|
Ringkasan Khotbah : 22 Februari 2009
Nats: Filipi 2:12-18 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Di tengah-tengah dunia ini kita diminta semakin hari semakin masuk ke dalam iman kita, makin masuk ke dalam keselamatan yang Tuhan berikan. Dalam nats Alkitab kita hari ini, tercantum 4 perintah besar yaitu:
1. kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar (Filipi 2:12)
2. lakukan segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan (Filipi 2:14)
3. peganglah firman kehidupan (Filipi 2:16)
4. bersukacitalah bersama aku (Filipi 2:18)
Inti dari seluruh cerita adalah bagaimana kita dapat bersukacita bersama, karena kita sama-sama berada di dalam keselamatan, kita sama-sama merupakan umat yang diselamatkan oleh Tuhan. Kaitan dari yang pertama sampai yang terakhir adalah merupakan suatu proses yang Tuhan bangun. Inilah yang disebut dengan ide konsentrik. Ketika kita berjalan semakin masuk ke pusat, kita akan mendapatkan sukacita yang besar, sebaliknya: makin kita keluar, kita semakin tidak bersukacita dan semakin terpecah di tengah dunia ini.
Pdt. Stephen Tong ketika melihat kekacauan hidup manusia di tengah situasi dunia yang mengalami terpaan badai yang begitu besar, di dalam pergumulannya beliau melihat manusia semakin terpecah sehingga dunia semakin hancur dan berdampak pada hidup manusia yang juga hancur. Keterpecahan ini terjadi di semua aspek, bukan hanya secara global di dalam masyarakat yang luas, tetapi juga terjadi pada unit-unit yang kecil. Implikasi-implikasi tertentu membuat lingkungan-lingkungan kecil menjadi terpecah-pecah bahkan sampai kepada keluarga. Dalam situasi seperti ini, kita bisa mengerti bagaimana situasi Babel, ketika manusia memuncak dengan dosanya, dengan ide yang paling tuntas untuk melawan Tuhan, Tuhan memecahkan semuanya. Pada waktu kita mengalami keterpecahan seperti ini, dunia menjadi kacau, seluruh struktur menjadi hancur, seluruh tatanan/urutan menjadi rusak, maka seluruh hidup juga menjadi hancur. Keterpecahan yang terjadi di dalam keluarga mengakibatkan seluruh tatanan, struktur dalam keluarga menjadi hancur, maka keluarga menjadi hancur, yang berakibat pada kehancuran setiap individu di dalam keluarga tersebut. Inilah cara kerja setan yang luar biasa.
Pemecahan dari masalah ini adalah: harus kembali kepada penyatuan. Orang dunia tahu bahwa semakin terpecah akan semakin hancur, maka harus bersatu. Bagaimana bisa bersatu? Dunia hanya bisa mengerti sampai batas komunitas. Komunitas merupakan jawaban bagi orang-orang post-modern, yaitu mencoba untuk menyatukan kembali yang sudah terpecah. Komunitas adalah satu kelompok yang merasa sama. Kesamaan ini bukanlah kesamaan yang langgeng, dan bersifat utilitarian (bersifat kepentingan manusia, kepentingan pribadi). Suatu saat kepentingan yang satu akan bertabrakan dengan kepentingan yang lain sehingga kembali mengalami keterpecahan. Persatuan yang seperti ini memang tidaklah bisa langgeng. Persatuan yang digarap dengan tidak berhati-hati justru dapat menjadi sumber keterpecahan. Jadi ketika bangunan relatif bertemu dengan bangunan relatif, lalu mengadakan penyatuan, hanya akan mencapai kesemuan dalam persatuan, akhirnya gerak keseluruhan menjadi pecah. Semua persatuan menjadi kepalsuan belaka. Dalam pergumulan seperti ini, apa yang harus dikerjakan?
Pdt. Stephen Tong mengeluarkan suatu pernyataan: hanya satu hal yang kita perlukan untuk bisa menjadi anak Tuhan yaitu doing nothing, nothing undone (tidak mengerjakan segala sesuatu tetapi segala sesuatu menjadi beres). Ini adalah satu gerak yang dimulai dengan ide konsentrik. Dalam teori filsafat, itulah yang disebut dengan the unmoving mover, yang pertama kali dicetuskan oleh Plato. Teori ini kemudian dikembangkan oleh Aristoteles, murid Plato. Aristoteles kemudian mengembangkan seluruh tatanan dunia menjadi bersifat ontologis melalui sistem yang disebut unmoving mover. Hal ini oleh Thomas Aquinas (tokoh theologi Roma Katholik yang mengkawinkan pemikiran Aristoteles dengan iman Kristen) diimpor ke dalam kekristenan menjadi pernyataan: the unmoving mover itu adalah Allah, artinya: Allah adalah penggerak yang sendirinya tidak digerakkan.
Kalau kita bisa melihat posisi seperti di atas, kita akan semakin konsentrik. Dunia kita semakin lama semakin eksentrik, karena keluar dari pusat; semakin keluar dari pusat akan semakin terlempar keluar dan semakin terpecah.
Hidup Kristen adalah hidup yang konsentrik. Makin kita jauh dari pusat, makin panjang jari-jarinya, kita akan semakin pusing karena putarannya semakin cepat sedangkan waktu tempuhnya sama (gerakan sentripetal); sedangkan kalau jari-jarinya pendek, dalam waktu tempuh yang sama, akan dapat dikejar dengan jarak tempuh yang pendek pula. Kita bisa tidak bergerak sama sekali tetapi tetap berputar adalah pada waktu kita berada di titik pusat. Ini yang disebut dengan titik konsentrik.
Titik pusat ini menggerakkan segala sesuatu, tetapi dia kelihatan tidak bergerak, dia berputar tetap di posisi tengah/pusat. Waktu kita berada di titik pusat, kita menjadi kelihatannya tidak mengerjakan segala sesuatu, tetapi mengerjakan semuanya dengan beres. Waktu demikian, kita akan mengerjakan hal besar tanpa perlu menjadi pusing dan mabok. Bagaimana caranya? Paulus mengatakan: kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar!.
Seberapa jauh kita menyadari bahwa keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita adalah anugerah yang begitu besar yang tidak membuat kita menjadi selesai secara otomatis. Justru keselamatan itulah yang menjadi titik pusat yang membuat kita menjadi berputar, yang membuat kita harus mulai bergerak. Kalau Tuhan sudah membawa kita masuk ke posisi pusat/ utama ini, seberapa jauh kita menyadari keistimewaan posisi ini? Lalu kita mulai bergerak dengan takut kalau keluar, karena begitu keluar sedikit, kita pasti terlempar keluar. Makin kita takut dan gentar meleset, kita akan semakin ke pusat, semakin ke pusat kita akan semakin cepat bergerak, makin kita menjadi penggerak tanpa kita bergerak. Inilah titik yang paling tenang/ paling diam tetapi titik yang bergerak paling cepat dan menggerakkan semua dengan sangat cepat. Titik pusat, gerak sentripetalnya tidak kelihatan tetapi gerak sentrifugalnya sangat besar. Posisi ini memiliki daya yang sangat besar dan kuat untuk kita bekerja.
Waktu kita hidup, seberapa jauh kita mengerti posisi konsentrik ini? Kadang-kadang kita mau berposisi di dalam Tuhan, tetapi di lain pihak kita suka dengan cara-cara dunia, akibatnya: kita tidak pernah masuk ke dalam posisi konsentrik. Kaki yang satu mau di pusat, kaki yang satunya mau keluar, lama-lama kita terseret keluar. Inilah yang membuat kita tidak bisa bersukacita.
Posisi tengah/ posisi keselamatan ini lain dengan komunitas, posisi ini adalah sesuatu yang besar yang bukan merupakan daya kita, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauanNya maupun inisiatifNya demi kerelaanNya (Filipi 2:13). Kita bisa masuk ke posisi konsentrik bukan karena kemauan, kesukaan kita melainkan semata-mata hanya karena anugerahNya. Ketika kita bersatu, bukan karena inisiatif kita, inilah kesatuan yang sejati. Posisi konsentrik yang sejati: kerjakan keselamatanmu, menjadi kunci yang luar biasa. Kita bisa bersukacita karena kita tahu kalau kita masuk ke dalamnya, itu bukan karena kita melainkan karena Tuhan yang berinisiatif, yang bekerja dan yang menggarap. Konsep ini menjadi suatu kekuatan.
Pada waktu kita menggarap pekerjaan Tuhan, kesulitan, tantangan segudang banyaknya, tetapi kita bisa menghadapi semuanya dengan tenang karena kita percaya bahwa Tuhan sendiri yang akan bekerja. Perbedaan pendapat dan keinginan selalu ada, tetapi pada waktu semuanya dikembalikan kepada apa yang Tuhan kehendaki maka kita bisa bersama-sama berada dalam kesatuan untuk menggarap pekerjaan Tuhan. Hidup yang seperti ini adalah indah. Demikian juga dalam kehidupan keluarga, kalau berjalan menuruti kemauan suami/ istri keluarga akan bubar, tetapi kalau mencari kehendak Tuhan hidup akan menjadi indah. Persatuan terjadi ketika kita sedang menggarap keselamatan kita.
Theologi Reformed begitu kokoh karena di titik pertama sudah mengakui bahwa keselamatan bukan ada karena inisiatif manusia melainkan karena anugerah Tuhan. Keselamatan kita peroleh karena kita dipilih oleh Tuhan, karena inisiatif dan kerelaan Tuhan. Kalau kita terlepas dari keselamatan yang Tuhan berikan, kita akan berdiri di atas relativitas, kita akan berbenturan satu dengan yang lain sambil tidak tahu apa yang harus dilakukan, akhirnya kita hidup galau. Orang yang berada di pusat akan dapat hidup kompak, bersatu dan hidup dengan ringan. Mari kita kembali ke titik pusat/ posisi konsentrik yaitu dengan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar.
Setelah kita masuk ke posisi konsentrik, kita harus segera mengerjakan perintah yang kedua yaitu jangan bersungut-sungut dan berbantah-bantahan (jangan mengomel dan berdebat yang tidak ada isinya). Point ini menjadi dasar supaya kita tidak beraib dan tidak bernoda sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kita bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia (Filipi 2:15). Pusat kita bukannya mengurus hal-hal yang tidak perlu melainkan selalu melihat ke atas/ kembali kepada Tuhan. Saat ini kita hidup di era post-modern yang pluralis sekali sehingga terlalu banyak ide/opini/informasi sampai-sampai kita kebanjiran dan muntah dengan berbagai opini yang muncul. Dalam situasi yang seperti ini, kita cenderung terpancing untuk mau ribut dengan berbagai hal di atas, padahal ribut tersebut tidaklah menyelesaikan masalah, karena keinginan pribadi melawan keinginan pribadi, kemauan orang melawan kemauan orang yang lain, ide yang satu melawan ide yang lain. Kita tidak perlu mengurus hal seperti ini karena hanya buang waktu dan menjadi stress, bahkan kita tidak bisa mengerjakan keselamatan kita, berarti hal yang penting menjadi tidak terurus. Kita memboroskan waktu dan tenaga tetapi tidak menghasilkan apa-apa, yang terjadi adalah kita menjadi bercela dan beraib seperti orang dunia yang bengkok hatinya dan menyeleweng/ sesat di dalam cara berpikirnya.
Kita harus selalu kembali ke posisi konsentrik agar kita dapat bercahaya seperti bintang. Dengan adanya bintang, yang gelap tetaplah gelap tetapi kegelapan itu tidak bisa menutupi terang dari bintang. Seberapa jauh kita tetap dapat bersinar terang di tengah-tengah kegelapan dunia yaitu bagaimana kita kembali ke posisi konsentrik. Bagaimana kita bisa bersinar terang kalau kita sendiri bengkok hati dan sesat? Di tengah-tengah kondisi seperti ini, kita dituntut untuk semakin ketat, jangan buang-buang waktu dengan segala hal yang tidak berguna. Tugas kita hanyalah mengerjakan kehendak Tuhan bukan kehendak manusia.
Bagaimana caranya kita bisa betul-betul konsentrik dengan tuntas? Filipi 2:16 menjawab: sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, aku tidak percuma/ sia-sia berjuang/ bekerja sampai dengan saat ini. Semua penderitaan, perjuangan dan kesulitan kita akan menjadi paling menyesakkan/ menyedihkan kalau kita tahu bahwa semuanya itu sia-sia belaka. Yang lebih celaka lagi adalah kalau kita tidak tahu bahwa yang kita kerjakan adalah sia-sia belaka. Setelah berada di akhir, kita baru tahu kalau apa yang sudah kita kerjakan/ perjuangkan adalah sia-sia, hal ini adalah pemborosan waktu belaka, karena hidup kita ini hanyalah sekali lewat. Semua waktu yang telah kita lewati dengan berbagai penderitaan, perjuangan tidaklah bisa diputar ulang kembali. Kalau kita bisa memutar ulang kembali waktu hidup kita, mungkin kita tidak perlu terlalu kecewa dan menyesal. Kenyataannya, banyak orang menyesal karena telah mengerjakan hal yang tidak berarti/ sia-sia. Semua kesia-siaan yang telah, sedang, juga yang akan kita alami membuat kita tidak bisa bersukacita. Makin banyak kesia-siaan yang kita alami, makin banyak tumpukan kepedihan yang kita rasakan, makin kita tidak bisa bersukacita.
Hidup di dunia ini tidak memiliki prinsip dasar yang jelas karena bersifat eksentrik, sehingga tidak memiliki arah yang jelas. Makin kita terikat dengan pusat, makin kita menggerakkan semua dengan efektivitas yang tinggi. Gesekan akan semakin besar di posisi semakin keluar dari pusat sehingga tidak lagi efisien. Makin kita keluar dari Tuhan, makin kita tidak tahu apa yang kita kerjakan, makin kita bekerja dalam keduniawian, dan semuanya itu akan menjadi sia-sia. Paulus sebelum bertobat juga bekerja keras, tetapi setelah dia bertobat dia menyadari bahwa kerja kerasnya hanyalah sia-sia belaka. Puji Tuhan, aku mengenal Kristus, ada nilai di dalamnya, kalau tidak maka hidupku akan sia-sia belaka. Kalau kita hidup di dalam Tuhan, kita memiliki kejelasan di dalam kita bekerja, tujuan hidup kita, akhir hidup kita, seluruh aspek hidup kita. Karena itu, berpeganglah erat pada firman kehidupan! Firman kehidupan itulah yang membuat kita bisa hidup. Ketika menghadapi masalah, seharusnya kita kembali kepada Firman, kalau kita lari dari Tuhan/ Firman, maka kita akan semakin sia-sia hidup. Paulus tahu dengan pasti bahwa ketika kita berpegang pada Firman, kita bisa bermegah pada hari Kristus, karena kita tahu bahwa apa yang kita kerjakan tidaklah sia-sia. Bisakah kita yakin dan berpengalaman seperti ini?
Orang Reformed seringkali logikanya jalan tetapi imannya tidak. Seberapa jauh orang Reformed mengalami kedaulatan Allah, pimpinan Allah, pemeliharaan Allah dalam hidupnya? Seberapa jauh kita di tengah terpaan badai pluralisme kita tetap memegang dengan keras Firman Tuhan? Berapa banyak orang Kristen yang berpegang pada Firman Tuhan dan menjadikan Alkitab sebagai satu-satunya pegangan dalam hidup? Di tengah badai seperti ini, kita memerlukan angkur yang kuat yang dapat membuat kita tidak mudah bergeser dan hanyut. Marilah kita mengangkurkan hidup kita pada Firman Tuhan.
Filipi 2:17: sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita ... Kata aslinya adalah menjadi persembahan minuman. Persembahan minuman adalah suatu persembahan yang anggun untuk raja. Persembahan minuman dalam ibadah adalah suatu persembahan yang anggun untuk Allah seperti persembahan cawan yang begitu indah. Cawan di sini mengandung pengertian cawan darah. Paulus sudah mengalami banyak penderitaan tetapi dia tetap dapat bersukacita, artinya: semua hal yang diluar tidaklah dapat menghabiskan hal yang ada di dalam yang diberikan oleh Tuhan. Semua hal yang terjadi di luar kita tidaklah dapat mempengaruhi hidup kita sampai ke dalamnya, maka kita akan bersukacita, sebaliknya: kalau hidup kita dikontrol oleh situasi dan kondisi di luar kita maka perasaan dan pribadi kita akan menjadi permainan dari orang luar.
Paulus mengajak kita bersukacita bersama dengan dia. Kalau hidup kita konsentrik, menggarap keselamatan dengan takut dan gentar, sukacita kita akan berakar di dalam dan tidak bisa disentuh dari luar. Semua dari luar hanyalah menyentuh permukaan hidup kita tetapi tidak dapat menyentuh esensi hidup kita. Paulus tidaklah pusing dengan perlakuan manusia kepada dia, karena hidupnya adalah hidup yang bersukacita walaupun mengalami penderitaan, hidupnya ditentukan oleh Tuhan/ berpusat pada Tuhan. Stefanus dirajam sampai mati tetapi bagian dalamnya tidaklah tersentuh, inilah keunikan anak Tuhan; bagian dalamnya tetap berpusat kepada Tuhan sehingga dia tetap dapat bersukacita. Inilah kelas spiritual yang sudah sampai pada titik yang tidak dapat diganggu oleh siapapun.
Pdt. Stephen Tong seringkali mengingatkan saya: sebagai hamba Tuhan, kita harus mati terhadap pujian juga terhadap kritik. Pujian dan kritik jangan sampai menyentuh dalamnya kita. Begitu kita mulai senang dengan pujian, berarti kita mulai tersentuh dalamnya, kita berdosa. Kritik yang bagus harus kita dengarkan dan kita harus memperbaiki hidup kita, tetapi janganlah kritik tersebut membuat kita menjadi sedih, minder dan menderita. Yang boleh menyentuh bagian dalam kita adalah Tuhan. Kalau Tuhan tidak suka, berarti matilah kita. Tuhan suka atau tidak haruslah menjadi pertimbangan utama dalam hidup kita. Kalau kita bisa memiliki sukacita konsentrik, kita akan selalu bersukacita. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)