|
Ringkasan Khotbah : 17 Mei 2009
Nats: Filipi 4:10-13 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Pokok pembahasan kita beberapa minggu ini adalah tentang harta, penatalayanan keuangan dan persembahan. Kita berbicara tentang bagaimana kita mengelola apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Pada sesi pertama kita sudah membicarakan tentang esensi yang melandasi tema ini yaitu mengenai konsep dari “property”. Property bukanlah tanah, bangunan, harta atau apapun yang kita miliki, melainkan apa yang kita miliki di dalam diri kita yaitu diri kita sendiri yang dicipta oleh Tuhan menurut gambar dan rupa Allah dan kita dicipta untuk menjadi pengelola dan penguasa atas alam semesta ini. Kita harus bertanggung jawab penuh terhadap apa yang telah Tuhan percayakan kepada kita ini. Tetapi sayang, property yang begitu agung ini telah dirusak oleh manusia karena manusia telah membuang hak sulungnya lalu jatuh ke dalam dosa. Setelah jatuh ke dalam dosa, seluruh gambar dan rupa Allah pada diri manusia menjadi rusak, posisi penguasaan atas alam semesta juga rusak, manusia bukan lagi yang mengelola dan menata alam semesta melainkan menjadi budak iblis, budak uang, budak materi, budak dunia ini. Manusia kehilangan posisi hak sulung untuk mengatur dan mengelola alam menurut apa yang Tuhan tetapkan bagi setiap kita. Inilah kerusakan yang pertama, dan di situlah pentingnya penebusan. Penginjilan tentang penebusan Kristus bukan sekedar supaya manusia dapat masuk surga, tetapi penebusan Kristus mere-posisi kita kembali ke tempat asli kita supaya kita dipakai Tuhan memancarkan status asli kita sebagai gambar dan rupa Allah dan kita boleh kembali menjadi penatalayan alam semesta yang Tuhan percayakan.
Pada sesi kedua kita berbicara tentang perlengkapan/ harta sebagai treasures. Tuhan mencipta manusia di hari terakhir setelah menciptakan semua aspek lainnya yang menjadikan semuanya itu menjadi skeuos/ perabot/ perlengkapan sehingga kita bisa hidup melakukan apa yang Tuhan inginkan, supaya kita bisa bertumbuh dengan apa yang Tuhan sediakan. Maka semua treasures di sekeliling kita bukanlah dipakai untuk merusak diri kita, menghancurkan hidup kita, semuanya itu Tuhan sediakan supaya iman kita, hidup kita, kualitas kita, kerohanian kita bisa dipakai kembali oleh Tuhan sampai ke titik maksimum dimana kita boleh melayani Dia, memuliakan namaNya. Ketika kita salah menggunakan semua perlengkapan yang Tuhan sediakan, maka perlengkapan yang sangat baik dapat menjadi alat pembunuh. Kepintaran yang Tuhan berikan kepada kita kalau kita pakai untuk menggarap pekerjaan Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan lalu menjadi berkat bagi banyak orang maka kepintaran tersebut benar-benar bermanfaat, tetapi kalau kepintaran tersebut dipakai untuk melakukan dosa, kita justru akan menghancurkan hidup kita dan orang lain.
Pada sesi ketiga kita membahas tentang bagaimana kita mengerti semuanya diatas sebagai investasi dari Tuhan. Allah mencipta seluruh alam semesta lalu mempercayakan seluruhnya kepada kita, maka Allah adalah investornya, pemilik semua harta, pemilik semua dunia ini, bahkan pemilik hidup kita semua. Kita adalah ciptaan Tuhan, maka semua yang ada pada diri kita tidak ada yang merupakan milik kita. Semua yang ada di sekeliling kita juga bukanlah milik kita. Siapakah yang harus bertanggung jawab ketika Allah menginvestasikan hartanya ke tangan kita? Kita sebagai pengelola investasi Allah adalah pihak yang harus bertanggung jawab. Alkitab mengatakan bahwa kalau sampai kita tidak mampu bertanggung jawab mengelola investasi tersebut maka hukumannya adalah neraka. Kita dituntut tidak sekedar mengembalikan modal aslinya tetapi juga ditambah dengan buahnya, jadi harus menghasilkan. Pada perumpamaan tentang talenta, hamba yang diberi 1 talenta mengubur talenta tersebut, maka sang tuan menjadi marah dan memasukkan hamba tersebut ke dalam neraka. Konsep investasi di dalam Alkitab ini berbeda dengan konsep investasi di dunia. Investasi di dunia, tanggung jawab ada di tangan investor, pengelola investasi hanya mau berbagian dalam keadaan untung. Inilah orang berdosa yang memainkan milik orang lain tetapi tidak mau bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi. Konsep dunia yang hanya mencari manfaat (konsep utilitarianisme) di hadapan Tuhan akan dihukum di neraka. Kita harus bertanggung jawab atas pemberian dari Allah, yang diberi sedikit dituntut sedikit, yang diberi banyak juga dituntut banyak. Disini terlihat bahwa tanggung jawab melampaui hak. Dunia kita membaliknya, hak terus dikejar, tanggung jawab kalau bisa ditinggalkan.
Tidak ada satupun dari kita yang tidak mendapatkan apa-apa dari Tuhan, paling sedikit mendapatkan 1 talenta, yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana mengerjakannya? Kita akan melihat Filipi 4:10-13. Kitab Filipi disebut sebagai kitab sukacita karena tema dari pasal 1 sampai pasal 4 adalah tentang sukacita, klimaksnya adalah dalam Filipi 4:4 : Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Kalau manusia hidup gagal bersukacita, maka seluruh hidupnya akan bertambah lama bertambah gagal menuju kehancuran. Dalam Filipi 4:10 Paulus sekali lagi mau menegaskan bahwa dia sangat bersukacita dalam Tuhan. Secara manusia, adalah tidak mungkin bagi orang seperti Paulus yang dalam kondisi kekurangan dan sedang di dalam penjara akan dapat bersukacita. Sukacita sejati bukanlah sukacita yang kondisional, yang terpengaruh oleh luar. Paulus sangat bersukacita karena akhirnya pikiran dan perasaan jemaat Filipi bertumbuh kembali.
Sukacita sejati sangatlah penting bagi hidup manusia. Hidup yang penuh sukacita adalah hidup yang akan sangat positif, yang akan sangat membangun, yang akan sangat menguatkan. Untuk mencapai hidup yang bisa memiliki sukacita yang tidak tergantung dari luar tidaklah mudah, apalagi kita seringkali salah mengkaitkan antara sukacita hidup dengan isu miskin dan kaya. Betulkah kalau kaya akan sukacita dan kalau miskin akan tidak sukacita? Mitos ini berkembang dimana-mana, tetapi Paulus dalam nats Alkitab hari ini mengatakan: Tidak! Paulus bersukacita bukan karena orang Filipi mengalami perubahan pikiran dan perasaan untuk Paulus sehingga mengirimi Paulus dengan banyak uang.
Jemaat Filipi mengalami isu ketegangan sosial, kesenjangan ekonomi yang cukup besar. Kota Filipi dibangun oleh Filipus (ayah dari Aleksander Agung) karena kota tersebut begitu indah. Pada waktu Romawi menguasai Filipi, para veteran senator Romawi tinggal di Filipi, sehingga anarkhisme juga masuk ke kota Filipi. Para veteran ini hidup di dalam kegelimangan harta, inilah yang menjadikan kesenjangan dengan jemaat di Filipi. Kota Filipi adalah kota yang begitu kaya, begitu borjuis, maka sukacita sangatlah dikaitkan dengan kaya-miskin. Orang di Filipi sudah memiliki pemikiran bahwa kalau mau enak haruslah kaya, kalau miskin akan tertekan. Paulus menunggu kapan jemaat Filipi bisa bertobat, bisa berubah pikiran dan perasaannya sehingga mereka mulai memikirkan orang lain.
Adalah suatu kecelakaan jika kita memiliki pikiran bahwa kaya-miskin adalah dasar dari sukacita atau tidak. Mitos seperti ini tidaklah beres, yang justru banyak terjadi adalah: orang kaya banyak yang tidak sukacita. Alkitab berkata bahwa tidak ada jaminan bahwa orang yang miskin pasti susah hidupnya. Dalam nats Alkitab hari ini, Paulus mengatakan bahwa dia pernah kelaparan, pernah susah luar biasa, dia tahu kekurangan, tetapi dalam kondisi seperti itu dia tetap bersukacita. Paulus bisa menerobos melampaui semua hal yang menjepit kondisi manusia yang disebut dengan kaya-miskin, yang dianggap mempengaruhi sukacita. Kalau di kepala kita masih dicengkeram oleh mitos yang salah itu, justru akan membuat seluruh yang kita perjuangkan semakin susah, apalagi dalam situasi yang tidak menguntungkan.
Pada akhirnya, terjadilah perubahan yang dinanti-nanti oleh Paulus, sehingga Paulus sangat bersukacita. Pikiran dan perasaan mereka berubah, dapat dilihat dari keberanian mereka memberikan persembahan dalam jumlah yang cukup besar untuk Paulus. Uang yang besar tersebut diterima oleh Paulus bukan untuk memperkaya dirinya, tetapi oleh Paulus dipakai untuk pekerjaan pembangunan menopang jemaat di Yerusalem yang dianiaya habis-habisan.
Jadi, permasalahannya bukan terletak pada kaya atau miskin, tetapi bagaimana kita bisa menerobos kaya atau miskin tersebut. Jemaat di Filipi akhirnya mampu untuk menerobos, hal ini bisa terlihat dari persembahan mereka yang dalam jumlah besar. Hal ini bisa dipakai sebagai bukti karena ketika mereka bisa memberi berarti mereka sudah lolos dari jerat kemiskinan. Orang yang ingin kaya tidak pernah merasa cukup atas hasil yang diperoleh, orang yang merasa miskin akan selalu merasa miskin walaupun diberi berapapun. Orang yang ingin kaya selama-lamanya melarat, dan pada waktu dia miskin, dia selalu merasa kurang; orang yang selalu kurang tidak akan pernah dapat memberi siapapun. Inilah ketamakan, selalu mau menerima tetapi tidak pernah mau memberi. Inilah dosa yang paling mematikan, kata Billy Graham.
Ada 3 hal yang ingin saya tekankan dalam hal ini yaitu:
1. self-content/ kecukupan diri.
Filipi 4:11: Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Kita bisa memberi kalau kita mengerti “content”. Content berarti cukup, berarti kita bisa mengelola apa saja, berapa saja, didalam tangan kita dengan cukup. Content berarti kepenuhan sehingga tidak merasa perlu untuk mencari lebih/ tamak. Paulus mengalami content sampai pada tingkat berlimpah sampai dia bisa melayani, dia bisa lepas, dia bisa mengerjakan segala hal untuk pekerjaan Tuhan. Bagaimana Paulus bisa sampai pada titik content, dan bagaimana Paulus mengajar jemaat Filipi untuk bisa mengerti self-content? Bagaimana kita bisa puas mencukupkan diri dengan apa yang Tuhan percayakan kepada kita? Kuncinya adalah bukan saya yang tamak, yang mau, yang mengukur, tetapi saya belajar bertanggung jawab atas berapapun yang Tuhan percayakan kepada saya. Content tidak terjadi secara otomatis melainkan melalui perjuangan untuk dapat tahu berapa yang Tuhan percayakan dan bagaimana saya mengerti mengerjakannya. Apa saja yang ditaruh di tangan kita harus kita kerjakan dengan bertanggung jawab untuk dapat menjadi berlipat. Orang yang hanya memikirkan untuk mendapatkan tidak akan pernah berpikir bagaimana dia dapat berdaya guna; semua yang dihasilkan masih juga diraihnya untuk kepentingan dirinya; dia akan semakin tamak; dia tidak pernah tahu bahwa hasil tersebut seharusnya dikembalikan kepada pemiliknya yaitu Tuhan. Orang yang content memiliki 2 unsur yang penting yaitu :
- tahu mengerjakan/ menggarap apa saja dan berapa saja yang Tuhan percayakan kepada kita. Perjuangan orang Kristen bukanlah iri hati terhadap orang lain dengan melihat apa yang sudah dikerjakan oleh orang lain, kesuksesan orang lain. Kerjakanlah segala sesuatu yang Allah letakkan di tangan kita dengan takut dan gentar. Kita harus mempertanggung jawabkannya di hadapan Tuhan.
- semua yang kita garap adalah milik Tuhan. Kalau kita bisa melihat hal ini, barulah kita bisa melimpah dan menjadi berkat bagi orang lain, bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan, bisa dipakai untuk persembahan.
Semua yang Tuhan percayakan harus kita garap dengan baik dan setia.
2. Lepas dari faktor di luar diri
Sebetulnya permasalahannya bukan pada miskin-kaya tetapi ada sesuatu di belakang miskin-kaya dan itulah yang sebenarnya membuat kita tidak bisa tahan menghadapinya, kita menjadi terjebak untuk kita harus menjadi kaya.
Kata “kekurangan” muncul 3 kali dalam nats Alkitab hari ini, pada Filipi 4:11,12b dipakai kata yang sama untuk “kekurangan” yang berarti orang yang betul-betul miskin, dalam kondisi kurang yang membuat dia susah hidup. Pada Filipi 4:12a kata “kekurangan” yang dipakai oleh Paulus berarti kondisi bawah/ kekurangan yang begitu dahsyat, tetapi bukan dalam hal uang melainkan responnya. Isu yang paling menakutkan dalam kaya-miskin bukan pada kurang tidaknya uang yang dimiliki tetapi pada penilaian orang atas kita. Orang takut miskin karena takut dihina, dipandang rendah, tidak dipandang sebelah mata. Orang dunia akan menyembah orang yang berduit. Paulus pernah mengalami kondisi dihina karena melarat, juga disanjung karena sangat kaya, tetapi dia tidak terganggu sedikit pun oleh kondisi itu. Inilah kunci untuk terlepas dari jerat palsu manusia. Ini adalah sangat penting, karena kalau tidak hidup kita akan sangat tergantung pada opini manusia terhadap diri kita, sehingga arah hidup kita akan menyeleweng jauh dan akhirnya kita tidak bisa menikmati hidup. Orang yang seperti ini, dikatakan oleh Paulus, seperti kapal yang terombang-ambingkan oleh berbagai rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia di dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Dalam kondisi dunia yang seperti ini, makin kita tidak punya prinsip, makin habislah kita. Dalam kondisi seperti ini, seberapa jauh kita betul-betul berjuang habis supaya di semua keadaan kita boleh lepas dari segala sesuatu yang manusia boleh nilai dari hidup kita, tetapi kita bisa secara objektif menggarap hidup kita, memperjuangkan hidup kita sesuai dengan apa yang Tuhan mau. Hal ini akan membuat kita tidak pernah dipengaruhi oleh kekurangan yang paling kurang sekalipun maupun kelimpahan yang paling limpah sekalipun. Pdt. Stephen Tong pernah menasihati saya untuk mati terhadap kritik, artinya kritik apa saja jangan pernah menyentuh hidup/diri saya; juga mati terhadap pujian, artinya pujian apa saja jangan pernah menyentuh hidup/diri saya. Baik pujian maupun kritik cukup dilihat secara analitis, dipakai sebagai masukan untuk kemajuan diri. Hal ini tidaklah mudah, tetapi kalau bisa dikerjakan maka tidak akan ada lagi rahasia kehidupan yang tersembunyi di hadapan kita, kita tidak akan terganggu/stress/patah semangat karena faktor dari luar diri kita (seperti: pujian, kritikan, kaya, miskin). Adalah kekuatan besar didalam kekristenan jika semua kondisi tidak mengganggu kita, lepas dan tidak menyentuh hidup/diri kita. Hidup Kristen adalah hidup yang tidak memusingkan penilaian orang atas diri kita, entah miskin entah kaya, karena yang berhak menilai dan mengatur hanya Tuhan. Seberapa jauh kita mau melewati semuanya itu sampai tidak ada lagi yang menjadi misteri bagi kita, sampai tidak ada lagi yang tertutup di balik bayang-bayang realita yang sesungguhnya, sampai kita bisa membaca secara transparan kejujuran/kebenaran seseorang, dan kita tidak pernah terganggu dengan semuanya itu karena semuanya tidak pernah menyentuh hidup kita? Orang yang hidupnya beres, jujur, tulus, maka semua hal akan terbuka di mata dia, tidak akan ada yang tersembunyi di depan matanya. Kalau kita tidak terpengaruh oleh faktor di luar diri kita tetapi justru dapat menjadikan semuanya menjadi suatu kekuatan menerobos, maka kita akan menjadi kuat di tengah dunia ini. Mampukah kita? Paulus mengatakan bahwa kalau harus menghadapi situasi, orang, tantangan, dunia, iblis yang seperti itu, maka akan terasa berat karena sangat susah. Kita mau berintegritas tetapi orang lain begitu jahat, kita mau kuat tetapi tekanan dunia juga semakin kuat, bagaimana mungkin kita dapat bertahan? Seharusnya kita sadar dan masuk ke point berikut:
3. Filipi 4:13: Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
Menggarap talenta yang Tuhan percayakan dan semua hal lainnya bukanlah hal yang mudah didalam terpaan badai yang besar, bahkan beberapa orang bisa merasa sangat lelah dalam kondisi tertentu, ketahuilah bahwa kita tidak sendirian. Paulus juga mengalami tekanan penganiayaan, lingkungan dan semua situasi yang sangat besar. Pada saat seperti itu kalau dia sendirian maka dia akan berteriak putus asa seperti kita. Jemaat Filipi berposisi sangat rendah di mata para orang kaya yang “gila”, mereka tidak kuat, mereka tidak mampu, tetapi tidak berteriak putus asa. Di sinilah bedanya orang yang menjadi milik Tuhan dan yang bukan. Orang yang menjadi milik Tuhan dan seluruh hidupnya di bawah penjagaan Tuhan, akan mengatakan: Tuhan, saya tidak mampu, tetapi semua bisa kutanggung di dalam Engkau Tuhan yang memberi kekuatan kepadaku. Orang Kristen yang taat pada pimpinan Tuhan akan merasakan penyertaan Tuhan dalam setiap langkah yang dijalaninya di tengah tantangan dunia yang sangat sulit ini. Setiap kali taat, Tuhan akan bukakan jalan satu per satu, sehingga setiap langkah maju kita akan membuat kita bersukacita.
Mari kita mulai saat ini mengambil keputusan untuk mau belajar mengembalikan semua yang ada pada diri kita dan yang Tuhan percayakan kepada kita dengan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh sesuai dengan keinginan Tuhan. Mohon Tuhan berikan kepekaan kepada kita untuk melihat apa yang Tuhan inginkan, lalu taat padaNya dan melepaskan semua ambisi diri. Kalau kita mau belajar seperti itu maka kita akan mengalami seperti Paulus, bagaimana kita memiliki kekuatan mendaya guna, kekuatan kuasa melalui perjuangan yang besar dan sulit tapi Tuhan pimpin di setiap langkah, dan semua hal yang Tuhan percayakan kepada kita hanyalah sebagai modal yang harus kita pakai untuk mengerjakan tanggung jawab kita. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)