Ringkasan Khotbah : 8 Februari 2009

Misery in Congregational Life

Nats: 1 Tesalonika 2:15-16

Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta

 

Jemaat di Tesalonika ini merupakan jemaat yang luar biasa. Jemaat ini, walaupun tidak dalam jumlah yang besar, telah menjadi teladan bagi orang-orang percaya di Makedonia dan Akhaya yang merupakan daerah yang besar pada waktu itu. Jemaat Korintus juga terdapat di daerah Makedonia dan Akhaya. Hal itulah yang menyebabkan Paulus dengan tak henti-hentinya mengucap syukur (1Tesalonika 1:2). Ucapan syukur ini merupakan hal yang begitu penting, karena bukan sekedar Paulus mengucap syukur, tetapi jemaat di Tesalonika adalah suatu gambaran dari jemaat yang memiliki kualitas. Paulus melihat adanya pertumbuhan, kesaksian iman dari jemaat di Tesalonika ini bagi orang-orang percaya di Makedonia dan Akhaya. Selain itu, dalam 1Tesalonika 2:1 dikatakan bahwa kedatangan Paulus di antara jemaat di Tesalonika tidaklah sia-sia. Kesimpulan ini adalah suatu kesimpulan yang besar yang memaparkan bagaimana Paulus sudah membangun jemaat di Tesalonika dalam waktu yang singkat, sendi-sendi iman dibangun oleh Paulus selama 3 kali Sabat. Tema khotbah yang lalu adalah adanya sebuah panggilan dalam suatu jemaat untuk membangun suatu kualitas. Membangun kualitas jemaat bukan merupakan tugas dari sebagian orang saja melainkan tugas dari setiap orang dalam jemaat.

Kembali dalam 1 Tesalonika 2:13 Paulus mengungkapkan bahwa mereka tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah. Paulus adalah hamba Tuhan yang besar, tetapi dia berkali-kali mengucap syukur dengan mengingat jemaat di Tesalonika. Hal apakah yang menyebabkan Paulus berkali-kali mengucap syukur atas jemaat di Tesalonika ini? Salah satu penyebab jemaat di Tesalonika ini bisa memiliki kualitas sebagai orang Kristen yang menjadi teladan bagi orang-orang percaya di Makedonia dan Akhaya adalah karena mereka menerima Firman Tuhan yang diajarkan oleh Paulus bukan sebagai perkataan manusia melainkan sebagai perkataan Allah. Di tengah-tengah keterbatasan waktu Paulus yang hanya 3 kali Sabat itu, jemaat di Tesalonika senantiasa mencari kebenaran Allah dan mencoba untuk memahami kebenaran Allah tersebut. Itulah rahasia yang pertama. Rahasia yang lainnya adalah yang diungkapkan dalam ayat 14 yaitu: Sebab kamu, saudara-saudara, telah menjadi penurut jemaat-jemaat Allah di Yudea, jemaat-jemaat di dalam Kristus Yesus, karena kamu juga telah menderita dari teman-teman sebangsamu ... . Jemaat di Tesalonika tidak hanya mengerti akan kebenaran Allah tetapi juga mengambil bagian dalam menghidupi kebenaran Allah tersebut, menjadi penurut jemaat-jemaat Allah di Yudea. Jadi jemaat di Tesalonika bisa mencapai kualitas yang sedemikian bukannya dengan begitu saja melainkan tahap demi tahap, bahkan mereka telah menderita dari teman-teman sebangsanya segala sesuatu yang mereka derita dari orang-orang Yahudi. Penderitaan senantiasa melekat dalam kehidupan orang percaya saat itu. Penderitaan itu melekat dalam proses pembentukan yang mengasah orang-orang di Tesalonika sehingga dapat memberikan kesaksian iman.

1Tesalonika 2:15-16 menyatakan pemaparan Paulus mengenai bagaimana orang-orang Yahudi itu telah menyiksa orang-orang di Tesalonika itu. Mengapa Paulus perlu memaparkan kedua ayat diatas? Apa perlunya untuk pembentukan suatu kualitas dan untuk meneguhkan jemaat di Tesalonika? Ketika saya memikirkan hal ini, muncullah tema dari khotbah pada hari ini yaitu The Misery in The Congregational Life (penderitaan dalam kehidupan jemaat/ anak-anak Tuhan).

Ayat 15 diatas berhubungan erat dengan ayat 14. Struktur dari ayat 15 dan 16 ini adalah antitesis dialektika apologetik, karena ketika Paulus mengungkapkan suatu kebenaran dia sekaligus menyatakan lawan dari kebenaran itu. Ketika Paulus memaparkan proposisi tertentu, dia juga memaparkan proposisi yang lain yang merupakan pertentangan dari apa yang telah dipaparkan sebelumnya. Pemaparan seperti ini pernah dipakai oleh John Calvin dalam bukunya yang berjudul Institute of The Christian Religion. Antitesis apologetika menjadi ciri pemaparan dalam Institute of The Christian Religion. Dalam satu tulisannya, John Calvin dituduh oleh raja Perancis I telah membuat Injil yang baru, karena itu raja menuntut John Calvin untuk datang ke Perancis dan meminta maaf. John Calvin dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa ini bukanlah Injil yang baru, mungkin menjadi Injil yang baru bagi orang-orang yang telah lama meninggalkan Injil yang sesungguhnya. Dengan kata lain, John Calvin hendak mengatakan bahwa: ini adalah Injil yang sejati, tetapi akan menjadi Injil yang baru bagi orang-orang yang telah meninggalkan Injil yang sejati. Tesis Calvin di satu sisi memaparkan bahwa ini adalah suatu kebenaran, di sisi yang lain memaparkan bahwa kamu adalah salah. Inilah yang disebut dengan antitesis.

Dalam ayat 15 dan 16 nampak ada 5 antitesis dan tesis yang berkaitan dengan penderitaan. 2 ayat itu bukan semata-mata mengungkapkan bahwa orang Yahudi telah melakukan kekeliruan dengan membunuh Yesus, membunuh para nabi, menyiksa kami sebagai rasul, dst.. Tetapi pada saat yang

Sama, Paulus hendak mengungkapkan bahwa apa yang diderita oleh orang-orang di Tesalonika itu adalah suatu penderitaan yang berkualitas. Tesis ini adalah sekaligus merupakan antitesis yaitu:

1. The Misery and Its Sources (penderitaan dan sumber penderitaan)

Paulus ingin menegaskan bahwa sumber penderitaan yang benar adalah kalau menderita karena Kristus. Pada saat yang sama, orang-orang Yahudi telah membunuh Tuhan Yesus. F.F. Bruce dalam Word Biblical Commentary mengatakan bahwa istilah Tuhan Yesus di sini sengaja ditekankan oleh Paulus untuk menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh orang Yahudi itu adalah sesuatu yang sangat keliru, yang menimbulkan penderitaan yang mengakibatkan dibunuhnya Tuhan Yesus. Paulus tidak menggunakan kata: Yesus atau hamba Tuhan Yesus atau Yesus Kristus, melainkan The Lord of Christ (Tuhan Yesus). Penderitaan dan sumber penderitaan yang sah sekaligus telah dilakukan oleh orang Yahudi dengan membunuh Tuhan Yesus.

Bagi orang-orang di Tesalonika, Paulus berkata bahwa kalau kamu menderita karena Kristus, itulah penderitaan yang sejati. Sebaliknya dia juga hendak menyatakan bahwa kalau kamu menderita bukan karena Kristus maka kamu harus memikirkan penderitaanmu itu sebagai penderitaan yang tidak benar. Ini adalah antitesis yang bersifat implisit, yang sekaligus memberikan kekuatan kepada orang-orang di Tesalonika yang telah menderita sebagai orang-orang percaya.

Ketika kita mengalami penderitaan dalam kehidupan ini, apa yang menjadi dasar penderitaan kita? Siapa yang menyebabkan kita menderita dan atas dasar pemahaman apa kita boleh menderita? Kalau kita menderita bukan karena Yesus Kristus maka penderitaan kita tidaklah ada artinya. Kalau kita menderita karena ego kita, maka penderitaan itu hanyalah bernilai sampah. 

Jemaat di Tesalonika dimengertikan bahwa ketika mereka memahami kebenaran, mereka akan mengalami kemerdekaan dalam pengertian itu yang akan membawa mereka mengalami penderitaan sebagai orang percaya. Ini adalah suatu rahasia besar yang hendak diungkapkan oleh Paulus bagi jemaat di Tesalonika.

2. The Misery and Its History (penderitaan dan sejarah penderitaan)

Penderitaan yang dialami oleh orang di Tesalonika itu bukan hanya dialami oleh mereka saja tetapi telah menjadi sejarah yang dialami oleh para nabi, para rasul dan orang-orang di zaman yang akan datang. Salah seorang tokoh sejarah yang dikutip oleh F.F. Bruce mengatakan: seringkali kita tidak mengetahui bagaimana nabi-nabi dalam PL meninggal. PB sangat sedikit mengutip dan menjelaskan tentang kematian para nabi. Dalam kitab sejarahwan yang diakui oleh dunia, seperti: Jerome, Tertulianus, yang dikutip oleh F.F. Bruce, tertulis bahwa Yeremia adalah salah satu nabi yang dirajam batu sampai mati, Yesaya mati dengan digergaji menjadi 2 bagian. Yang hendak dinyatakan oleh Paulus adalah bahwa penderitaanmu adalah penderitaan yang bersifat historis, yang terjadi terus menerus. Jangan kamu takut dengan penderitaanmu, karena penderitaanmu telah memiliki saksi di masa yang lalu dan menjadi saksi di masa yang mendatang.

Kalau kita mengalami penderitaan karena Kristus, ingatlah bahwa sudah banyak orang yang mengalami penderitaan sebelum kita dan bahkan akan ada yang menderita sesudah kita.

3. The Misery and Its Paradigm (penderitaan dan paradigma penderitaan)

Ayat 15b menyatakan refleksi dari apa yang sudah dilakukan Paulus. Dalam Kisah Rasul 9 diceritakan bahwa dengan penuh keyakinan Paulus membawa serdadu-serdadu untuk menyeret anak-anak Tuhan dengan berbekal surat dari pejabat pada waktu itu. Ketika Paulus bertemu dengan Tuhan dalam cahaya yang menyilaukan, dia bertanya: siapakah Engkau, Tuhan? Inilah paradigma dalam kehidupan Paulus. Paulus merasa bahwa penganiayaan yang dia lakukan adalah tindakan yang berkenan kepada Tuhan. Orang Yahudi memiliki satu paradigma yang membuat mereka tidak merasa bahwa penganiayaan yang mereka lakukan adalah suatu kesesatan.

Orang yang melakukan pengeboman di Bali menjalankan bom bunuh diri dengan penuh keyakinan karena memiliki pemikiran bahwa apa yang dia lakukan adalah untuk membela Tuhan, yang merupakan syahidnya. Inilah paradigma yang keliru.

Orang-orang di Tesalonika diperingatkan oleh Paulus mengenai dasar pemikiran mereka untuk mau menderita bagi Tuhan. Ada orang yang mengatakan bahwa kalau orang Kristen menderita, maka orang tersebut tidaklah bertumbuh, Tuhan sedang menghukum dia. Ini adalah paradigma yang salah yang tidak sesuai dengan Alkitab. Janganlah kita menderita karena paradigma yang keliru.

Seringkali orang Kristen merasa harus memikul salib, tetapi salib yang mana yang seharusnya dipikul? Seringkali salib yang dipikul orang bukanlah salib melainkan penderitaan karena dosanya. Salib seharusnya berkaitan dengan Kristus dan bukan karena dosa. Salib yang sejati seharusnya membawa kita semakin bertumbuh di hadapan Tuhan, tetapi bukan karena kebodohan dan kedegilan hati kita.

Paulus mengatakan: Apa yang berkenan kepada Allah tidak mereka pedulikan dan semua manusia mereka musuhi. Hal ini merupakan sesuatu yang mengerikan. Orang Yahudi merasa apa yang mereka lakukan dengan membunuh Tuhan Yesus, membunuh para nabi dan menganiaya para rasul adalah sesuatu yang benar; adalah sesuatu yang mengerikan. 

Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” karangan dari R.A. Kartini merupakan perombakan paradigma mengenai emansipasi wanita. GRII melakukan KKR siswa di berbagai tempat untuk menerobos paradigma, yang mengatakan bahwa tidaklah perlu melakukan penginjilan siswa secara massal dan yang dibentuk oleh orang-orang tertentu yang ingin meninggalkan tugas panggilannya.

Ketika kita menderita, marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: apakah penderitaan itu karena pemahaman yang benar, karena paradigma kita sesuai dengan kehendak Tuhan, dan penderitaan itu membawa kita lebih memuliakan Tuhan? Itulah yang ingin dikatakan oleh Paulus secara implisit kepada jemaat di Tesalonika. Suatu penderitaan yang memperkenan hati Tuhan.

4. The Misery and Its Essence (penderitaan dan esensi penderitaan)

Ayat 16a: karena mereka mau menghalang-halangi kami memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain untuk keselamatan mereka.

Paulus mengalami penganiayaan dan tekanan yang membuat orang lain menjadi bertanya: apakah seperti itu seorang hamba Tuhan? Paulus mengatakan bahwa penderitaannya bukanlah apa-apa tetapi dikarenakan orang Yahudi mau menghalangi dia memberitakan Firman. Ada Injil yang terus menerus dibawa dalam kehidupan Paulus, dan Injil inilah yang menyebabkan dia menderita terus menerus.

1Tesalonika 1:8 : Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah,...

Hal ini merupakan hal yang luar biasa, bahwa penderitaan yang dialami oleh jemaat di Tesalonika berbuahkan Injil yang tersebar. Inilah penderitaan yang sejati yang berbeda dengan yang dialami oleh orang-orang dengan kebodohannya. Hal ini juga sekaligus menjadi peringatan bagi jemaat di Tesalonika bahwa sangatlah disayangkan kalau mereka menderita bukan karena Firman.

Di zaman modern ini, apa yang kita alami pada saat kita menderita? Apakah ada kebenaran yang kita pertahankan, apa ada Injil yang kita coba sampaikan kepada orang lain, apakah ada iman yang kita coba tegakkan? Inilah yang akan menentukan apakah penderitaan kita mulia ataukah bersifat sampah.

5. The Misery and Its Effect (penderitaan dan akibat penderitaan)

Ayat 16b: Demikianlah mereka terus-menerus menambah dosa mereka sampai genap jumlahnya dan sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya.

Ayat ini merupakan perkataan Paulus yang sangat keras bagi orang Yahudi yang menganiaya orang-orang Tesalonika. Kata “murka” disini sama dengan kata “murka” dalam 1Tesalonika 1:10 yaitu mengenai murka yang akan datang. Kalau semula Paulus merasa dia berjuang di jalan yang benar, setelah dia mengenal Kristus, dia menyadari bahwa semua perjuangan (penderitaan dalam perjuangan yang dikerjakannya) yang telah dia lakukan hanyalah menumpuk dosa semata.

Ayat 15 dan 16 dimaksudkan oleh Paulus untuk mendukung dan meneguhkan orang-orang di Tesalonika yang tengah mengalami penderitaan agar mereka dapat terus menerus menunjukkan kesaksian demi kesaksian baik di dalam iman maupun di dalam Firman Tuhan yang mereka bawa di dalam kehidupan mereka, bahkan juga dalam kehidupan kita semua.

Kalau kita boleh mengerti akan hal-hal seperti ini, marilah kita saling membangun satu dengan yang lain, marilah kita mendukung saudara kita yang menderita karena kebenaran. Dukungan yang kita berikan dapat berupa kalimat pendek yang menguatkan.

Penderitaan dalam kehidupan anak Tuhan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari, tetapi yang menjadi masalah adalah penderitaan seperti apa, bagaimana kita menderita dan untuk siapa kita menderita. Itulah yang menentukan seperti apakah penderitaan yang kita alami. 

Biarlah Firman Tuhan pada hari ini senantiasa mengingatkan kita untuk menjadi jemaat yang dapat menjadi teladan seperti jemaat di Tesalonika. Bukan hanya menjadi terang dan teladan bagi orang dalam satu GRII, tetapi menjadi teladan bagi orang satu Surabaya, bahkan menjadi terang bagi orang-orang di Jawa Timur, dan orang-orang mengatakan bahwa mereka mendengar kesaksian dari kita yang adalah orang GRII. Kiranya Tuhan memberkati kita. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)