|
Ringkasan Khotbah : 22 Februari 2009
Nats: Lukas 17:1-4 Pengkhotbah : Pdt. Benyamin F. Intan |
Nats Alkitab pada hari ini berbicara tentang penyesatan. Alkitab berkata bahwa iblis adalah penyesat yang terbesar. Ketika iblis menyesatkan manusia, kita melakukan rencana iblis, kita berbuat dosa tanpa sadar bahwa kita sedang berbuat dosa. Bapa Gereja Augustinus mengatakan bahwa dosaku tidaklah dapat disembuhkan karena saya tidak sadar bahwa saya adalah manusia yang berdosa. Iblis tidak berhenti sampai di situ ketika dia menyesatkan kita, kita tidak hanya tidak sadar kalau kita melakukan dosa, kita bahkan pada saat itu berpikir bahwa kita sedang memuliakan Tuhan. Rasul Paulus semula bernama Saulus. Dia menangkap orang Kristen, memasukkannya ke dalam penjara, menuduh mereka dan membunuh mereka. Dia berpikir bahwa dia sedang melakukan kehendak Tuhan. Dalam Surat Filipi dia berkata: aku adalah orang Farisi, dalam menerapkan Hukum Taurat aku sama sekali tidak bercacat. Ketika membunuh, dia merasa tidak sedang melakukan dosa melainkan dia sedang memuliakan Allah, dia sedang memperluas Kerajaan Allah dengan menangkap dan membunuh orang Kristen yang dia anggap sebagai bidat, sebagai bahaya yang mengancam agama Yahudi. Itulah sebabnya rasul Paulus dalam 2Korintus 11:14 mengatakan bahwa iblis bisa menyamar sebagai malaikat Terang.
Kalau kita mau belajar tentang dosa dengan segala tipu dayanya, kita harus belajar dari surat rasul Paulus, misalnya dalam Efesus 1 Paulus menggambarkan dosa seperti iblis yang meyandera kita, kita tidak hanya tidak sadar bahwa kita sedang disandera, kita justru jatuh cinta kepada penyandera kita, malahan kita membantu setan untuk menyandera orang lain. Dalam Efesus 2 Paulus kembali menegaskan akan begitu dalamnya dosa; dia mengatakan bahwa kita yang hidup di dalam dosa akan mati di dalam dosa; ilustrasinya: orang yang hidup dalam narkoba tidak mungkin dapat hidup tanpa narkoba dan dia akan mati karena narkoba. Dalam Efesus 4 Paulus membicarakan tentang strategi dosa yang begitu keji; ketika kita pertama kali melakukan dosa A (dosa yang spesifik, seperti: ke tempat pelacuran, merampok) kita memiliki perasaan bersalah, rasa ketakutan yang begitu besar; ketika kita tidak bertobat dan melakukannya untuk kedua kalinya maka kita tidak lagi merasakan ketakutan yang besar melainkan hanya merasakan penyesalan dan lama kelamaan tidak merasakan apa-apa, hati menjadi mati, sampai pada level yang keempat kita akan menjadi serakah di dalam dosa. Orang serakah tidak akan pernah merasa puas; orang yang serakah di dalam dosa tidak akan pernah dipuaskan dengan melakukan dosa sebesar apapun. Iblis memang penyesat yang terbesar.
Tetapi, bagaimana dengan kita yang sudah di dalam Kristus? Dalam nats Alkitab kita hari ini ditulis bahwa Yesus berkata kepada murid-muridNya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Kalimat ini ditujukan kepada orang Kristen, kepada murid-muridNya, bukan kepada setan, bukan juga kepada orang yang tidak percaya. Berarti kita mempunyai potensi yang besar untuk menyesatkan sesama. Sadarkah kita bahwa hidup kita bisa menjadi batu sandungan? C.S. Lewis mengatakan: batu sandungan yang terbesar yang menghalangi orang datang kepada Tuhan Yesus adalah orang Kristen sendiri.
Tugas kita adalah mencari jiwa untuk dibawa ke gereja, ke KKR, tetapi kita tidak mencari jiwa, orang bahkan datang dengan sendirinya dengan pimpinan Tuhan ke gereja, orang-orang ini ketika melihat hidup kita, mereka batal menjadi orang Kristen. Kita seharusnya menjadi garam dan terang dunia yang berfungsi mengawetkan dan menerangi, tetapi kehadiran orang Kristen di tengah dunia ini malah menjadi bagian dari proses pembusukan, menjadi orang Kristen yang kontra-produktif.
Efesus 2:10: Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. Kita akan berkata: jangankan berbuat baik, untuk berhenti berbuat jahat saja begitu sulit; ibaratnya seperti: anak kita diharapkan menduduki rangking 1-3 di kelasnya, tetapi dia berkata bahwa jangankan rangking 1-3, bisa naik kelas saja belum tentu bisa. Celakalah kita kalau menjadi orang Kristen yang demikian, yang kontra-produktif.
Roma 6:7: Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Yang dimaksud oleh Paulus adalah bebas dari kuasa dosa tetapi dalam 1Yohanes 1:8,10 dikatakan bahwa kita masih bisa berbuat dosa walaupun kita tidak kembali berada di dalam kuasa dosa yang semula. Tuhan Yesus berkata: kalau orang Kristen yang seharusnya menjadi garam dan terang dunia malah menjadi kontra-produktif, sepertinya lehernya diikatkan pada batu kilangan dan ditenggelamkan ke dalam laut. Tuhan Yesus berkata: jagalah dirimu!
Semakin giat kita melayani Tuhan tantangan yang kita hadapi akan makin besar. Iblis bekerja dengan makin gencar. Jikalau sementara tidak bisa menembus anda yang menjadi pelayan Tuhan, mungkin istri/ suami/ anak anda yang menjadi target korban. Mungkin kita bisa menjadi hamba Tuhan/ majelis yang gagal mendidik anak-anak kita seperti imam Eli terhadap anak-anaknya. Ada satu pendeta yang saya kenal, istrinya sangat mendukung pelayanannya, anak laki-lakinya terlibat narkoba, anak perempuannya terlibat seks bebas. Sehebat-hebatnya dan serepot-repotnya dia, dia tidak jatuh ke dalam dosa seksual, tetapi ketika iblis menyerang anak-anaknya, kekuatan dia berkhotbah, khususnya ketika berbicara mengenai keluarga, menjadi hilang. Ironis sekali!
Ada hal yang lebih ironis, yaitu ketika kita menjadi pengikut Kristus, kita berpikir bahwa kita sudah melayani Tuhan, tetapi justru kita sedang menjadi batu sandungan. Contoh di Alkitab: Bartimeus, seorang buta, berteriak: Hai Anak Daud, kasihanilah aku!; murid-murid Tuhan Yesus justru membentak dia untuk diam. Zakheus tidak dapat mencapai Tuhan Yesus, bukan semata karena badannya yang pendek, melainkan karena dihalangi oleh orang banyak karena dianggap sebagai orang berdosa yang tidak layak datang kepada Tuhan Yesus. Petrus baru saja mengaku: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup! Tuhan Yesus berkata: Simon, bukan engkau yang mengatakannya, tetapi BapaKu yang menaruhnya di dalam hatimu. Di dalam puncak-puncaknya dia memuliakan Tuhan, pada perikop selanjutnya kita melihat ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia akan ke Yerusalem, akan mati di sana; Petrus langsung menarik Tuhan Yesus dan berkata: Engkau jangan berkata demikian, sekali-kali Allah tidak akan mengijinkan hal ini terjadi kepadaMu. Tuhan Yesus kemudian menjawab: Enyahlah engkau setan! Petrus ketika melakukan hal itu, dia tidak berpikir bahwa dia melakukan dosa, inilah batu sandungan yang paling bahaya. Mengapa Petrus bisa berpikir seperti itu sedangkan dia baru saja menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup? Mengapa Petrus dikatakan sebagai setan? Karena pada waktu itu Petrus menjadi juru bicara setan. Kalau kita melihat pencobaan Tuhan Yesus di padang gurun, ujung-ujungnya adalah Tuhan Yesus tidak boleh naik ke atas kayu salib. Contohnya: pencobaan I yaitu menjadikan batu menjadi roti, pada saat itu Tuhan Yesus sedang lapar dan kalau masalah seperti itu saja Dia sudah memakai mujizat untuk melayani diriNya, salibpun akan menjadi batal. Petrus dikatakan sebagai setan karena menjalankan program setan.
Menurut Efesus 2:2-3 ada 3 macam pencobaan yang masuk ke dalam hidup kita yaitu: setan, dunia dan hawa nafsu kedagingan yang berpusat pada cinta diri. Petrus jatuh dalam hal ini, dia lebih memperhatikan cinta diri. Augustinus berkata: ketika manusia jatuh ke dalam dosa, itu adalah cinta diri, melindungi diri, memelihara diri. Semuanya hanya untuk diri. Karenanya Tuhan Yesus berkata: barangsiapa mau mengikut Aku, dia harus menyangkal diri dan memikul salib. Seorang pelayan Tuhan harus selalu menyangkal diri. Kehadiran orang Kristen yang paling minimal adalah janganlah kita masuk ke dalam proses pembusukan. Inilah etika Kristen yang paling dasar. Inilah kasih yang paling minimal.
Tuhan Yesus tidak berhenti pada etika yang dasar, Dia naik kepada etika yang lebih besar yaitu kasih yang lebih tinggi yaitu: jikalau ada yang berbuat salah, tegorlah dia. Kasih ini mengandung resiko. Ketika kita menegor orang yang berbuat salah, kita harus berani bayar harga, kita akan dikucilkan, dipecat, dianiaya, dan berbagai macam penderitaan yang lain. Yusuf begitu dibenci oleh saudara-saudaranya karena banyak faktor, salah satunya adalah karena Yusuf memberitahukan kepada ayahnya kejahatan saudara-saudaranya. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa pengutusan orang Kristen ke dalam dunia ini adalah pengutusan yang paling kejam. Paulus berkata dalam Roma 8:36: Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami seperti domba-domba sembelihan. Menjadi orang Kristen seharusnya memiliki musuh. Kalau kita tidak mempunyai musuh, maka justru kekristenan kita patut diragukan. Kalau kita menerapkan Firman dengan konsisten, tidak kompromi dengan dosa, maka kita harus punya musuh. Tuhan Yesus berkata: kasihilah musuhmu! Dalam bahasa aslinya bersifat objektif genetif yang berarti musuhmu bukanlah orang yang kamu benci melainkan adalah orang yang membenci kamu. Ketika kita melakukan kebenaran, menelanjangi kejahatan, kita telah mengundang musuh. Setiap kita diasumsikan oleh Tuhan Yesus: harus mempunyai musuh. Galatia 4:16 menyatakan: apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?
Setiap kita haruslah memikul salib kita, menyangkal diri, barulah kita menjadi orang Kristen. Alkitab mengatakan: kalau kita melihat ada kesalahan pada orang lain dan kita tidak menegor dia, maka dosanya ditanggungkan kepada kita (Imamat 19:17). Dalam Efesus 2:1 Paulus membagi ada 2 macam kategori dosa yaitu: pelanggaran dan dosa (dalam bahasa aslinya: paraptoma yang sama dengan rebel/ transgression/dosa aktif/ melakukan kejahatan dan hamartia yang sama dengan meleset dari sasaran, artinya: jikalau kita melihat sesama kita berada dalam keadaan bahaya dan kita tidak memperingatkan dia, maka kita sudah berdosa). Yunus sudah berbuat dosa, bukannya perbuatan yang jahat yang telah dia lakukan melainkan karena dia tidak melakukan apa-apa, dia melarikan diri untuk memberitakan Injil. Orang kaya yang berdosa, bukan karena apa yang telah dia lakukan melainkan karena apa yang tidak dia lakukan.
Ketika kita bicara tentang metafora garam dan terang dunia, John Stott ketika menafsirkan bagian ini mengatakan: kalau suatu rumah gelap maka yang harus dipersalahkan adalah lampu sebagai terang yang tidak bercahaya bukannya matahari yang telah terbenam, kalau daging menjadi busuk yang harus dipersalahkan adalah garam bukannya bakteri yang datang terus menerus menggerogoti. Kalau kita tidak melakukan proses pengawetan, kitalah yang dipersalahkan.
Kasih di dalam Alkitab bersifat paradoks. Ketika kita memperingatkan orang yang melakukan kesalahan, bukan berarti kita membenci dia melainkan menunjukkan kalau kita mengasihi. Ketika Yunus berkata bahwa dalam 40 hari kota Niniwe akan ditunggangbalikkan, itu merupakan suatu penghakiman yang muncul dari cinta kasih yang dalam. Ada seorang theolog yang mengatakan bahwa murka Tuhan adalah ukuran dari cinta kasih Tuhan. Kalau ada seorang bapak yang sakit kronis tidak diperbolehkan makan makanan kaleng oleh dokter, istrinya tidak memperbolehkan dia makan makanan tersebut, menunjukkan bahwa istrinya mencintai dia, sebaliknya kalau istrinya memperbolehkan dia makan makanan tersebut, menunjukkan bahwa istrinya tidak mencintai dia.
Tidaklah mudah kita menegor orang. Menegor seharusnya dengan cinta kasih bukan dengan kebencian, menghakimi dengan tujuan mengasihi, seperti kita memukul anak kita bukan dengan tujuan untuk menghukum melainkan untuk mengembalikan dia. Seringkali Tuhanpun mengkoreksi hidup kita melalui peristiwa yang kita alami hari demi hari. Kitapun harus selalu mengkoreksi diri kita, kita harus selalu peka. Daud dalam Mazmur 139 mengatakan: ujilah aku Tuhan kalau-kalau jalanku serong dan di luar kehendak Tuhan.
Tuhan Yesus tidak berhenti di situ, kasih yang paling dasar adalah jangan menjadi bagian dari pembusukan, kasih yang kedua adalah kita harus menegor, kasih yang ketiga adalah kita harus mengampuni orang yang berbuat salah kepada kita. Sebagai ilustrasi: ketika saya ke dokter, dokter mengatakan bahwa saya terkena penyakit TBC misalnya, lalu saya memukul dokter tersebut, tetapi dokter tersebut tetap mengampuni saya. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus. Ketika kita memberitakan kebenaran, kita tidak kompromi dengan dosa, lalu orang yang sudah kita tolong dengan cinta kasih yang sesungguhnya, dia malah memukul dan menganiaya kita, dalam konteks inilah Tuhan Yesus berkata: ampunilah dia. Dalam tradisi Yahudi, 3 kali mengampuni berarti sempurna, tetapi Tuhan Yesus menyuruh kita mengampuni sebanyak 7 kali. Hal ini bukanlah secara lahiriah, 7 berarti sempurna. Matius 18:21-22: Petrus bertanya kepada Tuhan Yesus berapa kali dia harus mengampuni saudaranya? Tuhan Yesus berkata: bukan sampai 7 kali, melainkan sampai 70 kali 7 kali. Hal ini berarti sesuatu yang tidak terbatas. Ketika kita sudah mengasihi dengan begitu besar, kita dibalas dengan kejahatan, kita harus tetap mengampuni sampai dengan tidak terbatas. Dalam Matius 5 Tuhan Yesus berkata: barangsiapa menempeleng pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu; barangsiapa meminta bajumu, berikan juga jubahmu; barangsiapa meminta kamu berjalan 1 mil, berjalanlah dengan dia sejauh 2 mil. Semuanya itu bukanlah hal yang lahiriah yang dimaksudkan melainkan berarti bahwa kalau ada orang yang menempeleng pipi kanan, kalau dia kembali menempeleng pipi kiripun, kita harus siap mengampuni dia. Pengampunan kita seharusnya selangkah ke depan daripada kesalahan yang diperlakukan kepada kita.
1Yohanes 4:19: kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Setiap kita diberi Firman Tuhan juga diberi kekuatan untuk melakukannya. Yehezkiel 36:25-27: kamu Kutahirkan, Kuhapuskan dosamu, dan Kuberikan hati yang baru, batin yang baru, roh yang baru. Pengampunan dalam kekristenan menyangkut pemulihan. 2Korintus 5:17: barangsiapa ada di dalam Kristus, dia adalah ciptaan yang baru, yang lama sudah berlalu, yang baru akan datang.
Khotbah di bukit bagi Mahatma Gandhi merupakan wisdom teachings (pengajaran yang bijaksana). Tetapi Glenn Stassen membedakan antara wisdom teachings dengan prophetic teachings. Bagi orang non Kristen hanya sebatas wisdom teachings (pengajaran yang bijaksana), tetapi Firman Tuhan yang begitu sulit bagi orang Kristen merupakan prophetic teachings (pengajaran itu akan menjadi daging di dalam diri kita, akan menjadi nyata terealisasi di dalam hidup kita). Mengampuni dengan tidak terbatas ini harus selalu kita lakukan. Hal ini tidak berarti bahwa keadilan tidak dijalankan, penghakiman tidak dilakukan. Bapa Gereja Augustinus mengatakan: tidak ada kasih yang tanpa keadilan. Kita harus mengampuni orang-orang yang membakar gereja tetapi juga harus membawa mereka ke pengadilan, itupun dengan cinta kasih bukan dengan balas dendam. John Stott memberikan ilustrasi: kalau pencuri masuk ke rumah kita lalu jatuh dari genteng, maka kita harus menelpon polisi dan juga ambulance. Tuntutan bagi kita yang melayani Tuhan adalah cinta kasih harus dijalankan bersama dengan keadilan.
Ketika kita berdoa mohon pengampunan bagi orang lain, kita akan memperoleh berkat dari Tuhan. Doa Tuhan Yesus diatas kayu salib: Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Doa ini merupakan doa syafaat penginjilan, sehingga seorang prajurit pada saat itu berkata: Dia ini betul-betul adalah Anak Allah. Dalam Kisah Rasul 7 dikisahkan ketika Stefanus dirajam batu, dia mengatakan: Tuhan, jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka. Pada saat itu Saulus ada di situ. Ini juga merupakan doa syafaat penginjilan. Inilah tantangan pelayanan Kristen bagi kita semua. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)