Ringkasan Khotbah : 26 Oktober 2008

The King's Entry

Nats: Matius 21:1-11

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

 

Dalam Matius 21 kita akan melihat bagaimana Kristus menjadi raja di dalam kerajaanNya, seperti yang dikatakan Leon Morris bahwa Raja yang menang sedang menyatakan diriNya. Matius 21-28 merupakan babak baru dan terakhir yang merupakan point terpenting dan terbesar dari seluruh pembahasan Injil Matius. Cerita ini ditandai dengan bagaimana Sang Raja memasuki Yerusalem, lalu mulai menjalankan misi utamaNya yaitu menegakkan kembali Kerajaan Surga di tengah dunia ini, mengalahkan kuasa kematian, memberikan kuasa kebangkitan, dan memenangkan jiwa. Jadi bahasan dalam Matius 21-28 ini sangatlah penting dari seluruh Injil Matius yang bertemakan Kerajaan Surga. Pembahasan tentang Kerajaan Surga ini mulai dari Sang Raja datang, menjalankan misiNya, dan klimaks dari seluruh pembahasan itu adalah dalam Matius 21-28.

Kita melihat perkembangan yang sudah mendekati puncaknya. Tuhan kita tidak pernah menunggu perkembangan, perkembangan dalam sejarah ada di dalam kedaulatan Allah. Perkembangan tersebut dimulai dari Nazaret, Tuhan turun ke bawah, lalu menyeberang ke seberang Sungai Yordan untuk mempersiapkan para murid, lalu kembali menyeberangi Sungai Yordan dan memasuki kota Yerikho, keluar dari Yerikho, Dia sekarang sudah sampai di pinggir kota Yerusalem yaitu di Betfage. Tidak ada yang tahu dengan pasti letak Betfage karena terlalu kecil ukurannya, Alkitab mencatat bahwa Betfage terletak di dalam Bukit Zaitun yang terletak di sebelah Timur Yerusalem, tepat di tepi Yerusalem. Tuhan Yesus berhenti di Betfage, lalu menyuruh muridNya pergi ke Yerusalem untuk “meminjam” keledai betina yang tertambat dan anaknya di dekatnya. Ini menunjukkan kedaulatan Allah yang berjalan dengan perkembangan yang Dia tetapkan. Allah adalah Allah yang mempunyai rancangan jalan. Banyak orang yang tidak bisa mengerti bagian ini.

Ketika kita melihat bagaimana Tuhan Yesus melangkah, di dalam Dia mempersiapkan para muridNya, perjalanan yang dilakukanNya, banyak orang tidak bisa menangkap apa yang dikerjakanNya, bahkan para muridNya pun tidak mengerti meskipun sudah Kristus jelaskan tentang misiNya. Allah tidak pernah menunggu, Dia tetap jalankan misiNya, inilah yang disebut dengan iman. Iman sejati bukanlah mengajarkan supaya Tuhan ikut dengan manusia, tetapi justru manusia yang harus ikut Tuhan. Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa iman adalah bagaimana kita maju dan mempercepat langkah mengikuti apa yang ditetapkan oleh Tuhan. Kalau Tuhan menetapkan satu langkah, kita tidak bisa meminta Tuhan berhenti dulu dan menunggu kita, kita yang harus kejar, kita harus gerak mengikuti Tuhan. Di dalam Alkitab tidak pernah dikatakan bahwa Tuhan ikut manusia, justru Tuhan memerintahkan para murid untuk menjadi penjala manusia dan mengikuti Tuhan, sangkal diri, pikul salib dan mengikut Tuhan. Hidup kekristenan menuntut kita taat dan setia kepada Tuhan, hidup di dalam Tuhan, berjalan bersama Tuhan. Iman Kristen yang tidak mengerti hal ini akan membuat manusia berjalan terseok-seok dalam kehidupan ini, makin menuntut akan makin menjauh dan terhilang dari Tuhan, dan akhirnya seluruh hidup kita menjadi rusak. Bagaimana seluruh hidup dipusatkan kepada Tuhan, itulah bagaimana kita mengejar, berjalan di tengah-tengah dunia ini.

Setiap kehidupan iman yang berjalan dengan baik, kita akan dapat melihat tatanan kerja Tuhan. Seluruh sejarah dapat berjalan karena Allah yang menopang sejarah. Bukan manusia yang mempermainkan sejarah, tetapi manusia harus belajar taat kepada Tuhan yang adalah Tuhan atas sejarah. Tuhan adalah Raja, juga Raja atas sejarah, inilah kunci penting dalam Injil Matius. Theologi Reformed beda dengan berbagai aliran lain dalam kekristenan yang mengatakan bahwa Tuhan ada untuk manusia, Tuhan mengerti manusia, Tuhan mengikuti keinginan manusia, bahkan kalau manusia yakin maka Tuhan akan menuruti kemauan manusia. Alkitab mengatakan TIDAK! Manusia yang harus ikut Tuhan, belajar ikut dalam derap Allah. Beriman bukan berarti pikir diri, melainkan pikir Tuhan. Beriman bukan berarti memusatkan kepada diri, melainkan memusatkan hidup kepada Kristus. Beriman bukan berarti kita menikmati segala sesuatu, melainkan kita menikmati hidup di dalam Tuhan. Tanpa iman yang berpaut kepada Tuhan atau Firman, tidak ada iman yang Alkitabiah, karena Firmanlah yang begitu kuat mengunci bagaimana manusia harus balik kepada Tuhan.

Pada bagian terakhir ini, secara manusia, para murid belum mempunyai kesiapan. Dalam Matius 21 pun kita masih melihat berbagai konflik, tetapi Tuhan tidak menunggu, Dia tetap jalan terus, karena waktu adalah waktu Tuhan, dan waktu Tuhan sudah tiba, berarti tidak bisa ditunda lagi dan harus dijalankan. Problema ini tidak selesai bahkan sampai abad 21 ini, manusia selalu mau jalan menurut kemauan dan pikirannya yang berdosa.

Pikiran kita harus mulai diselaraskan dengan Tuhan supaya hidup kita tidak tambah bermasalah. Dalam situasi terakhir yang semakin tidak karuan, menuntut kita semua harus semakin berbalik kepada Tuhan. Di saat badai makin besar, kita memerlukan pegangan yang kuat, sandaran yang absolut. Di saat angin tidak terlalu besar, kita tidak berpeganganpun mungkin masih tidak beresiko tinggi. Kita perlu mengajak orang untuk melihat kembali prinsip yang dinyatakan oleh Alkitab.

Waktu keributan tahun 1998 terjadi, Pdt. Stephen Tong dianjurkan oleh beberapa orang untuk bersembunyi di luar negeri, tetapi Beliau menolak dengan alasan : justru dalam situasi seperti itu seorang pendeta harus peka melihat apa yang Tuhan mau, bukannya keamanan diri dan prinsip-prinsip duniawi. Gerak bukan ditentukan oleh gelombang dunia, tetapi gerak dikembalikan kepada kedaulatan Allah. Allah yang sedang memimpin kita untuk melihat satu point yang berbeda. Pdt. Stephen Tong justru melihat bahwa pada saat manusia di dalam kegalauan, ketakutan, keputusasaan, manusia perlu dibawa kembali kepada Tuhan melalui Injil. Pada saat seperti ini, manusia perlu Injil, bukan tempatnya untuk melarikan diri dan marah-marah kepada Tuhan.

Di tengah badai kehidupan ini, manusia perlu kembali dan berpaut kepada Kristus, manusia perlu landasan yang kokoh, dipegang oleh tangan yang kuat yang tidak mungkin bisa digoncang oleh badai, bersandar pada batu karang yang teguh yang tidak mungkin bisa dihantam oleh gelombang sebelah manapun. Yang relatif harusnya mengikuti yang mutlak, tetapi celakanya justru yang mutlak dipaksa untuk ikut manusia relatif yang merasa diri mutlak. 

Dalam Matius 21, Tuhan Yesus memasuki Yerusalem, pada saat itu para murid suka atau tidak suka, siap atau tidak siap harus ikut masuk untuk menjalankan misi utama Kristus. Pertama-tama Kristus mengajar para murid untuk melihat kedaulatan Kristus, ke-raja-an Kristus (The Kingship of Christ). Kristus adalah Tuhan dan raja yang menegakkan ke-raja-anNya di tengah alam semesta. Posisi Yesus sebagai raja adalah posisi yang unik, Dia mempunyai kedaulatan yang luar biasa.

Ketika Kristus menyatakan ke-raja-anNya, maka kita harus:

1. Mengenal siapa Kristus

Seluruh sambutan sudah menggambarkan bahwa Dia adalah seorang raja, diikuti dengan masuknya Dia ke dalam Bait Allah. Cerita ini sangat unik, dalam Injil Yohanes cerita ini ditaruh di bagian depan untuk menggambarkan Kristus sebagai Tuhan langsung datang ke Bait Allah, membersihkan Bait Allah, mengembalikan fungsi Bait Allah ke fungsi yang seharusnya yaitu sebagai tempat untuk bertemu dengan Tuhan, tempat yang harus benar, suci dan tidak dicemarkan oleh hal yang lain; Injil Matius justru meletakkan cerita ini di bagian belakang. Ketika Tuhan Yesus mengusir orang yang berjualan di Bait Allah, orang-orang tersebut tahu bahwa hal tersebut adalah salah tetapi mereka juga tidak suka diperlakukan seperti itu oleh Tuhan Yesus. Inilah konflik. Tetapi, di situlah Yesus hendak menunjukkan bahwa Dialah pemilik Bait Allah, BapaKu yang punya tempat dan AnakNya datang untuk merapikan.

Kemudian Dia mengutuk pohon ara yang tidak berbuah tetapi berdaun lebat. Kalau cerita ini dicopot dari konteksnya maka Tuhan Yesus menjadi Tuhan yang iseng. Ketika Kristus mengerjakan sesuatu, Dia bukan sekedar iseng, dan juga tidak berhubungan dengan kepentingan si pohon ara atau kepentingan orang. Orang Kristen yang sesat atau yang bukan Kristen akan memikirkan mujizat adalah untuk kepentingan obyek. Alkitab atau iman Kristen yang beres selalu mengatakan bahwa mujizat adalah untuk kepentingan subyek. Kristus mengadakan mujizat untuk kepentingan Sang Kristus, menyatakan siapa Dia sesungguhnya.

Maka kalau kita melihat semua yang terjadi dari sudut pandang yang tepat, kita akan mengerti apa yang sebenarnya terjadi, kita bisa menangkap cara pikir Tuhan, kita bisa mengerti apa yang sedang dijalankan, dan penafsiran kita bisa akurat, karena sudut pandangnya sudah selaras dan sudah masuk ke dalam prinsip yang Tuhan inginkan. Ketika Tuhan mengutuk pohon ara, Dia ingin menunjukkan bahwa Dialah yang berkuasa atas seluruh alam semesta, Dialah penciptanya, maka kalau tidak berjalan semestinya Dia berhak untuk bertindak. Tuhan sedang menunjukkan bahwa Dia adalah raja. Ini adalah demonstrasi kuasa yang sangat dasyat yang menuntut para murid untuk merombak cara pikir mereka.

Kemudian 2 cerita berikutnya, Tuhan hendak menunjukkan bahwa orang rohaniawan yang tidak bekerja sebagaimana mestinya. Cerita ini hendak menyindir dan menyatakan nasib dari para ahli Taurat, orang Farisi, pimpinan agama. Orang-orang sekelilingNya sangat mengerti siapa yang dimaksud oleh Tuhan, mereka marah sekali, tetapi mereka tidak berani berbuat apa-apa karena Dia dilihat sebagai nabi dan mempunyai massa besar. Di tengah-tengah cerita ini muncul pertanyaan besar yaitu dengan kuasa siapakah Dia bertindak, siapakah Dia.

Kalau kita beres dalam hal sudut pandang, maka kita akan dapat melihat siapakah Kristus. Kalau kita gagal mengenal Kristus, gagal mengenal Tuhan kita, maka yang dikatakan Francis Schaeffer akan terjadi yaitu saya melakukan apa yang saya pikirkan dan saya pikirkan apa yang saya percayai. Kepercayaan/ iman yang beres belum tentu menghasilkan pikiran yang beres tapi kemungkinan untuk itu ada tapi perlu perjuangan; tetapi iman yang tidak beres pasti akan menghasilkan pikiran yang tidak beres. Iman yang menjadi dasar pertama haruslah beres terlebih dahulu. Siapa diri kita tergantung seberapa jauh dan seberapa akurat kita mengenal Allah yaitu Yesus Kristus sebagaimana yang disaksikan oleh Firman. 

2. Taat kepada Kristus

Dia memerintah muridNya untuk meminjam keledai. Beberapa orang mengatakan bahwa “password” untuk meminjam keledai tersebut adalah : Tuhan memerlukannya. Ada 2 point besar dari kalimat tersebut yaitu:

a.        yang memiliki sedang menggunakan hak pakainya atas miliknya.

b.        Tuhan adalah otoritas tertinggi, benda tersebut adalah kepunyaan manusia, tetapi tetap berada dibawah otoritas Allah sebagai pemilik alam semesta.

Ke-raja-an Kristus menuntut kita kalau mau dipakai oleh Tuhan, kita tidak ada hak untuk menolak. Tidak ada hak pribadi, hak manusia, yang ada hanyalah tanggung jawab. Tuhan mau pakai milikNya, Tuhan mau menyatakan otoritas totalNya, berani berontak berarti  bunuh diri. Berontak kepada Allah adalah esensi dosa. Berani berbalik dari kehendak Allah adalah dosa, bahkan ketika masih di pikiran dan belum dilakukan itu sudah salah. Tidak ada orang yang bertanya lebih lanjut mengenai siapa tuan yang hendak meminjam keledai tersebut, inilah yang menunjukkan bahwa Kristuslah raja.

Seberapa jauh hidup kita mengerti akan ke-raja-an Kristus dan mengaplikasikannya dalam ketaatan? Kita seharusnya sadar bahwa kita berada di dalam Kristus dan kalaupun kita berontak, kita tetap milik Kristus. Ketika seluruh dunia berontak ataupun rusak, tetaplah milik Kristus, hak penuh untuk melakukan tindakan selanjutnya adalah di tangan Kristus.

Ketika kita balik kepada Kristus kita akan merasa nyaman dan tenteram dalam hidup ini karena kita tidak lagi menjadi seteru Allah. Di dalam situasi krisis bukanlah waktunya kita menjadi seteru Tuhan, melainkan merupakan waktu kita masuk ke dalam pelukan Tuhan sehingga semua menjadi indah dan nyaman. Betapa konyolnya kita kalau kita justru melawan Tuhan dan raja atas hidup kita.

3. Berpikir dalam kebenaran

Tuhan Yesus meminta memakai keledai adalah untuk menggenapkan nubuat dari Zakharia yaitu: Hai puteri Sion, dengarkanlah dan lihatlah, Raja itu akan masuk ke Sion, Rajamu datang, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai beban betina yang muda.

Waktu Kristus memasuki Yerusalem dengan menaiki keledai, orang Israel langsung tahu bahwa inilah sang raja itu, maka respon mereka juga tepat yaitu mengutip Mazmur 118, yaitu berteriak: Hosana bagi Dia Anak Daud, yang datang dalam nama Tuhan, Dia yang maha tinggi! Orang-orang itu menghamparkan jubah mereka yang mahal di jalan, merupakan wujud penghormatan. Orang yang melihat pemandangan itu langsung akan tahu bahwa Sang Raja sedang datang. Tetapi ada beberapa hal yang masih merupakan kesulitan.

Ketika orang banyak itu ditanya tentang siapakah Kristus? Mereka menjawab bahwa Dia adalah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea. Ini adalah jawaban yang membingungkan dan aneh karena ada kesulitan besar dalam pikiran mereka. Dalam pikiran mereka, Kristus akan datang sebagai raja dan mereka tahu sekali bahwa pemandangan yang mereka lihat menunjukkan bahwa Kristus adalah raja; tetapi sambil mereka berteriak Hosana bagi Sang Raja, otak mereka tidak bisa mengerti mengapa raja ini tidak mengalahkan Herodes maupun Tiberius, mengapa raja ini tidak mempunyai kuasa besar dan luas, tidak berbadan kuat, tidak naik kuda Persia, sebagaimana mestinya seorang raja menurut pikiran mereka. Karena kebingungan inilah mereka menjawab sekenanya yaitu Yesus adalah nabi dari Nazaret. Padahal di dalam Alkitab tidak pernah disebutkan ada nabi yang dari Nazaret. Konflik semacam ini masih terjadi sampai abad 21 ini.

Ketika kita tahu akan Firman Tuhan, kita akan mengaplikasikannya, kita mengalami konflik, terlalu banyak yang tidak cocok dengan pikiran kita, dan kalau kita omongkan, orang lainpun juga tidak mengerti. Maka kita akan menjawab secara pragmatis sekali. Kita bukannya berperang untuk kebenaran tetapi kita hanya mencari aman sendiri, yang cocok dengan diri. Adalah panggilan kita untuk menyatakan kebenaran Kristen walaupun kita adalah minoritas atau bahkan sendirian sekalipun, kita dipanggil untuk memberikan jawaban yang jujur. Jawaban yang pragmatis justru akan menyesatkan dan membuat orang lain tidak bisa mengerti siapakah Kristus yang sebenarnya. Ketika kita takut untuk menyatakan kebenaran, apakah akan menyelamatkan kita? Di saat kita pro dengan dunia dan berontak kepada Kristus, apakah akan menyelamatkan kita? Tugas kita di tengah dunia ini adalah berpikir dalam kebenaran, jangan ber-pragmatis ria di tengah dunia ini, jangan bermain dalam tipuan yang rusak.

4. Mempunyai doktrin yang tepat dan kembali kepada posisi yang tepat.

Mengerti doktrin/ kesejarahan yang benar akan membuat interpretasi yang benar. Ketika kita tidak kembali kepada Tuhan, maka seluruh kesejarahan Firman akan dipermainkan, seluruh kedaulatan Tuhan akan dipermainkan, seluruh prinsip Firman Tuhan juga akan dipermainkan. Masalahnya bukan pada jawaban yang diberikan tetapi terletak pada doktrin di belakang jawaban. Dampak yang terjadi seringkali terlalu besar karena kita tidak bertanggung jawab di dalam doktrin kita. Tugas kekristenan adalah memberikan jawaban yang paling tepat dan membawa orang mengerti yang paling benar. 

Terlalu banyak opini yang rancu di dalam dunia, kita akan dibingungkan, maka kembalilah kepada kebenaran. Orang Kristen harus omong yang benar sehingga dunia dapat melihat bahwa orang Kristen selalu omong benar. Doktrin/ kebenaran bukanlah di awang-awang/ teori kosong, tetapi harus terlaksana dalam hidup kita, dan itu akan mendorong kita menjadi orang yang bisa dipercaya dan bisa menjadi panutan, analisa kita bisa kritis karena kita tidak mempermainkan kebenaran, kita omong berdasarkan data yang benar, dengan pengertian yang baik, dan dasar melihatnya dari sudut pandang Firman Tuhan. Di tengah krisis ini, tugas kita adalah menghambat agar jangan banyak orang yang tertipu, sadarkan orang lain agar mereka tahu bahwa mereka sudah bersalah terhadap Firman Tuhan. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)