|
Ringkasan Khotbah : 8 Maret 2009
Nats: Yohanes 19:10-12 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Nats Alkitab hari ini mengenai dialog antara Pilatus dan Tuhan Yesus. Dalam dialog/ diskusi yang sangat krusial tersebut, kita melihat adanya posisi yang bersifat diametris, yaitu sikap, cara, konsep pikir, dan tindakan Pilatus berhadapan dengan konsep, prinsip, semua yang dinyatakan dan dilakukan oleh Tuhan Allah. Keduanya tidak bisa dipertemukan, merupakan kontras yang bersifat diametris, yang tidak mungkin dapat dikawinkan/ disinkronkan, karena keduanya berlawanan total secara mutlak. Dialog ini bersifat representatif/ mewakili seluruh alam semesta sejak manusia jatuh ke dalam dosa sampai hari ini di abad ke-21.
Mari kita mencoba merenungkan: apa artinya Tuhan Yesus mati dan bangkit bagi umat manusia? Apa artinya peristiwa sejarah yang begitu sentral, begitu mutlak, begitu absolut di dalam garis sejarah manusia yang membedakan, yang menjadi titik tolak pengharapan seluruh umat manusia? Tidak ada satupun pikiran agama maupun filsafat yang bisa mendekati pemikiran bagaimana Allah berinkarnasi untuk mati di atas kayu salib, dan kematian ini bukanlah suatu kekalahan melainkan suatu kekuatan yang dahsyat untuk mengalahkan kuasa kematian. Hal ini merupakan suatu pemikiran yang dahsyat, merupakan rencana Tuhan yang begitu besar yang tidak bisa dimengerti oleh pikiran manusia yang tetap bertahan dengan cara pikir yang berdosa.
Kita akan membahas 3 point penting berkaitan dengan hal diatas yaitu:
1. Kesombongan manusia
Yohanes 19:10 menunjukkan adanya sikap sombong, yang mewakili semua orang yang pada dasarnya ingin menyatakan kekuasaannya. Kalimat Pilatus: Tidakkah Engkau tahu bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau? – menunjukkan adanya kuasa. Manusia begitu ingin punya kuasa yang seperti ini, kuasa itu akan menunjukkan kehebatannya. Kuasa itu kalau perlu untuk menentukan nasib orang lain, bahkan untuk mengatur seluruh alam semesta, termasuk Tuhan. Tuhan Yesus menjawab: Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas.
Pilatus berusaha mati-matian dengan memakai segala intrik untuk dapat menduduki jabatan sebagai wakil Romawi di Yudea. Posisi ini adalah posisi kekuasaan. Kasus Tuhan Yesus bukanlah kasus yang ringan, dimana terjadi posisi yang ambigu, di satu pihak dia tidak suka menangani kasus ini, karena kasus ini begitu krusial. Isu yang dilemparkan kepada Tuhan Yesus adalah raja orang Yahudi, dan hal ini sangat berpengaruh kepada Romawi. Di lain pihak Pilatus ingin mengambil keuntungan dari kasus ini yaitu untuk mengambil hati orang Yahudi. Adalah sangat susah untuk memegang orang Yahudi sejak dari perang Makabeus sampai dengan zaman Pilatus. Bagi orang Yahudi hal ini merupakan suatu keuntungan karena mereka begitu ingin membunuh Tuhan Yesus dengan legitimasi hukum dari pihak Romawi, jadi harus lewat Pilatus. Manusia bisa begitu gila untuk mendapatkan kekuasaan. Dunia makin ke belakang, manusia makin tidak berhenti untuk mengejar kekuasaan. Machiavelli, Michael Foucault mengatakan bahwa dunia akan makin gila mencari kekuasaan karena itulah yang dianggap sebagai otorisasi terbesar.
Jawaban yang diberikan oleh Tuhan Yesus diatas, tidaklah membuat Pilatus sakit hati, melainkan kaget sekali, karena perkataan Tuhan Yesus seperti getaran kuasa yang menerobos dirinya yang menyadarkan dia. Pilatus kemudian berbalik ingin membuktikan apa yang dia katakan. Untuk menjebloskan Tuhan Yesus adalah sangat mudah, justru untuk membebaskan Tuhan Yesus adalah sangat sulit. Pilatus justru berjuang untuk membebaskan Tuhan Yesus, untuk menunjukkan bahwa nasib Tuhan Yesus berada di tangannya. Kenyataannya: Pilatus tidak berhasil membebaskan Tuhan Yesus, dia mengalami kegagalan total. Bukankah Pilatus sedang melakukan usaha yang baik yaitu berjuang untuk menyelamatkan Tuhan Yesus; bukankah hal ini sesuai dengan prinsip keadilan dan pengadilan sendiri tidaklah menemukan kesalahan Tuhan Yesus, harusnya dia mempunyai kuasa cukup untuk membebaskan Tuhan Yesus? Disini kita melihat: ketika manusia pikir bahwa dia mempunyai kuasa yang hebat, dapat menentukan nasib orang lain, dapat mengatur seluruh hal, ketika dia berpikir dapat berbuat sesuatu, tetapi pikirannya tersebut melawan rencana Tuhan, maka habislah dia. Inilah kunci penting dalam hidup kita, bukan hanya berlaku pada zaman Tuhan Yesus tetapi juga berlaku sampai saat ini. Melalui kejadian ini, bolehkah kita sadar dan belajar untuk lebih rendah hati, tahu bahwa kita tidak mempunyai kekuatan apa-apa dan kita tidak berkuasa? Kita akan menjadi beres ketika kita rendah hati mengikuti pimpinan Tuhan. Ketika Tuhan memimpin kita, itulah jalan terbaik bagi kita karena itu tidak mungkin digagalkan.
Bijaksana sejati adalah bukan kita melakukan sesuatu berdasarkan pemikiran kita melainkan adalah ketika kita mampu mempertimbangkan semua aspek dengan tepat, mengambil keputusan dengan tepat sesuai dengan yang Tuhan inginkan. Kalau kita bisa melakukan hal ini, betapa indahnya hidup kita. Untuk kita bisa sampai ke sana, kunci pertama adalah jangan sombong, bersandarlah kepada Tuhan, minta bijaksana dan pimpinan dari Tuhan, lalu taatlah kepada pimpinan Tuhan, tunduklah
kepada Firman! Hari ini kita berada di posisi yang kritis, krisis ekonomi yang terjadi sangatlah dahsyat dan merupakan krisis terbesar dari semua krisis yang pernah dialami sebelumnya. Apakah kita akan tenggelam di dalam putaran krisis ini? Pada saat seperti ini, kita harus merendahkan diri bukannya menyombongkan diri. Prinsipnya: di tengah badai adalah lebih baik mengambil posisi tiarap/ merendahkan diri karena makin naik akan makin terpuntir.
Pilatus berpikir secara pragmatis, dia hanya melihat dari sudut kepentingan sesaat, hanya dari kepentingan seorang manusia. Seandainya pada hari itu Tuhan Yesus berhasil dibebaskan oleh Pilatus, maka akan terjadi 2 kecelakaan besar yaitu:
1. seumur hidup Tuhan Yesus akan berhutang budi kepada Pilatus.
2. tidak ada juruselamat sehingga kita semua masuk neraka.
Kita bisa mempunyai jalan/ rencana yang sepertinya baik tetapi sebenarnya kita sedang melawan rencana Tuhan yang baik bagi kita. Jadi sebenarnya kita sedang melakukan kejahatan yang sangat besar. Pilatus tidak sadar bahwa kalau dia melepaskan Tuhan Yesus dia justru sedang melakukan kejahatan yang sangat besar. Ini adalah suatu posisi paradoks yang dia tidak pernah mengerti. Dalam posisi seperti ini, Tuhan Yesus berkata: dia yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya. Tuhan Yesus hendak menunjukkan bahwa rencana Allah berbeda dengan rencana manusia. Kita harus melihat semuanya dari rencana besar Allah yang jauh lebih baik bagi keselamatan berjuta-juta umat manusia. Tuhan Yesus harus naik ke atas kayu salib supaya kita hari ini dapat memperoleh pengampunan dan keselamatan. Kalau Tuhan Yesus tidak naik ke atas kayu salib maka pengharapan manusia menjadi hilang. Di sini kita melihat bagaimana bijaksana manusia kontras dengan apa yang Tuhan rencanakan, kedaulatan Tuhan, pimpinan Tuhan dan semua rencana kekal Allah bagi umat manusia.
Kita harus memiliki sudut pandang yang dari atas agar kita tidak terjebak di dalam posisi pragmatis. Dalam posisi pragmatis kita akan sangat rentan dengan berbagai jebakan karena hanya tahu ada mangsa di depan mata tanpa tahu rencana global di balik semuanya. Inilah yang dimaksud dengan God’s eye view (melihat segala sesuatu dari pandangan Allah terhadap dunia ini). Inilah yang menjadi kekuatan bagi kita, ditengah-tengah krisis kita tidak menjadi terjebak di tengah permainan dunia tetapi kita hanya mau tahu apa yang menjadi rencana Tuhan dan seberapa jauh Tuhan memakai kita untuk menggenapkan rencanaNya.
2. Kejahatan dan keagresifan dosa
Betapa agresifnya dosa sehingga membuat manusia menjadi bodoh luar biasa. Karena dosa, hal yang secara logis tidak mungkin dilakukan ternyata tetap juga dilakukan, misalnya: di setiap billboard iklan rokok selalu dicantumkan peringatan tentang bahayanya merokok, orang yang membacanya secara logika seharusnya berhenti merokok, tetapi kenyataannya orang tetap merokok.
Dosa bukan sekedar kekuatan negatif yang pasif, yang diam menunggu mangsa, dosa begitu jahat dan begitu aktif, dia menyerang dan menggerogoti orang satu per satu, dan orang yang sudah masuk ke dalam perangkapnya tidak akan dapat dengan mudah keluar.
Tidak habis pikir mengapa Pilatus bisa berbuat kesalahan yang begitu fatal. Orang Romawi sangat takut pada hukum karena hukum Romawi sangat ketat. Para penguasa kota Filipi begitu anarkhis, ketika melihat Paulus mengusir setan yang ada di dalam tubuh anak buahnya yang mengakibatkan mereka kehilangan uang, mereka menjadi marah kemudian menyuruh anak buahnya memasukkan Paulus ke dalam penjara. Di dalam penjara, Paulus menyanyi memuji Tuhan kemudian semua pintu penjara dan belenggu terbuka. Penguasa yang anarkhis tadi takut kena hukum, maka mereka menyuruh anak buahnya cepat-cepat menyuruh Paulus keluar secara diam-diam. Paulus yang warganegara Roma menuntut mereka meminta maaf terlebih dahulu. Pejabat kota langsung datang kepada Paulus untuk minta maaf karena hal ini berurusan dengan pengadilan karena kalau sampai isu ini naik ke kaisar habislah mereka karena akan langsung dibawa ke Roma dan dimasukkan ke kandang singa dengan tuduhan melanggar hukum subversi Roma yaitu tindakan penganiayaan tanpa pengadilan. Kejadian ini berulang pada masa Pilatus. Pilatus demi mendapatkan hati orang Yahudi, memerintahkan anak buahnya untuk menganiaya Tuhan Yesus (Yohanes 19:1). Tetapi karena shock mendengar kalimat Tuhan Yesus, dia keluar dan berkata: aku tidak mendapati kesalahan apa pun padaNya (Yohanes 19:4). Kalimat ini adalah kalimat hukum yang menyatakan bahwa orang ini bersih dan memiliki hak untuk bebas penuh. Pada waktu Tuhan Yesus dibawa keluar, mahkota duri menancap di kepalaNya, tubuhnya berdarah setelah dianiaya. Hal ini adalah hal yang besar menurut hukum Romawi. Suatu kekonyolan telah terjadi! Kalau pada waktu itu Pilatus tidak berkata apa-apa, berarti tidak ada vonis yang terjadi, mungkin masih bisa terbuka seperti kasus Paulus diatas, tetapi kasus ini tidak bisa terbuka karena Pilatus sudah menjatuhkan vonis bahwa Tuhan Yesus bebas penuh. Inilah kebodohan di belakang kepintaran. Inilah kefatalan. Kasus ini membuat karir Pilatus di Yudea berakhir. Sejarah mencatat bahwa sejak kasus ini, Pilatus dikirim balik ke Roma, setelah itu dia dibuang ke Swiss, di daerah pinggiran Alpen, dan beberapa lama kemudian dia dipensiunkan dini, tamatlah karirnya.
Kebodohan kedua adalah yang dilakukan oleh orang Yahudi. Orang Yahudi shock ketika mendengar vonis bebas dari Pilatus. Mereka memikirkan cara agar Tuhan Yesus harus mati. Yohanes 19:12b: Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar. Orang Yahudi tampil seolah-olah sebagai pendukung kaisar. Dalam sejarah dicatat bahwa inilah sekali-kali orang Yahudi mengakui Romawi sebagai kaisar mereka. Sejak zaman Makabeus, orang Romawi perang dengan orang Yahudi, orang Yahudi tidak mau mengakui Romawi sebagai kaisar dan tidak mau mengakui kaisar sebagai Tuhan. Setelah perang Makabeus, terjadilah kesepakatan: khusus di wilayah Yudea, orang Yahudi diperbolehkan mengakui bahwa Allah adalah Tuhan dan kaisar bukanlah Tuhan. Kesepakatan ini sebenarnya menyakitkan bagi orang Romawi tetapi terpaksa dilakukan. Dalam kasus Tuhan Yesus, orang Yahudi bisa berkhianat kepada dirinya, kepada naturnya, kepada Tuhannya dengan mengakui kaisar sebagai Tuhan, asalkan Tuhan Yesus dihukum mati. Di sini kita dapat melihat, kalau seseorang sudah punya kemauan yang begitu keras, dan dosa begitu mencengkeram dia, maka tidak ada lagi perhitungan, apa saja dikorbankan, apa saja dihancurkan. Inilah jahatnya dosa.
Dunia yang sangat pragmatis ini menganggap dosa hanya sekedar suatu kelemahan, padahal semua yang sudah dicengkeram oleh dosa tidak mudah untuk keluar, semua yang sudah diikat oleh dosa ketika mau keluar seperti orang bodoh yang dicocok hidungnya sehingga dimatikanpun tidaklah tahu. Inilah kekuatan dosa, yang menjadikan manusia begitu tertutup dan terkunci.
Dosa tidaklah pasif, dia mendatangi mangsanya, menyerang dan bersifat aktif. Butuh kekuatan untuk keluar dari dosa. Krisis yang berat seringkali dapat menjadi lubang yang empuk untuk menjebak manusia ke dalam dosa. Karena dahsyatnya dosa, Tuhan Yesus harus mati di kayu salib untuk mengalahkan akar dari segala akar dosa yang paling menakutkan yaitu membawa kematian. Kalau ada cara yang gampang untuk menyelesaikan dosa, maka Kristus tidak perlu mati di kayu salib.
3. Kepanikan manusia
Percakapan dalam nats Alkitab hari ini melibatkan 3 pihak yaitu Pilatus, Kristus, dan orang Yahudi. Pusatnya adalah pada Tuhan Yesus. Pilatus dan orang Yahudi berulah, pusatnya adalah pada Tuhan Yesus, dan uniknya adalah: Tuhan Yesus tidak berulah. Tuhan Yesus menghadapinya dengan ketenangan yang luar biasa dan pada banyak aspek Dia tidak menjawab, tetapi dalam ketenanganNya itulah Dia adalah pusat isu. Kalimat dari Pdt. Stephen Tong yang sangat unik yang mendorong saya untuk terus memikirkannya adalah: doing nothing, nothing undone (tidak melakukan apa-apa, tetapi tidak ada yang tidak selesai). Inilah stabilitas yang sejati. Kekuatan yang paling dahsyat adalah pada waktu kita tidak bergerak banyak tetapi menghasilkan banyak. Dalam posisi ini, Kristus hendak menunjukkan posisi yang sangat ketat, Dia kelihatan begitu pasif, tetapi pada saat itu Dia tengah menyelesaikan sebuah proyek yang begitu besar yang ditetapkan oleh BapaNya yaitu mengalahkan kuasa kematian.
Tuhan tidak ingin kita panik. Kalau kita naik ke atas, ke posisi Tuhan, kita berada di posisi pusat, berarti kita tidak banyak bergerak (disebut sebagai posisi konsentrik). Kalau kita masuk ke posisi as dari pusaran, kita tidak banyak bergerak, tetapi yang berada di luar as akan bergerak luar biasa, makin jauh dari as akan makin tidak karuan geraknya. Inilah yang disebut dengan the unmoving mover/ doing nothing, nothing undone. Kalau kita keluar dari Tuhan, kita akan mengerjakan banyak hal tetapi hasilnya nol besar. Ada 3 aspek yang perlu kita lihat dalam hal ini yaitu:
1. memusatkan hidup
Pada waktu kita kembali ke pusat akan membuat kita tidak perlu panik dan diputar-putar dengan hal yang tidak perlu, sehingga akan menolong kita untuk tidak berbuat hal yang salah. Orang yang habis diputar kemudian ditanyai pasti tidak dapat menjawab dengan benar karena pusing. Kalau kita berjalan bersama Tuhan, kita tidaklah perlu panik.
2. mengejar efisiensi hidup
Kalau kita bisa memusatkan segala hal, maka kita akan memperoleh efisiensi, akan menghemat banyak hal. Kalau kita diputar dalam badai, kita sibuk melakukan banyak hal, menghabiskan banyak tenaga, waktu dan uang, tetapi semuanya sia-sia. Tetapi pada waktu kita seharusnya mengerjakan yang besar, kita sudah kehabisan tenaga, waktu dan uang, akhirnya apa yang seharusnya kita kerjakan menjadi terabaikan, semuanya menjadi tidak efisien.
3. mencermati peluang yang terbaik
Di tengah kekalutan dunia, Tuhan sudah sediakan sebuah pintu kecil untuk kita masuk. Masalahnya adalah: seberapa jeli kita dapat menemukan pintu tersebut. Kalau kita panik, kita tidak akan dapat menemukan pintu tersebut.
Dalam seluruh hidup, kita perlu pimpinan Tuhan, bijaksana Tuhan, pakai waktu untuk bergumul bersama Tuhan, pakai waktu untuk duduk diam di hadapan Tuhan, itu adalah cara terbaik. Ketika Habakuk panik melihat dunia pada zaman dia berbadai begitu dahsyat, dia berteriak kepada Tuhan: Tuhan, berapa lama lagi dan mengapa aku harus melihat seperti ini? Tuhan minta dia untuk diam, duduk di hadapan Tuhan, dan tenang. Habakuk langsung mengalami perubahan drastis, dia memiliki cara pandang yang berubah, dia melihat dunia boleh berputar tetapi dia tidak akan bergeming karena hidupnya dijamin oleh Tuhan, maka dia beria-ria di dalam Tuhan yang memelihara dia. Terjadi pembalikan posisi 180 derajat.
Tugas kita adalah berdiri di pusat, melihat setiap lubang yang Tuhan bukakan, taat pada perintah Tuhan untuk maju ataukah untuk berhenti, Tuhan selalu sediakan jalan.
Paskah adalah sebuah momen yang memutar seluruh sejarah, menjadi titik balik yang tidak pernah bisa dimengerti oleh manusia. Sebagai anak Tuhan, seberapa jauhkah kita mengerti akan hal itu? Bukan karena kehebatan kita melainkan karena anugerah Tuhan tiba atas kita, karena Firman Tuhan mengisi hidup kita. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)