Ringkasan Khotbah : 23 November 2008

Faith Existence and Function

Nats: Matius 21:18-22

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Matius 21:18-22 ini merupakan perikop ketiga dari keseluruhan Matius 21. Dalam Matius 21 diceritakan bahwa Tuhan Yesus mulai masuk ke Yerusalem dan langkah pertama yang dikerjakanNya adalah membersihkan Bait Allah, kemudian berlanjut dengan peristiwa pohon ara yang dikutuk oleh Tuhan. Untuk menafsirkan perikop ini, tidak boleh dilepaskan dari langkah Tuhan Yesus yang sebelumnya. Setiap kali kita menafsirkan Firman Tuhan, tidak boleh dicopot dari konteks keseluruhan, baik konteks dekat yaitu ayat di atas dan di bawahnya, juga konteks keseluruhan kitab di dalam Alkitab. Mari kita kembali kepada konteks sebelumnya karena perikop ini sangatlah krusial/ berbahaya.

Pada perikop sebelumnya diceritakan bahwa Tuhan Yesus masuk ke dalam Bait Allah dan mengobrak-abrik semua dagangan yang ada di sana, hal ini disebabkan karena seharusnya Bait Allah adalah tempat pusat dimana orang datang kepada Tuhan, beribadah kepada Tuhan, nama Tuhan dipermuliakan, tetapi justru dijadikan tempat berdagang. Tuhan Yesus marah sekali dan berkata : Rumah-Ku akan disebut rumah doa, tetapi kamu jadikan sarang penyamun. Kalimat ini keras sekali. Tuhan Yesus rela menapaki jalan salib/ via dolorosa karena Dia harus berurusan dengan dosa manusia. Untuk itulah Dia datang, Dia harus membersihkan hal itu, Dia harus membereskan sikap-sikap maupun cara-cara manusia yang tidak beres, yang memperlakukan kerohanian dengan cara yang sangat kotor. Mungkin sekali perdagangan di Bait Allah ini juga melibatkan para tokoh “rohaniawan”, para pemimpin agama. Kerusakan laten ini bukan hanya terletak pada dagangannya tetapi juga sudah menggerogoti hati, theologi maupun kerohanian dari para pemimpin agama pada waktu itu. Cerita ini akan melandasi perikop ketiga yang merupakan bahasan kita pada saat ini.

Matius 21:17 merupakan titik tolak dari ayat berikutnya. Disana diceritakan bahwa Tuhan Yesus dari Yerusalem pergi ke Betania dan bermalam di situ, pada pagi harinya Tuhan kembali ke Yerusalem. Andaikata kita copot perikop ini tanpa melihat konteks keseluruhannya, maka akan timbul beberapa kesesatan yaitu :

1. Tuhan Yesus dapat disimpulkan sebagai orang yang luar biasa mementingkan perutnya.

Ketika pagi-pagi berjalan menuju ke Yerusalem, Tuhan Yesus merasa lapar. Dia melihat ada pohon ara di dekatNya, tetapi pohon itu tidaklah berbuah, Tuhan Yesus yang sangat lapar menjadi marah terhadap pohon tersebut, lalu dikutuklah pohon tersebut, Tuhan Yesus begitu egoisnya. Kalau ditafsirkan seperti ini, theologi kita bisa kacau balau. Dari penjelasan pada perikop sebelumnya, justru kita bisa melihat bahwa Tuhan Yesus tidaklah demikian, perikop sebelumnya merupakan patokan yang mengunci dan menunjukkan bahwa tafsiran tersebut diatas adalah salah. Dari konteks sebelumnya, kita bisa melihat bahwa apa yang Tuhan Yesus kerjakan adalah sangat struktural dan sangat theologis. Apa yang Dia kerjakan adalah bersih. Dia membersihkan Bait Allah justru untuk menghindari dosa, melawan dosa, membersihkan dosa supaya orang balik kepada konsep yang benar. Adalah tidak mungkin kalau Kristus yang membereskan dosa justru melakukan hal yang berdosa. Kalau kita melihat perikop sesudahnya yaitu Kristus mengalami penderitaan untuk naik ke atas kayu salib, mati untuk menebus dosa manusia. Mungkinkah Kristus yang rela menderita sedemikian, pada saat lapar bisa begitu emosional sampai mengutuk pohon yang tidak berbuah? Sangatlah tidak mungkin! Berarti ada arti lain yang benar. Disinilah kita melihat pentingnya melihat konteks keseluruhan dan tidak mencomot satu bagian Firman Tuhan begitu saja.

2. Kita akan menjadi orang yang sangat berorientasi kepada segala sesuatu yang bisa memenuhi keinginan kita.

Perikop ini seolah-olah membenarkan bahwa kalau pohon ara tidak bisa memberi kita makan, maka ia berhak mati. Kalimat Tuhan Yesus sesudahnya juga sangat menunjang keinginan manusia yaitu bahwa manusiapun dapat melakukan seperti yang Tuhan Yesus lakukan bahkan kalau manusia percaya dan tidak bimbang maka manusia akan dapat memindahkan gunung; apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan akan kamu terima. Manusia bisa begitu bernafsu, mementingkan kepentingan diri, mengutamakan keinginan diri, dan ditunjang dengan teori dari Abraham Maslow yang mengatakan bahwa manusia bisa menjadi gila kalau keinginannya tidak terpenuhi. Pemikiran diatas bisa membuat kita salah arah, karena sebenarnya perikop ini dikunci dengan kata “percaya dan tidak bimbang”.

Tetapi justru kata ini seringkali terlewatkan karena orientasi pembaca adalah pada kata “apa saja yang kamu minta dalam doa akan kamu terima”. Ego manusia semakin memuncak dengan adanya kalimat ini. Tuhan dijadikan alat pemuas keinginan diri, dan kalau kita tidak menerima keingingan kita, maka kita seolah-olah berhak marah, berhak mengklaim Tuhan, memaki-maki Tuhan. Inikah yang Tuhan mau? Tidak! Tuhan justru mengobrak-abrik dagangan orang di Bait Allah, Dia juga menjadi contoh pengorbanan bagi kita dengan rela mati diatas kayu salib untuk menebus dosa manusia, supaya orang berdosa tidak dibelenggu oleh dosa. Sangatlah tidak mungkin, kalau Dia yang demikian rela berkorban juga mendukung manusia untuk berorientasi kepada kepentingan diri.

3. Semua orientasi hidup kita pada mujizat.

Pohon ara mati, ditambah lagi dengan kemampuan untuk memindahkan gunung, adalah suatu kesaktian yang sangat diinginkan oleh manusia. Manusia ingin pamer kesaktian dan ingin lebih sakti dari manusia yang lain. Ayat dalam perikop ini memberi peluang bagi orang yang berorientasi pada kesaktian. Pada zaman ini seringkali kita mendengar ada orang berkata bahwa dengan ikut Tuhan kita akan memiliki kuasa yang besar bahkan lebih besar dari Tuhan Yesus. Hal ini sangat menyenangkan bagi orang yang mengejar kesaktian. Betulkah perikop ini hendak memberi opsi supaya kita menjadi makhluk sakti? Betulkah perikop ini memberi arah supaya kita berorientasi kepada mujizat? Betulkah kita mencari kuasa-kuasa duniawi seperti itu? Betulkah kita menjadi Kristen supaya mempunyai kuasa dahsyat yang merupakan kebanggaan di zaman New Age ini? Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan Yesus pada saat menjalankan misiNya, yaitu ketika mengobrak-abrik Bait Allah dan di atas kayu salib, justru tidak melakukan mujizat apapun. Tuhan kita bukan Tuhan yang suka pamer untuk sekedar menunjukkan kuasaNya. Kalau kita menjadi orang Kristen yang senang akan kesaktian, kita lebih dekat ke dukun/ setan daripada ke Tuhan.

4. Ayat ini membawa kita kepada konsep “percaya” dalam cara yang sangat salah. Ini yang paling menakutkan. 

Matius 21:18-22 konteks utamanya adalah “percaya”, bahkan sampai dua kali ditekankan. Orang berdosa akan memakai ayat ini untuk mencari kepentingan pada ayat di belakangnya. Percaya kepada Tuhan Yesus tidak lagi menjadi titik utamanya, tetapi yang terpenting adalah apa saja yang diminta akan diterima. “Percaya Yesus” hanyalah menjadi sebuah password. Sebagai contoh, kata “adakadabra” adalah password supaya pintu gua harta karun dapat terbuka. “Adakadabra” ini penting, tapi hanya sebatas sebagai password, yang paling penting adalah harta karun yang ada di dalam gua. Apa arti “adakadabra” tidaklah penting, itu hanyalah sebuah password. Demikian juga halnya dengan “percaya Yesus”, tidaklah penting apa artinya, yang penting adalah dengan “percaya Yesus” kita bisa mendapatkan apa saja yang kita inginkan. Betapa celakanya kalau iman dijadikan hanya sebagai password untuk mendapatkan semua yang diinginkan. Betulkah iman hanya sebuah password untuk menjadikan kita semakin duniawi, semakin egois? Betapa mengerikannya kalau ayat diatas dicopot dari konteksnya walaupun seolah-olah penafsirannya sangat logis.

“Percaya Yesus” bukanlah password melainkan merupakan titik utama dan titik tolak dari semuanya dalam kekristenan. Kalau kita percaya kepada Tuhan Yesus, seharusnya semua yang Dia katakan kita percayai dan kita taati. Kita seringkali mengatakan bahwa kita percaya kepada Tuhan Yesus tetapi semua yang Tuhan katakan kita bantah. Mengapa “percaya” merupakan hal yang begitu krusial?

Pada waktu itu para murid tengah mengalami kehilangan kepercayaan karena pada hari itu para murid mengalami ketakutan yang luar biasa. Sehari sebelumnya, Tuhan Yesus mengobrak-abrik Bait Allah dan para murid ada di sana. Para murid gemetar ketakutan melihat tindakan Tuhan Yesus tersebut karena resikonya sangat besar kalau berhadapan dengan mafia waktu itu. Sama halnya dengan kita saat ini, kalau kita berkata jujur justru mungkin sekali kita dapat masuk penjara. Waktu mereka diajak keluar menuju Betania, mereka sangat lega. Tetapi pagi harinya Tuhan Yesus mengajak mereka kembali masuk ke Yerusalem, mereka kembali ketakutan, mereka takut kalau masuk Yerusalem bisa-bisa tidak bisa keluar lagi, dan hal ini memang terjadi. Kristus tahu akan ketakutan para murid, dan Dia sendiri juga akan mengalami aniaya di Yerusalem. Bagaimana caranya mengajak para murid supaya bisa mengerti apa yang harus mereka lakukan dalam situasi seperti ini? Maka, Tuhan Yesus berurusan dengan pohon ara adalah merupakan suatu demonstrasi agar para murid belajar beriman. Di tengah-tengah badai seperti itu, Tuhan Yesus mengajak kita melihat 3 aspek penting di dalam iman, yaitu:

1. Ayat ini pertama-tama membawa para murid fokus kembali kepada Kristus.

Tindakan Tuhan Yesus terhadap pohon ara membuat para murid kembali fokus kepada Dia. Inilah yang Tuhan inginkan. Fokuslah kepada Tuhan Yesus! Badai di sekitar kita tidaklah bisa dibuang, akan selalu ada, tapi yang penting adalah mata kita fokus ke mana? Pusatkan pandangan mata kita kepada Kristus, itulah inti dari hidup. Dalam Kitab Markus dikatakan bahwa Petrus yang pertama-tama kaget dengan matinya pohon ara tersebut. Petrus tahu bahwa hal ini merupakan masalah inti. Petrus pernah mengalami peristiwa dia dapat berjalan di atas air. Selama mata Petrus fokus kepada Tuhan Yesus, dia dapat berjalan di atas air, gaya gravitasi dan daya tahan air tidak lagi mempan, walaupun pada waktu itu gelombang dan angin tetap ada. Tetapi begitu mata Petrus mulai melihat ke kanan dan ke kiri tenggelamlah dia. Realita kesulitan tetaplah ada, tapi masalahnya adalah di mana fokus kita? Selama Kristus sebagai fokus hidup kita, maka semua hal akan beres. Iman bukan hanya omongan di mulut semata, tetapi iman adalah seluruh hidup kita difokuskan/ diserahkan kepada siapa. Dalam keadaan paling krusial/ bahaya, seharusnya pandangan kita berfokus pada Kristus. Iman sejati bukanlah meniadakan badai, iman sejati membuat mata kita fokus kepada Kristus, melihat kepada Kristus dan melihat apa yang Dia perintahkan, taat kepada apa yang Dia inginkan, setia kepada kebenaranNya. Kalau kita berjalan sendiri di tengah-tengah dunia yang berbadai ini, kita akan mati di tengah-tengah pusaran putaran dunia ini. Badai begitu berat dan kita tidak mungkin bisa tahan, kecuali kita menjangkarkan diri kita kepada Kristus. Itulah fokus iman. Berimanlah kepada Kristus maka kita akan mengerjakan pekerjaan besar. Sejauh mana kita beriman kepada Kristus?

2. Kita percaya untuk apa? Kita harus kembali kepada fungsi utama kita.

Di sinilah Tuhan memberi arti pada matinya pohon ara. Fungsi pohon ara yang seharusnya adalah menghasilkan buah untuk dimakan oleh manusia. Seluruh ciptaan ini Tuhan ciptakan untuk hidup manusia, Tuhan pelihara manusia, maka seharusnya manusia tidak perlu lapar. Inilah yang disebut dengan providensia Allah, yaitu Allah menyediakan semua keperluan umatNya untuk dapat melakukan fungsinya. Pohon ara tersebut penuh dengan daun, sibuk menggemukkan dirinya, tetapi tidak berbuah, maka Tuhan mengutuk pohon tersebut sehingga mati. Peristiwa ini seharusnya membuat orang-orang yang melihat kejadian tersebut refleksi diri, untuk apakah kita hidup di dunia ini. Kalau pohon disediakan Tuhan untuk manusia, maka manusia disediakan untuk siapa? Apakah kita hidup untuk kesejahteraan diri kita dan kemudian kita menjadi takut mati? Kalau demikian, Tuhan akan berkata: matilah engkau! Kembalilah kepada fungsi utamamu! Tuhan ingin kita berbuah. Kita harus kembali kepada fungsi semula. Kita ada bukan untuk menyelamatkan diri, lalu menjadi gendut. Waktu kita takut mati, cari aman sendiri, waktu itu kita mati. Beriman kepada Tuhan bukan memanipulasi Tuhan untuk kepentingan kita, tetapi justru kembali kepada fungsi kita yaitu menghasilkan buah. Tuhan merekrut para murid supaya mereka pergi, dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap. Tuhan memanggil kita menjadi orang Kristen bukan sekedar untuk menikmati surga. Kalau kita berbuah, itu membuktikan kalau kita berpaut pada pokok anggur yang benar, dan kalau kita tidak berbuah maka kita akan dipotong, dibuang dan dibakar. Seharusnya para murid mengevaluasi diri setelah melihat peristiwa pohon ara. Sebetulnya saya dipanggil Tuhan untuk apa, sekarang saya harus  ke Yerusalem tetapi saya takut mati di sana, lalu saya ada untuk apa, apakah hanya untuk menikmati hal yang enak, tetapi ketika Tuhan panggil saya untuk melakukan pekerjaanNya saya lari.

3. Ketika kita hendak menjalankan fungsi kita, kita merasa takut dan tidak mampu, tetapi Tuhan berkata: Saya akan memberi engkau kuasa dahsyat kalau engkau percaya kepadaKu. 

Kuasa di dalam Kristus adalah kuasa terbesar dan terdahsyat di seluruh alam semesta ini karena kuasa itu dijamin oleh Kristus sebagai pusat iman kita. Kalau Kristus berkata A dan kita taat A, maka siapa yang berani berkata B? Kalau kita taat menjalankan keinginan Tuhan, maka Tuhan akan beserta kita, Tuhan akan menjaga kita dengan kuasaNya. Tuhan berkata : semua yang percaya kepadaKu akan Ku beri kuasa untuk menjadi anak-anak Allah, menjalankan misi, menggenapkan apa yang Bapa inginkan, mempermuliakan Bapa di Surga, mewakili Bapa di Surga. Kita tidak perlu takut. Tabraklah semua yang menghalangi kita, asalkan kita berjalan bersama Tuhan dan tidak jalan sendiri, kalau kita jalan sendiri pasti kita akan babak belur. Manusia seringkali ingin jalan sendiri tetapi tetap ingin memiliki kuasa, maka manusia mencari kuasa yang bisa diatur oleh manusia. Kuasa yang bukan dari Tuhan dapat gagal. Kuasa yang dari Tuhan tidak bisa gagal. Iman sejati membuat kita mempunyai kuasa besar. Sangatlah sayang kalau kita tidak pernah mengalaminya.

Gereja kita sudah mengalami kuasa Tuhan yang dahsyat ini. Bagaimana bisa gereja kecil dengan anggota hanya 300 orang dapat menyelenggarakan KKR dengan dana ratusan juta dan dengan jumlah panitia sebanyak 2000 orang? Bagaimana bisa izin gereja keluar dalam waktu hanya 3 bulan, padahal diurus sesuai dengan prosedur yang seharusnya tanpa ada permainan didalamnya? Kalau Tuhan yang mau, maka semuanya bisa terjadi. Jangan paksakan kemauan kita kepada Tuhan. Taatlah pada Tuhan!

Setiap kita ikut Tuhan, Tuhan sediakan kekuatan supaya kita tidak perlu jatuh di tengah-tengah dunia ini, asalkan fokus kita kepada Tuhan bukan kepada diri, asal kita betul-betul mau menjalankan fungsi kita sebagaimana yang Tuhan inginkan, kita betul-betul ada untuk memuliakan Tuhan, untuk menggenapkan rencana Tuhan, maka kuasa Tuhan akan beserta kita. Tuhan berkata : Jangan takut, jangan kuatir, kuasaKu menyertai engkau senantiasa. Jalanlah dan taatlah! ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)