Ringkasan Khotbah : 29 Maret 2009

Damai Sejahtera bagi Kamu

Nats: Yohanes 20:19-23

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Nats Alkitab kita hari ini berbicara tentang segmen terakhir di hari pertama minggu itu. Inilah hari dimana Tuhan Yesus bangkit. Tuhan Yesus bangkit bukan 3 hari setelah Dia mati melainkan di hari ke-3 sesudah Dia mati. Hitungan hari ke-3 tersebut bukan berdasarkan hitungan tarikh Masehi yang kita ikuti sekarang ini dimana hitungan hari dimulai dari pukul 12 malam. Orang Yahudi memulai hari dari pukul 6 sore. Tuhan Yesus bangkit dengan tidak ada yang mengetahui waktu tepatnya sebab prajurit yang menjaga kuburNya dihukum mati semuanya karena secara hukum Romawi mereka telah melakukan pelanggaran berat yang mengakibatkan narapidana mati bisa hilang.

Sejak tidak adanya mayat Tuhan Yesus di minggu pagi itu, seluruh Yerusalem menjadi heboh, orang Yahudi dan orang Romawi menjadi ketakutan sekali karena bagi orang Yahudi yang tidak percaya kebangkitan Tuhan Yesus adalah berdampak jauh lebih besar kalau sampai mayat Tuhan Yesus dicuri orang dan kemudian dikabarkan bahwa Tuhan Yesus bangkit; orang-orang akan menjadi percaya kepada Tuhan Yesus karena sebelumnya Dia pernah berkata bahwa Dia akan pergi ke Yerusalem, dianiaya oleh para tua-tua Yahudi dan ahli Taurat, disalibkan, mati dan pada hari ke-3 akan bangkit. Peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus ini merupakan peristiwa yang jauh diluar pemikiran orang Yahudi dan orang Romawi. Apa yang mereka pikirkan sudah menang dan selesai ternyata tidaklah selesai.

Pada hari itu, Maria dengan hati yang galau bertanya kepada malaikat yang dikiranya seorang penjaga kubur: di manakah mayat Tuhan Yesus? Tuhan Yesus kemudian menampakkan diri kepada Maria dan berkata: inilah Saya! Maria kemudian mengumumkan hal ini kepada semua murid Tuhan, lalu semua murid mulai memikirkan apa yang pernah Yesus katakan dan janjikan, semuanya mulai berhubungan satu per satu. Harusnya hari itu menjadi hari pekik kemenangan dan memberi mereka kekuatan, karena apa yang Tuhan Yesus katakan adalah benar. Faktanya tidaklah demikian, para murid juga heboh dan takut kepada orang Yahudi, mereka mengunci semua pintu.

Di abad sekarang ini, seharusnya di posisi yang sangat kritis yang sangat menakutkan bagi orang dunia, seharusnya orang Kristen bisa berteriak: menang!; karena kita memang beda dengan dunia. Kenyataan yang terjadi adalah di saat orang dunia panik dan ketakutan, orang Kristen pun tidak berbeda, karena format pikir orang Kristen tidaklah sama dengan yang diharapkan. Para murid memiliki setting pemikiran yang sama dengan dunia, mereka takut mati, takut dituduh sehubungan dengan hilangnya mayat Tuhan Yesus. Betapa celakanya kita kalau kita memiliki reaksi yang sama dengan orang dunia didalam menghadapi krisis. Seharusnya kita berubah dan memiliki sikap yang berbeda di tengah pergumulan krisis dunia saat ini. Yang menjadi point dalam situasi seperti ini adalah apakah kita berani maju karena nekat atau karena beriman? Nekat adalah keberanian yang muncul karena dalam posisi yang terpojok/ terjepit. Iman yang sejati membuat kita menjadi berani, tetapi bukannya berani yang ngawur, berani yang sejati adalah berani dalam prinsip-prinsip yang jelas. Tuhan Yesus hendak mengajar kita bahwa paskah adalah titik dimana kita bisa maju didalam iman yang sesungguhnya.

Orang-orang itu ketakutan karena mereka terkunci/ terikat didalam humanisme mereka, mereka hanya takut mati, takut celaka dan takut semua hal. Dalam kondisi seperti itu, Tuhan menjawab dengan jawaban yang indah yaitu: Syalom! (berarti: damai sejahtera bagi kamu). Di dunia ini seringkali orang berkata: syalom! tetapi sayangnya yang diajak ngomong dan yang ngomong sendiri tidaklah merasakan damai sejahtera. Sejak dari awal pelayananNya sampai peristiwa diatas, inilah untuk pertama kalinya Tuhan Yesus mengatakan: Syalom! Hal ini disebabkan karena damai sejahtera yang sejati baru terjadi sesudah kebangkitan, sesudah kemenangan Kristus.

Apakah arti damai sejahtera? Kata “damai” di dunia ini sudah kacau artinya. Orang seringkali merasa tidak damai dengan adanya cara tertentu, berarti damai atau tidaknya tergantung pada cara yang ada. Hal ini bukanlah damai melainkan egoisme. Tindakan seseorang atau tidak bertindaknya seseorang menentukan damai atau tidak damainya kita, berarti damai sejahtera kita tergantung dari orang menyenangkan kita atau tidak, dengan kata lain: damai sejahtera adalah akibat dari egoisme. Inilah damai yang bersifat dosa. Pdt. Stephen Tong pernah berkata: maling kalau bertemu polisi selalu tidak bisa damai, sedangkan kalau bertemu dengan sesama maling akan merasa damai. Inilah damai sejahtera versi orang berdosa. Ketika manusia masuk kedalam damai sejahtera versi seperti ini, manusia akan menjadi rusak. Damai sejahtera seperti ini diproduksi oleh egoisme manusia didalam relativitas manusia berdasarkan subyektivitas manusia dan berakhir dengan pragmatisme manusia. Ketika manusia mulai bermain dengan damai sejahtera yang dibangun diatas relativisme manusia, yaitu damaiku bukanlah damaimu berdasarkan pertimbangan masing-masing, damai seperti ini dibangun diatas keingingan/kepentingan masing-masing manusia sebagai subyeknya tanpa mempedulikan orang lain, buntut terakhirnya adalah cari hal yang bisa membuat semua damai (bersifat pragmatis), cari enaknya.

Inilah kedamaian yang paling rusak. Kata “damai” dengan pengertian tertentu juga dilontarkan ketika seseorang ditangkap oleh polisi. Di sini kita melihat bahwa kata “damai” memiliki kekacauan makna dari esensi damai itu sendiri.

Damai yang Tuhan berikan tidaklah mudah untuk dibicarakan. Tuhan berkata: damai sejahtera yang ada padaKu dan yang Kuberikan kepadamu adalah damai sejahtera yang lain dari yang ada di dunia ini. Inilah damai sejahtera yang sejati. Damai sejahtera yang Kristus berikan meniadakan semua ketakutan. Damai sejati tidaklah bergantung pada sikap orang maupun kondisi, karena sudah betul-betul berakar didalam damai itu. Mengapa damai sejahtera yang sejati bisa membuat kita betul-betul damai di tengah-tengah badai yang besar sekalipun? Damai yang relatif sifatnya akan membuat kita selalu mengambang di tengah-tengah situasi dan kondisi, sehingga kita menjadi goncang setiap saat. Bahkan ketika kita mengejar damai, kita takut tidak bisa damai, ketika kita mendapatkan damai, kita takut kehilangan damai, sehingga kita tidak bisa mendapatkan damai itu sampai mati sekalipun.

Ada 4 aspek penting dari “damai sejahtera” yaitu:

1. Damai sejahtera yang sejati terjadi sesudah kebangkitan karena damai sejati terjadi ketika kita diperdamaikan dengan Sumber Damai yaitu pada saat kebangkitan Tuhan Yesus. 

Kita seharusnya mencari damai dari sumbernya yaitu Tuhan Allah yang adalah Sumber Damai. Kalau kita bertemu dengan Sumber Damai maka kita akan damai, sedangkan kalau kita bertemu dengan sumber tidak damai maka kita juga tidak akan damai. Sumber Damai adalah Sumber Kebenaran sejati, Sumber Keadilan sejati, Sumber Kuasa sejati, yang adalah Tuhan. Maka Tuhan Yesus berkata: serahkanlah dirimu diperdamaikan dengan Allah.

2. Damai sejati adalah damai yang mengalahkan semua ketakutan.

Ketakutan yang paling dahsyat adalah ketakutan karena kita diterkam oleh setan. Kuasa iblis adalah kuasa mematikan yang paling dahsyat. Manusia merasa takut karena sadar kalau diri berdosa, buntut terakhirnya adalah kematian. Ketika mati kita langsung dikuasai oleh iblis. Semua orang berdosa ada di dalam cengkeraman iblis dan pasti menuju kematian, Tuhan Yesus pun ingin dicaplok oleh iblis. Tetapi ternyata Tuhan Yesus tidaklah dapat ditangkap oleh iblis, ketika Tuhan Yesus mati Dia tidak dapat dikuasai oleh iblis, di sini terlihat bahwa kematian tidaklah mampu menguasai kehidupan. Kristus menguasai kematian. Karena itu dikatakan: kematian Kristus adalah kematian yang mematikan kematian. Itulah yang menyebabkan Kristus bisa bangkit. Ketika Kristus menang, keluar dari kematian, Dia bisa menunjukkan lubang paku di tanganNya, lubang tombak di perutNya, menunjukkan bahwa Dia benar-benar bangkit. KebangkitanNya menjamin damai sejahtera bagi kita, karena ketakutan kita yang paling besar menjadi selesai. Inilah yang dikatakan oleh Paulus: hai maut, di manakah sengatmu? Barangsiapa di dalam Kristus, dia memiliki kekuatan damai sejahtera. Kedamaian yang kita miliki adalah kedamaian yang bersifat laten, kedamaian karena kita tidak bisa diapa-apakan oleh dunia secara esensial. Di tengah-tengah badai dunia ini, damai itu membuat kita melihat semua kembali kepada Tuhan. Ketika kita bisa memandang kepada Tuhan, mengembalikan semua aspek kepada Tuhan, di situlah damai sejahtera sejati terjadi. Ketika kita mulai bermain dengan subyektifitas, egoisitas, dan kepentingan manusia, maka kita akan kehilangan damai sejahtera.   

Dalam gerakan Reformed Injili, ketika kita punya usul, cek terlebih dahulu apakah ada kepentingan diri di dalamnya, kalau ada maka hentikan usul itu, kalau tidak ada maka kita harus siap menjadi penggerak pertama yang siap berkorban untuk menjalankan usul tersebut, nanti orang yang lain akan dikirim Tuhan untuk mendukung kita kalau memang hal tersebut adalah kehendak Tuhan. Prinsipnya adalah: siapa yang bicara, siapa yang bayar. Tetapi sebaliknya kalau hal tersebut merupakan ambisi pribadi kita, maka kita akan mati sendiri di depan karena tidak akan ada orang yang mendukung. Kalau Tuhan mau dan Tuhan suka maka kita juga harus mau dan suka. Kita perlu berubah dari tidak mau dan tidak suka menjadi mau dan suka, tetapi Tuhan tidaklah berubah. Kalau kita maju dan berjalan berdasarkan kehendak Tuhan maka tidak ada siapapun yang berhak dan dapat mengganggu/ menggeser kita. Hal ini bukan hanya berlaku di dalam gereja melainkan di semua aspek kehidupan. Marilah kita memulai setiap langkah kita dengan bertanya apakah Tuhan suka atau tidak, manakah yang Tuhan suka, maka damai sejahtera Allah akan beserta kita. Kalau Tuhan yang pimpin hidup kita, maka kita akan hidup dengan tenang tanpa terganggu oleh badai yang ada. Kita tidak bisa meneduhkan zaman yang bergolak, tetapi hati, jiwa maupun pikiran kita tidak perlu ikut bergolak. Hidup berdamai dengan Allah adalah kunci pertama dari seluruh kehidupan kita. Adalah sayang kalau kita tidak bisa menikmati harta warisan yang Tuhan berikan kepada kita dalam hidup kita ini. Penderitaan tetap ada dan banyak sekali, tetapi Tuhan berjanji akan memberikan kepada kita kemenangan dan damai sejahtera itu, karena Tuhan sudah mengalahkan dunia ini (Yohanes 16:33).

3. Damai sejahtera Tuhan tidaklah bersifat pasif melainkan bersifat aktif, agresif dan maju.

Orang cenderung lari mundur ke belakang untuk mendapatkan damai, lari ke gunung dan masuk ke dalam goa. Sebenarnya yang didapatkan adalah damai karena sepi, ketika kembali ke tempat yang ramai maka damainya menjadi hilang. Damai yang seperti ini adalah sangat situasional. Tuhan Yesus mengutus para murid untuk keluar dari pintu yang mereka kunci rapat-rapat. Iman Kristen bukanlah iman yang damai melalui melarikan diri, melalui meditasi, melalui mimpi, melainkan damai yang turun ke tengah dunia, disitulah damai kita menjadi nyata. Damai kekristenan adalah damai yang cukup kuat untuk menghantam realita karena merupakan damai yang dari dalam mempengaruhi luar. Damai sejahtera Kristus adalah damai didalam membawa ketaatan kepada Tuhan. Pada waktu kita menjalankan kehendak Allah/ pengutusan Allah, damai sejahtera Allah akan menyertai kita. Orang yang tidak mau mengerjakan apa-apa maka damai Tuhan akan mengganggu dia. Setiap kita mempunyai panggilan yang Tuhan mau untuk kita kerjakan, maka kita harus mengerjakan panggilan kita masing-masing. Kalau kita menjalankan panggilan kita secara tuntas maka kita akan mengalami damai.

4. Damai akan didapatkan kalau urusan dosa dibereskan.

Yohanes 20:22-23 berisi kalimat yang luar biasa besar maknanya yaitu kalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosanya tetap ada maka dosanya tetap ada. Kalimat ini menunjuk kepada kalimat yang pernah dikatakan oleh Tuhan Yesus sebelumnya secara simbolik. Urusan pertama yang harus dibereskan oleh setiap orang Kristen, yang sudah diperdamaikan dengan Allah, yang diutus keluar untuk melayani adalah urusan dengan hidup manusia. Urusan hidup berurusan dengan satu masalah yaitu masalah DOSA. Itulah akar dari semua urusan yang kita alami. Semua agama hanyalah berurusan dengan wujud dari dosa itu yaitu kejahatan tetapi tidak bisa berurusan dengan esensi dari dosa itu sendiri. Dosa adalah melawan Allah, memberontak terhadap Tuhan dan kebenaranNya. Dosa hanya bisa beres melalui penebusan Kristus. Setelah kayu salib baru ada damai sejahtera itu. Di Kaisarea Filipi, Tuhan Yesus bertanya kepada para murid: menurut kamu, siapakah Saya? (Matius 16:13-20) Petrus berkata: Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup! Itulah misi yang membuat damai sejahtera menjadi ada. Tuhan Yesus kemudian berkata: Itu adalah perkataan dari BapaKu. Sekarang engkau kuberi simbolnya yaitu kunci Kerajaan Surga, apa yang kau kunci di dunia akan terkunci di Surga, apa yang kau buka di dunia akan terbuka di Surga. Pada saat itu, yang menjadi kunci dan apa yang diikat maupun yang dibuka belumlah dibukakan karena belumlah waktunya. Pada Yohanes 20:22-23 inilah pengertian tersebut dibukakan, uniknya bukan hanya untuk Petrus melainkan untuk semua murid. Jadi esensi kunci diatas adalah membereskan dosa manusia. Itulah urusan esensial dari hidup manusia yang menentukan tujuan hidup manusia, ke surga atau neraka, dan seluruh hidup kita akan menjadi apa. Kalau dosa tidak dibereskan maka semua yang lain tidaklah berguna untuk dibicarakan. Karena itu, Tuhan Yesus mengutus muridNya untuk pergi membereskan urusan ini. Urusan inilah yang harus dibicarakan dalam berbagai segi kehidupan baik di dunia sekolah, dunia ekonomi, dunia hukum, dll. Kita harus memperingatkan sekitar kita bahwa kalau kita tidak bisa membereskan dosa kita maka hidup kita akan celaka, akan mati dan tidak ada jalan keluar, seluruh masa depan menjadi gelap total karena berakhir di neraka. Inilah tugas seorang anak Tuhan. Seberapa jauh kita dipakai oleh Tuhan untuk memperingatkan orang lain sebelum situasi dunia semakin memburuk agar orang lain tidak berjalan di jalur dosa yang membawa kepada kematian? Biarlah ketajaman, ketenangan dan damai sejahtera Tuhan yang kita miliki menjadi berkat bagi banyak orang.

Kenapa kita diperbolehkan mengatakan kepada orang lain bahwa dosanya diampuni? Tuhan berkata: Saya mengembusi mereka dengan Roh Kudus. Hal ini menunjukkan bahwa Roh Kudus berperan sekarang. Apakah Roh Kudus baru ada sesudah Pentakosta? Tidak! Roh Kudus sudah ada sejak zaman PL. Ketika Allah Bapa bekerja, Kristus dan Roh Kudus bekerja di belakangNya. Dari sejak Tuhan Yesus dikandung, Alkitab mencatat: Yesus dikandung dari Roh Kudus; ketika Tuhan Yesus dibaptis, Roh Kudus turun dalam rupa burung merpati; sebelum pelayanan Tuhan Yesus dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun; berarti setiap momen dan setiap saat Roh Kudus bekerja. Sekarang ini tugas Tuhan Yesus sudah selesai dan waktunya bagi Roh Kudus untuk bekerja. Kalau Roh Kudus turun kepada kita maka Roh Kudus tidak pernah berkata dari DiriNya, tidak pernah sok kreatif. Roh Kudus hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Kristus, sedangkan Kristus hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Bapa di Surga.

Tugas Roh Kudus adalah menginsyafkan manusia akan dosa, akan kebenaran dan akan penghakiman (Yohanes 16:8). Ketika Roh Kudus berada di dalam diri seseorang maka orang tersebut pasti akan insyaf akan dosa, insyaf akan kebenaran bahwa Tuhan Yesus pasti naik ke Surga dan akan datang kembali sebagai hakim seluruh dunia yang menunjukkan bahwa Dia adalah kebenaran sejati, tajam mengerti akan penghakiman bahwa orang yang tetap berdosa akan dibuang ke neraka sedangkan yang bertobat akan dimasukkan ke Surga. Hal inilah yang membuat kita menjadi gentar untuk berbuat salah, gentar berada di dalam kekacauan hidup. Kalau kita hidup benar maka kita tidak akan takut akan penghakiman, tidak takut dihakimi. Kalau kita hidup benar maka kita akan hidup tenang. Kalau kita bisa beres dengan penghakiman di atas maka kita akan hidup dengan enteng di dunia ini. Tuhan akan memberi kita kekuatan untuk bersaksi di tengah dunia dan pada waktu itu damai sejahtera itu akan betul-betul kita alami dan juga kita bawa untuk orang-orang di sekitar kita. Dunia ini sangat menakutkan dan mencekam, banyak orang yang memerlukan damai sejahtera Tuhan. Sebelum kita menyalurkan damai itu, kita terlebih dahulu harus memiliki damai sejahtera itu. Amin.  ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)