|
Ringkasan Khotbah : 26 April 2009
Nats: Kejadian 14:17-24 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Untuk membahas tentang harta, penatalayanan keuangan dan persembahan yang perlu kita ketahui terlebih dahulu adalah apa yang dimaksud dengan “property”. Property seringkali dimengerti dan diartikan sebagai tanah, bangunan, rumah oleh orang dunia. Konsep ini muncul karena orang seringkali mengkaitkan nilai diri dengan “apa yang dimiliki”, sedangkan “apa yang dimiliki” sejak zaman dahulu selalu dikaitkan dengan tanah. Orang yang memiliki tanah banyak dikategorikan sebagai orang besar. Alkitab berkata bahwa adalah suatu kecelakaan besar apabila property digantungkan pada sesuatu diluar diri manusia. Property adalah hal-hal milik yang menentukan bagaimana pemiliknya. Property dalam pengertian theologis lebih dimengerti sebagai karakter dasar atau sifat atribusi dasar yang dimiliki yang mencakup ke dalam diri pemiliknya. Manusia memiliki 2 property utama yaitu memiliki natur dicipta menurut gambar dan rupa Allah (berarti manusia begitu berharga dan unik karena memiliki atribusi turunan dari Allah, sampai Tuhan Yesus mau mati untuk menebus kita), memiliki posisi yang dahsyat yaitu sebagai penguasa/ posisi dominion atas seluruh alam semesta karena manusia taat kepada Allah. Ketika manusia tidak mengakui Tuhan Allah, manusia jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi rusak sehingga manusia berada dibawah penguasaan seluruh alam semesta termasuk iblis, materi dan binatang. Karena itulah Tuhan menebus manusia untuk mengembalikan manusia di posisinya yang asli yaitu sebagai gambar dan rupa Allah, yang taat kepada Allah, dan yang menguasai seluruh alam semesta.
Setelah kita mengerti arti kata property yang sesungguhnya, lalu bagaimana kita mengerti hal-hal di sekeliling kita yang disebut dengan harta/ treasures. Bagaimana seharusnya kita memahami segala hal yang berada di bawah penguasaan kita dan setelah itu bagaimana kita harus berespon? Tema khotbah kali ini membutuhkan kita membahas beberapa ayat Alkitab tetapi saya tetap mencoba untuk memakai 1 nats ayat Alkitab sebagai bahan eksposisi, sedangkan ayat Alkitab yang lain berfungsi sebagai komplemen dari ayat utama yang dibahas. Pertama-tama saya akan mengajak kita melihat PL untuk mendapatkan konsepnya, kemudian kita melihat PB sebagai implementasi dari konsep PL.
Nats Alkitab kita hari ini: Kejadian 14:17-24 yang berbicara tentang Abram yang baru saja pulang dari peperangan melawan Kedorlaomer. 12 tahun sudah Sodom dan Gomora berada di bawah penjajahan Kedorlaomer, pada tahun ke-13 raja-raja Sodom, Gomora dan sekitarnya menyatakan diri lepas dari Kedorlaomer, tetapi pada tahun ke-14 terjadilah peperangan antara raja-raja tersebut dengan Kedorlaomer dan raja-raja itu kalah. Akibatnya: seluruh rakyat berikut harta bendanya, termasuk Lot dan keluarganya, menjadi tawanan Kedorlaomer. Pada saat itu ada seorang bujang yang berhasil melarikan diri dan melaporkan hal ini kepada Abram yang sedang berada di Mamre. Abram kemudian membawa 318 orangnya untuk pergi membebaskan Lot dari tangan Kedorlaomer. Kedorlaomer kalah sehingga seluruh tawanan berbalik menjadi milik Abram. Raja Sodom mencoba meminta kembali rakyatnya dari tangan Abram dengan pemikiran bahwa Abram tidak akan peduli dengan permintaannya itu kecuali kalau dia meminta harta bendanya. Mari kita mempelajari bagaimana sikap Abram yang takut akan Tuhan melihat harta kepemilikan.
Pertama-tama kita akan melihat konsep harta di dalam PB, karena PB memberikan kepada kita dasar-dasar konsep untuk kita menafsir PL. Dalam PB kata “harta” muncul dalam 3 macam kata bahasa Yunani yang memiliki pengertian yang saling berkait sehingga kita bisa mengerti bagaimana Alkitab menginterpretasi/ mengerti tentang harta. 3 kata tersebut adalah:
1. skeuos (Inggris: goods/ vessel), artinya: perabot/ perlengkapan/ sarana
Matius 12:29: Atau bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya (skeuos) apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu? Sesudah diikatnya barulah dapat ia merampok rumah itu.Jadi harta adalah semua yang disediakan di sekeliling kita untuk memperlengkapi hidup kita. Manusia bukanlah dikendalikan oleh apa yang ada di sekelilingnya tetapi justru mendapatkan pengembangan dari apa yang ada di sekelilingnya. Sebelum Tuhan mencipta manusia sebagai puncak seluruh ciptaan, Tuhan mencipta semuanya yang dibutuhkan oleh manusia agar manusia dapat hidup dan berkembang, itulah tujuan penciptaan.
Pada waktu Abram pulang dari perang melawan Kedorlaomer, dia melakukan pembicaraan dengan raja Salem yaitu Melkisedek, sebelum dia berbicara dengan raja Sodom. Melkisedek memberkati Abram, katanya: Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi. Ini adalah konsep yang sangat penting, yang menyadarkan Abram untuk melihat kemenangannya sebagai sesuatu hal yang Allah kerjakan bagi dia. Karena Tuhan adalah pencipta langit dan bumi, maka segala hal yang ada di sekeliling kita adalah ciptaan Tuhan bagi kita untuk mengembangkan diri kita.
Hal ini merupakan perjuangan seumur hidup kita. Untuk itu kita harus mengenal Allah kita. Jadi semua harta yang Tuhan percayakan kepada kita adalah untuk menumbuhkan kualitas hidup kita. Ketika kita me -
miliki penghasilan yang pas-pasan/ level hidup medium, tetapi kita tetap berusaha untuk menyisihkan sedikit uang dari penghasilan kita, untuk apakah uang tersebut? Di sinilah akan tampak perbedaan yang mencolok antara orang dunia dan anak Tuhan, orang dunia akan segera memakai uang sisa tersebut untuk nonton atau makan di restaurant, anak Tuhan yang baik akan memakai uang sisa tersebut untuk beli buku theology yang bermutu atau mengikuti seminar theology yang bermutu. Uang sisa didalam kondisi yang pas-pasan tadi bisa dipakai untuk menghancurkan diri atau untuk mengembangkan diri/ meningkatkan kualitas hidup.
Iblis bertindak kebalikan dari Tuhan. Kalau Tuhan menciptakan semuanya dengan begitu bagus, iblis tidak pernah mencipta dengan bagus tetapi memakai ciptaan Tuhan untuk memlintir apa yang Tuhan sediakan. Tuhan menciptakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat untuk digunakan sebagai suatu referensi bagaimana Adam dan Hawa belajar berkualitas untuk taat kepada Tuhan, belajar berohani tinggi untuk ikut Tuhan, tetapi iblis melecehkan semua yang Tuhan ciptakan dan juga memutar balik semua yang Tuhan sediakan sehingga semuanya dipakai untuk merusak manusia.
Dunia kita sangat konsumeristis, berbagai tipuan diberikan kepada kita, sehingga semua hal yang begitu indah yang Tuhan berikan kepada kita yang seharusnya membawa kita untuk hidup semakin rohani, semakin memuliakan Tuhan, bertumbuh didalam kualitas kehidupan kita, justru kita pakai untuk memboroskan/ menghancurkan hidup kita sehingga kita hidup semakin hari semakin rendah. Ketika manusia diterpa dengan konsumerisme, manusia menjadi bodoh sehingga dia tidak mengerti bagaimana mengatur harta yang Tuhan berikan.
Harta didalam konsep dunia adalah milik saya yang bisa saya kuasai dan menjadi kekuatan saya untuk bisa melakukan apa saja.
Abram tidak diperkenankan untuk merendahkan hidupnya dengan harta yang ada di tangannya, karena itu Allah memakai Melkisedek untuk mengingatkan dia bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi. Ketika raja Sodom meminta kembali rakyatnya dari Abram dan membiarkan harta bendanya tetap di tangan Abram, Abram menjawab: Aku tidak akan mengambil apa-apa dari kepunyaanmu itu, sepotong benang atau tali kasut pun tidak, supaya engkau jangan dapat berkata: Aku telah membuat Abram menjadi kaya. Abram memulangkan semua harta raja Sodom karena dia senantiasa sadar bahwa semua miliknya adalah berasal dari Allah pencipta segenap alam semesta ini. Kalau kita bisa mempunyai dignitas seperti ini, dimana uang tidak pernah membuat mata kita menjadi hijau dan hidup kita menjadi rendah dan begitu dihina orang, kita tidak akan menjadi orang yang rakus dan egois.
2. thesauros (Inggris: treasures), artinya: investasi
Thesauros adalah apa yang Allah berikan kepada manusia yang nantinya akan dituntut pertanggungjawabannya oleh Tuhan. Kalau Tuhan menginvest sesuatu, Tuhan akan menuntut balik dengan pertanggung jawaban penuh. Semua yang ada di sekeliling kita, yang diberikan kepada kita, bukanlah milik kita yang bisa dipergunakan dengan semau-maunya. Semuanya itu adalah milik Tuhan. Melkisedek memperingatkan Abram bahwa Tuhan memberkati Abram. Melkisedek adalah Imam Allah Yang Mahatinggi, datang dengan membawa roti dan anggur (merupakan lambang dari perjamuan kudus di PB ribuan tahun yang akan datang). Melkisedek adalah gambaran Kristus di PL. Abram diingatkan oleh Melkisedek untuk melihat segala hal yang terjadi dari sudut pandang Tuhan. Allah memberkati Abram dan telah menyerahkan musuhnya ke tangan Abram. Inilah yang disebut sukses. Ketika Abram mendengar perkataan Melkisedek itu, reaksi Abram yang langsung muncul adalah dia memberikan perpuluhan. Inilah perpuluhan pertama di PL.
Kapan orang dengan mudah memberikan persembahan/ perpuluhan? Ketika orang tahu bahwa semua yang ada pada dirinya adalah anugerah dari Tuhan. Inilah prinsip dari persembahan. Orang yang merasa semua hartanya adalah miliknya dan karena usahanya, akan sangat tidak rela untuk memberikan persembahan walau hanya 1%. Orang yang makin kaya akan makin sulit memberi. Inilah kerakusan manusia. Kita bisa memberikan 10% dari harta kita karena kita sudah terlebih dahulu menerima 100% nya. Hal ini berbeda dengan konsep gereja berdosa saat ini yang mengajarkan: kalau kita memberi persembahan maka kita akan menerima dari Tuhan berpuluh-puluh kali lipat. Konsep persepuluhan menjadi pancingan untuk mendapatkan ganti berpuluh kali lipat.
Dalam PB, kata “thesauros” terdapat di Lukas 16:1-13, yang menceritakan tentang bendahara yang tidak jujur, ketahuan oleh tuannya. Karena takut dipecat, dia memakai Mamon yang jahat untuk membangun keuntungan diri. Caranya dengan memanggil orang-orang yang berhutang kepada majikannya, mengganti surat hutang mereka dengan mengurangi nilai hutangnya. Tuhan Yesus berkata: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi. Bendahara di cerita diatas tengah menggunakan/ mempermainkan uang untuk mendapatkan relasi. Hal yang hendak diajarkan dari perumpamaan diatas adalah uang yang jahat bisa dipakai untuk membangun, untuk menghasilkan nilai yang besar, itulah yang disebut dengan keuntungan/ investasi. Kita harus bisa menggunakan benda-benda mati di sekeliling kita untuk mendapatkan hidup yang berkualitas tinggi, untuk mencapai nilai yang sangat besar. Hidup dan kualitas hidup adalah jauh bernilai daripada materi. Pakailah materi untuk membangun kehidupan. Tetapi cara yang dipakai oleh bendahara itu tidaklah betul. Lukas 16:11-12: Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Orang yang mengutamakan Allah tidaklah mungkin menyembah uang, sebaliknya orang yang mengutamakan uang tidaklah mungkin menyembah Allah. 2 tuan ini yaitu Allah dan Mamon tidaklah mungkin bersatu, karena berlawanan total secara mendasar. Kalau kita membaca Lukas 16:1-9 dengan kacamata materialisme, maka kita pasti tidaklah rohani. Ayat tersebut barulah berarti tepat jika dipandang dari sudut pandang Tuhan, yang dikunci oleh ayat 10-13.
Sikap Abram terhadap uang adalah suatu usaha untuk tidak menjadikan hidupnya terkunci oleh harta. Abram adalah orang yang hatinya begitu berpaut kepada Tuhan dan betul-betul tidak pernah untuk uang. Abram adalah orang yang sangat kaya secara materi, tetapi dia sangat mengutamakan Tuhan dan tidak menyembah Mamon.
3. huparsis, artinya: kaya raya
Kata ini dalam Alkitab hanya muncul 2 kali. Abram yang sudah kaya tidak pernah tergiur untuk menjadi lebih kaya lagi. Dia justru tahu tanggung jawab bagaimana mengatur, mengelola, membatasi kekayaannya. Inilah beban yang paling sulit didalam kita mengerti “kaya”. Orang yang kaya cenderung untuk ingin semakin kaya. Abram mendapatkan kekayaan yang luar biasa tetapi dia bisa menempatkan porsinya dengan tepat. Abram memulangkan semua harta yang seharusnya menjadi haknya kepada raja Sodom tetapi Abram meminta kepada raja Sodom untuk tidak mengambil kembali apa yang sudah dimakan oleh bujang-bujangnya dan yang merupakan bagian dari orang-orang yang pergi bersama dia yaitu Aner, Eskol dan Mamre.
Kisah Rasul 2:45: ... dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya (huparsis), lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Konsep ini bukanlah konsep komunis/ sosialis yang mengandung unsur paksaan. Di dalam peristiwa itu terkandung unsur kerelaan dari orang yang kaya raya untuk menjual hartanya dan membagikannya kepada orang lain. Orang yang kaya semakin sulit untuk memberi dalam persentase yang besar dari jumlah hartanya. Hanya orang yang percaya/ orang Kristen yang kaya yang bisa memberi dalam persentase yang besar. Itulah salah satu tanda dari orang percaya, karena dia selalu bersyukur atas semua hartanya yang disadarinya sebagai milik Tuhan. Memberi adalah sebagai wujud kerelaan dan ucapan syukur atas pemberian Tuhan. Orang yang diberi banyak oleh Tuhan tahu bahwa dia bertanggung jawab untuk memberi banyak pula. Sikap seperti ini adalah sikap yang dahsyat yang tidak mungkin terjadi secara natural. Hal ini bisa terjadi kalau seseorang telah disentuh oleh Roh Kudus, diubah menjadi orang percaya yang sungguh-sungguh percaya. Hanya orang percaya yang bisa punya konsep seperti ini, karena hanya orang percaya yang konsep hidupnya diputar 180 derajat. Konsep ini tidaklah mudah apalagi kita hidup ditengah-tengah kultur tertentu, misalnya: orang Jawa memiliki kultur suka berbagi (gotong royong), orang Yahudi memiliki kultur yang sangat perhitungan, kalau memberi harus menerima lebih besar dari itu. Orang yang berkultur pelit seperti ini kalau bisa memberikan harta bendanya adalah sesuatu hal yang luar biasa, Tuhan yang menggerakkannya. Kita melihat bagaimana Tuhan merubah hati seseorang. Orang berdosa adalah orang yang materialis, seluruh hidupnya untuk uang, kalau orang sampai bisa melepaskan diri dari uang adalah sesuatu yang dahsyat, itu adalah pekerjaan Roh Kudus semata. Banyak orang yang ke gereja tetapi bukanlah orang Kristen yang sejati, mereka hanyalah ingin menikmati kenikmatan Kristen. Demikian juga halnya dengan teman-teman Abram yang turut menikmati kemenangan dari Abram, dan Abram tidak pernah memaksa mereka untuk melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan. Inilah konsep penting yang harus ditangkap: janganlah kekristenan memaksakan konsep tertentu bahkan kepada jemaat karena tidak semua jemaat adalah orang Kristen. Banyak orang yang datang ke gereja hanya mau berkat dari Tuhan/ ekstensi dari Tuhan, mereka tidak suka kepada Tuhan. Orang Kristen sejati menikmati relasi dengan Tuhan, orang dunia menikmati berkat dari Tuhan. Kalau orang dipaksa untuk memberi persembahan, akan memukul balik menjelekan nama Tuhan. Prinsip GRII: tidak menerima satu sen pun dari orang kafir untuk pekerjaan Tuhan, orang yang memberi harus dengan rela hati. Persembahan yang sesungguhnya adalah yang keluar dari hati yang betul-betul bersyukur. Orang Kristen bertanggung jawab untuk memberi yang merupakan milik Tuhan, itu bukanlah jasanya. Nama Tuhan tidak akan dipermalukan oleh anak Tuhan yang sejati, yang memberi tanpa perhitungan karena sadar bahwa semuanya adalah milik Tuhan.
Ibrani 10:34: ... dan ketika harta (huparsis) kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya. Hal ini tidaklah terpikirkan oleh dunia. Hal ini bisa terjadi karena ada nilai lain yang tidak bisa kita hitung, yang jauh lebih besar nilainya dan bersifat kekal. Orang yang bisa melihat nilai yang kekal yang besar, akan dapat melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Kalau kita terikat dengan nilai besar yang ada di dunia, kita tidak akan bisa melihat nilai besar yang ada di belakangnya, karena kita sendiri telah menutup/ blocking segala kemungkinan sampai kita sendiri tidak bisa menerobosnya. Semua harta yang Tuhan berikan seharusnya merombak semua konsep kita tentang materi dan menjadikan kita bisa menerobos dan mengerti nilai yang lebih besar yang Tuhan sediakan bagi kita, sehingga semua yang Tuhan berikan kita pakai untuk kemuliaan Tuhan dan untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)