Ringkasan Khotbah : 28 Juni 2009

Eksposisi Lukas 7:36-50

Nats: Lukas 7:36-50

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Nas yang akan kita renungkan hari ini mengisahkan tentang Yesus diurapi oleh seorang perempuan berdosa. Kisah serupa juga dicatat dalam Markus 14:3-9 (paralel Yohanes 12:1-8), yang terjadi di Betania,  wilayah Yudea, pada akhir pelayanan Tuhan Yesus. Sedangkan kisah yang dicatat Lukas 7 terjadi di wilayah Galilea, kemungkinan di kota Nain (bdk. Lukas 7:37 dan ay. 11). Dalam kisah yang dicatat Markus, pengurapan itu disebutkan oleh Yesus sebagai persiapan penguburan-Nya, sedangkan yang dicatat Lukas merupakan ungkapan kasih dan pertobatan.

Dalam kisah ini Lukas sengaja mengontraskan antara orang Farisi dan perempuan berdosa ini. Simon, si Farisi, mengadakan jamuan makan untuk Yesus. Mungkin untuk mengungkapkan rasa hormatnya kepada Yesus, yang dipanggilnya dianggapnya seorang “nabi” (ay. 39) dan dise­but­nya “guru/rabi” (ay. 40). Walaupun sejauh mana ia menghormati Yesus masih tanda tanya besar? Tokoh kedua ialah seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa di kota itu. Ketika ia mendengar Yesus diundang makan di rumah orang Farisi tersebut, ia datang dengan membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sebagai perempuan yang memiliki masa lalu yang kelam, mungkin seorang pelacur atau pernah melakukan perzinahan atau dosa buruk lainnya, pasti kehadirannya di rumah seorang farisi yang menganggapnya sebagai kotoran yang menajiskan merupakan hal yang sangat tidak menyenangkan. Mungkin ia akan mendapati penghinaan, cemoohan dari orang-orang. Motivasi apa yang mendorong dia untuk datang? 

Perempuan itu datang bukan untuk meminta bantuan atau kesem­buhan melainkan untuk melakukan sesuatu kepada Tuhan Yesus. Banyak orang datang ke gereja untuk mendapatkan keuntungan, lalu gereja pun menyediakan apa yang menjadi permintaan “pasar”. Ini adalah sikap yang tidak tepat. Kita harus malu kalau datang ke gereja dengan motivasi yang salah. Bukankah seharusnya kita yang ingin beribadah kepada Tuhan berpikir untuk memberikan persembahan yang terbaik untuk Tuhan. Perempuan ini datang demi Yesus, untuk mempersembahkan minyak untuk meminyaki Yesus, untuk menghormati Yesus.

Perempuan itu sambil menangis berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya. Dia menangis karena menyesal atas dosanya. Dia tidak datang kepada Yesus dengan kebanggaan. Seringkali kita merasa diri kita cukup penting sehingga timbul kebanggaan diri. Perempuan itu datang dengan kerendahan hati, bergantung kepada Tuhan, seorang yang tahu bahwa hidupnya semata-mata bersandar kepada Tuhan. Dan sekarang ia datang dengan ucapan syukur dan rasa kasih yang dalam. Lalu dia membasahi kaki Yesus dengan air mata. Saya tidak pernah membaca dalam literatur mengenai membasahi kaki Yesus dengan air mata. Air matanya itu adalah tanda pertobatannya, dan dia menyekanya dengan rambutnya. Kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya.

Ketika ia melakukan hal ini, Simon dan orang-orang lain yang ada di sana tidak senang karena perempuan itu adalah orang berdosa yang mendatangkan kenajisan dan merusak suasana. Mereka melihat Yesus tidak mengusir perempuan itu tetapi justru membiarkan perempuan itu melayani Dia. Maka sikap negatif mereka yang mulanya tertuju pada perempuan itu sekarang dialihkan kepada Yesus. Ia berpikir dalam hatinya: Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamahNya ini. Inilah asumsi Simon: (1) Seorang nabi memiliki pengetahuan supernatural tanpa perlu diberi tahu orang lain mengenai seseorang atau sesuatu; (2) seorang nabi tidak boleh dijamah oleh seorang perempuan berdosa. Semua asumsi ini dikoreksi oleh Yesus (Lukas 7:40-43), Yesus menunjukkan bahwa Ia tahu siapa perempuan ini dan apa yang ada dalam pikiran Simon. Tetapi Ia tidak setuju bahwa perempuan ini adalah kotoran yang menajiskan dan perbuatannya pada Yesus juga bukan gangguan melainkan hal yang sangat Ia perkenan. Maka Yesus memberikan pembelaan dan pujian kepada perempuan itu.

Tuhan  Yesus  memakai  perumpamaan  untuk  menegur  Simon  (Lukas 7:41-43): “Ada dua orang yang berhutang, yang seorang berhutang 500 dinar, yang lain 50 dinar. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka si pemberi hutang menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” Simon berkata, “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Yesus membenarkan jawabannya lalu mengaplikasikan kebenaran itu dalam kasus perempuan itu. Perempuan ini lebih banyak berbuat kasih karena dia telah mendapatkan pengampunan. Orang  yang tidak berbuat kasih adalah orang yang tidak mendapat pengampunan. Ada korelasi antara kebaikan, kebajikan, kasih dengan pengampunan yang diterima seseorang. Perempuan ini telah menunjukkan suatu penghormatan, suatu ungkapan kasih yang lebih besar daripada apa yang telah dilakukan oleh Simon.

Lukas 7:44-47. Sambil berpaling kepada perempuan itu, Yesus berkata kepada Simon (ay. 44a). Yesus berkata kepada Simon untuk mengoreksi dia tetapi memandang perempuan itu dengan penuh kehangatan dan memuji dia karena sudah melakukan pelayanan kasih yang sangat Yesus perkenan. Lalu Yesus berkata kepada Simon: Engkau lihat perempuan ini? (ay. 44b). Tentu saja Simon melihat perempuan ini. Tetapi di sini Yesus mau Simon melihat dalam arti lain. Yesus mau cara melihatnya dikoreksi. Tuhan Yesus dan Simon sama-sama melihat perempuan itu dan tindakannya tetapi cara melihat mereka berbeda. Wawasan, perspektif, moral Simon dalam melihat perempuan itu sangatlah dangkal, jelek dan salah. Simon melihat perempuan itu dari theologi dan sikap hati yang salah sehingga tidak bisa melihat sesuatu yang indah. Maka Tuhan Yesus mengkoreksi wawasan rohaninya. Orang Kristen harus memperbaiki wawasan rohaninya agar tidak melihat segala sesuatu secara salah. Ketika menghadapi kesulitan hidup, menganggap Tuhan sedang tinggalkan, padahal Tuhan sedang membimbing supaya menjadi baik, seperti terjadi pada Ayub. Ketika segala sesuatu lancar, menganggap Tuhan sedang memberkati, padahal Tuhan sedang membiarkan dia karena terus dalam ketidaktaatan.

Ada 3 hal yang Tuhan Yesus soroti dalam tindakan perempuan itu:

1.        Tuhan Yesus berkata: Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kakiKu, tetapi perempuan ini membasahi kakiKu dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Tuhan Yesus adalah pengkhotbah keliling yang berjalan kaki dari kota yang satu ke kota lain, sangat mungkin kakinya kotor oleh debu dan tanah. Adalah suatu tindakan pelayanan yang indah untuk menyediakan air untuk membasuh kaki. Simon sudah melakukan sesuatu hal yang baik dengan mengundang Yesus ke perjamuan makan di rumahnya, tetapi perempuan itu sudah memberikan sesuatu yang jauh lebih mahal yaitu air matanya untuk Tuhan. Dan Tuhan lebih berkenan kepada hati-Nya yang bertobat lebih daripada jamuan makan Simon. Alkitab mengatakan: Tuhan tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban bakaran tetapi Dia berkenan kepada hati yang hancur. Hati yang disentuh/ dijamah dalam suatu pertobatan, penyesalan, kerendahan hati, kesungguhan hati datang kepada Tuhan, itulah yang menjadi syarat untuk datang kepada Tuhan. Seorang hamba Tuhan mengatakan: Tuhan mendirikan kerajaanNya bukan dengan intan, emas dan permata, tetapi dengan hati-hati manusia yang hancur. Ketika ada hati yang diubahkan oleh Tuhan, yang memiliki penyesalan, pertobatan secara total, maka akan ada masa depan bagi gereja. Agama, pengabdian, pelayanan Simon berada pada standar umum / basa-basi semata, tetapi perempuan itu membawa suatu ibadah, hati yang dipersembahkan kepada Tuhan.

2.        Tuhan Yesus berkata: Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kakiKu. Mencium adalah salam yang memberikan sambutan yang hangat. Simon tidak melakukan hal ini padahal merupakan kebudayaan pada waktu itu, bahkan Simon dipenuhi dengan kecurigaan terhadap Tuhan Yesus. Tetapi perempuan itu mencium kaki Tuhan Yesus berkali-kali, bukan untuk formalitas. Kepada siapa kita mencium berulang-ulang adalah kepada anak, pasangan hidup kita, sebagai tanda sayang, kehangatan jiwa. Perempuan itu sangat mencintai Yesus, sangat meninggikan Yesus. Adakah hati yang seperti itu kepada Yesus pada diri kita? Pada waktu kita memuji Tuhan, ungkapkanlah perasaan kasih kita yang hangat pada Dia, biarkan ruangan menjadi bergetar berhiaskan gelombang-gelombang nada penuh cinta dari hati yang bersyukur dan memuji Tuhan. Jangan sampai kita menyanyi bagi Tuhan dengan hambar, tanpa jiwa, tanpa kasih, tanpa penghormatan. Persembahan demikian sangat menghina Tuhan dan tidak Ia perkenan. Biarlah kita yang sudah mempunyai doktrin yang benar juga dapat mengekspresikannya dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat dalam hidup kita, mempersembahkannya bagi Tuhan.

Dalam sebuah wawancara oleh Washington Post, Michael Horton ditanya, “Apa ancaman terbesar bagi kekristenan ortodoks atau biblika pada zaman sekarang?” Ia menjawab,  bahaya terbesar itu  adalah kedangkalan. Ini jauh lebih buruk daripada bidat. Hal ini sangat mengagetkan saya. Bidat sangat membahayakan iman Kristen. Tetapi setidaknya bidat memperlakukan Injil secara serius untuk mereka tolak atau mereka selewengkan dan bidat sering membuat gereja berpikir lebih dalam mengenai apa yang gereja percayai dan mengapa gereja mempercayai. Tetapi kedangkalan akan mematikan iman Kristen, karena membuat orang tidak dingin tidak panas atau suam-suam, sehingga akan Tuhan muntahkan. Semua aktivitas agama hanya sekedarnya dan tidak beresensi, Tuhan hanyalah basa-basi, Yesus tidak bertakhta dalam hati, dalam keluarga. Mendengarkan khotbah hanyalah untuk pemuasan intelektual, tetapi tidak ada hati untuk benar-benar beribadah, dan mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan. Perempuan itu memiliki semangat, jiwa yang berkobar, dia mencium kaki Yesus dengan tiada henti. Hati perempuan ini penuh dengan cinta kasih. Orang seperti ini, memiliki tanda bahwa hidupnya telah dijamah oleh anugerah Tuhan.

3.        Tuhan Yesus berkata: engkau tidak meminyaki kepalaKu dengan minyak tetapi dia meminyaki kakiKu dengan minyak wangi. Orang yang mencintai dan menghormati Tuhan akan mempersembahkan sesuatu yang layak bagi Tuhan, dia akan memikirkan untuk memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Simon belum memiliki pengenalan dan kasih kepada Tuhan Yesus, agamanya hanyalah basa-basi. Perempuan itu mengenal Yesus sebagai nabi, sebagai mesias yang akan menghapuskan dosany. Perempuan itu percaya, beriman kepada Tuhan Yesus, sedang­kan Simon justru mempertanyakan Tuhan. Simon mengundang Yesus mungkin untuk mencari kehormatan bagi dirinya sendiri, rumahnya bisa memiliki nilai historis yang tinggi karena pernah didatangi oleh seorang nabi besar. Perempuan itu datang bukan untuk mencari kepentingan diri, tapi datang dengan meresikokan dirinya. Itulah orang yang mencintai Tuhan. Orang yang mencintai Tuhan tidak menyalahkan Tuhan ketika menghadapi tantangan, kesulitan, penyakit, bahkan kematian, tetapi akan berpikir bagaimana memuliakan Tuhan. Orang yang mengasihi Tuhan akan memikirkan tentang kerajaan Allah, kemuliaan Allah, bagaimana memperkenan Tuhan. Marilah kita belajar dari perempuan ini. Ia melakukan yang diperkenan Tuhan. Ia telah banyak berbuat kasih, karena ia telah diampuni. Kita yang telah menerima anugerah pengampunan, apa apa ada kasih yang menyala-nyala.

Ada seorang berkata: yang saya iri dari orang Kristen adalah mereka mempunyai seseorang yang mengampuni sedangkan saya tidak. Orang Kristen adalah orang yang paling diberkati. Pdt. Stephen Tong pernah bertanya kepada orang Yahudi: mengapa orang Yahudi banyak yang menjadi konduktor tingkat dunia tetapi tidak ada yang menjadi komponis terbaik? Dia tidak bisa menjawab, lalu Pdt. Stephen Tong mengatakan, karena orang Kristen memiliki pengalaman anugerah keselamatan. Di dalam Yesus Kristus ada pengalaman penebusan dari Anak Allah yang begitu riil dan luar biasa, yang menghasilkan luapan hati, kerohanian, lagu-lagu yang luar biasa agung. Pengalaman anugerah Tuhan akan menghasilkan suatu kuasa, sesuatu yang indah di dalam hidup Kristen. Adalah suatu kecelakaan jika doktrin Reformed yang solid menghasilkan hidup-hidup yang tidak berkenan kepada Tuhan. Doktrin Reformed jika salah dimengerti akan menghasilkan hidup yang paling malas dan egois. Pada waktu semua usaha manusia gagal, anugerah Tuhan diberikan kepada kita. Anugerah Tuhan tersebut seharusnya menghasilkan suatu kesalehan hidup yang melampaui kesalehan dan kebaikan yang dilakukan oleh manusia berdosa. Tuhan Yesus berkata: jika kesalehan kamu tidak dapat melebihi orang Farisi dan ahli Taurat maka kamu tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Tuntutan Tuhan Yesus sangatlah tinggi, dan itu tidak dapat dihasilkan oleh usaha, semedi, jasa, segala jerih payah rohani kita.

Suatu kecelakaan bagi suatu rumah tangga kalau suami/ istri berkata kepada pasangannya bahwa dia sudah melakukan kewajibannya dan janganlah pasangannya menuntut apa-apa lagi dari dia. Demikian juga relasi kita dengan Allah, kita tidak bisa mengatakan kepada Allah: saya sudah melakukan pelayanan, sudah beribadah di gereja, berarti sudah selesai. Yang dituntut adalah kasih! Biarlah kita memiliki api yang berkobar seperti pada perempuan ini supaya Tuhan boleh bekerja melalui diri kita, biarlah kita boleh mempersembahkan hidup kita bagi Tuhan. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)