Ringkasan Khotbah : 14 Desember 2008

The Body

Nats: Roma 15:1-6

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Pembahasan Roma 15:1-6 dimaksudkan agar kita mengerti bagaimana kita berbagian dalam jemaat Tuhan, bagaimana kita menjadi seorang Kristen, dan apa yang Tuhan inginkan di dalam hidup kita. Surat Roma terdiri dari 2 bagian, yaitu:

1. Pasal 1-11 yang disebut bagian doktrinal, yaitu bagian pengajaran yang membicarakan secara theologis bagaimana seorang yang berdosa tidak ada harapan untuk bisa diselamatkan kecuali mendapatkan penebusan Kristus di dalam anugerahNya lalu menjadi anak Tuhan yang setia yang hidupnya memuliakan Tuhan. Roma 11:36 menjadi penutup dari seluruh rangkaian pengajaran doktrinal ini yaitu: sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Hidup adalah berasal dari Tuhan, diproses di dalam Tuhan, dan berakhir untuk Tuhan. Itulah hidup yang sejati.

a. Mengerti doktrin/ ajaran merupakan satu aspek.

Efesus 4:13 mengatakan bahwa tujuan dari internal gereja/ tujuan ke dalam gereja adalah sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Aspek doktrinal adalah sangat penting dan merupakan hal yang utama dan yang pertama, yaitu mengetahui kebenaran dan Kristus. Setiap kita sebagai anak Tuhan seharusnya terus menghafal dan mengingat ayat ini. Kenapa kita menjadi orang Kristen, mau apa kita menjadi orang Kristen, seharusnya sesuai dengan ayat di atas. Seorang Kristen sejati harus berjuang keras untuk mencapai seperti yang dikatakan ayat di atas.

b. Aspek kedua adalah aspek kedewasaaan hidup.

Karakter dewasa adalah kemampuan hidup yang ditandai dengan kemampuan kita menanggalkan egoisitas untuk mulai bisa berbagi, mulai bisa mengerti orang lain, mulai bisa menopang orang lain. Seorang bayi menangis hanya mau semua orang memperhatikan dia. Dia tidak pernah mau tahu apakah orang lain capek atau tidak, dia mau semua keinginannya terpenuhi. Kalau bayi 2 bulan melakukan hal di atas, kita masih bisa memaklumi, tetapi kalau orang berumur 20 tahun melakukan hal tersebut, itu suatu ketidakwajaran. Hidup kekristenan bukan hanya sekedar mengerti doktrin tetapi juga harus terimplikasi dalam hidupnya. Orang yang dewasa tahu bagaimana mengatasi kesulitan hidupnya, juga mampu berbagi dengan orang lain, bisa memperhatikan kebutuhan orang lain, perasaan orang lain, pikiran orang lain. Karena itu hanya orang dewasa yang layak untuk menikah.

2. pasal 12-16 berbicara aspek praktis kita mengikut Tuhan.

Dalam Roma 15:1-6 Paulus menekankan tentang bagaimana hidup bergereja. Hidup bergereja adalah hidup berkomunitas, bukan hidup seorang diri. Walaupun diri adalah juga merupakan gereja, namun yang dimaksud gereja sebagai tubuh Kristus adalah gabungan semua umat yang ada dalam gereja. Dalam satu tubuh, ada yang menjadi kaki, tangan, mata, dll, yang mana semuanya mempunyai bagian masing-masing di dalam tubuh tersebut.

Ketika satu tubuh ini terdiri dari berbagai pribadi yang tergabung di dalamnya, maka sikap yang seharusnya dijalankan agar tubuh tersebut merupakan satu kesatuan adalah:

a. yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri; setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya (Roma 15:1-2).

Hal ini adalah point yang utama yang harus dijalankan. Kesatuan tubuh dapat terjadi kalau jemaat mengalami kedewasaan. Persekutuan di dalam gereja akan berjalan dengan baik kalau orang-orang yang ada di dalamnya mau bertumbuh untuk menjadi dewasa. Pendeta yang beres akan mendidik jemaatnya agar dapat mandiri, mendidik jemaat supaya menjadi kuat dan bahkan bisa menguatkan orang lain, bukan hanya sendiri benar tetapi juga bisa mendorong orang lain untuk kembali kepada kebenaran, bukan sendiri dewasa tetapi juga bisa membantu mendewasakan orang lain.

Konsep dalam ayat di atas sudah diketahui banyak orang tetapi justru dilawan oleh banyak orang karena manusia tidak suka orang lain yang diperhatikan, manusia suka semua orang memperhatikan dia. Semua manusia suka kalau egoisitas/ kesenangan dirinya yang digarap. Di sinilah terjadi ketegangan antara mau menyenangkan orang lain tetapi juga masih ingin menyenangkan diri. Akibatnya: manusia cenderung melawan ayat 1 tetapi mau menerima/ melakukan ayat 2. Inilah cara dunia berdosa. Pikiran yang ada adalah: saya mau menyenangkan orang lain sejauh saya juga disenangkan. Inilah yang disebut dengan “win-win” teori. Konsep ini muncul sejak dikemukakan oleh filsuf besar abad 18 yaitu Immanuel Kant. Pemikiran Immanuel Kant dianggap oleh dunia memberikan terobosan yang positif, tetapi bagi saya sangat merusak. Rusaknya tatanan dunia modern, hancurnya seluruh tatanan masyarakat, tidak bisa lepas dari dosa orang yang super brilliant ini. Immanuel Kant.

Dalam Matius 7:21 dikatakan bahwa: bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk menggeser kekristenan untuk kembali kepada kewajiban moral. Dia membuang idealisme, membuang Tuhan lalu menggunakan istilah “tuhan” untuk masuk ke dalam aspek praktikal. Inilah yang disebut dengan “practical argument”. Dia membangun sebuah teori yang disebut dengan imperatif kategoris. Teori ini mengatakan: kalau saya melakukan sesuatu, bukanlah karena Tuhan, tetapi karena keharusan; kalau saya tidak melakukannya maka saya akan mengalami efek yang lebih buruk; maka melakukan hal itu merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditolak. Misalnya: kalau saya tidak bisa menolong orang, maka nama saya akan jelek, atau saya akan dikucilkan; kalau saya tidak berbuat baik maka saya akan celaka. Jadi semua perbuatan baik saya diukur menurut imperatif kategoris. Hal ini membuat kita dengan tanpa sadar melakukan kebaikan karena ada motif di belakangnya. Dalam kekristenan akan muncul perkataan seperti: kalau kamu tidak berbuat baik maka Tuhan akan marah dan mengutuk kamu, kalau tidak memberi persembahan perpuluhan akan dibikin bangkrut oleh Tuhan, kalau kamu tidak mencintai sesame maka seluruh dunia akan membenci kamu. Orang yang seperti ini akan jauh berbuat baik karena ada motifnya. Hal ini berbeda dengan iman Kristen yang mengatakan: kamu harus berbuat baik karena Tuhan begitu mencintai kamu sampai Dia mati bagi kamu waktu kamu masih berdosa. Manakah yang lebih mempunyai semangat untuk berbuat baik? Orang yang pertama. Kalau yang kedua akan muncul pemikiran bahwa karena Tuhan baik maka ketika kita tidak berbuat baikpun Dia tetap baik. Inilah manusia berdosa yang kurang semangat untuk berbuat baik karena kurang ancaman. Pikiran Kant membuat manusia seolah-olah begitu memikirkan moralitas, lebih mementingkan untuk berbuat baik, tetapi ternyata semua perbuatan baik dipacu oleh motifasi yang sangat tidak baik. Kant gagal mengerti bahwa semua perbuatan baik saya dipicu oleh semangat egois, seperti: saya takut rugi, celaka; berbuat baik untuk kepentingan diri, seperti: supaya masuk surga, bukan untuk kepentingan orang lain melainkan untuk kepentingan diri.

Masuknya pikiran Kant di abad 18 kemudian dikembangkan oleh orang yang sekarang meracuni dan merusak seluruh tatanan perekonomian kita hari ini, masuk di tatanan etika dipelopori oleh Jeremy Bentham kemudian dimodifikasi oleh anak sekretarisnya yang bernama John Stuart Mill. Keluarlah teori Utilitarianisme yang mengajarkan bahwa seluruh hidup harus ada manfaat. Kalau saya melakukan sesuatu, yang perlu dipertanyakan adalah saya mendapatkan apa karena semua yang dikerjakan haruslah ada kegunaannya; kalau tidak ada manfaatnya maka tidak perlu dikerjakan. Tidak perlu memperhatikan orang lain, orang lain tidak akan mempedulikan kita, kita harus memperhatikan kepentingan diri kita sendiri. Inilah utilitarianisme. Sikap seperti ini apakah hanya ada di luar gereja ataukah juga ada di dalam gereja? Seberapa jauhkan iman Kristen kita mendidik kita untuk tidak menjadi orang egois? Engkau yang kuat, tolonglah mereka yang lemah dan jangan mencari kesenangan diri sendiri!

Kalau konsep utilitarianisme masuk ke dalam gereja, maka gereja akan hancur, misalnya: pendeta menarik keuntungan dari jemaatnya habis-habisan, begitu giliran si pendeta rugi, dia tidak mau. Kalau setiap kita bermain seperti ini dengan teman kita, betapa celakanya dunia kita. Kalau hal ini dilakukan oleh orang yang bukan Kristen, maka masih dapat dimaklumi; tetapi kalau anak Tuhan, Alkitab mengatakan: hai kamu yang kuat, tolonglah orang yang lemah dan jangan mencari kesenangan diri sendiri! Seberapa jauh jiwa altruistik (jiwa mau melihat kepentingan orang lain, menolong orang lain, menopang orang lain, mau menyangkal diri dengan mengatakan tidak kepada apa yang kita mau) itu ada dalam diri anda?

Membangun berarti yang kuat menolong yang lemah bukannya menjebloskan yang lemah, yang mampu bukannya menjepit yang lemah melainkan mengangkat yang lemah. Kita akan hancur kalau hidup dengan semangat utilitarianisme. Mulailah dari lingkungan yang terkecil yaitu keluarga. Kalau dalam keluarga, suami menuntut keunggulannya pada si istri atau sebaliknya maka rusaklah keluarga tersebut, misalnya: suami menuntut istrinya berpikir logis seperti dia tetapi istrinya kesulitan dalam hal ini, sebaliknya istri menuntut suaminya memiliki perasaan seperti dirinya tetapi suaminya tidak bisa mengerti akan hal ini. Seharusnya keunggulan seseorang akan menopang kekurangan orang lain, bukannya untuk menjatuhkan orang lain.

Saya terkejut mendengar khotbah dari seorang rekan yang mengatakan bahwa kehancuran dunia modern karena dibangun oleh satu filsafat yang merusak sekali yang merupakan semangat zaman yaitu superioritas yang dibangun dengan jiwa kompetisi. Orang didorong untuk menjadi yang paling hebat. Untuk menjadi paling hebat berarti harus merendahkan/ menjatuhkan orang lain dengan segala cara, orang lain harus selalu di bawah dan tidak boleh menjadi lebih hebat dari kita. Kalau semangat kompetisi ini menguasai kita, maka tanpa sadar kita akan memakai semangat ini di dalam gereja juga. Kita seharusnya rela membangun orang lain, bahkan rela orang lain bisa lebih dari kita. Dunia tidak suka akan hal ini, dunia cenderung menghancurkan orang lain demi supaya superioritas tidak terganggu.

b. cara untuk menopang agar kita dapat menanggung kelemahan orang lain dan membangun orang lain adalah: kalau dibangun diatas relativitas maka kecelakaan akan terjadi. Kunci agar tidak terjadi perpecahan adalah semua relativitas ditarik ke absoluditas, ditarik kearah yang mutlak, maka akan terbentuk kesatuan yang bersifat langgeng. Kalau kesatuan berjalan berdasarkan kepentingan seseorang, kalau orang tersebut berhenti maka kesatuan itu juga akan berhenti.

Kunci dari absoluditas adalah:

- di dalam diri Kristus sebagai kebenaran yang sejati yang berinkarnasi (Roma 15:3). 

- balik kepada Firman, Alkitab sebagai kebenaran yang tertulis (Roma 15:4).

Setiap hal yang dilakukan untuk menyenangkan sesama, membangun sesama, adalah berdasarkan kepada kebenaran yang sejati yaitu Kristus. Semuanya harus berpusatkan pada Kristus. Gereja akan rusak kalau dijalankan berdasarkan kepentingan pribadi. Melayani Tuhan adalah mempersatukan diri untuk kepentingan Tuhan.

Seorang jemaat yang memiliki usulan, perlu menguji usul tersebut yaitu:

- apakah kita memiliki kepentingan di dalamnya, kalau ada kepentingan diri maka hentikan usulan tersebut karena diwarnai egoisitas;

- kalau tidak ada kepentingan diri di dalamnya, maka kita harus bergumul di hadapan Tuhan yang sudah membukakan visi kepada kita, kapan kita harus berbicara;

- bagaimana visi tersebut harus kita jalankan, karena visi tersebut khusus dibukakan bagi kita bukan bagi semua orang maka kita yang harus terlebih dahulu menjalankannya. Semua kerja harus dikembalikan untuk kebenaranNya dan kerajaanNya, maka semuanya akan berjalan dengan beres, gereja akan bersatu.

c. cara membangun orang adalah unik.

Menolong orang yang lemah merupakan kewajiban tetapi caranya harus dipikirkan dengan sungguh, karena seringkali kita mencari penyelesaian yang mudah bagi diri sendiri pada saat kita menolong orang lemah. Kalau kita tidak menolong orang lain, kita merasa bersalah; jadi menolong orang untuk menyelesaikan rasa bersalah di dalam hati kita. 

Kalau seandainya ada orang yang mengangkat beban 50 kg dengan susah payah, sedangkan bagi kita hal itu sangat mudah dan ringan, maka kita menolong dia dengan mengangkatkan beban tersebut. Kalau seandainya ada orang yang sangat kekurangan sampai tidak bisa makan, kita beri dia uang 1 juta yang bagi kita adalah uang kecil. Apakah kedua tindakan diatas termasuk kategori menolong? Alkitab mengatakan: TIDAK. Keduanya adalah tindakan membunuh karena kita selama-lamanya akan melumpuhkan dia.

Alkitab bukan mengajar orang untuk sekedar menolong, melainkan membangun, bagaimana dia bisa keluar lewat dari kondisi dia sekarang. Membangun berarti harus terjadi perubahan di orang itu secara positif dari kondisi sebelum ditolong. Yang kuat menolong yang lemah supaya yang lemah bisa bangun. Kalau kita setiap kali mengangkatkan beban 50 kg dalam ilustrasi diatas, maka orang yang kita tolong dapat menjadi tidak kuat mengangkat bahkan beban 1 kg pun, dia seharusnya berlatih untuk dapat mengangkat beban tersebut, dari 1 kg menjadi 2 kg, dst, itulah yang namanya bertumbuh.

Di dunia juga dikenal pepatah yang mengatakan bahwa menolong janganlah memberi ikan melainkan memberi pancingnya. Tetapi itu hanyalah menjadi sekedar teori karena tidak mengenakkan bagi yang menolong. Menolong dengan memberi ikan adalah cara yang paling enak untuk melepaskan rasa bersalah dengan cepat; kalau kita memberi pancing, kita masih harus mengajari dia bagaimana cara mancing, bagaimana cara memproses ikannya, dll. Tuhan ingin kita membangun orang lain. Untuk membangun orang lain perlu pengorbanan. Itulah jiwa kekristenan. Ketika menolong, sampai berapa kita punya niat untuk kembali kepada Firman Tuhan, sampai berapa kita tidak pragmatis, tetapi betul-betul mendidik dan membangun sesuatu yang bersifat esensial, memberikan hidup bagi dia.

Sesama jemaat marilah kita saling menopang. Kita akan menghadapi krisis yang berat di tahun depan, saya berharap: kekuatan jemaat bersama saling menopang, saling maju, kita ingin menjadi jemaat yang memiliki kualitas yang semakin meningkat. Dalam situasi krisis, justru bukan tempatnya kita menjadi pengemis, dan mengandalkan orang lain, tetapi justru yang kuat menopang yang lemah supaya dapat bangkit menjadi kuat, yang kualitas rendah menjadi naik supaya bisa tetap bertahan. Ada 4 prinsip kerja menurut Calvin yaitu:

1. kerja keras, berani membanting tulang

2. kejar kualitas tertinggi, kita harus mengejar setinggi mungkin kualitas kita.

3. hemat (tidak mencari keuntungan besar, tidak menjadi lintah darat), betul-betul ketatkan pengeluaran, tidak berfoya-foya. Hemat bukanlah pelit dan ngawur. Hemat berarti mengejar kualitas setinggi-tingginya dengan harga seminim mungkin.

4. memberikan persembahan kepada Tuhan, menolong orang lain.

 Hasil akhir dari ketaatan kita akan Firman Tuhan di atas adalah semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Roma 15:6 mengatakan bahwa biarlah kita dengan satu hati dan satu suara memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Semua kita harus menjadi saksi yang menyaksikan Kristus di tengah-tengah dunia. Gereja terdiri dari orang-orang yang rela mau taat kepada Tuhan. Bolehlah ini menjadi kekuatan bagi kita. Amin.  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)