Ringkasan Khotbah : 9 November 2008

In the Temple

Nats: Matius 21:12-17

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

 

Matius 21 membahas tentang misi utama Kristus yaitu datang ke Yerusalem untuk melakukan suatu tugas yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Di Alkitab seringkali diungkapkan bahwa pekerjaan Kristus adalah mengajar, menyembuhkan penyakit, mengadakan mujizat dan mengusir setan. Tetapi itu bukanlah misi utama kedatangan Kristus ke dalam dunia ini, pekerjaan tersebut hanyalah pekerjaan yang diumumkan keluar. Kalau hanya untuk melakukan pekerjaan di atas, tidaklah perlu Anak Allah harus turun ke tengah dunia, menderita sengsara, diperlakukan dengan begitu hina dan menyakitkan, dibunuh dengan cara yang paling sengsara dan paling menakutkan yaitu disalib. Misi utama Kristus adalah menuju kepada jalan salib untuk menebus manusia yang berdosa, mengeluarkan manusia dari belenggu dosa. Misi inilah yang tidak dapat digantikan oleh siapapun bahkan oleh pemimpin-pemimpin besar agama-agama, filsuf-filsuf, maupun tokoh-tokoh moralis yang ada di alam semesta ini. Misi itu adalah misi yang dasyat karena merupakan satu-satunya cara untuk mengeluarkan manusia dari problema yang paling serius yaitu dosa.

Tetapi sangat disayangkan kalau esensi dosa sepanjang masa selalu diplintir, diputar balik dan dikacaukan sedemikian rupa karena setan takut kalau manusia mulai sadar dosa dan harus mencari jalan keluar untuk dosa. Esensi dosa sangatlah dasyat sampai menggerogoti tulang sumsum yang paling dalam, esensi dosa masuk mempengaruhi sampai orang begitu buta sama sekali, masuk sampai ke tempat dimana seharusnya dosa harus dieleminir/ dihilangkan. Di tempat-tempat itulah dosa justru bercokol dengan sangat dasyat dan sangat kuat.

Ketika Tuhan Yesus mulai menjalankan misinya, Dia masuk ke Yerusalem, pertama-tama Dia masuk ke Bait Allah. Itulah seharusnya merupakan tempat dosa dieliminir, tetapi justru di situlah tempat dosa sedang bercokol. Waktu Kristus masuk ke Bait Allah, Dia langsung menjalankan 3 hal yaitu :

1. mengobrak-ngabrik dagangan yang ada di situ.

2. menyembuhkan orang buta dan timpang (merupakan 2 penyakit signifikan yang hanya dapat disembuhkan oleh Kristus, pada zaman Kristus dan sesudahnya di dalam nama Kristus).

3. berurusan dengan imam-imam kepala dan orang Farisi.

Ketiga problematika diatas merupakan problematika seluruh kekristenan di titik pertama yang harus diselesaikan.

1. Langkah pertama Kristus dalam menapaki jalan salib adalah membereskan Bait Allah, karena Bait Allah seharusnya merupakan tempat dimana iman Kristen berperang melawan dosa, seharusnya merupakan tempat dimana Tuhan yang berdaulat bercokol, seharusnya menjadi rumah doa, seharusnya menjadi tempat dimana Bapa dipermuliakan. Orang datang ke Bait Allah seharusnya dengan pikiran yang berpusat kepada Allah, percaya penuh kepada Allah, tetapi justru Bait Allah berubah fungsi menjadi sarang penyamun, menjadi tempat dagangan. Waktu Tuhan bereskan seperti itu, kalau kita pada waktu itu berada disana, setujukah kita dengan tindakan Tuhan ataukah justru menjadi pelawan Kristus? Mungkin sekali kita juga sengit terhadap Tuhan Yesus dengan menganggap Tuhan begitu kasar dan tidak memikirkan kerugian orang lain. Kalau setiap kali kita tidak bisa menerima perkataan Tuhan, masih dapatkah kita dikatakan percaya kepada Tuhan?

Seringkali waktu kita mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, sebenarnya hati kita, sikap kita dan pikiran kita tidak percaya kepada Tuhan Yesus, karena di dalam Bait Allah sendiri terjadi pergeseran yang begitu signifikan. Sejak dari pertama, Tuhan sudah mengatakan bahwa tidaklah ada posisi tengah/ gabungan, yang ada adalah siapakah tuhanmu, tuhanmu Allah-kah atau mammon-kah? Kalau engkau percaya kepada Allah, engkau tidak bisa percaya juga kepada dewa uang, dan sebaliknya, keduanya tidak bisa digabung, kalau pilih yang satu pasti akan buang yang lainnya.  

Ketika Tuhan membersihkan Bait Allah, banyak orang merasa tidak senang. John Nolland mengatakan bahwa ini merupakan misi provokatif Kristus di dalam Bait Allah. Saya sangat tidak setuju dengan perkataan ini, Tuhan datang ke Bait Allah bukan untuk melakukan provokasi, bukan untuk menantang orang-orang yang ada di situ, tetapi Dia sangat tidak suka kalau rumah BapaNya diacak-acak dan dirusak, Dia tidak suka kalau misi inti rumah Tuhan di tengah dunia yang seharusnya melawan dosa justru masuk ke dalam dosa, yang seharusnya perang melawan humanis dan materialis justru masuk ke dalam humanis dan materialis. Tuhan bereskan Bait Allah supaya kembali ke fungsi aslinya yaitu ketika orang datang ke situ dapat menemukan Tuhan, mencari Tuhan, seluruh hidupnya mengarah kepada Tuhan. Kalau orang datang ke Bait Allah hidupnya tidak mengarah kepada Tuhan, berarti telah terjadi pergeseran konteks iman secara dasar : Siapakah tuhanmu yang sesungguhnya? Tuhan Allah-kah atau uang-kah?

Pembersihan Bait Allah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus merupakan teladan/ contoh bagi kita. Problematika ini bukanlah problematika abad pertama saja tetapi sampai abad 21 ini pun tetap sama. Betapa celakanya kalau orang datang ke gereja untuk bisnis, untuk prospek bos-bos kaya. Gereja tidak lagi menjadi tempat untuk orang berbalik kepada Tuhan, melainkan menjadi tempat dimana bisnis dijalankan, menjadi tempat dimana uang berputar, menjadi tempat orang melakukan tugas-tugas kematerialan. Kalau Tuhan Yesus hari ini ada di sini, apa kira-kira sikap Dia?

Berurusan dengan dosa adalah berurusan dengan hati manusia, berurusan dengan pikiran di kepala kita. Betulkah kalau kita mengaku sebagai orang Kristen, seluruh hidup kita berpusat kepada Kristus, seluruh pikiran kita mau menyenangkan Tuhan? Betulkah ibadah yang kita lakukan ini mengajak kita untuk belajar Firman, kembali kepada Tuhan, beriman kepada Tuhan, lalu memusatkan hidup pada Tuhan ataukah ada maksud-maksud lain di dalamnya? Problema abad pertama sampai abad 21 ini tidaklah berubah. Kalau gereja tidak bertindak hati-hati dan keras bertindak dalam hal ini maka gereja pun akan menjadi sarang penyamun. Kalau sudah seperti ini, dimana dosa bisa diteriakkan, dimana kita bisa bicara dan keras melawan dosa, kalau semua orang di dalam gereja berputar dalam hal material?

Kita harus mengkoreksi semuanya ini. Kalau pada zaman dahulu Tuhan masuk ke Bait Allah dan melakukan pembersihan seperti diatas, seberapa hari ini kita punya tekad secara bersama-sama : kita berjuang membersihkan Bait Allah, kembali kepada natur asli gereja yaitu berurusan dengan dosa, menuntut pertobatan dan membawa kita kembali kepada Tuhan. Ini semua bukan hal yang mudah tetapi tetap harus kita perjuangkan yaitu kembalinya gereja kepada kebenaran, kepada iman yang sejati, berpusat kepada Allah. Itu adalah tugas kita bersama.

Gereja harus menjadi tempat yang bersih karena orang datang untuk mengarahkan diri kepada Tuhan, mengembalikan orang untuk menjadi setia beriman kepada Tuhan, orang yang datang harus diajari untuk menyadari dosa, tidak mau hidup untuk diri sendiri, tidak mau melawan Tuhan, tidak mau memberontak kepada Tuhan, karena esensi dosa yang paling dasar dan yang paling utama adalah bukan membunuh, berzinah, mencuri dll, melainkan fasik dan lalim (melawan Allah dan melawan kebenaranNya). Roma 1:18-32 menyatakan bahwa karena fasik dan lalim maka Tuhan membuang manusia kepada esensi-esensi dosa yang lain, menjadikan manusia masuk kepada semua perbuatan dosa.

Setiap kali kita makan roti dan minum anggur dalam Perjamuan Kudus, seharusnya menyadarkan keberdosaan dan kebrengsekan kita, kita ini seharusnya dihukum mati tetapi Tuhan beranugerah, maka kita harus berusaha keras untuk kembali kepada Tuhan dan sungguh-sungguh bertobat.

2. Orang buta dan orang timpang adalah gambaran cacat yang paling fatal dan menyulitkan bagi manusia untuk bisa aktif dan bereksistensi dengan baik. Orang yang buta sejak lahir tidak tahu apa-apa, seluruh pengertiannya tentang realita dan keadaan sangatlah terbatas, tetapi seringkali orang yang buta secara jasmani justru mata rohaninya dapat melihat dengan baik. Yang celaka adalah kalau mata rohaninya yang buta sedangkan mata jasmaninya dapat melihat dengan baik. Mujizat ini hendak menunjukkan: betapa pentingnya penglihatan kita.

Orang yang timpang sejak lahir akan mengalami pengecilan pada seluruh struktur kaki. Dia akan sangat tergantung pada alat bantu. Keaktifan hidupnya akan sangat terbatas. Tuhan menyembuhkan 2 penyakit ini, inilah misi penting dari Tuhan.

Mujizat dikerjakan oleh Tuhan bukan untuk kepentingan mujizat itu sendiri, bukan untuk kepentingan orang yang mengalami mujizat, melainkan untuk membuktikan dan menunjukkan bahwa Kristus-lah Tuan atas seluruh alam semesta ini, Dia adalah Tuan atas semua keadaan, semua harus taat kepada Dia. Mujizat ditujukan agar manusia mengenal Allah yang berkuasa dan berdaulat.

Ketika kita masuk ke dalam gereja, betulkah di situ kita bertemu dengan Kristus dan mengenal Dia sebagai Tuan di atas segala tuan. Waktu kita menyebut Yesus sebagai Tuan, berarti kita adalah budakNya.  Seorang budak tidak mempunyai hak, yang dipunyai hanyalah kewajiban. Hari ini banyak orang Kristen yang menuntut banyak hak tetapi tidak tahu kewajibannya. Seorang budak harus taat sepenuhnya kepada tuannya, mengerjakan apa yang diperintahkan tuannya. Ketika seorang Kristen datang ke gereja, seharusnya dia menggumulkan apa yang Tuhan inginkan untuk dia kerjakan, apa saja yang Tuhan perintahkan harus ditaati dan dikerjakan. Orang keluar dari gereja seharusnya lebih taat kepada pimpinan Tuhan, setia kepada kebenaran Tuhan karena dia tahu dia baru datang kepada Tuannya yang sungguh-sungguh menjadi tuan bagi hidup dia. Ketika dia mengerti Tuhannya, dia akan menjalankan perintah Tuhan di manapun dia berada. Tetapi sayang, banyak orang Kristen yang ketika di dalam gereja memaksa Tuhan untuk mengikuti dia, setelah keluar dari gereja menjadi lebih “gila” lagi dan menjadi anak setan.

Ketika kita hendak menjalankan kehendak Tuhan, seringkali keluar alasan klasik: Tuhan, saya mau taat, tetapi saya tidak mampu, tolonglah saya, saya lemah. Tuhan berkata: Saya mampukan kamu! Kamu merasa timpang, Tuhan yang menyembuhkan, maka kamu harus berjalan. Prinsip iman Kristen : bukan kita minta kepada Tuhan pekerjaan yang sesuai dengan kekuatan kita melainkan minta kekuatan yang sesuai dengan tugas yang diberikan. Inilah yang dinamakan dengan : re-potensial.

Ketika kita taat kepada Tuhan, mata kita akan celik, kita akan dapat mengerti realita dengan tepat, mengerti seluruh aspek dengan rinci karena kita melihat dari sudut pandang Tuhan. Kita akan dapat mengerti realita lebih luas daripada yang dunia lihat dan kita dapat melihat dengan tajam apa yang terjadi di dunia, kita tidak akan mudah ditipu. Paulus berkata : dulu sebelum bertobat, mataku buta, setelah kembali kepada Tuhan, baru aku mengerti tentang pengenalan akan Kristus. Di dalam Kristus kita baru bisa melihat semuanya dengan jelas dan di dalam Kristus kita bisa memperoleh kekuatan/ potensi untuk menjalankan. Inilah panggilan kekristenan.

Di dalam situasi krisis yang melanda dunia sekarang ini, kita tidak bisa mengandalkan kekuatan diri. Inilah waktunya kita balik kepada Tuhan, bertobat, berhenti melakukan dosa. Kalau selama ini kita berjalan menuruti kemauan kita sendiri, inilah waktunya kita bertobat, mulai setiap langkah berjalan bersama Tuhan supaya di dalam setiap aspek Tuhan jalan di depan kita, menuntun kita. Kita balik menjadi budak lagi, bukannya tuan seperti yang sudah kita lakukan.

Ketika kita menjalankan tugas yang diperintahkan Tuhan, Tuhan memberikan kekuatan, Tuhan memberikan mujizatNya. Tugas yang Tuhan berikan selalu jauh di luar kemampuan kita, tetapi Tuhan yang akan memberikan kekuatan. Pertobatan akan me-re-potensi anak Tuhan. Mujizat diberikan untuk kemuliaan Tuhan. Mujizat diberikan untuk me-re-potensi/ memampukan anak Tuhan melayani Tuhan. Inilah mujizat sejati. Mujizat sejati akan berakhir dengan kemuliaan Tuhan, bukan kepentingan diri.

Ketika Kristus bangkit, itu adalah kuasa besar yang mengalahkan kuasa pembelenggu yang paling besar yaitu kuasa iblis dan kuasa dosa. Kekuatan penerobosan, kekuatan kemenangan melalui kebangkitan Kristus adalah kekuatan yang Tuhan berikan untuk kita menjalankan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita.

3. Setelah gereja mengalami pembersihan dan re-potensial, ada arah yang perlu dikembalikan. Waktu itu para imam kepala dan ahli Taurat benci sekali kepada Tuhan Yesus yang melakukan pembersihan Bait Allah. Ada kemungkinan orang-orang itu mempunyai kepentingan dengan orang-orang yang berdagang di halaman Bait Allah. Penyembuhan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus juga sangat mengganggu kuasa mereka, juga ditambah dengan seruan anak-anak kecil : Hosana bagi Anak Daud! Seruan ini adalah seruan mesianik dan bisa berdampak kepada hukuman mati.

Orang-orang itu tahu betul bahwa tidaklah boleh berjualan di halaman Bait Allah, mereka hafal ayat Alkitab, karena itu mereka tidak berani protes mengenai tindakan pembersihan yang dilakukan Tuhan Yesus. Bait Allah itu didirikan oleh Herodes demi kepentingan politik, maka orang-orang yang duduk di situ adalah juga ditaruh oleh Herodes demi kepentingan politik. Herodes adalah orang Edom, demi untuk mendapatkan posisi, dia menyuap agama Yahudi dengan mendirikan Bait Allah yang mewah dan bagus luar biasa. Herodes adalah seorang arsitek yang canggih. Di dalam Taurat, imam kepala hanya ada 1, tetapi pada zaman itu, imam kepala ada 2, karena ada kepentingan politik di dalamnya. Ini adalah penghinaan besar terhadap pekerjaan Tuhan. Para imam kepala tersebut hidupnya rusak. Di sini kita dapat melihat bahwa ketika Bait Allah sudah dimasuki kepentingan politik, kepentingan pribadi, kepentingan material, kepentingan dunia, Bait Allah sudah tidak lagi dapat menyuarakan kebenaran       Allah.

Tuhan Yesus mengembalikan Bait Allah ke posisi yang seharusnya dengan berkata : Aku dengar; belum pernahkah kamu baca. Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian? Lalu Ia pergi meninggalkan mereka. Setelah itu, bertobatkah orang-orang itu? Tidak. Mereka tidak bisa membantah/ melawan, tetapi  mereka juga tidak bertobat. Mereka tahu bahwa mereka salah, tetapi mereka tidak mau kembali kepada yang benar. Penyakit ini tidak hanya terjadi pada imam-imam kepala dan orang Farisi, sampai abad 21 ini tetap sama, kita sudah tahu banyak tentang kebenaran Allah, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah: maukah kita berubah, maukah kita kembali kepada Tuhan?

Setelah kita tahu kebenaran Allah, betulkah kita mau kembali kepada Tuhan, mau belajar terhadap semua yang Tuhan berikan kepada kita, ataukah kita tetap mau menjalankan misi materialis dan hedonis kita, ataukah kita tetap mau menjadi orang egois yang mengejar kepentingan diri, ataukah kita belajar mulai beriman/ percaya penuh seperti Abraham percaya kepada Tuhan, setiap Tuhan perintahkan, tidak pernah ada satu sanggahan/ bantahan/ pertanyaan, disuruh apapun selalu menjawab: Ya, Tuhan!

Kita tidak hanya dibersihkan, tetapi juga di re-potensial, kemudian diarahkan kembali kepada kebenaran Tuhan. Itulah misi dari kedatangan, kematian, dan kebangkitan Tuhan Yesus. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)