Ringkasan Khotbah : 11 Januari 2009

Eksposisi Ibrani 12:1-3

Nats: Ibr 12:1-3

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Ibrani 12:1 : Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Ayat di atas diawali dengan kata “karena kita” (struktur dalam bahasa Yunani terlihat sebagai suatu penekanan). Penulis Ibrani melakukan peralihan fokus perhatian dari para pahlawan iman dalam Ibrani 11 (berbicara tentang iman Henokh, iman Abraham, iman Musa, dll.) kepada orang-orang percaya Perjanjian Baru (“kita”) dalam Ibrani 12. Dan sekarang fokusnya ialah tentang kita.

Di sini kita melihat hubungan yang begitu erat antara tokoh-tokoh PL yaitu para pahlawan iman dan kita. Kita diberi kedudukan/posisi yang begitu mulia. Siapakah kita sehingga boleh dijadikan berbagian dengan para pahlawan iman yang agung itu. Ini adalah karunia Tuhan di mana kita boleh dijadikan berbagian dalam rencana keselamatan Allah, kita memiliki kaitan dengan para pahlawan iman tersebut diatas, dan kita diberi suatu kedudukan yang sangat luar biasa.

Para pahlawan iman itu disebut sebagai “saksi” yang sangat banyak, bagaikan awan yang mengelilingi kita, dan kita digambarkan sebagai orang yang berlomba. Kita dibicarakan dalam Ibrani 12 sebagai fokus perhatian, yang pada saat ini sedang melakoni peran kita, dengan para pahlawan iman itu sebagai saksi. Gambaran perlombaan ini mengingatkan kita tentang perlombaan olahraga Romawi, di amphitheater dengan orang yang sedang berlomba di dalamnya. “Saksi” di sini bukan saksi di pengadilan tetapi orang yang menyaksikan apa yang sedang terjadi, yaitu para pahlawan iman, orang yang telah menang.

Leon Morris menjelaskan perlombaan yang dimaksud seperti lari estafet (Alkitab Yunani dan terjemahan Inggris memakai kata “lari”, dalam bahasa Indonesia tertulis kata “lomba”). Pelari-pelari yang lain telah menyelesaikan estafet mereka, lalu diteruskan oleh kita. Seperti dalam lari estafet, tongkat itu diberikan kepada kita, mereka telah mendahului kita sebagai pemenang, tetapi belumlah selesai, sekarang ini adalah giliran kita. Kita mesti berlari. Inilah posisi kita.

Ibrani 11:39-40:  Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.

Ayat ini menunjukkan bahwa orang percaya Perjanjian Baru, termasuk kita, ditempatkan di posisi yang begitu mulia. Bahkan Tuhan Yesus juga pernah berkata bahwa yang pernah lahir dari rahim wanita, tidak pernah ada yang lebih besar dari Yohanes Pembaptis, tetapi yang terkecil dalam Kerajaan Allah adalah lebih besar. Nelayan yang tidak berarti dan pemungut cukai yang dianggap najis, ketika dipilih dan dipanggil Tuhan menjadi rasul-Nya menjadi orang-orang yang mulia. Paulus dari seorang penganiaya jemaat Tuhan menjadi seorang rasul yang besar. Kita adalah orang yang terpilih, orang yang terpanggil, orang yang diberi karunia yang melampaui apa yang bisa kita bayangkan, kita bukanlah orang biasa, kita diberi posisi yang begitu penting. Kita dimasukkan dalam bagian dari rencana keselamatan Allah, bahkan tanpa kita, orang-orang seperti Abraham, Musa, dll tidak dapat sampai kepada kesempurnaan. Orang lain mungkin menghina kita, tetapi di mata Tuhan kita begitu penting, Dia mencurahkan darah Anak-Nya sendiri untuk menebus kita.

Ketika orang tidak memiliki perspektif, visi, doktrin, dan iman yang sejati di dalam Kristus, dia akan kehilangan gambaran tentang bagaimana seharusnya hidup yang direncanakan Tuhan, lalu dengan konsep diri yang remeh, dia hidup secara rendah. Kita bukanlah mau mencari kemuliaan diri, kita menolak keinginan untuk mencari kebesaran diri, tetapi Allah yang memberikan anugerah-Nya kepada kita, Allah yang memuliakan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa siapa yang melayani Aku, maka Bapa akan memuliakan dia. Kita ini adalah hamba yang tidak layak, kita menerima apa yang tidak pernah kita pikirkan dan bayangkan. Kita harus hidup oleh iman, beriman yang benar berarti juga menghidupi apa yang Tuhan tentukan bagi kita, sehingga kita bisa mewujudkan hidup mulia yang ditentukannya bagi kita.

Kita diandaikan sebagai orang yang sedang berlomba. Hidup Kristen adalah lebih daripada sekedar perlombaan. Olahraga bukanlah sesuatu yang utama dan segala-galanya. Hidup adalah lebih kompleks.

Tetapi Alkitab memakai “perlombaan” untuk memberikan kepada kita pengajaran. Dalam perlombaan ada prinsip-prinsip yang harus dipenuhi agar kita dapat mencapai kemenangan. Marilah kita belajar menerapkannya dalam hidup Kristen kita.
Untuk memenangkan perlombaan ada beberapa hal yang penting untuk kita perhatikan yaitu: disiplin diri yang ketat, ketekunan, perjuangan, niat tidak mau menyerah, fokus, memacu diri untuk terus maju. Pete Sampras, pemain tennis terkenal, sebelum makan pagi harus pukul bola sebanyak seribu kali pukulan, baru setelah itu diizinkan sarapan oleh ayahnya.

Hidup Kristen adalah suatu perlombaan, kalau kita bercermin pada olahraga, maka untuk dapat mencapai hidup Kristen yang berkemenangan maka kita harus: disiplin dalam hal baca Alkitab dan doa. Kalau kita seringkali tidak teratur dalam hal baca Alkitab dan doa, maka kita akan memiliki kualitas kerohanian yang sangat rendah. Kalau hidup Kristen kita lemah dan gagal, bagaimana bisa menjadi berkat bagi masyarakat dan berkenan kepada Tuhan?  Kalau kita sebagai orang Kristen tidak menjalankan hal-hal yang dituntut dalam olahraga seperti tersebut diatas, kita akan menjadi orang Kristen yang tidak kuat, orang Kristen yang gagal. Itulah yang terjadi saat ini. Di Barat, banyak gereja yang dijual untuk dijadikan masjid, museum. Kalau kita mencintai Tuhan, hati kita akan teriris dan sedih melihat hal ini. Di Asia dan beberapa tempat di Afrika terjadi booming KKR, banyak orang yang menjadi Kristen. Tetapi apakah Injil sejati yang diberitakan? Orang-orang mencari Allah yang Maha Kuasa untuk melaksanakan keinginan diri, merupakan manipulasi Allah, bukan merupakan pertobatan yang sejati.

Pertobatan yang sejati akan membawa kita tunduk kepada Tuhan, mempersilakan Dia mengatur hidup kita, memperbaiki hidup kita, memimpin dan memperbarui kita, sampai kita menjadi orang yang belajar rela dibentuk, selera kita diubahkan, hidup kita diubahkan sehingga melalui hidup kita boleh dihasilkan hidup Kristus, hidup illahi, hidup rohani yang Tuhan inginkan, bukan orang spiritualitas tetapi tidak punya kerohanian yang berkenan kepada Tuhan. Tuhan Yesus naik ke atas kayu salib untuk mengubah hati manusia, menjadikan manusia-manusia yang rela mati bagi Dia, yang hidup dibentuk oleh Dia, menghasilkan kemuliaan bagi namaNya. Inilah yang diinginkan Tuhan untuk terjadi.

Hidup ini adalah suatu perlombaan. Kita mesti berjuang, melakukan disiplin rohani, maka tanggalkanlah semua beban dan dosa yang begitu merintangi. Di dalam olahraga, orang mesti menanggalkan semua beban seperti: kalung, pakaian yang bagus, bahkan dalam olahraga Yunani orang telanjang dan hanya memakai kain yang minim pada bagian tubuh tertentu saja, supaya setiap geraknya tidak terganggu, termasuk berat badan yang berlebihanpun juga harus dikurangi agar gerak tidak menjadi lamban. Dalam hal rohanipun juga demikian, ada banyak beban yang dapat menghalangi kerohanian kita, seperti: keduniaan, kesenangan, ketidak taatan, dll. Benda-benda atau hal-hal tersebut mungkin bukanlah dosa pada dirinya tetapi telah membuat kita tidak dapat fokus, tidak dapat maju, dan menjadi lamban.

Hidup Kristen kita harus selalu fokus, memandang pada satu tujuan dengan niat yang jelas dan setiap halangan, setiap dosa yang begitu memikat dan menjerat juga harus kita tanggalkan. Biarlah kita yang dipanggil sebagai orang Kristen dengan hidup yang begitu mulia, yang diserahi tongkat estafet ini untuk meneruskan sampai garis akhir semua rencana Allah, kita boleh menyikapinya dengan serius, dan jangan sampai gagal dalam perlombaan ini. Kalaupun kita gagal, rencana Allah tidaklah gagal, kita yang akan dilempar sebagai orang-orang yang terlaknat, orang yang tidak bisa meresponi anugerah, orang-orang yang terkutuk, orang yang tidak diselamatkan.

Hidup Kristen kita adalah hidup yang begitu penting. Biarlah kita boleh melihat segala tawaran dalam hidup ini yang seringkali dianggap penting padahal sebenarnya tidaklah penting, mari kita ganti mengerjakan hal yang lebih penting, seperti: membaca Alkitab, dll. Ada orang yang matanya menjadi merah karena kebanyakan main game, alangkah indahnya kalau mata merah tersebut adalah karena banyak berlutut dan berdoa, menangisi pekerjaan Tuhan, maka akan terjadi kebangunan kerohanian dalam diri kita, dalam gereja Tuhan, dan bagi pekerjaan Tuhan.

Kita juga memasuki zaman relativisme, dimana orang tidak lagi memandang yang benar dan yang salah, orang yang menyatakan kebenaran dianggap sebagai musuh dan dianggap sebagai orang yang paling sombong. Tidak ada yang benar dan yang salah. Setiap orang bisa mengaku benar dan salah menurut dirinya sendiri karena sudah kehilangan teladan yang benar. Ini adalah suatu kecelakaan. Dalam situasi yang demikian, masih ada suatu harapan kalau orang mau menerima nasihat pada Ibrani 12:2 yang mengatakan: pandanglah pada Yesus!

Orang Kristen yang hidupnya dipenuhi dengan ketamakan, kekotoran, kejahatan, perlu dipertanyakan: apakah ada Kristus dalam hidupnya? Orang yang benci dengan hal yang tidak benar, ingin hidup meneladani Tuhan Yesus, hidupnya akan terus diperbaharui. Hidup Kristen haruslah memiliki hati yang satu, komitmen yang tidak bercabang, Yesus Kristus sebagai Tuhan yang sungguh-sungguh kita aminkan, dalam setiap aspek kita harus berperang melawan diri kita yang sering digoda oleh keuntungan dan kemalasan untuk tidak setia. Biarlah ini menjadi perjuangan kita. Kalau tidak, kita akan meniru yang lain dan akan jauh dari Kristus.
Kita bisa berseru Tuhan, Tuhan dan melakukan berbagai mujizat tetapi Tuhan berkata: enyahlah engkau pelaku kejahatan, engkau tidak mirip Aku melainkan mirip setan.

Kalau kita memandang kepada manusia kita akan kecewa, kalau kita memandang kepada Yesus kita akan mengalami suatu transformasi yang luar biasa.
Ibrani 12:2b : Yesus yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, ...
Yesuslah yang menanamkan iman dari pencipta iman. Iman kita adalah iman yang dikaruniakan agar kita boleh percaya sungguh dan Tuhan akan terus menggiring, menuntun, memelihara sampai kita mencapai akhir. Dia adalah pencipta iman kita, yang memulai iman kita, yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Roma 11:36: Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Setiap kemurnian iman kita, kesejahteraan kita bersumber pada Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah sumber segala yang baik yang boleh kita miliki. Oleh karena itu, orang yang menyadari pentingnya Yesus, dan bergantung kepada Yesus, akan mengatakan: Dia adalah segala-galanya bagiku! Dia lebih berharga daripada apapun, Dia lebih berharga daripada uang, keuntungan, kesenangan, nyawaku. Dia memulai dengan yang baik, Dia akan mengakhiri dengan yang baik pula. Yesus Kristus adalah arah pandang kita karena segala yang baik berasal dari Dia.

Ibrani 12:2c: ... yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
Ada 3 hal yang bisa kita lihat disini yaitu:
 

1. Theologia salib. Saat ini beredar theologi kemuliaan: Allah yang Maha Kuasa memberkati, menyembuhkan, memberi kelancaran, memberikan kemegahan. Ini semua tidak mirip dengan theologi Kristus. Kristus memilih jalan salib, memanggil orang untuk memikul salib. Setan menawar¬kan jalan kemuliaan yang mudah, tanpa salib, tanpa kesulitan. Kita harus terus memandang kepada Yesus. Dengan memandang kepada Yesus, kita akan memperoleh kekuatan, dan kemenangan hidup. Paulus mengatakan: aku tidak mau tahu yang lain kecuali Yesus, Dia yang tersalib, dan aku mau berbagian di dalam salibNya. Jalan salib adalah jalan yang bersifat paradoks. Kalau Tuhan kita menapaki jalan salib, memikul salib, sedangkan kita memikul emas dan berjalan tidak pada jalan yang Dia tapaki, siapakah kita? Kita akan menjadi orang yang diusir, orang yang terlaknat.

2. Teladan Kristus yaitu mengabaikan kehinaan/ mencemooh cemooh/ menghina kehinaan. Secara alamiah orang takut menderita, takut miskin, takut sakit, takut mati, dll, dan hal ini dipakai Iblis untuk menjadikan orang kompromi sehingga bisa mengkhianati Tuhan. Orang yang rohani takut kalau tidak berkenan kepada Allah, tidak melakukan kehendak Tuhan, takut melakukan yang tercela di mata Tuhan. Orang yang rohani juga takut pada kematian, kemiskinan, kehinaan, dll., tetapi semua ini dikalahkan oleh hal yang lebih tinggi. Mereka mencintai Tuhan, mereka mau menyenangkan Tuhan, mereka rindu melakukan kebenaran Tuhan, mereka mau menjalankan hidup Kristen yang memuliakan Tuhan. Mereka tidak mau dikalahkan oleh ketakutan mereka. Itulah yang membuat Yesus mencemooh cemooh, menghina kehinaan.

3. Ada sukacita sorga yang kekal. Orang Kristen yang mau pikul salib, menyangkali kesenangan diri, bukanlah orang yang bodoh, karena mereka tahu bahwa di dalam setiap kesenangan ada kematian dan kerugian, tetapi di dalam ikut Tuhan dan menyangkal diri, mereka melakukan hal yang baik, membahagiakan dan memberi keuntungan yang kekal. Sukses, berkat dan baik bukan menurut tawaran dunia melainkan bagaimana Tuhan melihat. Kesenangan, keuntungan, berkat yang bukan dari Tuhan adalah tidak baik karena berisi racun didalamnya.

Ibrani 12:3: Ingatlah selalu akan Dia, ...
Pandanglah selalu kepada Dia, jangan lepaskan Dia. Konsep kita tentang Yesus, pandangan kita tentang Yesus hendaklah makin lama makin bertambah, sehingga mengubahkan hidup kita. Pada diri Yesus terdapat kesempurnaan. Seluruh riwayat-Nya, pengajaran-Nya, dan keteladanan¬Nya, biarlah menjadi inspirasi yang mempengaruhi kita.

Ibrani 12:3b: ..., yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.
Yesus sudah dikhianati seluruh umat manusia, Israel menolak Dia, setiap orang melawan Dia, tapi tidak ada bantahan dari diriNya. Dia menghadapi semuanya dengan menang. Biarlah kita menjadi kuat dengan setia memandang kepada Yesus. Itulah panggilan mulia yang harus kita jalani.
Mari kita selesaikan bagian kita dalam lari estafet ini sebagai orang yang menang, dan biarlah Tuhan yang menolong dan menguatkan kita untuk menjalankan panggilan yang penuh anugerah dan yang mulia ini.
?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)