Ringkasan Khotbah : 12 Oktober 2008

To Drink My Cup

Nats: Matius 20:20-28

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

 

Tema bahasan Matius 20 adalah melihat apa yang Tuhan lihat. Inilah yang disebut sebagai visi. Visi adalah melihat apa yang Tuhan lihat, mengerti apa yang Tuhan pikirkan, dan menjalankan apa yang Tuhan inginkan. Visi bukan ambisi, bukanlah impian saya, juga bukan apa yang saya inginkan. Visi adalah prinsip yang begitu suci, kata yang begitu agung, konsep yang begitu sakral, begitu indah di dalam kekristenan. Pada perikop ketiga (Matius 20:20-28) ini kita akan melihat visi dengan lebih tajam lagi, khususnya kontras antara perikop ketiga dengan perikop kedua (Matius 20:17-19).

John Nolland tidak memisahkan kedua perikop ini karena merupakan 2 perikop yang kontras. Pada saat Tuhan Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia akan pergi ke Yerusalem dan akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, akan dijatuhi hukuman mati, dan pada hari ketiga akan dibangkitkan, pada saat Tuhan Yesus akan menapaki jalan via dolorosa, datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya kepada Yesus, lalu mengajukan permohonan kepada Tuhan Yesus. Permohonannya adalah: kalau Engkau nanti di Kerajaan-Mu, tolong berikan amanat agar anakku satu duduk di sebelah kanan dan satu duduk di sebelah kiri Tuhan Yesus. Begitu kontras!

Point pertama yang dipertanyakan adalah : sebetulnya permohonan tersebut diatas merupakan ide dari siapa? Ini mungkin merupakan ambisi dari Yohanes dan Yakobus yang mungkin curiga/ iri dengan Petrus yang selalu dekat dengan Tuhan Yesus dan selalu berposisi sebagai yang utama, jadi mereka mau menyodok terlebih dahulu supaya Petrus tidak lagi mendapatkan posisi di sebelah kanan maupun kiri Tuhan Yesus.

Penafsir Matthew Henry justru mempertanyakan apa betul kasus ini muncul karena ambisi dari Yohanes dan Yakobus atau karena ambisi ibu mereka. Matthew Henry menyoroti satu kalimat pada Matius 20:20 yaitu : Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapanNya untuk meminta sesuatu kepadaNya. Dalam bahasa aslinya, kata “sujud” dan “meminta “ memakai bentuk singular (tunggal) feminim. Jadi yang melakukan permohonan tersebut adalah ibu Yohanes dan Yakobus. Sangat mungkin yang mempunyai ambisi adalah sang ibu.

Seringkali visi bukan kembali kepada Tuhan, bukan mau mengerti Tuhan bagaimana, visi adalah ambisi pribadi. Orang tua Yohanes dan Yakobus bukan melihat apa yang Tuhan lihat melainkan melihat apa yang dia lihat, dia ingin yang dia mau, dia berambisi/ bermimpi apa yang dia impikan. Inilah yang membuat rusaknya istilah visi. Visi yang semula ada dalam dunia kekristenan, kini ditarik ke dunia sekuler, misalnya visi perusahaan, padahal dunia tidak mungkin dapat melihat apa yang Tuhan lihat. Dunia tidak berhak memakai istilah visi. Setelah istilah visi menjadi rusak, lalu dibawa masuk ke dalam gereja, lalu gereja juga memakai istilah visi yang sama dengan ambisi/ impian pribadi.

Jawaban Tuhan Yesus atas permohonan ibu Yohanes dan Yakobus adalah: kamu tidak mengerti apa yang kamu minta, kamu terlalu ambisius, mengertikah engkau bahwa engkau harus meminum cawanKu. Jawab mereka: Kami dapat. Orang yang ambisius akan mata gelap. Tuhan Yesus menjawab : Kamu memang harus meminum cawan yang harus kamu minum. Cawan tersebut berbeda dengan cawan Kristus karena tidak ada orang yang bisa meminum cawan Kristus.

Leon Morris maupun Matthew Henry mempertanyakan: di dalam mempermainkan visi seperti diatas, sang ibu yang sedang bermain dengan visi yang salah dan memasukkan ambisi pribadi ke dalamnya, apakah ambisi tersebut terlepas dari cerita Tuhan Yesus sebelumnya? Leon Morris mulai menyoroti hal ini. Hal tersebut tidaklah terlepas dari cerita Tuhan Yesus sebelumnya, bahkan beberapa penafsir justru menggandeng keduanya. Cerita perikop ketiga ini merupakan cerita penyelewengan dari Firman Tuhan pada perikop kedua. Visi yang salah yang kelihatannya alkitabiah justru seringkali meracuni konsep Alkitab.

Sang ibu masuk pada saat yang tepat, dia menunggangi perkataan Tuhan Yesus/ Firman Tuhan. Kata terakhir dari perkataan Tuhan Yesus yaitu: bangkit hari ketiga, itulah yang dipegang oleh ibu tersebut. Waktunya sudah mendesak; kalau Tuhan Yesus akan pergi ke Yerusalem untuk disalib dan bangkit pada hari ketiga, itulah waktunya Tuhan Yesus akan segera menjadi raja; inilah saatnya untuk segera meminta posisi supaya tidak terlambat. Sebagai orang Kristen kita seringkali menunggangi Firman Tuhan, asal comot bagian terakhir Firman Tuhan yang menguntungkan kita tanpa mempedulikan cerita keseluruhannya.

Firman Tuhan mengatakan: bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Aku yang memilih kamu, dan Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi, dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kau minta kepada Bapa dalam namaKu diberikan kepadamu. Kita melupakan bagian yang depan tetapi terus mengingat bagian belakangnya saja yaitu: supaya apa yang kau minta kepada Bapa dalam namaKu diberikan kepadamu. Inilah dunia kita, inilah kerusakan visi.

Firman Tuhan mengatakan: karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu, baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Aku perintahkan kepadamu, dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman. Lagi-lagi hanya bagian belakang yang diingat yaitu: Tuhan menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman. Kita tidak mempedulikan perintah yang mendahului pernyataan tersebut. Tugas-tugas yang diperintahkan Tuhan tidak pernah kita ingat, tetapi hal-hal yang menguntungkan kita selalu kita ingat. Inilah kerusakan visi.
Visi seringkali bukanlah lepas total dari Firman melainkan Firman yang diselewengkan, diplintir sampai mengena pada kepentingan kita. Kalau kita seperti ini, maka hidup kita akan rusak. Leon Morris mengatakan: kalau seperti ini, manusia-manusia Kristen akan menjadi perusak misi Kerajaan Surga, karena bukan menangkap visi, melainkan mempermainkan visi, sehingga misi yang harus dijalankan ditolak.
Maka Tuhan berkata dalam Matius 20:28: sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang. Visi Tuhan adalah bagaimana kita melihat isi hati Tuhan, mengerti apa yang menjadi beban Tuhan, mengerti apa yang Tuhan rasakan ketika sedang berjalan menuju ke Yerusalem, dan kita mau sama seperti Kristus yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa untuk tebusan banyak orang. Pergumulan inilah yang menjadi kontras dengan permintaan ibu Yohanes dan Yakobus.
Bagaimana kita bisa menangkap konsep yang Tuhan mau, apa yang Tuhan inginkan, visi yang Tuhan mau kita lihat?
1. Minum cawan yang Tuhan sediakan.
Matius 20:23 : .... CawanKu memang akan kamu minum, ... Inilah visi Tuhan. Visi yang melihat bagaimana Tuhan sedang menjalankan tugas yang begitu berat yaitu untuk meminum cawan yang BapaNya perintahkan. Duduk di sebelah kanan maupun kiri bukanlah hak yang bisa kita minta, juga bukanlah hak khusus yang bisa manusia tarik untuk kepentingan diri, melainkan merupakan hak mutlak Allah untuk memberikan kepada siapa Dia mau berikan. Itu bukanlah urusan manusia, yang harus kita lihat adalah bagaimana Tuhan berjalan untuk meminum cawan pahit yang harus Dia minum. Mengapa ibu Yohanes dan Yakobus juga Yohanes dan Yakobus sendiri tidak melihat cawan yang sedang Tuhan Yesus minum? Problematika ini bukanlah merupakan problematika 2000 tahun yang lalu, sampai saat inipun banyak orang Kristen yang mau hidup enak, mau senang, mengejar kenikmatan, menanti berkat Tuhan, tanpa mau melihat visi yang sejati, yaitu minum cawan yang Tuhan sediakan untuk dia.
Mengikut Kristus bukanlah mengikut untuk mencari kenikmatan, melainkan belajar di tengah dunia berdosa minum cawan yang Tuhan sediakan untuk kita minum. Mengikut Kristus berarti menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Tuhan. Mengikut Kristus akan membuat orang rela meminum cawan yang Tuhan sediakan untuk dia minum, dan dia tidak pernah lari dari tugas tersebut. Manusia berdosa maunya hidup enak dan tidak mau mendidik diri untuk belajar minum cawan yang Tuhan sediakan bagi tiap kita.
Dunia kita semakin semrawut, ekonomi semakin hancur, saham semakin hancur, ini baru permulaan. Hancurnya saham secara total mendunia ini akibat permainan Amerika. Inilah permainan yang gila dari dunia kita. Dalam kondisi seperti ini, kita masih berharap apa? Apakah kita masih berpikir seperti perkataan Robert T. Kiyosaki yaitu marilah kita cuti muda, cuti kaya, biarlah uang kita menghasilkan uang dan kita tidur-tidur di Bermuda? Alkitab mengatakan: minumlah cawan yang Tuhan sediakan bagimu.
Melihat visi Tuhan bukanlah melihat tipuan dunia, melainkan berjuang, berani bayar harga, minum cawan yang Tuhan tetapkan. Itu mengerti arti via dolorosa, mengerti mengapa Tuhan datang, mengapa Tuhan ke Yerusalem, mengapa Dia naik ke kayu salib. Banyak manusia, bahkan para murid tidak rela untuk bersama-sama Kristus minum cawan. Ketika Tuhan hendak minum cawan, Dia mengalami pergumulan yang sangat berat, Dia mengajak 3 orang muridNya untuk berjaga-jaga semalaman, tetapi muridnya tidak bisa berjaga-jaga. Ketika Tuhan sedang bergumul sampai berpeluh darah, Dia melihat muridNya tergeletak tidur. Tuhan bertanya: tidak sanggupkah engkau berjaga-jaga dengan Aku walau sejenak saja? Pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang menyindir, mau marah, mau menangis, karena murid hanya mau enak di saat pergumulan Kristus yang paling sulit dan berat. Murid yang semula berkata bahwa mereka dapat minum cawan, ketika diajak berjaga-jaga saja sudah tidak sanggup, berhadapan dengan tantangan dari seorang anak kecil juga tidak mempunyai kekuatan sama sekali, mau jadi apa murid yang seperti ini?
Melihat visi berarti mengerti isi hati Tuhan melihat zaman yang seperti ini, lalu melihat apa yang harus kita kerjakan. Melihat visi berarti berani berjuang, mau rela bersusah payah, mau menyangkal diri, mau pikul salib demi pekerjaan Tuhan, demi kemuliaan Tuhan, demi menjadi saksi.
Di tengah-tengah dunia yang sulit ini, masihkah kita mau ditipu dengan ambisi/ impian diri yang penuh dengan kepalsuan? Tahun 2009 tidak akan menjadi lebih mudah daripada tahun 2008 ini. Alkitab tidak mengajar kita untuk bermimpi duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus, melainkan mengajar kita untuk melihat apa yang Tuhan lihat, beranilah untuk minum cawan yang Tuhan sediakan bagi tiap kita.
Sadarlah, bahwa dunia ini bukan seperti yang kita pikirkan. Kalau dunia seperti yang kita pikirkan, maka Tuhan Yesus tidak perlu naik ke kayu salib, tidak perlu dianiaya. Justru karena dunia ini hancur, menuju kematian, menuju kiamat, maka Tuhan harus mengalami semuanya itu. Kita harus berani menggarap pekerjaan Tuhan di dunia ini, berjuang dalam menggarap hidup kita untuk dapat menjadi saksi, berjuang untuk berani sulit, berani menanggung beban, berani bekerja keras, karena itulah tugas kita.
Kalau betul sektor riil mengalami kehancuran, maka 30% pekerja akan mengalami PHK. Orang yang kena PHK duluan adalah orang yang kerjanya asal-asalan, yang malas, yang kualitas kerjanya buruk. Orang yang bisa bertahan adalah orang yang kerjanya berkualitas paling tinggi, hidup bersungguh-sungguh, nilai kerja yang paling baik. Minumlah cawan yang harus kau minum. Berjuanglah dalam situasi yang seperti ini, kerja sebaik mungkin, usahakan mencapai kualitas yang sebaik mungkin, karena itulah yang akan membuat kita dapat bertahan. Bukan lagi waktunya kita mau tidur-tidur lalu mendapat hasilnya. Tuhan berkata: kalau kamu tidak mau bekerja, maka kamu tidak usah makan.
Minum cawanmu adalah satu-satunya cara untuk kita dapat bertahan. Di seluruh dunia, hanya Theologi Reformed yang memberikan kekuatan, sampai-sampai Max Weber mengatakan bahwa orang Reformed itu kapitalis. Orang Reformed yang sejati bukanlah kapitalis tetapi mengerti tatanan kerja yang baik maka hasilnya akan begitu besar, etos dibalik kerja sebaik-baiknya tersebut adalah karena kita minum cawan yang Tuhan sediakan bagi kita. Kita melakukan hal itu bukan untuk manusia melainkan untuk Tuhan. Itulah citra orang Reformed. Mengapa? Karena Tuhan yang meminta kita untuk minum cawan yang Tuhan sediakan bagi kita. Inilah jiwa yang menjadikan Tuhan bisa pakai kita dengan luar biasa di manapun juga. Inilah visi yang Tuhan inginkan untuk kita lihat.
2. Menjadi pelayan.
Semua murid yang lain menjadi marah mendengar permintaan ibu Yohanes dan Yakobus tersebut diatas. Kemarahan ini disebabkan 2 kemungkinan yaitu: tidak etisnya permintaan ibu tersebut atau karena murid yang lain juga menginginkan hal yang sama tetapi sudah didahului oleh ibu tersebut. Inilah masalah kesombongan, ingin menjadi pemimpin yang mempunyai otoritas, ingin menjadi tuhan. Ambisi terbesar manusia adalah mau menjadi tuhan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, menjalankan kuasanya dengan keras; tetapi dalam kekristenan tidak mengenal konsep itu; barangsiapa ingin menjadi besar hendaklah ia menjadi pelayan, harus rela melayani. Visi seperti ini tidak lagi dilihat dan dimengerti oleh orang Kristen.
Theologi seharusnya berarti mengerti yang Tuhan logos-kan, logi kita cocok dengan Theos. Tapi theologi hari ini adalah Theos dipaksa cocok dengan manusia. 80% theologi Kristen dikuasai oleh theologi yang sangat humanis sifatnya. 80% orang Kristen masih mempunyai konsep Kerajaan Surga yang sama persis dengan konsep ibu Yohanes dan Yakobus, yaitu: Tuhan berkuasa di dunia ini, duduk sebagai raja secara fisik. Inilah teori dispensasional. Teori ini mengatakan: nanti kalau Tuhan sudah menjadi raja, orang Kristen semuanya menjadi penguasa/ pemerintah, rakyatnya adalah orang tidak percaya/ non-Kristen. Kelemahan teori ini adalah orang Kristen justru akan menderita ketika memerintah orang non-Kristen/ pengikut setan.
Banyak orang yang gila kuasa, pokoknya berkuasa. Itu bukan orang Kristen. Tuhan berkata: kalau kamu mau menjadi besar, maka jadilah pelayan. Makin besar justru makin melayani, makin berjiwa hamba. Ini tidaklah mudah. Mengerti visi Tuhan, mengerti Theologi adalah berlawanan dengan dunia. Jadi jangan pernah pakai konsep dunia yang dibangun diatas pikiran berdosa manusia.
Sejauh mana kita hidup membangun hati seperti Tuhan yang mau melayani, mau membangun pelayanan sebaik mungkin, keberadaan kita untuk menjadi berkat bagi orang lain? Kekristenan meminta kita untuk selalu memikirkan kewajiban asasi kita bukannya hak asasi. Dengan memikirkan kewajiban, maka semua hak akan beres.
3. Membawa kembali jiwa-jiwa yang tersesat kepada Tuhan.
Tuhan ingin kita mengerti panggilan Kerajaan Surga. Kerajaan Surga mempunyai misi memenangkan banyak jiwa untuk kembali kepada Tuhan. Kristus datang ke tengah dunia untuk melayani dan menyerahkan nyawa menjadi tebusan bagi banyak orang. Melihat visi Tuhan bukanlah melihat keuntungan diri/ azas utilitarian. Banyak orang sibuk mencari kenikmatan diri untuk mendapatkan bahagia. Orang yang mencari bahagia, tidak akan mendapatkan bahagia! Bahagia bukanlah tujuan. Kekristenan bukan bicara tentang manfaat, tetapi bicara tentang Kerajaan Surga, kekristenan ingin kita membawa orang mengenal Tuhan.
Banyak orang Kristen sejak dari diinjili sudah salah, dimana ditanamkan konsep bahwa menjadi Kristen tidak akan menderita, tidak akan rugi, konsep egois sehingga ketika dituntut oleh Tuhan untuk melayani, memikirkan orang lain, orang Kristen tersebut tidak bisa terima. Kiranya Tuhan memutar balik hati kita sehingga punya hati yang rela untuk membawa jiwa bagi Tuhan. Amin. 
?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)