|
Ringkasan Khotbah : 19 Oktober 2008
Nats: Matius 20:29-34 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Cerita dalam Matius 20:29-34 ini sepertinya tidak berhubungan dengan cerita dalam ayat sebelumnya, cerita tentang dua orang buta sepertinya tidak berhubungan dengan cerita tentang murid Tuhan yang memperebutkan kedudukan di sisi kiri dan kanan Tuhan. Tema bahasan Matius 20 adalah melihat apa yang Tuhan lihat. Bagaimana kaitan tema tersebut dengan orang yang mendapat mujizat seperti ini? Ternyata ayat bagian terakhir ini merupakan klimaks yang hendak menunjukkan kepada kita bagaimana dua orang buta ini melihat seperti Tuhan melihat. Ini penting sekali bagi kita untuk melihat bahwa visi bukanlah mimpi, bukanlah apa yang kita inginkan, bukanlah ambisi saya; visi adalah milihat seperti Tuhan melihat.
Ada beberapa masalah dalam hal penulisan cerita ini pada Injil Matius dibandingkan dengan Injil Markus dan Injil Lukas, yaitu :
1. Dalam Matius disebutkan bahwa ada 2 orang buta, sedangkan Markus dan Lukas menyebutkan hanya 1 orang buta yang bernama Bartimeus. Leon Morris mengatakan bahwa untuk mencari sinkronisasi dari keduanya ini bukanlah masalah mudah tetapi juga tidaklah sulit, hal tersebut bukanlah masalah besar. Dalam cerita ini jumlah orang buta tidak menjadi permasalahan yang utama. Bukan berarti tidak ada penyelesaian, masalah 1 atau 2 orang buta hanya terletak pada cara pandang terhadap sesuatu hal; mungkin memang ada 2 orang buta tetapi yang berteriak-teriak hanya 1 orang, sehingga bagi orang tertentu dianggap hanya 1 orang buta; mungkin juga kedua orang buta itu sama-sama berteriak tetapi yang aktif hanya 1 orang yang bernama Bartimeus sehingga orang hanya memperhitungkan dan mengingat Bartimeus. Jangan sampai masalah ini menyita perhatian kita sehingga inti dari cerita yang hendak disampaikan menjadi rusak.
2. Dalam Matius disebutkan bahwa Yesus bertemu dengan orang buta itu pada saat keluar dari Yerikho, sedangkan dalam Markus dan Lukas disebutkan bahwa pada saat Yesus menuju ke Yerikho. Ini adalah masalah kata depan : ke atau dari. Ini juga bukan masalah penting. Yerikho ada 2 yaitu yang lama yang sudah hancur dan yang baru yang dibangun oleh Herodes. Kedua Yerikho itu berbeda tempat. Diantara kedua Yerikho tersebut ada jalan tembusan. Sangat mungkin Yesus bertemu dengan orang buta tersebut di jalan tembusan ini. Jalan tembusan ini sangat ramai, banyak orang buta/ pengemis di jalan tersebut. Point yang penting dari masalah ini adalah situasi yang dihadapi Kristus, orang buta, dan orang-orang yang lainnya.
Konteks Matius 20 adalah Tuhan Yesus sedang dalam perjalanan dari Galilea menuju Yerusalem, menepi sebentar di seberang sungai Yordan, Matius 20:29-34 ini Tuhan Yesus dalam perjalanan dari Yerikho dan sudah mendekati Yerusalem. Yerikho sangat dekat dengan Yerusalem. Ketegangan yang dihadapi Tuhan Yesus begitu berat, Dia tahu bagaimana Dia akan dianiaya dan disalib di Yerusalem, perjalanan via dolorosa sangat berat dan menakutkan, sampai-sampai ketika di Taman Gersemani Tuhan Yesus mengeluarkan peluh seperti darah.
Penderitaan Tuhan Yesus yang paling besar bukan karena Dia takut dipukuli, bukan karena Dia takut memikul salib yang begitu berat, bukan karena Dia takut kepalaNya ditancapi mahkota duri, semuanya itu memang penderitaan yang berat tetapi yang lebih berat adalah Tuhan Yesus harus menanggung dosa manusia, Dia yang tidak berdosa dijadikan berdosa karena kita.
Karl Barth mengatakan: siapa bisa mengerti ketika Allah harus dipisah dari Allah. Allah Bapa dan Allah Anak yang sangat menyatu erat harus dipisahkan karena Anak Allah dijadikan berdosa karena dosa kita. Di atas kayu salib Tuhan Yesus berseru : AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Tidak ada orang yang bisa mengerti pertanyaan ini. Seandainya, ada suami istri yang begitu saling mencintai, salah satu direnggut, yang satunya berteriak dan meratap, tidak ada orang yang bisa mengerti penderitaannya ketika orang yang dicintainya direnggut. Suami istri belumlah cukup untuk menggambarkan hubungan Allah Bapa dan Allah Anak yang sangat dekat.
Dalam pergumulan yang sangat berat ini, Tuhan Yesus melihat Taman Getsemani di depannya, dan pada saat yang sama Dia sedang dielu-elukan sebagai raja. Kristus keluar dari Yerikho menuju Yerusalem seperti raja yang hendak perang karena dalam pikiran orang-orang pada waktu itu Tuhan Yesus menuju Yerusalem untuk mengambil alih posisi Herodes, dan kalau perlu juga mengambil alih posisi Tiberius, Yesus bukan hanya raja Yerusalem tetapi juga raja yang akan mengalahkan Romawi. Tidak heran kalau para murid ingin kedudukan di sebelah kanan dan kiri Yesus Sang Raja. Puncak dari merajakan Kristus semakin nampak ketika Yesus semakin dekat dengan Yerusalem. Orang-orang melepaskan jubah masing-masing, melemparkannya ke tanah untuk dijadikan alas bagi Tuhan Yesus. Di saat Kristus dalam keadaan paling sedih, di saat itulah orang-orang mengagung-agungkan Dia sebagai raja. Kontrasnya adalah tiba-tiba ada 2 pengemis buta di pinggir jalan yang berteriak-teriak. Orang banyak mengusir dan memaksa mendiamkan 2 pengemis itu. Ketika kita berada di kondisi yang sulit, kita berharap orang lain memperhatikan kita, menguatkan kita, menghibur kita.
Saat seperti itu, kalau kita tidak berhati-hati dapat menjadikan kita lebih egois, tambah hari tambah egois. Kristus memberikan pandangan yang berbeda. Dia menghampiri kedua pengemis buta itu dan bertanya : apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Hal ini persis sama dengan yang dikatakanNya yaitu: Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.
Tuhan bukan hanya berteori, Dia menunjukkan riilnya hidup. Di saat Dia paling berat dan susah, Dia tidak menuntut orang lain melayani Dia, Dia tetap melayani orang lain. Orang buta itu menjawab : Tuhan, supaya mata kami dapat melihat. Alkitab mencatat: tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan. HatiNya penuh dengan belas kasihan, walaupun Dia sedang susah, Dia mau mengerti penderitaan orang lain. Itulah isi hati Tuhan. Murid-murid tidak mengerti hal ini, apa yang mereka lakukan yaitu mengusir orang buta itu merupakan ekspresi dari pikiran mereka yaitu mereka tidak mau diganggu di saat mereka sedang susah, mereka menganggap Kristus pun berpikir sama seperti mereka.
Hidup keluarga Pdt. Stephen Tong waktu kecil sangatlah sulit, bahkan Pdt. Stephen Tong ketika berumur 15 tahun sudah harus bekerja untuk dapat membiayai sekolah dan hidupnya sendiri. Keluarga yang miskin seperti ini, tetapi setiap hari Jumat Ibu dari Pdt. Stephen Tong melakukan besuk sambil membawa beras dan gula dalam takaran kecil. Beliau berkata bahwa ada orang lain yang hidupnya lebih susah dan memerlukan beras dan gula tersebut. Orang yang hidupnya sendiri susah masih dapat memikirkan hidup orang lain, sementara ada orang yang hidupnya kaya tetapi selalu merasa kekurangan dan kesusahan.
Apakah suatu keuntungan ketika kita egois dan menuntut orang lain memperhatikan kita ataukah lebih untung ketika kita bisa memperhatikan dan menolong orang lain yang memerlukan? Dunia kita mendidik kita untuk menjadi orang-orang egois yang menjadi pusat segala sesuatu, kita mau orang lain menuruti keinginan kita, bahkan kita juga mau Tuhan menuruti keinginan kita. Tuhan mengatakan dalam semua aspek bahwa Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Punyakah kita hati seperti Kristus? Inilah jiwa pelayanan. Cocokkah kita dengan apa yang Tuhan pikirkan? Cocokkah kita dengan isi hati Tuhan?
Murid-murid mengharapkan Yesus menjadi Raja orang Yahudi yang akan berkuasa luar biasa. Tuhan tidak suka pikiran ini. Bandingkan dengan orang buta, yang tidak mengerti bagaimana glamournya Tuhan Yesus berjalan dengan iring-iringan, kalau dia buta sejak lahir; apa yang manusia lain lihat, dia tidak bisa lihat dan bayangkan. Tetapi pada saat semua orang membayangkan Yesus sebagai Raja, orang buta itu mempunyai cara lihat yang lain. Orang buta itu berteriak : Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami! Ini adalah istilah khusus, bukan kalimat sederhana. Ini adalah kutipan dari Yesaya yang menunjuk kepada Mesias. Orang buta itu melihat Yesus bukanlah Raja orang Yahudi, Dia lebih dari itu, Yesus adalah Tuhan, Anak Daud. Kalimat ini kalau kedengaran oleh penguasa, dampaknya adalah potong leher, karena itu adalah sebutan mesianik yang diberikan kepada Kristus. Tapi orang buta itu tidaklah peduli, itulah imannya.
Ketika orang dunia melihat dengan mata yang besar apa yang dipikirkan dunia, orang buta ini tidak punya mata, tetapi dia punya mata hati, mata iman yang menerobos melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Ketika orang-orang melihat Yesus menjadi raja, Yesus menjawab: tidak! Ketika orang buta melihat bahwa Yesus adalah Tuhan, Anak Daud, Yesus menjawab: ya! Mata yang mana yang melihat dengan tepat?
Terkadang kita punya mata besar tetapi yang kita lihat adalah yang duniawi, dan mata besar tersebut membuat kita sangat terpengaruh dengan yang kita lihat di sekeliling kita. Krisis ekonomi sekarang ini barulah ujungnya. Orang Indonesia sangat sedikit yang mengerti saham, tetapi yang terpukul adalah sektor riil. Semua produksi memperkecil produksinya, efeknya adalah PHK besar-besaran. Efek dari PHK adalah daya beli menurun, produksi akan mendapatkan efeknya lagi yaitu barangnya tidak laku. Kalau sudah seperti ini, apakah mata kita akan terpengaruh melihat ini semua, lalu menjadi panik, lalu menjadi rusak? Itu bukanlah jawaban. Kalau mata kita hanya melihat unsur dunia, celakalah hidup kita.
Bagaimana kita hidup di tengah dunia yang seperti ini? Bukan ikut langkah dunia, ikutlah langkah Kristen yang kata orang : tidak mungkin. Langkah Kristen adalah : MUNGKIN! Inilah langkah iman. Ketika kita mengikut Kristus, kita melihat apa? Kalimat dalam Matius 20:30 menyatakan : Tuhan, kasihanilah kami! Pengemis yang menyatakan kalimat di atas, pada umumnya adalah minta uang. Tetapi pengemis ini tidak minta uang, dia minta supaya matanya bisa melihat. Ini adalah terobosan besar. Pengemis ini tahu bahwa Yesus adalah Tuhan atas alam semesta yang berkuasa atas alam dan hidup manusia. Ada 3 penyakit yang tidak pernah disembuhkan dengan mujizat, hanya Kristus yang dapat menyembuhkan ketiga penyakit itu, yaitu buta sejak lahir, timpang dan bisu.
Mujizat Allah bukan untuk memuaskan egoisme manusia. Mujizat bukanlah masalah penyakit harus sembuh tetapi masalah orang harus melihat siapa Kristus. Kristus adalah Tuhan atas alam semesta yang punya kedaulatan penuh untuk melakukan mujizat. Mata orang buta ini dapat melihat bahwa Kristus adalah Tuhan atas alam semesta ini. Saya ingin kita punya mata yang seperti ini. Di tengah-tengah jebakan dunia ini, cara mata kita melihat, apakah kita bisa melihat Kristus Tuhan kita yang jauh lebih besar daripada dunia yang sedang berputar, apakah mata kita bisa melihat jauh lebih besar prinsip-prinsip Firman Tuhan yang Tuhan nyatakan, keajaiban dan kedaulatan Allah jauh melampaui semua pikiran manusia? Tuhan menyatakan jauh lebih beres, lebih benar dan lebih pasti daripada dunia ini.
Petrus pernah mengalami kasus ini yaitu ketika dia melihat Kristus jalan di atas air menuju ke kapalnya. Petrus bertanya kepada Tuhan Yesus: bolehkah aku berjalan kepadamu? Tuhan Yesus menjawab: kemarilah! Pada saat mata Petrus tertuju kepada Kristus, dia dapat berjalan di atas air, tetapi begitu matanya melihat kanan kiri, dia mulai melihat dunia dengan anginnya, dia hampir tenggelam. Realita dunia tetap sama sebelum dan pada saat Petrus berjalan di atas air, angin dan ombak tetap ada, tetapi ketika mata Petrus tertuju kepada Kristus, dia dapat berjalan di atas air; tetapi begitu matanya geser, habislah dia. Seberapa jauh kita memiliki mata iman, memiliki hati melihat kepada Kristus? Kita boleh buta mata, tetapi hati kita tetap melek daripada mata kita melek tetapi hati kita buta.
Orang buta itu matanya melihat yang lain dari semua orang yang lain melihat, bahkan lain dengan para murid melihat. Dia melihat Kristus sebagai Tuhan, Anak Daud, Sang Mesias. Itulah mata iman, bukan mata dunia, itu berpikir, bertheologi dan berimplikasi bukan seperti dunia. Silakan dunia boleh berbadai, berangin keras, yang selama-lamanya akan terjadi; jangan pikir krisis hanya hari ini atau sampai tahun depan, krisis sudah ada sejak zaman Tuhan Yesus. Bagaimana kita punya pikiran, hati dan mata yang tidak seperti dunia melihat? Kembali secara total kepada prinsip Tuhan maka kita akan seperti orang buta itu yang bisa melihat dengan hatinya, bahkan lebih baik daripada para murid yang punya mata besar tetapi hatinya tidak melihat. Sampai suatu hari, Petrus dan Yohanes berkata di depan Bait Allah: emas dan perak tidak ada padaku tetapi aku berkata: Dalam Nama Yesus bangun dan berjalanlah! Di kemudian hari itulah mereka baru melihat dengan cara yang lain, mereka baru dapat mengerti. Kalau mata kita belum dapat menerobos hal ini, betapa sayangnya hidup kita.
Seluruh peristiwa di atas mau dilihat dengan cara bagaimana? Kalau perikop dalam Matius 20:29-34 ini diberi judul : 2 Orang Buta Melihat, orang melihat hebatnya orang buta bisa melihat, maka habislah seluruh iman dan pengertian. Kalau hanya Orang Buta Melihat, orang hanya akan mencari kepentingan mujizat saja. Syukurlah, LAI memberi judul: Yesus Menyembuhkan Dua Orang Buta. Titik pusatnya ada pada Yesus, lebih tajam lagi adalah iman yang sejati melihat pengharapan di dalam Kristus dan mendapat respon di dalam Kristus. Orang buta ini matanya tertuju kepada Kristus, dia berharap kepada Kristus, mau mengerti isi hati Kristus, dan dia mendapat respon yang tepat dari Kristus, karena permohonannya tepat persis seperti yang Kristus inginkan. Inilah iman. Beriman sejati adalah meminta kepada Tuhan dan permintaan tersebut tepat seperti yang Tuhan inginkan, dan Tuhan mengatakan : jadilah seperti yang engkau harapkan. Iman bukanlah sekedar meminta, bermain-main dengan keyakinan, bukan paksaan kepada Tuhan, juga bukan demo tidak makan/ puasa. Beriman bukan memakai prinsip dunia untuk mendapatkan yang kita inginkan. Beriman adalah sadar kalau kita tidak mampu, tidak ada apa-apanya, kita lemah, kita tidak punya nilai apapun, kita bukanlah siapa-siapa, sadar bahwa Tuhan itulah Tuhan dan berharap hanya kepada Dia, hanya di dalam Dia kita boleh hidup, berjalan, mendapatkan seluruh hidup kita. Beriman berarti memasukkan seluruh hidup kita ke dalam Kristus, mau percaya sepenuhnya kepada Kristus, mau mengikut Kristus. Itulah iman sejati.
Dimana kekontrasan perikop ini dengan perikop sebelumnya? Dalam cerita sebelumnya murid-murid punya permintaan, orang buta ini juga punya permintaan. Tuhan setuju dengan permintaan orang buta yang ingin dapat melihat, Tuhan tidak setuju dengan permintaan murid akan kedudukan di sisi kanan kiri Tuhan, walaupun para murid berada dalam lingkungan dalam Kristus dan punya koneksi dan kolusi melalui orang tua. Orang buta itu lebih mengerti isi hati Tuhan.
Mengajukan permintaan tidaklah salah, tetapi yang menentukan jawabannya adalah Tuhan. Beriman bukanlah memaksakan kehendak kepada Tuhan tetapi mau taat, tahu diri, lalu mohon Tuhan tolong kita. Dalam situasi sulit seperti sekarang ini, lebih baik kita mengakui ketidakmampuan kita dan memohon pertolongan Tuhan, maka bereslah persoalan kita. Di saat paling genting, bukanlah waktunya kita marah kepada Tuhan, meninggalkan Tuhan, mencurigai Tuhan, justru saatnya kita mengakui bahwa kita tidak ada apa-apanya, dan mau berharap kepada Tuhan. Mana lebih logis, bersandar pada pikiran diri ataukah bersandar kepada Tuhan? Jangan bersandar kepada manusia dan kepada situasi. Manusia tidaklah tahu akan hari esok, dapatkah dijadikan sandaran? Lebih logis mana kalau kita bersandar kepada Tuhan yang tahu akan hari esok, yang tahu dunia akan menjadi apa, yang tahu seluruh perjalanan hidup kita? Hanya kembali dan berharap kepada Tuhan saja aku tenang, di dalam Dia ada kekuatanku.
Kita menjadi Kristen selama bertahun-tahun, kita melihat dengan apa, dengan cara bagaimana? Sungguhkah kita bersandar kepada Tuhan? Banyak orang Kristen yang atheis. Tuhan kalau masih ada pada hari Minggu masih syukur, hari Senin sampai Sabtu bahkan Tuhan tidak ada sama sekali, masih syukur kalau di gereja mendengar Firman Tuhan dan tidak tidur. Mari kita mengevaluasi diri! Bagaimana cara kita melihat suatu peristiwa dengan tepat, pakai mata yang tepat, cara pengertian yang tepat. Kiranya ini membangun hidup kita. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)