Ringkasan Khotbah : 25 Januari 2009

Sukacita dalam Berita Injil

Nats: Filipi 1:1-4

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Perayaan Tahun Baru Imlek dipenuhi dengan berbagai hal yang berbau kemakmuran. Dewa kemakmuran digambarkan dengan perut buncit akibat banyak makan. Untuk menunjukkan kemakmurannya, orang memesan makanan dalam jumlah yang besar tetapi memakannya hanya sedikit kemudian membuang sisanya yang masih sangat banyak. Inikah yang disebut dengan sukacita? Sukacita yang seperti ini adalah sukacita yang dibangun diatas penderitaan orang lain. Ini adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab. Jenis sukacita apa  yang kita miliki? Apakah mirip dengan bentuk sukacita dunia berdosa? Sukacita seperti apakah yang diinginkan oleh Alkitab supaya sukacita yang kita dapatkan bukan karena kita berbuat hal-hal yang konyol, yang sangat duniawi, sangat berdosa, sangat bersifat kedagingan yang menggambarkan kemakmuran yang berlimpah?

Pembahasan kita hari ini mencakup 3 hal yaitu:

1. Persekutuan di dalam Berita Injil.

Dalam Filipi 1 Paulus mengajarkan bagaimana hidupnya berubah dari sebelum mengenal Tuhan dan sesudah mengenal Tuhan. Paulus begitu bersukacita karena adanya anak-anak Tuhan di Filipi yang boleh masuk ke dalam persekutuan Berita Injil (Filipi 1:5). Persekutuan di dalam Berita Injil menjadi suatu hal yang begitu besar bagi Paulus yang membuat dia bersyukur akan hal itu. Kita justru seringkali tidak mempedulikan persekutuan dalam Berita Injil ini. Banyak orang Kristen yang datang ke gereja hanya untuk mencari hal-hal yang bersifat lahiriah tanpa menyadari bahwa keberadaannya yang masuk ke dalam Berita Injil merupakan sesuatu hal yang besar sekali. Mengapa sedemikian besar? Karena Paulus menggambarkan dalam Filipi 1:8-11 demikian: itulah yang membuat aku (Paulus) dengan cinta kasih Kristus terus merindukanmu, aku terus berdoa semoga kasihmu terus melimpah, karena kamu mempunyai pengetahuan yang benar dan pengertian yang melimpah.

Pengetahuan dan pengertian yang kita miliki akan membentuk hidup kita.  Ketika kita hidup dalam Berita Injil, hidup kita bisa ditarik keluar dari lumpur dosa, kemudian ditata dalam pengetahuan yang benar dan sejati dari Tuhan dan pengertian akan seluruh aspek di dunia ini agar kita dapat memilih yang baik, memiliki kapasitas yang tajam dalam menentukan pilihan. Pilihan-pilihan yang dipilih akan menentukan seluruh langkah ke belakang. Pilihan yang salah akan mengakibatkan kehancuran. 90% kehancuran dan kegagalan kita disebabkan karena kita sendiri sebagai pengambil keputusan. Pilihan yang baik harus dapat membuat hidup kita menjadi lebih suci, tidak bercacat menjelang hari Kristus. Inilah kunci yang dapat membuat hidup kita tidak sengsara dan mendapatkan sukacita yang sesungguhnya.

Kunci terpenting dalam pembahasan nats Kitab Suci hari ini adalah dalam Filipi 1:5, yaitu bagaimana kita seharusnya mempersiapkan hidup agar dapat memiliki pengetahuan yang benar dan pengertian yang melimpah yang dapat membuat kita memiliki kekuatan memilah yang benar sehingga setiap kali dapat mengambil keputusan yang benar. Keputusan yang benar tersebut akan membuat lingkungan di sekitar kita mendapatkan berkat. Ketika kita bisa lolos dari dosa yang mencengkeram itu, kita baru bisa hidup suci, tidak mau dicemari oleh apapun, tidak bercacat. Di posisi ini kita membersihkan diri kita dan tidak bermain dengan dosa, sehingga pada akhirnya kita bisa mendapatkan sukacita yang sejati.

Injil berasal dari kata “euangelion” yang memiliki arti hurufiah: berita sukacita. Angelion berarti berita, eu berarti baik. Kenapa Injil disebut berita sukacita? Karena dia menghasilkan sukacita dan dia beresensi sukacita. Berita sukacita merupakan titik pemilah awal yang menentukan antara Kristen dan bukan Kristen. Orang Kristen menikmati keindahan Berita Injil sedangkan orang yang bukan Kristen tidak dapat menikmati keindahan Berita Injil. Orang Kristen yang asli adalah orang yang berada di dalam persekutuan Berita Injil bukan orang yang datang ke gereja semata; sedangkan orang Kristen palsu adalah orang yang berada di luar Berita Injil. Orang Kristen sejati akan menghargai mahalnya Berita Injil dan mau memasukkan hidupnya ke dalam Berita Injil. Orang yang bukan Kristen akan menghina Berita Injil dan hanya mementingkan diri sendiri sehingga akhirnya menolak Berita Injil. Berita Injil menjadi sesuatu yang menyakitkan, yang tidak cocok dengan pikirannya, lalu ditolak, bagi orang yang luar Berita Injil. Orang yang berada di dalam Berita Injil begitu bersyukur melihat suatu bijaksana yang begitu besar, pengertian yang begitu dalam, betapa indahnya Injil yang Tuhan sediakan, setiap kali berita itu disampaikan dapat terlihat sesuatu yang begitu dahsyat dan indah.

Orang yang berada di dalam Kristus akan mengalami pembaharuan hidup ketika Berita Injil masuk ke dalam dirinya, dia akan tahu bagaimana dia harus hidup di hadapan Tuhan; sedangkan orang yang di luar Berita Injil akan menegakkan otoritas diri, kembali kepada setan, dan akhirnya hidup berputar di dalam dosa. Orang yang hidup di dalam dosa akan mengumbar seluruh nafsu diri dan tidak lagi memikirkan bagaimana dia harus hidup suci, hidup benar, mengejar kualitas hidup yang tinggi; mereka hidup semakin rendah dan di dalam kebohongan. Kalau kita hidup dalam kebohongan, bagaimana mungkin kita dapat bersukacita. Sukacita sejati dapat terjadi pada waktu hidup kita bersih.

Orang yang biasa hidup dalam kebohongan tidak lagi peka pada waktu dia dibohongi, sebaliknya orang yang hidupnya lurus akan sangat peka dengan ketidakberesan yang ada. Ketika kita hidup di luar Kristus, mungkin di saat tertentu kita bisa merasa nyaman ketika kita berbuat dosa, seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan sukses, tetapi suatu hari nanti hal tersebut akan menjadi bumerang yang menghantam balik. Inilah yang disebut dengan sukacita sesaat. Ini adalah pilihan yang salah.

Paulus begitu cermat didalam menentukan pilihan, seperti: ketika dia sedang menuju Bitinia dia putar arah ke Makedonia, ketika di dalam penjara dia menyanyi. Itu semua adalah pilihannya karena ketaatannya kepada Tuhan. Pada waktu dia menyanyi di penjara, Tuhan membukakan semua pintu penjara dan belenggu di kaki dan tangan Paulus, tapi Paulus tidak melarikan diri karena Tuhan tidak menyuruh dia untuk kabur dari penjara. Memilih yang tepat dengan bijaksana yang tepat, dari sudut pandang Tuhan yang tepat, dengan pengertian yang tepat, akan menghasilkan kesucian yang tepat.

Dalam cerita diatas, kalau seandainya Paulus kabur dari penjara karena Tuhan sudah mengadakan mujizatNya maka akan berakibat buruk bagi Paulus; tetapi Paulus sangat tepat didalam mengambil keputusan/ pilihan sehingga dia dapat bersukacita karena:

1. Kepala penjara bertobat bahkan beserta seluruh keluarga, dan seisi rumahnya. Ini adalah anugerah yang sangat besar yang boleh terjadi.

2.  Status narapidana bagi Paulus menjadi hilang karena kepala penjara sungkem kepada dia.

3.  Pejabat Roma di Filipi meminta maaf kepada Paulus sehingga Paulus dapat keluar dari penjara dengan status yang sudah dipulihkan.

Seringkali kita tidak dapat bersukacita karena salah dalam menentukan pilihan, tetapi kita menyalahkan Tuhan, seolah-olah Tuhan yang tidak memberi kita sukacita, kita juga menyalahkan orang di sekeliling kita. Kita tidak sadar kalau sebetulnya letak permasalahan ada pada diri kita sendiri. Maka kunci pertama adalah seberapa jauh kita bertobat, melepaskan dosa, dan masuk kembali ke dalam Berita Injil.

Tidak seorangpun diantara kita yang tidak berdosa, tetapi point-nya bukan pada seberapa banyak kita berbuat dosa, melainkan maukah kita keluar dari dosa, berhenti dan menanggalkan dosa lalu kembali kepada Tuhan? Pertanyaan ini akan menentukan posisi kita terhadap Berita Injil.

2. Sukacita yang kita alami bukanlah karena usaha kita melainkan karena Tuhan.

Manusia begitu tidak bisa tunduk kepada Tuhan, tetapi Paulus justru sangat mengakui kedaulatan Tuhan. Dalam Filipi 1:6: Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.

Isi Reformed Theology, kalau disederhanakan menjadi satu kalimat singkat, adalah kedaulatan Allah. Kalau theologi yang lain dipusingkan dengan segala hal yang berbau diri, Reformed Theology terus melihat dari sudut Tuhan. Allah kita berdaulat, Allah kita berinisiatif. Kedaulatan Allah menjadi pusat hidup kita yang akan membuat kita bersukacita. Kita akan bersukacita kalau kita dapat menanggalkan humanitas kita, ketika kita menyerahkan semua beban kita ke tangan Tuhan dan membiarkan hidup kita berada di dalam pimpinan Tuhan dan kita taat pada pimpinan Tuhan.

Secara hitungan manusia, Paulus sebelum bertobat adalah jauh lebih enak karena lebih kaya, punya kedudukan, punya posisi yang nyaman, tidak pernah dipukuli, tidak pernah masuk penjara; setelah bertobat, hidupnya menjadi sengsara. Tetapi menurut Paulus tidaklah demikian, dia menganggap semuanya yang dia alami dan dia peroleh, sebelum bertemu Kristus, adalah sampah, karena pengenalanku akan Kristus jauh lebih mulia dari semuanya itu. Itulah teladan pola pikir yang benar. Paulus mengerti cara berpikir yang tepat. Pola pikir yang tepat membawa Paulus masuk ke dalam hidup yang penuh dengan sukacita yang tidak terbayangkan oleh orang lain.

Manusia yang memikirkan sukses secara manusia, makin sukses akan makin sengsara hidupnya. Di dalam rumah orang kaya terdapat banyak air mata yang tidak kita mengerti, sebaliknya di dalam rumah orang yang sederhana seringkali terdapat kebahagiaan yang juga tidak bisa kita bayangkan. Nilai sukacita tidak bisa dibayar dengan konsep dunia. Dunia pikir kalau kita kaya, punya jabatan, punya kepandaian, kita akan bersukacita. Ternyata tidak! Sukacita dimulai ketika orang balik ke tangan Allah, karena kita bukanlah makhluk independen, bukanlah makhluk yang berotoritas tertinggi. Ketika kita merasa memiliki otoritas tertinggi, kita sedang mengalami keterkiliran posisi. Manusia dicipta sebagai makhluk yang bergantung, makhluk yang seharusnya bergantung kepada Tuhan. Ketika manusia masuk ke dalam persekutuan Berita Injil yang dimulai oleh Kristus sendiri, itulah sukacita, karena kita bisa bergantung balik kepada Tuhan. Cara sederhana dalam mengambil keputusan yang tepat adalah dengan bertanya: apakah Tuhan suka. Kalau kita berjalan seturut dengan apa yang Tuhan suka, maka kita berada di dalam persekutuan Berita Injil, ini adalah hal yang membahagiakan.

Kalau kita hidup seperti cara diatas, kita makin lama akan makin peka terhadap pimpinan Tuhan, dan pelan tapi pasti kita akan melihat pimpinan Tuhan dalam setiap aspek hidup kita. Seringkali kita menjadi tidak mau belajar Firman Tuhan karena takut dituntut banyak kalau kita tahu banyak. Hal ini adalah pemikiran yang salah karena meskipun kita tidak tahu, kita dituntut seharusnya tahu, maka kita menjadi berdosa karena tidak mau tahu. Misalnya: waktu kita menyetir kendaraan, kita tidak mau tahu tentang adanya rambu, maka kita akan tetap dihukum atas pelanggaran rambu, karena kita dituntut untuk selalu melihat dan mengerti rambu.

Dalam segala hal, kalau kita harus mengambil keputusan sendiri kita akan merasa berat, tapi kita akan bahagia kalau ada pengaturan dari “atas”. Tetapi manusia selalu tidak mau diatur, manusia ingin menjadi tuhan, Tuhan membiarkan manusia yang keras kepala seperti ini, maka kehancuran dan kesengsaraan akan menimpa manusia sebagai resiko dari pilihannya sendiri. Orang yang tidak mau dipimpin oleh Tuhan berada di luar persekutuan Berita Injil dan menuju ke kebinasaan.

3. Betapa indahnya kalau kita berada di dalam anugerah Tuhan.

Allah memilih, Allah memelihara kita, Allah berdaulat, Allah terus menuntun kita hingga sampai akhir. Inilah yang disebut dengan “persevereance of the saints” dalam Reformed Theology, yang berarti ketekunan orang suci. Providensia Allah bekerja menggarap hidup kita sehingga kita benar-benar hidup bersandar dengan Allah. Kalau kita tunduk kepada Allah yang berdaulat maka kita akan bersukacita.

Sukacita bukanlah hanya sesaat karena Dia yang memulai, Dia pula yang akan meneruskan sampai pada akhirnya. Seluruhnya berada dalam anugerahNya, Allah yang memelihara, Allah yang memimpin, itu semua karena cinta kasih Tuhan. Orang yang menolong karena tanggung jawab/tugas akan menolong hanya sekali, tetapi kalau karena cinta akan seumur hidup memperhatikan. Orang yang mencintai seseorang akan betul-betul memperhatikan, memikirkan orang yang dicintai. Sesuatu yang spesifik yang diberikan oleh orang yang mencintai kita akan mendatangkan sukacita yang luar biasa. Dunia kita makin lama makin kehilangan cinta yang sedemikian. Kalau kita begitu menghargai pemberian orang yang dihasilkan dari perjuangan dia untuk mendapatkan barang tersebut, seberapa jauh kita menghargai pengorbanan Kristus yang rela turun ke dunia, menderita, mati di atas kayu salib demi kebaikan kita, demi kita ditarik dari lumpur dosa. Semuanya itu dilakukan karena cinta kasih yang mesra, cinta yang begitu besar. Dia bukan mencarikan barang yang mahal bagi kita tetapi Dia memberikan seluruh hidupNya untuk kita. Apa yang sudah Dia berikan tersebut bukan hanya di waktu lampau tetapi berlaku terus sampai dengan hari ini bahkan sampai kedatangan Kristus di kali yang kedua.

Kalau Tuhan sudah melakukan semuanya itu, maukah kita masuk ke dalam persekutuan di dalam Dia, di dalam Berita Injil itu ataukah justru kita memilih di luar Berita Injil? Siapa yang bisa memberikan semua itu kalau bukan Kristus? Di mana lagi kita bisa mendapatkan cinta kasih yang sedemikian besar? Di mana kita bisa mendapatkan anugerah yang begitu besar? Ketika Kristus sudah melakukan hal yang begitu besar, kita memberikan reaksi yang negatif. Masih wajarkah reaksi kita tersebut?

Sukacita sejati bukan membuat kita tertawa, melainkan menghasilkan tangisan dalam hidup kita. Tangisan tersebut adalah tangisan sukacita karena sukacita yang tak terbayarkan. Tertawa hanyalah sukacita sesaat. Tuhan Yesus selama ada di dunia tidak pernah dicatat Dia tertawa. Mari kita mengejar sukacita sejati yang Tuhan sediakan bagi setiap anak Tuhan. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)