Ringkasan Khotbah : 1 Maret 2009

Sukacita Surgawi

Nats: Filipi 4:4-9

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Filipi 3 merupakan dorongan klimaks dari Paulus, Filipi 4 merupakan konklusi akhir/ ringkasan dari keseluruhan. Kita melihat adanya posisi diametris, yaitu posisi yang berlawanan mutlak di dalam hidup Kristen yang bertentangan dengan hidup yang non Kristen. Salah satu aspek yang sangat membedakan antara hidup Kristen dengan hidup non Kristen adalah hidup Kristen bisa masuk ke dalam sukacita kekal/ sukacita surgawi. Betapa indah dan bahagianya kalau kita bisa mendapatkan suatu warisan/ harta karun yang begitu dahsyat yang Tuhan sediakan bagi kita. Kita harus membuka rahasia itu kemudian kita harus memasukkan diri kita ke dalamnya. Ketika seseorang mendapatkan harta karun duniawi, dia tetap harus membukanya kemudian dia mengambil harta karun tersebut; ketika seseorang mendapatkan harta karun surgawi, dia membukanya dan kemudian memasukkan diri ke dalamnya. Keindahan harta karun tersebut dapat kita peroleh ketika kita memasukkan diri ke dalam kehidupan surgawi. Kita akan dengan senang hati memasukkan diri kita karena kita akan masuk ke dalam surga. Orang dunia ketika mendapatkan harta karun tidak berani memasukkan diri ke dalamnya karena dia tahu kalau dia masuk akan masuk ke dalam neraka, maka dia berusaha meraih remah-remah duniawi semata yang dianggap bernilai, kemudian dia mencoba menikmatinya, sampai akhirnya dia binasa. Ini adalah suatu kecelakaan besar dan inilah yang membedakan antara hidup di dalam pimpinan Tuhan dengan hidup menuruti keinginan dunia. Seberapa jauhkah kita menikmati sukacita surgawi yang berbeda dengan sukacita duniawi/ sekuler?

Dalam Filipi 4 ini Paulus dengan begitu keras, begitu bersungguh-sungguh, penuh dengan dorongan cinta kasih, meminta jemaat Filipi untuk bersukacita di dalam Tuhan. Bahkan ditambah dengan satu kalimat lagi: Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Mengapa sampai perlu diulang? Karena hidup Kristen adalah hidup yang bersukacita, tetapi di belakang itu hidup Kristen adalah hidup yang paling sulit bersukacita. Di dalam kondisi paradoks seperti ini, seberapa jauhkah sukacita itu bisa kita nikmati? Kalau kita tidak bisa bersukacita, berarti kita telah gagal untuk menikmati suatu warisan/ harta karun yang Tuhan sediakan.

Orang Kristen tidak mudah untuk bersukacita karena dunia kita menarik kita dan memberikan kepada kita penanaman berbagai konsep yang rusak. Ada pertanyaan dari seorang yang sudah tua: bagaimana saya bisa memotivasi anak saya dengan hal yang baik dan benar sedangkan untuk memotivasi diri saya sendiri saja begitu sulitnya? Saya mengatakan: kamu kasihan dan telah salah karena kamu telah salah pre-suposisi yaitu kamu pikir kalau kamu mengalami kesulitan pasti anakmu juga mengalami kesulitan. Anak yang sejak kecil sudah dimotivasi untuk memiliki hati yang  benar, yang takut akan Tuhan, akan lebih gampang untuk dimotivasi dengan hal yang baik dan benar; sedangkan orang yang sudah tua akan jauh lebih susah dan membutuhkan anugerah yang lebih besar. Janganlah melakukan sesuatu karena kepentingan manusia, berdasarkan asumsi manusia, karena segala macam kepentingan duniawi. Kalau hal ini kita kerjakan, di titik pertama motivasi kita sudah rusak. Motivasi yang murni harus dijalankan karena kita menjalankan kehendak Allah. Kalau hal itu betul-betul dijalankan, maka akan menghasilkan semangat yang lebih kuat.

Persekutuan Pemuda GRII-Andhika diawali dengan berdoa untuk mencari kehendak Tuhan, Tuhan mau kita mengerjakan apa. Pengurus mendapatkan visi bahwa Theologi Reformed yang sudah diberikan Tuhan kepada GRII merupakan hal yang sangat spesifik yang harus dipakai untuk membangun konsep theologi dalam diri kaum muda yang memiliki kemampuan/ kapasitas yang besar tapi theologi yang kocar kacir.  Dalam perjalanannya, pengurus terus memikirkan bagaimana pemuda diarahkan untuk hidup bagi Tuhan, mendorong mereka menghancurkan semangat sekularisme untuk masuk ke dalam pimpinan Tuhan. Akibatnya: semua tema yang dipilih bersifat apologetik total, karena mau mendidik orang supaya tidak hidup sekuler di tengah dunia ini. Akhirnya Persekutuan Pemuda dihadiri oleh sekitar 60 orang, tetapi kemudian difitnah sehingga jumlah yang hadir hanya 8 orang. Pengurus menjadi sedih dan khawatir. Saya mengingatkan mereka, apa yang menjadi visi berdirinya Persekutuan Pemuda? Karena berdirinya adalah untuk Tuhan, meskipun difitnah juga tidak apa-apa, urusannya kembali kepada Tuhan. Karena kita bukan melayani manusia, maka konsistensi tetap dijalankan, walaupun yang hadir hanya 8 orang, persekutuan tetap dijalankan. Akhirnya jumlah yang hadir kembali seperti semula.

Kalau kita melihat dari aspek manusia, semangat kita bisa habis, motivasi bisa hancur. Ketika kita masuk ke dalam motivasi sekuler, maka relativitas akan mencengkeram motivasi kita, ketika situasi naik kita menjadi bersemangat tetapi ketika situasi turun kita juga menjadi mati. Di tengah dunia yang bergerak dengan luar biasa/ fluktuatif ini Paulus menekankan kepada kita untuk BERSUKACITA SENANTIASA DI DALAM TUHAN, BERSUKACITALAH!

Bagaimana kita dapat mengalami sukacita sejati? Mari kita memandang segala sesuatu yang terjadi di

sekitar kita dan pada diri kita dari sudut pandang Tuhan (God’s eye view). Pada waktu kita berada di titik puncak, kita baru dapat melihat totalitas. 3 alasan utama yang dapat membuat kita betul-betul menikmati sukacita surgawi yaitu:

1. Filipi 4:5: Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!

Kalimat yang terakhir kuranglah tepat. Dalam bahasa Indonesia memakai bentuk perfect tense, sedangkan dalam bahasa aslinya memakai bentuk auris tense. Dalam Alkitab bahasa Inggris: God is near atau God is at hand, berarti: Tuhan adalah dekat. Kata “sudah” mempunyai arti perfect tense dan juga mempunyai arti eskatologis yang berarti kiamat. Orang yang berbuat baik karena akan kiamat akan menjadi susah untuk bersukacita. Karena Tuhan itu dekat, maka kita dapat berbuat baik kepada semua orang. Semua penafsir memberikan satu istilah yang sangat spesifik kepada istilah “baik”. Calvin mengatakan: kata ini lebih baik diterjemakan memakai kata “moderate”; tetapi kata “moderate” sebenarnya tidaklah cocok. Kata aslinya “eikoo”. Menerjemakan kata ini ternyata begitu tidak mudah.   Lensky mencari terjemahan kata ini dalam bahasa Latin, yang merupakan bahasa dengan tata bahasa satu tingkat di bawah bahasa Yunani dan memiliki kekayaan kualitas bahasa yang dekat dengan bahasa Yunani, juga tidak menemukan terjemahan kata ini. Dia mengatakan: eikoo adalah ekspresi dari sebuah karakter yang persis seperti karakter Tuhan, artinya: apa yang menjadi karakter Tuhan ditunjuk-tunjukkan. Unsur yang terdapat dalam kata eikoo ini yang paling penting adalah “moderate” yaitu semua tindakan kita yang paling tepat (the most proper way). Orang akan melihat bahwa inilah cara yang paling baik dan tidak ada yang lain. Kita bisa menunjukkan hal itu karena Tuhan dekat dengan kita/ di sebelah kita. Jadi ide dari ayat diatas adalah: agar dapat bersukacita, maka kita harus hidup dengan cara Tuhan beserta kita. Kita tidak perlu sungkan untuk menampilkan hidup yang diinginkan Tuhan. Dengan menampilkannya, maka kita akan bersukacita. Tetapi pada waktu kita menampilkan kebajikan dari sudut pandang Tuhan, tidak semua orang akan suka. Setiap langkah Kristen yang benar, tidak selalu dapat diterima oleh semua orang. Tetapi yang pasti terjadi adalah: kita mendapatkan sukacita yang besar. Uniknya, sukacita besar terjadi ketika kita berani ambil resiko untuk tidak bersukacita karena dimusuhi orang lain. Inilah kekontrasan dari ayat diatas.

Kalimat dalam ayat diatas seringkali diartikan: marilah kita berbuat baik kepada semua orang agar mereka tidak memusuhi kita, agar mereka suka kepada kita. Ayat diatas tidak berbicara seperti itu. Tujuan kita berbuat baik menurut ayat diatas adalah supaya Tuhan dekat kepada kita, kita dekat kepada Tuhan. Kalau kita berbuat baik supaya orang lain suka kepada kita tetapi ternyata Tuhan tidak suka kepada kita, inilah yang celaka. Waktu Tuhan meninggalkan kita, kita pasti tidak dapat bersukacita. Paulus mengajak kita melakukan eikoo yaitu mengimplikasikan sifat illahi supaya kita cocok dengan Tuhan yang berada di sebelah kita. Kalau kita bisa cocok dengan Tuhan, Tuhan akan di sebelah kita maka kita akan dapat bersukacita. Inilah yang disebut dengan God’s eye view. Waktu kita berbuat sesuatu, kita perlu memikirkan apa yang menjadi penilaian Tuhan atas perbuatan kita, kita proper di mata Tuhan atau tidak. Kita perlu mempertimbangkan hal itu karena Tuhan dekat. Lensky mengatakan bahwa kata eikoo pernah dipakai padanannya yang tepat oleh Luther yaitu kata “lindigkeit” yang berarti: sebuah sikap yang betul-betul proper/ tepat sesuai dengan yang Tuhan inginkan, mau seperti masuk ke dalam pelukan Tuhan sampai dapat mengimplikasikan apa yang Tuhan suka. Orang yang hidup sampai tingkat ini akan betul-betul bersukacita, dia hanya tahu bahwa setiap hal yang dia kerjakan Tuhan akan selalu menopang dia, tidak peduli dunia akan bagaimana. 

Kerusakan dunia ini dipacu oleh ketamakan (diungkapkan dalam Seminar Ekonomi di Jakarta beberapa waktu yang lalu), dan itulah yang diumpankan oleh motivator ke dalam masyarakat saat ini. Ketamakan tidaklah dapat memberikan sukacita, sukacita dapat diperoleh dengan bertindak secara tepat menurut keinginan Tuhan. Kalau kita melihat dari sudut pandang Tuhan kita akan melihat semuanya, sebaliknya kalau kita melihat dari sudut pandang dunia kita tidak dapat melihat apa-apa.

Orang seringkali ketakutan untuk menampilkan eikoo karena dunia memang tidak suka kalau ada orang lain yang lebih dari dirinya. Dunia memang tidak suka dengan hal-hal ilahi/ spiritualitas tetapi juga tidak memiliki daya untuk melawan karena memang baik. Orang Kristen seringkali dikunci dengan kalimat-kalimat sepeti: jangan sok rohani, jangan sok baik. Akhirnya kita menjadi sekuler, jahat. Tetapi, pada waktu eikoo itu kita pendam, kita tidak merasakan sukacita. Tuhan menyuruh kita untuk menampilkannya agar kita dapat bersukacita. Tugas kekristenan adalah menunjukkan kepada dunia, pada waktu itu kita memproklamasikan kebenaran dan Tuhan. Pada waktu kita memproklamasikan Tuhan, dan proper way, kita akan bersukacita. Sukacita ini tidaklah dapat diganggu oleh siapapun, betul-betul esensial, yang mengalir keluar dari dalam diri.

2. Filipi 4:6: Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Kita bersyukur karena kita punya Tuhan, kita ditebus oleh Tuhan, Tuhan menarik kita sehingga kita bisa hidup bersama Dia. Hidup di tengah dunia ini memang dipenuhi oleh kekuatiran/ ketakutan. Ketika kita kuatir, kita akan memusingkan banyak hal, kita akan mengalami banyak hal seperti: psikologi kita tergerus, pribadi kita tergerus, hidup tidak nyaman. Orang yang kuatir akan terus terputar dalam posisi negatif yang akan membuat hidup semakin turun. Kuatir juga menyebabkan ketidakefisienan/ pemborosan  baik dalam hal waktu, tenaga, pikiran, uang dan banyak hal yang lain. Inti terakhir dari kekuatiran adalah takut mati. Orang sebenarnya lebih takut sengsara daripada mati, daripada sengsara lebih baik mati. Jadi kalau kita bisa dipancing untuk takut terhadap kesengsaraan maka habislah kita.

Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa dunia ini makin hari makin sengsara karena sudah dipersiapkan untuk tidak rela menjadi sengsara. Sebagai ilustrasi: seorang bos ketika bertemu dengan seorang biksu, dia tidak mau duduk di kursi. Sang biksu berkata kepada bos itu: alangkah baiknya kalau bapak mau duduk di lantai sehingga tidak bisa jatuh lagi. Kalimat ini memiliki makna yang besar yaitu orang yang sudah duduk di tempat paling rendah tidak akan dapat jatuh lagi, semakin tinggi naiknya akan semakin mudah jatuh, makin tinggi sekali maka akan jatuh mati. Jadi prinsip yang harus dikerjakan adalah: kerja keras, kejar kualitas yang tinggi, hidup hemat dan sederhana, dan menjadi berkat sehingga kita tidak bisa jatuh lagi. Kita seringkali melindungi anak kita sedemikian agar anak kita tidak sengsara, tapi justru dengan demikian kita mempersiapkan dia untuk tidak bisa menghadapi kesengsaraan hidup.

Paulus mengajarkan: aku tahu apa itu kelebihan, tapi aku juga tahu apa itu kekurangan; aku tahu apa itu berlimpah, tapi aku juga tahu apa itu sengsara; dan segala hal mampu kucukupkan di dalam Kristus yang memberi kekuatan kepadaku. Kalimat itu merupakan implikasi hidup Paulus yang mendorong jemaat untuk tidak kuatir dalam segala hal tetapi serahkanlah semuanya kepada Tuhan melalui doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Seorang Kristen adalah orang yang dapat menghadapi kesulitan besar karena Tuhan beserta. Marilah kita belajar mengimplikasikan relasi bukan dalam kesejajaran tetapi ke atas yaitu dengan Tuhan. Setiap pergumulan kita mari kita gumulkan di hadapan Tuhan sehingga kita bisa tahu apakah doa dan permohonan kita tepat atau tidak, lalu kita bisa koreksi diri dan kita menjadi bersyukur karena dapat terus merasakan penyertaan Allah (providensia Allah). Orang yang doanya salah yaitu terus menuntut/ meminta Tuhan maka orang tersebut tidak akan dapat bersyukur. Setiap hal yang terjadi selalu kita pertanyakan kepada Tuhan, Tuhan mau apa.  Kita akan dapat bersukacita melalui sudut pandang Tuhan.

3. Filipi 4:7: Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Pola pikir dan seluruh eksistensi hidup kita dikembalikan kepada Tuhan, maka kita akan mengalami suatu damai sejahtera yang tidak ada di dunia ini. Alkitab mengatakan: damai sejahtera itu adalah damai sejahtera Allah, dan damai sejahtera itu melampaui segala akal. Orang dunia tidak akan bisa mengerti, mengetahui apalagi mengalami. Tuhan menyediakan suatu damai sejahtera yang dahsyat luar biasa yang masuk ke dalam diri kita. Orang yang betul-betul meninggalkan kepanikan, baru di dalamnya bisa tenang. Waktu dia meninggalkan kepanikan, dia bersandar kepada Tuhan, maka Tuhan menyediakan damai sejahtera yang tidak ada di dunia, seperti burung merpati yang bertengger di sebuah batu besar di tengah lautan yang sedang bergolak; dia bisa tenang karena dia bertengger di atas batu besar yang tidak tergoyahkan oleh badai. Inilah damai yang tidak terganggu oleh hal diluar karena pelabuhan jiwa yang sudah sampai kepada titik absolut. Setiap kali hidup kita bisa masuk ke pelabuhan jiwa yang sampai di titik absolut, maka kita tidak akan goyah lagi. Ide ini sudah ditangkap oleh pemikir-pemikir Hindu dan Budha, tetapi mereka tidak bisa mendapatkan titik absolut tadi, karena mereka tidak  bertemu dengan Tuhan Yesus yang dapat memberikan posisi total absolut. Kunci untuk mencapai pelabuhan jiwa tadi adalah pada waktu kita bisa mencapai titik pusat dari seluruh eksistensi positif yang paling positif. Kita kuatir kalau ada hal negatif yang akan menghantam kita. Kita bisa melawan hal yang negatif kalau kita bersifat positif. Positif itu bisa sampai titik puncak kalau kita bisa mencapai titik puncak absolut tadi. Pencarian titik pusat absolut ini menyebabkan pecah menjadi 2 gelombang yaitu:

1. Mencari keabsolutan di dalam ketidakabsolutan. Inilah yang dikerjakan oleh semua kontemplatif di dunia Timur. Mereka menyendiri, bermeditasi, memutlakkan posisi, mencoba mencapai moksa (yaitu naik ke atas menuju sifat surgawi). Dengan melakukan semuanya itu mereka berharap sudah melabuhkan diri pada titik yang absolut sehingga mereka bisa merasakan adanya damai sejahtera batiniah mereka. Damai sejahtera batiniah yang didalam tidaklah sama dengan damai sejahtera Tuhan, bedanya adalah yang dari Tuhan bersifat absolut sejati, sedangkan yang batiniah merupakan absolut palsu. Untuk mencapai damai batiniah ini mereka harus memotong relasi dengan dunia. Tetapi pada waktu mereka memotong relasi dengan dunia, damainya malah hilang, karena dirinya tidak bisa lepas dari semua hal yang ada di dunia. Untuk mencapai damai itu, mereka mendirikan kuil-kuil dan hidup di situ untuk menikmati damai.

2. Mencari damai dengan cara: positive thinking yang diduniawikan. Cara positif untuk mencapai damai sejahtera adalah seperti yang diungkapkan dalam Filipi 4:7-9. Ayat tersebut dikunci dengan “damai sejahtera Allah” (ayat 7) dan “Allah sumber damai sejahtera” (ayat 9). Bagian tengah yang diapit 2 kata kunci itulah yang dapat membuat kita damai sejahtera. Ketika damai sejahtera Allah mengisi hidup kita, kita akan bersukacita. Dunia ini termasuk keinginan kita yang kita puaskan tidak akan dapat membuat kita bersukacita. Keinginan kita tidak akan terpuaskan. Damai sejahtera seharusnya tidak tergantung pada hal-hal di luar diri. Tuhan menyediakan bagi kita harta karun yang begitu besar, sayang kalau kita tidak bisa menikmatinya dan bahkan kalau kita diterkam oleh keduniawian yang membuat apa yang Tuhan sediakan menjadi lewat dari hidup kita. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)