Ringkasan Khotbah : 03 Mei 2009

The Uniqueness of Paul's Pastoral Ministry

Nats: 1 Tesalonika 3:1-5

Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta

 

Kalau kita baca ayat 1 dari 1Tesalonika 3:1-5 ini ada 1 kalimat yang aneh yang membuat saya bertanya: mengapa Paulus tidak bisa tahan lagi sehingga dia mengambil keputusan untuk tinggal seorang diri di Atena. Mengapa ketidak tahanan ini dia sebutkan sampai 2 kali yaitu di ayat ke-1 dan ayat ke-5? Bukankah jemaat Tesalonika adalah jemaat kebanggaan Paulus karena mereka menjadi jemaat teladan bagi setiap orang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya (1Tesalonika 1:7)? Apakah mungkin Paulus merasa bersalah karena sebelumnya ketika dia melayani orang-orang di Tesalonika selama 3 kali Sabat itu, setelah pelayanannya itu terjadi masalah-masalah besar yaitu kerusuhan di kota Tesalonika yang akhirnya memaksa mereka keluar dari Tesalonika dan menyebabkan kesulitan-kesulitan bagi orang di Tesalonika ini? Ada orang mengatakan hal tersebut adalah mungkin, tetapi saya melihat hal ini bukan karena dia merasa bersalah sehingga dia tidak bisa tahan lagi tetapi pada bagian ini dia melihat adanya suatu urgenitas, ada 1 kepentingan yang sangat mendesak sehingga Paulus menyimpulkan dan menuliskan kalimat itu. Inilah yang menjadi bagian yang akan kita pikirkan pada saat ini.

Pada saat ini kita bicara mengenai keunikan pelayanan pastoral yang dilakukan oleh Paulus sebagai hamba Tuhan kepada salah satu jemaat. Pelayanan pastoral bisa dilakukan di dalam kaitannya dengan hubungan pribadi dengan pribadi, bisa juga antara pribadi dengan sekelompok jemaat. Pelayanan pastoral di gereja-gereja kadang-kadang menjadi sesuatu yang kurang diperhatikan.

2 orang penulis buku yang berjudul “Why Churches Die?”, yang bernama Mac Brunson dan Ergun Caner, mengamati bahwa di Amerika Serikat terjadi suatu keadaan yang menyedihkan dimana gereja-gereja yang berdiri itu telah menjadi suam-suam dan akhirnya mati. Di dalam bukunya mereka menulis bahwa sekarang ini begitu banyak orang yang enggan datang ke kebaktian, bahkan tidak hanya orang awam tetapi juga orang yang aktif di gereja yang sudah terlibat di sekian banyak pelayanan akhirnya semangatnya menjadi kendor, bahkan juga ada suatu realita bahwa para hamba Tuhan, para pengkhotbah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri. Ini adalah suatu realita yang menyedihkan yang diamati oleh kedua orang ini. Di bagian lain dari tulisannya, mereka mengatakan bahwa memang lebih mudah bagi sebuah lembaga Kristen dan sebuah gereja untuk mengadakan pelayanan tanpa menyentuh orang-orang di dalamnya, lebih mudah bagi sebuah gereja untuk menjalankan program-programnya apabila gereja itu tidak memperhatikan pergumulan hidup anggotanya. Mengapa timbul kecenderungan ini didalam pelayanan khususnya juga di Indonesia ini? Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan didalam pelayanan pastoral ini.

Mengapa pelayanan pastoral adalah suatu pelayanan yang penting? Ada beberapa alasan kalau kita lihat dari Tuhan Yesus sendiri yaitu:

1. Theological Calling (panggilan theologis)

 Yohanes 10:11-12: Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Inilah yang disebut sebagai panggilan theologis di dalam kehidupan Tuhan Yesus sendiri, Tuhan Yesus menyatakan diri sebagai seorang gembala, bahkan bukan sekedar gembala tetapi gembala yang menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya. Pelayanan pastoral ini adalah suatu pelayanan dimana Dia memberikan gambaran yang jelas tentang DiriNya.

J. A. Adam ketika menulis sebuah buku “Sheperding God’s Flocks”, dia memberikan suatu gambar yang menarik sebagai gambar cover daripada buku itu. Disana digambarkan seorang manusia yang tangannya menunjuk, sebagai seorang gembala yang memakai baju yang modern, dan di tengah-tengahnya ada domba-domba yang ke sana dan ke mari, sehingga gembala ini perlu menunjuk satu arah dan perlu berteriak-teriak. J.A Adam mengatakan: begitu banyak tuntutan yang diberikan oleh domba-domba di tengah-tengah keterbatasan domba itu sendiri yang tidak memiliki kepekaan akan serangan-serangan serigala dari sekitarnya, maka domba-domba itu sangat perlu dijaga dan diperhatikan.

Di dalam bagian inilah Tuhan Yesus memiliki suatu konsep yang jelas dalam hidupNya, bahwa Dia melayani bukan sekedar Dia ada di tengah-tengah pelayanan seperti itu tetapi Dia datang untuk menyerahkan nyawaNya. Suatu pengertian dan kesadaran akan panggilan theologis yang begitu mendalam.

2. Theological Office (jabatan theologis)

Di tengah-tengah jabatan Tuhan Yesus sebagai raja, sebagai imam dan sebagai nabi, Dia menyadari bahwa di tengah-tengah ketiga jabatan yang luar biasa itu didalamnya ada terselip secara implisit satu jabatan sebagai seorang gembala. Sebagai nabi yang mengajarkan kebenaran, Dia pergi dari satu tempat ke tempat yang lain, berkhotbah kepada banyak orang, pada saat yang lain Dia memberikan penjelasan kepada Nikodemus seorang diri, pada saat yang lain lagi Dia  berkhotbah kepada  sedikit orang, Dia

mengunjungi orang-orang tertentu yang sederhana. Ini adalah suatu contoh bahwa jabatan sebagai gembala secara implisit terkandung didalam ketiga jabatan yang agung itu yaitu sebagai raja, imam dan nabi.

3. Theological example (contoh theologis)

Dalam kehidupan Saulus. Tuhan Yesus dalam pertemuanNya dengan Saulus juga memberikan pengaruh yang besar terhadap Paulus.

Dalam Kisah Rasul 9:4: Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Ketika Saulus bertemu dan mengalami penampakan yang luar biasa itu, sebagian orang banyak mengatakan bahwa ini adalah lawatan Tuhan secara pribadi, pelayanan pastoral yang dilakukan oleh Tuhan kepada Saulus, maka setelah itu dia mengalami perubahan yang nyata, perubahan yang begitu dalam dan radikal, perubahan yang begitu esensial dalam kehidupan Saulus. Kalau kita lihat Kisah Rasul 9:11-12,  ternyata Tuhan tidak membiarkan Paulus sendirian. Didalam ayat 11 dikatakan: Firman Tuhan: “Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsuss yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Kita bisa membayangkan apabila Tuhan tidak menindaklanjuti dengan mengutus Ananias kepada Saulus, bahkan mungkin Saulus akan menjadi buta seumur hidup, mungkin Saulus akan tidak bisa kita kenal dengan tulisan-tulisannya sampai saat ini. Hal ini merupakan pelayanan Tuhan didalam pelayanan pastoral yang begitu unik didalam kehidupan Saulus.

Sama seperti Tuhan ketika mengunjungi Saulus, maka Paulus mengutus Timotius pun karena dia memiliki suatu alasan yang khusus.

Bukankah jemaat ini adalah jemaat yang luar biasa, jemaat yang menjadi kebanggaan Rasul Paulus, jemaat yang menjadi teladan bagi semua orang percaya bukan sekedar di kota Tesalonika, tetapi juga bagi wilayah Makedonia dan Akhaya dimana di kedua wilayah itu ada jemaat yang begitu besar seperti: jemaat Korintus, jemaat Berea dan kota-kota lain. Di tengah-tengah kualitas jemaat yang begitu indah tetapi Paulus menyatakan bahwa dia tidak dapat tahan lagi karena itu kami mengambil keputusan untuk tinggal seorang diri di Atena, lalu kami mengirim Timotius. Apa sebetulnya yang menjadi dasar? Inilah yang menjadi keunikan pelayanan pastoral daripada Paulus.    

Ada 3 sifat karakteristik dari pelayanan pastoral yang dilakukan oleh Paulus yaitu:

1. Theological Concern (perhatian theologis)

Kalau kita baca 1Tesalonika 3 ini maka kita bisa melihat bahwa masalah terbesar dalam bagian ini adalah masalah iman. Masalah iman inilah yang membedakan antara pelayanan pastoral Paulus dengan pelayanan pastoral dari orang-orang yang tidak mengerti untuk apa sesungguhnya melakukan pelayanan visitasi, apa tujuan melakukan kunjungan, apa tujuan melakukan pembimbingan. Mungkin orang hanya berhenti pada masalah-masalah yang bersifat fenomena, mereka mungkin berhenti pada masalah ekonomi, penyakit, masalah-masalah tertentu didalam kehidupan jemaat yang dikunjunginya, tetapi mereka tidak melihat iman yang ada didalam diri orang itu.

Cornelius Van Til dalam bukunya “Reformed Pastor in The Modern World” mengatakan bahwa ketika seorang hamba Tuhan, seorang pelayan Tuhan mendatangi jemaatnya, maka dia berhadapan dengan iman-iman yang mungkin sedang goyah, orang-orang yang sedang bimbang dalam kehidupannya. Paulus dalam 1Tesalonika 3:3 menuliskan: supaya jangan ada orang yang goyang imannya karena kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahu, bahwa kita ditentukan untuk itu. Itulah tujuan/ concern yang penting dari Paulus yaitu suatu pimpinan dalam kaitannya dengan iman. Sampai berapa jauhkah iman itu berdampak? Mengapa iman menjadi bagian yang penting yang tidak bisa dilepaskan dari bagian pelayanan Paulus didalam pelayanan pastoral ini? Iman menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan seseorang, iman yang puluhan tahun dipegang adalah suatu iman yang betul-betul menjadi patokan hidup seseorang. Realita kehidupan adalah sebuah realita yang tidak bisa diingkari, tetapi Paulus melihat ini sebagai bagian pembentukan iman dan bagaimana realita iman itu.

Dalam 1Tesalonika 3:5 ada suatu perkataan yang lebih mencengangkan lagi yaitu: ... dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia. Paulus sangat takut, bukankah Paulus adalah orang yang sangat terkenal dengan pemahaman akan kedaulatan Allah-nya, yang begitu kuat pemahamannya tentang bagaimana pemeliharaan Allah terhadap kehidupan dan pelayanan? Mengapa muncul kalimat itu, padahal didalam 1Tesalonika 2:1 dikatakan: kamu sendiri pun memang tahu, saudara-saudara, bahwa kedatangan kami di antaramu tidaklah sia-sia. Mengapa muncul suatu keraguan di ayat 5 bagian akhir ini? Paulus menyadari adanya tanggung jawab pribadinya, ditengah-tengah kedaulatan Allah, dia memiliki tanggung jawab didalam menata dan membina pelayanan ini. Dia memiliki suatu tanggung jawab didalam hidupnya yaitu memperhatikan kehidupan iman dari orang-orang yang ada di Tesalonika.

Pelayanan pastoral ministry adalah seperti pelayanan dapur yang seringkali lebih banyak kotornya daripada bersihnya. Apa bedanya seorang mama dengan seorang pembantu? Seorang mama bekerja/ melayani keluarganya berdasarkan cinta kasih yang sejati kepada keluarganya, sedangkan seorang pembantu yang malas kalau tidak disuruh tidak akan jalan, dia merasa ada di rumah itu karena digaji, seperti gambaran dari Tuhan Yesus tentang gembala upahan. Inilah bedanya orang yang mencintai dengan orang yang melakukan sesuatu sebagai suatu profesi. Jadi pelayanan pastoral yang dilakukan oleh Paulus bukanlah pelayanan pastoral yang rutin, tanpa kasih, dia bisa memilih prioritas mana yang terpenting.

2. Theological Purpose (tujuan theologis)

Pelayanan pastoral yang Paulus lakukan memiliki tujuan theologis didalam setiap jemaat yaitu adanya kehidupan yang semakin lama semakin kudus. Dalam 1Tesalonika 1:9-10 kita melihat kondisi orang-orang di Tesalonika ini adalah kondisi yang baik, dikatakan: Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, dan untuk menantikan kedatangan AnakNya dari sorga, yang telah dibangkitkanNya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang. Di dalam hal ini Timotius diutus agar orang Tesalonika diteguhkan imannya setelah mereka berbalik dari penyembahan berhala.

Paulus menyadari bahwa di tengah-tengah kehidupan anak-anak Tuhan, ada peperangan rohani didalamnya. Dalam Surat Efesus Paulus mengingatkan kita untuk menggunakan perlengkapan rohani pada saat kita sudah menjadi anak-anak terang. Dalam 1 Tesalonika 4 Paulus memberikan penjelasan tentang nasihat hidup yang kudus, bahkan dalam pasal ke-5 Paulus melanjutkan dengan sikap berjaga-jaga. Ini adalah tujuan Paulus jangka panjang yaitu orang yang hidup didalam gereja adalah orang yang boleh hidup didalam kekudusan Allah, yang menjalankan kehidupan yang benar di hadapan Allah.

Cornelius Van Til mengatakan bahwa yang menjadi masalah didalam kehidupan anak-anak Tuhan bukanlah masalah yang dihadapi tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana dia dengan paradigma berpikirnya menyelesaikan masalah itu, bagaimana dia dengan pemahaman imannya bisa menyelesaikan masalah itu. Ketika Paulus melihat bahwa di tengah-tengah kehidupan ini ada sesuatu yang penting dan adanya tujuan jangka panjang didalam pelayanan pastoral ini, maka Paulus tidak segan-segan mengutus Timotius, padahal dia masih sangat membutuhkan Timotius di Atena.

3. Theological Team-work (tim kerja theologis)

1Tesalonika 3:2: Lalu kami mengirim Timotius, saudara yang bekerja dengan kami untuk Allah dalam pemberitaan Injil Kristus, untuk menguatkan hatimu dan menasihatkan kamu tentang imanmu. Paulus menyadari bahwa ditengah-tengah tantangan pelayanannya, dia tidak mungkin menggarap sendiri seluruh kota yang pernah diinjilinya, yang pernah dikunjunginya, diajarinya, oleh karena itu dia perlu mengutus orang-orang yang dia percaya, orang-orang yang memiliki suatu kapabilitas, dan dia memiliki tim kerja.

Ada jemaat yang merasa pergumulan hidupnya adalah merupakan pergumulan untuk mengerti kehendak Tuhan, tetapi kadang-kadang juga ada jemaat yang sangat kabur di dalam mengerti kehendak Tuhan. Dibutuhkan suatu tim kerja yang bersifat illahi yaitu tim kerja yang menjunjung tinggi kebenaran Allah untuk melakukan pelayanan pastoral kepada mereka. Marilah kita melihat pelayanan Paulus di Tesalonika ini. Di tengah-tengah bagian pelayanannya dia mengutus Timotius untuk datang kepada orang-orang di Tesalonika, dan Timotius adalah juga orang yang mereka kenal walaupun secara otoritas berada di bawah Paulus. Ketika orang-orang Tesalonika bertemu dengan Timotius, dalam 1Tesalonika 3:6-7 dituliskan: Tetapi sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin berjumpa dengan kamu, maka kami juga, saudara-saudara, dalam segala kesesakan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu. Mengapa harus Timotius yang diutus, mengapa bukan orang lain yang diutus? Karena masalahnya adalah didalam masalah iman, dan pengajaran yang sesat yang bisa ditangani oleh orang yang mengerti theologi. Terkadang kita bisa menjadi saluran berkat bagi setiap kita walaupun pemahaman theologi kita tidak mendalam. Kita janganlah sombong dengan merasa kita datang ke rumah orang untuk menghibur, tetapi kita mungkin datang ke rumah orang adalah untuk menyaksikan kekuatan iman dari orang yang kita kunjungi sehingga kita menjadi terhibur.

Pelayanan pastoral adalah suatu pelayanan yang panjang. Mungkin kita lebih mudah mempertobatkan orang, menjadikan orang tidak lagi menyembah berhala, tetapi sangatlah sulit membangun iman dan yang hidup didalam kekudusan, sangat sulit membangun iman yang penuh dengan kemenangan, sangat sulit dalam memasuki peperangan demi peperangan. Itulah sebabnya kita membutuhkan tim kerja. Pelayanan pastoral membutuhkan tantangan tersendiri dimana kita bisa membawa kehidupan orang itu mengerti kehendak Allah didalam pergumulan imannya. Bagaimana kita bisa menjadikan kehidupan kita sebagai suatu teladan bagi orang-orang di sekitar kita? Saya rindu jemaat di GRII juga bisa menjadi teladan bagi setiap orang percaya di wilayah Jawa Timur, di Indonesia Timur. Bukanlah suatu kebetulan kalau nama dan alamat GRII dan MRII dicantumkan didalam warta jemaat, tetapi untuk menunjukkan bahwa kita adalah saksi-saksi pekerjaan Tuhan di seluruh dunia dibawah payung GRII. Yang menjadi pertanyaan adalah: seberapa besar kita bisa menjadi saksi itu dari tempat yang dekat sampai tempat yang jauh sekalipun? Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)