Ringkasan Khotbah : 5 April 2009

Eksposisi Roma 14:7-9

Nats: Roma 14:7-9

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Nas dari Roma 14:7-9 ini begitu indah. Tetapi secara khusus saya sangat tertarik pada ayat 9: Sebab un­­tuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. Ada beberapa pemikiran yang timbul berkenaan dengan ayat ini:

1. Kristus sebagai Tuhan. Ayat di atas menegaskan bahwa Kristus mati dan bangkit dan hidup kembali supaya Dia menjadi Tuhan atas orang-orang mati dan orang-orang hidup. Frasa Kristus “mati dan hidup kembali supaya Ia menjadi Tuhan” kita, menimbulkan pertanyaan theologis penting: (a) Bagaimana mungkin Kristus menjadi Tuhan melalui proses? (b) Jika memang Yesus adalah Tuhan, Bagaimana Tuhan bisa disalib dan mati?

Di tengah-tengah kita ada banyak pihak yang dengan sengit menyerang iman Kristen. Khotbah ini distimulasi oleh artikel di Koran Republika yang pada salah satu headline mempertanyakan ketuhanan Kristus. Seorang yang mulanya mengaku sebagai orang Kristen, karena tidak bisa menjawab pertanyaan bagaimana dapat Tuhan disalib, maka dia tidak lagi menjadi Kristen. Saya melihat sejumlah orang yang bernama Yohanes atau Christian sudah bukan lagi anak anugerah, tetapi telah menjadi pengkhianat Kristus dan musuh Juruselamat. Semua ini terjadi karena mereka tidak mendapatkan pengajaran Injil yang benar di gereja dan di rumah mereka. Ketika mereka bertemu dengan berbagai pemikiran natural yang cocok dengan logika manusia yang berdosa dan terbatas, mereka merasa iman Kristen banyak masalah, banyak hal yang tidak masuk akal. Tentu saja kebenaran Allah sangat bermasalah bagi akal yang bermasalah.

Iman Kristen merupakan puncak pewahyuan Allah kepada umat manusia dan final. Rasul Paulus berkata, rahasia Injil itu, yaitu rencana keselamatan Allah dalam kekekalan itu sekarang telah dinya­takan kepada umat manusia supaya di mana-mana orang dapat mengerti dan menerima anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus. Wahyu Allah ini melampaui logika natural manusia. Ini merupakan pengungkapan keselamatan Allah yang melampaui logika manusia. Hanya setelah diterangi oleh Roh Kudus dan dididik oleh Alkitab Suci orang dapat memahami dan mengalami Injil yang mulia ini.

Pertanyaan yang sama juga akan muncul ketika kita membaca Kisah Rasul 2:36 (Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.) Apakah ayat ini berarti Kristus menjadi Allah melalui proses? Teori adopsionisme mengatakan bahwa Yesus adalah manusia biasa yang karena mencapai taraf yang saleh, dan sangat berkenan kepada Allah sehingga diangkat kepada status ilahi. Tetapi pandanan ini tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab. Pandangan ini salah mengerti ayat-ayat Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah sejati yang sudah ada bersama Bapa sejak dalam kekekalan, tetapi demi menyelamatkan manusia, Anak Allah rela berinkarnasi menjadi manusia. Karena aslinya Dia memang adalah Allah, maka sangat pantas Dia yang telah direndahkan dan dihina itu dimuliakan dalam status yang tertinggi yaitu sebagai Tuhan dan Kristus.

Sekarang kita perhatikan Ibrani 2:9-10 (Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, ... , yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.) Ayat-ayat ini bukan berarti Yesus harus disempurnakan untuk menjadi Allah. Yang benar ialah Dia adalah Allah yang untuk sesaat rendah dibuat lebih rendah daripada malaikat (ciptaan). Tetapi aslinya Dia adalah Allah yang kekal, sehingga tidak bisa lebih baik atau lebih sempurna lagi. Ayat-ayat ini berbicara tentang bagaimana Allah yang mengasihani kita mau menolong kita dari masalah dosa dan maut dan Iblis, sehingga Dia menjadi manusia dan mati dan bangkit untuk menghancurkan musuh kita. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa untuk dapat menjadi Juruselamat kita yang sempurna, maka Yesus harus mengalami proses ketaatan mencapai kesempurnaan, sehingga dapat melepaskan kita dari dosa, maut, dan Iblis.

Kaum Muslim mengatakan: Yesus adalah manusia biasa yang tidak pernah mengaku diri-Nya adalah Tuhan ataupun Allah, melainkan orang Kristenlah yang menjadikan Dia sebagai Tuhan. Tuduhan ini berdasarkan kesesatan dan banyak salah mengerti terhadap Alkitab. Alkitab menegaskan bahwa Tuhan Yesus Kristus bukanlah manusia biasa yang kemudian diangkat menjadi allah (adopsionisme). Alkitab menolak pendapat bahwa Yesus tidak mengakui diri-Nya adalah Tuhan yang memiliki kedaulatan ilahi. Yesus menyebut diri-Nya sebagai Tuhan dalam arti sebagai Pribadi yang diimani dan yang diakui kuasa ilahi-Nya, dan sebagai Hakim ilahi yang akan datang pada akhir zaman (Mat. 7:21-23; 24:42).

Dan yang paling penting ialah ketika Dia memakai sebutan egō eimi (I am) untuk diri-Nya di Yoh. 8:58. Orang Yahudi dapat mengerti bahwa Yesus mengklaim status ilahi karena memakai nama Tuhan bagi diri-Nya. Hal ini terlihat dari konteks, bagaimana Dia yang berusia 30 tahun lebih itu dapat berkata sudah ada sebelum Abraham ada (before Abraham was, I am; artinya, sebe­lum Abraham ada dan sudah lewat (past tense), Saya sudah ada dan terus ada sampai selama-lamanya, present tense). Reaksi orang Yahudi ketika mendengar ucapan Yesus ini ialah hendak merajam Dia. Mereka mengerti bahwa ucapan Yesus itu merupakan pengakuan keilahian, sebab egō eimi adalah terjemahan Yunani dari nama YHWH dalam Alkitab Ibrani (Keluaran 3:14, egō eimi (I am that I am, Aku adalah Aku), yang juga sering diterjemahkan menjadi Kurios (LORD, TUHAN). Tuhan Yesus Kristus sudah ada sebelum Dia lahir di Betlehem, hal ini terungkap dari pengakuan Yohanes Pembaptis: walaupun Dia lahir 6 bulan setelah saya lahir, tetapi Dia sudah ada sebelum saya. Yesus Krisus Sang Juruselamat adalah Tuhan yang sudah ada sejak kekal.

Juru selamat kita adalah Allah sendiri. Karena hanya Dia yang dapat menyelamatkan umat manusia. Manusia memiliki masalah yang tidak dapat diatasinya yaitu dosa. Tuhan memberikan hukum Taurat, nabi-nabi, tetapi orang tidak menaatinya. Seakan-akan karunia Taurat dan nabi itu sia-sia. Yesaya mengatakan: segala kesalehan kami adalah seperti kain kotor. Nabi Yeremia mengeluh: untuk apa saya diutus kepada orang-orang yang tidak mau menaati firman Tuhan? Tuhan berjanji: Aku akan mengadakan suatu perjanjian baru. Pada zaman akhir, Aku akan memberikan ke­pada manusia hati yang baru, dan Aku akan mengaruniakan Roh Kudus kepada mereka. Manusia berdosa tidak mampu hidup benar dengan kekuatan diri. PL merupakan penantian bagi anugerah khusus. Tuhan sendirilah yang akan datang menyelamatkan manusia.

Tetapi Tuhan menyelamatkan tidak dengan duduk nyaman di sorga, lalu mengumumkan: sudahlah, dosamu diampuni! Alkitab mengajarkan bahwa dosa itu begitu serius. Misalnya, seorang anak dilarang minum cairan beracun, tetapi dia tetap meminumnya. Anggaplah dia meminta ampun kepada ayahnya, dan ayahnya itu mengampuni dia, tetapi dia tetap mati, karena efek racun itu merusak tubuhnya. Alkitab mengajarkan dosa menyebabkan manusia bermusuhan dengan Tuhan. Dosa menjadi kuasa penghancuran dalam diri manusia. Dosa membuat manusia diperbudak Iblis Karena itulah Anak Allah harus datang ke dunia untuk melepaskan manusia dari kuasa dosa yang mengerikan itu.

Ada dua orang yang memiliki kedudukan khusus di muka bumi ini yaitu: (1) Adam. Adam sangat khusus, karena dia diberikan kedudukan sebagai kepala perwalian seluruh umat manusia di bumi. Setiap orang di bumi ini dilahirkan sebagai keturunan Adam. Seperti kepala pemerintah dalam suatu pemerintahan, nasib rakyat sangat tergantung kepada kepala ini. Ketika Kaisar Hirohito menandatangani penaklukan Jepang kepada Sekutu, sekalipun para tentara tidak mau menyerah dan siap berperang sampai mati, namun secara hukum internasional dan secara kelembagaan internasional seluruh negara dan rakyat sudah menyerah karena kepala negaranya sudah tanda tangan. Demikian juga halnya dengan Adam di taman Eden, kalau dia bisa taat maka kita akan bahagia bersama dengan dia, ketika dia jatuh ke dalam dosa maka kita pun ada dalam kuasa dosa bersama-sama dengan dia. Adam di dalam perwaliannya dalam perjanjian gagal sehingga semua manusia juga gagal.

(2) Yesus Kristus. Yesus Kristus disebut Adam terakhir, bertindak sebagai kepala perwalian umat manusia baru. Melalui melalui ketaatan-Nya, melalui kesempurnaan hidupNya, Ia membalikkan setiap apa yang telah rusak oleh ketidaktaatan Adam. Hidup Yesus bukanlah Allah yang berpura-pura menjadi manusia (doketisme). Yang benar adalah: Dia berinkarnasi dalam darah dan daging sama seperti kita manusia, kecuali dalam dosa. Dia lahir di Betlehem, bertumbuh, mengalami berbagai pengalaman yang riil, mati di kayu salib, dikuburkan, dan bangkit kembali. Yesus harus melewati semua penderitaan dengan tidak mudah, seperti ketika berada di taman Gerzemani Dia mencucurkan keringat darah karena memiku beban dosa yang begitu berat. Tuhan Yesus juga dicobai oleh Iblis yang menawarkan jalan pintas yang mudah bukan jalan salib. Tuhan Yesus menjalani semuanya dengan sempurna, sehingga di atas kayu salib Dia berseru: tetelestai!(sudah selesai!) Dia sudah menggenapkan semua yang tertulis di kitab Taurat, kitab nabi-nabi, kitab mazmur. Allah Bapa berkenan kepada Kristus, Dia membangkitkanNya, Kristuslah satu-satunya manusia yang dapat mencapai apa yang Tuhan tetapkan dalam hukum taurat, Dialah satu-satunya manusia yang dapat mewujudkan Mazmur 8 yaitu manusia sempurna. Dengan jalan demikianlah, Yesus menjadi Adam kedua, yang melalui kesempurnaan hidup-Nya, melalui ketaatan-Nya menjadi keselamatan bagi kita. Melalui iman didalam Yesus, kebenaran-Nya menjadi kebenaran kita. Dan menerima setiap anugerah keselamatan yang hanya ada di dalam Dia.

Jadi Juruselamat kita adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, yang di dalam kemanusiaan-Nya Dia menjalankan suatu hidup yang mencapai kesempurnaan, baru Dia bisa menjadi juruselamat kita. Penyelamatan kita ini tidak dicapai dengan enteng, tetapi dengan perjuangan, dengan darah, dengan air mata, dengan penderitaan yang begitu sulit. Manusia Yesus telah mencapai suatu kesempurnaan sehingga kita bisa mengerti makna Ibrani 2:9-10 yaitu: Dia yang adalah Allah, untuk suatu waktu yang singkat Dia dibuat lebih rendah dari malaikat yaitu saat inkarnasi, lalu Dia menderita dan mati, agar kita bisa memperoleh keselamatan. Untuk menjadi juruselamat kita, Dia harus mencapai kesempurnaan.

Allah Bapa sangat berkenan kepada Yesus Kristus, sehingga memuliakan manusia Yesus mengatasi segala sesuatu, dan memberikan status sebagai Mesias dan Tuhan. Tetapi ini adalah pemuliaan yang sudah sepatutnya, karena aslinya Dia adalah Allah yang kekal, yang dalam satu masa rela menjadi manusia, menderita dan mati dengan penuh kehinaan. Semua itu dilakukan bukan untuk diri-Nya, tetapi untuk kita semua. Dia menyerahkan setiap hak yang layak Dia miliki untuk kita semua, bagaimana mungkin kita tidak mencintai Dia? Rasul Paulus mengatakan: terkutuklah orang yang tidak mencintai Tuhan. Namun demikian, kita menyembah Dia berdasarkan natur kekal-Nya sebagai Allah yang kekal. Dengan iman kebangkitan kita bisa mengerti bahwa Dia yang berjalan di Galilea adalah Allah yang berinkarnasi.

2. Dampak dari kesempurnaan yang dicapai Kristus adalah Allah memulikan Dia dalam posisi tertinggi yaitu sebagai Tuan atas segala tuan, Raja atas segala raja, bahkan disebut sebagai kurios universal (Tuhan dari alam semesta). Begitu luar biasa hidup-Nya sehingga Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama diatas segala nama, dan setiap lutut akan bertelut, setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Allah Bapa telah menetapkan Yesus menjadi hakim atas seluruh makhluk hidup, setiap orang harus percaya kepada-Nya, karena anugerah dan keselamatan hanya da di dalam Yesus, dan siapa yang menolak-Nya harus menanggung kejahatan mereka. Seperti dikatakan oleh Rasul Paulus dalam Kisah Rasul 17:30-31: Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa dimana-mana semua mereka harus bertobat. Karena Ia telah menetapkan suatu hari pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukanNya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati. Dia adalah Tuhan yang berjalan di dalam sejarah manusia, yang tidak bisa dihindari oleh semua orang. Setiap orang harus menentukan sikap mereka pada Yesus, menyambut dan menerima Dia sebagai Tuhan mereka atau menerima penghukman kekal dan ditolak oleh Allah. Celakalah orang yang menghina Kristus, yang menolak Dia, yang berkata bohong tentang Dia, yang menghalangi orang untuk datang kepada Tuhan. Karena mereka menempatkan diri mereka dalam oposisi terhadap Allah, sebab mereka sedang melawan Allah itu sendiri.

3. Makna ketuhanan Kristus atas orang percaya. Roma 14:9: ... supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. Banyak orang mengaku Yesus sebagai Tuhan tetapi hanya pengakuan kosong belaka karena pada dasarnya hatinya tidak tunduk dan taat serta mengakui Yesus sebagai Tuhan. Ada perdebatan theologis dalam aspek doktrin keselamatan, orang menerima Yesus sebagai juruselamat atau sekaligus sebagai Tuhan (The Lordship Salvation). Pandangan pertama: kita menerima Yesus sebagai juruselamat, dan tetap orang Kristen sejati. Ketika percaya kita masih kurang iman dan banyak kelemahan, namun perlahan-lahan kita bertumbuh untuk menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh. Pandangan kedua, mengatakan seorang Kristen sejati harus menerima Yesus sebagai juruselamat sekaligus sebagai Tuhan. Tentu saja, tidak berarti kita bisa langsung sempurna, kita masih harus mengalami proses pertumbuhan, tetapi sejak awalnya, kita harus menyikapi Yesus secara benar, yaitu juga sebagai Tuhan untuk menyelamatkan kita. Roma 14:9 dengan jelas menolak pandangan pertama, karena menegaskan bahwa Kristus mati dan hidup kembali supaya Ia menjadi Tuhan kita. Dalam Kisah Rasul 11:20, dikatakan bahwa ketika orang-orang Kristen di Anthiokia memberitakan Injil mereka memberitakan Injil tentang Tuhan Yesus atau memberitakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Barangsiapa mengakui dan menerima Yesus sebagai Tuhan, dia akan diselamatkan. Mengakui Dia sebagai Tuhan berarti mengakui kedaulatan-Nya dan ketuhanan-Nya dalam seluruh aspek hidup.

Implikasi menerima ketuhanan Yesus ini ialah sekarang kita adalah milik Tuhan. Dalam 1 Korintus 6:19-20 dikatakan bahwa kita sudah dibeli dengan darah-Nya sehingga kita bukan lagi milik diri kita sendiri melainkan milik Kristus. Maka kita harus hidup untuk Tuhan, bukan untuk diri kita sendiri. Kita adalah budak Allah yang ada untuk Allah. Apapun yang kita lakukan bukan untuk tujuan kita sendiri melainkan untuk tujuan Allah. Hidup ini merupakan pengalaman yang luar biasa karena anugerah Tuhan yang menopang, karena ajaibnya kasih Tuhan yang mengubah kita. Anugerah Tuhan mengubahkan orang yang paling jahat menjadi orang yang mulia. Anugerah besar menuntut pertanggungjawaban yang besar pula. Dan biarlah dalam setiap aspek kita selalu dibakar oleh kehormatan bagi Tuhan. Biarlah kita senantiasa dibakar oleh api untuk mempermuliakan Tuhan. Apakah hidup kita sudah memberikan kehormatan bagi Tuhan? Yesus Kristus yang hidupnya begitu singkat sudah memberikan teladan yang luar biasa mengenai seperti apakah hidup sebagai milik Tuhan, hidup untuk Tuhan, hidup menurut kehendak Tuhan, hidup memuliakan Tuhan. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)