Ringkasan Khotbah : 15 Februari 2009

Sukacita Altruistik

Nats: Filipi 2:1-11

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Tema dari kitab Filipi adalah sukacita, yang diikat dalam satu konsep yaitu sukacita di dalam Kristus. Bersukacita adalah penting dalam kekristenan, tetapi tidak dalam bentuk tertawa terbahak-bahak yang merupakan sukacita sesaat yang kemudian akan merasa kering. Sukacita sejati adalah sukacita yang mendalam, berakar, betul-betul menyentuh sampai ke dalam hati, dan reaksi yang muncul adalah menangis. Sukacita yang sejati akan membuat hidup bergairah, sukacita tersebut akan berpengaruh besar dan memberikan dorongan yang besar bagi seseorang.

Kalau kita pada akhirnya melihat suatu point final dari sukacita yaitu sukacita axiologis, sukacita yang begitu besar karena kita mendapatkan sesuatu yang begitu bernilai, yang kekal, yang mulia, yang begitu mahal, dan apa yang kita dapatkan bukanlah hanya sesaat melainkan sampai ke surga nanti pun tetap merupakan bagian kita. Banyak orang Kristen yang tidak bisa mengerti tentang sukacita ini karena mungkin sekali mereka belum mendapatkannya, mereka belum memiliki iman yang melihat betapa mulianya kasih Kristus. Iman inilah yang disebut dengan iman sejati, karena Paulus terlebih dahulu telah merasakan dan mengalaminya. Paulus sebelumnya adalah orang yang beragama, sangat beriman, orang Yahudi asli, pembela iman yang luar biasa dengan menganiaya jemaat Tuhan, orang Farisi yang memiliki pengertian theologis yang luar biasa, dari kecil sudah menjalankan Taurat. Paulus bisa bangga sebagai orang yang beragama, tetapi sebenarnya isi imannya bobol. Pada waktu dia mengenal Kristus, dia baru mengetahui bahwa bukanlah aktivitasnya melainkan isi imannya yang membuat dia sadar bahwa dia telah mendapatkan sesuatu yang mulia. Dia juga mengajak jemaat untuk dapat masuk ke sana. Bagaimana kita bisa mengalami sukacita itu merupakan urusan sepanjang proses hidup kita, bukan hanya sesaat.

Penyampaian dalam Filipi 2 menggunakan sistem sandwich atau sistem yang berbentuk panah, artinya: strukturnya a-b-c-d-c-b-a; d merupakan klimaknya. Inti pembicaraan Paulus dalam Filipi 2 ini adalah pada ayat 5 yaitu: hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.

Di sini dapat kita lihat suatu iman dimana seluruh hidup Paulus masuk ke dalam kehidupan Kristus.

Inilah kunci iman, yang oleh Francis Schaeffer seringkali diungkapkan sedemikian: saya melakukan apa yang saya pikirkan, dan saya memikirkan apa yang saya percaya. Pikiran kita adalah implementasi dari iman kita. Pikiran kita dijalankan dalam perbuatan kita. Maka hidup bersama kita adalah hasil dari pikiran dan perasaan kita, yang merupakan hasil dari pengenalan akan Kristus. Iman kepada Kristus yang benar akan membawa kepada pikiran dan perasaan yang benar dan menjadikan hidup bersama kita menjadi benar. Kalau urutan ini benar, maka kita bisa hidup bersukacita.

Pikiran dan perasaan merupakan gabungan dari seluruh mindset kita. Mind merupakan gabungan dari pikiran dan perasaan. Otak manusia mempunyai 2 sisi yaitu sisi yang berpikir secara analitis/ logika dan sisi yang menjalankan aktivitas perasaan seperti sedih, gembira, dll. Perasaan bukanlah urusan hati, hati berkaitan dengan iman. Implikasi iman harus menyangkut pikiran dan perasaan. Kalau pikiran dan perasaan kita dikembalikan seperti pada waktu kita diciptakan yaitu kembali kepada Kristus maka hidup bersama kita akan menjadi indah. Itu akan menjadi sukacita.

Jadi Paulus mengajak kita untuk bersukacita dengan cara: hidup bersama, dengan mengembalikan pikiran dan perasaan kita kepada Kristus yaitu dengan beriman kepada Kristus. Dari zaman dahulu sampai dengan sekarang, dunia merasakan pentingnya hidup bermasyarakat/ berkomunitas, tetapi tidak bisa menjalankan komunitas yang beres. Agar dapat berkomunitas dengan beres, harus kembali kepada Kristus, menjalankan cara Kristus. Bagaimanakah cara Kristus itu?

Filipi 2:6: yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.

Banyak orang yang menganggap teori pengosongan diri/ kenosis ini sebagai mengosongkan ke-Allah-an dari Kristus. Hal ini adalah salah! Pengosongan diri/ kenosis adalah tidak mempertahankan sebuah hak, yaitu hak kesetaraan dengan Allah. Bukannya Kristus tidak menjadi Allah, melainkan haknya sebagai Allah yang dilepaskan. Prinsip penting dari kenosis adalah melepaskan hak.

Manusia paling getol mengejar hak dan berusaha melepaskan kewajiban. Sebagai orang Kristenpun kita seringkali bersikap demikian, yang berarti melawan Firman Tuhan. Kita semua tahu kalau kita

dapat melepaskan hak kita, kita akan menjadi sukacita, tetapi kita tidak bisa menjalankannya. Kita harus belajar untuk melepaskan hak kita.

Pointnya terdapat dalam Filipi 2:4 yaitu: dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Inilah kunci untuk dapat bersukacita yaitu yang disebut dengan sukacita altruistik. Sukacita altruistik adalah sukacita yang tidak memikirkan kepentingan diri sendiri, melainkan memikirkan kepentingan orang lain. Orang yang sibuk dengan haknya hanyalah mementingkan kepentingan dirinya. Orang yang mau memikirkan kepentingan orang lain haruslah rela untuk melepaskan haknya. Kristus telah memberikan contoh tentang hal ini. Hal ini bukanlah hal yang mudah melainkan riil adanya. Dunia tahu kalau kita menolong orang lain kita akan merasa sukacita. Tetapi perlu diingat, bahwa sukacita janganlah dijadikan tujuan. Kalau sukacita merupakan tujuan, itu hanyalah implikasi dari egois. Makin kita mengejar egois, kita tidak akan mendapatkannya dan sukacita hanyalah menjadi ilusi/ fatamorgana.

Ketika kita tahu bahwa menolong orang lain akan mendatangkan sukacita, kita tetap tidak mau menjalankannya dengan alasan kita tidak berkepentingan untuk menolong orang lain. Alasan ini kembali menunjukkan keegoisan kita. Kalau kita tidak bisa hidup memikirkan kepentingan orang lain, kita akan menjadi pencelaka di dunia ini.

Saya dorong anda untuk ikut persekutuan doa yang mendoakan orang lain. Kita cenderung akan ngotot dalam doa selama kita ada kepentingan di situ seperti: ingin sembuh, ingin kaya, dll. Dalam persekutuan doa di Jakarta beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan berkat dari khotbah singkat Pdt. Aiter. Beliau mengatakan bahwa hidup yang menjadi berkat adalah sesuatu yang dahsyat dipakai oleh Tuhan. Beliau mengutip tentang diaken dalam Kisah Rasul 6. Ada 7 diaken yang dipilih untuk melayani janda-janda dengan syarat: penuh iman, penuh hikmat bijaksana, penuh roh, dan berkelakuan baik. Untuk tugas yang kelihatannya sepele, dituntut syarat yang begitu rohani. Dari 7 yang terpilih, yang betul-betul melayani hanyalah 2 orang, 5 orang yang lain bukanlah tidak kelihatan karena kondisi jemaat waktu itu adalah jemaat berserakan ke mana-mana akibat penganiayaan. 2 orang tersebut adalah Stefanus dan Filipus. Stefanus membela iman dengan begitu sengit, begitu tegas dan begitu berani, bahkan sampai harus bayar dengan nyawanya. Filipus dipakai Tuhan menjadi penginjil keliling ke daerah-daerah sampai suatu hari di Kaisarea dia mendapatkan julukan “si penginjil”. Ada 2 sikap yang perlu dicontoh dari para diaken tersebut yaitu:

1. Mereka tidak menyepelekan tugas diaken yang hanya melayani janda-janda.

2. Walaupun tugas tersebut adalah tugas yang remeh, mereka tidak mengerjakannya dengan sembrono.

Dalam Kisah Rasul 4 diceritakan ada seorang yang bernama Barnabas. Dia menjual tanahnya, kemudian memberikan seluruh hasil penjualan tanahnya tersebut kepada para rasul untuk pekerjaan Tuhan. Barnabas melayani Tuhan dengan begitu baik, tetapi dia lolos tidak menjadi diaken. Mata manusia lewat, tidak kelihatan Barnabas yang begitu baik kerohaniannya. Barnabas tidak dicatat kalau dia protes, sebaliknya Alkitab mencatat bahwa mata Tuhan tidak melewatkan dia, Tuhan memilih Barnabas seorang diri untuk menjemput Paulus di Tarsus kemudian membawa dia ke Antiokhia. Kota Antiokhia menjadi kota pertama yang kekristenannya berkembang dengan bagus di luar Yerusalem, sampai-sampai menyandang predikat “Kristen”. Tidak hanya sampai di situ, Barnabas dan Paulus diperintah Tuhan untuk melanjutkan penginjilan keliling. Perjalanan misi pertama Paulus adalah bersama Barnabas dengan mengelilingi Asia Kecil. Barnabas dipakai Tuhan dengan luar biasa. Inilah kriteria orang yang tidak memikirkan kepentingan diri sendiri, dia memikirkan kepentingan orang lain, memikirkan jiwa-jiwa, memikirkan pekerjaan Tuhan. Inilah jiwa Kristus. Inilah yang dikatakan punya pikiran dan perasaan Kristus. Orang yang seperti ini, hidupnya diberkati dan disertai Tuhan.

Kalau kita sibuk dengan kepentingan kita sendiri, kapan kita bisa bersukacita? Walaupun kita mendapatkan apa yang kita mau, kita tetap tidak bisa bersukacita. Kemauan kita tidaklah pernah habis, justru menjadikan kita semakin “gila”. Abraham Maslow, dengan mazhab ketiga psikologinya, mengatakan bahwa semua kebutuhan manusia haruslah dipenuhi, kalau tidak terpenuhi akan menjadikan manusia itu tidak beres/ gila. Ada 5 kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia, menurut Maslow, yaitu: kebutuhan fisik (makanan, minuman, pakaian), kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan mencintai dan dicintai, kebutuhan akan estetika, kebutuhan untuk aktualisasi diri (merupakan puncak dari semuanya). Menurut Maslow, kalau semua kebutuhan tersebut terpenuhi, kita akan menjadi sukacita. Dunia sekarang ini meneriakkan tentang aktualisasi diri. Orang yang mengejar aktualisasi diri, akan lebih sukacita atau justru lebih stress? Ternyata, setelah memperjuangkan semua kebutuhan itu, psikolog semakin banyak, rumah sakit jiwapun menjadi kurang banyak. Kenapa? Karena semua hanya sibuk dengan kepentingan diri. Kita takut hak kita hilang, takut dirugikan. Ini jiwa berdosa.

Mari kita belajar kepada Tuhan Yesus yang rela melepaskan haknya walaupun Dia memiliki kemampuan dan status yang lebih besar daripada kita. Bagaimana kita belajar melepaskan hak? Mari kita belajar dari Filipi 2:7-8 yaitu: melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Kristus bukan hanya melepaskan hakNya, Dia bahkan turun, turun dan turun demi menjadi berkat bagi orang lain. Kalau Kristus merendahkan diri sampai begitu dahsyat, bagaimana dengan kita? Kita lihat Filipi 2:3: dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.

Kita sudah dididik oleh dunia dengan filsafat yang berdosa yaitu filsafat utilitarianism yang menyuarakan: semua diukur dari aspek manfaat, apa yang kita dapatkan, semua orang harus melayani kita.

Alkitab mengajar kita untuk menurunkan diri, menjadi rendah hati, bukannya rendah diri. Rendah diri adalah sama dengan meninggikan diri. Sombong adalah jahat, merusak, dan sangat tidak menyenangkan. Tetapi kita semua senang untuk menjadi sombong, untuk naik ke atas. Sejak Kejadian 3, manusia mengejar sombong, ingin menjadi tuhan, ingin naik ke sana. Kalau kita naik ke sana, kita akan menjadi hancur. Yang terbaik bagi kita adalah kalau kita merendahkan diri, berada di bawah, melihat orang lain lebih penting. Hal ini akan memberikan sukacita kepada kita. Kita tidak akan terbawa kepada beban-beban yang tidak perlu. Sombong membuat kita melambung untuk jatuh, membuat kita tidak berada di posisi yang seharusnya. Itulah yang membuat kita hancur. Kita harus belajar kepada Kristus yang terus merendah.

Rendah hati bukanlah minder. Minder adalah ingin tinggi tetapi tidak mampu. Minder adalah kesombongan yang tersembunyi, akan menjadi pukulan negatif ke dalam diri. Sombong adalah pukulan negatif yang ke luar diri. Keduanya berangkat dari posisi yang sama yaitu tidak mau merendahkan hati. Orang yang demikian makin hari akan makin dijauhi oleh orang lain, dan tidak bisa hidup bersama. Kalau sudah demikian, bagaimana dapat bersukacita?

Bukankah dengan rendah hati kita diinjak, dihina, diperlakukan dengan tidak beres oleh orang lain, bagaimana mungkin dapat bersukacita? Tidak! Pada waktu kita rendah hati, kita bisa menjadi lebih cermat. Orang yang sombong akan lebih mudah ditipu yaitu dengan diagung-agungkan terlebih dahulu.

Dalam kehidupan bergereja, kalau kita memiliki usul, sebaiknya kita terlebih dahulu menguji diri, apakah kita mempunyai kepentingan dalam usul tersebut. Kalau memang kita memiliki kepentingan di situ, lebih baik usul tersebut kita tutup. Usul kita sebaiknya untuk kepentingan gereja atau bahkan untuk kepentingan kekristenan di dunia, untuk pekerjaan Tuhan. Dengan mengusulkan sesuatu, kita seharusnya siap untuk berkorban terlebih dahulu untuk menjalankan usul tersebut.

Mari kita belajar memikirkan kepentingan orang lain, untuk menjadi berkat bagi orang lain, untuk pekerjaan Tuhan. Alangkah indahnya kalau kita bisa melaksanakan semuanya itu, dan kita akan bersukacita karenanya.

Di Filipi, waktu pintu penjara terbuka, Paulus tidak melarikan diri karena hal itu hanyalah untuk kepentingan diri. Ada kepentingan Tuhan yang lebih besar yang perlu dipikirkan. Itulah yang disebut kerendahan hati, kenosis, turun ke bawah. Pada waktu kita turun ke bawah, rugikah kita? Tidak! Tuhan Allah tidak membiarkan Kristus turun ke bawah dengan begitu saja melainkan dalam Filipi 2:9-11 dikatakan: Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Tuhan Yesus merendah, merendah dan merendah, akhirnya Bapa di Surga mengangkat Dia setinggi-tingginya. Ketika Kristus ditinggikan, Dia tidaklah menjadi sombong, karena bukan Dia yang meninggikan melainkan Bapa di Surga. Inilah keunikan dan keindahan yang Tuhan berikan. Itulah suatu sukacita karena Tuhan yang meninggikan. Bandingkan dengan Filipi 2:1: Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Kalau kita merendahkan diri, kita akan mengalami persekutuan kasih, persekutuan Roh, hidup di dalam kasih mesra karena saling memperhatikan.

Cinta bukanlah sesaat tetapi merupakan bentukan altruis yang berlangsung terus sampai mati, berusaha memberikan yang terbaik untuk yang dicintai. Tuhan mengharapkan adanya saling memperhatikan. Prakteknya tidaklah mudah, jiwa egois kita membuat kita tidak rela melakukannya. Mari kita belajar dan berjuang bersama-sama menerapkan pikiran dan perasaan Kristus dalam hidup kita.  ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)