Ringkasan Khotbah : 07 Juni 2009

Paulus, Ucapan Syukur dan Doa Permohonan

Nats: Kolose 1:3-4, 9

Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo

 

Bagi orang Reformed, ketika berbicara tentang Paulus, yang diingat adalah berkaitan dengan seorang rasul yang mengajarkan tentang kedaulatan Allah, tentang pilihan Allah/ predestinasi, tentang kemuliaan Allah, tentang kebesaran Allah. Paulus adalah sumber utama dari doktrin kita. Jadi pada waktu kita berbicara mengenai doktrin kita akan ingat kepada Paulus. Tetapi pada waktu kita berbicara tentang doa, sangat jarang dikaitkan dengan Paulus. Dengan kata lain, Paulus adalah teladan kita dalam hal doktrin tetapi tidak dalam hal doa. Dalam hal doktrin, kita begitu ketat mengikut Paulus. Tetapi di sisi Paulus yang lain yaitu sebagai pendoa adalah asing bagi kita. Saya jarang sekali menemukan orang Reformed yang memiliki kehidupan doa yang sungguh-sungguh hidup. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena kita mengikuti perkataan Paulus yang berkenaan dengan doktrinnya. Paulus mengajarkan tentang Allah yang memilih, Allah yang menentukan, sehingga mengakibatkan kita tidak berdoa karena segala sesuatu sudah ditentukan oleh Allah. Adalah mengerikan sekali kalau mendengar orang Reformed mengatakan bahwa segala sesuatu sudah ditentukan dengan nada putus asa. Inilah yang menyebabkan banyak orang Reformed yang tidak berdoa, yang dekat dengan paham fatalis.

Paulus yang mengajarkan doktrin kedaulatan Tuhan adalah juga Paulus yang berdoa. Paulus yang percaya sekali bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah dan segala sesuatu direncanakan oleh Allah sebelum dunia diciptakan, Paulus yang sama juga berdoa. Dari 13 surat yang ditulis oleh Paulus dalam PB, hanya 2 surat dimana Paulus sama sekali tidak menyinggung tentang doa yaitu Surat Galatia dan Surat Titus. Selain 2 surat diatas, Paulus selalu mengajar tentang doa, atau menunjukkan kepada jemaat bagaimana dia berdoa untuk mereka. Seharusnya doktrin apapun yang benar akan membuat kita senantiasa berdoa, memahami Tuhan, berdekat kepada Tuhan, karena doktrin mengajak kita lebih mengenal Tuhan. Doktrin bukan sekedar untuk kita tahu rumusan-rumusan tertentu atau sekedar memiliki pengertian tertentu, tetapi doktrin adalah untuk mendekatkan kita kepada Tuhan, membuat kita mengenal Dia yang kita percaya. Adalah sulit dipercaya jika kita mengenal orang yang kita percaya tetapi kita semakin jauh dari orang itu.

Pada hari ini saya akan mengajak kita belajar meneladani kehidupan doa Paulus. Dari nats Alkitab kita hari ini, kita melihat adanya 2 aspek doa yang seharusnya ada dalam hidup kita setiap hari yaitu:

1. dalam doa Paulus kita menemukan seseorang yang selalu mengucap syukur kepada Tuhan (Kolose 1:3)

2. dalam kehidupan Paulus kita melihat bagaimana dia tahu bagaimana meminta kepada Tuhan dalam doa (Kolose 1:9)

Mengucap syukur berasal dari bahasa Yunani eukaris. Dalam PB, kata mengucap syukur ini sebagian besar dikaitkan dengan Allah. Mengucap syukur juga boleh diterjemahkan sebagai berterima kasih, berterima kasih kepada orang lain. Tetapi pemakaian untuk arti berterima kasih kepada sesama ini hanya dipakai 3 kali dalam PB, sebagian besar adalah ditujukan kepada Tuhan. Ucapan syukur kepada Allah ini sangatlah alamiah dan menjadi bagian dari kehidupan jemaat pada saat itu. Karena itu Paulus jarang sekali mengajar mengenai doa secara pengajaran melainkan secara sharing mengenai kehidupan doanya. Berbeda dengan kehidupan doa kita saat ini, kalau misalnya kita diminta menimbang porsi antara mengucap syukur dan meminta di dalam doa kita maka sebagian besar isi doa kita adalah meminta kepada Allah; kita juga akan merasa kesulitan untuk berdoa pengucapan syukur saja tanpa meminta walau hanya 5 menit saja.  

Mengapa Paulus dan jemaat mula-mula bisa sedemikian bersyukur kepada Tuhan dibandingkan dengan kita pada saat ini? Apakah karena hidup mereka lebih mudah dan lebih sederhana daripada kita? Jawabnya: tidaklah demikian. Kita semua mengetahui bahwa Paulus adalah seorang rasul yang penuh dengan pergumulan, kesulitan dan segala tantangan. Kalau demikian, mengapa dia bisa bersyukur? Saya melihat ada 2 hal penyebabnya yaitu:

1. dia mempunyai kebiasaan untuk mengkaitkan segala hal yang baik dengan Tuhan.

Pada waktu Paulus mendengar jemaat Kolose bertumbuh didalam imannya dan penuh dengan kasih, hatinya secara alamiah tahu kepada siapa dia harus berterima kasih atas hal ini. Tuhanlah yang membuat jemaat bisa bertumbuh secara iman dan memiliki kasih yang sedemikian. Ketika dia melihat hal yang baik, secara “otomatis” matanya memandang kepada Tuhan, hatinya begitu bersyukur kepada Tuhan. Hati yang selalu berterima kasih kepada Tuhan inilah yang memberikan kesanggupan kepada Paulus untuk selalu berterima kasih kepada Tuhan, dan hati yang seperti inilah yang seringkali tidak terdapat dalam diri setiap kita.

Kita sebagai orang tua tahu bahwa seorang anak tidak secara “otomatis” dapat berterima kasih kalau kita  tidak  membiasakan  dia  untuk  melakukan hal itu.  Hal  ini mengajar kita bahwa manusia sejak kecil

senang sekali kalau diberi sesuatu  tetapi selalu melupakan pemberinya. Ada  satu nasihat yang mengatakan: kalau kita berbuat baik kepada orang lain sebaiknya segera kita lupakan karena orang lain yang menerimanya juga akan langsung melupakan perbuatan baik kita. Kita terbiasa untuk tidak mengucap syukur/ berterima kasih kepada orang lain yang kelihatan apalagi kepada Tuhan yang tidak kelihatan.

Kita sejak kecil juga jarang mengkaitkan segala sesuatu dengan Tuhan. Contohnya: saat kita kecil kita diajar bahwa nasi berasal dari beras, beras berasal dari pak tani, pak tani berasal dari orang tuanya; kita jarang diajar untuk mengkaitkan pak tani dengan Tuhan. Di sini kita memerlukan pendisiplinan untuk dapat peka bahwa hal yang baik adalah berasal dari Tuhan. Yakobus mengatakan: segala hal yang baik adalah dari Tuhan datangnya, daripadaNya tidak ada perubahan dan pergeseran. Marilah kita belajar untuk peka bagaimana hal yang baik adalah berasal dari Tuhan dan melihat hal yang baik di tengah-tengah kesulitan yang kita alami.

Dalam kehidupan kita, sepertinya Tuhan hanya sangat terkait dengan kesulitan, sedangkan hal yang baik sangatlah sulit untuk dikaitkan dengan Tuhan, misalnya: seorang yang akan di PHK 3 bulan lagi, dia akan bertanya kepada Tuhan mengapa hal ini terjadi menimpa dia, bagaimana dengan kehidupan anak-anaknya, bagaimana dia dapat mencukupkan anak dan istrinya. Anehnya, sebelum PHK itu terjadi, dia masih punya pekerjaan, dia masih punya tempat tinggal, masih bisa makan, tetapi dia jarang bersyukur kepada Tuhan atas semua hal ini.

Orang yang bersyukur kepada Tuhan bukanlah orang yang tidak realistis terhadap kesulitan hidup ini, tetapi justru kita terlalu realistis dalam hal yang buruk tetapi tidak realistis dalam hal yang baik. Kalau pada hari ini kita masih bisa makan, anak kita masih bisa bersekolah, kita masih tidur di rumah bukan di pinggir jalan, itu adalah fakta! Mengapa kita tidak mensyukuri semuanya itu? Mari kita minta kepada Tuhan untuk memberikan kepada kita kepekaan akan hal ini. Marilah kita mohon kepada Tuhan memberikan kesanggupan kepada kita untuk menghitung semua berkat yang Tuhan berikan kepada kita, semua berkat itu juga nyata, mohon Tuhan memberikan kesanggupan kepada kita untuk mensyukuri semuanya itu. Tuhan layak menerima ucapan syukur kita atas semua hal yang baik yang kita alami.

2. dia terbiasa bersyukur setiap kali ada hal yang baik datang kepada orang lain.

Jemaat Kolose bukan didirikan oleh Paulus, melainkan oleh Epafras (murid Paulus). Tidak banyak jemaat yang didirikan oleh Paulus yang memiliki kualitas kerohanian yang begitu baik seperti jemaat Kolose. Jemaat yang didirikan Paulus memiliki cacat masing-masing tetapi jemaat yang didirikan oleh muridnya sangatlah baik. Paulus juga mengucap syukur kepada Tuhan atas hal yang baik yang terjadi bahkan pada jemaat yang bukan didirikan olehnya. Saul iri kepada Daud yang bisa membunuh musuh lebih banyak darinya, Saulus (nama mula-mula dari Paulus) tidaklah demikian. Kalau kita hidup seperti Saul, bagaimana kita bisa mengharapkan untuk dapat hidup mengucap syukur atas hal baik yang datang kepada orang lain. Ketika ada hal yang baik yang datang kepada orang lain, seberapa kita turut bersukacita, sementara kita sendiri membutuhkannya?

Paulus tidak hanya tahu bersyukur kepada Tuhan tetapi dia juga tahu bagaimana dia harus meminta/ memohon kepada Tuhan. Paulus yang bersungguh-sungguh dalam bersyukur kepada Tuhan adalah juga Paulus yang bersungguh-sungguh dalam meminta kepada Tuhan. Kalau kita mengamati orang karismatik yang berdoa dengan orang Reformed yang berdoa, kita akan langsung dapat melihat beda antara keduanya. Orang karismatik akan berdoa dengan nada “memaksa”, orang Reformed akan berdoa: Tuhan, kehendakMu yang jadi. Di balik kalimat dari orang Reformed tersebut diatas memiliki dasar pergumulan yang berbeda sekali dengan Tuhan Yesus yang mengatakan kalimat yang sama. Kita dengan gampang mengatakan: Tuhan, kehendakMu yang jadi; mengatakannya dengan tanpa pergumulan, bahkan kalau mau dipertajam lagi: kita mengatakannya karena kita tidak berharap Tuhan akan menjawab doa kita. Jadi kita mengatakan hal tersebut diatas pada dasarnya karena kita tidak percaya bahwa Tuhan akan menjawab doa kita. Antara orang karismatik dan orang Reformed berdoa, caranya memang berbeda tetapi dasarnya sama yaitu sama-sama tidak percaya.

Seringkali ketika kita berdoa kita tidak mengingat apa yang kita minta, kita tidak menantikan jawaban atas doa kita. Manakah sebenarnya yang lebih mudah: bersyukur dengan basa-basi ataukah meminta dengan basa-basi? Seorang yang mendapatkan sesuatu dari orang lain akan berkata terima kasih tetapi kemudian melupakannya, tetapi seorang anak yang minta coklat kepada ibunya tetapi tidak mendapatkan jawaban dari ibunya akan minta lagi dan minta lagi sampai ada jawabannya bukan malahan melupakan permintaannya tadi. Meminta dengan basa-basi adalah sulit untuk dibayangkan tetapi ironisnya kita sering meminta dengan basa-basi kepada Tuhan, kita minta sesuatu kepada Tuhan dengan tidak mengharapkan jawabannya, Tuhan boleh jawab juga boleh tidak jawab. Tuhan Yesus dan juga Paulus memiliki suatu kesungguhan pada waktu berdoa. Pada waktu Tuhan Yesus mengatakan kalimat: “Tuhan, kehendakMu yang jadi” di Taman Getzemani, Dia sampai mengeluarkan peluh yang begitu banyak, padahal hal itu dilakukanNya di malam hari dan di ruang terbuka yaitu di sebuah taman. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus betul-betul berkonsentrasi penuh, betul-betul bergumul didalam doa, betul-betul meminta didalam doa, betul-betul mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan dalam doa. Paulus ketika meminta kepada Tuhan supaya utusan iblis pergi dari dirinya, dia tidak hanya sekali meminta tetapi berkali-kali sampai Tuhan berkata: cukuplah kasih karuniaku kepadamu, di dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna. Barulah Paulus berhenti meminta. Bisakah orang karismatik yang berdoa dengan mengklaim Tuhan maupun orang Reformed yang berdoa “kehendakMu yang jadi” ketika doanya tidak dijawab Tuhan masih mau terus berdoa? Jawabnya adalah: tidak, karena pada dasarnya mereka tidak percaya. Paulus berdoa dengan percaya, bahkan ketika doanya tidak dijawab sekalipun dia akan tetap berdoa dengan percaya di lain waktu.

Mengapa di Taman Getzemani Tuhan Yesus bisa berdoa sedangkan para murid tidak berdoa melainkan tidur? 1 hari sebelum peristiwa di Taman Getzemani, para murid harus mempersiapkan perjamuan terakhir, harus mendengarkan pengajaran Tuhan Yesus, maka tidaklah heran kalau setelah melakukan itu semua mereka lalu tidur karena kelelahan. Seorang ibu yang anaknya sedang demam cukup tinggi akan sanggup untuk tidak tidur semalaman untuk mengamati kondisi anaknya, untuk memberikan obat kepada anaknya. Kesadaran bahwa hal ini adalah penting bagi anaknya inilah yang membuat dia sanggup tidak tidur semalaman. Tuhan Yesus pada waktu itu dapat berdoa sedangkan para murid tidur adalah karena Tuhan Yesus memiliki kesadaran akan pentingnya doa untuk menjalani hari esok yang akan cukup berat, Dia harus meminta kekuatan dan pertolongan dari Bapa di Surga. Tuhan menjawab doa Tuhan Yesus dengan mengirim malaikat untuk menguatkan Dia. Setelah itu, Yesus begitu tenang didalam menghadapi aniaya siksa, karena Dia sudah melewati momen bergumul bersama dengan Allah.

Orang karismatik seringkali meminta kepada Tuhan untuk memuaskan nafsu mereka, tetapi kita janganlah terjatuh ke ekstrim yang lain yaitu tidak mau meminta kepada Tuhan. Doa yang salah dan tidak berdoa adalah dua hal yang sama-sama salah di mata Tuhan. Doa yang memaksa Tuhan adalah salah, tetapi doa yang sebelumnya sudah tidak percaya kalau Tuhan akan menjawab adalah juga salah. Memaksa dan bertekun adalah 2 hal yang berbeda. Kita tidak boleh memaksa Tuhan, tetapi kita boleh menantikan/ berharap kepada Tuhan. Pada waktu doa kita tidak dijawab oleh Tuhan kita berdoa lagi dan lagi. Hal ini bukanlah doa yang bertele-tele. Pada waktu di Taman Getzemani, Tuhan Yesus berdoa sampai 3 kali dengan doa yang sama.

Saya sangat belajar banyak dari kehidupan doa George Muller. Beliau mempunyai panti asuhan dengan jumlah anak ratusan orang tanpa penyokong dana satupun, tetapi 1 hari pun tidak pernah anak-anak itu tidak makan. Seringkali beliau tidak tahu besok akan makan apa. Beliau hanya berdoa dan berdoa. Kehidupan doanya sangatlah baik. Suatu hari ketika hendak menyeberang pengemudi kapal tidak berani menyeberangkan karena terjadi badai, George Muller mengajak orang tersebut turun ke bawah untuk berdoa. Doa George Muller begitu sederhana yaitu: Tuhan, Engkau tahu hambaMu harus menyeberang untuk menjalankan tugas, Engkau tahu hambaMu tidak pernah tidak menepati janji, kiranya Tuhan meredakan badai. Ketika pengemudi kapal hendak berdoa, George Muller melarang dia dengan alasan: karena kamu tidak percaya bahwa Tuhan akan menjawab doamu, lagi pula badai sudah reda Ketika mereka berdua naik, ternyata badai memang sudah reda sehingga George Muller dapat menyeberang. Kita juga akan jengkel kalau anak kita meminta kepada kita dengan tidak percaya. Seringkali kita juga bertindak demikian kepada Tuhan, kita meminta dengan tidak percaya bahwa Tuhan akan menjawab doa kita, kita takut meminta kepada Tuhan. Seorang anak yang percaya kepada orang tuanya ketika permintaannya tidak dikabulkan masih akan meminta lagi untuk hal lain di lain waktu kepada orang tuanya. Seorang anak yang tidak percaya kepada orang tuanya ketika permintaannya tidak dikabulkan, di lain waktu dia tidak akan meminta lagi tetapi akan mencuri karena dia yakin orang tuanya tidak akan mengabulkan permintaannya karena jahat.

Paulus yang bersyukur ketika hal yang baik datang kepada orang lain, dia juga meminta untuk orang lain dengan kesungguhan dan intensitas yang sama dengan ketika dia meminta untuk dirinya sendiri. Bagi Paulus, saling mendoakan adalah hal yang sangat penting. Dalam surat-surat Paulus kita dapat melihat 2 hal yang dilakukan oleh Paulus ketika mendapatkan kabar tentang jemaatnya yaitu:

1.        dia akan menulis surat untuk memberikan pengajaran kepada mereka.

2.        dia akan berdoa untuk mereka.

Paulus yang adalah seorang rasul, tidak pernah merasa suratnya cukup untuk mempertumbuhkan jemaat, dia sadar bahwa kalau dia tidak berdoa untuk jemaat, kalau Tuhan tidak bekerja dalam hati mereka maka semuanya itu akan sia-sia. Paulus juga meminta orang lain untuk mendoakan dirinya. Di sinilah terlihat bahwa Paulus mementingkan perihal saling mendoakan. Akan ada suatu kekuatan ketika orang lain berdoa untuk kita.

Sebagai orang Reformed yang sudah dengan seketat mungkin mengikuti doktrin yang Paulus ajarkan, marilah kita juga belajar untuk mengikuti kehidupan doa Paulus dengan seketat mungkin. Minta kepada Tuhan untuk memberikan kepada kita kepekaan melihat hal yang baik, kelapangan hati agar bisa bersyukur ketika hal yang baik datang kepada orang lain, iman untuk berani berdoa tanpa harus memaksa, satu hati untuk kita bisa saling mendoakan satu dengan yang lain. Orang yang mendoakan orang lain, ketika melihat doanya dijawab atas orang lain tersebut akan bersukacita dan bersyukur. Semakin kita egois, tidak mendoakan orang lain, kita akan sulit bersukacita dan bersyukur. Kalau kita menjalankan kehidupan doa seperti Paulus maka kita akan mengalami pertumbuhan iman. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)