|
Ringkasan Khotbah : 16 November 2008
Nats: 1 Tesalonika 2:14-16 Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta |
Surat 1Tesalonika ini sangatlah menarik karena dari penelusuran latar belakang sejarah dari jemaat Tesalonika, jemaat ini sangatlah menonjol dalam tulisan Paulus. Paulus dengan tiada habis-habisnya mengucap syukur karena jemaat tersebut (1Tesalonika 1:2). Bukan hanya itu, jemaat tersebut juga menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya baik di Tesalonika sendiri, juga di Makedonia dan di Akhaya. Di Makedonia dan di Akhaya terdapat banyak gereja, salah satunya adalah jemaat Korintus dan jemaat Berea. Jemaat di Tesalonika tidaklah sebanyak jemaat di Korintus. Paulus begitu memuji jemaat Tesalonika sebab begitu baik dalam hal pekerjaan imannya, kasih dan ketekunan pengharapannya kepada Tuhan Yesus Kristus (1Tesalonika 1:3). Jemaat Tesalonika ini dapat menjadi teladan yang luar biasa. Hal ini tidaklah terjadi dengan begitu saja.
Paulus juga mengakui bahwa kedatangannya ke jemaat Tesalonika tidaklah sia-sia (1Tesalonika 2:1). Bagi seorang Hamba Tuhan, pelayanan akan sangat menghibur bila terlihat adanya buah-buah pelayanan. Dalam Kisah Rasul 17:2-3 menyatakan bahwa Paulus selama 3 hari Sabat berturut-turut membicarakan bagian-bagian dari Kitab Suci dengan jemaat Tesalonika. Walaupun dalam waktu yang cukup singkat, kedatangan Paulus tidaklah sia-sia, dia dapat melihat adanya pertumbuhan buah-buah pelayangan yang begitu baik. Mengapa Paulus bisa berkata demikian? Kalau kita hanya melihat keindahan suatu bangunan dari bagian yang kelihatan tanpa melihat pondasinya, maka kita akan terkecoh.
Di tengah-tengah sukacita Paulus tersebut, dia menemukan sumber rahasia yaitu jemaat Tesalonika ini dapat menjadi teladan bagi sekitarnya karena:
1. mereka telah menerima Firman Allah yang diberitakan oleh Paulus (1Tesalonika 2:13). Mereka selalu mencari dan menemukan Firman Tuhan dari pemberitaan yang dilakukan oleh Paulus dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai seorang rasul. Inilah yang membuat jemaat Tesalonika semakin lama semakin menjadi teladan.
2. mereka telah menjadi penurut-penurut jemaat Allah di Yudea (1Tesalonika 2:14). Bandingkan dengan 1Tesalonika 1:6 yang menyatakan bahwa jemaat Tesalonika telah menjadi penurut Tuhan. Dalam Kisah Rasul 9:31 diungkapkan bahwa jemaat di Yudea, Galilea dan Samaria hidup damai, dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jemaat Tesalonika disamakan dengan jemaat di Yudea ini. Ada sesuatu yang menyatukan antara jemaat di Yudea, Galilea dan Samaria dengan jemaat Tesalonika yaitu SALIB. Mereka memiliki kesamaan yaitu salib yang sedang mereka bawa.
Ada 3 rahasia besar mengenai salib yang mengikat dan menyatukan jemaat Tuhan yaitu :
1. Salib merupakan identitas kekal jemaat.
Kalau kita melihat sejarah latar belakang dari 1 Tesalonika dan beberapa surat yang lain, kita akan menyadari bahwa penderitaan dan penyiksaan yang dialami jemaat mula-mula adalah sesuatu yang sangat sering terjadi bahkan antara jemaat yang satu dengan yang lain memiliki pengalaman yang hampir sama. Penderitaan ini bahkan telah menjadi bagian dari hidup mereka. Pada abad permulaan sampai abad ke-4 orang-orang Kristen tidak jarang harus diperhadapkan dengan binatang buas karena mereka memiliki iman dan identitas yang mereka bawa di hadapan Tuhan. Penderitaan yang berkaitan dengan identitas salib itulah yang membuat mereka harus selalu berhadapan dengan tantangan hidup.
Dalam 1Tesalonika 2:14 dikatakan bahwa jemaat Tesalonika telah menderita dari teman-teman sebangsanya. Pada zaman sekarang ini, kita tidak mengalami penderitaan seperti mereka ketika kita menyatakan diri sebagai orang Kristen, tetapi ayat diatas seharusnya mengingatkan kita bahwa sebagai anak Tuhan kita tidak hanya berkutat dalam masalah seremonial, masalah pelayanan, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita membawa identitas salib kita di dalam hidup kita. Salib memang identik dengan penderitaan. Seorang anak Tuhan juga Hamba Tuhan harus senantiasa bergumul bagaimana membawa salib dalam setiap tantangan maupun persoalan hidup sampai ajal menjemput.
Saya akan menyampaikan sedikit tulisan mengenai seorang Kristen yang berada di Mesir yang bernama Hani. Hani dilahirkan dalam sebuah keluarga Kristen di Mesir pada tahun 1985. Dia bangga menjadi seorang Kristen, sehingga dia membuat tatto salib di atas pergelangan tangannya. Dia juga bangga dengan namanya yang berarti sukacita (dalam bahasa Arab). Dia memperlakukan orang-orang dengan baik, sehingga mereka bisa melihat kasih Kristus dari pancaran matanya. Lampu kehidupannya diisi dengan minyak untuk dapat bersinar dengan terang menyinari kehidupannya. Selama wajib militer, pemimpinnya menekan dia untuk pindah keyakinan ke agama lain, bahkan orang lain pun membujuk dia dengan janji harta, tetapi Hani menolaknya. Dia mengatakan dengan tegas bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan Tuhan, dia mengasihi Tuhan, dia lahir sebagai seorang Kristen dan akan tetap menjadi seorang Kristen sampai mati.
Penganiayaan semakin meningkat terhadap Hani. Sesama tentara memaksa dia membaca kalimat syahadat. Ketika makan bersama, orang-orang itu menolak makanan yang diberikan oleh Hani. Ketika tidur, Hani selalu diganggu. Bahkan dia dipukuli dan diprovokasi sehingga mereka mendorong dia untuk terlibat dalam perkelahian. Pemimpinnya menjadi sering memarahi dia dan meminta Hani untuk menjilat sepatunya. Hani pernah juga diminta untuk menanggalkan rompinya dan disuruh merangkak di jalan. Teman-temannya menginjak punggungnya dengan sepatu mereka sambil berkata: Kami mau melihat apakah Tuhanmu datang menolongmu.
Karena tidak kuat lagi menerima semua ini, satu hari sebelum wajib militer ini berakhir, Hani mengancam pemimpinnya bahwa dia akan melaporkan semuanya ini ke intelijen militer kalau perlakuan ini terus dilakukan kepada tentara Kristen. Pemimpinnya justru balas mengancam Hani, bahwa dia akan balas dendam jika Hani melaporkan hal ini. Sang pemimpin lalu mengadakan persekongkolan untuk menyingkirkan Hani selamanya.
Keluarga Hani diberitahu bahwa Hani telah tenggelam di Sungai Nil. Tetapi ketika mereka dipanggil untuk mengenali mayat Hani di rumah sakit, mereka hampir pingsan, karena pada mayat tersebut terlihat bekas-bekas penganiayaan, Hani dicekik, dibakar tangan dan kakinya, rusuk dan gigi Hani patah, tatto salib di tangan Hani telah dikikis dengan benda tajam, tanda salib itu telah dihilangkan, tetapi para penyerangnya tidak bisa menghapus Yesus dari hati Hani.
Ini adalah kisah nyata tentang hidup seorang anak Tuhan di Mesir. Ketika dia memiliki satu identitas yang terus menerus dia bawa yaitu salib, tanda salib di tangannya bisa dihilangkan tetapi imannya akan salib tidak bisa dihilangkan. Ketika kita menghadapi tantangan hidup yang begitu banyak, sampai seberapa jauh kita membawa identitas kita di hadapan Tuhan? Di tengah-tengah penderitaan itulah salib menjadi suatu identitas, menjadi suatu kekuatan, menjadi warna yang tidak bisa tergoyahkan oleh tantangan yang ada.
Secara teori, kita akan lebih mudah mempertahankan salib itu, tetapi secara realita kehidupan bagaimana kita bisa membawa salib itu? Kita membawa identitas salib itu bukan karena pemahaman theologi semata tetapi pemahaman tersebut masuk langkah demi langkah ke dalam setiap pergumulan demi pergumulan. Jemaat Tesalonika telah menjalani hal ini sehingga mereka dapat menjadi teladan bagi sekitarnya.
2. Salib merupakan kuasa kekal.
Seberapa besarkah kuasa dari salib itu sehingga jemaat Tesalonika dapat berjalan sebagai orang yang hidup dengan iman? Orang dapat melihat bahwa di dalam hidup jemaat Tesalonika terus menerus ada kobaran iman. Demikian juga dengan Hani, sebagai orang Kristen yang hidup di tanah Mesir, apa yang membuat dia bisa bertahan? Jemaat Tesalonika dapat seperti itu karena mereka memiliki kuasa kekal, yaitu suatu kuasa yang menjunjung tinggi identitas salib itu, suatu kuasa yang berasal dari Tuhan sendiri yang telah memanggil mereka. Ini adalah suatu kekuatan yang kekal yang bisa menerobos setiap orang ketika menghadapi tantangan demi tantangan bahkan ambang maut sekalipun. Kuasa inilah yang memampukan jemaat Tesalonika menjadi penurut-penurut Allah dan menjadi teladan bagi jemaat di Makedonia dan di Akhaya.
Ketika kita melihat hidup saat ini yang semakin sulit, bolehlah kita memegang kuasa salib itu dalam menjalani hidup ini, membawa kuasa yang kekal itu dalam hidup kita senantiasa. Seberapa kita mengerti kuasa salib yang kekal itu? Kuasa yang memungkinkan kita tetap dapat berdiri dan berkata seperti Hani walaupun dia akhirnya harus mati di hadapan orang-orang sekitarnya. Kuasa kekal ini tidaklah datang begitu saja pada diri seseorang. Kalau kita tidak pernah melibatkan Kristus dalam setiap pergumulan hidup kita, maka pergumulan itu akan berhenti sama seperti kalau kita tidak mengenal salib itu.
3. Salib merupakan rahasia kekal.
Jemaat Tesalonika harus menghadapi tantangan yang dapat membuat mereka terpuruk tetapi mereka memiliki suatu rahasia yang besar. Orang-orang Yahudi yang membunuh Tuhan Yesus, para nabi dan para rasul adalah orang Yahudi yang tidak mengerti rahasia kekal dari salib itu. Dengan salib itu mereka tidak bisa mengerti siapakah Yesus sehingga mereka harus menyalibkan Dia. Jemaat Tesalonika dapat menjadi teladan karena mereka bisa mengerti arti dari salib itu. Yesus yang adalah Anak Allah harus turun ke dunia, harus mati di atas kayu salib untuk menjelaskan rahasia yang besar itu, yang menyatukan Allah dengan manusia. Inilah yang menyebabkan para penyerang Hani dapat menghapuskan tanda salib di tangan Hani tetapi tidak dapat menghapuskan Yesus dari hati Hani. Ada suatu rahasia besar yang dibawa oleh salib yang tidak dapat dimengerti oleh orang non Kristen.
Ketika kita pada zaman ini boleh mengerti akan salib Kristus, yang menyebabkan kita boleh memanggil Allah sebagai Bapa, seberapa besar kita membawa dan memberitakan rahasia yang kekal ini kepada orang-orang yang masih belum mengerti? Seberapa besar kita memberitakan rahasia ini kepada orang-orang yang sedang mencari jalan pendamaian antara Allah dengan manusia?
Memang kita tidak/ belum mengalami penderitaan seperti yang dialami oleh jemaat Tesalonika maupun Hani, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah seberapa jauh kita telah membawa rahasia salib ini kepada orang-orang yang mencari jalan keselamatan? Ketika kita mendengar ada saudara seiman kita yang sedang berada dalam pergumulan, sedang mengalami kesulitan demi kesulitan, apakah kita boleh melihat itu sebagai suatu bagian dari jemaat kita? Tidaklah semua jemaat di Tesalonika ini yang mengalami penderitaan, tetapi mereka menganggap bahwa penderitaan satu orang merupakan bagian dari kehidupan mereka bersama sebagai sebuah jemaat, sehingga mereka boleh membawa setiap identitas mereka dalam setiap tantangan yang mereka hadapi, sebagai satu kesatuan/ keutuhan bersama. Seberapa besar kita telah peduli dengan pergumulan saudara seiman kita, sehingga kita bisa saling bahu membahu dalam membawa pergumulan kita di hadapan Tuhan?
Kiranya Tuhan terus menguatkan kita, dan apa yang dimiliki oleh jemaat Tesalonika boleh terus kita miliki dan terus kita usahakan dalam kehidupan kita. Kiranya Tuhan memberkati kita. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)