Ringkasan Khotbah : 21 Juni 2009

Kerajaan Allah dan Kebenaran

Nats: Matius 22:23-33

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Latar belakang dari nats Alkitab kita hari ini adalah diskusi-diskusi yang timbul ketika Tuhan Yesus harus berhadapan dengan begitu banyak pihak akibat dari Dia semakin tajam, semakin keras dan semakin tegas memilah antara orang yang benar, yang berbagian di Kerajaan Surga dan yang tidak. Mulai Matius 21 penegasan-penegasan sudah semakin keras, pada Matius 22:1-14 melalui perumpamaan perjamuan kawin Tuhan Yesus semakin menegaskan pemilahan antara kehendak pilihan manusia, dimana orang-orang yang merasa cukup baik, cukup punya posisi sehingga merasa punya hak untuk menentukan langkah mereka, punya hak bahkan untuk melawan Tuhan, menolak undangan/ panggilan dari Sang Raja, maka Sang Raja menyatakan bahwa itu bukanlah hak kebebasan manusia, melainkan itu merupakan pernyataan ketidak layakan mereka untuk hadir di dalam perjamuan, disini berarti Tuhan menyatakan kedaulatanNya. Lalu akhirnya, orang-orang yang tidak punya apa-apa, yang tidak layak, diundang untuk hadir. Ketika mereka hadir, justru orang-orang itu hadir dengan sembrono, mereka tidak baik-baik mempertanggung jawabkan anugerah yang sudah mereka terima, maka kembali Sang Raja menuntut keadilan dan kedaulatanNya dinyatakan, orang yang bermain-main dan berespon sembarangan terhadap anugerah Tuhan dibuang ke neraka. Pada saat manusia merasa punya hak bebas untuk memilih, dia akan membentur kedaulatan Allah.

Ketika perumpamaan diatas diberikan, orang-orang Farisi langsung sadar bahwa perumpamaan itu ditujukan kepada mereka, mereka sedang “disindir” tentang posisi mereka di tengah-tengah zaman, mereka merasa merupakan orang-orang religius/ rohani, merasa punya hak, tetapi mereka tidak punya bagian di Kerajaan Surga. Maka pada Matius 22:15 dinyatakan bahwa: kemudian pergilah mereka, mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka mengatur format jebakan dengan sangat teliti, ada 3 format dengan melalui kelompok-kelompok yang paling penting dalam kalangan orang Yahudi. Dalam Matius 22:16-22 Tuhan Yesus diperhadapkan dengan kelompok politik yang besar yaitu kaum Herodian (kaum pengikut Herodes). Kaum Herodian menjebak Tuhan Yesus dengan isu politik, yaitu mengenai urusan pajak: apakah orang Yahudi harus membayar pajak kepada kaisar? Nats Alkitab kita hari ini akan menceritakan bagaimana Tuhan Yesus berhadapan dengan partai yang ke-2 yaitu orang Saduki (kelompok agama yang cukup besar pada saat itu yang bersaing keras dengan orang-orang Farisi). Matius 22:34-40 menceritakan bagaimana Tuhan Yesus berhadapan dengan orang Farisi sendiri.

Pada diskusi dalam nats Alkitab kita hari ini, isu yang dilontarkan adalah isu theologis. Sebelum pembahasan lebih lanjut, ada baiknya kita mengenal siapakah orang Saduki itu karena hal ini sangat berkaitan dengan isu dalam dialog ini. Partai orang Saduki muncul sebelum zaman Tuhan Yesus yaitu kira-kira 250 tahun SM. Itulah yang disebut sebagai masa inter-testament yaitu masa setelah selesai Kitab Maleakhi dan sebelum Injil Matius, masa tenggang antara PL dan PB, kira-kira 400 tahun lamanya. Masa ini adalah masa yang sangat sulit bagi orang Israel yang sedang dijajah mulai dari dijajah oleh Makedonia dengan raja Aleksander Agung kemudian dijajah oleh Romawi. Pada zaman itu, partai yang pertama kali muncul adalah orang-orang Farisi yang merupakan partai agama, mereka sangat fanatik dengan Yudaisme, mereka mati-matian menyusun aturan-aturan ketata-agamaan mereka dan mereka sangat keras didalam penerapan peraturan tersebut, siapa yang melanggarnya akan dihukum bahkan sampai hukuman mati. Ketika tekanan penjajahan mulai masuk, kesulitan yang dihadapi orang Israel adalah penolakan dari orang Romawi akan semua pemahaman theologis mereka yang mengatakan bahwa Allah Yehovah adalah Tuhan. Orang Romawi dengan keras dan tegas menyatakan bahwa tidak boleh ada tuhan siapapun kecuali kaisar. Yang tidak mau mengakui kaisar sebagai tuhan akan dianggap sebagai pemberontak. Muncullah ketegangan dalam diri orang Israel yang tidak mau mengakui kaisar sebagai tuhan tetapi mereka berada didalam penjajahan orang Romawi. Maka muncullah peperangan, peperangan yang keras muncul dari keluarga Hasmonian dan keluarga Makabeus. Salah satu anggota keluarga Makabeus yang paling terkenal cukup menyulitkan orang Romawi adalah Yudas Makabeus. Dari pertempuran-pertempuran yang sengit itu berdampak: orang Israel mendapatkan otonomi khusus untuk tidak menyebut kaisar sebagai tuhan, orang Israel diberi hak untuk menyebut Yehovah sebagai Tuhan. 

Peperangan Yudas Makabeus menyebabkan juga pecahnya kelompok orang Farisi menjadi 2 karena pada saat sengitnya pertempuran orang Farisi tidak mau ikut campur; karena merasa sebagai orang rohani maka mereka tidak mau ikut berperang dan hanya berjuang secara rohani. Sebagian orang Israel menganggap orang Farisi berkhianat. Muncullah kelompok yang baru yaitu kelompok orang Saduki. Orang Saduki adalah orang yang sangat mementingkan bagaimana agama harus lebih memperhatikan urusan duniawi. Orang Saduki merasa kalau mereka punya theologi yang baik maka mereka harus ikut dalam semua perjuangan termasuk perjuangan politik, ekonomi, dan semua bidang lainnya. Inilah yang dikenal sebagai mandat budaya dalam theologi Reformed, yaitu bagaimana orang Kristen mencermati seluruh budaya.  Hanya saja, hal ini akan menjadi masalah jika mandat budaya tidak dijalankan dengan format yang tepat.

Orang Saduki memiliki 2 theologi utama yaitu: pendapat tentang tidak adanya kebangkitan dan mereka tidak percaya adanya segala macam roh. Intinya adalah: bagaimana mereka menolak seluruh aspek sesudah kematian dan semua urusan yang berbau spiritual/ rohaniah. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Ketika mereka pertama kali membentuk kelompok Saduki, mereka mengikuti seorang imam besar yang bernama imam Zadok. Kata “Zadok” berasal dari kata Ibrani “Tsadik/ Tsedek” yang berarti kebenaran. Mereka merasa bahwa merekalah yang paling benar, yang lebih komprehensif, yang lebih mendarat, yang lebih sungguh-sungguh menjadi Yudais. Jadi istilah “saduki” berarti: kami adalah kebenaran. 

Orang Farisi sangat menekankan kesalehan, bagaimana mereka berelasi dengan Tuhan, bagaimana mereka puasa, berdoa, dsb. Orang Saduki tidak setuju dengan format ini. Orang Saduki mengatakan: jangan hanya berdoa dan berpuasa, negara kita sedang dijepit, dihancurkan, banyak rakyat yang mati, tetapi kamu tidak peduli. Iman sejati, menurut mereka, bukan hanya di awang-awang melainkan bagaimana kita hidup riil. Ini adalah kalimat penting yaitu bagaimana iman sejati berada di posisi riil. Ketika kita sudah mulai menyeret iman masuk ke dalam implikasi iman, maka akhirnya implikasi imanlah yang menjadi iman. Ini bahaya paling besar! Seluruh agama sekarang ini berkata: mari kita berhenti dengan urusan masuk surga atau tidak, yang penting adalah kita sekarang bertindak menolong orang. Ajaran inilah yang disebut dengan ajaran liberal. Semua ajaran liberal tidak pernah mau mengurus tentang kebangkitan.

Ada 2 orang sejarawan Romawi yang sangat peduli dengan iman orang Israel, yang bernama Josephus dan Philo, yang sangat teliti dalam mencatat sejarah mulai zaman pra Tuhan Yesus. 2 orang ini memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi kita saat ini tentang apa yang terjadi pada zaman sebelum Masehi pada bangsa Israel sampai 1 abad sesudah Masehi. Dalam catatan mereka, ketika orang Saduki mulai peduli dengan semua urusan duniawi, mereka tanpa sadar mulai bergandeng tangan dengan kaum Epikurian.

Di dalam filsafat Yunani kuno ada 3 arus pemikiran besar yaitu:

1.        Stoicisme dari golongan Stoa.

2.        Epikurianisme dari seorang bernama Epikurus.

3.        Skeptisime.

Kelompok Stoicisme dan Skeptisime menjadi kelompok dengan pengikut yang sedikit, sedangkan kelompok Epikurianisme memiliki pengikut terbesar dan menjadi gerakan mayoritas di zaman Hellenistik (filsafat Yunani-Romawi, karena pada saat itu Romawi menguasai Yunani). Kaum Stoa adalah orang yang percaya pada dualisme alam semesta, adanya pertentangan antara jiwa/roh dengan materi/ daging, maka semua yang bersifat roh adalah semua yang baik, suci, mulia, sedangkan semua yang bersifat daging adalah semua yang kotor, nafsu, bejat, rusak. Kalau mau hidup semakin baik, suci maka harus menghancurkan badan supaya daging hancur dan roh menjadi jaya. Akhirnya pemikiran ini muncul dalam format yang disebut: Summa-Shema theory (teori tentang bagaimana jiwa dipenjara oleh daging/ teori penjara jiwa), artinya: jiwa dibelenggu oleh semua unsur material. Kalau kita bisa menghancurkan semua unsur material dan mencapai jiwa, kita telah mencapai Gnostik/ pencerahan. Pikiran inilah yang dipakai oleh orang New Age pada zaman ini. Ada banyak cara untuk dapat meninggalkan materi sampai mencapai jiwa, ada banyak cara dari yang paling halus sampai yang paling kasar, yaitu mulai dari menarak diri, selibat/ tidak boleh menikah, siksa daging dengan pukul badan, pakai alat menoreh tubuh. Kelompok Stoa sangat eksklusif dan merasa sangat saleh dan bijaksana. Tidak banyak yang suka untuk mengikuti kelompok ini.

Kelompok Skeptisime adalah kelompok yang capek dengan pluralisme zaman itu. Orang skeptis akan menjadi orang Agnostik, artinya mereka tidak percaya adanya pengetahuan. Mereka akan meragukan semua yang dikatakan benar, mereka merasa capek untuk mencari kebenaran, mereka tidak mau menerima segala macam opini. Skeptisime cukup banyak diikuti karena pada zaman itu aliran filsafat cukup banyak jumlahnya, mirip abad ke-21 ini. Banyak orang yang suka dengan arus Epikurianisme. Epikurianisme mengatakan: hidup itu realistis, nikmatilah hidup karena besok kamu akan mati. Artinya: tidak perlu berpikir jauh, tidak perlu tarak, nikmatilah hidup, nikmatilah seks, bersikaplah realistis dalam hidup ini sejauh itu bersifat positif dan memberikan kenyamanan. Epikurianisme dalam perjalanannya menjadi arus yang sangat liar yang kemudian dikenal dengan nama Hedonisme, dari kata “hedone” yang berarti mencari kenikmatan secara membabi buta. Ketika pertama kali Epikurianisme muncul, dianggap sebagai suatu filsafat yang indah karena dapat membuat hidup menjadi realistis: tidak perlu memikirkan tentang Tuhan, hidup setelah kematian, yang perlu diurus adalah bagaimana kita hidup hari ini. Pemaparan Epikurianisme sangat mirip dengan yang dipaparkan oleh orang Saduki. Hanya saja, orang Saduki masih percaya adanya Tuhan, maka mereka mereduksi PL dengan hanya mempercayai pentateukh (5 kitab Musa) saja. Tetapi semakin lama mereka semakin humanis dan materialis. 

Filsafat-filsafat dunia semuanya bersifat atheis. Pendidikan, hidup menekan kita menjadi orang yang sok theis tetapi intinya atheis. Seluruh hidup kita menjadi tidak ber-Tuhan. Inilah isu besar yang dilontarkan dalam pembahasan kita hari ini.

Isu kedua yang akan kita tajamkan adalah jawaban dari Tuhan Yesus yaitu: Kamu sesat, ... ! Ketika orang Saduki mulai mementingkan implikasi iman mereka bukannya mengimplikasikan iman mereka berdasarkan Taurat, mereka mengimplikasikan iman berdasarkan theologi mereka. Theologi mereka, mereka rumuskan, lama kelamaan theologi itu lepas dari Taurat lalu masuk ke dalam filsafat. Inilah kecelakaan besar. Taurat hanya menjadi tempelan dari theologi mereka. Semua orang yang mengatakan kalimat: jangan sibuk berdoa, berpikir tentang dosa, kelahiran baru, masuk surga, kita menjadi tidak mendarat, tidak memikirkan orang lain; dapat dipastikan bahwa mereka adalah orang yang tidak hormat kepada Tuhan, mereka menolak Firman, mereka tidak mengakui wahyu Tuhan yang paling mutlak dan menggantinya dengan filsafat. Karena itu kita harus kembali kepada Firman Tuhan dengan lebih teliti, dan menghargainya sebagai kebenaran satu-satunya. Theologi adalah sarana untuk kita betul-betul kembali kepada Firman. Theologi yang baik akan mengajak kita secara ketat dan akurat mempelajari seluruh bagian Firman. Theologi yang salah justru seolah-olah memakai Alkitab untuk bermain secara topik, memainkan bagian Firman Tuhan tertentu yang cocok dengan pikiran manusia, tetapi tidak menuntut untuk kita mengakui Firman Tuhan sebagai kebenaran mutlak secara komprehensif dan utuh. Kenapa dikatakan sesat? Ada 2 alasan dalam Matius 22:29 yaitu:

1.        sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci

2.        kamu tidak mengakui kuasa Allah. Kedaulatan Allah ditolak.

Orang Saduki memakai pendekatan humanis-materialis dalam pikiran mereka, mereka memakai kejadian di dunia yang dilemparkan ke surga. Inilah kesalahan dari semua agama, yaitu semua urusan dunia yang bersifat material diterapkan ke surga yang bersifat non-material, semua yang jasmani dijadikan landasan untuk menentukan semua yang rohani. Ketika orang mulai mengacaukan 2 realm yaitu: realm yang tidak bergerak, yang kekal dengan realm yang terus bergerak, yang sementara; terjadilah kerusakan theologi karena Allah harus ikut manusia. Hal yang sementara tidak bisa dicampurkan/ disamakan dengan hal yang kekal. Kalau engkau tidak bisa mengerti apa yang Allah katakan, maka engkau sudah salah mengerti akan apa yang dikatakan oleh Musa yaitu jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Perkataan Musa ini bukan masalah kawin mengawinkan melainkan berhubungan dengan keturunan mesianik. Orang Israel harus punya anak karena orang Israel ditetapkan sebagai pembawa keturunan mesias. Iblis mengerti betul akan hal ini, maka dalam sejarah berkali-kali iblis berusaha menghabisi keturunan Israel. Tetapi pemeliharaan Allah terus berjalan sehingga berbagai upaya iblis tidak berhasil. Ideologi theologis dari rencana Tuhan ini tidak ditangkap oleh orang Saduki. Yang dipikirkan adalah masalah kawin mengawinkan semata, semua ide theologis sudah digeser menjadi hal-hal yang bersifat duniawi semata. Surga menjadi duplikasi obsesi kita di dunia yang kita lemparkan ke sana. Tuhan Yesus menghantam Petrus dalam Matius 16 dengan perkataan yang begitu keras yaitu: Minggir setan! Engkau memikirkan yang bukan dipikirkan oleh Allah melainkan oleh manusia. Cara pikir kita yang tidak mau berpikir dari sudut pandang kebenaran Allah, tidak mau taat kepada Firman tetapi bermain dengan pikiran manusia, itu SESAT! Kesesatan manusia adalah karena dia berpikir salah dan doktrinnya salah.

Kesesatan membuat kita tidak berbagian didalam Allah yang sejati. Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub adalah Allah orang hidup! Kerajaan Surga adalah kerajaan dimana Allah memerintah, kerajaan yang diperuntukkan bagi orang hidup bukan orang mati. Isu ini membuat orang Saduki terjepit habis. Kalau mereka menolak kebangkitan, semua yang rohani, mereka harus menerima semua yang bersifat material, kalau mau konsisten seperti itu maka Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub berarti Allah orang mati. Kalau orang Saduki konsisten dengan konsep Allah yang bersifat materi maka berarti Allah mereka harus kelihatan. Karena mereka menolak hal yang rohani maka mereka tidak bisa bertemu dengan Tuhan Allah karena Allah ada di wilayah roh. Karena mereka menolak kebangkitan, ketika mereka mati mereka pun tidak bertemu dengan Tuhan Allah. Semua yang berkaitan dengan Allah, berkaitan dengan yang sudah mati dan bangkit. Tuhan Yesus dengan mengutip kitab Musa seperti halnya orang Saduki, menusuk balik orang Saduki: siapakah Allahmu yang sebenarnya? Menurut mereka, Allah haruslah riil, bisa jalan-jalan, yang sebenarnya adalah diri mereka sendiri. Mereka tidak dapat bertemu dengan Allah yang asli, mereka bertemu dengan Allah yang palsu yaitu Allah orang mati, berarti mereka pun mati. Jadi doktrin sangatlah berpengaruh pada keselamatan. Kalau kita sesat, maka kita akan mati. Jadi sesat bukanlah urusan sederhana.

Tuhan Yesus memberikan jawaban diatas bukanlah sekedar untuk menanggapi/menjawab balik melainkan juga untuk menarik orang Saduki dan seluruh pendengarnya untuk balik kepada esensi: siapa yang asli sebagai pemilik Kerajaan Surga, siapa yang asli berada dalam kebenaran Tuhan, siapa yang asli menjadi pengikut Allah yang benar, siapa yang asli menjadi anggota tubuh Kristus, siapa yang asli yang betul-betul diselamatkan dan mendapat hidup yang kekal yaitu dia yang betul-betul kembali kepada Allah, yang setia kepada Kitab Suci, dan yang betul-betul mengakui kedaulatan kuasa Allah. Orang Saduki tidak bisa menjawab tetapi mereka tidaklah bertobat karena pada akhirnya nanti mereka akan membunuh Tuhan Yesus. Hal ini berarti bahwa penjelasan Tuhan Yesus tidaklah menyelesaikan problema dosa mereka. Orang yang menerima anugerah akan mengerti penjelasan Tuhan Yesus diatas dan mengenal kebenaran. Orang yang mengerti anugerah seharusnya memiliki respon yang bisa dipertanggungjawabkan, karena salah berespon berarti celaka. Orang Saduki ketika dihantam dengan kebenaran Tuhan bukannya menerima tetapi langsung menolak dan pergi, dia bukan mau dikoreksi tetapi semakin sengit dan berakhir dengan menghantam Tuhan Yesus di kayu salib.

Seberapa jauh kita mau belajar setia kembali kepada Firman, masih melihat Tuhan mau beranugerah, dan betul-betul mau rendah hati dibongkar, dikoreksi oleh Firman. Jangan abaikan semua anugerah Tuhan. Mari kita belajar untuk berespon dengan benar terhadap anugerah Tuhan. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)