Ringkasan Khotbah : 19 April 2009

Ontological Property

Nats: Kejadian 1:26-28

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Beberapa minggu ke depan kita akan belajar tentang harta, penatalayanan keuangan dan persembahan. Untuk membahas hal ini, saya terlebih dahulu harus menggumulkan masalah waktu dan motivasi. Sebelum menyampaikan khotbah ini, saya terlebih dahulu mengamati persembahan yang masuk ke kas gereja, ternyata selama tahun 2009 ini persembahan dalam kondisi yang stabil, dan hal inilah yang semakin mendorong saya untuk membahas tema diatas. Adalah tidak benar kalau tema ini disampaikan pada saat persembahan menurun, hal ini merupakan motivasi yang salah. Kalau motivasi awal sudah salah maka seluruh pembicaraan tidak mungkin dapat setia kepada Firman. 

Sebelum kita bicara tentang tema itu sendiri, kita terlebih dahulu harus berbicara tentang esensi dasarnya yaitu akar dari pergumulan dan pengertian yang paling tepat di dalam kebenaran Firman Tuhan. Konsep yang berbeda akan menimbulkan ekstensi yang berbeda total. Hal yang pertama dan yang utama adalah membicarakan tentang posisi ontologisnya, yaitu bagaimana Tuhan menetapkan segala sesuatu dari awalnya. Kita akan melihat  Kitab Kejadian 1:26-28 : Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. ... Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Kata “property” saat ini langsung dikaitkan dengan harta, tanah, rumah, bangunan. Arti kata “property” yang sesungguhnya/ secara esensi adalah hal-hal apa yang dimiliki yang akan menentukan pemiliknya, contoh: Alkitab ini memiliki sampul, yang merupakan property, yang berwarna hitam; jadi warna hitam merupakan property dari sampul Alkitab tersebut; kalau sampul Alkitab tersebut bukan hitam maka Alkitab tersebut bukanlah Alkitab yang dimaksud semula. Manusia memiliki apa yang menentukan bahwa dia adalah manusia? Orang cenderung menjawab: tergantung pada berapa banyak tanah dan rumah yang dia miliki. Jadi manusia dilihat dan dinilai berdasarkan “property”nya, berarti nilai hidup manusia ditentukan oleh rumah, tanah, dll. Pengertian yang salah tentang property ini akan mengakibatkan hidup kita menjadi hancur.

Seluruh derajat, seluruh nilai dan seluruh harkat kita kalau ditentukan oleh apa yang kita miliki, maka adalah suatu kecelakaan besar kalau kita tidak memiliki harta banyak; kita bisa bunuh diri ketika harta kita habis karena harga diri kita juga ikut habis. Dengan konsep seperti ini, adalah wajar kalau orang tidak bisa terima ketika hartanya disinggung-singgung karena merasa hal itu adalah hasil kerja dia dan merupakan miliknya.

Apa yang dikatakan oleh Alkitab tentang property kita, tentang hal-hal apa yang kita miliki yang menentukan siapa kita, dan hal-hal itu adalah milik sejati kita? Tidak ada satu manusia pun yang bisa menjawab hal ini kecuali Tuhan yang memberitahukan hal ini kepada kita. Tanpa wahyu Allah, tidak mungkin ada manusia yang mengerti tentang property kita yang sesungguhnya. Kalau kita bisa mengerti tentang property ini, maka hidup kita akan cerah luar biasa. Dari nats Kitab Kejadian diatas, kita dapat melihat ada 2 property besar yang dimiliki oleh manusia yaitu:

 

1. Manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah.

Inilah yang merupakan property yang asli, yang terbesar, yang menentukan siapa kita. Property dasar ini tidaklah dapat dicabut/ dihilangkan. John Calvin mengatakan: seluruh hidup harus kembali ke titik penciptaan. Di titik penciptaan inilah kita dapat mengerti hakekat kita yang tertinggi, mengerti akan nilai kita yang sesungguhnya, mengerti akan makna yang paling tepat dan paling mendalam. Manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah, tidaklah pernah dijelaskan di agama maupun filsafat manapun di dunia ini. Apa pengaruhnya bagi hidup kita?

1. Kita harus mengenal Allah yang adalah sumber gambar dan rupa kita. 

Ketika kita tahu bahwa kita dicipta dengan sangat unik, yaitu menurut gambar dan rupa Allah, diberi nafas hidup oleh Allah sehingga kita adalah satu-satunya makhluk yang memiliki relasi dengan Allah, maka nilai hidup kita tidaklah tergantung pada hal-hal yang menempel pada diri kita. Hakekat property kita adalah di dalam diri kita sendiri. Property tidaklah bersifat ekstensif melainkan intensif. Kalau kita mengerti akan hal ini, maka kita tidak akan menjadikan hidup kita sia-sia dan kacau adanya. Sayangnya, konsep ini sudah tidak ada ketika manusia jatuh ke dalam dosa.

Keunikan yang dahsyat ini menjadi rusak ketika manusia melawan Tuhan, yang berarti melawan gambar dan rupanya sendiri sehingga manusia tidak bisa mengenali dirinya sendiri; manusia tidak lagi tahu siapa dirinya dan hidupnya untuk apa. Kita harus keluar dari kehancuran akibat jatuhnya manusia ke dalam dosa. Kita harus me-reposisi kembali hidup kita sebagai gambar dan rupa Allah. Hal ini merupakan perjuangan seumur hidup kita. Untuk itu kita harus mengenal Allah kita. John Calvin mengatakan: kunci pertama sebelum mengenal apa saja adalah mengenal Allah dan mengenal diri. Untuk kita bisa mengenal diri maka kita harus mengenal Allah terlebih dahulu. Dengan mengerti property Allah, kita akan mengerti property kita sendiri.

2. Kita harus berjuang untuk hidup semakin rohani di tengah dunia ini.

Seorang dokter (memiliki property dokter) akan berjuang mati-matian untuk menunjukkan dia betul-betul seorang dokter. Inilah property yang diperjuangkan di tengah dunia ini. Sebenarnya, ada property yang lebih dari sekedar status jabatan/ status profesi yaitu status esensial yang ada dalam diri kita yaitu sebagai makhluk rohani.

Ketika manusia membuang Tuhan, dia akan kehilangan esensi perjuangan hidupnya. Perjuangan hidup yang pertama dan yang utama adalah bagaimana kita memperjuangkan kerohanian kita. Kita harus menjadi makhluk rohani karena kita memang berbeda dengan semua makhluk yang lain. Kita tidak boleh lepas dari Allah, kita harus selalu melekat pada Allah. Kalau kita melekat pada semua yang ada di dunia tetapi lepas dari Allah maka habislah kita; kita kehilangan property kita yang paling hakiki. Tuhan berkata: carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semuanya akan ditambahkan bagimu. Kita adalah ciptaan Tuhan yang dicipta menurut prinsip hukum pencipta-ciptaan yaitu: semua ciptaan dicipta oleh pencipta, dengan tujuan pencipta, dengan rancangan/ desain pencipta, diproduksi menurut rancangan tersebut, untuk kepentingan pencipta. Pencipta adalah yang paling mengerti tentang ciptaannya. Hubungan antara pencipta dan ciptaan adalah hubungan yang paling mendasar. Itulah pentingnya kita diperdamaikan kembali dengan Allah. Kristus datang ke dalam dunia, mati di atas kayu salib adalah untuk memperdamaikan kita dengan Allah.

3. Kita seharusnya mengerti betapa mahalnya nilai hidup kita.

Berapakah nilai hidup kita sehingga kita mengorbankan hidup kita, relasi kita, kebahagiaan kita demi kita dibelenggu dan dihancurkan oleh materi? Tuhan berkata: apa artinya engkau mendapatkan seluruh isi dunia tetapi engkau kehilangan nyawamu? Betapa mahalnya hidup kita sampai-sampai nilai seluruh duniapun tidak sebanding dengan itu. Kita sangat bernilai/ mahal karena kita dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Kalau kita mengerti akan hal ini maka kita akan menghargai hidup kita jauh melebihi dari apa yang dunia bisa lakukan. Dunia sangat tidak menghargai hidup, sangat tidak menghargai nilai kita, kita hanyalah dianggap sebagai sebuah barang. Dunia hanya menghargai property diluar manusia/ property ekstensif. Kejatuhan manusia ke dalam dosa mengakibatkan kita turun ke tempat yang hina luar biasa. Tuhan mau me-reposisi kita kembali. Tuhan mau datang ke dalam dunia, berkorban dengan menyerahkan nyawaNya bagi kita karena nyawa kita terlalu mahal harganya.  Janganlah kita buang hidup kita. Konsep ini baru dapat kita miliki kalau kita menempel pada Tuhan. Ketika kita menjadi milik Tuhan, kita kembali ke esensi kita yang sesungguhnya. Momen Paskah adalah momen yang sangat besar karena Allah sedang berurusan dengan nilai terbesar di dalam dunia ini.

Orang yang kaya, hidupnya jauh lebih sulit untuk mempertahankan diri didalam kebenaran. Banyak orang kaya yang hidupnya lebih brengsek dibandingkan dengan orang yang miskin. Kekayaan seringkali menjadikan manusia menjadi lumpuh di semua hal. Kekayaan telah memberikan keenakan hidup, kalau hidup tidak dilatih memiliki semangat berjuang, maka ketika menghadapi kesulitan sedikit saja sudah tidak punya kemampuan berjuang. Ketika krisis datang, orang yang biasa hidup nyaman akan tidak tahan, sedangkan orang yang sudah terbiasa krisis akan lebih dapat bertahan.

Seberapa kita mengerti sistem nilai yang benar? Jangan pakai nilai dunia untuk menilai sejarah dan nilai hidup. Bukanlah lingkungan di luar kita yang menentukan diri kita melainkan diri kitalah yang menentukan lingkungan kita. Jangan biarkan hidup kita dijual untuk nilai yang rendah, bagaikan emas 1 kg ditukar dengan sebutir kacang. Pdt. Stephen Tong pernah menceritakan 1 ilustrasi yang demikian: ada seorang guru yang hidup dengan muridnya didalam kemiskinan, mereka hanya memiliki 1 mangkok dan 1 sendok. Tetapi guru tersebut menyebut mereka kaya. Guru tersebut menyuruh muridnya mencari informasi berapa harga mangkok dan sendok yang dia miliki. Di kalangan awam, penawaran tertinggi hanyalah 80 sen. Guru tersebut menyuruh muridnya pergi ke toko barang antik. Di toko tersebut, mangkok dan sendok tersebut dihargai 10000 dolar karena merupakan peninggalan bersejarah. Dalam ilustrasi tersebut terlihat bahwa orang yang mengerti akan memberikan nilai yang tepat. Demikian juga dengan hidup kita, kalau kita mengerti betapa mahalnya hidup kita, maka kita tidak akan menjualnya seharga sebutir kacang. Seberapa jauh kita mengerti nilai yang Tuhan tanam dalam diri kita?

Tuhan marah sekali ketika Esau menukar hak kesulungannya dengan semangkuk kacang merah. Esau tidak mengerti akan mahalnya nilai hak kesulungan. Di tengah-tengah dunia modern ini, kalau kita tidak mengerti maka kita akan melakukan hal yang sama. Tuhan mau menebus kita, mau menjadikan kita sebagai anak-anakNya, itu adalah hal yang terlalu besar dan terlalu mahal, dan itulah property asli kita. Walaupun kita tidak memiliki harta apa-apa di tengah dunia ini, kita masih memiliki diri kita yang mahal harganya.

Semua ciptaan yang lain Tuhan sediakan bagi manusia untuk menunjang hidup manusia, demi supaya property yang begitu anggun bisa tetap terpelihara, terbangunkan, dan terkembangkan dengan baik.

 

2. Manusia memiliki kekuatan mendominion/ kekuatan penakluk terhadap seluruh alam semesta ini.

Seluruh alam ini berada di bawah kekuasaan manusia. Hanya kuasa Tuhan yang berada diatas manusia. Akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia menjadi berada di bawah alam, manusia didominion/ ditaklukan oleh alam ini. Manusia jatuh dikuasai oleh iblis, oleh lingkungan sekitar, oleh dunia, oleh materi, oleh apa saja disekeliling dirinya. Posisi inilah yang menjadikan kita hidup paling takut di tengah dunia dalam segala aspek. Makin hari orang makin ketakutan. John Calvin mengatakan: ketakutan menunjukkan suatu ketidak berdayaan dan ketidak mampuan manusia. Jalan keluar dari persoalan ini adalah kembali ke property kekuatan penaklukan atas alam ini. Hal ini dapat kita peroleh kembali ketika kita kembali kepada Tuhan. Mungkinkah kita memiliki kuasa di tengah dunia yang seperti ini? Alkitab berkata: ya, betul, kamu dapat memiliki kuasa itu, tapi itu bukanlah kuasamu, karena kuasa itu terjadi akibat status posisimu yang sesungguhnya. Ketika kita kembali ke posisi asli kita dan kita melihat dunia dari posisi Tuhan, maka kita akan memiliki kuasa tersebut. Kalau hidup kita tidak di-reposisi ke posisi asli kita, maka hidup kita akan rusak, kita berada di bawah penguasaan. Posisi asli kita adalah posisi tertinggi diantara semua ciptaan yang lain karena kita dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Kita bisa kembali ke posisi ini kalau kita bertobat sungguh-sungguh. Tidak ada kuasa yang sanggup menarik kita keluar dari jebakan dan penguasaan dunia ini kecuali Kristus menerobos semua hambatan bahkan sampai menembus kematian, barulah Dia berhak mengangkat kita keluar dari kematian. Semua kekuasaan yang menguasai kita diterobos habis oleh Kristus. Iman Kristen tidak sekedar memandang Kristus sebagai pusat agama, tetapi Kristus sudah melakukan tindakan yang dahsyat yaitu mengembalikan kita ke posisi kita yang sesungguhnya.

John Calvin mengatakan: pada waktu seseorang ditarik keluar dari dosa, dia menjadi orang yang memiliki kuasa besar tetapi memiliki kerendahan hati yang sangat dahsyat. Makin besar kuasanya, makin rendah hati, karena sadar bahwa bukan diri yang hebat melainkan Tuhan yang hebat. Kunci dari kekuatan penakluk ini adalah ketaatan menjalankan kehendak Allah. Hal inilah yang menjadikan kita dapat betul-betul mengaplikasikan kekuatan penakluk kita atas dunia ini. Kita harus suka atas apa yang Tuhan suka. Ketika kita bisa suka atas apa yang Tuhan suka, kita bisa jalan didalam pimpinan Tuhan, kita bukannya tidak menghadapi kesulitan melainkan kita akan dapat melihat kekuatan penakluk itu menjadi nyata. Kalau Tuhan yang pimpin, tidak ada seorangpun yang boleh berkata tidak, inilah kekuatan penakluk itu. Seberapa jauh kita tidak dikunci oleh dunia ini? Betapa konyolnya kalau kita mengikuti apa yang dunia mau tetapi kita lepas dari Tuhan, maka semua yang kita kerjakan akan berakhir dengan kebinasaan, semua yang kita perjuangkan akan berujung pada maut.

Semua yang Tuhan berikan kepada kita hanyalah merupakan property ekstensif yang Tuhan berikan untuk menjalankan property kita yang sesungguhnya yaitu memiliki kekuatan penakluk. Ketika Ayub kehilangan semua harta bendanya termasuk anak-anaknya, dia mengucapkan suatu kalimat yang agung yaitu: dengan telanjang aku datang ke tengah dunia ini, dengan telanjang pula aku akan kembali kepada Bapa, Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan! Alkitab bahkan mencatat: dalam kasus seperti inipun, Ayub tidak berdosa dengan perkataannya. Kalimat ini adalah kalimat yang dahsyat dari pengertian akan esensi property. Kalimat diatas dapat dikatakan dalam versi lain yaitu: property saya adalah diri saya sendiri, Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan! Kalau kita bisa mempunyai kekuatan seperti Ayub, maka kita tidak akan terpengaruh dengan kondisi krisis seperti apapun.

Biarlah Tuhan mengubah hidup kita agar kita tidak tergoncangkan oleh dunia ini karena kita tahu property kita yang asli. Setelah kita tahu akan property kita yang asli, bagaimana kita menyikapi property ekstensif yang Tuhan berikan kepada kita? Kiranya Tuhan memberi kita kekuatan di tengah-tengah terpaan dan godaan dunia. Mungkinkah kita bisa seperti Ayub sampai pada keputusan yang begitu dahsyat? ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)