|
Ringkasan Khotbah : 28 Desember 2008
Nats: Lukas 2:19-20 Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta |
Pada saat kita melakukan dekorasi ruangan, pohon natal, dan sibuk menyanyikan/ mendengarkan lagu-lagu natal, yang menjadi pertanyaan adalah: setelah itu apa? Setelah kita memberikan waktu kita untuk berbagai aktivitas natal, lalu apa yang akan kita lakukan?
Lukas 2:19-20 didahului dengan peristiwa dimana Maria dan gembala-gembala telah menyaksikan natal. Maria telah melahirkan bayi Yesus dan gembala-gembala telah menyaksikan bayi di palungan itu. Gembala-gembala telah mendengarkan berita yang luar biasa di malam natal yang pertama, mereka juga telah menyaksikan peristiwa natal yang spektakuler karena ada malaikat yang menghampiri mereka dan memberitakan kabar baik tersebut. Ayat 19-20 terjadi setelah natal terjadi.
Jadi, natal perlu kita pikirkan bukan hanya sekedar natalnya dan pada waktu terjadi natal, tetapi perlu juga kita pikirkan hal setelah natal, apa yang akan kita lakukan setelah natal, bagaimana kita hidup setelah natal. Setelah saya menggumuli ayat diatas dan membandingkan dengan bagian yang lain seperti ketika Maria pertama kali diberitahukan oleh malaikat bahwa dirinya akan mengandung seorang anak yang istimewa, juga dengan peristiwa dimana malaikat menyanyikan lagu-lagu sukacita, maka saya menemukan 3 bagian penting yang berkaitan dengan hidup setelah natal. Natal akan memberikan dampak kalau kita boleh memiliki 3 hal ini, natal dapat menjadi hal yang mendalam bagi kita kalau kita boleh belajar berkaitan dengan prinsip-prinsip rohani.
Mengapa Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya (ayat 19)? Hal inilah yang membuat saya memikirkan tentang hidup setelah natal. Gembala-gembala juga mendapatkan sesuatu untuk mereka bawa pulang, bukan sekedar natalnya. 3 hal yang saya maksudkan diatas adalah :
1. Dasar iman
Apa yang dialami Maria adalah lebih spektakuler daripada yang dialami oleh para gembala. Para gembala diberitahu malaikat segera setelah natal, tetapi Maria diberitahu malaikat 9 bulan sebelum natal. Di tengah-tengah kebingungannya, Maria mengatakan: aku ini hamba Tuhan, jadilah menurut perkataanmu itu. Selama 9 bulan Maria memendam suatu rahasia yang tidak dia mengerti, suatu rahasia yang dia emban ketika dia harus hamil sebelum menikah dengan Yusuf, semuanya itu menjadi suatu teka-teki sampai dengan natal itu terjadi.
Seandainya, yang lahir dari rahim Maria adalah bayi perempuan maka apa yang akan terjadi dengan iman Maria? Seandainya, para gembala tidak bisa menemukan kandang tempat Tuhan Yesus dilahirkan maka apa yang akan terjadi dengan iman mereka? Ini akan memberikan suatu pengalaman yang memilukan dan tragis bagi pengalaman iman mereka. Mereka akan merasa sudah dibohongi dan mungkin menjadi tidak percaya lagi kepada malaikat, mungkin mereka tidak bisa lagi mengerti tentang rencana Allah, mungkin Maria menjadi tidak mengerti mengenai pesan yang disampaikan malaikat kepadanya. Tetapi, puji Tuhan, ketika natal itu terjadi mereka bisa menemukan pertemuan antara nubuatan yang disampaikan para nabi dan penggenapannya, sehingga iman mereka bisa diteguhkan. Iman mereka menjadi semakin nyata dalam hidup mereka.
John Calvin, ketika menulis buku Institute of Christian Religion, banyak membahas tentang iman dalam bukunya yang ketiga. Menurut Calvin, jangan sampai kita hanya melihat iman Abraham, iman Daniel, iman Daud, iman orang-orang yang begitu besar, tanpa kita bisa melihat dasar dari iman itu. Kita tidak mungkin bisa melihat iman para raksasa iman tersebut tanpa mengerti dasar dari iman itu. Ketika kita mengenal nama Yesus saja, itu sudah ada benih iman. Ketika kita memikirkan dan menjalani iman kita, pada saat yang sama kita juga harus memikirkan dasar dari iman kita, sehingga iman kita boleh menjadi iman yang teguh. Juga diungkapkan tentang banyak istilah-istilah iman seperti: iman yang kerdil, ada iman yang tidak dewasa, iman yang semu, ada pula iman yang nampaknya seperti iman tetapi sebetulnya bukan iman yang disebut embrio iman, yang harus diteguhkan, harus didewasakan dan harus digarap.
Selama 9 bulan lebih Maria mencoba untuk membangun iman, ketika natal terjadi imannya semakin diteguhkan. Dasar iman dalam diri Maria semakin dikuatkan.
Mungkin kita sudah berkali-kali mengikuti acara natal tahun ini, yang menjadi pertanyaan adalah apakah setelah itu semua, dasar iman kita semakin diteguhkan?
2. Kontinuitas iman
Yohanes 19:25 menyatakan: dan dekat salib Yesus berdiri ibuNya dan saudara ibuNya,…
Ketika Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya, ia bukan sekedar menyimpan kemudian melupakannya atau membiarkannya. Kata “menyimpan” di sini berarti “to keep” bukannya sekedar “to put it on”. “to keep” berarti memelihara, menjaga, bukannya menggeletakkan begitu saja. Janji yang diterimanya bukanlah hanya sebentar seperti nyala api yang sebentar padam, melainkan janji yang terus menerus ada dalam hidupnya sampai dengan peristiwa dalam Yohanes 19:25. Mengapa ayat ini dicatat dalam Alkitab? Ketika saya membandingkan dengan Lukas 2:19-20, saya menemukan adanya kontinuitas iman.
Coba kita bayangkan, bagaimana perasaan seorang ibu yang melihat anak sulungnya yang dikasihinya menderita luar biasa di atas kayu salib. Kalau saja Maria tidak mempunyai iman bahwa Yesus menderita untuk menggenapi apa yang telah dijanjikan, kalau saja Maria tidak mempunyai iman bahwa Yesus menderita untuk menyelamatkan umat manusia sebagaimana yang diungkapkan oleh malaikat, kalau saja Maria tidak mempunyai iman yang terus menerus dari masa lalu ketika berita itu diungkapkan-pada saat natal-peristiwa dalam Yohanes 19:25, mungkin Maria akan terus menerus begitu sedih. Kalau saja tidak ada kontinuitas dari iman Maria yang dijaga dan dipelihara terus menerus, dengan melihat penderitaan Yesus yang sedemikian, akan terjadi apa dalam iman Maria?
Ada istilah “Kristen kapal selam” yang berarti orang Kristen yang muncul di gereja pada hari natal kemudian tenggelam lagi, baru muncul lagi di natal tahun yang akan datang. Mengapa orang seperti ini memiliki iman yang seperti itu? Apakah dia tidak merasa perlu untuk beribadah kepada Tuhan setiap minggu? Apakah dia merasa tidak perlu membaca Firman Tuhan setiap hari? Ada apa dengan orang-orang seperti itu? Ada juga istilah “Kristal (Kristen natal)” yang berarti orang Kristen yang muncul di gereja hanya pada hari natal.
Sampai seberapa jauh kontinuitas iman kita ketika merayakan natal? Jangan sampai kita terlalu sibuk sehingga justru kita tidak mendapatkan berkat natal lagi. Kita juga pernah tidak memiliki semangat untuk bisa memahami apa arti natal. Tidak jarang pula anak Tuhan konflik satu dengan yang lain karena pelayanan sekitar saat-saat menjelang natal.
3. Pembelajaran iman
Hal ini adalah yang paling penting. Maria merenungkan, para gembala membandingkan apa yang telah mereka dengar dan lihat dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka, semuanya itu memerlukan usaha dan waktu. Dari proses belajar tersebut, muncullah suatu pujian, suatu sikap yang memuliakan Tuhan.
Hidup setelah natal tidaklah selalu hidup yang lebih baik, tetapi dapat juga menjadi hidup yang lebih buruk kalau kita tidak bisa menemukan sesuatu yang bisa kita pelajari di dalam natal.
Seorang hamba Tuhan yang sedang merenungkan tentang natal, akan jauh berbahaya bagi dia untuk tidak melewatkan natal begitu saja, jauh berbahaya bagi dia untuk jatuh ke dalam anggapan bahwa natal itu tidak mendatangkan bahagia bagi dia. Kita juga bisa mengalami hal yang sama.
Belajar bukanlah sekedar tahu sebatas pengetahuan tetapi seperti Maria yang merenungkannya. Maria belajar sesuatu dari imannya dan untuk imannya. Dia belajar dari kehidupan imannya satu perkara demi satu perkara. Maria merenungkan semuanya itu sambil terus menanti peristiwa dalam Yohanes 19:25. Kata “merenungkan” memakai bentuk simple participle tense yang berarti terus menerus merenungkan. Yohanes 19:25 menunjukkan bahwa perenungan Maria telah menjadi kenyataan, Maria semakin belajar sesuatu.
Apa yang kita lakukan ketika kita mulai membongkar pohon natal? Apa yang sudah kita pelajari dari natal tahun ini? Belajar bukan sekedar dari buku tetapi juga bisa dari kegagalan demi kegagalan yang Tuhan izinkan untuk kita alami.
Kalau Maria tidak belajar dari janji Tuhan, dia akan menderita ketika melihat anak yang dikasihinya harus menderita di atas kayu salib.
Biarlah natal tidaklah bersifat seremonial saja, menjadi sesuatu yang sia-sia belaka. Kalau sampai demikian, betapa malangnya kita. Biarlah ketika kita sudah merayakan natal, kita tetap terus bertanya tentang dasar iman kita, kontinuitas iman kita dan pembelajaran iman kita, sehingga akhirnya kita bisa seperti para gembala itu yang akhirnya memuji dan memuliakan Allah. Kiranya Tuhan memberkati. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)