|
Ringkasan Khotbah : 22 Maret 2009
Nats: Keluaran 24:1-8, Ibr 12:18-26 Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan |
Penulis Kitab Ibrani memberikan 2 peristiwa yang berbeda dalam Ibrani 12:18-26 yaitu peristiwa bangsa Israel menerima 10 Hukum Tuhan di Gunung Sinai, langsung dihubungkan dengan PB mengenai Kristus dan karya penebusanNya. Apakah yang menjadi tali penghubung antara 2 peristiwa ini? Pada saat seluruh bangsa Israel berdiri di kaki Gunung Sinai dan Tuhan memberikan hukum-hukumNya melalui Musa, kemudian Musa memberikan korban bakaran di hadapan Tuhan, lalu percikan dari darah korban tersebut diberikan kepada umat Israel seluruhnya. Penulis Kitab Ibrani juga berbicara tentang Kristus, dan adanya pemercikan darah Kristus yang menjadi meterai dari perjanjian.
Pada waktu umat Israel, setelah Tuhan berbicara kepada Musa, berkumpul di kaki Gunung Sinai, sebelumnya Tuhan menitipkan Firman kepada Musa untuk disampaikan kepada umat Israel bahwa 3 hari lagi Dia akan turun di atas Gunung Sinai. Seluruh umat Israel harus bersiap selama 3 hari itu dengan berpuasa. Kira-kira suasana seperti apakah yang melingkupi seluruh umat Israel ini? Mereka tentunya mempersiapkan diri dengan tidak main-main, melainkan dengan ketakutan yang amat sangat sebab Alkitab sendiri mengatakan bahwa Musa pun melihatnya sebagai sesuatu yang menakutkan dan dia sangat gemetar sekali menuju kepada saat itu. Pada hari ke-3, pagi-pagi Musa berdiri di muka lalu seluruh umat Israel berdiri di hadapan tenda mereka menghadap ke arah Gunung Sinai. Orang Israel berkemah di sekitar gunung. Tidak berapa lama kemudian, langit mulai kelam, awan tebal mulai turun, lalu disertai dengan guntur yang menyambar-nyambar, dan suasana makin mencekam sekali. Musa yang berdiri di depan mengatakan: sangat mengerikan pemandangan itu. Dia berdiri dan menantikan saat Allah berbicara. Kemudian Allah mulai berbicara, menyatakan hukum-hukumNya. Musa mulai mencatat setiap hukum tersebut lalu setiap umat Israel diminta untuk memberikan respon terhadap hukum yang Tuhan berikan. Mereka semua mengatakan: kami akan mentaati seluruh perintah yang dari Allah. Kemudian ada darah yang dipercikkan, inilah yang disebut sebagai awal dari perjanjian kerja. Allah mengikat diri di dalam sebuah perjanjian, bahwa Dia akan memberkati umatNya jikalau mereka taat kepada seluruh hukum dan perintahNya. Perkataan umat Israel bahwa mereka akan mentaati seluruh perintah Allah dan hidup dalam kesungguhan dalam ketaatan itu, merupakan bagian yang lain dari perjanjian itu.
Allah adalah Allah yang setia yang tidak pernah menarik perjanjianNya ataupun mengubahnya. Pada waktu Dia mengikat diri dalam sebuah perjanjian bahwa Dia akan memberkati seluruh ketaatan, Dia akan mengerjakan hal tersebut. Sebaliknya, orang Israel menyangkali perjanjian yang pernah mereka lakukan. Mereka gagal di dalam menjaga ketaatan mereka. Di sini dapat terlihat bahwa perjanjian kerja itu tidak dapat dikerjakan oleh setiap orang Israel, hal ini menunjukkan bagaimana mereka semakin berusaha untuk taat mereka semakin gagal untuk taat, semakin mereka berusaha untuk hidup berkenan kepada Allah semakin mereka melakukan hal yang tidak berkenan kepada Allah. Inilah cerminan natur dari manusia berdosa. Frustrasi melingkupi semua orang yang berusaha untuk hidup dalam perjanjian kerja, sehingga perlu adanya pembaharuan perjanjian yang kemudian disebut dengan perjanjian anugerah.
Di dalam perjanjian anugerah, Kristus berdiri sebagai mediator antara Allah dan umatNya. Di dalam perjanjian ini dikatakan bahwa tidak ada satupun upaya manusia yang dapat membawa manusia kembali kepada Allah, tidak ada satupun dari jerih lelah manusia yang olehnya Allah berkenan menerimanya. Perjanjian ini melihat Kristus didalam korban penebusanNya, menjadi pintu masuk keselamatan sehingga seseorang bisa berjumpa dengan Allah. Perjanjian anugerah dimeteraikan dengan pemercikan darah Kristus. Perjanjian kerja dimeteraikan dengan pemercikan darah binatang korban yang disembelih.
Penulis Kitab Ibrani mengatakan bahwa darah Kristus adalah lebih dari semua yang lain. Darah Kristus mengatasi seluruh tata liturgi korban persembahan di dalam PL. Di dalam PL berkali-kali korban harus dipersembahkan di hadapan Allah, berkali-kali imam besar harus menyembelih binatang korban, berkali-kali darah binatang korban membasahi mezbah korban bakaran dan tanduk-tanduk yang ada di ujung mezbah tersebut. Mezbah korban bakaran adalah salah satu perkakas yang diletakkan di pekarangan kemah Musa di tempat paling depan. Di atas mezbah tersebut tubuh korban bakaran dipotong-potong lalu dibakar sebagai bau-bauan yang menyenangkan bagi Tuhan. Setiap kali orang Israel berbuat dosa harus membawa binatang persembahan yang harus disembelih di sana dan kemudian imam harus memercikkan darah binatang tersebut sebagai tanda permohonan pengampunan dosa. Pekerjaan ini adalah pekerjaan rutin. Ada lagi pekerjaan imam besar yang dilakukan 1 kali dalam 1 tahun yaitu setelah mempersiapkan diri dalam perayaan hari penebusan, dia membawa darah binatang masuk ke dalam tenda melewati Ruang Suci dan masuk ke dalam Ruang Maha Suci; di dalam tempat itu dia kembali memercikkan darah binatang sebanyak 7 kali tepat di atas tutup pendamaian; di situlah Allah menerima korban yang meminta pengampunan dosa bagi seluruh umat.
Seluruh hal yang dilakukan dalam PL sekarang sudah berhenti didalam korban Kristus, yang dikerjakan dalam PL menunjukkan ketidaksempurnaan tetapi setelah Kristus menyelesaikan tugas penebusan maka tuntaslah/ genaplah apa yang Tuhan mau untuk menyelesaikan problema dosa manusia.
Yesus Kristus jauh melebihi sistim pengorbanan PL, jauh melebihi seluruh sistim keimaman PL, bahkan jauh melampaui keimaman dari Melkisedek. Mengapa demikian? Dalam PL kita melihat bahwa seluruh persembahan terdiri dari beberapa bagian, yaitu: ada orang Israel yang datang membawa korban persembahan, ada korban persembahan, ada imam yang menerima korban itu. Ini adalah 3 sisi yang berbeda didalam PL. Kristus menggabungkan ketiga hal yang berbeda diatas menjadi 1 didalam diriNya. Yesus Kristus mewakili orang yang berdosa yang datang kepada imam, Dia adalah imam itu sendiri yang menerima korban persembahan, dan Dia adalah korban itu sendiri.
Pada saat ini saya akan menyoroti secara khusus mengenai pemercikan darah Kristus. Sebelum pemercikan darah oleh Kristus, ada penderitaan, kesakitan, penolakan, pengosongan diri, penghinaan yang sedalam-dalamnya yang Kristus alami yang tidak pernah dialami oleh siapapun juga. Puncak dari seluruh yang dialami itu adalah darah Kristus harus dipercikan. Ini menjadi lambang, menjadi meterai dari perjanjian yang baru.
Pada saat penerjemahan Alkitab dari bahasa aslinya menuju ke bahasa Inggris terjadi kesulitan untuk menerjemahkan kata “penebusan” sehingga keluarlah kata “at one moment” yang akhirnya menjadi “atonement”. Pada satu kali waktu tertentu Kristus pernah memberikan hidupNya, pernah ada kayu salib yang ditegakkan, pernah ada darah kudus yang mengalir. Pada satu kali tertentu dan tidak pernah ada waktu yang lain lagi.
Ada 4 pokok bahasan mengenai darah Kristus yaitu:
1. Darah penebusan mau menunjukkan pusat dari isi hati Allah sehingga orang dapat datang dan berjumpa dengan Dia.
Di dalam PL, orang boleh datang dan mendekati Allah pada waktu Allah datang memberi undangan dengan disertai aturan-aturan yang berkaitan dengan kesucian Allah. Di dalam PB, untuk orang bisa datang kepada Allah harus melewati pintu satu-satunya yaitu Kristus sebagai perantara. Tidak ada perantara yang lain. Kristus adalah jalan masuk menuju tahta Allah. Mengapa kita bisa masuk ke Surga dan memiliki sukacita yang tidak pernah habis? Oleh karena adanya darah pemercikan itu, yang menjadikan tanda bahwa kita adalah umat tebusan. Kita tidak pernah melihat dan mengalami penebusan Kristus secara historis, tetapi secara rohani tanda darah pemercikan itu ada dalam hati kita masing-masing. Kristus menorehkan darah pemercikan itu untuk membasuh dosa-dosa yang kita miliki.
Kristus di atas kayu salib menyatakan isi hati Allah. Allah Bapa memang mengalami kepiluan karena Anak Tunggal Bapa harus mati mengalirkan darah, harus memercikan darah, tetapi Allah Bapa juga bersukacita karena korban AnakNya yang tunggal itu memberikan kepuasan didalam DiriNya. Pada waktu Kristus mati, seluruh kemuliaan Allah dinyatakan, seluruh tuntutan Allah terhadap problema dosa manusia menjadi selesai, Allah Bapa memperdamaikan DiriNya dengan orang-orang berdosa, Allah Bapa memilih untuk tidak mengingat dosa manusia. Allah di dalam kemaha-tahuanNya selalu mengingat dosa manusia, tetapi ketika Kristus mati di atas kayu salib, Allah Bapa memilih untuk tidak mengingatnya lagi. Inilah yang disebut dengan anugerah. Inilah yang disebut dengan pengampunan di dalam perjanjian anugerah.
2. Darah pemercikan itu berbicara, berarti identik dengan Kristus sendiri.
Darah pemercikan, dipersonifikasikan, berbicara kepada Allah dan menembus tahta Allah. Darah pemercikan itu sebagai tanda, sama halnya dengan pada waktu bangsa Israel akan keluar dari Mesir, Tuhan mengatakan: akan ada malaikat maut yang akan mencabut nyawa seluruh anak sulung orang Mesir, tetapi kamu, bubuhkanlah darah binatang di pintu rumahmu dan di ambang pintu rumahmu maka malaikat maut akan meluputkan engkau dan anak sulungmu akan selamat. Pada malam itu, suasana di dalam rumah orang Israel diliputi suasana yang sangat mencekam. Saya berani menafsirkan bahwa malaikat maut memberikan penghormatan kepada tanda darah tersebut karena menurut catatan di Kitab Wahyu ketika seluruh penghuni Surga berkumpul dan Anak Domba itu di sana, mereka memberi hormat dan mengatakan: Anak Domba yang disembelih patut menerima pujian dan penghormatan.
Tanda itulah yang merupakan satu-satunya akses masuk ke dalam Surga. Peristiwa yang dialami orang Israel diatas dimana di pintu diberi tanda darah merupakan sebuah gambaran tentang Surga. Setelah malaikat maut melewati rumah tersebut, suasana berubah menjadi sukacita karena tidak ada lagi kematian di rumah tersebut. Ini pemandangan paling primitif tentang Surga, karena ada tanda darah anak domba yang mencegah malaikat maut datang. Betapa besar yang diperbuat oleh Kristus dan betapa mengerikannya kalau pemercikan darah itu tidak pernah dilakukan oleh Kristus. Suara darah Kristus itulah yang berseru terus menerus melebihi suara darah Habel, dan suara itulah yang didengar oleh Musa di kaki Gunung Sinai yang memanggil Musa untuk naik ke atas Gunung Sinai. Suara itulah yang menggoncangkan gunung-gunung, juga Surga, dan hati nurani orang berdosa. Ketika Kristus berbicara, suara itu diperdengarkan, maka hendaknya kita bersukacita, itulah tanda adanya kebaikan Allah yang ditujukan kepada kita satu persatu. Adalah sebuah kecelakaan jikalau Tuhan menutup mulut dan tidak berbicara apapun yang merupakan tanda Tuhan sudah mengabaikan kita. Suara itu akan terus diperdengarkan dan mencari orang berdosa bahkan di ujung dunia manapun.
Darah Kristus identik dengan Kristus sendiri. Tidak ada kekristenan tanpa Kristus. Tidak ada Kerajaan Allah tanpa darah pemercikan. Tidak ada sukacita surgawi jikalau memisahkan Kristus dengan darah pemercikan. Alkitab mengatakan: apa yang sudah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Kalimat itu bukan hanya berbicara mengenai hubungan suami dan istri tetapi juga menyangkut semua sistim yang sudah Allah tentukan. Sejak Kristus memasuki masa pelayanan, sudah ada upaya-upaya untuk memisahkan Dia dengan karya penebusanNya. Ada yang mengatakan: siapakah Dia sehingga bisa berkata bahwa Dia berasal dari Allah, tubuh Kristus di dunia adalah tubuh bayang-bayang belaka berarti tidak memiliki darah di dalamnya, kalau bicara tentang Yesus cukup hanya dalam lingkup sejarah tetapi jangan tentang Yesus yang membangkitkan iman, kalau bicara tentang Yesus yang membangkitkan iman maka hanya cukup di sisi itu saja dan jangan bicara bahwa Yesus sungguh-sungguh pernah hadir dalam sejarah. Itulah contoh-contoh upaya untuk memisahkan Dia dengan karya penebusanNya. Upaya-upaya itu juga menunjukkan betapa mengerikannya dosa itu, bodohnya orang berdosa yang dikuasai dosa sehingga tidak dapat melihat kemuliaan Allah yang dinyatakan didalam diri Kristus.
3. Kristus dan darah pemercikanNya menjadi perantara perjanjian baru.
Alkitab baik dalam PL maupun PB menyatakan bahwa tidak ada perjanjian yang tanpa darah. Jika A dan B mengadakan perjanjian, tata cara perjanjiannya adalah: setelah perjanjian ditetapkan, mereka harus mengambil lembu, menyembelihnya, darahnya ditampung, kemudian tubuh binatang itu dipotong-potong, ditaruh berjejer, darah dipercikan di atas tubuh binatang itu, untuk mengatakan: kalau ada pihak yang mengingkari janji maka nasibnya akan sama dengan binatang itu. Perjanjian yang demikian begitu mengerikan, taruhannya adalah hidup orang itu sendiri.
Dalam perjanjian ada darah, ada pertaruhan hidup, sehingga penebusan yang dikerjakan Kristus terjadi sekali dalam sejarah untuk menunjukkan bahwa ketika semua umat tebusan masuk ke dalam genggaman tangan Allah Bapa dan tangan Kristus bukanlah sesuatu hal yang mudah melainkan harus melewati suatu pertaruhan, ada darah yang harus dicurahkan, seluruh totalitas hidup diletakkan di atasnya. Pada waktu Kristus mati di atas kayu salib, maka darah perjanjian langsung menjadi meterai perjanjian baru. Darah Kristus ketika 1 kali dicurahkan memberikan dampak kekekalan. Darah Kristus ketika dipercikan di dalam jiwa semua orang berdosa yang kepadanya Allah berkenan maka itu tidak pernah ditarik kembali. Perjanjian itu tidak pernah Kristus revisi dan tidak pernah diubah lagi. Perjanjian itu adalah perjanjian kekal.
Darah itu berseru keras dan menembus ke tahta Allah Bapa. Suara itu mengatakan: Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Suara itu berseru: bebaskanlah mereka dari seluruh belenggu dosa mereka. Suara itu menjelaskan betapa jahatnya dosa itu sekaligus hendak mengatakan betapa dalamnya cinta Allah. Inilah suara penebusan. Suara itu diperdengarkan di atas kayu salib. Suara itu adalah suara cinta yang tidak pernah habis, suara kekal yang terus terdengar sepanjang abad dan tempat. Suara itu menjelajah masuk ke segala tempat persembunyian orang-orang berdosa dan mencapai mereka di sana, bahkan ke dalam dunia orang mati pun suara itu pasti dapat masuk. Suara itu ketika menemukan orang berdosa akan mengatakan: Aku mengasihimu dan Kristus sudah mati menggantikan engkau, ada darah pemercikan bagi dosamu.
Suara itu pernah suatu kali tertentu menjumpai saya di tempat persembunyian saya di sebuah retreat sekolah. Saya bergumul untuk angkat tangan atau tidak. Akhirnya saya mengangkat tangan saya, seperti mau berkata: Tuhan, Engkau sudah menemukan aku. Maka aku berdiri dan berkata: di sini aku. Hari itu Kristus membasuh hatiku yang penuh dengan kemerahan dosa, dibasuh oleh darah suci, darah pemercikan. Pada hari itu saya bersyukur dengan amat sangat, saya menjadi orang yang baru, saya mengalami damai sejahtera surgawi yang melingkupi hati, terus menerus sampai dengan saat ini.
4. Darah Kristus selalu berbicara terus menerus.
Penulis Ibrani memakai bentuk present continuous untuk kata “berbicara” pada Ibrani 12:24. Hal ini untuk mengingatkan bahwa kasih Allah kepada manusia adalah kasih yang kekal, Kristus adalah satu-satunya suara yang berseru di sepanjang zaman, yang terus menerus berseru dengan keras.
Kenapa darah Kristus dibandingkan dengan darah Habel? Kira-kira darah Habel menyerukan apa? Menurut saya, seruan darah Habel adalah: Ya Allah, oleh karena aku hendak menunjukkan imanku dengan cara memberikan persembahan ini, sebagai akibatnya darahku harus dicurahkan. Habel menjadi tipologi dari Yesus Kristus. Dalam ketaatanNya, Kristus melaksanakan kehendak Allah Bapa, dan untuk itu Dia harus memercikan darah kudusNya.
Darah Kristus berseru lebih keras daripada darah Habel karena darah Kristus adalah darah penebusan yang berseru memohon pengampunan, darah yang penuh dengan anugerah karena setelah penebusan dilakukan oleh Kristus maka Allah tidak lagi mengingat-ingat dosa-dosa dari manusia. Darah itu mau menyatakan kekudusan Allah dan cinta kasihNya, keadilan Allah dan anugerahNya, kebenaran Allah dan belas kasihNya. Karena itu, jagalah supaya kamu jangan menolak Dia yang berfirman, sebab pada waktu Allah berbicara, disana Roh Kudus mengajarkan sesuatu tentang darah Kristus yang melebihi semua darah yang lain bahkan melebihi semua darah dari kaum martir yang memang juga dicurahkan bagi Allah. Suara Kristus dengan lembut terus Ia perdengarkan di telingamu, engkau dapat menyambutnya, engkau dapat mendengarnya dan engkau dapat memberikan perhatian penuh kepadanya. Jangan tolak suara itu! Suara Kristus ketika Dia perdengarkan merupakan tanda adanya cinta yang tidak pernah berubah, cinta kekal yang selalu mau Ia nyatakan untuk orang berdosa seperti anda dan saya. Kiranya Firman Tuhan pada hari ini mengingatkan kita akan apa yang sudah Kristus perbuat dan mendorong kita untuk membaktikan hidup kepadaNya. Tuhan memberkati anda. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)