|
Ringkasan Khotbah : 31 Mei 2009
Nats: Matius 22:1-14 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Injil Matius tidak disusun secara kronologis/ waktu maupun topik melainkan diikat dalam satu tema utama yaitu Kerajaan Surga. Silsilah di dalam Injil Matius, berbeda dengan silsilah di dalam Injil Lukas, menekankan tentang kerajaan sehingga banyak nama raja yang dicantumkan. Sepanjang berita dari depan hendak menegakkan bahwa Yesus adalah raja, Dia menegakkan kerajaanNya, kerajaanNya bukanlah kerajaan dunia melainkan Kerajaan Surga, yaitu kerajaan yang bersuasana spiritual bukan yang duniawi, kerajaan yang bukan berlokal ( memiliki ruang dan waktu) tetapi kerajaan yang melampaui ruang dan waktu, kerajaan yang bersifat universal, kekal dan rohani. Kemudian kita melihat bagaimana kerajaan itu didirikan, kerajaan itu menetapkan diri, menyatakan hukum-hukumnya, menunjukkan teladan/ contoh yang dilakukan Sang Raja, keterlibatan manusia. Sampai pada pasal 20 tentang respon yang harus diberikan oleh siapa saja yang menyebut diri sebagai warga Kerajaan Surga, siapa saja yang ditarik oleh Sang Raja untuk masuk ke dalam kerajaanNya. Di momen-momen akhir ini (pasal 22-24) Kristus semakin tajam membahas tentang Kerajaan Surga, makin tajam Dia memilah antara yang asli dengan yang palsu, makin tajam Dia menunjukkan siapa yang akan ke surga dan siapa yang tidak. Momen-momen seperti ini bukan sekedar untuk kita belajar tetapi kita dituntut untuk mengintrospeksi diri lalu kita sekali lagi diminta oleh Tuhan untuk melakukan komitmen: apa respon saya? Mulai pasal 20 disebutkan bahwa Tuhan Yesus sedang menuju via dolorosa, meninggalkan Nazaret dan menuju Yerusalem. Pasal 21 memperlihatkan Tuhan Yesus beberapa kali mulai masuk Yerusalem tetapi tidak tinggal di sana, setiap masuk Yerusalem Dia mengajar di Bait Allah. Nats Alkitab kita hari ini adalah salah satu bagian ketika Dia sedang mengajar.
Perumpamaan dalam nats Alkitab kita hari ini sangat tajam membahas tentang Kerajaan Surga yang diumpamakan dengan sang raja yang akan mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya. Untuk itu dia mengundang orang-orang yang memang dia ingin undang. Tetapi ketika 2 kali undangan itu disampaikan, ternyata rakyatnya tidak mau datang pada undangan yang pertama dan tidak mengacuhkan pada undangan yang kedua. Sang raja menjadi marah dan menyatakan bahwa mereka memang tidak layak, lalu dia mengundang siapa saja yang ada di jalan. Siapa saja boleh masuk sehingga perjamuan menjadi penuh. Tetapi di tengah-tengah perjamuan sang raja menemukan seorang yang datang tidak dengan berpakaian pesta. Raja itu bertanya kepada orang tersebut: mengapa engkau datang ke dalam pesta dengan tidak berpakaian pesta? Orang tersebut tidak menjawab. Raja itu murka dan menyuruh pegawainya untuk mengikat kaki dan tangan orang tersebut lalu membuangnya ke tempat kegelapan yang paling gelap dimana ada ratapan dan kertak gigi. Apakah yang menjadi penekanan dalam cerita diatas? Secara sepintas, cerita ini adalah tentang perjamuan. Beberapa tafsiran memang mengarahkan untuk melihat kepada perjamuan. Perjamuan memang merupakan tema yang penting, tidak hanya disebutkan di ayat ini tetapi di seluruh PL sampai PB banyak terdapat kata “perjamuan”. Perjamuan adalah suatu perayaan dengan begitu banyak aspek didalamnya. Saya cenderung tidak menyoroti perjamuan itu sendiri, tetapi justru arah pembahasan dari perjamuan itu, karena kalau kita terlalu jauh membahas tentang perjamuannya akan keluar dari yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus. Inti dari cerita ini adalah tentang respon terhadap anugerah. Saya melihat beberapa penafsir yang menekankan tentang perjamuan justru menjadi “lari” dari penekanan ayat ini yang sesungguhnya.
Ide tentang perjamuan seringkali salah dimengerti menjadi suatu perayaan besar (celebration). Kalau mengenai perayaan besar, Alkitab seringkali memakai istilah berpesta, yang didalamnya mencakup minum-minum sampai mabuk, makan sekenyang-kenyangnya, berdansa dengan segala tari-tarian. Matius 22:1-14 tidaklah memberikan gambaran seperti diatas, tetapi rakyat justru menolak, tidak merasa hal tersebut adalah sesuatu yang perlu/ layak untuk didatangi. Jadi ide dari pesta/ perjamuan dalam ayat diatas bukanlah pesta yang hedonistis. Ada juga yang mencoba mengkaitkan perumpamaan ini dengan hal rohani yaitu sang raja (dikaitkan dengan Tuhan Allah) tengah mengadakan pesta untuk anaknya (dikaitkan dengan Tuhan Yesus). Saya rasa ayat diatas tidaklah mengarah ke sana, karena kalau mempelai laki-lakinya adalah Kristus maka mempelai wanitanya adalah jemaat, sedangkan dalam perumpamaan tersebut tidak menyebutkan demikian, orang-orang yang datang tidak disebut sebagai mempelai wanita melainkan sebagai tamu.
Sebenarnya ide perjamuan diatas hanyalah sebagai wadahnya, Tuhan Yesus ingin menegaskan tentang bagaimana respon dari orang-orang yang diundang dan yang datang ke pesta, itulah yang menjadi penekanan dari ayat diatas. Kata “undangan” dan “mengundang” terus muncul dalam ayat ini sedangkan dalam Alkitab bahasa Inggris tidak ada kata “invitation” yang dipakai, ternyata dalam bahasa aslinya memakai kata “kaleo” yang berarti memanggil. Jadi tema utama dari perjamuan tersebut diatas adalah tentang panggilan. Istilah panggilan ini sangat penting didalam Alkitab, lebih khusus lagi didalam Theologi
Reformed. Kalau kita berbicara tentang panggilan, maka yang terpenting adalah responnya, apa yang harusnya kita jawab terhadap panggilan itu, dan apa pengertian dari “jawab”.
Panggilan adalah bagian yang sangat spesifik, dan Calvin mengatakan bahwa panggilan harus dilihat dari 2 segi yaitu:
- panggilan umum (general calling) yaitu Allah memanggil semua orang, tetapi tidak semua yang datang.
- panggilan spesial (special calling) yaitu panggilan yang sifatnya khusus yang menjadikan orang menjadi umat Tuhan.
Matius 22:14 : Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Ayat ini mempertajam tentang perihal panggilan. Hal ini menyangkut bagian yang paling sulit dalam Theologi Reformed yang seringkali menjadi bahan perdebatan yaitu mengenai predestinasi. Kalimat dalam ayat diatas memberikan tusukan 2 arah yang akan membuat konflik di dalam pikiran kita kalau kita tidak berpikir secara beres, maka ada 3 pre-suposisi awal yang harus dibereskan untuk kita masuk pada pokok bahasan mengenai panggilan dan respon terhadap panggilan Tuhan, yaitu:
1. Pengenalan akan Allah.
Seluruh setting bukan dimulai dari manusia melainkan dari Tuhan sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan pemakaian bentuk kata pasif pada ayat diatas. Manusia bersifat pasif, tidak mempunyai daya. Kita harus kembali kepada doktrin Allah yang benar. Mengenal Allah yang seperti apa akan mempengaruhi arah penafsiran kita.
Saya akan memberi contoh penafsiran ayat diatas dari sudut doktrin manusia berdosa versi humanisme. Penafsirannya bisa menjadi demikian: ayat ini berbicara mengenai Allah yang begitu nyata menunjukkan DiriNya sebagai Allah yang kejam. Ketika raja memberikan undangan pesta, orang tidak merasa perlu untuk datang maka raja tersebut menjadi sangat marah, hal ini menunjukkan kekejaman dari raja itu. Seharusnya, orang memiliki hak untuk mau datang atau tidak ke pesta itu. Raja itu tidak hanya marah tetapi juga menjadi minder karena merasa gagal mengundang orang yang penting. Setelah itu raja mengundang orang yang tidak berharga seperti gelandangan, orang jahat, dll supaya pestanya menjadi penuh, tetapi celaka bagi yang tidak berpakaian pesta, sang raja menjadi malu lalu membunuh orang tersebut. Raja tersebut begitu kejam, orang yang sudah mau datang ke pestanya masih juga diperlakukan begitu. Itulah penafsiran dari sudut pandang doktrin tentang Allah yang kejam, iri hati, yang menggunakan segala cara untuk mencapai keinginannya, yang mengejar kehormatan diri dengan cara menghancurkan orang lain yang tidak menghormati dia. Penafsiran diatas sangatlah logis, tetapi dimanakah letak kesalahannya?
Ketika ayat diatas dilihat dari segi kemanusiaan maka seharusnya menjadi refleksi bagi manusia yang sangat gila hormat, yang suka memanipulasi orang lain untuk kepentingan diri, sesuatu yang didapatkan dianggap sebagai sebuah hak dan pertolongan bagi yang memberi. Semuanya itu adalah gambaran dari sifat dosa yaitu: kesombongan yang besar, iri hati dan kesewenang-wenangan. Sifat-sifat dosa seperti diatas tidaklah cocok dengan sifat Allah. Maka kunci pertama adalah bereskan doktrin tentang Allah yaitu siapakah Allah? Alkitab memberikan gambaran bahwa Allah yang sejati adalah Allah yang berinisiatif total karena Dia adalah pencipta alam semesta dan segala kepenuhan ada didalam Dia. Seluruh cerita diatas hendak mengatakan: berikan kepada Allah yang menjadi milikNya karena Dia adalah pemilik dari semua yang ada di alam semesta ini. Allah yang sudah penuh dalam segala hal, masih kurang apa, masih butuh apa? Allah bertindak apapun tidaklah berkaitan dengan Dia. Di tengah dunia ini ada konsep yang mengatakan: Allah itu butuh manusia untuk memuliakan Dia. Konsep ini menunjukkan rusaknya manusia. Allah adalah pemilik dari semua kemuliaan, kita memuliakan Dia bukan karena Dia kurang kemuliaan tetapi karena Dia memang harus dipermuliakan karena memang mulia. Ketika manusia memandang Allah sebagai pencipta, maka kita mengembalikan Dia kepada otorisasiNya yang tertinggi, maka Allah layak untuk memanggil dan juga memilih.
2. Berpikir secara paradoks.
Manusia sangat suka dengan kalimat: Banyak yang dipanggil. Allah yang memanggil, manusia yang menjawab, maka jawabannya adalah suka-suka manusia karena manusia mempunyai hak jawab, bahkan di zaman sekarang ini manusia juga mempunyai hak tidak menjawab. Apakah tesis diatas benar? Hal ini tidak pernah diselesaikan oleh manusia. Tesis tersebut diatas kalau di posisi 2 pihak yang setara mungkin boleh dilakukan tetapi tidak berlaku untuk semua keadaan, misalnya teman kita bertanya secara jujur dan sungguh-sungguh, apakah kita sekedar punya hak menjawab dan tidak menjawab atau sebenarnya ada etika yang mengharuskan kita untuk memberikan jawaban yang terbaik? Berarti: kalau ada orang bertanya kepada kita, kita bukan sekedar menjawab tetapi kita mempunyai kewajiban memberikan pertanggung jawaban atas jawaban kita. Kalau menyangkut order/ urutan maka urusannya lebih panjang lagi. Kalau orang tua bertanya kepada anaknya, maka sang anak mempunyai kewajiban jawab. Kalau pihak yang lebih atas memanggil maka yang bawah wajib menjawab. Urutan tidak bisa dipermainkan. Kalau urutan dipermainkan berarti sama dengan kurang ajar. Kita sebagai manusia seringkali memiliki jiwa kurang ajar seperti ini, hal ini merupakan jiwa berdosa. Kita suka sekali mengatur siapa saja dan menuntut orang untuk menurut kepada kita, tetapi kita sendiri tidak mau menurut kepada atasan kita. Bagaimana kita bisa taat kepada Tuhan kalau di titik pertama kita merasa punya hak untuk menjawab dan tidak menjawab? Tuhan berkata: Aku tidak hanya memanggil tetapi juga memilih! Jawaban kita menentukan apakah kita dipilih atau tidak, kalau kita tidak menjawab maka kita akan dimasukkan ke dalam neraka. Kalau kita mau menghancurkan segala kesombongan kita, membereskan segala urutan didalam tataran kebenaran maka kita akan menjadi manusia yang beres dalam bersikap.
3. Iman yang benar.
Penentu langkah terakhir bukan terletak pada hukum sebab-akibat tetapi justru terletak pada sebab yang pertama. Segala sesuatu di dunia ini berlaku hukum sebab-akibat, apa yang kita lakukan akan mengakibatkan sesuatu; semua sebab menimbulkan akibat, akibat tadi akan menjadi sebab yang baru dan akan menimbulkan akibat yang baru lagi, dan seterusnya. Akibat terakhir memang penting sekali untuk kita lihat karena kita terus melangkah ke depan, tetapi perlu kita ingat bahwa akibat terakhir bukan hanya karena sebab yang terakhir tetapi juga karena sebab yang pertama. Semua rentetan sebab-akibat selalu dimulai dari akibat bukannya dari sebab. Inilah kunci yang tidak pernah dimengerti oleh dunia. Alkitab mengatakan: sebab pertama adalah pre-suposisi yang tanpa sebab. Pre-suposisi pertama yang tanpa sebab inilah yang disebut sebagai iman. Maka sebelum kita melangkah, kunci pertama adalah iman harus beres. Iman yang tidak beres adalah sama dengan tidak beriman. Paulus berkata: dulu sebelum aku mengenal Kristus, aku melakukan semua ini tanpa pengetahuan dan di luar iman. Berarti: semua kepercayaan apa saja yang Paulus pegang sebelumnya oleh Paulus dimasukkan sebagai “di luar iman”. Di luar iman berarti bukan iman. Iman sejati hanyalah 1 dan dinamakan iman.
Dalam cerita diatas, kuncinya hanya 1 yaitu Tuhan menetapkan apa. Itulah esensi dari iman yang sesungguhnya. Kalau kita mengerti akan esensi iman yang sesungguhnya, maka bagaimana kita meletakkan diri didalam iman itu, barulah semua sebab-akibat akan berjalan beres.
Setelah berjuang habis-habisan selama beberapa bulan terakhir, maka Juni 2009 ini General Motor menyatakan diri pailit. Problema dasarnya bukan pada krisis ekonomi melainkan pada krisis mental. Saat awal krisis Kongres USA berusaha membantu dengan syarat GM mau mengubah paradigma/iman, rombak cara pikir, rombak cara hidup, yaitu dengan cara potong gaji semua CEO GM dan disamakan dengan CEO Honda, Mitsubishi, Toyota. Selama ini gaji mereka 2 kali gaji CEO Honda sehingga harga barang produksi GM bisa 4 kali Honda. Mereka semua tidak setuju bahkan mereka meminta semua bonus tetap dibayarkan. Mereka menang melalui pengadilan. Pemerintah USA angkat tangan. Tetapi, sekarang ternyata mereka sendiri yang kalah. Cara hidup bukan melihat rantai sebab-akibat tetapi melihat pada iman di belakangnya yang akan sangat menentukan garis sebab-akibat. Kita harus bereskan mental kita, cara hidup kita, etos kerja kita kalau kita mau beres dalam hidup kita, dalam setiap langkah kita.
Ketika orang-orang yang diundang sang raja menolak untuk datang, mereka memilih bekerja ke ladang, adalah lebih berharga bagi bisnis mereka, bahkan kalau pegawai sang raja bertindak macam-macam maka akan mereka sikat habis. Menangkah mereka? Alkitab menjawab: tidak! Matius 22:8: ... tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Ketika manusia disebut tidak layak oleh Tuhan maka matilah dia. Di tengah-tengah manusia merasa menang melawan Tuhan, di saat itulah Tuhan mengatakan: engkau tidak layak.
Ketika para ahli Taurat dan orang Farisi berteriak meminta Yesus disalibkan, mereka kelihatan menang secara manusia. Ketika mereka berhasil membunuh Tuhan Yesus justru saat itulah mereka sedang memproklamasikan kebejatan mereka. Tuhan Yesus tidak kalah, tetapi bangkit. Setelah Yesus bangkit maka habislah mereka semua. Jangan pikir bisa menang melawan Tuhan. Melawan Tuhan berarti bunuh diri, berarti menghancurkan iman. Begitu iman rusak maka habislah semuanya. Iman yang sesungguhnya adalah percayanya dan kembalinya kita kepada Tuhan. Seberapa jauhkah hidup kita berpusat kepada Tuhan ataukah justru tidak ada Tuhan sama sekali dalam hidup kita setiap waktu? Kita harus memulai segala sesuatu dengan iman, dari Tuhanlah kita baru dapat melihat segala sesuatu dengan tajam. Dalam setiap langkah kita, seberapa jauhkah kita sudah meletakkan iman kita dengan benar?
Pesta/ perjamuan yang dimaksud dalam cerita diatas adalah manifestasi dari Kerajaan Surga. Ketika orang diundang masuk ke dalam pesta, orang tersebut bukan diundang untuk menjadi berdosa, bukannya untuk mencari makan, seharusnya adalah untuk menghormati sang raja, untuk menikmati sang raja, untuk bergaul dengan sang raja. Kalau tidak hadir dalam pesta sang raja maka merupakan penghinaan besar bagi sang raja. Kita datang kepada Tuhan bukan untuk mendapatkan berkat dari Tuhan melainkan untuk berbahagia karena sudah boleh berbahagian masuk ke dalam kebahagiaan Sang Tuan, masuk kedalam persekutuan dengan Sang Raja.
Ketika kita datang ke meja perjamuan, kita bukan untuk menikmati rasa anggur yang disajikan, melainkan dengan iman kita bersekutu dengan Tuhan, kita mengenang kembali betapa Kristus telah mati bagi kita dan sekarang kita dipersatukan denganNya. Seberapa kita mengerti bahwa hidup kita seharusnya dimulai dan diakhiri dengan konsep yang benar yaitu betapa sukacitanya hidup di dalam Kerajaan Surga yang Tuhan sediakan? Bukan makanannya yang enak tetapi pertemuan kita dengan Sang Raja itulah yang mendatangkan sukacita. Kalau pikiran kita bisa dibereskan maka kita tidak akan menyeleweng ketika menghadapi realita dunia. Kiranya Tuhan jaga hidup kita sehingga kita tidak mudah diselewengkan oleh dunia ini. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)