|
Ringkasan Khotbah : 12 Juli 2009
Nats: Matius 22:41-46 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Matius 22 merupakan segmen terakhir dimana Tuhan Yesus mulai masuk ke Yerusalem, merupakan titik terakhir dimana Dia sedang menuju via dolorosa. Di bagian terakhir ini Dia mulai berbicara keras tentang siapa yang berbagian dalam Kerajaan Surga dan siapa yang tidak. Pemberitaan yang makin tajam dan makin keras ini juga mendapatkan reaksi yang sangat keras. Matius 22:15 menceritakan bagaimana sengitnya orang Farisi terhadap Tuhan Yesus setelah mereka mendapatkan “sindiran” dari Tuhan Yesus dalam perumpamaan tentang perjamuan kawin. Tuhan Yesus berkata bahwa orang yang tidak mau bertobat, yang seolah-olah berbagian dalam Kerajaan Surga, yang merasa berhak untuk menentukan, justru tidak akan berbagian dalam Kerajaan Surga melainkan akan binasa. Orang Farisi marah lalu membentuk suatu persekongkolan untuk menantang Tuhan Yesus melalui dialog. Mereka pertama-tama mengajukan kelompok Herodian yang mempertanyakan masalah pajak, dan jawaban Tuhan Yesus bukan sekedar membuat mereka bungkam melainkan juga dipakai oleh Tuhan Yesus untuk mengembalikan pada prinsip yang benar tentang siapa yang berbagian dalam Kerajaan Surga, yaitu orang yang tahu bahwa semua yang menjadi miliknya termasuk dirinya adalah milik Tuhan dan harus dikembalikan kepada Tuhan. Yang kedua, mereka mengajukan orang Saduki yang mempertanyakan tentang surga yang bagi mereka sangat tidak masuk akal. Mereka menerapkan ilustrasi duniawi kepada surga, maka Tuhan Yesus menjawab: Kamu sesat! Sesat berarti binasa. Disini ditegaskan lagi bahwa ajaran yang tidak benar beresiko kebinasaan. Orang dapat masuk surga jika mengerti kebenaran Tuhan dan percaya kepada kebenaran Tuhan. Jika orang tidak mau kembali kepada prinsip yang utama maka akan mengalami kebinasaan. Tuhan Yesus menjawab bahwa kebangkitan itu ada; Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub adalah Allah orang hidup, bukan Allah orang mati; hal ini menegaskan kembali tentang konsep kebangkitan yang disangkal oleh orang Saduki.
Setelah 2 kelompok diatas tidak mampu menghadapi Tuhan Yesus, maka orang Farisi akhirnya bertindak sendiri. Mereka mengajukan orang yang hebat yaitu seorang ahli Taurat, sekaligus seorang ahli hukum. Orang tersebut mempertanyakan: apakah yang menjadi hukum yang terutama dalam hukum Taurat. Tuhan Yesus memakai pertanyaan ini untuk mengunci mereka dan sekaligus memberikan penjelasan yang paling tepat yaitu: barangsiapa berbagian dalam Kerajaan Surga adalah orang yang mengerti hukum yang pertama dan yang terutama yaitu mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi akan bisa mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Hukum emas dalam prinsip Alkitab: apa yang engkau inginkan orang lain lakukan kepadamu, maka lakukanlah hal itu kepada orang lain. Hukum ini merupakan etika tertinggi Kerajaan Surga yang dicantumkan dalam Matius 7:12. Ajaran ini jauh melampaui semua ajaran yang lain, seperti ajaran Konfusionisme yang mengajarkan: jangan melakukan hal yang engkau tidak suka orang lain melakukannya padamu. Tuhan Yesus mengajarkan sesuatu yang terbalik dengan itu sekaligus bersifat positif. Kalau engkau ingin orang lain mencintai engkau, maka cintailah orang lain terlebih dahulu. Orang Farisi menjadi bungkam dengan jawaban tersebut.
Dalam dialog terakhir, Tuhan Yesus yang mengajukan pertanyaan kepada orang Farisi karena merekalah otak dari semua dialog sebelumnya, mereka juga menganggap diri paling mengerti theologi tetapi yang akhirnya menjadi orang yang paling tidak mengerti theologi, mereka menganggap diri paling mengerti tentang iman tetapi akhirnya menjadi orang yang paling tidak mengerti tentang iman, mereka bertanya kepada Tuhan Yesus bukan untuk mengerti tentang kebenaran melainkan hanya untuk menjatuhkan Tuhan Yesus. Setelah mendapatkan jawaban dari Tuhan Yesus, mereka bukanlah bertobat dan mau taat kepada Tuhan Yesus, mereka justru meninggalkan Tuhan Yesus. Hal ini menunjukkan rusaknya manusia berdosa yang tidak mau dikoreksi oleh kebenaran. Juga menjadi peringatan bagi setiap kita, yang katanya mau datang ke kebaktian, mau belajar, mau mengerti, tetapi hanya mau yang cocok dengan diri, seharusnya adalah ketika dikoreksi oleh Firman Tuhan kemudian mengambil komitmen untuk berbalik kepada Tuhan dan menjalankan yang Tuhan inginkan. Realita yang ada adalah ketika dikoreksi oleh Firman Tuhan, orang menjadi pergi meninggalkan.
Pertanyaan Tuhan Yesus kepada orang Farisi ini juga bertujuan untuk menguji dan membukakan kembali kepada mereka tentang alasan yang utama dari semua aspek ini. Tuhan hendak membawa setiap kita kepada suatu prinsip yang penting yang berkali-kali dikatakan oleh Pdt. Stephen Tong yaitu: orang Kristen mengerti slogan “Orang Kristen Menjawab Tantangan Zaman” yang akhirnya dipersingkat dengan “Tuhan Yesus adalah jawaban”, hal ini seperti orang yang buka warung dan terus menunggu pembelinya; prinsip yang seharusnya adalah orang Kristen bukan bertugas menjawab tantangan zaman melainkan harus menantang zaman. Kita juga harus mencontoh Tuhan Yesus dengan tidak asal
menjawab orang lain, sampai batas tertentu kita harus ganti melemparkan pertanyaan kepada orang lain.
Orang lain juga mempunyai tugas pertanggung jawaban dengan memberikan jawaban. Di tengah-tengah dunia ini, seolah-olah hanya orang Kristen yang mempunyai tanggung jawab yang berat dimana harus hidup benar dan memberikan jawaban yang benar, seharusnya tidaklah demikian, orang duniapun mempunyai tanggung jawab yang sama. Tidak boleh ada standar ganda dalam pertanggung jawaban hidup dan pengertian. Tuhan Yesus mengajukan pertanyaan untuk mengajarkan tentang kesamaan tuntutan pertanggung jawaban kepada orang percaya dan kepada orang yang tidak percaya. Orang yang percaya kepada Tuhan merasa sulit, tetapi orang yang tidak percaya kepada Tuhan akan lebih sulit lagi.
Ada beberapa hal penting dari pertanyaan Tuhan Yesus yaitu:
1. Tuhan Yesus bertanya tentang hal yang paling esensial bukan hal sekunder seperti yang ditanyakan oleh orang Herodian, orang Saduki maupun orang Farisi.
Tuhan Yesus bertanya: Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia? Orang Farisi dengan tanpa berpikir panjang langsung menjawab: Anak Daud. Hal tersebut sudah tertancap dalam pikiran mereka karena isu tentang Mesias sudah ada dalam kalangan orang Yahudi. Orang Yahudi menjadi penganut Yudaisme, ketakutan kalau tidak bisa punya anak, hidup ketat menurut aturan, menegakkan ahli Taurat, karena mereka berpikir tentang 1 hal yaitu Mesias, mereka terus menunggu Mesias. Mereka sangat menguasai konsep mesianik, tetapi konsep yang sama dengan Mazmur 110 yaitu bahwa Mesias itu akan menjadi raja, semua musuh akan menjadi tumpuan kakinya, dia sangat berkuasa. Mazmur 110 disebut sebagai Mazmur Mesianik. Matius 22:44 merupakan kutipan dari Mazmur 110:1. Orang Yahudi sangat takut menyebut nama Tuhan, mereka menuliskannya YHWH (disebut: tetra gramaton) dan membacanya Adonai (artinya: tuan). Dalam 2 ayat diatas tertuliskan: Tuhan berfirman kepada Tuanku; dalam bahasa Inggris: Lord ... to Lord; dalam bahasa Yunani: Kurios (artinya: tuan) berfirman kepada Kurios. Orang Yahudi berpikir bahwa Mesias adalah manusia keturunan Daud yang akan membebaskan mereka dari penjajah. Dari 2 ayat diatas terlihat bahwa Mesias adalah Tuhan. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Sebenarnya dalam PL sudah tersirat bahwa Mesias adalah keturunan Daud dan adalah Tuhan; dalam Mazmur 110:4 Tuhan sudah memberitahukan bahwa Mesias akan berstatus imam untuk selama-lamanya menurut Melkisedek. Melkisedek adalah 1 figur PL yang diangkat sebagai tipologi dari Tuhan Yesus. Melkisedek memiliki 2 posisi yang sengaja dibaurkan dalam Alkitab, yaitu di satu pihak disebut Raja Salem yang berarti Raja Damai yang berkuasa di Yerusalem, yang berarti seorang manusia, di lain pihak diberi atribut: tidak berawal dan tidak berakhir, yang berarti bukan manusia, yang merupakan wakil Allah. Hal ini dapat terlihat pada saat Abraham bertemu dengan Melkisedek, Abraham tersungkur menyembah dia dan memberikan perpuluhan. Orang Yahudi ketika diajak melihat Mazmur 110 seharusnya menjadi sadar bahwa Mesias adalah anak Daud dan juga adalah Tuhan.
Tuhan Yesus bermaksud mengajak orang Israel, khususnya orang Farisi, kembali kepada isu yang utama. Beriman berarti kembali kepada objek iman yang sesungguhnya. Agama seharusnya berpusat pada Allah. Kalau kita percaya kepada Allah maka kita harus terlebih dahulu percaya kepada objek Allah yang benar, karena kalau objek kepercayaan kita salah maka kita akan mati, karena kita harus menyerahkan seluruh hidup kita pada objek yang kita percayai. Orang dunia berkata bahwa mereka percaya Tuhan, itu adalah kebohongan karena mereka sebenarnya tidak percaya kepada Tuhan. Orang Farisi berkata bahwa mereka percaya Tuhan, itu adalah kebohongan karena mereka tidak tahu siapakah Mesias itu. Sebenarnya, yang dipercayai oleh orang adalah diri sendiri. Orang Yahudi tahu tentang Mesias tetapi ketika Mesias itu muncul di depan mata mereka, mereka justru membuangnya. Manusia bukan tahu beragama tetapi justru mempermainkan agama.
Tuhan Yesus hendak menyadarkan orang-orang untuk sadar dengan apa yang lagi mereka kerjakan. Kalau manusia mau jujur, isu utama dari semua manusia adalah hidup. Selama hidup manusia aman-aman saja, manusia merasa nyaman, tetapi ketika hidup mulai sakit dan terganggu, manusia mulai bermasalah dan panik. Kita seringkali mengurus banyak hal tetapi lolos pada isu yang utama yaitu menggarap hidup kita. Ketika kita belajar Firman Tuhan, kita harus kembali kepada prinsip utama yang benar. Iman Kristen bukan dimulai dengan berbicara hal praktis, tetapi dimulai dengan mengenal Allah. Calvin berkata: orang mau hidup bijaksana, pertama-tama dia harus mengenal Allah. Dengan mengenal Allah, orang akan menjadi bijaksana, lalu dapat mengenal diri, dan setelah itu baru dapat melihat semua aspek lain di alam ini dengan tepat. Orang yang tidak mengenal Tuhan akan menjadi sombong dan tidak tahu diri. Orang Farisi ketika diajak untuk mengerti isu yang utama yaitu hidup, menjadi terpental.
Di tengah-tengah dunia inilah hal yang paling menakutkan, semua orang suka akan hal praktis, tetapi tidak mau mengerti tentang Kristus yang adalah Mesias. Ketika semua sibuk dengan hal praktis, Tuhan Yesus mengajak kembali kepada isu utama: apakah esensi iman itu. Banyak orang yang sangat takut dibawa kepada esensi imannya karena disitulah dia akan dikorek. Apa yang terjadi pada orang Farisi, yang tidak bertobat tetapi justru membunuh Tuhan Yesus, bisa terjadi juga pada hari ini. Orang akan senang dikoreksi jika sudah hancur hati. Orang tidak suka ketika berhadapan dengan kebenaran karena akan dikoreksi oleh kebenaran. Orang yang berani terima omelan, berarti berani menghancurkan harga diri, akan semakin bertumbuh. Tuhan suka dengan orang yang hancur hati, yang sadar bahwa dirinya tidak ada apa-apanya. Adalah bahaya bagi orang yang tahu kebenaran tetapi tidak rendah hati. Bagaimana kita bisa rendah hati? Kita harus terima hardikan dan omelan. Reaksi terhadap hardikan akan menentukan seberapa rendah hatinya kita. Orang yang paling sombong akan paling sakit hati ketika dihardik. Ketika kita tahu bahwa kita tidak tahu, kita akan tahu bahwa kita perlu untuk tahu. Orang Farisi ketika diajar oleh Tuhan Yesus seharusnya tahu bahwa mereka tidak tahu, dan mereka seharusnya bersimpuh dan berkata kepada Tuhan: Tuhan, ajarlah saya tentang esensi itu. Kalau seperti itu, berarti orang Farisi bertobat. Sayangnya, tidak demikian, orang berdosa sejak dahulu sampai sekarang sama keras hatinya dan sombong.
2. Point kedua yang hendak ditunjukkan oleh Tuhan Yesus adalah pertanyaan dariNya adalah menghidupkan, tidak seperti pertanyaan orang Farisi yang mematikan.
Orang Yahudi tahu bahwa Mesias memiliki 3 jabatan. Mesias (bahasa Aram) = Kristus (bahasa Yunani), yang berarti: yang diurapi. Yang diurapi, menyangkut 3 jabatan utama yaitu: raja, imam, nabi. Ketiga jabatan itu diurapi karena menyangkut mediasi, yang menjembatani antara Allah dan manusia. Raja adalah mediator dalam masalah umum antara Allah dengan manusia seperti: mencuri, membunuh,dll. Imam adalah mediator dalam masalah sosial antara Allah dengan manusia seperti: hidup masyarakat, hidup suami-istri, masalah berbuat dosa, dll. Nabi adalah mediator dalam masalah theologis antara Allah dengan manusia seperti: mengerti Firman/ kebenaran Tuhan, menjadi wakil Tuhan dalam berbicara Firman kepada manusia. Mesias sebagai yang diurapi, harus menyangkut 3 jabatan diatas. Mesias yang menyandang 3 jabatan itu adalah demi kehidupan masyarakat. Tugas Mesias adalah membawa kehidupan. Itulah yang Tuhan Yesus lakukan ketika Dia datang ke dunia ini, hadir di dunia ini, bukannya untuk membinasakan tetapi supaya orang yang berdosa, orang yang celaka, orang yang terpisah dari Tuhan, bisa direkonsiliasi/ diperdamaikan kembali dengan Allah.
Kalau orang Farisi mau rendah hati mengakui kebingungan dan ketidak tahuan mereka di hadapan Tuhan Yesus, maka mereka akan hidup, karena tujuan Mesias datang ke dunia adalah untuk menghidupkan. Tuhan Yesus bertanya supaya orang Farisi mengerti akan hidup yang seharusnya, bagaimana mereka bertemu dengan Sumber Kehidupan. Isu theologi kita sebetulnya mau apa, apakah sekedar mengurus urusan dunia, atau dipakai untuk memanipulasi orang demi kepentingan pribadi? Agama menjadi alat politik, alat sosial, dan alat marketing. Mimbar gereja pun seringkali dipakai untuk promosi/ berjualan. Di tengah-tengah manusia mempermainkan agama/ iman, Tuhan hadir membawa hidup. Kebenaran sejati akan membawa kita kembali kepada Tuhan. Iman sejati mengajak kita setia kepada Firman. Orang Farisi tidak bersedia belajar kembali kepada Firman, dalam hal ini adalah Mazmur 110, bahkan juga tidak akan bertanya lagi di kemudian hari. Sikap ini mematikan!
Seberapa jauh kita memiliki sikap mau dikoreksi, mau rendah hati mengerti kebenaran lalu membawa kebenaran itu ke dalam hidup, lalu kita menjadi berkat bagi orang lain? Ketika kita mau belajar, kita mau dibentuk, kita mau dipakai Tuhan, disitulah Tuhan akan memimpin hidup kita, hanya saja cukupkah kita rendah hati untuk mau dikoreksi, dihardik supaya bertobat dan kembali kepada Tuhan? Kalau kita mau dikoreksi, dihardik untuk balik kepada kebenaran, maka kita akan semakin tajam didalam mengerti kehidupan yang sejati. Pada waktu kita mengerti kehidupan yang sejati, kita akan melihat permainan dunia ini karena terjadi perbedaan yang tajam dengan kita, kalau tidak maka kita akan sama dengan dunia ini, dan kita akan menjadi korban. Kalau kita anak Tuhan yang sejati, maka kita tidak akan ikut dalam permainan dunia ini, tetapi justru kita menjadi berkat bagi dunia ini dengan mendayagunakan seluruh potensi untuk menghasilkan sesuatu yang dapat menolong/ menopang orang lain. Di tengah-tengah guliran putaran negatif, tugas orang Reformed harusnya memutar balik putaran ke arah positif. Ini panggilan yang sangat serius tetapi mau seperti ini harus balik kepada esensi yang utama terlebih dahulu, kalau kita tanggung-tanggung maka kita akan lewat.
Tuhan mengajar kita untuk tidak bersikap pragmatis, tidak hanya mengurus urusan yang ada di bawah, melainkan kembali kepada konsep/ theologi yang sejati/ pengertian iman yang sesungguhnya, maka Tuhan akan menyertai kita. Itulah kunci terpenting dalam hidup. Di tengah-tengah dunia yang mengalami perputaran menerus ke bawah menuju kebinasaan kita harus bisa memutar balik putaran ke atas menuju pertumbuhan. Mesias hadir di tengah dunia ini kontras dengan tindakan orang Farisi. Orang Farisi bertindak untuk menghancurkan orang lain demi kepentingan diri. Mesias datang untuk mengorbankan diri demi kepentingan orang lain. Berada di sebelah manakah kita? Mari kita mengevaluasi iman kekristenan kita. Tugas kita di tengah zaman yang sulit ini adalah menjadi berkat bagi orang lain, menghidupkan orang lain, membawa mereka ke dalam putaran balik yang positif. Ini bukan sekedar spiritual. Spiritual justru merupakan esensi yang utama. Tanpa spiritualitas yang benar, maka bagian yang di bawah juga tidak mungkin benar dan beres. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)