Ringkasan Khotbah : 12 April 2009

Yusuf: Tipologi Kebangkitan Kristus

Nats: Kejadian 45:1-5

Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan

 

Di dalam PL banyak sekali berbicara mengenai tipologi dari Yesus Kristus melalui tokoh-tokoh yang ada. Peristiwa Yusuf memperkenalkan dirinya di hadapan saudara-saudaranya merupakan gambaran yang cukup lengkap mengenai bagaimana Kristus menyatakan DiriNya kepada umatNya. Melalui cerita ini kita hendak melihat bagaimana perasaan Kristus ketika menampakan Diri kepada para murid setelah peristiwa kebangkitanNya.

Yusuf, yang adalah seorang perdana menteri, tidak dapat menahan hatinya lagi di depan semua orang yang berdiri di dekatnya. Yusuf mengenal dan mengetahui setiap orang yang hadir di depannya pada saat itu, hanya saja saudara-saudaranya tidak lagi mengenali Yusuf. Ini menunjukkan 2 kontras yang jelas sekali antara Yusuf sebelum dan sesudahnya. Sebelumnya, Yusuf hidup dengan tidak dipedulikan oleh saudara-saudaranya, dia kemudian dijual sebagai budak, dia tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa akan mengalami hidup yang seperti itu, di tengah-tengah hidupnya yang penuh dengan penderitaan dan kesengsaraan itu dia memberi nama kedua anaknya sebagai monumen kehidupannya, anaknya bernama Efraim dan Manasye yang berarti Allah mengingat aku di negeri kesengsaraan dan Allah melupakan aku terhadap segala penderitaan yang aku alami. Cerita tentang Yusuf banyak didominasi dengan cerita penderitaan demi penderitaan yang Yusuf alami. Setelah dibuang, Yusuf dipandang sebagai seorang pesakitan/ narapidana, masa depan seakan-akan tidak ada lagi. Sekarang, dia adalah seorang perdana menteri di Mesir, 1 tingkat dibawah Firaun, seluruh masa depan dan kuasa ada di tangannya. Hal ini juga merupakan gambaran dari 2 kontras antara peristiwa inkarnasi Yesus Kristus dan peristiwa kebangkitanNya.

Sebelum Kristus bangkit, Dia sangat terbatas di dalam segala aspek kemanusiaanNya, Dia merasa lapar, haus, lelah dan terikat dalam ruang dan waktu, Dia dihina, dicemooh, dicaci maki dalam peristiwa di kayu salib. Setelah Yesus bangkit dari kematian, Dia muncul sebagai Kristus yang mulia, para murid tidak ada yang berani membantah Dia, tidak ada yang berani berkata-kata karena tahu bahwa Dia adalah Allah (Yohanes 21:12), semua murid gemetar dan takut karena sekarang mereka berhadapan dengan Yesus yang lain sama sekali setelah kebangkitanNya, mereka tidak berani menatap wajah Yesus karena menyadari kesalahan mereka yaitu melarikan diri pada saat Yesus ditangkap.

Berita tentang kebangkitan Kristus sudah tersebar, dan tersiar sedemikian hebatnya (Matius 28:15). Berita itu bahkan terus tersebar sampai saat ini. Berita itu tidaklah disenangi oleh semua oposan Kristus, mereka terus berusaha membangun teori-teori bahwa Yesus tidak bangkit. Tetapi fakta kebangkitan tidaklah dapat dikalahkan oleh berbagai macam teori manusia.

Para murid tidak bisa mengenali Yesus yang bangkit, seperti dalam cerita 2 murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus, demikian juga dalam peristiwa Yusuf yang tidak dikenali oleh saudara-saudaranya tetapi Yusuf dapat mengenali mereka. Ini adalah pertemuan Yusuf dengan saudara-saudaranya kali yang ketiga. Pada kali yang pertama, Yusuf masuk ke ruang belakang dan menangis, saudara-saudaranya datang untuk minta belas kasihan, Yusuf sedih melihat mereka berbuat demikian; pada kali yang kedua, Yusuf memakai suatu strategi untuk mengikat mereka agar kembali kepada dia, Yusuf menyuruh mereka meninggalkan adik mereka di Mesir, kemudian Yusuf menyuruh bawahannya untuk menyelipkan pialanya di salah satu kantong mereka, Yusuf kemudian mengumumkan akan kehilangan pialanya tersebut, setelah digeledah dan ditemukan di salah satu kantong saudaranya, Yusuf melarang mereka pergi, kemudian Yusuf masuk ke dalam dan menangis. Setelah itu, dia menemui saudara-saudaranya lagi, dia tidak tahan lagi untuk menyatakan dirinya. Yusuf menyuruh semua orang yang lain keluar dari ruangan tersebut, lalu dia memperkenalkan dirinya.

Inilah gambaran dari isi hati Tuhan Yesus pasca kebangkitanNya, Kristus ingin sekali menjumpai seluruh umat tebusan yang telah diberikan oleh Bapa kepadaNya. Allah Bapa memberikan semuanya kepada Kristus dan Kristus mengambil mereka semua didalam relasi perjanjian. Kristus mengetahui setiap mereka satu persatu, pada waktu Yesus muncul semua orang tidaklah tahu bahwa Dialah yang selama ini mereka butuhkan, mereka cari. Bukankah hal ini juga pernah kita alami, pada saat berita Injil berkali-kali disampaikan kepada kita, kita tidak mengenaliNya sampai pada waktunya Tuhan memperkenalkan DiriNya barulah kita mengenaliNya. Kristus, yang datang dengan segenap kepenuhan keAllahan dan dalam kemuliaan setelah kebangkitan, ingin dikenal oleh umat tebusannya. Ia akan datang dan berjumpa dengan mereka secara pribadi.

Saya akan mengajak kita memikirkan 3 aspek tentang kemuliaan Kristus di dalam kebangkitanNya pada waktu Dia bertemu dengan para murid, Dia tidak dapat menahan diri lagi dan kemudian mengatakannya kepada mereka yaitu:

1. Peristiwa kebangkitan menyatakan kemuliaan Allah.

Yusuf berkata bahwa bukan kamu yang menyuruh aku ke sini tetapi Allah yang menyuruh untuk menyelamatkan keluarga dan juga satu bangsa. Dia memasukkan pribadi Allah di awal perkenalannya kepada saudara-saudaranya. Hal ini adalah sangat penting karena mungkin sekali bangsa Israel, yang tengah mengalami kelaparan dan penderitaan, memiliki iman yang terpecah tentang Allah Yehovah yang memelihara dan yang mencukupkan segala makanan. Mungkin mereka mempertanyakan keberadaan Allah. Yusufpun bisa mempertanyakan hal yang sama ketika dia mengalami berbagai kejadian yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Semua kisah buruk hidupnya menjadi sirna ketika dia mengatakan bahwa Allah yang menyuruh dia ke Mesir. Allah Yehovah yang berada di belakang semuanya, Dia memiliki rencana yang indah yaitu menyelamatkan 1 bangsa. Yusuf bermaksud mengembalikan pikiran saudara-saudaranya bahwa ada Yehovah di atas sana, Dia tidak berubah, Dia mempedulikan dengan caraNya sendiri, Dia adalah Allah yang akan memelihara kamu semua. Inilah tanggung jawab dari semua umat tebusan, yaitu membawa setiap pikiran dari orang-orang yang tidak mau mengakui keberadaan Allah agar tunduk kepada pikiran bahwa Allah itu ada.

Dalam keberdosaan, hal mengenai keberadaan Allah disingkirkan oleh manusia. Manusia tidak merasa bahwa hidupnya perlu Allah dan sangat bergantung kepada Allah. Manusia berdosa ingin bebas, tidak mau terikat dengan bahasa-bahasa agama tertentu, mereka berpikir bahwa kalau Allah datang ke dalam hidupnya maka Allah akan merampok semua kesenangan mereka sehingga mereka tidak dapat menjadi orang yang bebas lagi. Kita harus berbicara dengan mereka agar mereka menaklukkan pikiran mereka itu dan percaya bahwa Allah itu ada. 

Dengan perkataan Yusuf diatas, semua kepingan iman dari saudara-saudaranya ditata kembali untuk menjadi satu. Kristus didalam seluruh hidupNya adalah gambaran dari Allah yang sempurna, melalui hidup Kristus inilah Allah yang transenden menjadi jelas sekali. Di awal pelayananNya Dia mengatakan bahwa Anak Tunggal Allah menyatakan siapa diri Allah Bapa yang tidak kelihatan. Yesus mengatakan: Aku dan Bapa adalah satu adanya, barangsiapa melihat Aku berarti dia melihat Bapa, perkataan yang Aku katakan adalah berasal dari Dia yang mengutus Aku.

Inilah misi dari Kristus yaitu menyatakan kemuliaan dan keberadaan dari Allah Bapa. Tidak ada peristiwa lain yang dapat menceritakan kemuliaan Bapa selain peristiwa kebangkitan Kristus. Kemuliaan Bapa tidak terlihat secara penuh didalam peristiwa penciptaan, seluruh pemeliharaanNya, tetapi mencapai klimaks pada waktu Yesus bangkit dari kematian. Kehendak Allah adalah Yesus menyatakan Diri Allah yang tidak kelihatan. Ini adalah tanggung jawab semua orang percaya/ semua umat tebusan. Ini adalah bagian yang menyertai kehidupan setiap orang percaya yang harus bersaksi tentang keberadaan Allah.

2. Peristiwa kebangkitan menyatakan kemuliaan Kristus didalam relasi dengan umatNya.

Yusuf berkata: suruhlah keluar semua orang dari sini. Hal ini dilakukan oleh Yusuf agar pertemuan tersebut bersifat sangat personal/ sangat pribadi dan tidak boleh ada seorangpun yang mencampurinya apalagi orang-orang yang tidak mengenal relasi antara dia dengan semua saudaranya. Pada waktu Kristus menyatakan DiriNya, Dia menyatakannya secara personal kepada setiap orang. Paulus berkata bahwa relasi Kristus dengan jemaatNya adalah seperti relasi suami dengan istri. Relasi ini tidak boleh diinterupsi oleh pihak ketiga. Relasi itu bersifat sakral. Pada zaman sekarang ini relasi yang demikian ini sudah menjadi bahan hinaan, sudah bersifat ringan; didukung munculnya lagu-lagu yang bertemakan perselingkuhan; dan hal ini masuk dengan tidak disadari ke dalam pikiran kita.

Pernyataan diri Yusuf pertama kalinya kepada saudara-saudaranya merupakan suatu teror bagi mereka. Yusuf berkata: Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa? Kedua kalimat itu tidaklah masalah bagi mereka karena bersifat umum, hanya untuk basa basi/ kesopanan saja. Tetapi ketika Yusuf berkata: Akulah saudaramu, yang kamu jual ke Mesir; mereka tidak dapat berdalih lagi, mereka tidak dapat menyembunyikan diri lagi walaupun kebohongan mereka kepada ayah mereka berhasil ditutupi selama 13 tahun. Fakta ini tidak dapat dipungkiri lagi.

Yesus selama 3 hari didalam kesendirian dan kesunyian, tanpa berita, kemudian Yesus muncul dengan teror, para murid ketakutan dan tidak berani membantah. Pada saat pertama kita berjumpa dengan Dia, Dia juga membongkar semua rahasia yang kita pendam selama ini. Seluruh kebusukan hidup yang kita coba tutupi selama ini menjadi terbongkar keluar. Tetapi tidak hanya sampai disitu, Yusuf kemudian membalikkan suasana dengan berkata: Marilah datanglah dekat-dekat. Perkataan ini begitu mengagetkan. Orang yang pernah diperlakukan dengan tidak seharusnya ini muncul dengan kuasa yang sangat besar, yang memungkinkan bagi dia untuk balas dendam. Undangan untuk mendekat itu begitu sulit untuk dipercaya. Petrus pun pernah mengalami panggilan Kristus untuk kali yang kedua: ikutlah Aku! Panggilan ini sekaligus menyatakan bahwa kita jangan mengharapkan konfirmasi panggilan Tuhan dari orang lain karena hal ini menyangkut hubungan antara Dia dengan kita dan tidak memerlukan persetujuan dari orang lain. Undangan itu adalah undangan anugerah. Setelah Yusuf menyuruh mereka mendekat, mereka kemudian berpelukan sambil menangis. Kemudian Yusuf berkata: marilah duduk dan makan bersama dalam perjamuan di meja makan kebesaran. Dalam PL, kalau ada tuan rumah mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumahnya, makan bersama di meja makan, menginap di rumahnya, maka tuan rumah bertanggung jawab atas keselamatan tamunya; dengan kata lain: mati hidupmu aku yang tanggung selama kamu ada dalam rumahku. Mazmur 23:5: Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku. Itulah gambaran dari Kristus yang mengambil alih seluruh kehidupan yang dipercayakan kepada Dia. Alkitab berkata bahwa Yesus mati di kayu salib untuk semua orang yang Dia undang datang ke perjamuanNya.

Dengan undangan anugerah, semua cerita lama pupus sudah, semua bekas-bekas lama sudah tidak ada lagi. Ini adalah cerminan dari hati Kristus yang mau mati bagi manusia berdosa ketika mereka masih berdosa. Inilah cinta yang begitu dalam. Yesus mencari mereka, Yesus mengasihi mereka, Yesus menginginkan mereka memiliki persekutuan pribadi dengan Dia sehingga semua dosa yang lalu tidak diingat lagi. Yesaya, sekian ratus tahun sebelum Yesus, berkata: marilah kita berperkara, sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti bulu domba. Allah mau mengatakan: dosamu memang banyak dan penuh, tetapi ketika Allah datang kepadamu dosamu akan dilupakan semuanya. Inilah hati dari Yesus Kristus didalam kesucian, kelembutan, hati yang penuh dengan anugerah, digambarkan oleh hatinya Yusuf. Yesus dengan kelembutan hatiNya mau menerima orang berdosa dan bergaul dengan mereka, mengubah hidup mereka. Setelah mereka diubahkan hidupnya, diampuni dosanya, tidak ada hal lain yang mereka lakukan selain membaktikan hidup kepadaNya. Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil bagi Allah untuk kita lakukan tetapi mungkin kita merasa terlalu besar untuk melakukannya. Kita seringkali main pilih-pilih terhadap pelayanan yang Tuhan percayakan, merasa pekerjaan tertentu terlalu sederhana bagi kita, kita mencari pekerjaan lain yang “lebih baik” menurut kita, kita ingin pekerjaan yang kita lakukan dilihat oleh banyak orang. Orang yang mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan hati yang tulus dan sungguh-sungguh akan lebih diperhatikan oleh Allah daripada seorang pendeta yang berdiri di mimbar dengan keinginan mencuri kemuliaan daripada Allah. Hati yang mau berbakti, yang mau tunduk mengerjakan apa yang Tuhan inginkan, itulah yang dapat kita kerjakan untuk mengekspresikan ucapan syukur kita kepadaNya.

3. Kebangkitan Kristus menyatakan kemuliaanNya didalam janjiNya.

Dalam Roma 6 Paulus berkata: sama seperti Yesus, mati 1 kali lalu bangkit dan kehidupanNya adalah bagi Allah, demikian juga hendaknya kamu memandangNya, kamu sudah mati bagi dosamu, dan sekarang kamu hidup, dan hidupmu sekarang adalah bagi Allah. Itulah yang Paulus gambarkan tentang bagaimana kita hidup setelah mengalami penebusan dari Kristus. Yesus yang sudah bangkit itu menyatakan DiriNya sekaligus menyatakan bahwa janjiNya pasti benar, janjiNya pasti terlaksana. Yusuf setelah berpelukan dengan saudara-saudaranya kemudian mengambil alih seluruh tanggung jawab kehidupan dari semuanya. Mulai hari itu mereka diterima di istana, Yusuf memenuhi seluruh kebutuhan sandang, pangan dan papan mereka. Yusuf melindungi, memelihara dan bersama-sama dengan mereka. Yesuspun juga demikian, di bawah kolong langit ini tidak ada satupun umat tebusan yang tidak mengalami penyertaan dari Kristus.

Apa yang harus kita pikirkan tentang janjiNya dan komitmen yang harus kita buat?

1. Hidup baru yang Yesus berikan adalah hidup baru yang lain sama sekali, yang tidak pernah kita alami sebelumnya. Kita tidak pernah mengalami perasaan, pemikiran dan tindakan seperti sebelumnya. Hidup yang baru adalah hidup yang dicangkokkan. Hidup dari si pemberi hidup diberikan kepada umat tebusan sehingga mereka memiliki hidup. Ini adalah hidup yang baru sama sekali, hidup bersama Anak Allah yang telah menyerahkan DiriNya untuk kita. Kita belum mengalami itu sama sekali sebelumnya.

2. Hidup didalam prinsip yang baru. Hidup yang lama adalah apa yang dapat saya lakukan supaya orang menyanjung dan menghargai saya, tetapi hidup yang baru adalah hidup yang penuh dengan ucapan syukur karena mengetahui adanya anugerah yang kita terima. Itulah tanda hidup orang Kristen.

3. Hidup dengan motif yang baru yaitu hidup untuk menyenangkan hati Allah. Kita harus selalu memikirkan bagaimana untuk menyenangkan hati Allah. Kalau dahulu kita mengerjakan sesuatu yang bersifat sementara, sekarang kita seharusnya mengerjakan hal yang memiliki nilai kekal.

4. Hidup dengan tujuan yang baru yaitu untuk mengejar kemuliaan Allah, Kerajaan Allah, kehendak Allah. Kerajaan Allah yang dimaksud di sini adalah menyatakan pentingnya hukum-hukum Tuhan dalam hidup kita. Pada waktu umat tebusan menempatkan hukum Allah di tempat yang utama, disitulah Kerajaan Allah ditegakkan di tengah dunia ini.

5. Hidup dengan emosi yang baru. Kalau dahulu hidup dalam ketakutan, sekarang hidup dipuaskan oleh Kristus, pada saat itulah kita menemukan apa yang kita cari selama ini. Hidup sekarang dipuaskan dengan penuh sukacita, dibawa kepada pengharapan kepada satu titik yaitu dipermuliakan oleh Allah. Kalau dulu ada kedukaan karena dosa sekarang ada sukacita karena bisa mengatakan tidak kepada dosa.

Semuanya itu dapat dicapai karena kebangkitan Kristus meneguhkan setiap janjiNya, bahwa Dia beserta, Dia bersama, Dia memenuhi semua yang menjadi kecemasan kita. JanjiNya menjadi konkret setelah Yesus bangkit. JanjiNya muncul sebagai harapan, disitulah kita menaruh iman dan pengharapan kita. Karena Yesus bangkit maka iman kita tidaklah sia-sia. Hidup baru adalah hidup baru karena Yesus bangkit. Hidup baru bersama Kristus adalah hidup baru yang didorong oleh cinta kasih yang tidak pernah habis, yang ingin ditunjukkan oleh setiap umat tebusan kepada Yesus Kristus. Kiranya Tuhan memberkati kita. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)