Ringkasan Khotbah : 21 Desember 2008

The Owner and the Worker

Nats: Matius 21:33-39

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Dalam Matius 21 ini terlihat pertentangan yang semakin terbuka antara Tuhan Yesus dengan imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan para tua-tua di Yerusalem. Dalam Matius 21 ini juga diceritakan bagaimana Tuhan Yesus masuk ke Yerusalem, mulai menjalankan misi utamaNya yaitu datang untuk menjadi penebus umat manusia. 

Matius 21:23-46 merupakan satu rangkaian yang diawali dengan cerita imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi mempertanyakan tentang asal kuasa Tuhan Yesus yang mengobrak-abrik Bait Allah pada hari sebelumnya. Pembicaraan semakin meruncing sampai pada Matius 21:33-39 yang kita bahas, sampai akhirnya pada ayat 46 mereka bertekad untuk membunuh Tuhan Yesus.

Dari meruncingnya pembicaraan pada Matius 21:33-39 ini semakin terlihat makin jauhnya jurang pemisah antara prinsip kebenaran Tuhan Yesus dengan prinsip kebenaran imam-imam kepala dan tua-tua Israel yang merupakan orang-orang yang beriman dan mengerti kebenaran. Jelas terlihat perbedaan antara orang-orang yang mau sungguh-sungguh kembali kepada Tuhan, yang mementingkan Tuhan dengan orang-orang yang mementingkan kepentingan diri sendiri. Makin hari ketegangan dan jurang pemisah tersebut makin besar.

Matius 21:33-39 merupakan perumpamaan kedua yang diungkapkan oleh Tuhan Yesus. Perumpamaan pertama menceritakan tentang 2 orang anak dengan tipe pertama yang selalu berkata “ya” tetapi tidak pernah menjalankan, tipe kedua adalah semula berkata “tidak” tapi kemudian menyesal, bertobat dan mengerjakan perintah. Cerita ini berbicara tentang ketaatan, bagaimana orang yang sungguh-sungguh taat kepada Tuhan, dan ada orang yang sepertinya taat tetapi sebenarnya tidak taat. Hal ini merupakan salah satu kriteria yang sudah menyentuh iman Kristen yaitu orang Kristen bukan sekedar “ya” ketika mendengar Firman Tuhan tetapi tidak menjalankan Firman tersebut, orang Kristen sejati akan keras sekali menggumulkan Firman Tuhan sampai sungguh-sungguh bertobat dan taat menjalankan Firman Tuhan. Seorang Kristen yang sejati bukan dilihat dari penampilannya yang seolah-olah baik tetapi apakah dia betul-betul menjalankan kehendak Tuhan.

Perumpamaan kedua lebih tajam lagi menunjukkan realita dari orang Kristen yang sesungguhnya. Bagaimana kalau seseorang itu bukan orang Kristen tetapi hidupnya seperti orang Kristen? Tuhan Yesus semakin membukakan realita kepalsuan manusia yang semakin hari semakin rusak dan dicengkeram oleh dosa. Perumpamaan kedua ini menceritakan: ada seorang tuan yang mempunyai kebun anggur, kebun anggur tersebut dipersiapkan sedemikian rupa dan ditanami pagar sekelilingnya. Dia masih juga melengkapi dengan kilangan supaya anggur hasil panen nanti memiliki tempat untuk diolah menjadi anggur. Seluruh perlengkapan itu menjadi sangat baik dan sangat lengkap. Untuk keamanan keseluruhannya, tuan tersebut membangun menara jaga. Di sini dapat kita lihat bahwa tuan tersebut adalah tuan yang memikirkan segala hal dari berbagai aspek sehingga kebun anggur yang dipersiapkan adalah kebun anggur yang sudah matang. Ilustrasi ini menggambarkan betapa Tuhan kita adalah Tuhan yang menyediakan semuanya dengan begitu rapi. Setelah begitu rapi, tuan tersebut memanggil pekerja-pekerja yang membutuhkan pekerjaan lalu mengajak mereka mengikat perjanjian yaitu: tuan tersebut yang menyediakan tanahnya, pekerja tersebut yang bekerja, lalu hasilnya dibagi. Berarti si pekerja tersebut tidak perlu menyediakan modal. Tetapi pada saat panen, sang tuan hendak menagih hasilnya, yang terjadi adalah pekerja-pekerja tersebut bukannya sadar akan anugerah yang memungkinkan mereka bekerja di situ tetapi mereka mulai tamak, ingin menguasai semuanya. Ketika hamba-hamba sang tuan dikirim kepada mereka untuk menagih hasil, mereka memukul, menganiaya, membunuh hamba-hamba itu. Hal ini sangat menyedihkan hati sang tuan. Setelah dua kali mengirimkan hamba-hambanya dan diperlakukan sama oleh para pekerja itu, maka sang tuan mengirimkan anaknya dengan harapan para pekerja akan segan terhadap anaknya. Tetapi yang dipikirkan oleh para pekerja tersebut jauh lebih jahat, kelihatan sangat logis, sangat strategis, sesuai dengan tujuan yang diharapkan; mereka berpikir bahwa kalau anak sang tuan mereka bunuh maka merekalah yang akan menjadi ahli waris atas tanah tersebut. Hal ini mewakili pikiran manusia berdosa. Para pekerja tersebut betul-betul melakukan pembunuhan atas anak sang tuan.

Ilustrasi diatas merupakan suatu cerita mikro kosmis untuk menceritakan hal makro kosmis. Tuhan Yesus menceritakan tentang lingkup kebun anggur yang kecil untuk menceritakan seluruh alam semesta. Apakah cerita diatas sebenarnya merupakan cerita fiktif yang tidak pernah terjadi? Tidak! Cerita ini merupakan gambaran yang sangat riil dan problema ini nantinya disadari oleh para imam kepala dan tua-tua bahwa cerita ini sebenarnya menusuk kepada mereka. Berarti ini merupakan problema riil, sikap manusia berdosa.

Dalam abad pertama Tuhan Yesus sudah memberikan peringatan bahwa kalau engkau merasa beriman, beribadah kepada Tuhan, ternyata bukan, engkau adalah pekerja-pekerja yang jahat, yang mau mengkudeta semua untuk kepentinganmu, engkau tidak pernah mengerti bahwa alam semesta ini diberikan kepada manusia supaya manusia bertanggung jawab kepada Tuhan tetapi faktanya tidak demikian.

Masalah ini bukan hanya terjadi pada abad pertama, bahkan sampai abad ke-21 ini pun tetap terjadi masalah yang sama. Manusia berdosa tidak pernah mengerti tentang kebaikan, anugerah; manusia begitu rusak sehingga anugerah/ kebaikan yang diberikan dibalik menjadi “hak”, kemudian hak tersebut dituntut, waktu menuntut hak menjadikan orang lain menjadi jahat dan diri sendiri yang baik.

Konsep dosa seperti ini juga masuk ke dalam kekristenan. Banyak konsep Kristen yang tidak mengerti konsep “sola gratia” yaitu hidup itu hanya berdasarkan anugerah Tuhan, sehingga membuat kita tidak dapat berespon kepada Tuhan dengan benar. Bagaimana kita hidup bertanggung jawab di hadapan Tuhan merupakan konsep yang sangat serius yang perlu kita bangun dalam hidup kita.

Pergumulan tentang penggarap yang jahat ini tetap menjadi bagian kita. Seberapa jauhkah kita sebagai orang Kristen merupakan penggarap yang beres? Sejauh mana kita sadar bahwa apa yang kita kerjakan harus kembali kepada Tuhan? Seberapa kita sadar bahwa kita sedang menggarap suatu makro kosmis, yang digambarkan oleh Tuhan Yesus sebagai kebun anggur, dimana kita sedang berbagian di dalam Kerajaan Surga dimana kita harus bekerja untuk Tuhan? Tuhan membawa kita masuk ke dalam taman untuk menggarap taman ini, itulah tugas yang harus kita kerjakan, dan setelah dikerjakan semua, kita bertanggung jawab untuk mengembalikan semuanya kepada Tuhan. Seberapa jauh kita sadar bahwa semua yang ada di tangan kita bukanlah milik kita? Apa yang kita kerjakan adalah anugerah; semua waktu, kepandaian, tenaga, uang bukanlah milik kita melainkan milik Tuhan.

Seberapa jauhkah kita sudah merasa bahwa semuanya ini adalah milik kita? Kebun anggur ini adalah milik kita, maka lupakanlah sang tuan. Mari kita membunuh Tuhan. Problema ini begitu mengerikan. Sejak abad ke-19 dan 20 gerakan ini makin dahsyat. Manusia semakin gila menganggap semua adalah hasil kerjanya. Kalau diminta kerja untuk Tuhan, kita berikan waktu sisa kita kalaupun ada, semua sibuk. Tuhan adalah pemilik, tetapi kita sisihkan Dia.  

Pada akhir abad ke-20 ada seorang filsuf bernama Nietzsche mengatakan: mari kita terlebih dahulu membunuh Tuhan agar kita bisa menjadi tuhan, kita akan selalu ketakutan kalau ada Tuhan, saya sudah membunuh Tuhan dengan pikiran saya. Inilah yang dikenal sebagai The Death of God Theology dalam bukunya yang berjudul Das Spoke Zarathustra.

80 tahun kemudian, seorang tokoh New Age yang bernama David Spangler mengatakan bahwa kita perlu menyadari bahwa semua allah yang kita pikirkan adalah allah palsu, lupakan semuanya itu karena allah yang di luar itu tidak ada supaya kita bisa menjadi allah; allah itu ada di dalam diri kita dan kitalah allah; segala sesuatu yang kita pikirkan akan kita dapatkan karena kitalah allah. 

Manusia mau membuang Allah, maka problema penggarap-penggarap kebun anggur yang jahat bukan hanya merupakan problema abad pertama tetapi juga sampai sekarang ini. Di titik pertama, manusia seharusnya menerima realita budak. Alkitab tidak pernah anti dengan budak sejak dari zaman PL sampai PB. Saya sengaja memakai kata “budak” untuk mengganti kata “hamba” yang ditulis di Alkitab. Keduanya berasal dari kata “dulos”. Budak tidaklah mempunyai hak, tidak punya kedaulatan, tidak punya apa saja yang bisa dipertahankan, yang dipunyai hanyalah kewajiban; jadi yang dilakukan adalah berdasarkan perintah sang tuan. Alkitab juga mengatakan: kita adalah budak-budak Allah. Jadi konsep budak dan tuan terus menerus diungkapkan dalam Alkitab. Istilah “hamba” pada hari ini sudah mengalami re-definisi yang rusak yang berarti posisi lebih tinggi dari bos sekalipun. Alkitab tidak pernah menentang konsep budak tetapi Alkitab sangat menentang tuan yang jahat. Tuan yang jahat merusak figur Allah yang adalah tuan yang baik. Kalau kita mengerti bahwa Allah adalah tuan yang sangat baik, maka kita seharusnya mengerti bagaimana menjadi budak yang baik yang menjalankan perintah tuannya, yang taat kepada tuannya. Di sinilah terjadi keseimbangan antara budak yang taat dengan tuan yang betul-betul memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan budaknya.

Tuhan Yesus memperjelas konsep diatas dalam Lukas 17:7-10. Seorang hamba adalah orang yang harus melayani, hidup menyenangkan tuannya, tidak ada hak sama sekali. Sang tuan tidak punya kewajiban untuk berterima kasih kepada hambanya karena semua yang dilakukan seorang hamba bukanlah jasa melainkan memang sudah seharusnya, sebaliknya kalau hamba tidak melakukan perintah tuannya maka akan dipotong lehernya karena merupakan pelanggaran. Ini adalah konsep yang jelas mengenai bagaimana kita sebagai orang Kristen mempunyai hati/ jiwa seorang budak. Kita bukan hidup untuk diri kita, untuk kesenangan kita, tetapi untuk menyenangkan tuan kita. Kenyataan sampai hari ini adalah banyak orang Kristen yang hidup hanya untuk menyenangkan diri sendiri, marah-marah kepada Tuhan kalau keinginannya tidak terpenuhi. Masih dapatkah orang demikian disebut sebagai orang Kristen kalau tingkah lakunya persis sama dengan penggarap yang jahat?

Dalam perjalanan sejarah, terjadi pergeseran istilah dari “the slave of God” (budak Allah) menjadi “the servant of God” (pelayan Allah). Pelayan bukanlah budak. Pelayan mendapatkan upah, punya hak, bisa mencari tuan yang lain. Sebagai pelayan Allah manusia bisa menuntut bayaran dari Tuhan, kalau Tuhan tidak memberi maka manusia akan marah. Inilah kekristenan yang palsu.

Sampai abad ke-20 manusia masih belum puas dengan konsep pelayan, manusia diterpa dengan konsep: tidak mau menjadi bawahan. Menurut Robert T. Kiyosaki: kita harus menjadi pengusaha, kita harus bisa memutar uang supaya uang menghasilkan uang untuk kepentingan kita. Kita harus menjadi tuan, semua harus tunduk kepada saya. Semua mau menjadi bos tetapi tidak pernah mengerti bagaimana beban seorang bos. Seorang tuan sejati adalah tuan yang menyediakan semuanya untuk bawahan lalu diri yang paling berkorban. Inilah prinsip Allah. Allah adalah tuan diatas segala tuan, Dia memikirkan semua yang terbaik untuk semua ciptaanNya, Dia berkorban mati untuk ciptaanNya. Multi Level Marketing tidaklah sama dengan cara Tuhan Yesus dalam pemuridan. Tuhan Yesus mau berkorban dengan mati untuk murid-muridNya, murid-muridNya sebagian besar mati martir untuk menjadikan jalan misi bagi orang lain, makin bawah makin dapat berkat, yang paling atas yang korban paling banyak. MLM kebalikannya, yang paling atas akan mendapatkan untung paling banyak, makin ke bawah makin celaka, yang paling bawah yang mati. Konsep dunia sangat jauh berbeda dan terbalik dengan konsep Allah.

Karena manusia ingin menjadi allah, maka dunia yang milik Allah dikudeta menjadi milik manusia. Semua talenta yang Tuhan berikan yang seharusnya kita kembalikan beserta hasilnya sekarang kita kudeta. Kalau semuanya ditarik balik oleh Tuhan, kita marah dan tidak mau lagi pergi ke gereja. Kita tidak bisa lagi seperti Ayub yang berkata: aku lahir tidak membawa apa-apa, aku mati tidak membawa apa-apa, semua yang kumiliki adalah milik Tuhan, Dia berhak memberi dan berhak mengambil, terpujilah Tuhan.

Kalau kita tidak bertobat, kita tidak mungkin dapat keluar dari jebakan humanisme yang mencengkeram hidup kita, sampai seluruh hidup kita tidak lagi kembali kepada Tuhan, sampai seluruh hidup kita sampai pada doksologi humanistis yaitu: sebab segala sesuatu adalah dari saya, dan oleh saya, dan kepada saya, bagi saya kemuliaan selama-lamanya.

Bagaimana kita bisa dipulihkan supaya kita tidak mengalami disequilibrium? Disequilibrium artinya meleset dari posisi yang seharusnya/ terkilir. Terkilir rasanya sakit, untuk dikembalikan ke posisi yang seharusnya juga sakit sekali bahkan lebih sakit daripada kalau tidak dikembalikan, tetapi tetap harus dikembalikan supaya tidak sakit lagi. Hal ini bukanlah pilihan tetapi merupakan suatu keharusan. Kalau tidak dikembalikan, tambah lama akan bertambah sakit, dan waktu seperti ini kalau dikembalikan akan lebih sakit lagi. Demikian juga dengan bertobat, bertobat tidaklah enak, setelah bertobat barulah enak, karena terlalu banyak keterkiliran yang harus diputar balik ke posisi yang seharusnya, dan itu merupakan suatu pemaksaan yang luar biasa.

Kalau mau balik, apa yang harus kita bongkar dan kembalikan? Matius 21:33-39 mengajar kita 3 aspek yaitu:

1. mengembalikan posisi asli hubungan antara Pencipta dengan ciptaan.

Tuhan adalah pencipta alam semesta, maka prinsip penciptaan tidaklah bisa dibuang. Dunia mencoba mati-matian membuang prinsip ini dengan prinsip evolusi agar manusia bisa menjadi tuhan, tetapi makin manusia membuang Tuhan makin celaka hidupnya karena dia menyangkali semua realita ciptaan. Hukum relasi pencipta dengan ciptaan adalah: semua ciptaan dicipta oleh pencipta (berarti semua keberadaan itu ada karena ada pencipta, membuang pencipta berarti membuang ciptaan), ada tujuan pencipta, rancangan sesuai dengan tujuan, lalu produksi sesuai rancangan/ desain, setelah itu dipakai sesuai tujuan ciptaan/ kembali untuk pencipta. Maka, membuang pencipta berarti membuang keberadaan diri, berarti mati. Keberadaan kita bergantung mutlak kepada Pencipta kita. Kalau kita tidak menjalankan tujuan yang ditetapkan oleh pencipta, maka kita sudah dis-fungsi dan siap dibakar.

2. Tuhan bukan hanya pencipta tetapi juga pemelihara.

Tuhan kita peduli dengan seluruh aspek hidup kita agar kita dapat menggarap makro kosmis ini. Tuhan selalu memberi modal sesuai dengan talenta yang dipunyai masing-masing orang. Tuhan tahu secara persis satu persatu, Dia menyediakan semuanya. Kalau kita bisa hidup sampai hari ini, itu adalah anugerah Tuhan, Dia yang memelihara kita.

3. Allah itu penyedia kita (providensia Allah).

Providensia Allah menyatakan kepada kita bahwa seluruh hidup kita bergantung mutlak pada Allah. Tanpa kita berbalik kepada pemeliharaan Allah, tidak ada jaminan untuk kita bisa hidup. Waktu kita jatuh, kita harus balik kepada Tuhan, bertobat, Dia akan pelihara kita. Inilah jalan terbaik.

Kiranya kita bisa menjadi hamba yang baik dan setia pada akhirnya. Hidup sukses seorang pekerja bukan sesaat/ waktu pendek, tidak ditentukan oleh manusia, melainkan ketika Tuhan berkata: hai hambaku yang baik dan setia, kemarilah, masuklah ke dalam perjamuan tuanmu. Baik dan setia adalah kualitas yang tidak mudah. Baik berarti memenuhi kualitas yang dituntut oleh sang tuan. Setia berarti untuk waktu yang lama. Kedua kualitas ini menuntut konsistensi, perjuangan, dan kesungguhan yang sangat serius untuk kembali kepada Tuhan. Tuhan mau kita sukses sampai pada akhirnya, karena itu Dia menopang, menjaga kita sejauh kita mau taat. Kembalilah kepada Tuhan selama masih ada kesempatan, jangan tunggu waktu badai menerpa.  Amin.  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)