Ringkasan Khotbah : 10 Mei 2009

Gift and Responsibility: A Christian Stewardship

Nats: Matius 25:14-30

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Sudah 2 kali hari Minggu kita belajar tentang harta, penatalayanan keuangan dan persembahan. Sebelum kita berbicara tentang ketiga hal diatas, kita mulai dengan membahas tentang “property”. Property bukanlah hal-hal dari luar yang disangkutkan pada diri kita, bukan pula berkaitan dengan tanah, bangunan dan milik kita yang kita tempelkan pada diri kita. Property menyangkut didalam diri kita yaitu bagaimana kita dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Property adalah hal yang kita miliki yang menentukan diri kita itu siapa. Kemudian kita berbicara tentang apa yang Tuhan sediakan di sekitar kita, yaitu tentang harta. Minggu yang lalu kita melihat bagaimana sikap Abraham terhadap harta. Pada hari ini kita mulai masuk ke dalam bagian yang lebih dalam lagi yaitu bagaimana kita mengerti seluruhnya dalam kaitan dengan bagaimana kita mengelolanya, bagaimana kita mengerti respon yang tepat sesuai dengan Firman Tuhan, apa yang sebetulnya menjadi titik akhir yang Tuhan minta/ tuntut kepada setiap kita. Pada hari ini kita akan membahas tentang karunia/ pemberian Allah dan tanggung jawab manusia: sebuah penatalayanan Kristen.

Yang disebut dengan penatalayanan adalah bagaimana kita mengerti apa yang disebut dengan pemberian Allah/ karunia, lalu bagaimana kita bertanggung jawab terhadap hal itu. Konsep ini merupakan konsep yang mendasar karena beberapa waktu yang lalu saya pernah membaca sebuah buku yang menuliskan: seluruh kerusakan di dunia ini dan kerusakan diri kita mulai hanya dengan mengubah/ menggeser satu kata yaitu tanggung jawab menjadi hak. Barangsiapa memperjuangkan hak akan melanggar hak orang lain, maka satu-satunya jalan adalah kita kembali kepada Alkitab, yaitu bagaimana kita berjuang untuk pertanggung jawaban, setiap kita memperjuangkan tanggung jawab kita masing-masing, maka semua hak akan beres.

Matius 25:14-30 memiliki konteks Khotbah di Bukit Zaitun yaitu sebuah serial khotbah yang Tuhan Yesus ajarkan menjelang Dia menuju jalan via dolorosa/ menuju ke kayu salib. Matius 24 dan 25 berbicara tentang eskatologi/ akhir zaman/ bagaimana dunia ini selesai/ titik omega yang terakhir. Maka kalau kita mengerti, seluruh progress kita adalah melihat kepada titik akhir itu. Paulus mengatakan: sampai melihat garis finish kita.

Garis finish/ titik omega dalam Theologi Reformed ada 2 format besar yaitu:

1. secara format makro (makro kosmik)/ totalitas besar yaitu kita melihat seluruh dunia ini pada akhirnya pasti akan menuju ke titik omega. Saat itu Tuhan Yesus akan datang untuk kedua kalinya.

2. secara mikro kosmik yaitu seluruh hidup kita secara pribadi satu per satu suatu saat juga akan mati, inilah yang disebut dengan eskatologi titik omega personal.

Suatu hari nanti kita pasti mati, mau kemanakah kita? Alkitab berkata: untuk tahu titik omega/ titik akhir maka kita harus tahu titik permulaannya, karena kunci untuk mengerti yang terakhir adalah justru di depannya. Di sinilah kembali John Calvin dengan Theologi Reformed nya begitu peka dan serius dengan titik penciptaan sebagai titik sentral pertama. Tuhan mencipta alam semesta, Tuhan adalah pemilik alam semesta ini, itulah titik pertama, barulah kita berbicara titik akhirnya. 

Dalam Matius 25:14-30 Tuhan Yesus mengajak kita melihat titik akhir tetapi Dia mengajak kita melihat dari titik alfa. Esensi cerita tersebut memang mengenai talenta, tetapi titik pusatnya adalah pada titik akhir hidup kita, mau ke manakah kita. Titik akhir dalam cerita ini diwakili dengan 2 format yaitu titik akhir dari hamba yang diberi 5 talenta dan 2 talenta, serta titik akhir dari hamba yang diberi 1 talenta. Hamba yang diberi 5 talenta dan 2 talenta mendapatkan jawaban yang sama persis dari sang tuan yaitu: hai hambaku yang baik dan setia; engkaku telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Hal ini berarti Tuhan Yesus hendak mengatakan: tidak peduli berapapun jumlah talenta yang diberikan kepada kamu, kalau kamu kerjakan baik-baik maka hasilnya akan sama yaitu Tuhan akan membawa kita pada titik akhir nanti dengan berkata: hai hambaku yang baik, masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Inilah yang disebut sukses yang sejati. Yang berhak menilai kesuksesan bukanlah diri kita sendiri, melainkan pemilik alam semesta ini yaitu Dia yang menciptakan kita, Dialah pemilik seluruh hidup kita. Hal ini sesuai dengan hukum relasi pencipta dan ciptaan, yaitu: semua ciptaan ditetapkan berdasarkan tujuan, dirancang, dijadikan oleh pencipta, hasil akhirnya diuji balik oleh pencipta karena dialah yang punya hak penuh.

Hamba yang diberi 1 talenta bukan hanya malas tetapi juga jahat. Maka tuan itu berkata: ambil 1 talenta itu dan berikan kepada orang yang mempunyai 10 talenta. Alkitab melawan konsep komunisme yang berusaha meratakan milik semua orang dengan cara mengambil dari yang punya untuk diberikan kepada yang tidak punya. Rumus Alkitab: siapa mempunyai akan menjadi bertambah banyak, siapa yang tidak mempunyai akan dibiarkan tetap tidak mempunyai. Setelah semuanya diambil, orangnya dibuang ke tempat kegelapan yang paling gelap yang terdapat ratap dan kertak gigi, yaitu neraka.

Jadi di titik akhir nanti hanya ada 2 posisi yaitu : sekelompok orang yang akan disebut sebagai hamba yang baik dan setia dan diajak masuk ke dalam kebahagiaan tuannya, serta sekelompok orang yang akan disebut sebagai hamba yang jahat dan malas yang akan dicampakkan/ dibuang ke neraka. Titik akhir manusia ditentukan oleh Tuhan.

Kunci nats Alkitab kita hari ini adalah pada Matius 25:14-15, itulah tesis dari cerita di dalamnya. Matius 25:16-30 adalah proses dan akhir dari cerita ini.

Matius 25:14: “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Makin akhir Tuhan Yesus semakin memperjelas posisi dari BapaNya, juga kepemilikan dari BapaNya, seperti dalam Yohanes 14-16 yang merupakan pengajaran yang ekslusif dari Tuhan Yesus kepada 11 orang muridNya, dikatakan: BapaKu adalah pemilik kebun anggur, Aku adalah pokok anggurnya, dan kamu adalah carang-carangnya. Ayat dalam Injil Matius diatas menjelaskan tentang titik penciptaan, bahwa Tuhan adalah pencipta, digambarkan dengan 2 hal yang menjadi miliknya yaitu hamba-hambanya dan hartanya. Ini adalah prinsip penting yang disebut dengan proprietorship/ the total ownership yaitu suatu kepemilikian secara total sebagai hak milik yang sah. Allah adalah proprietor atas alam semesta ini karena Dialah yang mencipta seluruh alam semesta ini, tanpa Dia tidak akan ada alam semesta ini. Semua yang ada adalah berasal dari Dia, apapun yang dijadikan dari situ adalah juga milik Dia. Kalau kita mengerti konsep ini maka kita akan mengerti pula bahwa apa saja yang ada di tangan kita bukanlah milik kita karena Allah itulah proprietor asli. Bukan hanya semua harta dan alam semesta ini adalah milik Tuhan, kitapun adalah milik Tuhan, karena semua manusia adalah ciptaan Allah yang menjadi milik Allah. Semua turunan dari milik Allah adalah juga merupakan milik Allah. Mengapa manusia kemudian disebut jahat? Karena ketika manusia diberi tanggung jawab, manusia menolak tanggung jawab itu. Inilah yang menjadikan kita rusak. Jiwa manusia yang malas adalah tidak pernah mau mengerjakan sesuatu yang bukan untuk kepentingan dirinya. Kita mengaku anak Tuhan, kita suka mendapatkan sesuatu, kita suka mendapatkan berkat, tetapi kita tidak suka bekerja bagi Tuhan. Inilah kemalasan. Kemalasan menjadikan kita tidak bersedia menjadi hamba yang sejati. Kalau kita mengerti kita adalah budak Tuhan, seorang budak tidaklah memiliki hak. Budak bukanlah pekerja atau pegawai. Si budak menolak tanggung jawab, bukan hanya itu, si hamba tadi merasa punya hak untuk mengatakan bahwa tuannya kejam karena menuai di tempat dia tidak menanam. Kalimat ini sebenarnya hanya mungkin dikatakan oleh seorang tuan yang memikirkan keuntungan di belakang semua kerja. Jadi hamba yang malas ini bukan hanya berhenti di titik malas melainkan dia juga mulai mengkudeta posisi tuannya. Inilah dosa yang paling esensial yaitu manusia melawan statusnya supaya bisa setara seperti Tuhan Allah. Kalau kita adalah budak yang tidak bekerja dengan baik, maka resikonya adalah mati. Ingat, kita bukanlah pegawai, pegawai saja tidak berhak protes kepada tuannya, dan kalau tidak mau bekerja pasti akan dipecat oleh tuannya. Kita sendiri juga tidak suka punya pegawai seperti itu, tetapi celakanya kita sendiri bertindak seperti itu kepada Tuhan. Kalau kita mengerti hal ini, maka yang dikatakan oleh hamba yang diberi 5 talenta dan 2 talenta adalah tepat sekali yaitu: tuan, talenta yang tuan percayakan sudah saya kerjakan, dan inilah hasilnya saya persembahkan kepada tuan. Inilah konsep yang sejati dari sikap kita seharusnya terhadap seluruh harta, seluruh pemberian, semua yang kita kenal dengan nama “talenta”.

Mengapa ada hamba yang jahat dan malas seperti itu?

1. Konsep yang salah tentang investasi.

Sejauh mana kita sadar bahwa kita berhadapan dengan seorang tuan, yang sedang mempercayakan hartanya dan dia memiliki diri kita sebagai budaknya. Kalau kita memiliki konsep yang benar tentang proprietor, barulah kita akan memiliki konsep yang benar pula tentang investasi. Istilah investasi pada hari ini memiliki arti yang sangat menjijikkan. Investasi yang sesungguhnya adalah pada Matius 25:14 yaitu Allah menginvestasikan hartanya kepada hamba-hambaNya. Yang bertanggung jawab adalah hamba-hambanya. Tetapi pada hari ini, kalau kita menginvestasikan uang kita maka yang bertanggung jawab adalah kita sebagai investor, bukannya orang yang mendapatkan investasi tersebut. Pointnya tetap sama yaitu malas dan jahat, manusia tidak mau tanggung jawab. Semua pemberian yang dipercayakan kepada kita harus direspon dengan tanggung jawab.

Kata ekonomi berasal dari kata oikos yang berarti rumah tangga dan nomos yang berarti aturan. Jadi ekonomi berarti mengatur/ mengelola rumah tangga. Tuhan mempercayakan kepada kita seluruh dunia ini, kita harus bertanggung jawab untuk mengelola semuanya supaya semuanya mendatangkan kesejahteraan bagi semua pihak yang ada di total lingkup kita. Itulah ekonomi. Ekonomi mengutamakan kerja keras. Konsep ekonomi sekarang ini tidaklah demikian, melainkan: dengan modal yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Inilah ketamakan yang merupakan kejahatan. Hal ini sudah melanggar natur ekonomi yang pertama. Manusia maunya kerja gampang tetapi mendapatkan untung besar, maunya enak sendiri dan tidak mau mempedulikan orang lain. Maka Tuhan mengatakan: kamu tidak hanya malas, tetapi juga jahat dan tamak, tidak mau memikirkan orang lain. Tidak hanya sampai di situ, dunia kita makin ke belakang makin gila. Format ke belakang tidak lagi tamak tetapi lebih gila dari tamak. Filosofi yang terakhir tidak lagi bekerja keras dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan untung yang sebesar-besarnya, melainkan: tidurlah, biarkan uang yang mencari uang. Hal ini berarti mau mendapatkan untung tanpa mau bekerja, artinya biar orang lain yang bekerja setengah mati dan kita tinggal menikmati hasilnya. Dari manakah uang yang bisa kita dapatkan dengan tanpa bekerja? Berarti ada uang orang lain yang hilang yang pindah ke kantong kita, karena kita tidak bekerja. Inilah yang seharusnya merupakan hak dari Tuhan tetapi dijadikan hak manusia. Hak ini adalah hak proprietor asli bukan proprietor palsu. Alkitab berkata: barangsiapa tidak bekerja, tidak boleh makan.

2. Kepercayaan yang diabaikan.

Investasi mengharuskan kita melihat konsep penting yaitu manusia adalah orang yang Tuhan percayakan menanggung investasi. Alkitab mengatakan: tidak semua mendapatkan sejumlah yang sama. Tuhan tidaklah ngawur. Setiap orang dipercaya sejauh kapasitas tiap-tiap orang. Adalah tidak mudah untuk menjadi orang yang bisa dipercaya, tetapi betapa bahagianya kalau Tuhan mempercayai kita. Kalau kita masih dipercaya begitu banyak oleh Tuhan, jangan sekali-kali mempermainkan tanggung jawab itu. Kepercayaan adalah sesuatu yang besar luar biasa. Kalau kepercayaan itu hilang, betapa celakanya kita. Tetapi, kepercayaan haruslah dibayar dengan tanggung jawab.

Orang dunia tahu sekali bahwa kalau kepercayaan kita langgar sampai orang tidak bisa percaya lagi sama kita, berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Membeli, menebus dan membayar kepercayaan adalah mahal. Seberapa jauh kita punya tanggung jawab cukup untuk menjalankan yang Tuhan mau, sehingga Tuhan masih mempercayakan kepada kita pekerjaan-pekerjaan besar karena kita bertanggung jawab untuk pekerjaan yang kecil. Ketika Tuhan mempercayakan pekerjaan, harta, talenta, kepandaian, ketrampilan, dll kepada kita, kita kerjakan dengan baik dan tanggung jawab, bukan untuk kepentingan diri, bukan untuk pamor, bukan untuk nama, bukan untuk keuntungan diri, semua kembali untuk Tuhan, maka Tuhan akan mempercayakan kepada kita pekerjaan lagi yang besar. Ada orang yang mengatakan: habis, hanya diberi 1 talenta. 1 talenta itu besar sekali nilainya, paling murah 180 juta rupiah, paling banyak 600 juta rupiah, tapi secara gambaran umum nilainya bisa mencapai 1,5 milyar rupiah. Hal itu berdasarkan perhitungan demikian: 1 talenta adalah harga 1 ekor unta, unta pada zaman itu setara dengan Mercedes S500 (perhitungan kasar); secara perhitungan angka: 1 talenta setara dengan 6000 dinar, 1 dinar adalah upah kerja sehari secara umum. Tuhan berkata: Saya mempercayakan talenta kepadamu, bahkan 1 talenta pun termasuk angka yang besar, dan ketika Saya mempercayakan kepadamu, Saya minta kamu bertanggung jawab, kembangkanlah itu. Saya hanya menuntut 1 talenta kepada yang diberi 1 talenta, tidak lebih dari itu. Di sini Tuhan dengan keadilan yang begitu dahsyat memberi kita konsep mempercayakan kepercayaan yang begitu besar. Alkitab mengajarkan konsep non kompetitif. Kompetisi itu tidak sah di dalam kebenaran Firman, karena setiap orang mendapatkan talenta yang berbeda. Setiap kita berbeda. Orang yang diberi 5 talenta dituntut 5 talenta, yang diberi 2 talenta dituntut 2 talenta, yang diberi 1 talenta dituntut 1 talenta. Tuhan tidak pernah meminta 5 talenta dari orang yang diberi 1 talenta. Orang yang diberi 10 talenta tetapi hanya mengerjakan 8 talenta, termasuk kategori tidak bertanggung jawab. Kita tidak boleh membandingkan diri dengan yang mengerjakan sedikit talenta. Makin kita diberi banyak, kita dituntut banyak; diberi sedikit dituntut sedikit. Janganlah iri. Kita harus bekerja sebaik mungkin, habis-habisan, mengerjakan yang paling berkualitas. Prinsip Theologi Reformed: bekerja haruslah: kerja keras, bermutu tinggi di tempatnya, hemat, dan memberi berkat. Tanggung jawab kita jangan dibandingkan dengan yang lain. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana penilaian Tuhan. Dia yang memberi, Dia yang berhak menuntut berapa yang harus kita kembalikan kepadaNya. Orang diberi banyak adalah sengsara luar biasa. Alkitab berkata: berbahagialah kamu yang miskin, celakalah kamu yang kaya. Makin kita kaya, makin celakalah kita, karena kekayaan makin besar berarti tuntutan juga semakin besar. Makin besar tuntutan maka makin besar pula tanggung jawab yang harus diberikan, godaan juga makin besar. Kalau tidak punya daya tahan untuk mengatasi hal itu, maka akan jebol.

3. Mentalitas kerja yang salah.

Problematika kerusakan manusia didalam relasi kita mencapai garis akhir, bukan persoalan kita tidak ada talenta. Alkitab mengatakan: sekecil-kecilnya seorang menerima 1 talenta, tidak ada yang tidak diberi talenta. Sekecil apapun talenta yang kita dapatkan dari Tuhan, haruslah kita pertanggungjawabkan. Tidak ada yang dinganggurkan oleh Tuhan. Kalau sampai kita merasa tidak punya apa-apa, adalah suatu tanda tanya. Mengapa kita bisa tidak punya apa-apa? Dunia mengatakan bahwa semua yang kita dapatkan adalah berasal dari luar diri kita, sehingga kita menjadi iri hati ketika tidak mendapatkan apa-apa. Alkitab berkata: setiap orang sudah mendapatkan di dalam diri masing-masing, perjuangkan itu, kerja keras, cari apa yang ada di dalam dirimu. Seringkali kita tidak suka point ini karena kemalasan kita. Mentalitas kerja kita: kita hanya suka mengerjakan apa yang kita suka, dan semua yang kita suka adalah yang gampang, yang enak, yang nyaman, yang menguntungkan, yang menyenangkan. Sedangkan yang susah, yang setengah mati pergumulannya, yang banyak korbannya, yang setengah mati mencapainya, kita tidaklah suka, apalagi kalau bidangnya juga tidak kita sukai. Kalau kita mau menerobos dengan mengerjakan apa yang tidak kita suka, di situlah kita dapat mengerjakan yang terbaik karena di situlah talenta yang Tuhan tanamkan. Kita akan mengerjakan sesuatu yang besar. Seringkali kita menutupi ketidak sukaan kita dengan mengatakan: bukan di situ beban saya. Pdt. Stephen Tong seringkali mengatakan bahwa yang disebut sebagai beban seringkali adalah apa yang kita suka dan merupakan sesuatu yang ringan, beban yang sesungguhnya adalah sesuatu yang berat yang diletakkan pada diri kita. Beban yang sesungguhnya inilah yang seringkali kita tolak. Tuhan berkata: kuk yang Kupasang itu ringan. Mari kita belajar bertanggung jawab terhadap apa yang Tuhan berikan sehingga pada akhirnya nanti Tuhan akan berkata kepada kita: hambaKu yang setia, masuklah ke dalam kebahagiaan tuanmu. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)