|
Ringkasan Khotbah : 1 Februari 2009
Nats: Filipi 3:7-8 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Sukacita axiologis adalah sukacita dimana kita mengerti tentang konsep nilai atau penilaian yang sejati. Filipi 3:7-8 merupakan klimaks dari pengungkapan Paulus tentang bagaimana kita bisa bersukacita di dalam Tuhan. Dalam Filipi 3:1 dikatakan: Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. Berarti ini merupakan puncak, titik tertinggi dimana kita betul-betul bisa mempermuliakan Tuhan, karena kita berada di puncak pengertian yang penuh. Hidup Kristen adalah hidup yang sesungguhnya bisa membuat kita bersukacita, yaitu bersukacita yang di dalam Tuhan.
Dalam Filipi 3:1b diungkapkan bahwa Paulus menuliskan tentang hal bersukacita itu dengan begitu enak, mudah, dan ringan serta memberi kepastian kepada jemaat di Filipi. Ringan karena hal tsb memang merupakan sesuatu yang begitu natural, yang tidak memerlukan pemikiran yang ruwet. Memberi kepastian karena hal tsb merupakan suatu kepastian yang tidak bersifat spekulatif, bukan merupakan bayangan maupun ilusi. Mengapa bisa demikian?
Kuncinya terletak pada Filipi 3:2 yaitu: Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu. Terlalu banyak yang mencoba memlintir seluruh konsep kita.
Sukacita yang sejati adalah sukacita ketika kita bisa menanggalkan semua pikiran dan keberadaan yang terikat oleh kelahiriahan kita. Dalam Filipi 3:7-8 dikatakan bahwa apa yang dahulu merupakan keuntungan bagi Paulus, sekarang dia anggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus lebih mulia dari pada semuanya. Di sini Paulus hendak mengajarkan bahwa kalau seseorang hidup di dalam unsur-unsur lahiriah, hidup dalam pertimbangan duniawi, bersikap semuanya lahiriah, akan mendatangkan kecelakaan hidup. Dan inilah yang dikerjakan oleh anjing-anjing, pekerja-pekerja yang jahat dan penyunat-penyunat yang palsu. Itulah yang mereka bicarakan dan hidupi. Hati-hatilah terhadap mereka karena mereka akan membawa kita masuk ke dalam hal-hal yang bersifat lahiriah. Kita harus keluar dari situ karena mengenal Kristus adalah jauh lebih mulia dari semuanya itu.
Hal yang diungkapkan oleh Paulus dengan begitu ringan dan penuh kepastian itu, tetapi bagi kebanyakan orang justru bukanlah suatu kepastian dan merupakan hal yang begitu berat. Kita akan menyorot aspek axiologis dari perkataan Paulus.
Paulus menggunakan struktur pembicaraan yang bersifat membandingkan, seperti: jangan begini, ini lebih tidak baik, ini lebih mulia. Ini merupakan perbandingan nilai/ konsep axiologis. Seluruh hidup manusia adalah hidup yang menilai. Kita bahkan dunia harus sadar bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang diberi Tuhan kemampuan untuk menilai. Kemampuan menilai dari manusia merupakan turunan dari sifat Allah yang begitu mulia, yang memikirkan keagungan, kemuliaan. Sifat Allah ini turun dan membentuk bijaksana manusia sehingga manusia mampu mengapresiasi suatu nilai, menghargai sebuah nilai.
Manusia yang di dalam Tuhan memiliki kemampuan apresiasi nilai yang luar biasa. Tetapi sayang, konsep nilai yang begitu agung yang dipaparkan oleh Paulus tidak bisa dilihat keagungannya oleh banyak orang. Konsep nilai adalah sesuatu hal yang begitu solid, begitu mutlak, begitu penting, tetapi di lain pihak kita seringkali tidak mempelajari format/ cara kita menilai.
Setiap saat kita sebagai manusia tidak bisa lepas dari menilai, sekalipun kita tidak mau memikirkannya. Yang perlu dipikirkan adalah dasar penilaian yang kita ambil sampai dimana keabsahannya. Penilaian ditataran lahiriah justru meracuni dan merusak seluruh tatanan hidup kita. Seringkali kita menilai tanpa menata struktur penilaian kita, tanpa standar penilaian yang teruji. Hidup kita bisa menjadi hancur karena kesalahan dalam menilai. Paulus sangat menyayangkan hal ini karena seharusnya kita bisa menapaki hidup yang lebih anggun nilainya yang bisa membuat kita bersukacita. Alangkah sayangnya kalau kita tidak bisa menikmati kemampuan axiologis kita yang begitu indah. Kalau kita tidak bisa menikmatinya, berarti kita gagal untuk dapat menikmati seluruh keindahan di dalamnya.
Paulus mengatakan: bersukacitalah di dalam Tuhan. Mengapa harus di dalam Tuhan? Karena ternyata di dalam dan di luar Tuhan adalah 2 hal yang berbeda. Semua penilaian yang begitu indah hanya bisa terjadi kalau seseorang berada di dalam Tuhan, dan tidak bisa terjadi kalau di luar Tuhan. Ini merupakan posisi yang sangat penting. Kalau di luar Tuhan, cara menilai kita bersifat lahiriah, duniawi sekali, kedagingan sekali, temporal sekali (sesuatu yang bersifat sesaat), bersifat kesementaraan, bersifat pragmatis (apa yang kedengaran, kelihatan, bersifat sensasi dan berkaitan dengan indera kita). Kita bisa menyisihkan hal itu dan keluar dari situ karena semuanya itu hanyalah sampah, karena
di dalam Kristus kita memiliki cara penilaian yang naik begitu tinggi yang membuat kita bisa mengerti sukacita yang sesungguhnya.
Sukacita sejati ditandai dengan menangis, bukanlah dengan tertawa. Tetapi orang mencari sukacita dalam bentuk tertawa. Seseorang yang mendapatkan sesuatu yang bernilai kekal, bernilai agung, akan bersukacita dalam wujud menangis. Sukacita yang seperti ini adalah sukacita yang bersifat terus karena menyentuh ke hati yang paling dalam. Sukacita tersebut akan memenuhi seluruh hidupnya dan keberadaannya, bukan hanya sesaat, karena sukacita tersebut bukan sekedar menyentuh permukaan melainkan sukacita yang menusuk ke dalam dan berada di dalam isi hati yang paling dalam. Sukacita yang seperti inilah yang hendak digambarkan oleh Paulus, merupakan suatu nilai yang begitu dalam, begitu mulia, yang tidak sekedar bersifat lahiriah.
Betapa celaka kalau kita hanya mengejar semua yang bersifat lahiriah dan gagal menangkap nilai yang tertinggi. Ada 2 hal yang akan kita pelajari dalam bagian ini yaitu:
1. Pergumulan bagaimana kita dapat mengerti mengenai nilai yang makin lama makin tinggi dengan fakta hidup yang semakin menurun.
Mengapa ketika kita berusaha mengejar nilai yang di atas, kita semakin terseret ke bawah? Hal ini disebabkan oleh DOSA, yang menyebabkan kita cenderung mencari dan mengejar sukacita yang remeh daripada sukacita yang agung, cenderung mengejar sesuatu yang bersifat lahiriah dan tidak mengejar sesuatu yang bersifat mulia yaitu Kristus.
Dosa menyebabkan kejatuhan, kita menjadi jatuh dari posisi asli menuju posisi yang rendah. Kejatuhan ini menimbulkan beberapa aspek yaitu:
1. Kita menjadi terlepas dari konsep nilai yang tertinggi.
Nilai kita seharusnya berpaut kepada Sumber Nilai karena nilai yang kita miliki merupakan nilai turunan. Tetapi sekarang kita terputus dengan Sumber Nilai tersebut, kita hanya bisa mencari remah-remahnya. Inilah yang disebut dengan total depravity (kerusakan total) oleh John Calvin. Konsep nilai yang ada pada diri kita sudah rusak total, sehingga tidak bisa lagi balik ke fungsi yang seharusnya. Pada waktu kita hendak mengfungsikannya, fungsi kita menjadi salah, fungsi tersebut tidak berjalan dengan seharusnya, akhirnya kita hanya mengejar nilai-nilai duniawi yaitu nilai-nilai yang bisa kita temukan dalam remah-remah hidup kita.
2. Seluruh tataran kita adalah tataran kejatuhan.
Ketika kita melihat sekeliling kita, semuanya berada dalam tataran kejatuhan sehingga nilai yang kita ketahui adalah yang ada di sekeliling kita tersebut. Kita akan mengejar hal yang rendah karena keberadaan kita seperti itu. Kejatuhan kita ke dalam tataran berdosa membuat kita berputar-putar dalam tataran berdosa pula. Untuk keluar dari situ, mengerti apa yang dikatakan Tuhan, adalah merupakan hal yang sulit bagi kita. Berita tentang kemuliaan Kristus merupakan hal yang sulit bagi orang di luar Kristen. Paulus sendiri mengungkapkan bahwa dia pernah berada di dalam jebakan dunia berdosa yang menilai segala sesuatu secara lahiriah, maka dia menyarankan kita untuk keluar dari posisi itu agar kita tidak celaka. Kalau masih juga mau adu kehebatan dalam hal lahiriah, Paulus jauh lebih hebat dari kita, Paulus berasal dari ras yang hebat yaitu orang Benyamin yang disunat di hari ke-8, orang Ibrani asli, secara intelektual dia adalah orang Farisi yang mengerti Taurat secara tajam, dari segi semangat kerja dia adalah penganiaya jemaat yang berani berjuang, secara kesalehan dia taat kepada Taurat. Tetapi, semuanya itu adalah sampah bagi Paulus. Dahulu, dia begitu membanggakan semuanya itu, menganggap semuanya itu adalah nilai yang terbesar yang dia umumkan kemanapun dia pergi, sehingga dia dikenal dengan nama “si besar” (Saulus). Sekarang, setelah dia mengenal Kristus, semuanya itu tidak ada artinya, semuanya hanyalah sampah yang tidak ada artinya.
Kita tidak bisa lepas dari tataran berdosa, yang oleh Augustinus disebut dengan posisi “tidak bisa tidak berdosa”, sehingga kita hidup berdosa seperti sekeliling kita. Ketika kita keluar dari situ, kita menjadi “aneh”, kita dikatakan orang terlalu fanatik, terlalu saleh, dll. Akhirnya kita merasa bahwa hal itu adalah suatu ketidakmungkinan. Kalau kita bermain di dalam 2 tataran, kita akan mengalami kesulitan dan ketidakmungkinan, kita harus bermain di dalam 1 tataran yaitu di dalam Tuhan. Ini adalah suatu kontroversi. Seorang yang berada di dalam Tuhan akan mengalami suatu pembukaan yang luar biasa besar yang tidak dimiliki oleh orang di luar Tuhan. Orang yang di luar Tuhan mengalami pola pikir yang tertutup yang tidak bisa keluar dari dirinya dan tidak bisa melihat kepada Tuhan untuk dapat melihat adanya nilai lain disana.
Di sinilah kita melihat betapa pentingnya penebusan yang Tuhan kerjakan, anugerah yang Tuhan sediakan dalam kehidupan kita ketika kita boleh mengenal Tuhan. Kalau kita diberi kesempatan untuk mengenal Tuhan dan penebusan yang Dia kerjakan, seberapa jauh kita menghargai nilai yang begitu mulia ini yang memungkinkan kita bersukacita? Kalau kita tidak bisa menghargai hal ini, kita hanya akan mencari sukacita temporer, sukacita duniawi semata.
2. Manusia selalu ditarik ke bawah oleh dunia ini sehingga sesuatu yang begitu bernilai menjadi sesuatu yang sangat langka dalam hidup kita.
Perjalanan hidup di dunia ini makin lama makin memerosotkan nilai-nilai yang ada. Nilai-nilai yang agung, yang besar, makin didegradasikan, makin didepresiasikan, makin dimerosotkan nilainya menuju nol. Tanpa disadari, kitapun dibawa ke dalam hal ini. Sebagai ilustrasi, gereja memiliki sebuah mobil, setelah 5 tahun, mobil tersebut dijual dan gereja membeli sebuah mobil yang baru dengan merk dan tipe yang sama, tetapi dengan harga yang lebih tinggi dan mutunya lebih jelek. Kata penjual, kalau mutu tetap dipertahankan seperti sebelumnya harganya menjadi tidak terjangkau. Hampir semua barang mengalami hal yang sama. Sesuatu yang bermutu semakin lama semakin hilang. Apakah orang Kristen juga akan ikut meniadakan barang yang bermutu? Setan suka sekali terus menarik ke bawah sampai kita tidak bisa lagi merasakan barang yang bermutu, apa itu nilai yang baik. Lama-lama, hidup kita juga ikut merosot nilainya. Ketika kita merasa tidak apa-apa untuk memerosotkan nilai hidup kita karena dunia juga demikian, kita mengalami kerusakan dalam sistem nilai kita. Sistem nilai kita dirusak secara hakekat, secara sistematis oleh dunia kita. Generasi makin ke bawah makin rusak, makin tidak memikirkan nilai yang tinggi melainkan makin hidup suka-suka, makin pragmatis, makin tidak berjuang, makin tidak bisa mencapai kualitas tertinggi.
Paulus menawarkan kepada kita nilai tertinggi dalam hidup yang bisa kita nikmati. Tetapi bagi kebanyakan orang, hal tersebut adalah sesuatu yang tidak mungkin. Kita pun bersikap demikian. Kita lebih setuju dengan apa yang disodorkan oleh dunia ketimbang dengan apa yang disodorkan oleh Tuhan. Kita tidak percaya kalau Tuhan bisa memberikan kepada kita nilai yang begitu besar karena kita sudah terbiasa dengan nilai yang terlalu rendah yang dunia sudah biasakan.
Hari ini, kalau kita boleh masuk ke dalam meja perjamuan, kita boleh tahu bahwa Kristus telah mati bagi kita, karena Dia menginginkan kita betul-betul keluar dari dosa, Dia menginginkan kita keluar dari jebakan lahiriah, supaya kita kembali kepada Tuhan. Jangan biarkan kita ditipu dan dirusak dengan pikiran yang salah yang membuat kita gagal mengerti nilai yang sejati yang indah.
Dalam kejatuhan yang sudah terjadi, manusia tetap menginginkan nilai yang mulia, tetapi yang dikerjakan tidaklah demikian. Mengapa? Karena ada tarikan. Setan tidak pernah diam, dia terus berinisiatif agar Adam tidak berproses menuju kesempurnaan. Hanya melalui penebusan, kita bisa kembali menuju kesempurnaan. Tarikan ke bawah tidak pernah diam. Inilah dunia berdosa. Kalau kita berpikir bahwa kita bisa berjuang sendiri untuk maju, hal itu hanyalah omong kosong belaka.
Dalam Roma 7 Paulus menceritakan bahwa dia tahu apa yang baik, tetapi pada waktu dia berjuang untuk melakukan hal yang baik, justru hal yang tidak baik yang dia lakukan. Apakah hal itu berarti tidak ada harapan lagi? Di akhir Roma 7 Paulus memberikan jawaban: Puji Tuhan karena aku mengenal Kristus. Keberadaan di dalam Kristus adalah suatu keberadaan yang dahsyat, yang membuat kita dipotensikan untuk keluar dari jerat iblis, diberi kekuatan untuk melawan gravitasi dari setan, diberi kuasa yang besar untuk menjadi anak Tuhan yang bisa menurunkan sifat-sifat Illahi dari Tuhan, yang memampukan kita untuk menyatakan cinta kasih, kebaikan, kebenaran, kesucian dan kemuliaan Tuhan di tengah dunia yang gelap ini.
Orang yang berjuang sendiri akan terus menerus jatuh, lalu merasa capek/ fatigue, lalu bersikap masa bodoh, pragmatis. Orang yang demikian akan berkata: jadi orang Kristen tidak perlu terlalu ideal, tidak perlu sok fanatik, kalau memang rusak ya biar rusak. Kalau sudah demikian, kita menjadi kehilangan daya juang/ semangat untuk mengejar nilai tertinggi. Kita sudah memvonis diri kita untuk tidak dapat bersukacita. Kita sudah dicengkeram oleh iblis.
Seberapa jauh kita bisa mengenal berapa mahal yang sudah Tuhan berikan kepada kita melalui kematian dan kebangkitan Kristus? Orang akan bahagia kalau mendapatkan hadiah emas 10 kg, tetapi sangatlah aneh kalau orang tidak bisa bahagia ketika menerima hidupnya kembali. Berapa harga nyawa kita? Nilai terbesar di alam semesta adalah hidup/ nyawa. Tuhan berkata: apa yang bisa diberikan untuk ganti sebuah nyawa? Seluruh dunia ini diberikan pun tidaklah impas sebagai ganti sebuah nyawa. Satu nyawa hanya bisa digantikan dengan satu nyawa juga. Untuk itulah Tuhan Yesus mati untuk kita. Hidup kita dibayar lunas dengan darah Anak Domba. Tuhan memberi kita sesuatu yang sangat bernilai. Kita justru menolak pemberian Tuhan tersebut karena kita tidak mengerti sistem nilai yang sesungguhnya. Kalau Tuhan sudah memberikan hal yang begitu bernilai, kita seharusnya bersukacita. Bersukacitakah kita ketika Tuhan sudah menebus dosa kita? Betapa sakitnya hati Tuhan kalau kita tidak bisa menghargai pemberian Tuhan yang begitu bernilai.
Sukacita itu bukan hanya sesaat tetapi terus menuju kesempurnaan. Tuhan mengajar kita untuk memiliki kemungkinan untuk bertumbuh sampai kepada kekekalan dan mengalami apresiasi nilai. Kita memiliki kemungkinan yang jauh melebihi dari orang dunia. Mari kita bersukacita atas anugerah Tuhan. Ketika kita tidak bersukacita atas anugerah Tuhan, kita akan bersungut-sungut. Anugerah Tuhan yang begitu limpah seringkali kita abaikan. Kita merasa pemberian Tuhan adalah wajar adanya sehingga kita tidak pernah mensyukurinya. Orang yang mengerti anugerah akan senantiasa bersyukur dan bertekad untuk terus bertumbuh. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)