|
Ringkasan Khotbah : 07 Desember 2008
Nats: Matius 21:28-32 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Matius 21:28-32 merupakan salah satu bagian dari dialog antara Tuhan Yesus dengan imam-imam kepala dan para penatua Yerusalem yang ditulis dalam Matius 21:23-46. Orang-orang itu datang kepada Tuhan Yesus dengan maksud menjepit Tuhan Yesus dengan pertanyaan : dengan kuasa apa Engkau melakukan pembersihan di Bait Allah, mengajar di Bait Allah. Tuhan Yesus tidak menjawab pertanyaan mereka karena disinilah adanya isu tentang “baik” dan “benar”, dimana Tuhan Yesus tahu bahwa jawaban yang “benar” justru akan dilihat “tidak baik” dan menimbulkan reaksi yang luar biasa. Tuhan Yesus justru melemparkan satu pertanyaan : menurut kamu, baptisan Yohanes berasal dari surga atau dari manusia. Tuhan Yesus mau menjawab kalau pertanyaan yang Dia berikan dijawab terlebih dahulu. Jawaban atas pertanyaan Tuhan Yesus kembali mengenai yang “baik” dan yang “benar”. Orang-orang itu tahu, kalau mereka memberikan jawaban yang “benar” efeknya tidak baik bagi mereka maka mereka memberikan jawaban yang “baik” yaitu: kami tidak tahu. Tuhan Yesus lalu menjawab: kalau kamu tidak menjawab, maka Aku pun tidak akan menjawab pertanyaan kalian. Jawaban orang-orang itu yaitu: kami tidak tahu, adalah merupakan isu yang sangat serius karena disitulah terlihat bahwa “baik” dan “benar” begitu tajam terpilah. Semua “kebaikan” yang tidak dalam “kebenaran” merupakan “baik” yang kosong nilainya. “baik” tidak bisa kita ganti dengan “benar” karena keduanya merupakan 2 hal yang terpisah. Kristus hendak menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap “baik” justru membinasakan. Maka Tuhan Yesus mengejar lagi dengan perumpamaan yang akan kita bahas pada hari ini yaitu pada Matius 21:28-32.
Perumpamaan dalam Matius 21:28-32 menceritakan tentang anak sulung yang mendapatkan perintah dari bapanya, menjawab “ya” tetapi kemudian tidak melakukannya; sedangkan anak kedua yang mendapatkan perintah yang sama, menjawab “tidak mau” tetapi kemudian menyesal dan melakukan perintah tersebut. Tuhan Yesus bertanya kepada imam-imam kepala dan para penatua: anak yang manakah yang melakukan kehendak bapanya? Orang-orang itu menjawab: yang terakhir. Mereka tahu jawabannya, Tuhan Yesus juga tahu bahwa orang-orang itu sebenarnya tahu akan asal dari baptisan Yohanes. Maka Tuhan Yesus berkata kepada mereka: sesungguhnya, pemungut cukai dan perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Surga, karena kamu tahu bahwa Yohanes Pembaptis datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu tetapi kamu tidak percaya, sementara para pemungut cukai dan perempuan sundal percaya; setelah kamu melihatnya, kamu tetap tidak menyesal dan tidak percaya juga.
Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan isu ini, ada 1 isu penting yang perlu dijelaskan terlebih dahulu karena isu ini terlalu diekspos dan kelihatan sehingga kalau tidak dibahas akan menjadi masalah. Cerita perumpamaan diatas jika dibandingkan antara teks Indonesia (LAI) dan teks Inggris (NIV, KJV) akan kita jumpai perbedaan yang luar biasa yaitu: dalam teks Indonesia diceritakan bahwa anak yang pertama yang berkata “ya” tetapi tidak melakukan, anak kedua yang berkata “tidak mau” tetapi kemudian menyesal dan melakukannya. Dalam teks Inggris diceritakan sebaliknya, yaitu: anak pertama yang berkata “tidak mau” kemudian menyesal dan melakukan, anak kedua yang berkata “ya” tetapi tidak melakukan. Ternyata kalau diselidiki secara eksegetikal, dalam manuskrip-manuskrip tertua (ada 4 buah) memang memiliki 2 versi yang sama kuatnya. Sampai sekarang, para ahli tetap dalam kebingungan untuk memutuskan yang mana yang lebih benar. Sumber manuskrip yang dipakai LAI memang berbeda dengan sumber manuskrip yang dipakai NIV, KJV. Jadi tidak bisa disimpulkan mana yang lebih benar. Sangat jarang ditemukan kasus kata yang memliki tingkat kesulitan seperti kasus ini. Beberapa penafsir (dan saya juga setuju) mengatakan bahwa tidaklah perlu kita mencari mana yang benar dalam hal ini karena ini pasti ada dalam rencana Tuhan yang memiliki maksud tersendiri. Hal ini memiliki kepentingan yang sangat serius dalam hermeneutika kita, karena dengan Tuhan membiarkan adanya gesekan ini akan membuat kita tidak menjadi salah tafsir. Dengan adanya 2 versi ini tidak menyebabkan kita menerapkan prinsip alegori yang berlebihan seperti: anak pertama melambangkan siapa, anak kedua melambangkan siapa, yang taat itu siapa dan yang tidak taat itu siapa. Jadi isu utama dalam hal ini adalah bukan pada anak pertama atau anak kedua melainkan adanya 2 model manusia yaitu yang selalu berkata “ya” tetapi tidak pernah melakukannya dan model manusia yang berkata “tidak” kemudian menyesal dan menjalankannya.
Problematika ayat ini yang hendak ditajamkan oleh Tuhan Yesus mencakup 3 isu besar yaitu:
1. Isu ketaatan
Anak pertama seolah-olah taat tetapi kemudian tidak taat sedangkan anak kedua sebaliknya.Tuhan Yesus bertanya: siapakah yang melakukan kehendak bapanya? Isu dalam kekristenan adalah isu ketaatan. Percaya adalah taat. Orang yang tidak taat akan masuk neraka.
Dalam Matius 7:21 dikatakan bahwa: bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Surga.
Ada yang mempertanyakan relasi ayat ini dengan ayat dalam 1Korintus yang menyatakan bahwa: tidak mungkin orang bisa berseru Yesus Tuhan kalau bukan dari Roh Kudus. Kalau memang dari Roh Kudus maka pasti orang tersebut adalah orang Kristen, orang yang sudah diselamatkan.
Konteks kedua ayat tersebut diatas sangat jauh berbeda. Konteks 1 Korintus adalah orang mengatakan: Yesus Tuhan, dalam keadaan menderita bahkan mengandung resiko kehilangan nyawa, maka pengakuan tersebut pasti dari Roh Kudus. Pengakuan itu tidak boleh sembarangan dinyatakan pada zaman itu. Lain halnya kalau pengakuan itu dilakukan di Indonesia pada hari ini, pengakuan itu tidak ada pointnya dan tidak menjamin keselamatan seseorang. Hal ini cocok dengan konteks ayat Matius 7:21 yaitu: kamu berseru Yesus Tuhan, sudahkah kamu melakukan kehendak Bapa di Surga? Inilah point dari ketaatan. Jadi, kalau kalimat pernyataan iman itu memberikan suatu kepenuhan iman menyatakan diri beriman dan sungguh-sungguh menyatakan ketaatan atas proklamasi itu dan untuk itu harus meresikokan nyawanya maka itu pasti dari Roh Kudus. Iman Kristen adalah iman ketaatan. Jawaban yang “baik” hanyalah omongan belaka yang tidak dilakukan, semuanya menjadi percuma. Iman Kristen bukan karena rajin ke gereja, mendapatkan segala sesuatu, menjalankan berbagai ritual Kristen, tetapi harus TAAT kepada Tuhan. Dalam setiap kesulitan yang kita hadapi, Tuhan berjanji akan selalu menjaga kita, asalkan kita taat menjalankan kehendakNya.
2. Isu percaya
Imam-imam kepala dan para penatua tidak mau percaya pada saat mendengar seruan untuk bertobat dari Yohanes Pembaptis. Setelah mereka melihat fakta, hasilnya yaitu para pemungut cukai dan perempuan sundal bertobat, mereka tetap tidak mau percaya dan bahkan tidak menyesal. Mereka tetap keras kepala menyatakan ketidaksetujuan mereka. Inilah yang disebut: bebal.
Iman Kristen adalah iman yang dapat menerobos keluar dari sistem relatif yang tertutup. Objek iman bukanlah ke dalam diri kita sendiri. Kita bukanlah objek kepercayaan yang patut dipercayai, karena kita adalah bersifat relatif, berdosa, bodoh, tidak punya hak, tidak punya bijaksana. Kita harus bongkar sistem diri yang tertutup ini dan keluar untuk dapat meraih objek kepercayaan di luar diri sendiri, yaitu kembali kepada kebenaran absolut yang sejati. Hanya kebenaran absolut inilah yang berhak merupakan sistem tertutup karena di dalam keabsolutanlah kebenaran dapat menjadi mutlak. Di luar kebenaran pasti “salah”.
Imam-imam kepala dan para penatua terlalu yakin kepada diri mereka sendiri, apa yang sudah mereka tetapkan “salah” dianggap “selalu salah”, sampai akhirnya terbukti “benar” pun bagi mereka “tetap salah” karena penilaian mereka yang menentukan. Mereka begitu sombong, begitu tertutup, memutlakkan diri yang relatif. Inilah yang disebut relativitas mutlak, yang akhirnya menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri. Sebaliknya, para pemungut cukai dan perempuan sundal menyesal dan bertobat, inilah iman yang sejati. Iman sejati adalah iman yang kembali kepada objek iman yang sejati. Iman sejati adalah beraninya kita membuka diri, mengakui semua kesalahan kita, lalu bertobat, sungguh-sungguh hidup berubah, tidak memegang diri sendiri tetapi selalu taat kepada perintah Tuhan.
3. Isu beban berat
Anak pertama ketika berkata “ya” dalam hatinya tidak mau karena susah, capek, berat, sengsara. Anak kedua berkata “tidak” karena susah, capek, berat, sengsara. Keduanya sama. Manusia pada dasarnya mau yang enak, yang mudah. Inilah sifat manusia berdosa yaitu: hedonis, materialis. Sifat yang seperti inilah yang membuat kita mati. Yang seharusnya adalah: berani bayar harga, berani berkorban, karena kembali kepada isu kebenaran bukanlah hal yang ringan. Ketika kita kembali kepada “content of the burden” (isi dari beban) harusnya membuat kita mengerti: kerja keras, tantangan berat, kualitas kerja harus nyata dalam hidup kita.
Tuhan Yesus berkata: barangsiapa mau mengikut Aku harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku. “beban” adalah sesuatu yang begitu berat yang tidak kita sukai, yang membuat kita sulit dan tidak mampu mengerjakan, yang tetap harus kita kerjakan karena Tuhan yang perintahkan. Beban sejati adalah bukan menjalankan apa yang kita mau tapi menjalankan apa yang Tuhan mau untuk kita kerjakan sekalipun untuk itu kita sangat tidak suka, merasa sangat sulit dan harus bayar harga. Orang yang hanya mau mengerjakan apa yang dia mau akan menghancurkan diri, dan masa depannya. Sangkal diri adalah berkata “tidak” kepada yang dia mau, inilah kunci pertama untuk mengikut Tuhan. Saat kita tidak dapat sangkal diri, kita tidak akan dapat mengerti apa itu beban, dan saat itulah kita berada dalam beban yang paling berat. Pada saat kita tidak mau menanggung beban, bukan berarti beban tersebut hilang, tetapi justru saat itulah beban menjadi paling berat sampai kita tidak mampu menanggungnya. Tuhan berkata : kalau engkau berbeban berat, datanglah kepadaKu, Aku akan beri beban baru yang ringan.
Cara Tuhan adalah menuntut kita menyerah habis kepada Tuhan, Tuhan akan beri kita beban dan kesulitan untuk kita jalankan agar kita tetap bisa bertahan hidup. Manusia seringkali tidak suka akan hal ini, karena menyangkal diri sangatlah sulit. Inilah problem dari imam-imam kepala dan para penatua juga, mereka takut mengakui kesalahan mereka dan kemudian harus bayar harga atas kesalahan mereka. Manusia seharusnya tidak boleh menangisi nasib/ takdir pada saat di dalam penderitaan, melainkan harus bekerja keras senantiasa. Matthew Henry mengatakan bahwa beban-beban yang Tuhan berikan kepada kita adalah untuk melatih kita. Latihan ini untuk mendidik kita supaya mempunyai kekuatan dan kedewasaan. Bagaimana kita menanggung beban kita, dengan menyangkal diri dan memikul salib, akan membuat kita bisa melihat kebenaran. Ketika kita menolak penderitaan, kesulitan dan penyangkalan diri, kita tidak akan dapat melihat kebenaran. Untuk melihat kebenaran, kita harus membuka mata kita; untuk membuka mata kita, kita harus menanggung beban kita dan menyangkal diri.
Imam-imam kepala dan para penatua berdialog dengan Tuhan Yesus sampai ke posisi yang menjepit mereka karena faktor:
1. kejujuran
Melihat pada cerita perumpamaan diatas, anak yang manakah yang lebih menyenangkan orang tua? Kebanyakan orang tua senang dengan model anak pertama, hal ini akan membentuk sifat yang tidak jujur, membentuk anak yang hanya suka menyenangkan telinga/muka tetapi tidak pernah melakukan (sifat munafik). Di dunia ini begitu banyak omongan basa-basi, sehingga kejujuran tidak pernah terbangun; tetapi begitu ada yang bicara benar, banyak orang akan marah dan tidak bisa terima. Imam-imam kepala dan para penatua tidak mau berkata jujur tentang kesalahan mereka. Kita harus senantiasa belajar bersikap jujur, benar dan beres karena kita bukan berhadapan dengan wajah manusia berdosa melainkan berhadapan dengan wajah Allah yang senantiasa menuntut kebenaran bukannya kebaikan.
2. proses pertobatan
Kita cenderung untuk gampang dan cepat sekali menjawab. Begitu kita menjawab, obligasi kita untuk berproses selesai, kita lepas tanggung jawab. Jawaban kita cenderung membela diri dan menyalahkan orang lain. Tetapi pada waktu kita tidak bisa menjawab, kita akan bertanya kepada Tuhan: mengapa begini Tuhan, apa salah saya, saya harus bagaimana; lalu kita mengakui kesalahan kita dan bertobat. Inilah proses, inilah pergumulan yang mengkoreksi seluruh hidup kita.
Menurut psikologi, setiap manusia akan memasang benteng yang berlapis-lapis untuk melindungi diri, inilah yang disebut dengan defense mechanism. Hal inilah yang membuat kita tidak bisa terbuka lagi dan tidak bisa mengkoreksi diri lagi. Defense mechanism adalah tidak wajar di mata Tuhan dan dapat mematikan manusia. Tuhan ingin semua defense mechanism ini dikupas satu persatu sampai akhirnya kita telanjang di hadapan Tuhan, hancur di hadapan Tuhan, baru kemudian proses ke dalam diri, mengakui kesalahan, bertobat, dan hidup benar.
Iman Kristen yang baik tidak pernah meng-instant-kan segala sesuatu. Janganlah kita coba-coba mempercepat proses, karena begitu kita mempercepat proses, yang naik bukanlah isinya tetapi gas semata. Setiap kali ada pergumulan, harus ada waktu yang dipakai. Kedewasaan dan kerohanian tidak bisa dipercepat, harus melalui pergumulan yang berat yang harus dilewati satu persatu, dan waktu itu harus ada harga/ tuntutan yang harus dibayar, dan untuk itulah kita menjadi maju. Tuhan ingin melihat proses kita menggarap pergumulan kita sampai tuntas.
Setiap manusia adalah berdosa, tapi inti persoalannya bukan di situ, pointnya adalah mau atau tidak kita mengakui kesalahan kita dan kemudian berproses dalam pertobatan. Kita akan semakin bertumbuh ketika kita rela diproses oleh Tuhan. Imam-imam kepala terlalu merasa hebat di posisi yang tinggi, otoritasnya mengunci dia sendiri, sehingga mereka tidak bisa mengakui kesalahan mereka dan bertobat.
3. sikap hati manusia.
Inti hati kita jauh lebih menentukan daripada apa yang keluar dari mulut kita. Apa yang keluar dari mulut kita harus selalu diverifikasi dari apa yang ada di dalam hati kita, apa yang kita katakan sudah jujur ataukah belum, apa yang kita katakan adalah “benar” ataukah sekedar “baik” untuk menyenangkan orang lain.
Tuhan tidak peduli dengan tampilan kita tetapi Tuhan ingin melihat sikap hati kita. Anak pertama manis jawabannya tetapi hatinya tidak sebagus tampilannya, maka masuk nerakalah dia. Anak kedua memiliki hati yang lembut, mau menyesal dan kemudian melakukan perintah bapanya; inilah yang disukai Tuhan. Jadi yang terpenting adalah hati yang lembut, yang masih “berdaging”, yang tidak mengeras, tidak bebal, tidak beku, tidak terkena kanker, yang membuat manusia mau bertobat dan kembali kepada Tuhan. Seperti apakah hati yang kita miliki? Orang lain tidak dapat tahu akan hal ini, tapi Tuhan tahu persis apa yang ada dalam hati kita. Iman seharusnya membawa kita kepada sikap hati yang murni, yang mau betul-betul kembali kepada Tuhan, mau taat kepada Tuhan, mau setia kepada Tuhan. Semuanya itu tidak mudah untuk dilakukan, tetapi Tuhan akan memberikan anugerahNya. Tuhan berkata: Aku bersedia ditemui asalkan engkau betul-betul mencari Aku. Mari kita belajar berkata kepada Tuhan: Tuhan, saya bukanlah apa-apa, saya mau hati saya kembali kepada Tuhan. Biarlah ini menjadi permohonan di sepanjang hidup kita. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)