Ringkasan Khotbah : 18 Januari 2009

The Real Joy

Nats: Filipi 1:1-4

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Surat Filipi bertemakan: sukacita. Tema ini sangat unik dan sangat penting untuk dibahas, karena :

1. Tema ini tidaklah mudah untuk dimengerti.

Sukacita merupakan suatu hal yang paradoks luar biasa, bahkan bisa dikatakan berkontradiksi. Di satu pihak manusia manapun tahu bahwa keinginan dalam hidup adalah dipenuhi dengan sukacita, tapi di pihak lain merasa belum sukacita. Ketika manusia berjuang untuk mencapai sukacita, makin berjuang makin tidak bersukacita. Sukacita jauh sekali untuk dapat diraih. Akhirnya manusia memakai cara yang sangat gawat untuk sekedar mendapatkan sukacita yaitu dengan mencari hiburan. Dunia hiburan dihargai luar biasa mahal hanya demi kita bisa sedikit sukacita. Seorang profesor yang pandai dan hidupnya sangat baik akan memiliki bayaran yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan seorang entertainer, walaupun secara kualitas jelas profesor lebih tinggi dibanding dengan entertainer. 

2. Banyaknya orang yang bermuka muram, dengan pandangan yang tanpa pengharapan, menunjukkan betapa tidak bersukacita hidup mereka.

Ternyata, sebuah sukacita adalah mahal dan susah. Akhirnya, orang mulai pesimis dan bertindak masa bodoh. Tetapi hal ini tidaklah sesederhana itu. Orang yang menjalani hidup yang sedih adalah hidup yang sangat-sangat negatif, sangat redup, dan akan membuat seluruh hidupnya hancur, karena hal tersebut bukannya membuat kita maju ke depan tetapi justru memukul balik hidup kita sendiri. Kesedihan itu akan menggerogoti hidup kita perlahan-lahan tapi pasti menuju kehancuran. Inilah yang disebut sebagai: lingkaran senja, artinya: makin berputar makin tenggelam. Keadaan dunia ini adalah seperti ini. Kalau kita tidak bisa membangun hidup kita sendiri maka kita akan tambah lama tambah tenggelam. Misalnya: ada orang yang selalu berwajah muram, maka tidak ada orang yang mau bergaul dengan dia. Dia akan merasa orang lain begitu membenci dia. Ketika mencari pekerjaanpun, tidak ada yang mau menerima dia sebagai karyawan. Dia akan semakin sedih, ditambah lagi tidak berpenghasilan, lama kelamaan mati. Yang salah dalam hal ini adalah orang itu sendiri. Dia sedang memutar lingkaran senjanya sendiri.

Hidup yang redup dan lingkaran senja bukanlah urusan pribadi, melainkan merupakan urusan lingkungan dan sangat berpengaruh luar biasa. Kalau kita suntuk, orang lain yang di dekat kita lama-lama akan menjadi suntuk juga. Dunia ini sedang suntuk karena orang-orang yang lagi suntuk berceceran di seluruh dunia memberikan pengaruh kesuntukannya. 

Secara makro, dunia kita sedang mengalami putaran kebawah, maka kita tidak bisa mengharapkan sukacita dari dunia ini. Seluruh sejarah dunia sedang mengalami kemerosotan dengan segenap keinginan dan nafsunya menuju kiamat/ kehancuran. Apakah orang Kristen akan ikut dalam putaran lingkaran senja ini? Apa yang seharusnya kita kerjakan? Kitab Filipi akan memberikan kepada kita wawasan tentang apa yang disebut dengan sukacita sejati dan mengimplikasikan sukacita di tengah-tengah dunia ini.

Kota Filipi adalah kota kaya di Makedonia/ daerah Yunani. Sebelum Romawi berjaya dengan kaisar-kaisarnya yang besar dari zaman kaisar Augustus dan seterusnya, maka Makedonia menjadi kerajaan yang lebih besar dan lebih terkenal daripada Romawi. Makedonia terkenal sekali pada waktu berada di tangan kaisar Filipus. Kaisar Filipus mempunyai anak yang sangat terkenal yaitu Alexander Agung. Alexander Agung menjadi penguasa yang hebat karena dididik oleh filsuf kelas alam semesta yang melewati seluruh sejarah yaitu: Aristoteles. Kota Filipi didirikan oleh kaisar Filipus. Kota ini dibangun dengan bijaksana sehingga menjadi kota yang begitu indah. Orang Filipi sangat bangga dengan kotanya karena dibangun sendiri oleh kaisar mereka. Tetapi kemudian Makedonia dihancurkan dan dikuasai oleh Julius Caesar (Romawi). Kota Filipi sangat disukai oleh Julius Caesar sehingga dijadikan koloninya. Akibatnya, orang Filipi menjadi minder dan jengkel karena kota kebanggaan mereka menjadi jajahan. Orang-orang asli Makedonia di Filipi menjadi tertekan karena merasa tidak punya harga diri ketika menjadi jajahan. Sebaliknya, orang Romawi sangat menyukai kota Filipi dan menjadikannya kota peristirahatan dengan mendirikan vila-vila di Filipi. Pejabat-pejabat Romawi juga merasa enak untuk melalui hari tua/ pensiun di Filipi. Akhirnya, banyak orang-orang kaya yang tidak lagi bekerja, yang mengalami post power syndrome, yang tinggal di Filipi. Terjadilah jurang pemisah yang luar biasa antara penjajah yang kaya yang tidak bekerja dengan penduduk asli yang bekerja tapi tidak sekaya penjajah. Jadi jemaat Filipi terdiri dari orang-orang yang hidup di suatu tempat dengan gejolak sosial yang  cukup besar. Jemaat mendapatkan pengaruh lingkungan dari orang-orang yang stress, adalah wajar kalau jemaat ikut menjadi stress. Tetapi, Paulus mengatakan: Bersukacitalah kamu!

Tidaklah mudah bagi jemaat Filipi untuk bersukacita di dalam situasi yang seperti diatas. Hal ini juga terjadi pada zaman kita ini. Bagaimana kita bisa bersukacita kalau hidup dengan biaya hidup yang begitu mahal, pekerjaan yang belum tentu kelanjutannya, dll. Kalau kita mencoba untuk mengerti

problematik sosial yang ada, maka akan dengan mudah kita berkata bahwa kita memang tidak layak untuk bersukacita. Justru Paulus berkata: Itulah bedanya orang Kristen dengan orang bukan Kristen; biarpun dunia sedang suntuk, kita sebagai anak Tuhan harus bersukacita di dalam Tuhan.
Apa yang sebenarnya ingin dibangun oleh Paulus di dalam perintah untuk bersukacita?


1. Mengembalikan dan memusatkan hidup kepada Tuhan.

Sejarah jemaat Kristen di Filipi bukanlah sejarah yang mudah. Ketika Paulus sedang berjalan menuju Bitinia, dia mau menginjili daerah Asia Kecil, Roh Kudus berkata: tidak! Dalam suatu penglihatan, Paulus melihat orang Makedonia berseru meminta tolong kepada Paulus. Maka Paulus tidak lagi menuju Asia Kecil, dia langsung berbelok arah menuju Makedonia. Paulus menjawab panggilan Tuhan, dan kota pertama di Makedonia yang dia masuki adalah kota Filipi.
Penginjilan yang dikerjakan Paulus di kota Filipi tidaklah berjalan dengan mulus dan tanpa halangan. Dalam Kisah Rasul 16 diceritakan: pada saat Paulus mengabarkan Injil di kota Filipi, ada seorang ibu yang mempunyai roh tenung, yang dengan tenungannya menghasilkan banyak uang untuk tuannya. Dia terus menerus mengikuti Paulus sembari mempromosikan Paulus. Beberapa hari kemudian, Paulus habis kesabarannya lalu menengking roh yang merasuki ibu itu dan roh tersebut keluar dari diri ibu itu. Setelah kejadian itu, ibu tersebut tidak lagi bisa menghasilkan banyak uang untuk tuannya, maka tuannya menjadi marah, kemudian berkolusi dengan pembesar kota untuk menangkap Paulus dan memasukkannya ke dalam penjara. Paulus dimasukkan ke dalam penjara, ruang yang paling tengah dan dijaga dengan ketat bahkan kaki Paulus pun di gembok supaya tidak bisa lari.

Suatu keunikan yang dikerjakan oleh Paulus, pada malam hari dia bersama Silas bernyanyi di dalam penjara. Pada waktu mereka bernyanyi, seluruh sendi penjara bergetar, gempa bumi besar terjadi, semua pintu penjara terlepas. Pikiran manusia berdosa pada umumnya adalah: Tuhan sudah bukakan pintu penjara berarti menyuruh kabur dari penjara. Kalau pada hari itu Paulus kabur, maka urusannya akan berkepanjangan, dia akan berstatus narapidana yang melarikan diri sehingga dia tidak akan bisa mengabarkan Injil lagi, dia menjadi terbukti bersalah karena kabur, dia akan dituntut pertanggungjawaban atas bunuh dirinya kepala penjara. Kepala penjara pada waktu itu memang hampir bunuh diri karena menyangka semua narapidana kabur. Paulus tidak kabur pada saat itu karena dia memperhitungkan segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan bukan untuk kepentingan dirinya sendiri.

Waktu kepala penjara akan bunuh diri, Paulus berteriak dari dalam penjara untuk mencegahnya, kepala penjara begitu kaget karena Paulus dan Silas masih ada di dalam penjara. Hal ini membuat perubahan dalam posisi yang begitu dahsyat. Kita seringkali melihat permasalahan dengan terlalu sederhana, akibatnya kita gagal mendapatkan sukacita besar yang Tuhan sediakan bagi kita. Setelah tahu bahwa Paulus tidak kabur, kepala penjara langsung berlutut di hadapan Paulus, posisi sosial langsung berbalik yaitu narapidana berkuasa atas kepala penjara. Paulus mengajak kepala penjara dan seluruh isi rumahnya untuk dibaptis agar mereka dapat diselamatkan; kepala penjara menerima ajakan tersebut, dia dan seisi rumahnya menyatakan diri menjadi orang Kristen; inilah yang disebut dengan posisi theologis yang berbalik. Mereka yang semula adalah pengikut dewa sekarang berbalik menjadi pengikut Tuhan. Para pembesar kota menjadi ketakutan, mereka menyuruh kepala penjara melepaskan Paulus. Paulus tidak mau diperlakukan dengan seenaknya, dia adalah warganegara Romawi, sesudah ditangkap, dipukuli, dan dimasukkan ke dalam penjara, dia tidak mau dilepaskan begitu saja. Paulus menuntut permintaan maaf dari para pembesar kota. Para pembesar kota datang kepada Paulus untuk minta maaf. Inilah posisi politik yang berbalik.

Paulus melihat semua hal yang dia alami secara totalitas, bukan sekedar pintu penjara terbuka maka harus kabur, dia yakin bahwa dia masuk ke Filipi bukanlah langkah yang salah, melainkan adalah pimpinan Tuhan. Cara Tuhan mengatur semuanya lain dengan cara manusia. Manusia seringkali berpikir, dengan KKR ingin semua orang bertobat; Paulus tidaklah demikian, melainkan dengan cara harus masuk penjara terlebih dahulu dan dipukuli barulah semua bertobat. Kemudian seluruh kota melihat adanya seorang misionaris yang begitu luar biasa sehingga Paulus menjadi berpengaruh besar di kota Filipi, lalu membawa banyak orang kembali kepada Tuhan.

Cara Tuhan mengatur membuat Paulus dapat bersukacita. Sukacita tersebut dimulai pada waktu dia mengembalikan hidup kepada Tuhan, hidup bersandar kepada Tuhan, hidup berpusat kepada Tuhan. Inilah kunci pertama. Orang dunia berusaha mendapatkan sukacita dari remahan sukacita yaitu melalui hiburan-hiburan tetapi justru sumber sukacita yang sejati mereka lepaskan. Orang Filipi ketika membaca surat dari Paulus mulai dapat mengerti akan anugerah Tuhan yang sudah menarik mereka keluar dari lingkungan yang berdosa ini agar mereka boleh bersukacita. Kalau kita mengandalkan diri kita sebagai pusat maka kita akan mengalami kegagalan dalam meraih sukacita.

Paulus mengajak kita melihat dengan cara yang berbeda. Paulus semula hidup dengan caranya sendiri dan dia tidak bisa bersukacita, ketika dia mulai hidup di dalam anugerah dan pimpinan Tuhan, dia baru dapat melihat betapa indahnya hidup yang dipimpin oleh Tuhan. Maka Paulus mengatakan: bersukacitalah di dalam Tuhan! Itulah tema utama dari kitab Filipi. Paulus menulis surat ini di dalam penjara, bukan pada waktu dia tengah menikmati kenikmatan dunia. Paulus juga menyatakan bahwa walaupun tubuhnya dibelenggu di dalam penjara, sukacitanya tetap penuh. Sukacita yang dari Tuhan tidak bisa ditutup oleh apapun juga karena sifatnya memang esensial.

2. Memposisikan diri secara tepat.

Ketika kita berpusat kepada Tuhan, kita bisa memposisikan diri secara tepat. Hidup sebagai budak Allah akan membawa kita mengalami sukacita yang tidak bisa dialami oleh dunia, karena setting paradigmanya terbalik sama sekali. Orang dunia membuang Tuhan agar dirinya dapat menjadi tuhan, ini untuk membangun suatu posisi. Tetapi begitu diri harus menjadi tuhan, kakinya tidak bisa menginjak tanah lagi dan leher menjadi tercekik. Waktu hidup seperti ini, hidup menjadi megap-megap. Dorongan berjuang dalam diri orang Kristen bukanlah berasal dari dalam diri tetapi berasal dari ketaatan akan pimpinan Tuhan. Kita harus merendahkan diri agar dapat dipakai untuk mengerjakan pekerjaan yang besar, sedangkan orang dunia meninggikan diri sehingga hanya mengerjakan hal yang kecil. Kalau kita hidup dengan menetapkan semua ambisi diri yang besar, posisi yang tinggi, maka seumur hidup kita akan tercekik. Hiduplah seperti yang Tuhan tetapkan, di porsi yang Tuhan berikan, maka itulah yang terbaik.

Paulus sebelum bertobat sangat bangga dengan dirinya sendiri yaitu sebagai orang Yahudi, disunat pada umur 8 hari, di usia muda sudah menjadi murid Gamaliel dan menjadi Farisi (orang yang mempunyai pengetahuan tentang Taurat), maka dia bernama Saulus yang berarti “si besar”. Walaupun dia bernama “si besar”, hidupnya tidaklah besar. Andaikan Saulus tidak bertobat, maka pada hari ini tidak ada orang yang kenal dengan Saulus. Tetapi Tuhan pukul dia sehingga dia bertobat. Hal pertama yang dilakukan setelah bertobat adalah melakukan pergantian posisi, merubah semua paradigma dengan mengubah namanya sendiri menjadi Paulus yang berarti “si kecil”. Dia betul-betul mengakui sebagai orang yang paling kecil, paling celaka, paling berdosa, sehingga dia menyadari diri sebagai seorang hamba Kristus. Posisi inilah yang membuat kita dapat hidup dengan nyaman karena kita berada di posisi bawah. Orang yang hidup di posisi bawah, badaipun tidak bisa menerpa dia. Sesuatu yang makin kecil meninggi akan makin labil tetapi sesuatu yang melebar di bawah akan makin stabil. Orang yang “kecil” menjadi yang “terbesar” karena dia mengerjakan seperti Kristus.

Hidup meneladani Kristus adalah hidup merendahkan diri kita sehingga kita tidak perlu menjadi korban dari badai yang besar. Kita perlu berhati-hati kalau kita berada pada posisi yang terus naik, gamang sekali kalau kita berada pada posisi tersebut, sebaiknya kita kembali merendahkan diri ke bawah seperti yang dilakukan oleh Paulus. Kita harus selalu rendah hati bahkan ketika Tuhan mempercayakan kepada kita pekerjaan yang makin besar, kita sebaiknya tetap mau untuk menggarap pekerjaan yang kecil. Pada waktu itu, kita akan mengalami sukacita yang besar. Kalau kita selalu “besar” maka kita dapat menjadi kering, kita semakin ambisius. Sukacita terjadi bukan di dalam kesombongan tetapi justru di dalam kerendahan hati, merendahkan posisi kita.

3. Mengkaitkan segala sesuatu dengan Tuhan.

Kalau kita bisa melihat kaitan setiap langkah yang kita ambil dengan Tuhan, bagaimana Tuhan bekerja satu persatu dalam setiap langkah hidup kita, kita akan dapat bersukacita. Waktu dan cara Tuhan sangatlah unik, bahkan kitapun sulit untuk dapat mengerti. Tapi kita harus selalu taat. Sejarah boleh bergerak tetapi kita sebagai anak Tuhan harus selalu melihat gerak Tuhan, kita akan dapat bersyukur dan bersukacita karena disitulah terdapat kenikmatan dan keindahan bergaul dengan Tuhan. Orang dunia sangat menyukai berkat Tuhan tetapi tidak suka dengan Tuhan, tidak mau menikmati Tuhan karena hidupnya berdosa.

4. Menjadi berkat bagi orang lain.

Seluruh dunia tahu bahwa terlebih baik memberi daripada menerima, berbuat baik akan mendatangkan sukacita. Tetapi sayang, hal ini diputar balik menjadi: supaya saya bersukacita maka saya berbuat baik kepada orang lain. Hal ini justru tidak mendatangkan sukacita karena balasan yang diterima tidak sesuai dengan yang diinginkan. Jemaat Filipi adalah satu-satunya jemaat yang tahu mendapatkan berkat dan berbagi berkat. Mereka mengirim pendetanya untuk menjenguk Paulus di penjara Roma. Jemaat Filipi tidak memikirkan kepentingan mereka sendiri. Mereka mengumpulkan uang untuk mendukung jemaat Yerusalem yang menderita luar biasa karena dijepit dan dianiaya habis-habisan.

Seberapa jauh kita belajar menjadi berkat di tengah-tengah dunia yang makin lama makin egois? Orang yang egois, yang menarik semua untuk kepentingan diri, tidak akan pernah bersukacita. Orang yang seperti ini akan selalu hidup dalam tekanan. Kalau kita berbagi dengan orang lain, menjadi berkat bagi orang lain, kita akan bersukacita. Seringkali kita membuntu sukacita kita sendiri, mari kita buka kran-kran sukacita yang selama ini sudah kita mampatkan karena kita sendiri tidak mau menikmati sukacita yang Tuhan sediakan. Kita belajar dari Paulus yang selalu berdoa dengan sukacita untuk jemaat Filipi. Sukacita itu bahkan bukan hanya satu saat, tetapi akan menjadi kaitan satu dengan yang lain yang tidak ada habis-habisnya. Tahun 2009 ini akan banyak orang yang membutuhkan penghiburan, mari kita menjadi saluran berkat bagi mereka, menghibur dan menguatkan mereka, membangkitkan mereka untuk bisa keluar dari kesulitan yang mereka alami. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)