Ringkasan Khotbah : 15 Maret 2009

The True Disciple

Nats: Yohanes 19:10-12

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Nats Alkitab kita hari ini dilatarbelakangi oleh situasi yang sangat mencekam, pada pukul 3 sore di hari Jumat, di saat Tuhan Yesus baru saja mati. 3 jam sebelumnya, seluruh dunia menjadi gelap gulita, seolah-olah hendak menyatakan betapa gelapnya dosa, betapa dahsyatnya ketidakadilan, dan betapa dahsyatnya kerusakan dosa manusia. Ketika itu, Tuhan Yesus berseru: Sudah selesai! Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu. Kemudian Dia mati. Setelah mati, siapa yang mengurus mayatNya?

Pada saat itu adalah waktu yang sangat mendesak karena hari itu adalah hari Jumat yang merupakan hari persiapan untuk sabat. 1 hari dalam kebiasaan Yahudi adalah dari jam 6 sore sampai jam 6 sore esok. Jadi pada hari Jumat itu, waktu hanya tinggal 3 jam sebelum berganti menjadi hari Sabat. Dalam waktu 3 jam itu harus menurunkan mayat Tuhan Yesus dan mengurusinya, tetapi orang-orang yang seharusnya peduli akan hal ini justru tidak ada. Semua murid melarikan diri. Dalam situasi yang genting seperti itu, orang Yahudi menuntut agar orang-orang yang disalibkan harus segera mati, maka tentara Romawi menebas kaki kedua orang yang disalibkan di kanan dan kiri Tuhan Yesus, agar segera mati kehabisan darah. Tuhan Yesus dilihat sudah mati, maka tidak perlu ditebas kakiNya, satu tentara menusuk lambungNya, keluarlah darah bercampur air, yang menandakan bahwa Dia sudah mati.

Pada saat itu, semua orang merasa ketakutan, karena inilah gambaran dari anarkhisme yang begitu dahsyat dari orang Yahudi. Orang-orang Yahudi berteriak: salibkan Dia! tetapi orang juga tahu bahwa Dia tidak bersalah. Dalam keadaan seperti ini, siapakah yang masih berani nongol? Murid-murid Tuhan Yesus pun ketakutan, kalau mereka nongol ada kemungkinan ikut tersangkut. Dalam kondisi seperti itu, Alkitab mencatat: muncul 2 orang yaitu Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus. 

Pergumulan kita di dalam krisis dan bagaimana iman kita teruji di dalam krisis adalah merupakan momen yang harus kita perhatikan. Yusuf dari Arimatea adalah seorang murid Tuhan Yesus, tetapi takut dan sembunyi-sembunyi. Dia adalah seorang anggota Majelis Besar orang Yahudi yang memiliki kuasa politik dan kuasa agama, berarti dia berada di posisi elite orang Yahudi. Posisi itu menjadikan dia begitu nyaman, tetapi di lain pihak posisi itu membuat kesulitan besar untuk dia bisa beriman dan mengikuti Tuhan Yesus dengan terbuka. Uniknya, ketika dia takut untuk menunjukkan pengikutannya akan Tuhan Yesus, di saat yang paling kritis justru dia muncul. Nikodemus adalah seorang Farisi, seorang pemimpin agama dari partai yang paling fanatik di Yahudi pada saat itu. Bagi Nikodemus yang sudah belajar banyak tentang agama, Tuhan Yesus memiliki sesuatu yang unik, maka pada malam hari agar tidak diketahui orang lain, dia  datang kepada Tuhan Yesus, mereka berdiskusi materi yang begitu sulit dan keras. Mulai awal diskusi, Tuhan Yesus sudah melakukan serangan dengan mengatakan: engkau tidak mungkin masuk ke dalam Kerajaan Surga kecuali engkau dilahirkan kembali. Nikodemus mempertanyakan tentang lahir baru, apakah harus masuk kembali ke perut ibunya padahal dia sudah beruban? Dari diskusi ini melahirkan satu ayat yang dikenal oleh seluruh orang Kristen yaitu Yohanes 3:16: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Dari diskusi ini, Nikodemus melihat keunikan Tuhan Yesus, Dia tidak seperti orang Farisi pada umumnya yang suka menjilat untuk mendapatkan kekuasaan, memakai intrik dunia untuk mencapai keinginan. Nikodemus akhirnya berkali-kali tampil untuk menjaga agar orang Yahudi tidak melakukan tindakan anarkhis kepada Tuhan Yesus, dalam sidang-sidang yang diadakan Nikodemus mencoba melembutkan tuduhan kepada Tuhan Yesus agar tidak mengambil tindakan yang besar terhadap Tuhan Yesus. Tetapi Nikodemus tidak berdaya dan Tuhan Yesus mati di kayu salib. Dalam situasi yang kritis itu, Nikodemus datang dengan membawa 50 kati campuran minyak mur dengan minyak gaharu untuk Tuhan Yesus.

Mari kita melihat 2 perspektif yang berbeda dari kisah diatas yaitu:

1. Paradigma hidup.

Kita akan melihat apa yang sebetulnya ada di belakang tindakan para murid yang melarikan diri dan tindakan Yusuf dari Arimatea serta Nikodemus yang muncul di saat kritis. Tindakan merupakan dampak dari cara berpikir kita, dari seluruh format yang kita pegang. Ketika cara berpikir/ format yang kita pegang salah, maka tindakan/ langkah-langkah hidup kitapun akan salah. Inilah yang disebut dengan paradigma hidup, yaitu sesuatu dasar pikir yang melatarbelakangi tindakan kita, termasuk dasar pikir bagaimana kita beriman. Apa yang sebetulnya dipercayai oleh para murid, betulkah itu adalah iman yang diinginkan oleh Tuhan Yesus? Murid-murid Tuhan Yesus di saat kritis justru berbalik arah semua. Pada waktu Tuhan Yesus masih ada, mereka begitu berani, bahkan Petrus begitu berani mengambil pedang dan memotong telinga salah seorang prajurit. Pada saat itu, Tuhan Yesus masih menunjukkan kekuatanNya, yaitu ketika Tuhan Yesus bertanya kepada orang-orang yang hendak menangkap Dia: siapa yang kamu cari? Orang-orang itu menjawab: Yesus orang Nazaret. Tuhan Yesus menjawab: Akulah Dia! Orang-orang itu langsung berjatuhan. Petrus menganggap Tuhan Yesus begitu

sakti, dan menjadikan dia semakin berangasan. Anehnya, pada saat Tuhan Yesus ditangkap, Petrus ditanyai oleh seorang pembantu kecil: bukankah kamu adalah orang Galilea, teman dari Yesus yang itu? Petrus menjawab: bukan, aku tidak kenal Dia.

Sebaliknya, yang dilakukan oleh Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus adalah kebalikannya. Pada saat Yusuf dari Arimatea menurunkan mayat Tuhan Yesus, tentulah banyak mata yang melihat, tidak mungkin tidak ketahuan. Resikonya adalah seluruh hidup dia menjadi hancur, dia bisa dicincang habis, dia bisa dituduh sebagai pengkhianat. Murid-murid percaya kepada Tuhan Yesus karena mereka ingin mendapatkan keuntungan didalamnya. Mereka tetap didalam cara pikir mereka seperti sebelum mengikut Tuhan Yesus. Murid-murid Tuhan sangat tahu bahwa kematian Tuhan Yesus bukanlah akhir dari segalanya. Tuhan Yesus pernah mengatakan: Aku akan Yerusalem, menanggung penderitaan dari pihak tua-tua dan imam kepala, Aku dibunuh dan mati, tetapi pada hari ketiga Aku akan bangkit lagi. Kalimat itu diulang berkali-kali oleh Tuhan Yesus. Tetapi pada saat pertama kali kalimat itu muncul, Petrus menarik tangan Yesus dan berkata: hal itu tidak mungkin terjadi, Allah kiranya akan menjauhkan hal itu daripadaMu. Tuhan Yesus menjawab: enyahlah engkau iblis, engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah.

Petrus percaya kepada Tuhan Yesus sejauh cocok dengan pikiran dan keinginannya. Petrus mempunyai theologi sendiri, punya allah sendiri yang tidak cocok dengan Allah yang sedang dia hadapi. Betapa mengerikannya iman yang seperti ini. Murid-murid Tuhan Yesus yang selama 3 tahun bersama-sama dengan Dia, bahkan 24 jam dalam 1 hari, belum mampu mengubah pola pikir mereka. Petrus berpikir, kalau dia ikut Tuhan Yesus dia akan mendapatkan kekuatan dan posisi maka dia mati-matian berjuang untuk mendapatkannya. Hal ini juga dilakukan oleh Yohanes dan Yakobus, ketika Tuhan Yesus dalam suasana hati yang galau tengah menuju Yerusalem, mereka tidak menghibur Dia melainkan berusaha cepat memperebutkan posisi di kanan dan di kiri Tuhan bahkan memakai koneksi dari ibu mereka. Kepala mereka berpikir bahwa Tuhan Yesus akan menjadi raja karena sejak awal Tuhan Yesus memang berkata bahwa Dia akan menegakkan KerajaanNya. Kerajaan yang dipikirkan para murid bukanlah kerajaan yang dipikirkan oleh Tuhan Yesus. Kerajaan yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus adalah kerajaan surgawi, kerajaan kerohanian yaitu bagaimana kerohanian kita baik, percaya sungguh-sungguh pada kedaulatan Allah. Para murid ingin mendapatkan keuntungan diri dengan percaya kepada Tuhan Yesus. Tetapi celakanya bagi mereka, selama 3 tahun oleh Tuhan Yesus hanya diajak berkeliling tanpa memiliki kekuatan militer, kekuatan keuangan, maupun kekuasaan. Beberapa penafsir mengatakan bahwa langkah yang diambil oleh Yudas Iskariot adalah langkah untuk mempercepat Tuhan Yesus mendirikan KerajaanNya. Yudas sedang memainkan suatu strategi yaitu hendak mendapatkan kanan-kiri. Dia jual Tuhan Yesus seharga 30 keping perak, dia pikir Tuhan Yesus tidak bakal kalah, nanti kalau Tuhan Yesus sudah jadi raja, dia sudah memiliki modal 30 keping perak tadi untuk menduduki jabatan penting dalam kerajaan. Harapan Yudas: pada waktu Tuhan Yesus ditangkap, Dia akan menunjukkan kekuasaan dan kekuatanNya dan akan sanggup mengalahkan musuh. Ternyata skenarionya lain dengan yang Yudas pikirkan, ketika Tuhan Yesus ditangkap, dipukuli, Dia diam saja, bahkan sampai mati di kayu salib. Akhirnya Yudas menjadi stress dan bunuh diri. Petruspun kembali menjadi nelayan setelah Tuhan Yesus mati di kayu salib. 

Ketika manusia menduniawikan religiositas, mencari Tuhan Yesus untuk kepentingan diri, manusia akan mengalami seperti yang dialami Petrus. Iman seperti apa yang kita miliki? Pergumulan di zaman Tuhan Yesus juga terjadi di zaman sekarang ini. Uniknya adalah: ketika keadaan nyaman, tidaklah ada bedanya antara yang imannya benar dan yang salah; semua ujian akan kelihatan pada saat krisis menimpa, pada waktu badai menerpa baru akan kelihatan yang asli anak Tuhan dengan yang bukan.

Yusuf dari Arimatea secara jujur mengkonfrontasikan dirinya, dia takut sekali, resiko yang akan ditanggungnya sangatlah besar; demikian juga halnya dengan Nikodemus. Maka dari pertama kedua orang itu sudah bergumul: kalau saya ikut Tuhan, seberapa jauh saya meyakini bahwa ikut Dia, Dia adalah Tuhan yang akan memimpin hidup saya; saya ikut Dia berarti saya datang kepada kebenaran dan untuk itu saya rela atau tidak untuk mengorbankan seluruh hidup saya. Mereka tidak pernah memperoleh janji-janji dari Tuhan Yesus. Yang mereka tahu adalah: bertemu dengan kebenaran/ Firman/ Kristus/ Anak Allah yang hidup, berarti harus berkorban, siapkah saya? Pertanyaan ini menjadi pertanyaan pertama yang menyangkut iman.

Iman sejati adalah iman yang berani mempertaruhkan seluruh hidup untuk apa yang kita percayai. Iman sejati adalah keberanian kita untuk kembali kepada kebenaran dan demi untuk kembali kepada kebenaran kita korbankan seluruh hidup kita bahkan mati untuk kebenaran. Realitanya adalah orang beriman bukan untuk berkorban bagi kebenaran tetapi untuk menunggangi kebenaran untuk kepentingan egoisitas dia. Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus tidak gampang mau mengikut Tuhan Yesus, tetapi mereka bergumul dalam format yang tepat. Di saat orang melihat kematian Kristus sebagai bukti dari suatu kegagalan, orang yang melihat dari jarak tertentu dengan pandangan yang tepat dan akurat justru memberikan pengakuan yang paling kuat. Pada saat Tuhan Yesus mati di kayu salib, pertama kali pengawal prajurit Romawi (Centurion) berteriak: Dia pasti orang benar! Kalimat ini membalikkan struktur keadilan, kalau sampai orang benar disalibkan berarti yang menyalibkan adalah orang berdosa/ penjahatnya. Pada saat itu, Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus yang melihat dari jarak tertentu juga setuju: Dia pasti orang benar!

Iman sejati adalah bertemunya kita dengan kebenaran sejati, yang akan memberikan keberanian kepada kita untuk mengambil langkah yang tepat di tengah dunia ini. Inilah yang disebut dengan perubahan paradigma dari hidup duniawi yang mengejar kenikmatan dunia, mengejar unsur-unsur dunia, balik kepada Tuhan, mau mengutamakan Tuhan, mau memandang kepada Tuhan. Iman kita adalah iman yang seperti apa? Paradigma kita akan mempengaruhi langkah kita. Kalau kita tidak kembali kepada kebenaran, pikiran kita akan dipenuhi dengan dosa dan bersifat duniawi, maka aplikasi dalam langkah hidup kitapun akan bersifat duniawi dan salah.

2. Pemicu dari paradigma.

Langkah/ perjuangan seseorang diacu dengan posisi aksiologis/ cara dia menilai sesuatu. Apa yang dianggap bernilai akan dikejar oleh manusia. Kalau dia menilai secara salah maka dia akan mengejar sesuatu yang salah pula. Kalau yang dianggap bernilai ternyata tidak bernilai, maka seluruh hidupnya akan terbuang sia-sia. Apa yang dikejar oleh para murid dengan apa yang dikejar oleh Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus adalah berbeda sama sekali. Ketika Yusuf dan Nikodemus melihat kepada Kristus, Petrus cs melihat kepada kepentingan mereka. Para murid kabur ketika Tuhan Yesus disalib, adalah karena untuk menyelamatkan nyawa. Tuhan Yesus sejak awal sudah mengajarkan: barangsiapa yang menjaga/ memelihara nyawanya akan kehilangan nyawanya, tetapi yang melepaskan nyawanya akan mendapatkan nyawanya. Inilah kekontrasan cara pikir yang membuat seluruh sistem nilai dalam pikiran kita menjadi beda sama sekali. Adalah sesuatu yang mengerikan ketika seseorang demi menjaga nyawanya dia menyangkali imannya, dia membuang Tuhan Yesus dari hidupnya. Banyak agama yang mengajarkan untuk berjuang dengan mengorbankan nyawa orang lain bukan nyawanya sendiri, termasuk agama Yahudi. Mereka tidak tahu bahwa yang mereka buang adalah batu penjuru, dan justru mereka sendiri yang mati sebagai akibatnya. Ketika kita menyelamatkan diri, kita melepaskan diri dari sumber hidup, berarti kita binasa. Bagi Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus, inilah momen mereka datang kepada Sumber Hidup, Dia yang menghidupkan, Dialah Tuhan yang sejati. Mereka rela mengorbankan hidup mereka untuk Dia. Korban Yusuf dari Arimatea sangat besar yaitu posisinya sebagai Majelis Besar yang dia rintis begitu lama, taman yang semula dipersiapkannya untuk dia beristirahat dan dikuburkan di sana dijadikan tanah makam Yesus tanpa menyisakan bagi dia. Nikodemus tidaklah mudah mencapai posisi sebagai orang Farisi, dia merelakan semuanya demi mendapatkan Kristus/ kebenaran. Petrus yang kembali menjadi nelayan justru tidak mendapatkan apa-apa ketika mencari ikan tetapi ketika Tuhan Yesus memerintah dia mencari di sisi yang lain, dia baru bisa mendapatkan ikan. Tuhan Yesus masih berbelas kasihan dan mau menunjukkan kepada Petrus untuk tidak mengandalkan pikiran diri.

Cara dunia berpikir adalah berbeda dengan cara pikir anak Tuhan. Apakah urusan sistem nilai ini hanya berlaku di dalam kehidupan gereja atau seluruh aspek hidup kita juga akan terkena akibatnya? Ketika kita tidak mempunyai makan, tidak punya pekerjaan, kita ditawari sesuatu yang mendatangkan untung besar tetapi dengan syarat kita harus meninggalkan iman kita, apa yang menjadi pilihan kita? Di saat keadaan nyaman tantangan akan lewat dari diri kita tetapi di saat kita sedang hidup susah tantangan akan sangat merusak seluruh format hidup kita.

Orang yang rela berkorban untuk kepentingan Tuhan akan dipakai Tuhan dengan luar biasa dan tidak mudah tergeser oleh dunia. Sistem nilai dalam pikiran kita tidaklah bisa berbohong, itu merupakan suatu format/ cara; kalau mau berubah haruslah dari awal. Inilah momen terbaik untuk berubah sebelum memasuki krisis yang semakin berat. Saya mengalami kesulitan luar biasa untuk mengerti visi dan hidup taat dipimpin oleh visi Tuhan, dan saya memerlukan waktu sekitar 5 tahun untuk dapat memahaminya. Untuk mengubah satu konsep diperlukan waktu sekitar 5 tahun, dari hidup yang ambisius pribadi menjadi hidup yang total dipimpin oleh Tuhan. Kita harus siapkan diri dengan berubah pada saat badai belum menerpa, kalau badai sudah menerpa kita baru akan berubah maka tidaklah mungkin bisa.

Pergumulan Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus adalah pergumulan totalitas dari hidupnya bukan hanya sekedar sistem nilai pada dirinya. Mereka berdua merintis karir mereka bukan sekedar dari masa lampau tetapi juga ke masa depan. Hanya gara-gara urusan 2 jam untuk mengurus mayat Tuhan Yesus, semua karir yang mereka rintis bisa habis. Beranikah kita melangkah seperti ini, satu langkah kecil dalam hidup kita tetapi meresikokan seluruh hidup kita? Kita terlalu sayang dengan karir yang kita miliki, dengan format yang sudah kita dapatkan, kita ingin mendapatkan semuanya. Kedua orang diatas mau mengorbankan seluruh masa depan mereka karena bagi mereka: mengikut Tuhan adalah segala-galanya. Seberapa jauh kita berani mempertaruhkan hidup kita demi iman kita? Yusuf dan Nikodemus berhasil mengambil langkah ini karena mereka berdua sudah jauh menerobos ke depan melihat karir diatas segala karir. Mereka tahu bahwa hidup di tengah karir dunia sangatlah rusak dan penuh dengan kekotoran. Kalau kita hidup menuruti permainan dunia, kita akan hancur. Karir ke depan bukanlah di tangan kita. Kalau kita mengandalkan Tuhan, itulah cara yang terbaik. Iblis adalah bapa penipu, kalau tidak menipu tidak disebut iblis lagi; semua yang main dengan iblis akan mati pada suatu hari karena akan “digigit” oleh dia. Tidak ada yang bisa diharapkan dengan mengikut dunia, hanya ada satu jalan terbaik yaitu balik kepada Dia yang adalah kebenaran. Pilihan kedua orang diatas adalah sangat tepat karena Tuhan Yesus yang adalah kebenaran yang bangkit dari antara orang mati, mengalahkan semua kematian. Seberapa jauh kita memiliki ketajaman seperti yang dimiliki Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus?   ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)