Ringkasan Khotbah : 24 Mei 2009

A Gift to God

Nats: Roma 12:1

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kita memasuki minggu ke-5 dari pembahasan kita mengenai harta, penatalayanan keuangan dan persembahan. Pada hari ini kita masuk pada tema kita yang terakhir yaitu tentang persembahan. Persembahan dalam Alkitab mencakup beberapa aspek, begitu luas dan begitu banyak, maka khotbah kita hari ini tidaklah mungkin membahas semuanya. Pertimbangan lain untuk tidak membahas semua aspek persembahan pada hari ini adalah adanya beberapa aspek persembahan yang sudah tidak dipakai pada hari ini. Hal ini berkaitan dengan yang kita kenal sebagai “continue and discontinuity concept”. Kita bisa terjebak didalam berbagai kesalahan kalau kita tidak mengerti akan apa yang continue/berkelanjutan dan apa yang discontinue/ketidak berlanjutan. Alkitab kita dibagi menjadi 2 bagian yaitu PL dan PB. Di dalam PL ada cara-cara dan bentuk-bentuk PL, PB juga mempunyai cara-cara dan bentuk-bentuk PB. Cara dan bentuk di PL seringkali sudah berhenti dan tidak berlanjut di PB, inilah yang disebut discontinuity/ ketidak berlanjutan. Tetapi di atas discontinuity selalu ada konsep/ prinsip theologi/ doktrin yang bersifat continuity, yang tidak bergeser dari kekal sampai kekal, dari PL ke PB, yang tidak bisa diganggu gugat, yang tidak bisa diganti, dan inilah yang disebut dengan kebenaran yang asasi. Kebenaran yang benar-benar benar di dalam prinsip kebenaran Allah tidaklah bisa diganggu gugat oleh ruang dan waktu; sekali benar maka sampai kapanpun akan benar; sekali benar maka dimanapun akan benar. Kebenaran asasi ini berbeda dengan kebenaran fragmental yaitu kebenaran yang hanya berjalan sesaat, yaitu yang hanya cocok pada saat tertentu (disebut sebagai kebenaran temporal yaitu kebenaran yang tergantung oleh waktu) dan yang hanya cocok pada tempat tertentu (disebut sebagai kebenaran spasial yaitu kebenaran yang dikunci oleh tempat). Kebenaran Allah bersifat hakiki, kekal dan tidak bisa diganggu oleh ruang dan waktu, tidak bisa digeser. Inilah yang disebut dengan konsep continuity.

Umat Tuhan berelasi dengan Allah dalam covenant/ perjanjian. Covenant adalah perjanjian yang dilakukan oleh 2 pihak, tetapi bukanlah testament yang dijalankan oleh 2 pihak yang sejajar, yang tidak sejajar seperti antara kaisar besar dengan kaisar kecil yang ditaklukkan olehnya. Dalam covenant, yang menentukan adalah pihak yang lebih besar, pihak yang besar berjanji kepada pihak yang lebih kecil untuk menjaga, melindungi pihak yang kecil. Tuhan tidak mengikat perjanjian dengan yang bukan umatNya, kalau kita taat maka Tuhan berjanji akan memelihara kita, kalau kita setia maka Tuhan berjanji akan setia. Yang menjadi meterai/ tanda perjanjian antara Allah dan umatNya adalah sunat di hari ke-8 dalam PL (tidak peduli anaknya percaya ataupun tidak), perjanjian ini terus berjalan sampai dengan PB dimana Tuhan menyatakan bahwa perjanjian telah pecah karena Israel sudah tidak taat kepada Tuhan, kemudian Tuhan membentuk covenant yang baru dengan Israel yang baru (umat Tuhan di PB yaitu gereja, semua orang di segala zaman), perjanjian ini ditandai dengan baptisan (tidak peduli anaknya percaya atau tidak). Di sini kita melihat konsep yang kekal dijalankan dengan cara yang berbeda di zaman PL dengan di zaman PB. Semua yang discontinue di dunia ini harus diikat dengan yang continue di kekekalan. Allah yang kekal, tidaklah berubah, berelasi dengan sejarah yang selalu berubah. Di PL semua ibadah dilakukan di hari terakhir minggu (hari ke-7), di PB ibadah dilakukan di hari pertama minggu (hari ke-1). Di hari pertama minggu itu: Roh Kudus turun, Yesus bangkit, gereja didirikan, 3000 umat beribadah menjadi anak Tuhan/ orang percaya, baptisan pertama kali dijalankan, ibadah Kristen yang pertama dijalankan, khotbah pertama yang tidak pernah ada yaitu Yesus Kristus juru selamat satu-satunya manusia di dunia. Sejak hari itulah kebaktian diadakan setiap hari Minggu. Semua itu dilakukan karena Kristus sebagai titik pusat, pada zaman PL dilihat di depan, pada zaman PB dilihat di belakang.

Konsep persembahan yang ditekankan oleh Alkitab PL adalah konsep yang sangat banyak seperti: korban penebus salah, korban penebus dosa, dll. Istilah “korban” ini tidaklah cocok dengan bahasa Yahudinya. “korban” adalah apa yang kita korbankan, sedangkan dalam bahasa Ibraninya bukanlah berarti demikian. Kesalahan ini terjadi karena istilah “korban” dalam bahasa Indonesia berasal dari Ibrani yang masuk ke Arab kemudian diwarnai dengan theologi muslim. Istilah “korban” dalam PL adalah sama dengan istilah “doron” di PB yang berarti sebuah pemberian/ hadiah yang dipersembahkan kepada seseorang. Terjemahan dalam bahasa Indonesia lebih baik memakai “per-sembah-an”. Pengertian dari persembahan adalah hadiah/ pemberian bagi Tuhan.

Di dalam PL terdapat begitu banyak jenis “korban” seperti: korban penebus salah, korban penebus dosa, korban ukupan, korban wangi-wangian, korban sajian, dll. Semua korban tersebut tidak lagi dijalankan di PB. Di zaman PL, setiap kali orang melakukan dosa, orang tersebut harus membawa domba yang berumur 1 tahun yang tidak cacat ke Bait Allah, domba tersebut disembelih sebagai korban penebus dosa orang tersebut. Prinsip yang tersirat adalah keadilan Allah meminta setiap orang yang berdosa harus dituntut dengan hukuman mati, harus membayar dengan darah. Manusia tidak sanggup mengatasi kematian yang merupakan upah dosa, maka Tuhan menuntut harus ada pengganti.  Konsep propisiasi / penebusan  peng-

gantian sudah muncul sejak zaman PL, ditetapkan bukan oleh si pembuat dosa melainkan oleh yang menghakimi dosa. Berdasarkan keadilan Allah yang paling tuntas, Allah menetapkan harus ada penggantian darah, berarti harus ada domba yang harus disembelih untuk menggantikan. Orang yang berdosa seharusnya sadar bahwa dia yang seharusnya mati ketika melihat domba mati disembelih dan darahnya tercurah. Konsep propisiasi ini terus berjalan sepanjang sejarah karena merupakan konsep Tuhan, tetapi tidak bisa terus menerus memakai domba sebagai pengganti karena domba tidaklah punya kuasa penebusan, domba yang disembelih akan membawa orang mengerti bahwa suatu hari nanti akan ada “domba” yang asli yaitu domba paskah; pada waktu itulah Aku akan mengirimkan satu “domba” yang tidak perlu berulang lagi terjadi yaitu AnakNya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus. Setelah Kristus naik ke atas kayu salib, mati menebus dosa kita, maka sekarang tidaklah perlu untuk menyembelih domba lagi. Untuk terus mengingat akan “domba” asli yang sudah menebus dosa kita, maka kita mengadakan Perjamuan Kudus. Jadi ada 2 sakramen yang besar yaitu Sakramen Baptisan sebagai prinsip covenant dan Sakramen Perjamuan Kudus sebagai prinsip propisiasi. Setiap kali Perjamuan Kudus, kita secara iman melihat lagi bagaimana Kristus telah mati, darahnya tercurah, tubuhnya terpecah untuk menggantikan kita yang seharusnya mati. Di PL memakai tanda domba, di PB memakai tanda perjamuan. Tandanya berbeda tetapi prinsip di belakang tanda tidaklah berbeda.

Prinsip persembahan yang dijalankan sejak dari PL sampai dengan PB adalah pemberian kepada Tuhan. Dalam PL banyak disebutkan tentang perpuluhan, sedangkan di PB tidak pernah disebutkan tentang perpuluhan. Kalau tidak ada perpuluhan bukan berarti kita bisa mengurangi jumlah persembahan kita sehingga lebih kecil dari perpuluhan. Alkitab tidak pernah menyetujui penurunan kualitas, tuntutan selalu makin tinggi. Maka bagaimana kita seharusnya bersikap terhadap persembahan? Saya akan mengajak kita melihat 2 aspek penting sehubungan dengan hal ini yaitu:

1.        motivasi di dalam persembahan

2.        4 prinsip penting dalam persembahan

Roma 12:1: Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Ayat diatas adalah implikasi dari berita keselamatan yang Tuhan nyatakan. Ayat diatas merupakan ayat pertama dari bagian kedua yaitu bagaimana saya hidup menurut apa yang sudah ditegaskan dalam 11 pasal di depannya. Di 11 pasal di depannya, Paulus dengan keras berbicara kepada orang di Roma bagaimana hidup sebagai orang Kristen, bagaimana manusia yang begitu berdosa dan tidak berpengharapan, setiap orang pasti mati karena sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Mulai pasal 1 sampai pasal 5 Paulus dengan keras menegaskan bagaimana orang di dunia berbuat dosa, dosa bukan sekedar membunuh, mencuri, dll tetapi melawan Allah dan kebenaranNya, yang berarti kita adalah pemberontak/ subversif dan hukumannya adalah mati. Kita tidak berpengharapan kecuali bersandar pada anugerah Tuhan, maka pasal 6 sampai pasal 8 berbicara bagaimana Tuhan mau memberikan anugerah, pasal 9 sampai pasal 11 menyatakan kedaulatan Tuhan didalam menjalankan keselamatanNya sehingga keselamatan yang terjadi mutlak bukan karena kita bisa/ bijak, tetapi mutlak karena Tuhan yang pilih/ tentukan. Begitu tajam dan kerasnya Paulus menyatakan hal itu dalam pasal 9 sampai pasal 11, sampai keluarlah konsep yang begitu keras dalam kekristenan yang begitu tidak disukai orang yaitu konsep predestinasi, yaitu Allah menetapkan siapa yang akan diselamatkan dan siapa yang akan dibuang. Lalu seluruh berita ini ditajamkan sampai titik yang paling total yaitu yang kita kenal sebagai doksologi pada Roma 11:36: Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Persembahan oleh Paulus dijadikan kunci bagaimana kita berespon kepada Tuhan sampai kita tahu betul bahwa persembahan merupakan manifestasi dari hidup kita yang memiliki prinsip bahwa hidup adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Kalau hidup kita seperti itu, berarti seluruh hidup kita masuk ke dalam Tuhan, dikontrol oleh Tuhan, bersumber dari Allah, prosesnya dipimpin oleh Tuhan Allah, maka hasil akhirnya kembali untuk Tuhan, semuanya berakhir dengan kemuliaan untuk Tuhan. Inilah konsep iman Kristen yang membedakan Kristen yang sejati atau yang bukan. Inilah hal yang terpenting dan merupakan pusat dari seluruh jiwa iman Kristen. Paulus melanjutkan: karena itu, saudara-saudara, saya mendesak kamu/ meminta kamu dengan sangat untuk mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Maka dari itu dalam PB tidak ada lagi persembahan 10% ataupun 20% tetapi Tuhan meminta persembahan tubuh kita.

Ada 3 motivasi penting didalam kita memberikan persembahan yaitu:

1. Persembahan/ pemberian kepada Tuhan adalah suatu konsep pengabdian.

Jadi suatu persembahan bukan terletak pada barangnya, uangnya tetapi urusan yang pertama adalah apakah itu merupakan ibadahmu? Ibadah dalam PB memakai kata proskuneo yang menggambarkan bagaimana saya menghampiri Dia yang begitu agung. Kata lain ibadah dalam PB adalah latreia yang berhubungan dengan kata “abodah” dalam PL yang dalam bahasa Inggrisnya adalah to bend down yang berarti bersujud. Bersujud karena mau menghormati objek yang begitu besar yang saya sujudi. Bagi orang Kristen, hanya Tuhan yang patut menerima sujud kita/ ibadah kita.

Hal yang utama didalam kita memberikan persembahan adalah sikap bagaimana kita betul-betul menyembah Dia. Tetapi sayangnya, konsep persembahan yang begitu agung, konsep menyembah Allah yang begitu agung, diplintir oleh dunia kekristenan saat ini.

Ada 1 buku tentang penyembahan yang saya baca menuliskan: menyembah Allah haruslah dengan seluruh ekspresi kita. Menyembah Tuhan tidak boleh ditahan-tahan, semua ekspresi boleh dilepaskan, contohnya: ketika tim sepakbola kesayangan kita berhasil memasukkan gol ke gawang lawan, maka para supporternya dengan tidak bisa ditahan akan berteriak, bersorak, melompat. Seperti itulah persembahan. Jadi tuhannya disamakan dengan tim sepakbola dan penyembahannya disamakan dengan tingkah para bonek. Beranikah melakukan hal seperti itu di depan presiden, atau direktur?

Ketika pengenalan akan Allah rusak, yaitu Allah disamakan dengan tim sepak bola, maka hidup juga akan menjadi rusak, konsep mengerti ibadah juga menjadi rusak.

Tuhan melihat persembahan kita bukan dari angkanya tetapi hati kita, sikap kita di hadapanNya. Seberapa jauh ketika kita membawa persembahan kita ke hadapan Tuhan, kita mewaspadai hati kita? Apa yang ada di hati kita ketika memberikan persembahan? Dunia melihat persembahan sebagai sedekah sehingga hanya memberi recehan dan secara sembarangan. Tuhan kita pengemis yang butuh belas kasihan kitakah? Alkitab menuliskan: Tuhan Yesus lebih melihat persembahan dari janda yang miskin sebesar 2 peser, yang merupakan seluruh hidupnya. Tuhan meminta kita memberi lebih dari sekedar angka/ nilai. 

2. Persembahan adalah ucapan syukur kita di hadapan Tuhan.

Roma 1-11 menggambarkan Allah yang begitu beranugerah. Maka di Roma 12 Paulus mendesak kita untuk berespon terhadap anugerah Allah dengan memberikan persembahan tubuh. Tuhan sudah mengasihi kita, melimpahi kita dengan segala berkat yang melimpah, kita harus mengucap syukur atas semuanya itu. Kita bisa memberikan perpuluhan karena kita sudah terlebih dahulu menerima 100%nya. Konyolnya, 10% hanya dihitung dari angkanya tetapi melupakan hal lain yang berasal dari Tuhan seperti: waktu, kepandaian, ketrampilan, kesempatan. Kebanyakan orang tidak mengerti tentang anugerah Allah sehingga menjadi tidak tahu diri untuk bersikap bersyukur.  Apa yang Tuhan berikan dianggap sebagai hak, dikudeta menjadi milik pribadi. Sikap seperti ini menjijikkan di mata Tuhan.

Kolose 2 mengatakan: kalau kita adalah orang yang betul-betul sudah diselamatkan, kita yang sudah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan kita, hendaklah kita hidup didalam Dia, dibangun diatas Dia, berakar didalam Dia, bertambah teguh didalam semua pengajaran yang Tuhan berikan, lalu hati kita akan melimpah dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Konsep dunia memberi persembahan bukan sekedar tidak ada unsur berterima kasih tetapi konsep persembahan diplintir menjadi unsur bisnis, yaitu memberi persembahan kepada Tuhan dengan menantikan Tuhan mengganti 10 kali lipatnya. Ini menunjukkan bahwa cengkeraman materialisme dan iblis begitu kuat. Dalam kitab Maleakhi Tuhan murka kepada bangsa Israel, karena hidup mereka bejat sekali mulai dari menghina Tuhan lalu membuat berhala, keluarga menjadi rusak, uang dipermainkan sehingga tidak ada lagi persembahan. Tuhan sudah memberi begitu banyak tetapi umat Israel tidak menghargai semua anugerah Tuhan tersebut, bahkan tidak berhenti menuntut. Sampai zaman ini manusia tidak juga berubah, manusia tetap tegar tengkuk.

3. Persembahan kepada Tuhan dengan mencintai Tuhan.

Paulus mengajak kita melihat Allah sebagai mempelai pria dan kita adalah mempelai wanita yang menyerahkan seluruh hidup kita, seluruh tubuh kita untuk mempelai pria. Ini adalah gambaran dari cinta yang penuh, yang total, cinta yang puncak dari suami dan istri. Cinta kalau sudah sampai di titik tertinggi akan memberikan kepada kita motivasi terbesar. Cinta adalah gambaran dari bagaimana kita bisa memberikan yang terbaik. Kalau kita mencintai seseorang, kita akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk yang kita cintai. Sayangnya kita hanya bisa memberikan kepada manusia tidak kepada Tuhan.

Markus 12:33: Tuhan Yesus menyatakan bahwa mencintai Allah dan sesama adalah lebih baik daripada persembahan. Jadi berikan persembahanmu dengan engkau mencintai Tuhan dan sesama. Tuhan jijik dengan persembahan yang diberikan tanpa cinta.

Jadi kalau kita tahu bahwa Tuhan sudah begitu baik kepada kita, sudah memelihara hidup kita, sudah terlebih dahulu memberikan yang terbaik untuk kita maka prinsip persembahan adalah:

1.  memberikan yang terbaik untuk Tuhan.

2.  memberi dengan rela hati dan sukacita.

3.  memberi yang sesuai dengan si penerima, yang terbaik untuk si penerima. Layak tidaknya persembahan ditentukan oleh Tuhan.

4.  Tuhan tidaklah memerlukan persembahan kita. Tuhan ingin persembahan dipakai untuk menjalankan misi Kerajaan Surga di dunia ini, melebarkan Kerajaan Surga. Gereja ada bukan untuk menggemukkan diri tetapi untuk menjalankan misi Kerajaan Surga, menjadi berkat bagi banyak orang. Relakah kita dipakai Tuhan untuk mengembangkan Kerajaan Surga? Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)