Ringkasan Khotbah : 30 November 2008

The Power or the Truth

Nats: Matius 21:23-27

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Berita utama yang hendak diungkapkan dalam Matius 21 adalah pada ayat 23-46 yaitu mengenai bagaimana Tuhan Yesus berhadapan dengan imam-imam kepala dan para penatua masyarakat. Matius 21:23-27 merupakan bagian yang kritis dan hanya ujung dari perdebatan antara Tuhan Yesus dengan imam-imam kepala dan para penatua masyarakat. Perdebatan ini tidak lepas dari kejadian sehari sebelumnya yaitu ketika Tuhan Yesus membersihkan Bait Allah. Kali ini ketika Tuhan Yesus masuk kembali ke Bait Allah, imam-imam kepala dan para penatua kembali menghadapi Dia. Perdebatan ini terus berlangsung sampai Tuhan Yesus diperhadapkan ke pengadilan dan akhirnya disalibkan.

Melalui Matius 21:23-27 ini kita belajar satu pola yang Tuhan Yesus bukakan kepada kita tentang apologia Kristen, bagaimana orang Kristen harus berhadapan dengan dunia yang melawan Dia, bagaimana orang Kristen harus berhadapan dengan tantangan-tantangan dunia, apa yang harus kita lakukan dalam kondisi yang seperti ini dan bagaimana respon kita dalam bagian ini. Yang perlu kita sadari adalah kita bukanlah berhadapan dengan orang dunia melainkan 2 kelompok yang diwakili oleh 2 orang ini. 2 kelompok ini bukanlah kelompok yang sembarangan. Di sini ada 2 posisi yang sangat menentukan yaitu:

1. kelompok agama yang diwakili oleh imam-imam kepala. Imam kepala seharusnya tunggal karena merupakan posisi tertinggi, tetapi karena rusaknya kerohanian orang Yahudi pada waktu itu dan terjadinya persaingan maka naiklah 2 orang menjadi imam kepala yaitu Hanas dan Kayafas. Imam kepala berfungsi sebagai hakim agama, kepala tertinggi Mahkamah Agama. 

2. kelompok sipil yang diwakili oleh para penatua. Para penatua ini adalah kepala-kepala puak/ suku yang dianggap paling berotoritas, paling bijaksana, paling berwibawa. Para penatua ini berfungsi sebagai hakim sipil.

700-800 tahun sampai 1000 tahun SM yaitu zaman Tawarikh, di 2Tawarikh 19 sudah ditetapkan adanya 2 posisi diatas yaitu pengadilan agama dan pengadilan sipil yang ditangani oleh para penatua. Dalam Amsal 31 diungkapkan tentang istri yang bijak yang suaminya menjadi penatua dan penatua ini duduk di pintu gerbang kota. Penduduk kota yang sedang bermasalah akan pergi ke gerbang kota. Penatua yang ada di gerbang kota akan memberikan nasihat atau mengadakan pengadilan; pengadilan ini bersifat sah pada zaman itu. Jadi pada waktu itu ada 2 otoritas yang dapat melakukan pengadilan yaitu hakim agama dan hakim sipil/kemasyarakatan, dan keduanya mewakili kelompok rohaniawan/ spiritual dan kelompok umum.

Secara apologia kita berhadapan dengan 2 kelompok ini, bukannya sekedar orang dunia. Kita berhadapan dengan orang yang katanya rohani tetapi konsepnya melawan Tuhan Yesus, melawan Firman, melawan kebenaran Tuhan. Dalam kondisi yang seperti ini, mari kita belajar apa yang perlu kita perhatikan dan kita lakukan, yaitu :

1. Apa yang dipermasalahkan dan dibicarakan.

Seorang hakim seharusnya berdiri tegak menyatakan kebenaran. Tugas hakim pada saat menghakimi adalah mempertanyakan benar atau salah, mencari pihak yang benar dan pihak yang salah dengan melakukan observasi kasus. Seorang hakim yang berintegritas akan selalu bertanya mana yang benar dan mana yang salah. Pentingnya pengadilan adalah mengembalikan posisi kebenaran dan keadilan. Inilah hal utama yang Tuhan Yesus ingin tegakkan. Cara berurusan hakim waktu itu oleh Tuhan Yesus diputar dan dikembalikan ke posisi yang seharusnya yaitu berurusan dengan kebenaran dan keadilan. Itulah tugas yang harus kita bereskan yaitu membawa manusia/ dunia kembali kepada kebenaran. Tetapi pertanyaan hakim ini, baik hakim agama maupun hakim sipil, tidaklah mengarah kesana, mereka bukannya bertanya: apakah yang Kau kerjakan benar atau salah; mereka justru bertanya: dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?

Permasalahan ini bukan hanya terjadi pada abad pertama tetapi juga terjadi sampai abad 21 ini. Pengadilan yang brengsek akan mempertanyakan hal yang sama, yaitu kamu datang memakai kuasa siapa? Inilah masalah yang besar dan utama yaitu: kuasa anda sampai mana, anda punya kuasa atau tidak? Benar atau salah bukan lagi menjadi hal penting. Orang yang punya kuasa akan memperoleh berbagai kemudahan (semuanya bisa diatur), tetapi bagi orang yang tidak punya kuasa semuanya menjadi salah dan bisa mematikan. Pertanyaan itu dipaparkan di hadapan banyak orang yang juga setuju mempertanyakan tentang asal kuasa Tuhan Yesus, dari Romawikah atau dari Herodeskah atau dari mana? Kalau kamu tidak memiliki kuasa, maka habislah kamu! Imam-imam kepala dan para penatua sudah mengatur sedemikian sehingga jawaban apapun yang dikeluarkan oleh Tuhan Yesus pasti salah. Mereka menjepit Tuhan Yesus di posisi yang unik yang pasti kalah karena Tuhan Yesus memang tidak punya kedudukan, tidak punya status jubah, tidak punya posisi sebagai imam.

Tetapi Tuhan Yesus menjawab dengan sangat taktis, yaitu: saya akan bertanya, kalau kamu menjawab pertanyaan saya maka saya akan menjawab pertanyaanmu. Pertanyaan Tuhan Yesus adalah: baptisan Yohanes dari mana, dari surga ataukah dari manusia? Sekarang permasalahan berbalik, semua orang ganti menanti jawaban imam-imam kepala dan para penatua. Ini adalah masalah benar atau salah. Posisi mereka menjadi terjepit, kalau mereka menjawab: dari Tuhan, maka Tuhan Yesus akan bertanya: mengapa kamu tidak percaya? Tetapi kalau mereka menjawab: dari manusia, maka orang banyak yang sudah memperoleh berkat dari Yohanes pasti akan marah. Kalau sudah serba salah seperti itu, mereka dan juga kita semuapun melakukan hal yang sama yaitu menjawab:kami tidak tahu. Ini adalah melarikan diri dari tanggung jawab.

Permasalahan pertama ini sangatlah krusial karena bersifat laten. 300 tahun sebelum Tuhan Yesus mengalami kasus seperti ini, Socrates sudah mengalami kasus yang sama. Dan sejak itu terjadilah pergeseran yang amat dahsyat dalam seluruh epistemologi manusia. Kehadiran Socrates di muka bumi ini memiliki unsur penting yaitu membawa manusia menyadari kebenaran. Socrates pada waktu ditanya: apakah engkau sudah menguasai kebenaran, engkau tahu kebenaran, apakah engkau pengajar kebenaran? Socrates menjawab: saya tidak menguasai kebenaran, saya bukan pengajar kebenaran dan bukan pemilik kebenaran, saya hanyalah bertanya-tanya dan mencari kebenaran dan berharap satu hari nanti kebenaran itu boleh muncul; saya lebih baik menyebut diri saya: “bidan kebenaran”; melalui saya bertanya, semoga ada kebenaran yang muncul. Socrates selalu menantang orang tentang: apa benar hal itu, yang benar seperti apa? Hal ini membuat orang menjadi berpikir dan mencari yang benar. Akibatnya: pada waktu itu semakin banyak orang yang mencari kebenaran. Anak-anak muda yang mencari kebenaran mulai melihat bobroknya atasan-atasan mereka, mereka mulai tahu betapa tidak beresnya metafisika yang dipegang oleh orang-orang Yunani pada waktu itu. Atasan-atasan mereka menjadi benci dan menuduh Socrates sebagai pengrusak generasi muda dan pengracun budaya Yunani. Maka Socrates harus dijatuhi hukuman mati. Seorang yang betul-betul berjuang untuk mengejar kebenaran, upahnya adalah kematian. Plato, murid Socrates, merasa jengkel dan kemudian meninggalkan Athena. Beberapa tahun kemudian, Plato masuk kembali ke Athena, dan dia menyodorkan suatu permasalahan yang baru yaitu: epistemologi diputar/ digeser. Maka sejak zaman Plato ke belakang, kita tidak lagi mendengar pertanyaan: benar atau salah, dari mana tahu akan kebenaran, apa itu kebenaran. Plato menggeser seluruh upaya manusia menuju aspek sommom bonum yaitu kebajikan tertinggi. Seluruh dunia mengalami pergeseran bahkan sampai abad 21 ini (sudah 24 abad sejak zaman Plato), kita juga menjalankan hal yang sama, kita tidak lagi bertanya tentang benar atau salah melainkan tentang apa yang baik dan yang kurang baik. Mari kita mencoba mengganti kata “baik” dengan kata “benar”, kita pasti akan berpikir panjang untuk itu, karena sesuatu yang baik belum tentu benar. Baik tidaklah identik dengan benar. Seringkali untuk menjadi baik kita menjadi tidak benar. Kita menjadi begitu pragmatis, kita lebih suka berbicara tentang yang baik daripada yang benar. Padahal “baik” adalah suatu hal yang kosong, tidak ada makna dan isi di dalamnya. Sommom bonum sebenarnya tidak pernah tercapai dalam hal ini. Ketika “benar” digeser menjadi “baik”, sebenarnya jatuhnya jauh luar biasa. Di sini kita melihat bahwa dunia kita sedang bermain, seolah-olah memiliki verifikasi satu nilai tetapi kalau kita kejar, nilai itu kosong, karena “baik” sejati baru bisa dibicarakan kalau berada dalam kebenaran. Di luar kebenaran tidak ada kebaikan. Semua kebaikan di luar kebenaran hanyalah merupakan kejahatan, bahkan semua kebaikan yang dibicarakan di luar kebenaran sebenarnya adalah tidak ada kebaikan. Kebenaran adalah kunci utama. Dari kebenaran itu baru bisa membicarakan hal yang lain seperti: keadilan, kesucian, kebajikan, kemuliaan, kejujuran/ ketulusan. Kebenaran menjadi inti dari semua aspek. Kalau kebenaran itu hilang, maka semua hal yang ada dibawahnya juga hilang nilainya. Maka ketika imam-imam kepala dan para penatua kehilangan esensi yang utama yaitu masalah kebenaran, semua pembicaraan menjadi kacau. Tuhan Yesus mengajak mereka balik membicarakan kebenaran dengan mempertanyakan tentang asal baptisan Yohanes, dari surga atau dari manusia, atau dengan kata lain: baptisan Yohanes itu benar atau salah. 

Ketika seseorang bermain dengan kebajikan, dia bermain dengan kebajikan yang bersifat subyektif, karena kebaikan bisa dibuat tingkatannya seperti: setengah baik, seperempat baik, dst. Tidaklah demikian dengan kebenaran, kebenaran tidak dapat dikatakan sebagai setengah benar atau seperempat benar atau bahkan 99% benar karena yang demikian adalah bukan kebenaran. “Benar” hanya memiliki 2 kemungkinan yaitu benar atau salah. Benar memiliki sifat obyektif. Jadi hanya ada 2 pilihan bagi kita yaitu balik kepada kebenaran agar menjadi beres atau tidak kembali kepada kebenaran dan menjadi anak setan. Tidak ada posisi tengah, antara surga dan neraka, yang ada adalah posisi surga berarti benar dan posisi neraka berarti penipu. Bapa di Surga adalah Bapa Kebenaran, bapa di neraka adalah bapa penipu.

Kalau kita bermain dengan kebaikan tidak akan ada penyelesaian, maka Machiavelli mengatakan bahwa di tengah relativitas semua kebenaran tergantung pada kuasa. Di dunia yang relatif, penyelesaian terakhir adalah dengan kuasa. Kalau kuat/ kuasa maka akan sekaligus merupakan  kebenaran, keadilan, kesucian, kebaikan, kemuliaan; kuasa adalah segalanya. Maka bagi imam-imam kepala dan para penatua, kebenaran itu tidaklah penting, yang penting adalah kuasa, karena hidup mereka sendiri sudah rusak, mereka sudah berkolusi dengan para pedagang di Bait Allah, bahkan imam kepala sampai berjumlah 2 orang, kebenaran itu sudah tidak ada dalam hidup mereka.

Kita perlu kembali kepada inti dari permasalahan yang ada. Kalau kita mengikuti apa yang disodorkan oleh dunia, kita akan rusak. Matius 21:23-27 ini mengajak kita kembali kepada basis apologia yaitu kuasa kebenaran. Kebenaran itulah yang harus menjadi penguasa, menjadi kekuatan untuk menjalankan apapun. Kebenaran itulah yang menguasai seluruh penguasa, bukan sebaliknya. Inilah kebenaran yang sejati. Melawan kebenaran berarti melawan hidupnya sendiri. Yohanes Pembaptis tidaklah punya jabatan, status, jubah yang keren, tidak punya fasilitas sehingga secara manusia dia bisa dikalahkan oleh penguasa dengan dihukum mati. Perlawanan terhadap baptisan Yohanes mengakibatkan hidup para penguasa itu mengalami konflik tiada henti, mereka dituduh sebagai pengkhianat, karena mereka sudah melawan kebenaran. Sebaliknya Yohanes Pembaptis yang tidak punya apa-apa secara dunia, dia punya satu hal yang penting yaitu kebenaran. Firman Tuhan turun bukannya di Bait Allah melainkan di padang gurun, bukan datang kepada imam kepala tetapi kepada seseorang yang berteriak di padang gurun, maka Firman Tuhan yang dibawa oleh Yohanes Pembaptis memberikan dampak kekal kepada setiap orang yang menerimanya. Melawan kebenaran berarti menempatkan diri keluar dari kebenaran, berarti cari mati sendiri. Kebenaran bersifat absolut dan memiliki kuasa yang besar, maka kita yang balik kepada kebenaran seluruh hidup kita akan balik kepada absoluditas.

2. Format apologetik yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus dalam menjawab pertanyaan imam-imam kepala dan para penatua adalah dengan melontarkan pertanyaan balik.

Pertanyaan ini dalam apologia disebut sebagai “to change the burden of proof” (artinya: memindahkan beban pembuktian), maksudnya adalah memindahkan kepada posisi yang seharusnya, siapa yang bertanggung jawab untuk menjawab. Siapa yang berada di luar kebenaran harus dihakimi oleh orang yang berada di dalam kebenaran. Yang diluar kebenaran tidak berhak menguji maupun menghakimi yang berada di dalam kebenaran. Tuhan Yesus tidak memberikan hak kepada imam-imam kepala dan para penatua yang tidak benar menguji Dia yang adalah kebenaran.

“Burden of proof” menuntut keseimbangan posisi yaitu kebenaran harus diletakkan di titik utama. Orang dunia seringkali menyerang orang Kristen, orang Kristen kemudian kebingungan menjawab dan mencari jawaban yang cocok dengan orang dunia. Hal ini adalah salah. Yang benar tidak perlu mencocokkan diri dengan yang salah, tetapi justru harus sebaliknya. Kalau kita kembali kepada Firman Tuhan, kita tidak perlu takut menjawab dunia.

Tugas kekristenan adalah kita memiliki semua jawaban tetapi tidak menjual jawaban kepada “mulut babi”. Sebelum menjawab, kita harus mempertanyakan pertanyaan yang paling mendasar yaitu tentang benar dan salah, bereskan dulu cara seseorang memverifikasi kebenaran. Orang dunia akan melemparkan pertanyaan untuk menghindari tanggung jawab dia menjawab, inilah yang disebut pengalihan “burden of proof”. Jangan biarkan orang berdosa tidak perlu bertanggung jawab terhadap kebenaran, justru orang berdosa harus disadarkan dan dikembalikan kepada kebenaran.

3. Fakta, kebenaran dan kepercayaan.

Kebenaran harus disinkronkan dengan fakta. Imam-imam kepala dan para penatua sulit untuk menjawab karena apa yang terjadi dan terbukti direinterpretasikan dengan cara yang salah yang mengakibatkan orang sulit untuk masuk ke dalam kebenaran. Seandainya Tuhan Yesus langsung menjawab bahwa Dia adalah Allah, Dia berhak membersihkan rumah BapaNya, hal ini akan langsung membawa Dia ke kayu salib. Orang-orang itu akan marah sekali karena cara mereka melihat sudah tidak cocok dengan kebenaran, meskipun hal itu sesuai dengan fakta. Mau menyatakan kebenaran tidaklah mudah, orang dunia tidak suka akan hal itu dan akan melawan. Kejujuran dengan membuka kebenaran  juga tidak menyelesaikan masalah karena orang dunia tidak suka akan kejujuran. Ketika Tuhan Yesus memberitahukan tentang kebenaran bahwa Dia adalah kebenaran, Dia adalah Anak Allah, hukumannya justru kematian. Dalam kondisi seperti ini, seberapa jauh kita tetap setia menjadi pembawa kebenaran? Memberitakan kebenaran harus bayar harga, perlu tekad, perlu keberanian, ada resikonya. Di posisi yang sulit sekalipun kita harus menjadi pembawa kebenaran. Untuk menjadi pembawa kebenaran perlu diperhatikan beberapa hal yaitu:

a.  seberapa jauh kita membuktikan kredibilitas kita sebagai pembawa kebenaran. Kalau kita hidup rusak, maka siapa yang mau mendengarkan kebenaran yang kita bawa. Di tengah dunia ini tidak ada orang yang beres, lalu siapa yang dapat membawa kebenaran? Kuncinya adalah pertobatan. Tuhan tidak minta kita sempurna tetapi Tuhan minta kita berubah. Melalui waktu, pembuktian pertobatan, orang akan mulai percaya kepada kita.

b.  seberapa jauh kita belajar setia dengan omongan kita. Jangan sampai kita kehilangan persistensi dan konsistensi dalam omongan kita. Kita harus belajar Firman Tuhan baik-baik sehingga omongan kita akan konsisten.

c.  Berani bayar harga untuk kebenaran. Hal ini adalah final.

Pembahasan hari ini, seluruh format apologia Kristen adalah:

a.  Pertanyakan:Tuhan suka atau tidak dengan hal ini. Kalau Tuhan tidak suka, maka kita harus berhenti.

b.  Ganti “baik” dengan “benar”. Kita akan menjadi pencari kebenaran senantiasa.

c.  Kalau perlu harus berani bayar harga untuk mendapatkan kebenaran.

Kalau 3 hal ini dikerjakan, kita akan menjadi murid Tuhan yang sungguh. Kiranya Tuhan pimpin kita.  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)