Ringkasan Khotbah : 4 Januari 2009

God: The Creator

Nats: Kej 1:1

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Kejadian 1:1 : Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

Kita memasuki tahun yang baru, melangkah memasuki suatu situasi yang baru, marilah kita memulainya bersama dengan Firman Tuhan. Ketika memasuki tahun yang baru, semua orang akan memikirkan tentang apa yang akan dikerjakan dan dicapai di tahun yang baru ini. Tema pembicaraan yang paling banyak adalah tentang “sukses”. Apakah “sukses” itu? Apakah “sukses” ketika uang kita bertambah beberapa kali lipat; ataukah ketika memiliki kedudukan yang lebih tinggi? Tidak! Sukses sejati bukan ditentukan oleh manusia. Sukses sejati adalah ketika Tuhan tersenyum kepada kita; ketika Allah setuju dengan apa yang kita jalankan karena kita taat kepada kehendakNya. Ketika ketaatan demi ketaatan dapat dikerjakan sampai garis akhir maka Tuhan akan mengatakan: Hai hambaKu yang setia, masuklah ke dalam perjamuan Tuanmu. Itulah sukses yang final. Paulus mengatakan bahwa ketika sukses tersebut terjadi maka mahkota akan diletakkan di kepala kita.

Sukses yang final tersebut tidak dapat tercapai kalau bagian demi bagian yang harus kita lalui kita tidak sukses. Misalnya: kita sedang dalam perlombaan lari, pada putaran pertama kita sudah tergeletak, maka kita tidak sukses; atau kita lari sampai 1 meter sebelum garis akhir kita tergeletak, maka kita juga tidak sukses. Sukses adalah gabungan dari kesuksesan bagian demi bagian. Kesuksesan totalitas akan tercapai kalau bagian demi bagian kita selesaikan dengan sukses. Ketika kita bisa menggarap bagian demi bagian hidup kita dengan sukses maka hal itu akan menjadi investasi untuk kesuksesan pada akhirnya.

Istilah “investasi” dalam dunia sekarang menjadi istilah yang mengerikan karena berarti judi. Investasi di dalam kekristenan berbicara tentang sesuatu yang kita tumpuk di masa lampau untuk nantinya kita selesaikan di titik akhir ketika kita berhadapan dengan Tuhan. Kita menumpuk sejarah hidup kita dan nantinya kita kembalikan kepada Tuhan semua talenta yang sudah Dia berikan bersama dengan hasilnya.

Sukses di dalam kekristenan adalah ketika semua yang kita kerjakan kembali sesuai dengan yang Tuhan inginkan untuk kita kerjakan. Tetapi di dalam dunia ini, ketika kita ingin menggapai sukses tersebut, kita mengalami kesulitan dalam menggarap hidup kita. Ada 2 aspek penyebab dari kesulitan ini yaitu:

1. Ketakutan dan kekuatiran.

Ketakutan dan kekuatiran akan menghambat semua gerak seseorang. Ketika akan mengerjakan sesuatu sudah penuh dengan ketakutan akan berbagai hal sehingga akhirnya tidak melakukan apa-apa. Tekanan dunia sekuler yang semakin besar akan membuat ketakutan yang semakin besar pula pada orang Kristen. Banyak orang Kristen yang semakin hari semakin gentar/ takut untuk menyatakan iman, semakin ngeri untuk tegak berdiri di tengah dunia ini karena tekanan sekuler terhadap kekristenan. Orang Kristen yang berani menyatakan kebenaran akan dianggap sebagai ekstrimis/ teroris, sehingga orang Kristen takut sekali untuk maju, untuk menjalankan kehendak Tuhan, lalu mulai gamang dan mempertanyakan: apakah kalau menjalankan kehendak Tuhan akan dapat mencapai sukses? Inilah yang menyebabkan banyak orang Kristen yang rontok imannya satu persatu, menjadi kompromistis dan duniawi sekali. Kekristenan hanya berdiri sejauh apa yang menjadi sekularisme, pikiran filsafat dunia dibawa masuk ke dalam gereja. Ketika gereja kembali kepada Firman Tuhan maka jemaat banyak yang tidak memiliki kekuatan untuk berani berdiri.

Betulkah kalau kita mau berjalan di tengah dunia ini kita harus mensekulerkan gereja? Haruskah kita mengkompromikan kebenaran? Haruskah kita merusak iman sehingga akhirnya kita menjadi atheis praktis? Seberapa jauh kita boleh tegas, berani dan memiliki kekuatan penerobosan di tengah dunia yang menakutkan ini? Kalau orang dunia yang ketakutan adalah sangat wajar, ada juga yang membohongi diri dengan menyangkali realita sehingga seolah-olah tidak takut. Ternyata orang Kristen juga mengalami hal yang sama dengan orang dunia, yang takut menyatakan kebenaran dengan cara melintir terus.

2. Malas dan menunda.

Orang yang sukses adalah orang yang berani maju, berjalan dan tidak menunda. Orang malas selalu berkata: nanti saja, masih ada waktu. Untuk hal-hal duniawi yang berdosa orang begitu bersemangat untuk mengerjakan, tetapi untuk sesuatu yang bernilai kekal yaitu untuk mencapai keselamatan dan kepentingan surgawi, orang begitu malas untuk mengerjakannya. Di sinilah kita perlu mempertanyakan: dimanakah nilai hidup kita? Kalau kita begitu bersemangat dalam mengerjakan hal yang remeh, tetapi begitu malas untuk mengerjakan hal yang bernilai maka berarti kita sudah gagal. Itulah kebodohan orang yang bebal. Sistem nilai dalam hidup manusia sudah rusak.

Marilah kita mengevaluasi hidup kita sepanjang tahun 2008 yang telah kita lewati, berapa jauh kita berjuang dalam mengerjakan hal yang bernilai, menggarap apa yang Tuhan inginkan untuk kita kerjakan? Apa yang akan kita kerjakan di tahun 2009 ini?

Apa yang seharusnya mendorong kita untuk maju?

1. Mari kita melihat apa yang Tuhan kerjakan di tengah dunia ini. Allah pada mulanya menciptakan langit dan bumi. Kalimat ini merupakan titik awal dari semua keberadaan. “Pada mulanya” berarti titik awal, titik pertama, pembeda antara sebelum dan sesudahnya, momen yang disebut dengan titik alfa. Jadi “pada mulanya” menjadi sumber, titik mulai, titik referensi yang berarti dari “situ”lah semua hal ditarik, diarahkan, dan dilihat. “Situ” adalah Tuhan mencipta. Inilah bagian paling penting.

Jadi kunci pertama untuk kita dapat mengerti dorongan hidup kita adalah dengan mengerti bahwa Allah pada mulanya menciptakan langit dan bumi. Jadi seluruh referensi alam semesta ini harus direferensi balik kepada diri Allah sendiri. Inilah yang mendorong kita untuk menyadari suatu realita dahsyat yang penting sekali ketika kita menginterpretasi seluruh perjalanan sejarah.

Kita sudah berjalan dalam sejarah mulai dari titik alfa sampai abad ke-21 ini, dan kita telah melihat: ketika manusia melepaskan Allah sebagai titik referensi dan merasa diri hebat, begitu jaya, mencapai puncak, yang dimulai pada abad ke-13 dengan gerakan humanisme dan mencapai puncak pada abad ke-17 yang disebut dengan renaissance/ abad pencerahan, dan terus berlangsung sampai akhir abad ke-19.

Pada tahun 1899 Nietzche meneriakkan puncak dari humanisme: sekarang mari kita melupakan Tuhan, mari kita buang pikiran kita tentang Tuhan karena saya sudah membunuh Tuhan dengan pikiran saya.

Abad ke-20 menjadi abad atheisme yang menertawakan orang yang berbicara tentang Allah. Akibatnya orang Kristen menjadi sungkan kalau mengaku sebagai orang Kristen, percaya Tuhan. Percaya Tuhan menjadikan diri minder.

Ketika manusia membuang Allah sebagai titik referensi, manusia akan limbung seperti layang-layang yang putus, layang-layang tersebut masih ada tetapi tidak memiliki arah yang jelas dan siap untuk tersangkut di manapun.

Dalam 50 tahun awal/ paruhan pertama abad ke-20 terjadi 2 kali perang dunia yang membunuh manusia dalam jumlah jauh lebih banyak daripada jumlah manusia terbunuh dalam 1900 tahun sebelumnya. Inikah sukses dengan membuang Tuhan? Kalau kita membuang Tuhan, kita pasti mati.

Dalam PL juga kita lihat bahwa ketika bangsa Israel meninggalkan Tuhan, merasa diri hebat, mereka justru kocar-kacir. Kemudian mereka berseru kepada Tuhan dan Tuhan menolong mereka. Setelah itu, mereka menendang Tuhan lagi. Inilah yang disebut manusia bebal.

Krisis ekonomi global juga terjadi sebanyak 3 kali dalam abad ke-20 yaitu setelah perang dunia pertama (1938-1941), tahun 1971, tahun 1998. Dalam dekade pertama abad ke-21 yaitu tahun 2008 kembali terjadi krisis ekonomi global yang luar biasa dahsyat melebihi 3 kali krisis ekonomi sebelumnya. Inilah kehancuran karena tidak mau kembali kepada Tuhan, karena membuang Tuhan.

Membuang Tuhan tidak berarti Tuhan menjadi hilang karena Dia adalah absolut, justru kita yang menjadi hilang/ mati. Akankah kita juga akan membuang Tuhan sebagai titik referensi di tahun 2009 ini? Kalimat “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” harusnya terus ada dalam pikiran kita yang akan membuat kita selalu sadar bahwa alam semesta ini tidak mungkin ada kalau bukan karena Tuhan yang mencipta.

2. Karena Tuhan menciptakan langit dan bumi maka kita pun memiliki kesadaran akan kreativitas. Tanpa kreativitas, dunia ini akan statis, tidak ada perkembangan, tidak ada ciptaan apapun. Allah mencipta, berarti ada daya kreasi, sehingga apa yang tidak ada menjadi ada. Kuasa ciptaan diberikan Tuhan kepada manusia. Manusia adalah satu-satunya makhluk dalam alam semesta ini yang memiliki daya kreativitas yang diberikan oleh Tuhan, karena manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah.

Daya cipta yang dipunyai manusia harus direferensi balik kepada Allah sebagai pencipta manusia. Kreativitas ciptaan merupakan turunan dari kreativitas asli sang pencipta, maka harus dihubungkan kembali dengan sang pencipta supaya kreativitas tersebut dapat berjalan dengan baik.

Ketika manusia membuang Tuhan, kreativitas tidak menjadi hilang tetapi menjadi liar karena lepas dari penciptanya. Dunia ini menjadi hancur karena manusia memakai daya kreatif tetapi melawan sifat illahi yaitu merusak alam semesta, merusak sistem ekonomi, dll. Dunia berdosa ini mendorong manusia untuk memakai daya kreativitasnya yang akan membawa manusia menuju titik omega yaitu neraka. Dunia mengalami proses penghancuran yang akan berakhir di hari kiamat. Titik omega sejarah bukanlah puncak keindahan segala sesuatu melainkan puncak dari semua kenegatifan sejarah.

Orang Kristen seharusnya menjadi orang yang paling kreatif. Kreatif yang sejati adalah kreatif yang rapi dalam menyusun berbagai unsur seni, memiliki efisiensi dalam berbagai sisi, kesan yang ditimbulkan adalah melihat kemuliaan Allah. Kualitas kreativitas dari orang Kristen seharusnya sampai pada taraf yang mana orang dunia yang mau sekalipun tidak mungkin mencapainya. Orang Kristen mampu mencapai kualitas tersebut karena iman kepada Tuhan yang akan membuat cara melihat, mengerti segala sesuatu dengan lebih tajam dan lebih luas. Inilah yang akan memampukan kita menerobos ke semua aspek.

Kreatifitas seharusnya terus mendorong kita untuk mencapai yang setinggi mungkin. Tahun 2009 ini seharusnya tidak membuat kita ketakutan sejauh kita dapat menerobos, berbalik arah dan melihat pimpinan Tuhan, dengan kreatifitas yang Tuhan berikan akan membuat kita maju dan menjalankan tugas ke depan dengan sangat tepat, akurat.

3. Kreatifitas bukan untuk dijadikan imajinasi belaka tetapi kita harus bekerja untuk mewujudkan kreatifitas tersebut.

Tuhan bukan mencipta manusia untuk hanya menjadi tukang berpikir tetapi manusia harus melakukan, menggenapkan, karena “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Allah kita bukan Allah yang bengong, Allah adalah penuh dalam segala hal (self sufficient), Dia tidak kekurangan apapun, tetapi Dia tetap mencipta. Kristus mengatakan bahwa BapaKu bekerja, Aku bekerja, maka kamupun harus bekerja.

Kerja bukanlah efek dari dosa. Waktu manusia dicipta dan belum jatuh ke dalam dosa, Tuhan meletakkan manusia di taman Eden untuk mengusahakan taman itu. Jadi bekerja, menggenapkan apa yang Tuhan inginkan, adalah merupakan natur dari manusia.

Kerja adalah suatu hak istimewa yang harus menghasilkan nilai kerja. Kerja akan membuat kita menghasilkan, hasil tersebut dapat kita persembahkan kepada Tuhan. Bekerja bukan untuk pemuasan egoisme, untuk kepentingan diri, tetapi untuk mengaktualisasikan semua yang Tuhan berikan kepada kita untuk kita kembalikan kepada Dia.

Bekerja merupakan suatu tugas yang harus kita kerjakan dengan serius, tidak sekedar kita hanya mau tidur, tetapi harus bekerja lebih banyak. Di tengah dunia yang sedang mendorong orang untuk menjadi malas, Tuhan memerintahkan kita untuk bekerja dan memakai kreatifitas kita untuk menghasilkan nilai kerja, menggenapkan apa yang Tuhan inginkan. Tuhan ingin kita menghasilkan hasil kerja yang juga dapat dinikmati oleh orang lain, menjadi berkat bagi orang lain. Paulus menuliskan bahwa orang yang tidak bekerja tidak mendapat makan.

4. Bekerja dengan bijaksana sejati.

Kreatifitas harus dikembalikan kepada Tuhan sebagai pribadi yang paling bijak. Kalau kita bisa nempel, mengikuti dan belajar kepada orang bijak, adalah merupakan hal yang indah karena kita bisa mendapatkan banyak hal. Alangkah indahnya kalau kita bisa dekat dengan Tuhan sebagai sumber bijaksana.

Kerja harus dilakukan dengan rapi, bijak, belajar lebih jauh lagi sehingga kualitas kita bisa semakin meningkat. Orang dunia bekerja dengan sistem “trial and error” yang akan selalu error karena tidak mau kembali kepada Tuhan sebagai bijaksana sejati dan tidak mau belajar. Sebagai contoh: untuk mendesain satu kamar mandi yang kecil saja kita memerlukan bijaksana karena ada begitu banyak aspek yang harus dipikirkan seperti perletakan kloset, wastafel, pintu, dsb; kalau kita tidak mau belajar maka akan membuat suatu kesalahan dan kekonyolan.

Dalam seluruh aspek hidup kita, seberapa jauh kita dekat dengan Tuhan sebagai sumber bijaksana agar kitapun dapat memiliki bijaksana. Kalau kita mengerti seluruh gerak alam semesta ini, kita tidak perlu melakukan trial and error ketika mengambil langkah hidup kita.

Marilah kita belajar kepada Tuhan, Tuhan akan bukakan kepada kita seluruh perjalanan sejarah alam semesta ini kepada kita, sehingga kita bisa mengambil langkah yang jauh lebih akurat di tengah dunia ini.

5. Tuhan ingin kita menjadi berkat bagi orang lain.

Tuhan menginginkan kita bekerja dengan teliti sehingga dapat menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan mencipta alam semesta ini bukan untuk DiriNya. Dia adalah cukup (self sufficient). Tuhan siapkan semuanya dengan begitu baik sebelum manusia diletakkan di taman Eden.

Janganlah kita semakin egois, memakai semua talenta yang Tuhan percayakan kepada kita untuk menghancurkan orang lain. Kalau kita mengikuti format dunia, kita akan ikut panik, takut, dan hancur, karena itu kita harus bisa menerobos dengan kembali kepada prinsip “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Prinsip ini mengharuskan kita berbeda dalam cara berpikir, cara bertindak, cara menghasilkan dan cara hidup. Kita akan menjadi stabil di tengah dunia yang bergolak ini. Bukan berarti tahun 2009 menjadi mudah untuk dilalui. Tahun 2009 adalah tahun yang sulit, berat sekali. Janganlah menjalaninya dengan cara dunia karena akan membawa kita mengeluarkan air mata yang sia-sia, menemui kesusahan yang tidak seharusnya. Bersama Tuhan kita akan melewati kesulitan yang ada dengan proporsional. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)