Ringkasan Khotbah : 14 Juni 2009

Otoritas Allah, Penghambaan Diri dan Respon yang Benar

Nats: Matius 22:15-22

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Cerita perumpamaan tentang perjamuan kawin sebenarnya merupakan sindiran terhadap orang-orang yang seharusnya berbagian dalam Kerajaan Surga tetapi mereka tidak mau dan menolaknya. Ini sebenarnya merupakan sindiran yang sangat tajam yang diberikan kepada kaum religius, yang dalam hal ini adalah orang Farisi. Orang Farisi sadar kalau sindiran tersebut diarahkan kepada mereka, mereka menjadi sengit lalu pergi berunding untuk menjerat Tuhan Yesus dengan pertanyaan. Matius 22:15 merupakan ayat penjembatan antara ayat sebelumnya dengan Matius 22:16. Aktor utama dari nats Alkitab kita hari ini adalah orang-orang Herodian dengan orang Farisi sebagai otaknya. Dalam Matius 22:23-33 Tuhan Yesus harus berhadapan dengan orang-orang Saduki, sedangkan dalam Matius 22:34-40 Tuhan Yesus berhadapan dengan orang-orang Farisi; dalam Matius 22:41-46 Tuhan Yesus melakukan penyerangan balik yang membuat orang-orang Farisi menjadi bungkam. Di sini kita melihat bagaimana Tuhan Yesus berhadapan dengan 3 kelompok terbesar dalam lingkungan orang-orang Yahudi saat itu.

Tuhan Yesus harus menghadapi tantangan yang begitu berat setelah Dia menyatakan tentang bagaimana hidup berbagian dalam Kerajaan Surga. Orang Yahudi mempersiapkan serangan balik mereka dengan baik-baik dan mereka sudah menetapkan suatu kondisi yang pasti dapat menjebloskan Tuhan Yesus. Orang-orang Herodian dipakai oleh orang-orang Farisi untuk menjalankan apa yang mereka inginkan. Mereka sudah menetapkan suatu format yang mana membutuhkan orang-orang Herodian untuk menjadi tameng mereka. Dalam sejarah kita belajar bahwa orang Farisi, orang Herodian dan orang Saduki adalah 3 partai yang sangat berbeda dan tidak akur satu sama lain. Orang Farisi sangat mementingkan religiositas dan sangat ingin pemerintahan yang bersifat theokrasi (kembali kepada konsep PL dimana raja bersifat theokrasi murni). Orang Herodian adalah penganut Herodes dan sangat sekuler, suka bermain secara politik, menjadi pelaku politik praktis. Orang Farisi menuduh orang Herodian sebagai orang yang sangat sekuler yang tidak mau peduli dengan agama, sebaliknya orang Herodian menuduh orang Farisi sebagai orang yang fanatik yang hanya memikirkan Tuhan dan tidak mau memikirkan tentang politik. Tetapi pada saat mereka menghadapi Tuhan Yesus sebagai musuh bersama, mereka bisa akur, bisa berkompromi dengan segala macam keberbedaan mereka. Hal ini merupakan sesuatu yang unik yang menunjukkan betapa liciknya mereka, mereka memainkan suatu skenario dengan mempermainkan diri mereka sendiri, dan yang lebih unik lagi adalah ketika mereka mengatur jebakan mereka, mereka mengunci semua aspeknya. Sebelum mereka melontarkan pertanyaan kepada Tuhan Yesus mereka mem-blok dengan pre-suposisi awal, mereka mengunci Tuhan Yesus supaya Tuhan Yesus tidak bisa lari dari apa yang sudah mereka atur. 

Belum apa-apa mereka sudah mengawali dengan kalimat: Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Hal ini disampaikan supaya Tuhan Yesus bersikap jujur, bersih, tidak main-main, tidak memlintir dalam mengajar jalan Allah, bersikap berani dan tidak mencari muka. Dari hal ini kita belajar melihat permainan orang dunia. Ketika orang dunia mengeluarkan pernyataan maupun pertanyaan, kita harus bersikap waspada akan apa yang ada di belakang itu semua: jujurkah, bereskah atau merupakan jebakankah, bersifat tendensiuskah, licikkah. Banyak orang memberikan pernyataan yang bersifat basa basi, dan memberikan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban tetapi hanya mau mencari konfirmasi, hanya mau menjebak supaya kita terjebak dan masuk ke dalam permainan mereka. Mari kita belajar kepada Tuhan Yesus.

Mendengar pernyataan diatas, Tuhan Yesus tidak membantah yang berarti Dia setuju dengan pernyataan itu. Dia memang jujur, jujur mengajar jalan Allah, tidak takut kepada siapapun dan tidak mencari muka. Inilah karakter Kristus yang sesungguhnya. Format yang dijalankan oleh orang Herodian dan orang Farisi ini tidak hanya terjadi 2000 tahun yang lalu tetapi bahkan sampai sekarang ini. Marilah kita belajar untuk memiliki kepekaan seperti Tuhan Yesus yang tidak mudah dijebak, yang tidak mau masuk kedalam permainan dunia dan tepat berdiri di tempat yang benar yaitu di pihak Tuhan. Tuhan Yesus tidak ikut menjadi licik di tengah dunia yang licik. Inilah citra yang sesungguhnya dari orang Kristen yang sejati.

Ketika orang-orang itu memberikan pertanyaan, kelihatan sekali kalau pertanyaan itu tidak tulus dan benar-benar mau belajar. Mereka adalah murid-murid yang seharusnya mau belajar, seharusnya pertanyaan mereka adalah untuk semakin mengerti kebenaran, tetapi ternyata pertanyaan tidak selalu untuk mengerti kebenaran. Inilah orang yang katanya bersifat religius, yang dekat Tuhan tetapi fakta hidupnya jauh sekali dari Tuhan karena seluruh hidupnya tidak mau menjadi pecinta kebenaran. Mereka hanya suka kalau jawaban Tuhan Yesus sesuai dengan apa yang mereka inginkan, mereka menetapkan suatu skenario/ pola dan mereka ingin Tuhan Yesus menjawab sesuai keinginan mereka itu. Itulah sebab-

nya maka ketika jawaban yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan keinginan mereka, pergilah mereka dan mereka sama sekali tidak berubah. Pada abad ini pun banyak orang yang bertanya tapi tidak bertujuan untuk menjadi murid yang siap untuk belajar, yang mau dididik untuk kembali kepada kebenaran.

Hal-hal yang diungkapkan diatas menunjukkan betapa rusaknya manusia, termasuk orang-orang yang katanya orang religius, orang rohani, orang beriman. Mereka secara format sepertinya bersifat rohani tetapi secara realita mereka adalah palsu. Ketika Firman Tuhan diajarkan, kita tidak pernah mau belajar dengan sungguh-sungguh, tidak mau dibentuk dengan sungguh-sungguh, akhirnya kita lari karena kita hanya suka apa yang kita suka.

Jawaban Tuhan Yesus juga mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya seorang Kristen melihat suatu isu. Banyak orang memakai perikop ini untuk menjelaskan masalah politik, bagaimana orang Kristen berelasi dengan negara, dan bagaimana orang Kristen berelasi dengan Allah. Mulai sejak zaman Augustinus, ayat-ayat ini sudah dipakai untuk menjelaskan bagaimana kita menjadi warga Kerajaan Surga dan sekaligus juga warganegara dunia, bagaimana kita melihat perbedaan antara orang yang hidup mengikut Tuhan dan yang hidup mengikut dunia. Theologi Reformed pun memakai ayat ini untuk menjelaskan hal-hal diatas.

Pada hari ini saya akan mengajak kita melihat isu yang sesungguhnya dari nats Alkitab kita hari ini, yang bukan isu politik melainkan isu jebakan. Tujuan terakhir dari orang Farisi dalam cerita ini adalah Tuhan Yesus ditangkap atau dianiaya, atau dibunuh. Ketika Tuhan Yesus tidak memberikan sanggahan terhadap pernyataan pertama mereka, mereka menganggap Tuhan Yesus sudah masuk kedalam perangkap mereka. Mereka kemudian membawa Tuhan Yesus masuk kedalam jebakan yang kedua dengan pertanyaan: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?

Kita perlu mempelajari konteks dari pertanyaan diatas. Di dalam konteks Romawi, ada banyak sekali jenis pajak, demikian juga dalam konteks Yahudi, bahkan ada pajak Bait Allah. Pajak kepada kaisar (bahasa Inggris: tribute) adalah merupakan upeti yang berarti sesuatu yang diberikan kepada kaisar sebagai tanda penyerahan diri. Inti dari upeti bukan terletak pada besaran nilai uangnya melainkan pada arti tunduk/takluk kepada kaisar. Kalau tidak membayar upeti berarti memberontak/ melawan/ subversi. Jadi isu dari pertanyaan diatas adalah: apakah kita harus takluk kepada pemerintahan Romawi? Orang Herodian adalah orang yang mengajak orang Yahudi untuk tidak perlu takluk kepada Romawi, tetapi mereka harus bayar pajak kepada Herodes sebagai raja mereka, mereka tidak harus bayar pajak kepada orang Romawi sebagai penjajah mereka. Jawaban atas pertanyaan diatas adalah sulit bagi Tuhan Yesus karena hanya menuntut jawaban ya atau tidak. Kalau dijawab: bayar, berarti anteknya Romawi, berarti musuh dengan orangnya Herodes yang berada di depan mata. Menurut teori mereka, seharusnya Tuhan Yesus menjawab: tidak bayar, karena mereka melihat Tuhan Yesus sangatlah nasionalis, berkali-kali Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia datang untuk orang Yahudi, Tuhan Yesus juga menolak memberikan pertolongan kepada perempuan kafir dengan berkata: Saya datang bukan untuk anjing-anjing melainkan untuk orang Yahudi. Seharusnya Tuhan Yesus menjawab: tidak perlu bayar, karena sejak awal sudah dikatakan bahwa Tuhan Yesus tidak takut kepada siapapun termasuk kepada kaisar Roma. Dengan dikunci oleh kalimat di awal tadi, Tuhan Yesus seharusnya sangat susah untuk mengatakan takut; dengan dikunci oleh situasi berada di depan orang Herodian, Tuhan Yesus juga sangat susah untuk berkata: harus bayar. Kalau Tuhan Yesus masuk ke dalam perangkap mereka, berarti Tuhan Yesus melawan kaisar dan bisa langsung ditangkap. Jebakan mereka sedemikian bagusnya, tidak ada lubang yang memungkinkan Tuhan Yesus melarikan diri/ menghindar.  

Isu yang diajukan memang tidak mudah karena menyangkut 2 otoritas besar yaitu otoritas Herodes dan kaisar Roma. Sebenarnya ada otoritas tersembunyi yang sedang bermain mengatur gerak Tuhan Yesus lalu mengarahkan Tuhan Yesus mengadu Herodes dan kaisar Roma, ada pemain lain yang sedang menyatakan otoritasnya dan pemain ini sedang berusaha untuk menguasai Tuhan Yesus lalu mengatur otorisasi terhadap geraknya Tuhan Yesus. Inilah kejahatan manusia yang ikut ke dalam permainan pertanyaan orang. Zaman sekarang ini orang trend mengikuti hipnotis, yang merupakan suatu kejahatan besar tetapi tetap dilegalisir, bisa disodorkan di tayangan umum. Orang yang dihipnotis berada dalam kuasa orang yang menghipnotis, dan seringkali hipnotis dipakai untuk melakukan kejahatan. Orang bisa dihipnotis karena masuk ke dalam permainan orang yang menghipnotis. Anak Tuhan yang sejati tidak bisa masuk ke dalam jebakan itu, Tuhan Yesus pun tidak masuk ke dalam jebakan orang Farisi.

Tuhan Yesus memberikan jawaban yang pertama: Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Injil Lukas menuliskan: orang-orang licik, jahat. Kalimat tersebut begitu tajam, yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus melihat segala hal dari sudut yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa iman Kristen adalah iman yang seharusnya melihat  tidak dari sudut permainan dunia. 

Isu yang muncul sebenarnya bukanlah masalah pajak melainkan masalah otoritas. Tuhan Yesus mengajak kita kembali kepada otoritas yang seharusnya yaitu Allah Bapa di Surga. Inilah kunci pertama untuk kita bisa lolos dari jebakan dunia, yaitu kita harus berpusat pada Allah. Kalau kita hidup takut akan Tuhan Allah maka kita tidak akan takut kepada manusia. Tuhan Yesus setuju dikatakan sebagai orang yang jujur, yang tidak takut kepada siapapun, tetapi caranya tidak seperti cara orang Herodian maupun orang Farisi melainkan dengan mengembalikan otoritas kepada Tuhan Allah karena segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia, bagi Dia kemuliaan selama-lamanya. Hidup harus kembali kepada otoritas Allah sebagai penguasa sejati dari semua aspek hidup.

Setelah kita masuk kedalam otoritas utama, kita tidak mengikuti aturan main dari si pendikte kita. Kalau kita memiliki cara berpikir yang sama dengan orang Farisi, orang Herodian yang bersifat humanis sekuler, maka kalau kita masuk ke dalam skenario mereka akan cocok dan bekerja dengan baik. Orang dapat dijebak karena memiliki cara berpikir yang sama dengan pihak yang menjebak. Ketika Tuhan Yesus memiliki cara berpikir yang lain dengan orang Farisi dan orang Herodian, maka jawaban Tuhan Yesus menjadi di luar skenario mereka. Begitu keluar dari skenario, mereka menjadi bungkam. Orang Kristen sangat sulit untuk kembali kepada Tuhan karena sejak SD kita sudah dididik secara atheis walaupun dididik di sekolah Kristen. Tidak ada dalam hidup kita memikirkan bahwa seluruh hidup kita adalah milik Tuhan dan harus dikembalikan kepada Tuhan. Maka pola pikir kita persis sama dengan orang dunia. Kalau kita kembali kepada Tuhan, kita akan bisa membaca semua skenario orang dunia yang munafik dan licik.

Orang selalu menjebak dengan pertanyaan yang menuntut jawaban ya atau tidak. Orang yang tidak mau dijebak akan menjawab: atau. Jawaban “atau” ini adalah jawaban kosong yang hanya merupakan suatu cetusan hati yang tidak mau dikunci dengan jawaban ya atau tidak. Tuhan Yesus selalu dijebak dengan pertanyaan yang menuntut jawaban ya atau tidak. Dalam cerita diatas, Tuhan Yesus menjawab: Gambar dan tulisan siapakah pada mata uang untuk pajak tersebut? Mata uang yang digunakan untuk membayar pajak kepada kaisar adalah mata uang dinar yang khusus yang bersifat nasional Romawi, tidak boleh mata uang Yahudi yang bersifat lokal. Mata uang khusus tersebut bertuliskan: tahun ... tanah Yudea takluk kepada Romawi. Itulah sebabnya orang Herodian tidak mau membayar pajak. Tetapi ketika Tuhan Yesus minta ditunjukkan mata uang tersebut, orang Herodian ternyata membawa mata uang tersebut. Hal ini sebenarnya sangat aneh, kalau mereka memang tidak mau membayar pajak mengapa mereka memiliki mata uang tersebut, berarti mereka sebenarnya juga membayar pajak kepada kaisar. Inilah kemunafikan mereka, sambil berteriak mengajak orang Yahudi untuk tidak membayar pajak, mereka sendiri tetap membayar pajak. Mereka takut kepada orang Romawi juga kepada raja Herodes. Kalau kita adalah anak Tuhan yang sejati, kita seharusnya takut akan Tuhan bukannya takut kepada setan kecuali kalau kita memang anak setan. Setan adalah malaikat yang jatuh. Malaikat adalah pelayan Tuhan dan manusia. Malaikat yang jatuh, posisinya berada di bawah, berarti kita seharusnya tidak perlu takut kepada setan. Alkitab berkali-kali mengatakan bahwa kalau kita dalam pimpinan Tuhan maka manusia tidak bisa melakukan apapun terhadap kita. Kalau kita adalah anak Tuhan yang sejati yang betul-betul takut akan Tuhan maka kita akan merasakan bahwa siapapun juga tidak akan ada yang bisa melawan/ mengganggu kita. Kalau kita tidak takut kepada siapapun berarti kita tidak dapat dipengaruhi. Tuhan Yesus menanyakan tentang gambar siapa yang ada di mata uang. Jawabnya adalah: gambar kaisar, berarti milik kaisar, maka Tuhan Yesus berkata: kembalikan milik kaisar kepada kaisar dan milik Tuhan kepada Tuhan. Hidup kita semua adalah milik Tuhan maka harus dikembalikan kepada Tuhan. Inilah kunci penting dalam iman Kristen.

Dalam Roma 11:36 Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia, bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Kalimat itu langsung disambung dengan: karena itu saudara-saudara, aku mendesak kamu, persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Kehidupan kekristenan adalah mengembalikan seluruh milik Allah kembali kepada Allah. Orang Kristen sejati/ warga Kerajaan Surga adalah bukan sekedar mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi dalam ayat ini lebih tajam lagi dikupas tentang siapakah anak Tuhan itu, yaitu orang yang mengembalikan semua milik Allah kepada Allah. Banyak orang Kristen hari ini yang diajar dengan sangat humanis, bahkan yang sangat saya khawatirkan adalah dalam hal perekrutan anggota jemaat gereja. Banyak gereja yang dengan gampang membaptis orang untuk mengejar kuantitas anggota jemaat gereja. GRII tidaklah demikian, calon anggota harus melewati percakapan pastoral, mengerti prinsip GRII, setelah itu baru dipertimbangkan berhak tidaknya seseorang menjadi anggota GRII. GRII tidak ingin anggotanya adalah anggota secara formalitas tetapi memiliki cara pikir yang duniawi. Gereja berasal dari bahasa Yunani “ekklesia” yang berarti jemaat, orang yang dipanggil keluar dari lumpur dosa/ ikatan setan, ditebus oleh Tuhan Yesus untuk menjalankan 1 misi yang khusus yang Tuhan kehendaki. Orang yang belum percaya harus ikut kedalam setting ibadah Kristen. Kalau gereja yang dicocokkan dengan yang bukan Kristen maka yang masuk ke dalam gereja adalah orang yang bukan Kristen. Orang yang bukan Kristen harus mendengar Injil dan bertobat baru masuk ke dalam gereja. Semua kita adalah orang berdosa. Tuhan ingin semua orang berdosa kembali kepada kebenaran. Tuhan ingin orang yang dibelenggu oleh dosa bisa lepas, ditarik keluar oleh Tuhan dengan kuasa kebangkitanNya. Kalau kita boleh bertobat, kembali kepada Tuhan, kembali kepada kebenaran, adalah anugerah yang sangat besar. Kiranya kita bisa menghargai semua anugerah Tuhan, menghargai semua kemungkinan yang memungkinkan kita mengenal kebenaran dan mata kita bisa terbuka akan kebenaran lalu kita belajar untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Biarlah kita bisa memproses seluruh hidup kita agar memperkenan hati Allah sehingga kita bisa menggenapkan: segala sesuatu adalah bagi Dia, oleh Dia, kepada Dia dan bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)