatas. Sudahkah kita mengenal Dia?

Yohanes Pembaptis adalah pengikut Tuhan Yesus yang paling setia, yang menyambut Tuhan Yesus pertama kali ketika Dia datang ke dalam dunia ketika keduanya masih di dalam rahim ibu. Ketika Maria, yang sedang mengandung Yesus, mengunjungi Elizabeth, yang sedang mengandung Yohanes Pembaptis, Elizabeth berkata bahwa bayi yang ada di dalam rahimnya bersuka cita karena dia tahu bahwa Tuannya datang ke rumahnya. Herannya, Yohanes Pembaptis masih mempertanyakan tentang siapakah Yesus, apakah Dia adalah Mesias ataukah mereka harus menanti yang lain. Yang lebih mengherankan lagi adalah Yohanes Pembaptis sebenarnya tahu persis akan pelayanan Yesus di dunia ini

bagaimana Dia mengajar, menyembuhkan penyakit, membuat mujizat, membangkitkan orang mati. Setelah tahu semua yang dikerjakan Yesus, Yohanes Pembaptis justru bertanya tentang siapakah Yesus. Mengapa dia menjadi ragu terhadap Tuhan Yesus?  Mari kita memperhatikan Lukas 7:23: Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku. Jadi karena dia kecewa kepada Tuhan. Sebagai orang Kristen, kita menemukan banyak hal yang menghambat kehidupan kerohanian kita. Orang Kristen tidak bertumbuh karena: sebagian malas, sebagian lagi merasa kerohanian tidaklah penting, sebagian lagi karena tidak berani membayar harga, sebagian mengasihi dunia lebih dari hal-hal rohani. Banyak alasan yang membuat orang Kristen meninggalkan pelayanan, Hamba Tuhan berhenti menjadi Hamba Tuhan. Dari banyaknya alasan yang ada, “kecewa” memiliki 1 keunikan yaitu seringkali menimpa anak-anak Tuhan yang sudah berani membayar harga, yang sudah mau sungguh-sungguh membaktikan hidup kepada Tuhan, yang sudah mau menyerahkan diri sebagai Hamba Tuhan sepenuh waktu. Mereka mengalami suatu benturan dalam ketidak siapan mereka, mereka menjadi kecewa dan akhirnya tidak lagi melayani, dan berhenti menjadi Hamba Tuhan. Jadi kita harus berhati-hati dengan “kecewa” karena justru banyak menimpa anak-anak Tuhan yang baik.

Banyak Hamba Tuhan yang berhenti menjadi Hamba Tuhan karena merasa salah mengerti panggilan Tuhan, atau kurang bisa menjalankan tanggung jawabnya sebagai Hamba Tuhan dengan baik, dll. Dari semua faktor itu, yang paling menyedihkan adalah faktor kecewa. Dosen saya di Universitas Trinity pernah menceritakan tentang seorang Hamba Tuhan yang baik, pada saat berkhotbah melakukan suatu “kesalahan” yaitu dengan mengatakan bahwa Tuhan menempatkan pria sebagai kepala termasuk di gereja dan di mimbar, dia tidak peka dengan kondisi adanya seorang majelis senior yang adalah seorang wanita. Majelis tersebut tersinggung dengan khotbah Hamba Tuhan tersebut, dia berhasil mengajak semua anggota majelis yang lainnya sepakat untuk mengeluarkan Hamba Tuhan tersebut dari gereja. Sampai dengan hari ini, Hamba Tuhan tersebut belum kembali melayani Tuhan.

Ada juga cerita yang lain, seorang Hamba Tuhan yang baru di suatu gereja diminta oleh pengurus gereja tersebut untuk berbicara dengan seorang bapak A yang adalah seorang pengurus, bahkan seorang yang sangat berpengaruh dan uangnya banyak. Para pengurus yang lain merasa bapak A belumlah lahir baru karena itu mereka mengutus Hamba Tuhan tadi untuk mencari kebenarannya. Dari perbincangan yang mereka lakukan, Hamba Tuhan tadi menyimpulkan bahwa bapak A memang belum lahir baru. Hamba Tuhan tadi kemudian melaporkan kesimpulannya kepada para pengurus yang mengutus dia. Celakanya, salah satu anggota pengurus melaporkan hal tersebut kepada bapak A. Suatu ketika terjadi badai yang menghancurkan atap dari bangunan gereja mereka. Diperlukan dana untuk renovasi. Diadakanlah rapat untuk pengumpulan dana renovasi, dan semua berharap pada bapak A. Pada saat rapat, bapak A memulai pembicaraan dengan menyinggung tentang Hamba Tuhan yang baru tersebut, bahwa dia tidak cocok berada di tengah-tengah mereka. Semua pengurus yang lain terdiam, lalu bapak A melanjutkan perkataannya: kelihatannya semua sepakat bahwa Hamba Tuhan tersebut tidak cocok berada di tengah-tengah kita, mari kita keluarkan dia. Ketika dia dikeluarkan, tidak ada seorang pun pengurus yang datang kepada dia. Dia begitu kecewa dan tidak melayani Tuhan sampai hari ini.

Bagi setiap kita yang mengaku mengenal Tuhan Yesus, hal ini adalah pertanyaan yang penting yaitu tentang siapakah Yesus, Dia adalah Tuhan pada saat apa, bisakah kita mengakui Dia sebagai Tuhan pada saat kita dalam keadaan susah, dalam keadaan yang tidak baik? Bisakah kita berkata: apapun yang terjadi, Dia adalah Tuhan dan kita adalah hambaNya, kita harus melayani Dia? Kalau kita tidak bisa mengatakan hal itu, masih bisakah kita berkata bahwa kita sudah mengenal siapakah Yesus?

Yohanes Pembaptis meragukan Tuhan Yesus karena dia kecewa, tetapi dia tidak meninggalkan Tuhan. Kecewa dan meninggalkan Tuhan adalah 2 hal yang berbeda, kecewa masih bisa diterima tetapi kalau meninggalkan Tuhan adalah merupakan hal yang sangat mendukakan hati Tuhan. Apa yang membuat Yohanes Pembaptis kecewa?

Mari kita melihat Lukas 3:7-9, khususnya ayat 9, Yohanes Pembaptis berkata: Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api. Hal inilah yang merupakan suatu penantian dari Yohanes Pembaptis dan orang-orang pada zaman itu, juga termasuk nabi-nabi sebelum Yohanes, yaitu kapankah orang yang seharusnya dihukum mendapatkan hukumannya. Di kesempatan yang lain, Yohanes juga mengatakan bahwa Tuhan akan mengumpulkan gandumNya dan membuang ilalangnya ke dalam dapur api yang menyala-nyala. Hal ini dilatar belakangi sejak zaman PL: setelah orang Israel mengalami pembuangan, Tuhan akan memulihkan keadaan mereka seperti pada zaman Daud, seperti pada awal pemerintahan Salomo. Yang dialami oleh orang Israel pasca pembuangan adalah keadaan tetap sama baik secara ekonomi, moral, rohani bahkan masih sangat jauh dibandingkan dengan zaman Salomo. Mereka sangat berharap akan kedatangan Mesias yang akan memulihkan/ mengubah keadaan Israel dan dunia.

Ketika melihat pekerjaan Yesus, Yohanes Pembaptis menjadi ragu, betulkah seorang Juruselamat dunia hanya bergerak dari kota kecil yang satu ke kota kecil yang lain, orang yang disembuhkan oleh Yesus tidak memberikan dampak apa-apa, orang yang diajar oleh Yesus juga tidak selalu mengikut Yesus, murid Yesus bukan termasuk orang yang mudah mengerti. Menurut pikiran Yohanes Pembaptis, kalau Yesus adalah Juruselamat dunia, seharusnya Dia bergerak di Yerusalem (kota besar yang merupakan ibukota) atau di Roma. Kita harus belajar dari Yohanes. Kita percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia, kita adalah garam dan terang dunia, tetapi seberapa jauh kita peduli dengan dunia? Ataukah kita sebetulnya hanya peduli dengan diri kita sendiri? Kita tahu akan hal-hal yang berskala luas tetapi ujung-ujungnya dalam pemikiran dan hidup kita adalah hal-hal yang sempit, sebagai contoh: kita berdoa meminta dokter-dokter yang baik bagi dunia ini supaya kalau kita sendiri ke dokter kita tidak ditipu oleh dokter. Ini adalah suatu ketidak konsistenan kita. Dalam hal ini, Yohanes lebih konsisten daripada kita, dia tidak puas kalau Yesus yang Juruselamat dunia hanya menyembuhkan orang kampung. Yesus menjawab Yohanes melalui murid-muridnya: Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Jawaban ini sepertinya belum menjawab pertanyaan Yohanes. Yohanes sudah tahu semua pekerjaan Yesus itu. Jawaban ini  diformulasikan oleh Tuhan Yesus untuk membuat Yohanes mengerti bahwa Yesus adalah Mesias, Juruselamat dunia. Mengapa bisa demikian?

Ada bagian-bagian dalam PL yang menubuatkan tentang Mesias dan apa saja yang akan dilakukan oleh Mesias. Mari kita melihat Yesaya 35:5-6 yang diberi judul: Keselamatan bagi umat Tuhan. Disana dikatakan: Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai. Kita juga akan melihat Yesaya 61:1 yang diberi judul: Kabar selamat kepada Sion, tertulis: Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara. Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi yang hafal ayat-ayat diatas, jadi ketika dia mendengar jawaban Tuhan Yesus diatas dia akan langsung tahu bahwa Yesus adalah Mesias.

Iman Kristen percaya bahwa Yesus adalah Mesias bukan karena Dia sudah melakukan banyak mujizat tetapi karena sudah dituliskan sekian ratus tahun sebelumnya/ dinubuatkan bahwa Mesias akan datang dan melakukan hal-hal diatas. Ketika Yesus datang ke dunia ini, Dia melakukan semuanya itu. Yesus adalah Mesias karena Dia sudah menggenapkan nubuat yang dinyatakan sekian ratus tahun sebelumnya. Tetapi mengapa Yesus tidak menggenapi semua nubuat termasuk nubuat bahwa Mesias akan menegakkan keadilan, menghakimi orang fasik, menghukum semua orang yang berdosa? Ada 1 kebenaran yang dalam PL belum dibukakan secara jelas, tidak ada nabi yang mengerti akan hal ini secara jelas sebelum Yesus menyatakannya kepada kita, yaitu bagaimana Mesias itu telah datang dan Mesias itu masih harus datang lagi. Apakah perlunya Mesias harus datang lagi, bukankah lebih baik dengan sekali datang langsung membenahi dunia ini? Kita harus bersyukur kalau Mesias datang dan kemudian harus datang lagi, karena kalau Mesias hanya datang sekali dan langsung menghukum orang berdosa/ memisahkan gandum dan ilalang maka yang ada hanyalah ilalang dan semua orang termasuk Yohanes Pembaptis akan mendapatkan hukuman, karena tidak ada seorangpun yang benar sebelum Kristus memberitakan Kabar Baik dan naik ke atas kayu salib untuk menebus umatNya, mengkhususkan umatNya, membentuk gandum-gandum. 

Pada saat mengabarkan Injil, khususnya kepada orang Islam, kita bertanya kepada mereka: berapa kalikah Adam berbuat dosa sebelum diusir dari Taman Firdaus? Adam berdosa hanya 1 kali dan dia harus pergi dari Taman Firdaus. Siapakah dari kita yang memenuhi kualifikasi berbuat dosa kurang dari 1 kali? Tidak ada, bahkan Yohanes Pembaptis pun tidak. Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena rencana Tuhan lebih besar daripada rencana Yohanes Pembaptis atau daripada rencana Hamba-hamba Tuhan di PL.

Kalau kita menyadari bahwa Yesus adalah Mesias yang sudah datang dan yang akan datang untuk kedua kalinya, kita sebagai orang Kristen seharusnya tidak mudah kecewa. Pada saat Dia datang lagi, semuanya akan dikembalikan kepada tatanan yang seharusnya. Sebelum Dia datang lagi, dunia ini masih dunia berdosa, sehingga orang Kristen pun masih mengalami kesulitan/penyakit/bom/segala kemalangan. Kalau dunia belum dipulihkan bukan berarti Yesus bukanlah Mesias. Yesus adalah Mesias yang telah datang, hasilnya adalah kita semua yang semula adalah orang berdosa yang jahat boleh beroleh anugerah keselamatan dari Tuhan sehingga kita bisa dikuduskan oleh Tuhan.

Jadi sehubungan dengan hal ini ada beberapa hal praktis yang perlu kita perhatikan yaitu:

1. Kita perlu secara seimbang memperhatikan hal-hal yang bersifat global dengan hal-hal yang kecil. Yesus tidak lupa tujuan kedatangannya ke dunia ini, tetapi Dia juga tahu akan bagaimana hal-hal yang bersifat global/luas tidak bisa dipisahkan dari hal-hal yang sepertinya remeh/ sepele/ sepertinya membuang-buang waktu. Ketika kita memperhatikan hal-hal yang kecil, kita cenderung lupa akan visi yang lebih besar, sebaliknya ketika kita punya visi yang besar, kita cenderung tidak punya waktu untuk hal-hal yang kecil. Hal-hal yang kelihatannya kecil, pada waktunya nanti akan menjadi sesuatu yang besar. Seandainya Yesus tidak mau memperhatikan hal-hal yang kecil seperti: murid-muridNya yang sulit mengerti, pelayanan di Galilea, maka kekristenan tidak akan menjadi tersebar ke seluruh pelosok dunia seperti sekarang ini karena tidak ada murid-murid Tuhan yang menyebarkan Injil. Kita pun harus mengerjakan hal-hal kecil dengan setia, seperti: mengajar jemaat, mengabarkan Injil. Pada waktu Tuhan nantinya, Tuhan akan memberikan buah.

2. Janganlah menjadi orang yang mudah kecewa karena selama Tuhan Yesus belum datang untuk kedua kalinya, kekecewaan itu akan selalu ada. Kita harus dapat mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan dalam keadaan apapun. Kiranya kita boleh beroleh kekuatan untuk melayani Dia dan menjadi berkat bagi banyak orang. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)